Mesir (20): Luxor Karnak Temple, Bangunan Termegah Sepanjang Sejarah dengan Arsitektur Menawan

Tiket masuk.
Bangunan begitu megah dan kokoh sejak sebelum masehi sudah berdiri, arsitekturnya
membuat berdecak kagum.
Meski pilar ini sudah terlihat tak sempurna, percayalah saya berpikir bagaimana mereka membuatnya sebelum ada teknologi sebelum masehi.

Tiap dindingnya berukir informasi yang tergerus jaman. Beratnya tiap pilar 70 ton.

Ini bukti peradaban manusia sebelum masehi.
Kompleks temple batu ini membutuhkan 30 masa pemerintahan firaun untuk membangunnya. Wow!

Sabtu pagi yang indah, program acara selanjutnya di Luxor adalah Karnak Temple. Kami semua berangkat dengan mengendarai bus menuju pusat kota Luxor. Lalu bis kami berlanjut ke Karnak Temple yang menjadi incaran wisatawan dunia yang suka sejarah dan arsitektur. Saya yang melihatnya dari kejauhan saja sudah berdecak kagum, apalagi dahulu ketika bangunan ini masih utuh. Jelas bangunan ini menjadi situs warisan dunia karena bangunan semacam aula dan beberapa temple lainnya dibangun dengan megah, indah dan tercatat terbesar di dunia.

Sebagai lokasi wisata dunia, tempat ini sudah lebih baik seperti lokasi tiket masuk, parkir mobil dan penataan sovenir yang tak mengganggu pengunjung. Tiket masuk dibagikan satu per satu di antara kami. Di pintu masuk terdapat informasi petunjuk bahwa karnak temple adalah kompleks beberapa kuil dan ruang pertemuan juga terdapat danau yang indah di sini. Bangunan ini sudah tampak menonjol dari pesisir sungai nil.

Kuil Karnak didedikasikan untuk dewa Amun-Ra, yang kepalanya bertanduk dua seperti lambang Aries dan wajahnya berjenggot panjang. Anda bisa melihat gerbang pintu masuk seperti kepala bertanduk yang berjejer di depan. Itu adalah simbol dewa Amun-Ra. Kuil ini didedikasikan pula untuk dewi Moot (=Mut) isteri dewa Amun-ra. Dari namanya, ini menjadi cikal bakal kata ibu, yakni mother, mutter (dalam bahasa Jerman) karena dewi Mut adalah ibu Khonsu. Dewa Khonsu adalah putera dari dewa Amun-Ra dan dewi Moot, yang berkepala bulan. Ini menjadi lambang di beberapa kuil terdapat keluarga, ayah, ibu dan anak. Itu adalah simbol mereka.

Sebagai bangunan termegah di dunia sepanjang sejarah, tentu memerlukan waktu yang tak sebentar untuk membangunnya. Bayangkan saja konstruksi sudah dimulai sejak kekuasaan King Intef II, kemudian diperluas tahun 1971 Sebelum Masehi pada pemerintahan King Senusret I. Lalu pembangunan berlanjut terus hingga pemerintahan Ptolomeus VIII. Anda bisa membayangan betapa megahnya tempat ini masa itu, Sebelum Masehi.

Kompleks temple terbagi enam untuk penyembahan dewa Amun-ra, dewa Montu, dewi Mut, dewa Khonsu, dewa Opeth dan dewa Ptah. Begitu megahnya bangunan ini hingga membutuhkan 30 Firaun membangunnya. Kemegahannya juga menyedot animo wisatawan dunia sebagai target kunjungan kedua, setelah Piramid Giza di Kairo. Arsitekturnya yang terbuat dari batu kokoh hingga kini tak bisa diselami bagaimana manusia pada jaman itu bisa membangunnya. Begitu pendapat kami mendengarkan penjelasan reiseleiter, pemandu wisata berbahasa Jerman pada kami.

Kemegahan ini tampak dari hypostyle hall yang terdiri atas pilar batu yang kokoh dan tinggi menjulang. Anda perlu tahu bahwa pilar batu ini tertinggi di dunia, tak ada yang menandingi jumlahnya yang juga banyak. Ada 134 pilar batu yang melambangkan tanaman teratai di ujung tiang. Informasi menyebutkan bahwa hall termegah ini mulai dibangun pada pemerintahan King Seti I (1313 – 1292 Sebelum Masehi). Kemudian selesai dibangun oleh putranya sendiri, Ramses II (1292 – 1225 Sebelum Masehi).

Arsitektur menawan lainnya adalah obelisk, yakni tugu batu kokoh dengan muncung pada puncaknya. Obelisk ini berada pada pilar keempat dan kelima. Tinggi obeliks sekitar 28 meter. Wah!

Obeliks setinggi 28 meter di antara beberapa pilar batu.

Temple megah ini didedikasikan untuk dewa Amun-ra, yang menyerupai lambang aries seperti terlihat di muka pintu masuk.
Pilar batu diberi lingkaran menggambarjan dewa Amun-ra, yang punya tanduk dua.

Lebih jelas saya mengambil figur dewa Amun-ra (kiri) dengan dewa Khonsu (putranya).
Lingkaran kuning adalah figur dewa Khonsu. Lingkaran orange adalah figur dewa Monto yang digambarkan juga bertanduk dua, memegang senjata dan sebagai dewa perang. Lingkaran hijau adalah figur dewa Amun-ra.
Figur dewa Khonsu, dengan bulan di atas kepalanya.
Altar batu dalam kapel.
The sacred lake atau danau yang disucikan yang sudah berusia ribuan tahun lalu.

Ketika saya memasuki bangunan kompleks batu megah ini, saya berdecak kagum pada upaya manusia masa itu membuatnya. Ini seperti masa peradaban manusia dimulai, dengan menciptakan simbol-simbol komunikasi terukir di dinding-dinding batu tersebut. Kini sebagian informasi terukir itu sudah tergerus jaman.

Pada bagian tersembunyi dari kompleks ini adalah semacam kapel untuk berdoa. Dahulu ini dianggap tempat yang sakral untuk penobatan. Di tengahnya terdapat altar batu dan tempatnya begitu menjorok ke dalam sehingga sedikit gelap. Simbol di tiap dinding batu kapel kini sudah mulai pudar dan tak tampak lagi.

Bagian akhir dari kompleks ini adalah danau suci atau the sacred lake. Danau ini tampak indah mempesona, di akhir temple. Dengan luas 200 meter dan kedalaman lebih dari 100 meter, danau ini dimulai pembangunannya saat Hatshepsut dan Thutmosis III.

Begitu luasnya kompleks ini dengan pembangunannya yang berlangsung sebelum masehi, membuat saya berdecak kagum. Bagaimana kekuatan manusia saat itu, yang belum merasakan kecanggihan teknologi tentunya. Wajar tempat ini layak dikunjungi jika anda berkunjung ke Mesir.

Mesir (8): Assuan Philae Temple, Didedikasikan Untuk Dewa Isis yang Tak Pernah Selesai Dibangun

Kuil tampak dari perahu yang kami tumpangi.

Pilar batu besar menandai ciri khas bangunan kekaisaran romawi.

Tampak sphinx yang tak utuh lagi di depan pintu masuk.

Apa kabar anda di hari Minggu? Saya ajak jalan-jalan lagi ya. Setelah puas berfoto di High Plant Dam, bus pun melanjutkan perjalanan. Petugas tur menjelaskan kisah kota Assuan yang kami jejaki saat itu. Ada pula yang menyebutnya Aswan. Itu sama saja. Tentang kota Assuan, saya buat terpisah.

Dewa Isis adalah dewa alam semesta. Itu sebab di atas kepalanya adalah bola dunia.

Tampak beberapa dewa lainnya dengan pilar batu yang bercirikan bunga lotus.

Tak sampai empat puluh menit, bus berhenti di suatu dermaga kecil. Ada banyak rombongan turis juga di situ. Tempat yang kami kunjungi selanjutnya adalah Philae Temple. Letak kuil ini ada di sebuah pulau kecil dan memerlukan perahu menuju ke sana. Rombongan turis berbahasa Jerman dibagi dua kelompok agar perahu aman menuju tujuan.

Sepanjang parkir bus hingga perahu berlabuh, hilir mudik pedagang sovenir menjajakan dagangannya. Kami tidak menggubris hingga berhasil duduk di perahu motor. Perahu bergerak menjauhi dermaga, menuju kuil tujuan. Pemandangan danau ini benar-benar alami dan indah. Letaknya berada di Lake Nasser, antara High Dam dan Old Dam. Di sekitar sini, suku nubian tinggal dengan karakteristik yang sedikit berbeda dari orang Mesir umumnya. Ya, suku nubian berasal dari Ethiopia, yang lebih sering kita kenal sebagai orang Ethiopia.

Kami tiba di Philae Tempel. Tiket masuk sebesar 140EGP dibagikan dari tour guide. Di depan pintu masuk ada papan informasi yang menjelaskan bahwa kuil ini dibangun jaman Mesir lampau yang didedikasikan untuk dewa Isis. Kuil sudah ada sejak jaman Dinasti Taharqa abad 6 atau 7 sebelum masehi. Kemudian pada abad 2 sebelum masehi, Raja Ptolomeus II berusaha menyelesaikan kuil ini, tetapi upayanya belum berakhir juga. Hingga Mesir dikuasai kekaisaran romawi pun, Philae Tempel tak pernah selesai terbangun.

Dewa Isis digambarkan juga sebagai a Bird goddess. Dia juga dipercaya memiliki sayap.

Tiap dindingnya menggambarkan pujian kepada dewa Isis.

Ini adalah lambang bunga lotus.

Dewa Isis adalah ibu dari Horus yang dipercaya menolong saat kematian. Menurut mitologi Yunani lampau, dewa Isis memegang peran penting karena melahirkan dewa Horus. Di kuil ini kisah dewa Isis diperlihatkan lewat simbol-simbol huruf hierogliph yang terukir di dinding utama kuil. Bahkan jaman Ptolomeus II, dewa Isis diyakini sebagai penguasa alam semesta. Kuil ini adalah bukti bagaimana orang dulu begitu mengagungkan dewa Isis, universal goddess.

Saya yang mendengarkan penjelasan petugas tur dalam bahasa Jerman terkagum-kagum bahwa dulu saya senang sekali menonton film-film mitologi Yunani. Ini bukanlah mimpi bahwa akhirnya saya bisa menyambangi kuil ini, meski kini kondisinya pun tak sempurna lagi. Apalagi pada abad 3-4 sesudah masehi, kuil ini ditinggalkan ketika orang-orang masa itu telah mengenal Tuhan. Tak hanya itu, bencana banjir beberapa kali yang melanda pulau terpencil ini sempat mengancam kuil ini meski akhirnya terselamatkan.

Kuil ini pada akhirnya memang tak selesai dibangun. Di sisi kiri kuil, pengunjung akan menemukan Temple of Horus dan Temple of Nakhtenbo. Juga kita bisa melihat Hadrian Gate, yang berciri khas kekaisaran romawi dengan pilar batu kokoh dan menjulang tinggi. Setelah itu, ada dua patung singa seperti sphinx yang tampaknya tak utuh lagi. Figur dewa Isis, Hathor dan Horus terukir di pintu masuk kuil.

Altar.

Tampak tak pernah selesai dibangun.

Pemandangan cantik danau Nasser.

Berbagai huruf hierogliph yang menyatakan pujian untuk dewa Isis tampak jelas di sini. Namun ada hal menarik, di sini ada altar yang dikaitkan keyakinan masyarakat Mesir kuno sesudah Masehi. Ini seperti menandakan mereka adalah jemaat kristen awal sekitar abad 4-5 setelah masehi. Ini menandakan tak ada lagi penyembahan kepada dewa. Bisa jadi ini adalah cikal bakal kristen koptik yang juga menjadi bagian 10% dari warga Mesir yang mayoritas islam.

Di sini juga diperlihatkan bunga lotus sebagai simbol wilayah Mesir atas, yakni wilayah Assuan sekitarnya. Bahkan beberapa pilar batu juga menggambarkan bunga lotus. Jika anda menyimak cerita sebelumnya tentang high dam plant, terdapat monumen persahabatan yang juga dilambangkan sebagai bunga lotus.

Keluar dari kuil, kita bisa melihat pemandangan danau Nasser yang cantik. Ada juga ruang pemujaan, yang letaknya di seberang. Sisi lain adalah toilet dan kios penjulan sovenir.

Di luar tampak ada kursi batu yang berbentuk teater. Entah apa maksudnya. Pengunjung diberi kesempatan berfoto di sekitar kuil selama tiga puluh menit.

Tips dari saya, jika anda hendak ke sini:

  1. Siapkan pakaian casual.
  2. Alas kaki yang nyaman.
  3. Pakai topi atau penutup kepala agar tidak kepanasan.
  4. Pakai kacamata surya jika butuh.
  5. Pakai sunblock jika perlu.
  6. Ikuti petugas tur resmi agar aman dan nyaman selama trip.
  7. Bawa minum.
  8. Siapkan uang receh untuk keperluan toilet.

Selamat jalan-jalan!

Mesir (4): Museum Buaya Berisi Mumi Buaya Ribuan Tahun Lalu

Museum Buaya berada di sebelah Kuil Ombo atau Candi Sobek. Sobek adalah nama salah satu dewa Mesir jaman dulu yang digambarkan berwajah buaya. Sobek diyakini pernah memerintah pada 2500 Sebelum Masehi. Sobek juga dipercaya penguasa air. Air bagi masyarakat Mesir adalah cinta. Bahkan mereka menyebut sungai nil adalah hadiah terindah warga Mesir. Bayangkan bahwa hujan hanya datang satu kali dalam setahun. Itu sebab air punya makna kehidupan sejak dulu.

Mumi buaya yang berusia ratusan hingga ribuan tahun.

Sudah hampir gelap kami tiba di museum buaya. Petugas jaga memeriksa tiket masuk dan mempersilahkan kami masuk. Tour guide kami menunggu di luar. Kami diperingatkan petugas jaga museum tidak boleh mendokumentasikan dengan kamera atau video elektronik. Kami hanya boleh menggunakan kamera telepon genggam, tanpa blitz. Karena buaya di sini sudah berbentuk mumi yang disucikan.

Telur hingga anak buaya yang dimumikan.

Setelah pintu masuk tampak 20 buaya yang sudah tak bernyawa di dalam etalase kaca. Kami melihat di luar kaca buaya-buaya ini tampak menghitam dengan ukuran bervariasi. Ukuran buaya mulai dari 4,3 meter hingga 2 meter. Buaya ini pernah hidup di lembah sungai nil. Kini buaya tersebut sudah berpindah habitat ke sungai selatan Aswan.

Kuil pemujaan dewa Sobek.

Buaya dianggap suci karena mewakili dewa Sobek, yang menguasai air. Di sisi lain, buaya adalah hewan vertebrata tertua yang pernah hidup di dunia. Usianya juga panjang.Di etalase lain, buaya tampak masih dimumikan dibungkus dengan kain. Terdapat juga kertas doa, namun sayang saya tidak mendokumentasikannya. Etalase lain menggambarkan perkembangan buaya yang sudah dimumikan juga. Mulai dari telur buaya, bayi buaya hingga buaya yang masih berusia beberapa bulan dalam etalase tersebut. Kunjungan museum yang singkat diakhiri dengan toko souvenir untuk turis. Selanjutnya, saya perkenalkan satu desa yang memperlihatkan buaya dan manusia bisa hidup bersama. Buaya dijadikan hewan peliharaan keluarga.

Mesir (3): Kom Ombo Temple, Kuil Kuno tentang Buaya dan Pengobatan

Tampak depan candi.

Dari candi, senja tampak mempesona.

Tiba di perjalanan paket pertama di Luxor adalah Kom Ombo dan Museum Buaya. Karena dua tempat ini punya banyak cerita dan foto, saya buat terpisah. Kapal kami berlabuh di Kom Ombo dari Luxor menuju Assuan. Rupanya kami datang saat senja hari. Ini waktu yang tepat untuk berfoto manakala sinar matahari ke arah kuil tampak mempesona, dengan senja yang cantik. Petugas tur membagikan tiket masuk ke kami dan anggota rombongan. Tur kami dalam bahasa Jerman tepatnya.

Sisi dalam dengan pilar yang dibangun seperti pada kekaisaran romawi.

Harga tiket 100 Lira Mesir dalam mata uang lokal, ini sudah termasuk tiket masuk museum buaya yang letaknya di sebelah kuil.

Salah satu dinding candi, bagaimana peran domestik perempuan dan berbagai simbol bahan makanan jaman itu.

Tepat di pintu utama, tampak gerbang kuil yang mempesona dengan sinar matahari hampir redup. Jika tak salah, pintu utama kuil menghadap ke barat. Kami berhenti mendengarkan penjelasan petugas tur. Dinding kuil masih tampak jelas terukir berbagai simbol penuh makna. Di sisi gerbang utama ada lambang ibu, bapak dan anak, seperti sebuah keluarga. Namun wajah ayah dalam dinding tersebut tergambar buaya.

Sisi lain menggambarkan keluarga. Ayah bermuka buaya, di tengah adalah ibu dan paling kiri adalah anak.

Kuil ini terbagi dua bagian, selatan dan utara yang dibangun pada masa Ptolomeus. Di bagian selatan candi didekasikan untuk dewa Sobek. Itu sebab nama tempat ini dikenal kuil sobek. Sobek digambarkan sebagai dewa yang menciptakan dunia dan alam semesta. Di sini pula terdapat kuil pemujaan untuk Sobek.

Lalu mengapa difigurkan buaya pada wajahnya?

Masyarakat dulu di sini percaya bahwa pencipta semesta adalah inkarnasi dari hewan. Namun ada pula yang menganggap Sobek berubah wujud menjadi buaya setelah bertapa. Sebagian percaya melihat wujud buaya di pertapaan tersebut. Ada yang menganggap itu adalah Sobek yang berwujud buaya. Itu sebab masyarakat setempat tidak membunuhnya.

Apakah anda bisa menemukan figur proses persalinan hingga menyusui?

Untuk membuktikannya, di sebelah kuil terdapat mumi buaya yang sudah ada sejak 2600 tahun lalu, tepatnya ketika kuil ini berdiri sebelum Masehi. Buaya begitu dihormati dahulu oleh warga di sini sehingga wajahnya dirupakan di kuil ini. Bahkan ada satu desa di Assuan yang menjadikannya hewan peliharaan di rumah. Cerita tentang desa ini akan saya buat terpisah.

Lorong pengukur air.

Pada bagian utara terdapat pilar batu yang dibangun mewakili kekaisaran romawi Kaisar Marcus Aurelius pada masa sekitar abad 2 sebelum Masehi. Ada tampak keluarga, figur suami, isteri dan anak. Dahulu dewa digambarkan seperti keluarga. Namun pendapat lain mengatakan ini adalah saudara laki-laki Sobek yang juga berwujud buaya. Kuil ini sudah lama dibangun sebelum Masehi.

Kini kuil memang tinggal reruntuhan saja dan tampak tak utuh. Namun para peneliti dan arkeolog masih mengerjakan makna simbol dari kuil ini sebagai informasi terbaru. Juga para ahli pengobatan berusaha memecahkan simbol yang sangat bermakna sekali di sini. Contohnya anda bisa melihat bagaimana proses persalinan terjadi. Atau ada tertulis tentang manfaat buah almond bagus untuk kulit dan rambut. Lainnya khasiat resep mujarab yang bisa dimanfaatkan dunia pengobatan. Sayangnya semua masih tertulis dalam huruf mesir kuno.

Sebagian yang tersisa.

Sampai sekarang para ahli berusaha memecahkan teka-teki simbol yang tertulis pada candi. Dan pekerjaan itu belum selesai, yang didanai lembaga internasional.

Tur kuil berakhir pada lorong pengukur ketinggian air sungai nil. Dahulu belum ada ukuran yang berlaku sebagaimana mestinya. Di kuil ini ada lorong mengukur ketinggian air yang dibangun dari menara dengan ukuran berupa tangga. Tangga ini menjadi ketinggian sungai nil untuk mengantisipasi luapan sungai yang tidak dikehendaki.

Kunjungan berlanjut ke museum buaya yang letaknya bersebelahan. Cerita berlanjut!