Thai Leves Ràkkal & Olasz Paradicsom Leves Mozzarellàval: Kuliner Budapest, Hungaria (4)

Shrimp soup atau Thai Leves Ràkal.

 

Dua cappucino.

 

Nasi Jasmin.

 

 

Tempatnya asyik untuk nongkrong.

 

 

Ini bonnya, bisa bayar dengan Euro.

Menyusuri kuliner di Budapest tak ada habisnya. Begitu banyak tempat nongkrong yang asyik untuk menghabiskan romansa malam. Kami berhenti di area turis, namanya La Lucia Wok & Grill di Vàci utca 25, Budapest. Rasanya kami berdua ingin sesuatu yang hangat seperti kopi dan sup melewati dinginnya malam di sini.

Dengan ramah kami disambut oleh pramusaji. Senangnya di Budapest, hampir semua pramusaji yang kami temui bisa berbahasa Inggris sebagai pengantar. Bahkan kami juga sering mendapati pramusaji berbahasa Jerman saat tahu kami dari Jerman. Menarik ya!

Kami berdua pesan cappucino, suami pesan yang agak besar sementara saya cukup cangkir kecil. Cappucino di sini berasa seperti di Italia, Baristanya paham sekali meracik kopi. Kami cukup menghangatkan tubuh di sini karena di luar suhunya benar-benar dingin dan berangin.

Suami pesan sup yang ditulis berasal dari Italia, namanya Olasz Paradicsom Leves Mozzarellàval. Ini semacam sup hangat bersaus tomat dan keju mozarella di dalam. Kesan suami, rasanya cukup enak. Ya, saya percaya saja karena suami tak seperti biasanya menawari saya untuk mencicipi makanannya. Bisa jadi supnya benar enak.

Pesanan saya adalah sup juga tetapi dari Thailand. Saya sudah katakan sebelumnya bahwa saya rindu ingin makan nasi. Suami pun memenuhi permintaan saya. Syukurlah, kafe ini menyediakan nasi juga meski saya harus membayar lebih untuk seporsi nasi Jasmin. Biasanya sup khas Thailand yang saya pesan disajikan dengan roti, namun permintaan khusus dari saya pun bisa dipenuhi oleh pramusaji.

Sup dari Thailand ini semacam kari hijau yang berkuah santan, namanya Thai Leves Ràkal. Ini semacam shrimp soup dimana terdapat beberapa potong udang, irisan jamur dan irisan bawang merah besar yang berkuah santan kari. Mungkin saya sudah rindu masakan Asia atau saya juga lapar sehingga bagi saya, makanan ini enak sekali. Terbayar sudah niat makan nasi di sini.

Tempatnya yang asyik dan makanannya yang enak tentu membuat siapa saja betah berlama-lama di kafe tersebut. Seperti biasa, ada WIFI gratis dan layanan toilet. Kode membuka toilet ada di bawah struk pembayaran. Begitulah di beberapa negara Eropa, anda perlu membayar dan mendapatkan kode untuk membuka pintu toilet.

PS: Saya lupa mengambil foto pesanan suami karena begitu asyiknya menikmati makanan saya.

Bagaimana menurut anda?

Smoked Salmon with Potatoes, Glühwein dan Crepes, Jajanan Pasar Natal: Kuliner Budapest, Hungaria (3)

Smoked Salmon with Potatoes.

Masih ingatkah anda artikel tentang salmon grilled yang saya jumpai di Christkindlmarkt di Jerman?

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/22/finnischer-lachsgrill-ikan-salmon-yang-dipanggang-makanan-khas-jerman-22/

Setibanya di Basilika Santo Stephanus, kami melihat pasar Natal serupa seperti di Jerman. Pasarnya begitu megah dan terlihat eksklusif yang dijadikan pasar rakyat yang meriah. Banyak turis datang menikmati sajian kuliner atau membeli berbagai pernak-pernik khas Hungaria.

Salah satu yang membuat kami lapar adalah kedai yang terlihat banyak asap dan letaknya tepat di depan lapangan basilika. Kedai tersebut menjual salmon yang dipanggang dan beberapa sajian lainnya. Kami menyukai ikan dan sengaja berhenti di situ untuk mencicipinya. Meski harganya lebih mahal saat kami beli di Jerman.

 

Petugas pemanggang salmon benar-benar paham bagaimana membuat tekstur ikan yang sesuai. 

 

Pramusaji menuangkan potongan kentang bersisian dengan salmon panggang.

 

 

Nikmat sekali!

Saat pramusaji memenuhi permintaan kami, dia meletakkan irisan salmon yang dipanggang dan masih berasa panas di selembar piring kertas. Dia bertanya, apa yang dikehendaki selanjutnya? Pilihannya roti ciabatta atau kentang. Kami pilih kentang yang diolah dengan cara ditumis dan diberi bawang bombay serta daun seledri yang ditaburi sedikit. Rasa kentang ini juga enak sekali. 

Kentang tersebut diletakkan bersisian dengan salmon panggang. Porsinya yang lumayan besar cukup buat saya dan suami. Lagipula saat membayar, kami terkejut juga mendapati harganya yang lumayan mahal yakni sekitar 15€. Meski saya membayar dengan mata uang Hungaria, namun rasanya sajian ini lebih mahal saat kami dapati model sajian yang sama di Jerman hanya sekitar 10€.

Harga mahal namun rasa yang lezat cukup membuat kami senang juga. Sepertinya si pemanggang salmon tahu betul bagaimana membuat tekstur daging salmon enak dan tidak hangus. Enak sekali! Sedangkan jika memilih smoked salmon dengan roti ciabatta harganya jauh lebih murah. Untuk menikmatinya cukup diberi siraman lemon sedikit. Enak sekali meski tak banyak bumbu yang digunakan.

 

wp-image-1858705261
Pfannkuchen atau crepes.

 

 

wp-image-1710999197
Glühwein.

 

 

wp-image-1953881364
Kedai yang menjual di pasar Natal.

 

Selain salmon with potatoes, ada lagi crepes dan glühwein. Crepes, semacam Pfannkuchen di Jerman. Di sini hanya tepung, telur dan air sedikit. Lalu dipanaskan di wajan datar hanya beberapa menit.

Di Indonesia, jajanan ini dijual menjadi makanan populer di pusat perbelanjaan. Di Indonesia, crepes lebih krispi sedangkan di sini lebih lembut, mungkin bahan yang digunakan berbeda.

Isian crepes bisa bermacam-macam sesuai selera. Saya paling suka cokelat saja atau ditaburi madu juga boleh. Ini bisa jadi jajanan kaki lima yang mudah dijumpai di Eropa. Anda bisa mensontek gaya saya membuatnya di sini.

Baca https://liwunfamily.com/2017/09/24/jangan-hanya-tahu-makan-crepes/

Untuk minumannya, ternyata ada juga glühwein di sini. Saya lupa berapa harganya dalam mata uang HUF, namun kira-kira harganya sekitar 3€. Tak perlu deposit gelas seperti layaknya di pasar Natal di Jerman. Mereka menuangkan glühwein dalam gelas bermaterial sekali pakai.

Glühwein menjadi minuman hangat dan terbaik disajikan saat musim dingin seperti sekarang di sini.

Demikian hasil perburuan kuliner di pasar Natal. Pastinya masih ada lagi sajian kuliner lain yang ditemukan di Budapest. 

Semoga bermanfaat!

Menyusuri Kuliner Malam di Myeongdong, Seoul

Ramai dan meriah itu pendapat saya pertama mengunjungi wilayah ini di malam hari.

Asyiknya mengamati orang lalu lalang dan merayakan happy hour saat wiken di sini.

Ini salah satu makan di restoran di sana.

Jangan tanya nama menu makanannya, saya sudah lupa!

Ada juga street foods yang perlu dicoba. Foto diambil dari lantai atas kafe.


Cerita traveling masih seksi untuk ditulis meski ini sudah lama berlalu. Saya tiba di Seoul, punya beberapa teman yang dikenal di sini. Ada satu teman kerja di proyek lama, perempuan Indonesia yang sedang mengambil studi di Seoul dan satu lagi pria Korsel asli yang saya kenal dari traveling. Satu lagi teman saya yang lain adalah pria asal Montenegro yang bekerja di Seoul. Traveling tidak hanya menambah teman tetapi menambah ilmu kehidupan. Teman saya yang terakhir ini membawa saya berkunjung ke kuliner malam Myeongdong, Seoul.

Baca https://liwunfamily.com/2014/04/25/mengamati-orang-korea/

Kata teman saya ini, Myeongdong itu adalah kawasan elit perbelanjaan. Siang hari saya juga hilir mudik ke area ini yang tak pernah sepi lalu lalang orang. Saya memang tidak tertarik berbelanja karena malas menambah beban bagasi. Kawasan komersil ini pastinya asyik untuk dijelajahi dengan warna-warni sorot lampu jika malam hari, itu pemikiran saya.

Sebenarnya saya sudah lelah seharian jadi backpacker ke beberapa tempat wisata di Seoul, namun karena ditraktir makan sebagai tanda persahabatan saya ikut saja. Departemen store pada malam hari pastinya tutup, yang masih buka dan hingar bingar adalah kafe dan restoran. Serunya lagi saya berjalan-jalan ketika wiken, mengapa? Banyak karyawan kantor merayakan happy hours sambil minum bir lokal. Di sisi lain banyak pula generasi milenial yang ber-gadget sibuk foto-foto di restoran dan kafe.

Jika anda datang ke wilayah Myeongdong untuk berbelanja saat siang hari, itu betul! Namun malam hari, anda juga bisa datang untuk mengamati keramaian orang-orang Seoul merayakan kebersamaan, entah berpasangan, bersama rekan kerja atau bersama keluarga. Makan malam di sini juga boleh, namun siapkan kocek yang tebal karena sebagai wilayah elit pastinya harga sewa tempat tak murah, jadi harga mahal pastinya ada untuk setiap makanan. Namun anda layak datang sembari berfoto di sini karena ini adalah area favorit para turis.

Dari berharga mahal di restoran sudah saya coba meski saya tidak tahu apa nama makanan yang saya coba. Maklum ditraktir jadi lupa harga dan menu makanan. Hingga saya mencicipi kuliner kaki lima yang mudah ditemui di pinggir jalan. 

Hotel saya memang tak jauh dari wilayah ini. Cukup berjalan kaki kira-kira 30 menit lamanya. Jika berniat ke Seoul untuk berbelanja, memang Myeongdong tempatnya, termasuk bagi anda yang suka berbelanja kosmetik. Setelah saya amati terkadang toko juga memberikan harga diskon juga. 

Baca juga 

Begitulah pengalaman menyusuri kuliner malam di Myeongdong. Jangan tanya nama makanannya karena sudah lupa! Pastinya layak untuk tempat berfoto dan wisata kuliner. 

Semoga bermanfaat😁

Mengapa Banyak Orang Ingin Berkunjung ke Shenzhen, Tiongkok?

Selamat datang di Lou Ho, Shenzen!

Suasana kala malam hari.

Gedung pencakar langit dari jendela kamar hotel.

Berkeliling kota dengan jarak dekat, bisa sewa sepeda.

Menikmati kuliner malam.

Ini aneka rempah mungkin yang dijual.

Selamat datang bulan November! Apa rencana anda di bulan ini? Tetap semangat menjelang dua bulan lagi tutup tahun. Apakah semua rencana anda di tahun ini sudah tercapai semua? Jika belum, mari berpacu mengejarnya. Kali ini saya membahas soal traveling lagi yang selalu seksi untuk dibaca. Karena masih banyak orang penasaran dengan cerita traveling saya, silahkan di simak artikel di bawah ini.

Anda yang pernah datang ke Hong Kong, mungkin terbersit keinginan untuk mengunjungi wilayah Tiongkok, yang berdekatan langsung. Ya, Shenzhen adalah kota metropolis di provinsi Guangdong. Tepatnya kota ini berbatasan langsung atau sebelah utara dari Hong Kong. Katanya dua puluh tahun lalu, kota ini masih sepi namun sekarang kota ini tumbuh seperti kota industri. 

Bagi orang Indonesia sekarang tentu tak mudah untuk masuk ke sini, anda perlu visa yang diterbitkan di Kedutaan di lokasi anda tinggal. Peraturan berubah ketika dulu banyak orang Indonesia ingin melihat dan merasakan langsung Tiongkok sambil lalu dari Hong Kong. Beruntungnya saya masih bisa diijinkan untuk datang bersama suami dengan VOA (Visa On Arrival) lima hari untuk melihat sejenak kota yang dirancang sebagai Special Economic Zone

Dari hasil pengamatan, berikut alasan mengapa banyak orang ingin datang ke Shenzen?

  • Alasan industri

Jika anda melewati perbatasan antara Hong Kong dan Shenzhen, anda akan menemui ratusan atau ribuan orang datang dan pergi tak pernah sepi. Kota ini menjadi pusat industri beberapa produksi teknologi Tiongkok seperti Huawei, ZTE, itu yang saya ketahui. Di sini ada Shenzhen Hi-Tech Industry Park juga. Kota ini bertumbuh cepat dan banyak bangunan bergedung tinggi yang dibuat bak kota industri. Apalagi Shenzhen juga punya bandara dan pelabuhan sendiri sehingga jangkauan perdagangan berbagai lintas udara dan laut begitu mudah. Banyak juga tenaga kerja asal Asia yang bekerja di sini. Itu sebab kekhawatiran penyalahgunaan ijin datang sebagai turis bermunculan. Beberapa negara mulai dibatasi, termasuk Indonesia. 

Baca https://liwunfamily.com/2017/03/01/pengalaman-urus-visa-2017-shenzhen-tiongkok/

  • Alasan wisata

Jika menyimak lokasi wisata di sini, memang lebih baik mengikuti paket tur yang disediakan. Destinasi wisata di sini berbeda dengan di Hong Kong yang mudah bagi turis. Namun pengunjung yang datang senang dengan segala hal wisata yang tak melulu natural seperti Window of World, dimana anda bisa menemukan landmark dari berbagai belahan dunia yang berbentuk mini di sini. Untuk memudahkan transportasi, anda bisa memanfaatkan metro, kereta untuk dalam kota. Atau jika jarak berdekatan, bisa sewa sepeda. 

Baca https://liwunfamily.com/2017/03/03/mobike-keliling-kota-shenzhen-pakai-sepeda/

  • Alasan budaya 

Karena Hong Kong sudah menjadi wilayah multi-etnis maka Shenzhen masih menjadi alasan untuk melihat budaya Tiongkok lebih dekat. Di sini sulit sekali menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris. Namun tenang saja, penduduknya sangat ramah dan mau membantu jika ada kesulitan atau tersesat. Ada banyak Temple yang terbuka untuk dikunjungi. Kekentalan budaya juga tampak dari kuliner yang dijajakan. Mungkin anda tertarik mencobanya, silahkan. 

Baca https://liwunfamily.com/2017/03/07/cicipi-wisata-kuliner-ala-shenzhen-di-malam-hari/

  • Alasah biaya hidup 

Dibandingkan di Hong Kong yang begitu mahal untuk sewa hotel, di sini saya masih bisa dapatkan hotel yang berfasilitas baik dengan harga yang sama. Biaya hidup murah juga terasa saat membeli air minum kemasan, di Hong Kong perlu keluar uang 5HKD-9HKD sedangkan di sini hanya sekitar 3RMB untuk kemasan 500ml. Makanan juga banyak pilihan karena ada mall terbesar dan varian restoran yang tak kalah menarik juga dan harganya masih terjangkau. 

Baca https://liwunfamily.com/2017/03/10/mengunjungi-shenzhen-tiongkok/

Apakah anda pernah mengunjungi Shezhen atau kota lain di Tiongkok? Bila ya, silahkan bagikan dalam kolom komentar di bawah!

Puas Seharian Makan Bebek Gaya Barat dan Gaya Timur

Masakan bebek gaya barat, Ente Keule. Kiri adalah rotkraut.

Masakan bebek ala gaya timur, pekkingsuppe.
Pesanan suami saya, cukup fish fillet. Cara membuat bisa disontek di sini.

Dua orang dengan selera berbeda.

Saya rindu makan bebek goreng plus sambal dan lalapan dengan nasi hangat. Itu angan-angan saya. Wiken datang! Akhirnya kami memutuskan makan di luar. Antara percaya dan tidak bahwa sepanjang hari kecuali sarapan pagi bahwa saya makan bebek. Bebek atau ente dalam bahasa Jerman dengan gaya western (barat) dan gaya Asia (timur).

Makan siang tiba, kami berhenti di restoran ala buffet. Karena sudah tak terbayang menu western lain, pilihan jatuh pada bebek goreng. Saya pikir mereka punya nasi untuk menyantapnya. Ente Keule nama makanan yang saya pilih. Baiklah, tak ada nasi apalagi sambal. 

Si pramusaji segera menuangkan paha bebek yang besar di atas piring. Lalu dengan cekatan, dia menaruh dua kentang rebus racikan. Saya masih bengong melihatnya. Lalu menyiram kentang dengan saus berwarna kecoklatan. Wah, porsinya besar juga ya! Dan terakhir dia memberi saya sepiring kecil rotkraut

Cara membuat bebek ini sebenarnya mudah karena tak banyak bumbu yang saya rasakan. Setelah potongan bebek tanpa lemak dicuci, lumuri bebek dengan garam dan merica sebentar. Lalu panggang di oven kira-kira 30 menit atau tergantung juga besaran potongan bebek yang dikehendaki. Angkat sebentar. Lalu terakhir goreng tak lama untuk membuat warnanya kecoklatan emas. Simpel ya!

Di atas gaya barat. Puas berjalan-jalan waktu makan malam pun tiba. Makan malam memang tak perlu makan besar porsinya. Karena sudah tak banyak waktu untuk memilih, kami berhenti lagi di restoran cepat saji ala Asian Food. Pilihan jatuh pada Pekkingsuppe

Begini cara memasaknya. Potongan bebek yang sudah direbus, disuwir-suwir halus. Siapkan pula saos tomat, irisan bawang bombay, cabai iris, potongan wortel, jamur dan sedikit jahe dengan potongan memanjang tipis. Panaskan minyak di wajan lalu masukkan bawang bombay, cabai, wortel, jahe dan jamur. Tumis sebentar. Masukkan suwiran bebek, saos tomat, garam, cuka dan gula setelah diberi air sedikit. Masukkan telur yang sudah dikocok dengan garpu. Jangan diaduk terlalu cepat sehingga dapat membuat serpihan telur yang indah! Masak kembali tak lama. 

Malam yang dingin pun terasa hangat dengan makan pekkingsuppe. Oh ya, harga makan bebek ala gaya barat yakni Ente Keule sebesar 9,8€. Sedangkan makan bebek ala gaya timur yakni pekkingsuppe sebesar 1.9€. Keduanya lezat menurut saya.

Bagaimana tertarik memasaknya? Atau apakah anda ingin membeli langsung di Jerman? 

5 Alasan Berkunjung ke Roma, Italia

Kota Roma dari atas Castle San’Angelo. Tampak di seberang adalah Basilika Santo Petrus.

Mesin otomatis untuk membeli tiket metro, di dalam stasiun Roma Termini.

Kota Roma sudah ada dalam buku sejarah yang saya pelajari di sekolah dulu. Ini berarti kota ini termasuk kota tua. Seingat yang saya pelajari, kota Roma memiliki tata kota yang mengagumkan peradaban kala itu. Wajar saja banyak bangsa lain datang mempelajari perkembangan tata kota Roma yang sudah cukup maju pada jamannya. Di Roma pula banyak nama populer bermunculan seperti Julius Caesar yang dikenal dengan kepemimpinannya.

Saat saya ngobrol dengan staf hotel, tempat saya menginap. Dia bercerita ada salah seorang tamunya bertanya dimana letak shopping center karena ingin membeli barang dari merek ternama. Kata staf hotel “Anda salah besar jika datang ke Roma untuk berbelanja. Ini bukan tempatnya!” So berdasarkan cerita staf hotel, berikut lima alasan mengapa orang datang ke Roma.

Apa saja?

1. Alasan keagamaan

Basilika Santo Petrus di Vatikan.

Di Roma ada Vatikan, negara privat ini memang negara dalam negara. Ini negara istimewa yang menjadi pusat kekristenan berabad-abad lamanya. Kemudian kini Vatikan hanya menjadi tujuan ziarah bagi umat Katolik. Di sini pula tempat tinggal dan kewenangan Sri Paus yang menjadi pemimpin tertinggi umat Katolik dan dipercaya menggantikan Santo Petrus, salah satu dari Rasul Yesus Kristus.

Tak hanya Vatikan yang menjadi tujuan bagi umat Katolik. Di kota Roma bertebaran konggergasi dan organisasi biarawan-biarawati. Juga beberapa Basilika yang dibangun megah dan indah menjadi tujuan ziarah lain seperti Basilika Santa Maria di pusat kota Roma. Banyak gereja yang dibangun megah sebagai tempat beribadah dan memuji Tuhan. Rasanya layak bila disebut turis datang untuk alasan keagamaan. Ini pula yang sering saya jumpai dalam iklan di Indonesia bahwa Roma sekaligus Vatikan menjadi tujuan kunjungan keagamaan. 

2. Alasan sejarah 

Lihat saja situs ini sebagai sisa peradaban kejayaan Romawi yang pernah ada!

Sebagaimana yang dikisahkan tentang peradaban kota Roma yang dimulai dari Sungai Tiber di tengah kota Roma. Di sini pula awal berdiri Roma sebagai pusat kebudayaan latin pada masa itu. Bahkan anda akan menemukan banyak situs peninggalan sejarah yang masih terpelihara untuk menunjukkan kejayaan kekaisaran Romawi. Sebut saja Kaisar Julius Caesar yang dikenal ahli dalam pemerintahan. Ini sebab tata kota Roma begitu memukau termasuk pembangunan arsitekturnya. 

Jika menonton film yang berkaitan kerajaan romawi misalnya anda bisa menemukan sejarah ribuan tahun lalu sebelum masehi kala masih banyak orang memuja dewa-dewi di kota ini. Ya, Pantheon yang dijadikan kuil untuk menyembah dewa masih terawat rapi hingga sekarang di kota ini. Atau Colloseum sebagai tempat gladiator berduel, masih bisa dikunjungi bahwa dulu tempat ini dijadikan adu kehebatan dan kekuatan antar manusia. Bahwa dulu sejarah yang dimulai ribuan tahun lalu sebelum dan sesudah masehi lengkap di sini. Tentu pecinta sejarah tak akan melewatkan kesempatan untuk berkunjung dari satu museum ke museum lainnya di sini.

3. Alasan kuliner

Ristorante atau restoran dalam bahasa Italia, di salah satu pusat kota.

Ketika saya membaca novel ‘Eat, Pray and Love’ lalu menontonnya kini saya sadar bahwa tokoh utama mengalami kenyamanan dan kenikmatan sajian makanan di Italia. Mengapa tidak? Kuliner di Italia itu semua enak. Di pusat Italia seperti kota Roma, anda bisa menemukan sebaran kuliner yang mungkin sudah membumi di Indonesia. Sebut saja pizza, pasta, es krim hingga tiramisu yang pasti pernah anda rasakan di Indonesia. Datang ke sini seolah saya ingin merasakan semua kuliner itu secara otentik. Rupanya lidah saya pun tidak protes pada semua masakan yang disajikan dengan penuh cinta dari para koki. Biasanya saat saya traveling, saya butuh adaptasi untuk rasa makanan lokal yang ditemukan. Di Italia, saya benar-benar jatuh cinta dengan kulinernya!

4. Alasan budaya dan bahasa

Salah satu peninggalan berciri Baroque, Fontana Di Trevi.

Di sini berkembang kebudayaan latin sebagaimana yang tersampaikan dalam sejarah. Di sini pula ada bahasa Italia dan bahasa Latin untuk dipergunakan di Vatikan. Roma yang dibangun sejak ratusan tahun lalu sebelum masehi pernah menjadi pusat kekaisaran romawi. Kebudayaan yang berkembang dalam seni arsitektur tumbuh di sini, tentu terlihat dari pahatan dan bangunan. Ada dua aliran di sini, Renaissance dan Baroque. Anda pasti terkagum-kagum bahwa bangunan itu masih ada hingga kini. Di sini pula pernah berkembang rezim fasisme antara tahun 1922-1943 yang bisa anda temukan dokumentasinya di Museum Nasional. 

5. Alasan seni

Salah satu lukisan.

Lukisan lain yang ditemukan di Castle San’Angelo.

Siapa tak kenal penyanyi bersuara emas seperti Josh Groban, Pavarotti atau Andrea Bocelli atau grup band Ill Divo. Kesemuanya bernyanyi dengan ciri khas suara emas yang tiada duanya. Lepas dari seni suara, ada seni lukis yang memukau dunia. Siapa pun berdecak kagum melihat lukisan mewarnai setiap Gereja dan Basilika, indah dan sempurna. Itu sebab di kota Roma ada sejumlah institut dan akademi untuk seni yang terkenal di dunia.

So, demikian lima alasan mengapa perlu berkunjung ke kota Roma. Ada pendapat?

7 Daftar Kuliner Wajib Dicoba di Roma, Italia

Jika mengenal bangunan ini, anda pasti tahu dimana ini? Colloseum di Roma, Italia.

Pernah membaca novel ‘Eat, Pray and Love’ sekaligus menonton film yang diperankan oleh Julia Roberts, membuat saya meyakini bahwa Italia adalah negeri yang kaya akan kuliner. Mengapa tidak? Banyak makanan di luar sana yang mengenal makanan khas negeri ini. Sebut saja Pizza, siapa yang tidak kenal dengan makanan satu ini. Bahkan di Indonesia, gerai pizza tidak hanya di restoran eksklusif, di pedagang kaki lima pun mereka menyebut pizza dalam daftar menu. Atau aneka pasta dan spaghetti juga mudah ditemukan di seluruh dunia. Dengan berbagai bumbu saus untuk pasta, membuat siapa pun suka makanan khas negeri ini.

Ini pula yang menjadikan alasan saya untuk pergi ke Italia. Wisata kuliner rasanya tepat setelah wisata sejarah. Bersyukurlah saya tidak tinggal lama karena saya khawatir ukuran baju saya tidak akan muat sekembalinya dari sana. Setiap kuliner yang saya coba, semua benar-benar enak. Bahkan biasanya lidah saya protes saat traveling karena rasa dan tekstur makanan yang berasa aneh. Namun di Italia, lidah saya bergoyang karena luar biasa lezat sekali.

Kali ini saya buat daftar kuliner yang wajib dicoba di negeri aslinya, Italia. Menurut saya, daftar ini wajib anda coba saat bertandang ke Italia. Apa saja?

1. Kopi

Segelas kopi espresso.

Saya belum pernah mencoba minum kopi espresso karena khawatir maag saya kambuh. Setelah mencoba minum espresso dan cappucino di sini, Puji Tuhan tak ada masalah dengan perut saya. Entah karena racikannya, entah alasan apa namun saya memuji kopi buatan mereka. Sumpah! Kopi mereka enak sekali. Di sini kopi bukan sekedar minuman, tetapi budaya. Orang Roma menikmati kopi yang disebut ‘Bar Kopi’ bak layaknya kebiasaan hidup. Setelah makan siang pun, mereka minum kopi. Ini sama seperti di Jerman, dimana bir diminum kapan pun.

Hey Coffee Lovers, anda perlu menikmati kopi mereka yang benar-benar nikmat ini. Pilihannya ada pada espresso, cappucino atau macchiato. Setelah menikmati kopi, puji kopi buatan mereka agar mereka bangga bahwa mereka telah berhasil membuat anda jatuh cinta dengan Italia. Rekomendasi tempat minum kopi tersebar di pelosok kota Roma. Bahkan di hotel pun, kopi disajikan dengan penuh cinta untuk anda sebagai tamu hotel. 

2. Pizza

Pizza Margherita dan Pizza Marinara.

Suasana penjualan pizza kala malam hari.

Pizza yang ada di Indonesia bermula dari buatan negeri Paman Sam. Sesungguhnya jika anda mencoba pizza di Italia, anda akan menikmati tekstur roti pizza yang berbeda dengan pizza yang dikenal di Indonesia. Pizza dijual di setiap ristorante atau restoran dalam bahasa Italia. Makanan ini bisa untuk makan siang seloyang penuh untuk satu orang. Atau pizza untuk makan malam dengan irisan yang tak penuh. Silahkan disesuaikan dengan selera anda!

Suatu malam saya dan suami menemukan gerai pizza yang dipenuhi oleh banyak orang. Karena penasaran maka kami mampir dan sekedar mencicipi. Rasa pizza di Italia ternyata berbeda dengan yang dijumpai di Indonesia atau di Jerman. Ada aneka macam topping rasa yang dikehendaki dengan kisaran 1,5€ hingga 2€. Hmmm, lezat sekali!

3. Pasta

Pasta saus tomat.

Pasta saus tuna.

Kami terlambat menikmati makan siang di hari kedua di Roma. Begitu asyiknya menikmati lokasi wisata membuat kami lupa bahwa perut kami sudah mulai menari. Kami berjalan agak jauh dari lokasi wisata agar harga mahal di restoran tidak begitu mahal. Kami berhenti di salah satu restoran dan menikmati sajian pasta yang kebetulan menjadi menu utama siang itu.

Suami saya pesan pasta dengan saus tomat dengan irisan salami. Sementara saya memesan pasta dengan saus tuna. Kami memilih duduk di luar restoran sembari mengamati orang lalu lalang memesan makanan saat makan siang tiba. Selang sepuluh menit, menu pesanan datang. Bagaimana rasanya? Pasta yang dibuat itu seperti tidak lunak namun tidak keras, tekstur pasta benar-benar pas sekali. Sausnya pas sekali, enak! Saya dan suami sepakat bahwa pasta kami benar-benar lezat dan tidak pernah kami menikmatinya seperti ini di luar Italia.

4. Fusilli

Fusilli saus tomat.

Saya memesan fusili di restoran lantai dua semacam food court di stasiun Roma Termini. Awalnya saya ragu karena si koki seperti hanya menghangatkan masakan saja, fussili yang sudah matang ditambah saus di atas kompor. Ya sudah, saya terima saja dan melanjutkan pencarian tempat duduk untuk menyantapnya sementara suami saya mencari menu lain.

Anda tahu, saya terkejut dengan rasanya. Luar biasa cuma dihangatkan begitu saja, namun rasa fusilli ditambah saos tomat dan keju tabur sebagai topping benar-benar nikmat. Berkali-kali saya katakan ini pada suami. Sementara suami saya memesan menu masakan lain. Saya benar-benar tidak menyesal memilih makanan ini. Lezat!

5. Keju Mozzarella

Bruschetta.

Keju mozzarella.

Saya pernah menyaksikan pembuatan keju mozzarella di saluran televisi tentang kuliner. Rupanya keju ini terbuat dari susu kerbau. Di Jerman pun tersedia keju ini, namun saya tidak berniat membelinya. 

Suatu malam saya dan suami berhenti di restoran dekat hotel untuk dinner bersama. Karena kami tidak ingin makan dalam porsi yang besar, pilihan jatuh pada bruschetta. Meski tidak ada imajinasi makanan seperti apa, saya ikuti pesanan yang dipesankan suami. 

Selang lima menit datang pramusaji menyediakan roti ciabatta di hadapan kami dan peralatan makan. Lalu beberapa menit kemudian datang pesanan kami. Jadi beberapa irisan schinken diletakkan mengitari piring dan pusatnya adalah keju mozzarella. Ambil roti ciabatta, masukkan di dalam selipan irisan schinken dan sedikit keju. Sumpah, enak sekali! Saya pun mengatakan pada suami akan membeli keju mozzarela dan membuat hal serupa saat kembali di Jerman.

6. Tiramisu

Tiramisu.

Terakhir ini adalah sejenis cake yang membuat saya tergila-gila menikmatinya. Pertama kali saya jatuh cinta pada tiramisu saat puluhan tahun lalu mencicipinya di Hotel Mulia di Jakarta. Setelah itu saya sering membelinya di Jerman sebagai dessert atau cake kala kaffeetrinken

Mencicipi tiramisu tak ubahnya minum kopi. Ada campuran kopi dalam membuatnya. Anda tak menyesal jika memesan tiramisu sambil menikmati secangkir kopi. Mantap!

7. Es Krim

Ice cream.

Siapa yang tak tahu bahwa gelato adalah resep membuat es krim terenak. Di sini anda akan menemukan bahwa ice cream mereka benar-benar sempurna enak meski kala malam berasa dingin untuk disantap. Namun anda yang suka ice cream, jangan sampai menyesal bila tak mencicipi ice cream di sini.

Demikian pengalaman kuliner saya di Roma, Italia. Saya benar-benar jatuh cinta dengan kuliner mereka. Semoga anda pun demikian!