Es Krim Kopi dan Es Kopi, Ini Bedanya!

Es krim rasa kopi.
Hmm, enak!

Musim panas telah berlalu di Jerman. Namun dua minggu lalu, di penghujung musim terjadi hari yang terik hingga mencapai suhu 22 derajat celcius. Hari yang indah dan cuaca mendukung dijadikan hari Minggu Berbelanja persiapan musim gugur. Padahal sebagaimana anda tahu bahwa hari Minggu di Jerman tidak ada supermarket yang beroperasi. Waktu berbelanja ini tidak lama, hanya dari jam 12.00 hingga jam 18.00 waktu setempat.

Seperti biasa saya dan suami tak mau kalah datang ke kota tersebut. Untuk berbelanja? Tidak! Kami senang mengamati lalu lalang dan keriaan warga, berbelanja, bernyanyi dan duduk menikmati kulineran. Kebetulan ada band yang meramaikan acara berbelanja ini. Sebagian warga larut berbelanja dan mengamati barang dagangan.

Suhu yang hangat mendorong saya ingin menikmati es krim. Mampirlah kami di kedai milik orang Italia. Sebagaimana yang pernah saya ceritakan bahwa es krim asal Italia memang punya rasa yang khas dan enak. Silahkan lihat kembali tulisan saya di sini!

Tampak antrian orang yang membeli es krim yang menjadi petunjuk banyak orang menggemari es krim rasa Italia ini. Saya ingin rasa sesuatu yang berbeda. Saya pilih es krim rasa kopi. Ini pertama kali saya mencoba es krim rasa kopi. Enak dan rasa kopinya itu nikmat sekali. Recommended!

Anda tahu ‘kan es krim Italia dengan gelato di dalam campuran sehingga es krim mereka itu benar-benar enak. Ditambah saya suka juga espresso milik orang Italia. Seperti pengalaman saya ditawari espresso di Roma yang menjadikan pengalaman kopi yang sempurna. Cerita saya bisa dilihat di sini. Espresso Italia tidak perut saya bermasalah. Saya puas! Lalu kini bayangkan dua perpaduan gelato dan espresso dalam es krim kopi milik orang Italia! Saya suka!

Es kopi.

Selanjutnya suami saya pesan es kopi. Nah apa pula itu? Beda es kopi dan es cappucino pernah saya bahas di link ini. Anda jadi tahu bedanya ‘kan.

Nah, racikan yang berbeda pada es kopi dengan es krim kopi. Kopi sudah disiapkan terlebih dulu sehingga sudah dingin. Beri es krim rasa vanilla ke dalam gelas. Campurkan kopi dingin di dalam gelas. Tambahkan krim, wafer dan taburan kopi sebagai dekorasi.

Baik es krim kopi maupun es kopi adalah pilihan bagi coffee lovers untuk mencobanya. Tertarik mencoba?

2 Kue yang Berbahan Kopi Buatan Sendiri

Ilustrasi kue yang biasa dijual.

Dari semua kue yang disajikan di foto di atas, tahukah anda bahwa ada kue yang diracik dengan kopi? Hal ini saya ketahui setelah saya sibuk belajar membuatnya bersama kenalan yang sedang praktik kerja pembuatan kue di sini. Saya memang tidak sendiri membuatnya, namun ini menambah pengalaman saya dalam pembuatan kue yang selama ini tidak saya tekuni.

Membuat kue itu butuh kesabaran dan ketekunan. Itu yang saya pelajari. Nah, saya belajar dua kue berikut yang hasilnya memang tak seindah seperti toko kue atau kafe.

1. Tiramisu

Tiramisu yang dibeli di kafe.
Tiramisu buatan sendiri, tidak indah memang tetapi rasanya enak.

Kue tiramisu memang lezatnya tiada duanya. Saya tergila-gila mengenal kue ini pertama kali puluhan tahun lalu di salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Setelah itu, saya jarang menjumpainya karena kue ini memang paling nikmat disajikan saat dingin. Jika saya menikmati kue tiramisu, saya ingin benar-benar mengunyahnya perlahan karena saya sesungguhnya tidak ingin menghabiskannya.

Bagaimana saya membuat tiramisu?

Kecanggihan informasi menghubungkan saya dengan resep membuat tiramisu. Rupanya ada paduan biskuit yang dihancurkan hingga menjadi kue lapisan dasar. Lalu ada spons yang lembut sebagai lapisan atas. Tak lupa kopi dingin yang menjadi bagian dari rasanya. Masukkan dalam loyang untuk mencetaknya. Agar nikmat saat dihidangkan, tiramisu harus diletakkan di kulkas selama beberapa jam. Taburi bubuk cokelat untuk dekorasi.

Yummy!

2. Brownies

Brownies yang dibeli di kafe.
Brownies yang dibuat di dapur sendiri.

Brownies memang bukan berasal dari negara Jerman. Meski begitu, Jerman yang kaya pastry ini juga terdapat kue brownies. Biasanya saya membeli brownies untuk dinikmati sebagai sarapan pagi. Namun rasa brownies akan berbeda jika saya membuatnya sendiri. Pengalaman saya membuat dituliskan di bawah ini.

Untuk bahan yang diperlukan antara lain:

  1. Coklat batang 230 gr
  2. Kakao bubuk 100 gr
  3. Espresso bubuk 30 gr
  4. Butter 60 gr
  5. Gula 400 gr
  6. Gula pasir tapi warna coklat 100 gr
  7. Vanille extract
  8. Telur 6 buah
  9. Tepung 130 gr

Membuatnya pun mudah. Semua bahan dicampur dengan mixer agar hasilnya maksimal. Langsung panggang dalam oven. Kue cokelatnya terasa sekali aroma kopi dari espresso yang dimasukkan ke dalam.

Kesimpulan

Dua kue di atas bisa dinikmati sambil menikmati kopi. Saya sudah mencoba membuat dan menikmatinya. Saya pikir anda pun bisa mencobanya di rumah. Bagaimana?

Atasi Rambut Rontok Pakai Kopi? Ini Praktik dan Penjelasannya

Kopi bisa jadi minuman favorit bagi banyak orang. Bahkan minum kopi menjadi media pertemuan sosial yang digunakan warga untuk bercengkerama. Minum kopi sendiri sudah banyak khasiatnya. Berbagai studi membuktikan kopi baik untuk kesehatan sepanjang diminum dalam takaran yang tidak berlebihan. Bagaimana pun segala yang berlebihan berdampak tak baik pula.

Khasiat kopi yang mengandung kafein ternyata tidak hanya dirasakan dengan cara dikonsumi saja. Baru-baru ini saya mendapatkan pencerahan dari teman mahasiswa di sini tentang manfaat kopi yang lain. Kami duduk di kantin kampus di sela perkuliahan. Dia adalah seorang pria yang ternyata sudah dua tahun belakangan ini menggunakan shampoo berbahan kafein. Ini disarankan untuk mengatasi rambutnya yang mulai menipis dan sedikit botak. Saya yang mendengarnya takjub.

Apakah kafein bisa membantu atasi rambut rontok?

Akhirnya kami berdiskusi bahwa kafein bisa memperbaiki struktur pertumbuhan rambut. Bahkan ada studi yang menunjukkan kafein dapat meransang folikel rambut sehingga membuat akar dan batang rambut lebih kuat.

Mendengar penjelasannya, saya semakin tak percaya bahwa kafein bisa untuk atasi rambut rontok. Karena rambut saya yang panjang juga kerap mengalami kerontokan. Jika itu berhasil pada kenalan saya maka mungkin kafein baik juga untuk rambut saya.

Seperti menjawab keingintahuan saya soal kafein untuk rambut maka kenalan saya ini memanggil teman mahasiwa lain. Dia adalah seorang perempuan berambut panjang. Rambutnya berwarna kecokelatan dan sedikit pirang. Kami berdiskusi lagi soal kafein untuk rambut. Akhirnya kenalan perempuan berambut panjang pun menunjukkan beberapa informasi lewat handphone pintarnya.

Dari situ saya mendapatkan informasi lagi bahwa teman perempuan berambut panjang ini mencoba masker alami untuk rambut yang terbuat dari serbuk kopi. Masker rambut alami terbuat dari dua sendok bubuk kopi dan minyak zaitun. Oleskan pada rambut selama tiga puluh menit sebelum dibilas. Kafein dipercaya memperbaiki struktur dan pertumbuhan rambut.

Hmm… Good to know!

Apa yang Buat Kopi itu Nikmat?

Dahulu saat saya masih anak-anak, saya mengamati banyak bapak-bapak datang ke warung kopi yang letaknya tak jauh di depan rumah. Sambil menyeruput kopi, mereka biasa berbicara ngalur ngidul yang membuat mereka betah berlama-lama. Harga kopi murah, hanya sekitar dua ribu rupiah saat itu. Saya penasaran, apa yang membuat mereka menikmati kopi.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, nikmatnya kopi itu ditentukan dari lima hal di bawah ini

1. Biji kopi

Biji kopi itu menentukan jenis kopi yang anda pesan. Ada dua jenis kopi yakni robusta dan arabica yang kemudian menghasilkan varian kopi yang kaya rasa. Salah satu negara penghasil kopi adalah Indonesia yang punya ragam kopi dari wilayah barat hingga timur. Bahkan biji kopi dari pulau Jawa termasuk yang dikenal dunia. Ini yang saya ingat saat masih belajar sejarah di sekolah dulu bahwa bangsa asing datang melakukan perdagangan, dimana biji kopi menjadi barang dagang yang dicari saat itu. Konon aroma kopi dari pulau Jawa menghasilkan aroma yang khas dan berbeda.

Jika ditanya, apa yang membuat kopi begitu nikmat? Pasti diawali dengan aromanya yang khas hingga saya pun terbangun hanya karena mencium aromanya. Namun sebagian lagi bagi para pencinta kopi, mereka tak peduli dengan biji kopinya. Lalu apa? Cek alasan selanjutnya!

2. Air panas

Pepatah berbahasa Jerman mengatakan “Kaffee und Liebe schmeckt heiss am besten” yang diterjemahkan bahwa kopi dan cinta itu rasa terbaiknya saat masih panas. Maksunya, minumlah kopi selagi panas. Itu pula yang saya amati para penikmat kopi menuang air kopi dan meniup kepulan asap kopi di piring kecil sebagai alas cangkir kopi. Meski kopi masih panas, tetapi panasnya kopi yang demikian yang membuat penggila kopi menikmatinya.

Suatu kali di masa remaja, saya pernah ikut acara “Youth Camping” dan saat itu saya bertugas menyajikan kopi untuk panitia. Saya tidak memastikan air yang saya masak, apakah benar-benar mendidih untuk membuat kopi. Akhirnya saya meracik kopi untuk beberapa gelas. Hasilnya, sebagian orang yang meminum kopi buatan saya merasa rasa kopi aneh, tidak enak bahkan ada yang mengeluh sakit perut. Entahlah, mereka berasumsi air yang saya masak memang benar-benar tidak mendidih dan tak baik untuk kopi. Dari pengalaman itu, saya paham bahwa air panas juga menentukan nikmatnya minum kopi.

3. Cara meracik kopi

Saat saya masih di Jakarta, rekan kerja saya mengajak saya datang ke kedai kopi ternama. Letaknya memang tak jauh dari area perkantoran. Rekan kerja saya ini adalah coffee addicted. Dia bisa minum kopi dua sampai lima cangkir tiap hari. Dia sering datang ke kafe yang sama karena dia menikmati cara barista kopi meracik kopi untuk para tamunya. Rekan kerja saya ini bisa duduk berjam-jam dan memesan kopi yang sama karena dia berpikir kopi yang diracik di kafe itu begitu istimewa.

Cara meracik kopi memang butuh keahlian tertentu, hingga kini bermunculan kursus atau kelas pelatihan untuk melatih para peracik kopi.

Apakah anda percaya bahwa cara meracik kopi itu menentukan kenikmatan kopi? Pertanyaan ini saya tanyakan kepada peracik kopi espresso yang membuatkannya untuk saya saat di Roma, Italia. Untuk pertama kalinya saya mencicipi espresso dan tidak mengalami gangguan perut. Kopinya pun sangat sangat lezat. Satu pesan si peracik kopi, buatlah kopi dengan cinta! Kopi pun akan terasa nikmat.

4. Mesin kopi

Kopi memang jadi budaya keluarga suami saya. Awal berkeluarga, kami sudah mendapatkan hadiah mesin kopi. Mungkin ibu mertua saya tahu bahwa suami memang minum kopi di saat sarapan pagi. Mesin kopi jadi begitu praktis sehingga kita tak perlu repot meracik kopi.

Mesin kopi yang dijual di pasaran aneka rupa, model, merek dan harga. Itu semua tergantung selera, anggaran dan kebutuhan anda. Untuk kebutuhan personal dan rumah tangga misalnya anda bisa membeli mesin kopi yang sederhana dan sesuai dompet anda. Mesin kopi akan membuat para penggila kopi semakin jatuh cinta dengan kopi buatan mereka sendiri. Pasalnya mesin kopi menawarkan kemudahan dan citarasa kopi seperti layaknya di kafe. Dengan begitu, anda berhemat uang dan tetap bisa menikmati kopi di rumah sendiri.

5. Lain-lain

Saya sulit menjelaskan alasan lain dari para pencinta kopi untuk menikmati kopi. Ini mungkin alasan tidak logis seperti gaya hidup misalnya. Berjamurnya kafe dan kedai kopi membuat citra kopi menjadi pilihan gaya hidup generasi milenial. Dimana dahulu saat saya masih anak-anak, kopi dicitrakan sebagai minuman orang-orang tua dan lanjut usia. Kini siapa pun dan apa pun status sosial mereka, kopi bisa menjadi media pertemuan sosial.

Alasan lain dari orang menikmati kopi lainnya juga mungkin tidak masuk akal. Teman saya berpendapat menikmati kopi sama seperti menikmati hidup. Kopi punya filosofi hidup yang mengajarkan kebaikan. Bahkan pengalaman saya, kopi bisa meramalkan masa depan. Anda percaya?

Kesimpulan

Demikian sekedar pendapat saya, apa alasan yang melatarbelakangi orang menikmati kopi. Tak hanya di Jakarta, di sini kopi pun menjadi pertemuan sosial buat saya dan rekan kerja atau sesama mahasiswa. Kami biasanya menyebutnya kaffeetrinken, dalam bahasa Jerman.

Bagaimana dengan anda?

Vietnamese Iced Coffee tetapi Tidak Pakai Es Batu

Vietnamese iced coffee adalah salah satu minuman umum yang biasa saya pesan saat masih di Indonesia dulu. Meski berasal dari Vietnam tetapi minuman ini cukup populer sebagai bagian dari gaya hidup orang-orang Jakarta yang suka nongkrong dan mencoba hal-hal baru dalam urusan minuman kopi. Saya kerap menjumpai dan memesan minuman ini tidak hanya di kafe dan kedai kopi. Itu artinya minuman ini cukup digemari dan diterima pencinta kuliner di kota-kota besar seperti Jakarta misalnya.

Saat masih di Indonesia, saya suka memesan es kopi vietnam. Suami saya sudah tahu bentuk dan penyajian minuman ini, yang menurutnya ‘ajaib’ karena pakai es batu. Kopi panas kok pakai es batu? Itu pemikiran suami. Meski saya pernah ke Vietnam nyatanya es kopi vietnam, saya kenal justru di Jakarta. Entah kenapa saya suka dan sering memesannya saat nongkrong di Jakarta.

Menurut saya, kopi di Vietnam paling banyak jenis robusta. Apalagi para petani pun banyak yang mendulang penghasilan dari perkebunan kopi asal Vietnam ini. Kemudian kedatangan bangsa Perancis memberikan arti dalam kuliner Vietnam. Salah satunya adalah memberi variasi kopi dengan susu krim yang akhirnya dikenal jadi kopi vietnam hingga sekarang.

Baru-baru ini saya menemukan kopi vietnam dalam daftar menu saat saya dan suami hendak makan di restoran Vietnam di Jerman. Ini pertama kali bagi saya mencicipi es kopi vietnam lagi. Setelah saya membaca penjelasan kopi vietnam, maka saya yakin penyajian dan bentuknya pun tak ubahnya seperti yang sering saya pesan di Jakarta. Saya pun langsung memesan yang dingin alias pakai es.

Selang beberapa menit, pesanan saya pun datang. Dari penampilan kopi vietnam yang dibawakan, kami menduga ini pastinya sama seperti di Jakarta. Tetapi tunggu! Saya belum mendapatkan esnya. Bagaimana mungkin saya meminumnya tanpa es? ‘Kan saya pesan yang dingin, bukan panas. Saya lihat pramusaji masih tampak sibuk melayani tamu yang lain.

Saya pun tidak ingin meminumnya sampai saya mendapatkan es batu. Itu sama gayanya seperti biasa yang saya pesan di Jakarta. Kopi dibiarkan tersaring dalam gelas yang sudah berisi susu. Ini persis sama, namun sekali lagi saya memesan es kopi vietnam. Penasaran saya tanyakan ke pramusaji, dimana es batu yang seharusnya saya dapatkan?

Dia paham bahwa saya sudah memesan kopi vietnam yang dingin. Itu sebab dia masukkan susu dingin ke dalam gelas. Sementara jika kopi vietnam saja maka tak ada susu dingin. Cara penyajian kopi pun tetap sama. Kopi dibiarkan tersaring sedikit demi sedikit.

Menurut pemilik restoran, gaya saya meminum es kopi berbeda. Lalu dia pun menyelidiki darimana saya tahu soal es kopi vietnam. Setelah panjang lebar kami ngobrol sebentar dengan pemilik restoran, akhirnya kami tahu bahwa gaya minum kopi kebanyakan orang Jerman itu tanpa susu dan tanpa es batu. Jika ingin es kopi, kedai kafe atau restoran di Jerman memasukkan es krim rasa vanilla dan menambahkan setengah kopi yang sudah dingin ke dalam gelas kemudian dicampurkan menjadi satu.

Di Indonesia, kita mengenal kopi dengan susu. Di Jerman, jika peminum kopi tak ingin terlalu kental kopinya, mereka bisa memilihnya dari kemasan kopi mulai dari yang paling kuat hingga ringan kadar kafeinnya. Anda juga bisa memilih kopi tanpa kafein di sini. Atau saat memesan kopi di kafe, mereka bisa menambahkan kaffesahne, yakni krim untuk kopi. Cara lain juga bisa menggunakan susu cair rendah lemak.

Es kopi vietnam yang saya kenal di Jakarta rupanya berbeda dengan yang saya temukan di sini. Mereka tidak terbiasa menyajikan kopi dengan es batu. Pastinya orang Jerman percaya kopi terbaik disajikan saat panas.

Es kopi ala Jerman bisa dilihat di sini.

Latte Macchiato, Càfe Segafredo Zanetti: Rekomendasi Tempat (11)

Meminum kopi memang selalu menggairahkan, apalagi di saat jeda antara makan siang dan makan malam. Rasa kantuk yang tertahan membuat saya berhenti sejenak menikmati secangkir latte macchiato di suatu kafe.

Yups, nama kafenya adalah Càfe Segafredo Zannetti. Sepertinya kafe ini sudah mendunia sebagaimana yang terlihat nama-nama kota di dunia yang menjadi cabang dari kafe ini. Menarik!

Pramusaji dan barista kafe sepertinya orang Italia. Mereka berbicara bahasa Italia meski saya dan suami sedang tidak berada di Italia. Mereka dengan ramah menawarkan berbagai pilihan kopi.

Saya pilih Latte Verona. Apa itu? Ini semacam Latte Macchiato dengan saus karamel. Kopinya tidak terlalu banyak sebagaimana yang saya minta. Namun terasa enak dengan saus karamelnya. Mereka punya bumbu racikan yang enak sekali bercampur dengan rasa kafein kopi.

Saya suka sekali! 

Apakah anda punya cerita lain tentang latte macchiato dengan rasa berbeda?

Kafe Tchibo: Rekomendasi Tempat Minum Kopi (1)

Rasa kopinya nikmat.

Kafe Tchibo di salah satu kota di Austria.

Selain menyedikan kopi yang siap diminum, di sini dijual juga mesin pembuat kopi.

Dijual pula aneka rasa kopi dari berbagai belahan dunia.

Ada pilihan rasa lain jika ingin mencoba. Harganya juga pas di kantong. 


Tak lengkap acara windows shopping tanpa nongkrong di kafe. Betul ya? Apalagi saat musim gugur yang mellow dan suhunya antara 8 derajat hingga 10 derajat di luar seperti ini, mending ngupi-ngupi cantik sambil melihat orang yang lalu lalang berbelanja. Nah, berhentilah saya dan suami ke kafe yang tak pernah sepi baik di Jerman maupun di Austria. Lalu di negara lain bagaimana? Saya baru mencoba di dua negara tersebut.

Di Jerman, kafe Tchibo ada di banyak tempat seperti daerah wisata atau mall. Pas saya nge-mall, saya perhatikan kafe ini tak pernah sepi. Lalu saya lihat harganya di papan display di atas kasir, masih terjangkau. Menurut saya jika minum segelas cangkir kopi mahal, males juga ya. Paling enak minum kopi jika harganya pas di kantong.

Akhirnya saya pun mencicipinya pertama kali dengan suami di mall di Jerman. Suami yang pesan di kasir, saya yang pilih tempat duduk. Jika datang saat wiken, kafe ini penuh. Jadi saya segera berebut mencari tempat duduk. Done! Saya dapat tempat duduk di pojok untuk berdua.

Beberapa pelanggan saya lihat mereka menikmati kopi sambil berdiri karena kafe menyediakan hanya meja saja. Mereka cukup nyaman menikmati kopi sambil ngobrol dengan berdiri. Pelanggan lain tampak memilih kemasan kopi yang bisa dinikmati sambil keliling mall atau dibawa pulang. Namun ada juga pelanggan lain yang sabar menanti hingga ada tempat duduk yang kosong.

Sebagian dari kedai kopi ini juga menyediakan penjualan yang berkaitan dengan kopi misalnya kopi dari berbagai penjuru dunia. Saya juga melihat mesin pembuat kopi yang praktis dijual di sini. Semua yang dijual berkaitan dengan kopi. Konsep seperti ini juga sama ketika saya nongkrong dengan suami di kafe Tchibo di Austria. 

Pesanan kopi datang dalam hitungan yang tak lama. Dua cappucino untuk saya dan suami. Rasa kopinya nikmat sekali dan membuyarkan rasa kantuk kala saya belum mendapatkan barang yang dicari di Mall di Jerman. Begitulah manfaat kafein, kita jadi bersemangat lagi jalan-jalan menikmati senja di sore hari saat saya dan suami minum kopi di salah satu kedai Kafe Tchibo di Austria.

Alasan kedai kopi ini direkomendasikan:

  • Kopinya enak.
  • Asyik buat nongkrong meski jika wiken atau hari libur suka penuh.
  • Harga kopi terjangkau.
  • Bisa membeli pernak-pernik kopi juga di kedainya.

Semoga bermanfaat! Sudahkah ngopi anda hari ini?☕

Reviu: Hotel Il Castelletto, Rome

Hotel tampak depan.

Mesin kopi yang dimiliki hotel.

Kopi espresso.

Dua cangkir cappucino.

Mohon informasi bagaimana cara saya untuk tiba di hotel karena kemungkinan kami check in lebih awal” kata saya dalam Bahasa Inggris di surat elektronik yang ditujukan kepada petugas hotel setelah kami memesannya. Kami baru kirim pesan hotel dua hari sebelum keberangkatan. Saya pikir jika staf hotel tidak merespon maka apa daya kami akan cari cara untuk tiba di hotel. Namun tak berapa lama, pertanyaan kami direspon oleh staf hotel. Ini adalah salah satu ciri hotel yang kami rekomendasikan. Apa itu? Staf yang helpful.

Saya akan pertimbangkan kembali untuk menginap bila tak ada respon dari staf hotel bila kami bertanya sesuatu via email. Mengapa? Saya berpikir jika pertanyaan mudah saja tidak dijawab oleh pihak hotel maka bagaimana jika terjadi sesuatu dan kami memerlukan bantuan mereka saat menginap. Tentu ini bukan hal yang baik. Karenanya nomor satu sebelum saya menginap, apakah staf hotel sangat membantu?

Alasan kedua mengacu pada tujuan dari traveling itu sendiri. Jika banyak lokasi wisata yang harus dijangkau maka kami pilih penginapan yang berada di dekat lokasi wisata agar mudah dan murah transportasinya. Untuk berpergian kali ini, kami memilih hotel yang dekat dengan Vatikan. Tentu pertimbangan ini diperlukan mengingat banyak orang sudah berpendapat bahwa memasuki Vatikan perlu antri yang berjam-jam. Alasan dekat dengan Vatikan meski jauh dari pusat kota Roma menjadi pertimbangan. Hotel ini layak bilamana anda ingin berkunjung ke Vatikan. Begitu selesai sarapan jam 9 pagi, kami sudah meluncur dengan bis hanya sekali naik, tiga puluh menit kemudian kami tiba. Mudah dan cepat.

Kemudian yang jadi pertimbangan selanjutnya adalah gratis sarapan. Ada beberapa hotel dengan harga yang kurang lebih sama, mereka mengenakan charge untuk 1 orang per hari saat sarapan 5€-7€. Hotel ini tidak. Sarapan khas western tentunya, cukup buat mengganjal perut hingga siang. Meski pilihan sarapan tidak banyak namun cukup baik ketimbang kami harus membeli sarapan.

Dan yang terutama nih, dari testimoni tamu hotel sebelumnya mengatakan bahwa hotel ini menyajikan kopi yang enak. Benar saya kami puas minum kopi di sini. Semula saya yang tak pernah meminum esspresso pagi hari, bisa merasakan kenikmatan rasa dan aroma kopi yang bertahan lama. Kopinya luar biasa. Staf hotel yang membuat kopi pun bangga bila kopi yang mereka buat itu dinikmati oleh tamu. 

Stafnya ramah itu juga pertimbangan. Suasana penginapan yang hommy membuat tamu juga betah menginap. Mereka benar-benar membantu bilamana kita bertanya tentang arah jalan atau tujuan wisata. Ingat tamu adalah raja! Jika staf hotel memperlakukan tamu dengan baik, tentu hukum alam pun bekerja. Artinya hotel pun kelimpahan tamu yang lebih lagi.

Selain itu kebersihan hotel menjadi hal penting dalam pertimbangan memilih hotel. Tentu tak lepas dari layanan cleaning service setiap hari. Kamar bersih seperti semula dan perlengkapan mandi yang baru tentu tamu juga merasa senang. Siapa sih tamu yang senang bilamana jauh-jauh datang sebagai turis dan lelah karena berwisata lalu kemudian kembali ke hotel, kamar tidak dibersihkan? Tentu ini menjadi poin tambahan bagi hotel untuk diperhatikan.

Lalu yang terakhir meski ini bukan pertimbangan utama, namun penting adalah ketersediaan WIFI bagi tamu. Di era milenial seperti ini, kita pasti ingin tetap terhubung dan terkoneksi via internet. Internet yang gratis dan koneksi yang baik amat dibutuhkan tamu. Tidak hanya sebagai sarana komunikasi namun ketersediaan internet membuat tamu juga bisa mencari informasi seputar wisata. 

Di atas adalah alasan kami memilih hotel berdasarkan pengalaman. Tak semua berisi pujian, ada hal yang perlu jadi pertimbangan dan mungkin ini bukan nilai plus dari hotel. Apa saja?

  1. Hotel tidak berada di pinggir jalan. Jadi anda perlu berjalan kira-kira 200 meter dari jalan utama setelah halte bis. Atau anda perlu berjalan 3 menit dari hotel ke jalan utama begitu pun sebaliknya.
  2. Harga hotel tak termasuk pajak kota yang ditetapkan sebesar 3€ per orang per malam.
  3. Jauh dari pusat wisata Roma. Anda perlu naik bis selama 30-40 menit. Belum lagi waktu untuk menunggu bis di halte. 
  4. Tidak bisa terjangkau oleh Metro, kereta Italia atau Trem semacam Straßebahn. Anda hanya bisa mudah mencapai dengan bis. 

Demikian pendapat dan pengalaman kami. Namun menurut kami, hotel ini recommended bila berkunjung ke Roma, Italia. Lebih jauh bisa dilihat di sini.

Semoga bermanfaat!

7 Daftar Kuliner Wajib Dicoba di Roma, Italia

Jika mengenal bangunan ini, anda pasti tahu dimana ini? Colloseum di Roma, Italia.

Pernah membaca novel ‘Eat, Pray and Love’ sekaligus menonton film yang diperankan oleh Julia Roberts, membuat saya meyakini bahwa Italia adalah negeri yang kaya akan kuliner. Mengapa tidak? Banyak makanan di luar sana yang mengenal makanan khas negeri ini. Sebut saja Pizza, siapa yang tidak kenal dengan makanan satu ini. Bahkan di Indonesia, gerai pizza tidak hanya di restoran eksklusif, di pedagang kaki lima pun mereka menyebut pizza dalam daftar menu. Atau aneka pasta dan spaghetti juga mudah ditemukan di seluruh dunia. Dengan berbagai bumbu saus untuk pasta, membuat siapa pun suka makanan khas negeri ini.

Ini pula yang menjadikan alasan saya untuk pergi ke Italia. Wisata kuliner rasanya tepat setelah wisata sejarah. Bersyukurlah saya tidak tinggal lama karena saya khawatir ukuran baju saya tidak akan muat sekembalinya dari sana. Setiap kuliner yang saya coba, semua benar-benar enak. Bahkan biasanya lidah saya protes saat traveling karena rasa dan tekstur makanan yang berasa aneh. Namun di Italia, lidah saya bergoyang karena luar biasa lezat sekali.

Kali ini saya buat daftar kuliner yang wajib dicoba di negeri aslinya, Italia. Menurut saya, daftar ini wajib anda coba saat bertandang ke Italia. Apa saja?

1. Kopi

Segelas kopi espresso.

Saya belum pernah mencoba minum kopi espresso karena khawatir maag saya kambuh. Setelah mencoba minum espresso dan cappucino di sini, Puji Tuhan tak ada masalah dengan perut saya. Entah karena racikannya, entah alasan apa namun saya memuji kopi buatan mereka. Sumpah! Kopi mereka enak sekali. Di sini kopi bukan sekedar minuman, tetapi budaya. Orang Roma menikmati kopi yang disebut ‘Bar Kopi’ bak layaknya kebiasaan hidup. Setelah makan siang pun, mereka minum kopi. Ini sama seperti di Jerman, dimana bir diminum kapan pun.

Hey Coffee Lovers, anda perlu menikmati kopi mereka yang benar-benar nikmat ini. Pilihannya ada pada espresso, cappucino atau macchiato. Setelah menikmati kopi, puji kopi buatan mereka agar mereka bangga bahwa mereka telah berhasil membuat anda jatuh cinta dengan Italia. Rekomendasi tempat minum kopi tersebar di pelosok kota Roma. Bahkan di hotel pun, kopi disajikan dengan penuh cinta untuk anda sebagai tamu hotel. 

2. Pizza

Pizza Margherita dan Pizza Marinara.

Suasana penjualan pizza kala malam hari.

Pizza yang ada di Indonesia bermula dari buatan negeri Paman Sam. Sesungguhnya jika anda mencoba pizza di Italia, anda akan menikmati tekstur roti pizza yang berbeda dengan pizza yang dikenal di Indonesia. Pizza dijual di setiap ristorante atau restoran dalam bahasa Italia. Makanan ini bisa untuk makan siang seloyang penuh untuk satu orang. Atau pizza untuk makan malam dengan irisan yang tak penuh. Silahkan disesuaikan dengan selera anda!

Suatu malam saya dan suami menemukan gerai pizza yang dipenuhi oleh banyak orang. Karena penasaran maka kami mampir dan sekedar mencicipi. Rasa pizza di Italia ternyata berbeda dengan yang dijumpai di Indonesia atau di Jerman. Ada aneka macam topping rasa yang dikehendaki dengan kisaran 1,5€ hingga 2€. Hmmm, lezat sekali!

3. Pasta

Pasta saus tomat.

Pasta saus tuna.

Kami terlambat menikmati makan siang di hari kedua di Roma. Begitu asyiknya menikmati lokasi wisata membuat kami lupa bahwa perut kami sudah mulai menari. Kami berjalan agak jauh dari lokasi wisata agar harga mahal di restoran tidak begitu mahal. Kami berhenti di salah satu restoran dan menikmati sajian pasta yang kebetulan menjadi menu utama siang itu.

Suami saya pesan pasta dengan saus tomat dengan irisan salami. Sementara saya memesan pasta dengan saus tuna. Kami memilih duduk di luar restoran sembari mengamati orang lalu lalang memesan makanan saat makan siang tiba. Selang sepuluh menit, menu pesanan datang. Bagaimana rasanya? Pasta yang dibuat itu seperti tidak lunak namun tidak keras, tekstur pasta benar-benar pas sekali. Sausnya pas sekali, enak! Saya dan suami sepakat bahwa pasta kami benar-benar lezat dan tidak pernah kami menikmatinya seperti ini di luar Italia.

4. Fusilli

Fusilli saus tomat.

Saya memesan fusili di restoran lantai dua semacam food court di stasiun Roma Termini. Awalnya saya ragu karena si koki seperti hanya menghangatkan masakan saja, fussili yang sudah matang ditambah saus di atas kompor. Ya sudah, saya terima saja dan melanjutkan pencarian tempat duduk untuk menyantapnya sementara suami saya mencari menu lain.

Anda tahu, saya terkejut dengan rasanya. Luar biasa cuma dihangatkan begitu saja, namun rasa fusilli ditambah saos tomat dan keju tabur sebagai topping benar-benar nikmat. Berkali-kali saya katakan ini pada suami. Sementara suami saya memesan menu masakan lain. Saya benar-benar tidak menyesal memilih makanan ini. Lezat!

5. Keju Mozzarella

Bruschetta.

Keju mozzarella.

Saya pernah menyaksikan pembuatan keju mozzarella di saluran televisi tentang kuliner. Rupanya keju ini terbuat dari susu kerbau. Di Jerman pun tersedia keju ini, namun saya tidak berniat membelinya. 

Suatu malam saya dan suami berhenti di restoran dekat hotel untuk dinner bersama. Karena kami tidak ingin makan dalam porsi yang besar, pilihan jatuh pada bruschetta. Meski tidak ada imajinasi makanan seperti apa, saya ikuti pesanan yang dipesankan suami. 

Selang lima menit datang pramusaji menyediakan roti ciabatta di hadapan kami dan peralatan makan. Lalu beberapa menit kemudian datang pesanan kami. Jadi beberapa irisan schinken diletakkan mengitari piring dan pusatnya adalah keju mozzarella. Ambil roti ciabatta, masukkan di dalam selipan irisan schinken dan sedikit keju. Sumpah, enak sekali! Saya pun mengatakan pada suami akan membeli keju mozzarela dan membuat hal serupa saat kembali di Jerman.

6. Tiramisu

Tiramisu.

Terakhir ini adalah sejenis cake yang membuat saya tergila-gila menikmatinya. Pertama kali saya jatuh cinta pada tiramisu saat puluhan tahun lalu mencicipinya di Hotel Mulia di Jakarta. Setelah itu saya sering membelinya di Jerman sebagai dessert atau cake kala kaffeetrinken

Mencicipi tiramisu tak ubahnya minum kopi. Ada campuran kopi dalam membuatnya. Anda tak menyesal jika memesan tiramisu sambil menikmati secangkir kopi. Mantap!

7. Es Krim

Ice cream.

Siapa yang tak tahu bahwa gelato adalah resep membuat es krim terenak. Di sini anda akan menemukan bahwa ice cream mereka benar-benar sempurna enak meski kala malam berasa dingin untuk disantap. Namun anda yang suka ice cream, jangan sampai menyesal bila tak mencicipi ice cream di sini.

Demikian pengalaman kuliner saya di Roma, Italia. Saya benar-benar jatuh cinta dengan kuliner mereka. Semoga anda pun demikian!

Rahasia Kopi Ada di Tangan Si Pembuat. “It Comes From your Heart”

Kopi espresso yang dibuatkan spesial untuk saya karena penasaran dengan rahasia kopi mereka.

Mesin kopi milik hotel.

Dua cappucino yang membuat saya jatuh cinta pada kopi lagi.

“I love your cappucino. Could you tell me how to make it?” tanya saya pada staff hotel di Roma. Dia sudah membuatkan saya dua kali cappucino untuk sarapan pagi ini. Bahkan saat meminta cappucino kedua kalinya, perempuan mungil seperti saya ini, tersenyum dan menjawab dengan senang hati. Sebenarnya meracik kopi bukan pekerjaannya, namun dia belajar untuk menjadi bagian dari pekerjaannya. 

“I just learned how to make it. This is my pleasure if you like my coffee,” kata staf hotel itu lagi seraya memberikan dua cappucino untuk saya dan suami.

Ketika jam sarapan sudah mulai tutup, jam 09.30 waktu Roma maka staf pun memperhatikan apa yang diperlukan lagi buat para tamunya. Keperluan saya pun belum selesai bertanya rahasia kopi buatan mereka. Selama beberapa hari di Roma, saya jatuh cinta dengan kopi buatan mereka.

“You know there are two ways to make a good coffee. First, it depends on your branding coffee. We have the best coffee in the world. We called ‘Illy.’ If you find Illy in cafe, it means that cafe has the best coffee from Italy,” kata staf hotel menjawab pertanyaan saya. Menarik ya! 

Karena rasa penasaran saya tentang kopi. Dia melihat dua kopi di depan mata pun telah habis diminum, dia tawarkan lagi espresso. Hah! Saya khawatir bermasalah dengan maag saya jika meminum kopi dengan kadar kafein terlalu tinggi. Namun semoga tidak ada masalah apa pun. Dia bawakan dua cangkir kopi espresso untuk saya dan suami.

“Before explaining the second ways and the secret, you must try this caffee” tawar dia sembari memberikan dua kopi espresso. Rasa kopi esspresso itu seperti meminum wine. Minumnya hanya sedikit atau porsi kecil namun rasa kafeinnya mampu bertahan hingga tiga sampai empat jam di lidah. Aroma kopinya begitu kuat saat saya mencium. Betul saja! Di lidah rasa kopi ini masih ada hingga beberapa lama. 

Meminum espresso itu memang hanya porsi kecil. Sesungguhnya khasiat kopi bila anda tidak mencampurkan kopi dengan apa pun juga seperti gula atau susu. Rasa kopi asli adalah pilihan utama bahwa kopi itu sesungguhnya tanpa rasa.

“The second ways, you must know how procedure to make a good coffee. We have special coffee machine” jelasnya kepada kami. Kami pun termangut-mangut masih ‘mabuk’ dengan rasa espresso pagi itu. Bayangkan ini pertama kali saya minum espresso. Puji Tuhan, perut saya tidak bermasalah setelah meminumnya!

“Above all, how to make the best coffee actually. This” kata dia sambil menunjukkan tangan di bagian dada. “The secret comes from your heart. You ensure you do it the best. Do it with love!” 

Pelajaran kopi yang menarik pagi ini dari orang Italia. Coba deh anda buat kopi sambil mengumpat atau dalam keadaan marah, apakah kopi berasa nikmat? Kopi yang dibuat dengan penuh cinta akan selalu membuat anda terkesan.

Tak peduli seberapa canggihnya mesin kopi atau seberapa enaknya biji kopi namun apa lah daya jika pembuat kopi tidak melakukannya dengan penuh cinta. Jika anda membuat kopi dengan cinta, maka mereka yang meminumnya akan jatuh cinta seperti saya saat ini di Roma. 

Para pembuat kopi di Italia akan selalu bangga jika mereka mampu menyajikan kopi terbaik kepada pelanggannya. Mereka suka jika anda puji kopi buatannya. Meminum kopi di Italia itu bisa lebih dari sekali setiap hari. Kebiasaan minum kopi di Italia bukan sekedar gaya hidup. Minum kopi di Italia adalah budaya. 

Ini budaya yang tercipta karena tradisi bahwa kopi lebih sekedar minuman. Kopi adalah gairah hidup setiap hari. Slurput, nikmat sekali! ☕