CERPEN (23): “Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalumu Karena Kau Pemilik Masa Depan”

Aku berdiri di tepi pelabuhan, memandang ferry yang berbayar menjauh menuju seberang. Entah berapa lama sudah aku tak pulang kampung. Aku rindu rumah. Aku rindu bau sawah. Aku rindu rasa embun di pagi hari. Aku rindu bersedekap merasakan hawa sejuk pegunungan. Ibu benar, aku tak cocok tinggal di tepi pantai. Sejak pindah dari wilayah pegunungan … Continue reading CERPEN (23): “Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalumu Karena Kau Pemilik Masa Depan”