Tetaplah Indah dan Berguna, Meski Kelak Kau Hanya Bunga Kering!

Contoh bunga kering.

Saya pernah menuliskan pengalaman pertama kali datang ke Jerman, tetiba ibu saya di Indonesia mengirimkan pesan SMS, ‘Blühe, wo du geplantz bist!’ ke hape saya. Kisahnya ditulis di sini. Maknanya sangat dalam, bahwa dimana pun tetaplah berbunga. Bunga menampilkan keindahan dan menarik mata siapa saja. Mungkin ini jadi kiasan yang baik bagi kepribadian seseorang. 

Siapa bilang bunga itu tidak indah? Saya jatuh cinta saat melihat mereka bermekaran di teras rumah. Lihat saja ini sebagian bunga milik saya! 

Begitu indah dan menarik mata, itulah bunga. Bagaimana jika anda mendapati seseorang yang begitu menarik, bukan karena rupawan tetapi kepribadian yang menarik? 

Ibu mertua saya yang bijaksana pernah berkata begini pada saya, “Kau tahu, Anna? Jadilah bunga dimana pun! Meski kau sudah layu dan kering, orang-orang tetap mengambilnya untuk menjadi hiasan. Kau tetap berguna dan tetap indah sampai kapan pun.”

Kalimat yang bijaksana dalam bahasa Jerman itu meluncur dari ibu mertua saya sambil kami berdua memungut bunga-bunga yang sudah layu dan kering. Hmm, pelajaran yang menarik dari bunga kemarin sore. 

Ada pendapat? 

Kebijaksanaan Cinta

(Semacam gembok cinta di pinggiran Austria. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Ketika aku masih remaja, saat mengenal cinta pertama kali, pria idaman bagiku adalah dia yang pandai di sekolah. Sayangnya, aku tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu pintar.

Beranjak dewasa muda, ketika aku memasuki dunia perkuliahan, pria idamanku pun berubah. Dia adalah pria yang rupawan. Sayangnya, aku juga tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu rupawan.

Setelah menyelesaikan kuliah dan memasuki dunia pekerjaan, aku mulai mencari pria idamanku. Bagiku, dia adalah pria yang mapan dalam karir. Sayangnya aku juga tidak bisa mendapatkannya. Mungkin juga karena aku belum mapan kala itu.

Semakin lama usiaku berjalan maka aku semakin bijak dalam menemukan pria idaman. Dalam traveling aku bertemu berbagai karakter pria dari berbagai budaya. Maksudku mereka yang berasal tidak hanya Asia, Eropa, Amerika, Australia atau Afrika. Aku menjadi mengenal seperti apa pria idaman yang aku maksud. Ternyata pria idaman bukan dia yang berasal darimana tetapi dia yang berhasil membawaku kemana biduk hidup itu dituju.

Berjalannya waktu, aku jadi paham bahwa pria idaman adalah dia yang membuatku nyaman menjadi diriku sendiri. Karena aku tidak hidup bersama kecerdasannya, kerupawanannya atau kemapanannya melainkan dengan kebaikan dan ketulusannya. 

Aku menjadi bijaksana karena cinta. 

Ketika Tuhan Beri Taman Indah, Saat Kita Meminta Bunga

Sumber foto: Dokumen pribadi. 

Seorang perempuan muda datang pada seorang tukang pembuat taman yang bijak. Dia berkata “Hei bapak pembuat taman, saya ingin memiliki bunga yang paling indah sedunia. Bisakah kau buatkan untukku setangkai bunga saja tetapi yang paling indah? Karena aku belum pernah melihatnya di dunia selama ini.” 

Si bapak tukang taman berpikir bagaimana bisa mewujudkan keinginan perempuan muda itu. Saban hari ia berpikir bagaimana meyakinkan bahwa ia berhasil membuat setangkai bunga yang paling indah sedunia. ‘Tuhan Sang Pencipta segalanya saja belum berhasil menciptakan bunga yang paling indah menurut perempuan itu, bagaimana dengan saya?’ pikir bapak itu. 

Waktu yang ditentukan pun tiba. Ia datang ke rumah perempuan muda itu. Bapak tua, si pembuat taman mengetuk pintu rumah perempuan itu. Ia pasrahkan pada kekuatan Tuhan untuk membuat setiap pesanan orang. 

“Silahkan masuk!” seru perempuan itu. “Bapak hanya punya waktu selama seminggu untuk membuat setangkai bunga paling indah. Aku akan kembali untuk menilai dan membayar bapak jika bapak berhasil menemukannya,” kata perempuan itu  lagi. Lalu ia pun bergegas meninggalkan bapak tua dengan segala kebingungannya. 

***

Seminggu kemudian, perempuan muda itu datang kembali ingin melihat hasil kerja si tukang taman. 

Bapak tua itu pun berujar “Pekerjaanku sudah selesai. Sekarang aku tidak ingin mendengarkan komentar nona terlebih dulu. Silahkan nona periksa sendiri bunga yang paling indah menurutmu!” 

Perempuan muda itu tidak hanya mendapati setangkai bunga indah tetapi sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga. Ia pun patuh pada pinta si tukang taman untuk tidak berkomentar dulu, melainkan mencari bunga yang paling indah. 

Selang beberapa jam, perempuan muda itu kembali kepada tukang taman. Dia berkata “Aku tidak menemukan setangkai bunga yang paling indah. Aku begitu bingung saat melihat semua bunga terlihat indah di taman ini” 

“Nona, aku sengaja membuatkan sebuah taman yang indah saat kau meminta setangkai bunga. Aku berpikir ini akan memudahkanmu mendapatkan setangkai bunga yang paling indah” kata tukang taman. Dia bertanya “Bukankah kau hanya menginginkan satu bunga yang indah saja?”

Perempuan muda itu pun diam. 

Bapak pembuat taman pun berkata lagi pada nona pemesan itu “Saat kita meminta setangkai bunga, Tuhan bahkan memberimu sebuah taman agar kau bisa memilihnya. Namun yang terjadi, kau tetap merasa bingung dan berkomentar bahwa tak ada bunga yang paling indah sesuai keinginanmu.” 

Perempuan muda itu tertunduk malu pada tukang taman tua yang sederhana dan bijak ini. 

***

Terkadang yang diperlukan bukan sekedar melihat dengan keindahan mata saja, tetapi keindahan rasa. Jika kita tak pernah puas dengan apa yang sudah diberikan Tuhan pada kita, bagaimana kita bisa melihat bahwa hidup itu sejatinya indah. 

Dalam hidup, kita terlalu banyak menuntut padahal sesungguhnya kita sudah diberi apa yang diberikan Tuhan. Ingat, saat kita meminta setangkai bunga, Dia beri kita sebuah taman. Saat kita meminta kesabaran, Dia beri kita ujian. Bahwa sesungguhnya kita hanya bingung karena semua terlalu indah saat kita sudah melewatinya.