Suka Kopi? Masukkan Ini Dalam Daftar Kuliner Saat di Roma, Italia

Dua orang dengan selera kopi berbeda, kiri adalah espresso dan kanan adalah cappucino. Nikmati di kafe tertua di Roma, Italia yang konon sudah ada sejak 1922.

Dua cappucino pagi ini dari hotel membuat saya tergila-gila. Enak sekali.

“Uno Caffé, Uno Cappocino” kata si pramusaji saat saya dan suami memesan kopi setelah lelah berkeliling seharian. Itu maksudnya pramusaji di kafe mengatakan satu kopi espresso dan satu cappucino. Kaffeetrinken pun dimulai. Letak kafe tak jauh dari Spanish Steps, salah satu lokasi wisata populer di Roma. 

Kafe ini letaknya sejajaran dengan butik ternama jika suka shopping. Namun sayangnya saya hanya ingin berhenti sejenak menikmati secangkir kopi sekaligus numpang ke toilet. 

Kopi dari hotel yang juga rasanya mantap. Kiri adalah cappucino dan kanan adalah espresso. 

Hotel tempat kami menginap khas Italia dengan kopinya yang mantap.

Secangkir cappucino sudah saya dapatkan hari ini dua kali. Pertama saya dapatkan saat sarapan di hotel, tempat kami menginap. Saat kami memesan hotel, banyak testimoni tamu-tamu hotel sebelumnya yang berpendapat bahwa kopi di hotel ini enak sekali. Katanya “Anda tak akan menyesal menginap di sini karena anda puas menikmati kopinya yang enak.” Begitu kata salah satu tamu dalam testimoninya. 

Benar saja saya tergila-gila dengan cappucinonya. Enak sekali! Suami saya pun berpendapat hal yang sama untuk segelas espresso yang dipesannya. Luar biasa kopi yang diracik di Italia. Begitu pun hal yang sama saat kami memesan kedua kalinya di kafe pada sore hari. Segelas espresso dan segelas cappucino berasa nikmat sekali. 

Hal menarik dari kopi yang bisa ditemukan di sini:

  • Semua cangkir kopi berukuran kecil dari biasa yang saya temukan di luar Italia. Segelas espresso memang selalu bercangkir kecil. Di sini lebih kecil lagi, seperti meminum sesuatu yang berharga dan mantap. Cappucino pun demikian. Cangkir cappucino juga lebih kecil dari cangkir normal yang biasa saya minum di luar Italia. Cappucino bisa dipesan ukuran normal seperti yang saya pesan atau ukuran besar (XL) dengan harga double.
  • Katanya sih tidak menyebut espresso saat memesan kopi espresso. Karena memang dalam menu mereka sebut hanya un caffé saja. 
  • Budaya minum kopi sepertinya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Roma. Jadi anda tinggal pilih kafe dengan mudahnya. Bahkan habis makan siang pun mereka tetap minum kopi. Luar biasa!
  • Anda juga mesti mencoba latte macchiato atau caffé macchiato, namun sayangnya saya lebih pilih cappucino.
  • Meski Roma yang saya singgahi cuacanya cerah dan cenderung lebih panas dari Jerman, namun kopi sebaiknya dipesan dalam keadaan panas. Katanya orang Roma senang membasahi bibir mereka dengan kopi yang panas. 
  • Minum kopi setelah makan siang boleh dilakukan namun tidak meminum kopi dengan susu. Katanya lagi si koki yang memasak akan tersinggung mengapa anda belum kenyang dengan makanan yang mereka sajikan? Memang makanan yang dipesan di Ristorante, restoran dalam bahasa Italia, memang luar biasa enak menurut saya.

Begitulah, sekedar cerita dari Italia, membuat saya paham bahwa tiap negara punya kisah sendiri tentang kopi. Jika anda berkunjung ke Italia, amati dan alami gaya meminum kopi khas mereka. Saya jatuh cinta dengan racikan kopi di sini.

Apakah anda punya pengalaman lain tentang gaya minum kopi?

Advertisements

5 Alasan Mengapa Saya Suka Minum Kopi?

Life begins after coffee. 

Obrolan kopi memang selalu menarik untuk menjadi bahan tulisan saya. Seolah-olah kopi memberi filosofi dalam kehidupan menurut saya. Menikmati kopi seperti menikmati momen hidup saat itu juga. Bahkan kopi jadi solusi kala mood saya turun saat bekerja. Meminum kopi adalah keseharian yang saya temukan pada orang-orang sekitar saya.

Lalu saya tertarik dan bertanya juga pada mereka, mengapa mereka suka minum kopi? Jawabannya bervariasi. Mungkin anda sebagai penikmat kopi menemukan salah satu alasan di bawah, berikut ini:

  • Karena rasa kafein di dalam kopi yang disukai.

Kopi mengandung kafein yang lebih tinggi dibandingkan teh, bahkan teh hitam sekalipun. Teh hitam maksudnya teh pekat dengan 1 teabag setara untuk 3 gelas teh. Kadar kafein dalam kopi dipercaya membangkitkan semangat seseorang sehingga banyak orang beralasan sarapan harus dengan secangkir kopi. Kafein merupakan senyawa kimia dari kafeina, yang ditemukan oleh seorang ilmuwan Jerman.

Baca: https://liwunfamily.com/2015/11/22/apakah-perempuan-yang-sedang-hamil-boleh-minum-kopi/

  • Karena aroma kopi yang memikat dan menggugah selera.

Jika saya sudah membuat kopi di kantor, satu atau beberapa orang teman pasti akan bergabung bersama saya untuk minum kopi bersama. Saat saya tanya mengapa? Mereka mencium aroma kopi yang saya buat. Secara psikologis indera penciuman berpengaruh untuk menentukan selera makanan atau minuman. Aroma kopi memang selalu menggugah rasa. Dari aroma kopi anda juga bisa menentukan varian dan asal kopi. Itulah uniknya aroma kopi.

  • Karena keluarga saya peminum kopi.

Keluarga adalah pengalaman pertama dalam kehidupan. Saya belajar minum kopi ketika ibu saya meminum kopi setiap pagi. Lalu suami juga meminum kopi tiap pagi. Rupanya kebiasaan meminum kopi saat sarapan karena budaya meminum kopi dari ayah, ibu dan seluruh anggota keluarga. Salah satu hadiah yang saya terima saat berkeluarga di Jerman adalah mesin pembuat kopi. Budaya minum kopi yang tumbuh dalam keluarga juga menentukan kebiasaan minum kopi.

  • Karena meminum kopi membuat saya relax.

Saat saya merasa workload di kantor bertambah atau ada tugas-tugas yang harus diselesaikan yang menyebabkan saya tegang dan tertekan maka kopi jadi ide yang menarik. Ternyata tidak hanya saya, beberapa rekan di kantor juga sering membuat kopi bersama di pantry hanya untuk membuat relax. Jadi bilamana stress menyerang dan tumpukan masalah dalam pikiran anda, segera buat kopi! Dijamin kopi bisa membuat relax.

  • Karena kopi menghilangkan rasa kantuk.

Alasan ngopi agar tidak mengantuk mungkin ini yang sering saya lakukan. Ini bukan iklan permen kopi. Namun seketika ide meminum kopi bisa terlintas kala rasa kantuk menyerang. Kopi dipercaya mampu mengusir rasa kantuk sementara waktu buat sebagian orang. Rupanya kafein dalam kandungan kopi juga bisa mengusir kantuk.

Baca: https://liwunfamily.com/2014/05/12/tak-bisa-tidur-kenali-penyebabnya/

Jika anda tidak bisa menemukan alasan di atas, kira-kira apa alasan anda meminum kopi? 

Dari lima alasan di atas, namun sebenarnya minum kopi menjadi bagian dari gaya hidup yang sudah ada sejak jaman dulu. Ini yang melatarbelakangi munculnya kafe sebagai tempat berkumpulnya orang menikmati rasa kopi. Seperti di Indonesia budaya minum kopi juga sudah ada sejak dulu. Ingat ‘kah minum kopi ala warung kopi?

Alasan terakhir yang menjamur pada generasi milenial pada kebiasaan minum kopi adalah bagian gaya hidup. Jadi mereka mewakili kebiasaan kekinian minum kopi dengan gaya metropolis. Jika dulu minum kopi cerminan orang-orang tua, kini berubah karena citra kopi sebagai bagian dari gaya hidup kekinian.

Baca:  https://liwunfamily.com/2018/09/26/6-manfaat-mengejutkan-minum-kopi-yang-perlu-diketahui/

Bagaimana menurut anda?

29 September, International Coffee Day. Sudahkah Ngopi?

Mari menikmati kopi pagi ini!

Hari Jumat (29/9) bertepatan dengan perayaan Internasional kopi. Kopi bukan hanya sekedar minuman saja melainkan juga gaya hidup. Berjamurnya kedai kopi menunjukkan betapa masyarakat punya kebiasaan menikmati lebih dari secangkir kopi. Apa itu? Obrolan dibalik kopi.

Apakah kopi bisa menimbulkan kecanduan? Bisa saja. Karena banyak orang memunculkan filosofi tiada power bekerja tanpa kopi. Life begins from coffee. Kandungan kafein dalam kopi dipercaya menjadi candu sehingga orang tidak terbiasa tanpa kopi di pagi hari. Itu sebab mereka bergairah bekerja dengan kopi sebagai sarapan

Kopi tidak membuat sekat gender. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama senang minum kopi. Lalu, bagaimana jika peminum kopi sedang hamil? Studi menunjukkan bahwa perilaku perempuan hamil meminum kopi dalam ambang batas satu atau dua gelas sehari tidak berpengaruh pada tingkat kecerdasan anak, masalah perilaku atau obesitas. Para peneliti tidak menemukan hubungan antara asupan kafein ibu mereka dengan obesitas anak yang mereka kandung.

Citarasa kopi seperti memberikan filosofi tentang hidup. Bahwa apa pun wadah yang digunakan untuk minum kopi, namun yang terpenting adalah bagaimana menikmati kualitas rasa kopi. Seumpama menikmati kualitas hidup, lupakan ‘wadah’ itu, bisa jadi jabatan pekerjaan, pendidikan, kekayaan, status sosial dan sebagainya.

Ilustrasi, Masjid Raya Aceh. Bukti otentik bahwa saya suka minum kopi gayo

Ilustrasi, Gapura perbatasan Papua dan Papua New Guinea. Bukti otentik saya juga suka minum kopi papua selama di sana.

Berbanggalah Indonesia yang kaya akan kopi. Saya pernah singgah mulai di Aceh, dengan kopi arabica  (gayo) yang khas hingga Papua dengan kopi robusta. Keren ‘kan? Indonesia punya itu semua. 

Melalui perayaan hari kopi ini, semoga bukan hanya gaya hidup minum kopi yang meningkat namun industri kopi juga. Agar dunia tahu bahwa Indonesia punya kopi berkualitas. 

Selamat Hari Kopi Internasional! Sudahkah Ngopi pagi ini? ☕

PS: Dirangkum dari berbagai artikel kopi di blog ini.

Maukah Kau Berbagi Kopi denganku Setiap Pagi? 

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Sumpah, aku tak minum kopi. Bau kopi di pagi hari membuatku mual. Aku bahkan hampir muntah saat ayahku membuat kopi untuknya. Setelah aku mengaku tak kuat minum kopi apalagi mencium aromanya, ayah beralih suka minum teh tiap pagi. Syukurlah! Batinku dalam hati. 

Orang suka sekali minum kopi di pagi hari. Mereka dengan bangganya bawa secangkir kopi dari kedai ternama sebagai bentuk eksistensi diri. Kopi yang begitu kata teman kantorku seperti gaya hidup orang kota. Mereka tidak kecanduan kopi. Mereka hanya kecanduan gaya hidup. Basi, pikirku. 

Kopi. Aku tidak mau. Begitu aku ditawari untuk meminumnya. Gratis. Katanya lagi. Aku tetap menggeleng sambil angkat tangan. Eh dia masih memaksa dan berpikir cuma basa-basi. Hayiah! Buat apa basa-basi. Lalu dia mengatakan aku kuno dan tidak kekinian. Lantas aku marah besar. 

Hanya karena secangkir kopi di pagi hari lalu masalah dengannya dimulai. Apakah kopi bisa meningkatkan tingkat kemarahan? Mungkin, jika orang yang tak suka minum kopi dipaksa meminumnya hanya karena sebuah filosofi. Katanya tidak ada kehidupan tanpa kopi di pagi hari. Omong kosong! 

Aku mulai tidak sabar lagi menghadapi tawarannya minum kopi di pagi hari. Sial! Mengapa aku harus berangkat bersama dengannya untuk tugas kantor menjengkelkan ini? 

Pagi – pagi dia sudah membangunkanku dengan menelpon dan menyapa “Selamat pagi Cinta!” Kampret, umpatku. Saat aku tidak bisa tidur di hotel dan berharap bisa bangun siang, meski aku lupa bahwa aku sedang tugas keluar kantor. Dia membuyarkan anganku. “Hayo, berangkat! Ketemu di restoran untuk sarapan ya,” katanya tanpa bisa menyangkal permintaannya. 

Aku seperti hafal selama sepuluh hari bersamanya, dari pagi hingga menutup mata. Mengapa aku harus bersamanya? Semoga aku tidak mendapatkan karma, benci jadi cinta. Aku ketuk-ketuk meja kayu memikirkan hal itu. Semoga kesialanku tidak berbalik padaku. Buat sial, umpatku sambil mengetuk meja kayu berkali-kali. 

“Dengar Anna, aku penasaran mengapa kau tak suka kopi di pagi hari?” tanyanya. 

Haruskah kujawab pertanyaan tak penting ini? Siapa dia ingin mengetahui hidupku? Aku hanya tersenyum dan tidak menjawab. 

“Kelak kau akan terbiasa menyiapkan kopi setiap pagi” katanya sambil pergi menuju kamar tidurnya yang terletak satu lantai denganku. Itu seperti mantera yang menyihirku. 

Karma itu terjadi. Ketika masa lalu bisa kau kendalikan, tetapi tidak untuk masa depan. 

Siapa sangka aku membencinya di masa lalu? Kini aku mencintainya hanya karena aroma kopi di pagi hari. Karma! Kau bisa tentukan apa yang kau suka dan tidak suka, tetapi kau tidak bisa membohongi takdir saat itu sudah digariskan padamu. 

***

Aku berjalan melangkah perlahan menuju altar. Gaun putih yang aku kenakan membuatku tampak anggun bak puteri dongeng. Seluruh mata di kapel memandangku takjub. Inilah akhir masa lajangku! 

Pria itu berdiri di depan pastor. Matanya tak berkedip memandangku. Ia tersenyum menyambutku. 

“Anna, maukah kau berbagi kopi denganku setiap pagi?” pintanya. 

***

Katakan masa lalu ditentukan apa yang sudah dimulai, namun masa depan yang akan menyatakannya. Itu karma! Jangan katakan kau membencinya! Mungkin kau tak cukup waktu untuk menyukainya. 

Kualitas “Kopi” atau “Cangkir”?

image

Usai kaffetrinken dan makan kue coklat di sebuah Mckafe. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Ada seorang murid bertanya kepada Guru bijaksana tentang tujuan hidup. “Guru, apa sebenarnya tujuan hidup anda sebenarnya?”

Sang Guru pun tersipu menjawab pertanyaan muridnya dengan pertanyaan lagi, “Apa tujuan hidupmu juga, anakku?”

Mereka pun diam dan saling memandang satu sama lain. Begitulah orang bijak, mereka akan merespon dengan pertanyaan atau perumpamaan agar muridnya bisa memahaminya.

Lalu Guru pergi ke dapur dan mengambil semua cangkir yang ia miliki dan diletakkan di hadapan para murid-muridnya. Ada beragam cangkir yang dimilikinya, mulai yang paling mahal hingga murah. Tentu anda tahu bahwa cangkir termahal terbuat dari kristal dan terlihat sangat cantik. Ada pula gelas yang terbuat dari keramik hingga ada satu gelas biasa yang murah kualitas, sudah rusak di bibir cangkirnya, dan tak menarik. Semua jenis gelas tersedia di hadapan mereka.

Guru pun berkata, “Di dalam teko besar ini ada kopi jenis terbaik di dunia. Sebagai peminum kopi, saya percaya kopi ini memiliki rasa paling enak. Aromanya juga memikat dibandingkan kopi-kopi lain yang pernah saya minum. Sekarang saya meminta anda semua yang ada dalam ruangan menikmati kopi ini. Silahkan ambil dengan cangkir-cangkir yang sudah tersedia di hadapan anda semua.”

Semua murid yang berjumlah kurang dari dua puluh orang itu pun mencoba mengikuti petunjuk Guru tersebut, terutama murid yang bertanya tadi. Lah wong bertanya tujuan hidup kok malah justru disuruh minum kopi.

Usai semua mengambil cangkir dan meminum kopi tersebut, beberapa murid pecinta kopi pun juga terkesan dengan rasa kopi yang baru diminumnya. Sebagian murid lagi nampak memperhatikan cangkir yang digenggamnya dan terkesan dengan cangkir indahnya. Sisanya nampak mencoba mencari kaitan minum kopi dengan pertanyaan tujuan hidup tadi.

Bagaimana rasa kopi yang baru saja kalian minum?” tanya Guru kemudian.

Serempak murid pun menyahut, “Enak“.

Murid yang tadi bertanya menjawab, “Rasa kopinya luar biasa. Kami di sini pun sependapat bahwa Guru punya selera yang baik soal kopi.”

Guru pun mengangguk dan menyetujui.

Lalu apa kaitan tujuan hidup dengan minum kopi?” tanya murid lain.

Kembali Guru pun menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, “Mengapa kalian tidak meminum dari cangkir ini?” sambil mengangkat cangkir jelek, tak menarik dan biasa.

Semua cangkir telah kalian pilih. Aku sengaja menyediakan cangkir yang berbahan kristal hingga bahan yang biasa dan tak menarik. Cangkir jelek ini. Lalu mengapa kalian lebih memilih cangkir kristal dan cangkir mahal? Padahal saya hanya meminta kalian menikmati kopi ini. Kualitas kopi ditentukan oleh rasa dan aromanya, meski cangkir yang jadi wadahnya tidak menarik. Saya sudah katakan bahwa kopi yang kalian minum adalah kopi terbaik dunia.”

Lalu bagaimana dengan anda sendiri?

Saya dan mungkin anda juga terbiasa memikirkan “wadah” yakni cangkir untuk merasakan tujuan minum kopi. Padahal yang kita cari dalam hidup ini adalah “rasa kopi” nya. Tak peduli seberapa menariknya “cangkir kopi” nya, kualitas kopi tidak berubah.

Kita bisa mengumpamakan “cangkir” sebagai jabatan, kekuasaan, harta, pendidikan, status sosial, pekerjaan, pangkat, dan sebagainya namun sebenarnya yang kita cari dalam hidup ini adalah “cara menikmati kopi”.

Apa tujuan hidup anda?

Kualitas hidup tidak ditentukan oleh “wadah” yang melekat pada kita. Jika kita mampu menciptakan rasa dan kualitas terbaik dalam hidup, mengapa kita memusingkan “cangkir”nya? Toh semua orang akan kagum pada hidup anda, apa yang ada di dalam diri, bukan harta, jabatan, status, pakaian, atau apapun yang melekat pada anda.

Demikian sebagaimana diceritakan dari seorang Pecinta kopi. Ia terbiasa minum kopi tanpa gula. Ia mampu membedakan kualitas kopi. Well, inspirasi yang menarik 🙂

“It doesn’t matter what you look like on the outside. It is what’s on the inside that counts.”