7 Alasan Mahasiswa Di Sini Tidak Bawa Kendaraan Pribadi

Ilustrasi. Penggunaan aplikasi kendaraan umum di Bundesland Bayern untuk tujuan, jadwal dan jenis kendaraan umum.

Jumlah mahasiswa di universitas, tempat saya studi kira-kira sekitar setengah jumlah penduduk kota, tempat tinggal saya sekarang. Jika tiap mahasiswa bawa kendaraan pergi ke kampus maka tak terbayang betapa macetnya kota saya. Itu sebab setiap mahasiswa membayar biaya semester termasuk biaya transportasi selama satu semester.

Penggunaan kartu bayar bis hanya menunjukkan kartu mahasiswa kepada supir di pintu depan saat mau naik bis. Di sini naik bis berawal dari pintu depan dan turun dari pintu belakang. Jika kita tidak bawa kartu mahasiswa, kita perlu bayar langsung di tempat sekitar dua Euro sekian mahalnya. Padahal jarak rumah ke kampus hanya sekitar 10 menit dengan bis tetapi bayarnya sekitar dua Euro.

Ada juga kartu bayar bis untuk delapan kali perjalanan yang dipatok harga sepuluh Euro. Bagi mahasiswa, kartu mahasiswa itu kartu sakti untuk naik transportasi umum, bayar makan di kantin, fotokopi murah dan print murah yang semua disediakan di kampus.

Saya pikir ini ide menarik untuk mengurangi kemacetan. Lagipula transportasi umum di sini sangat nyaman dibandingkan kita mesti pusing memikirkan tempat parkir yang sudah pasti mahal. Ada juga solusi lain kendaraan dengan bersepeda dari asrama ke kampus. Namun di musim dingin, siapa yang tahan mengayuh sepeda?

Berdasarkan pengalaman saya tersebut, saya pikir bisa menjadi solusi atasi macet di Jakarta misalnya. Saya ingat dulu kampus saya di Jakarta dimana saya harus berjuang menerobos kemacetan menuju kampus. Dengan begitu, kartu identitas mahasiswa bisa dijadikan kartu bayar transportasi umum sehingga mahasiswa tak perlu bayar saat naik transportasi umum.

Saya mewawancarai teman-teman mahasiswa di sini. Anda bisa melihat bahwa mahasiswa yang kuliah di sini tidak membawa kendaraan pribadi. Berikut 7 alasannya:

1. Sudah membayar retribusi bayar transportasi umum per semester. Sayang saja jika fasilitas ini tidak digunakan.

2. Lahan parkir yang terbatas di kampus. Kampus lebih banyak menyediakan ruang hijau dan membiarkan suasana alami dibandingkan menjadi ruang parkir. Daripada mereka pusing memikirkan parkir mobil, lebih baik mereka naik bis.

3. Biaya parkir pun cukup mahal bagi kalangan mahasiswa. Daripada mahasiswa membayar parkir, lebih baik berhemat untuk kebutuhan lainnya.

4. Jarak rumah tinggal/asrama lebih dekat sehingga mereka urung bawa kendaraan.

5. Harga bahan bakar kendaraan (BBM) di sini lebih mahal.

6. Pilihan yang menyehatkan dengan berjalan kaki atau bersepeda jika jarak tempuh jauh.

7. Mahasiswa cinta alam. Ini alasan terakhir setelah saya bertanya pada segelintir teman yang dikenal. Mereka berniat mengurangi polusi kendaraan, mengurangi penggunaan plastik belanja dan sebagainya. Mereka ingin menjadi agen perubahan untuk keberlangsungan dunia lebih baik.

Demikian tujuh alasan yang dijelaskan di atas. Semoga ini menginspirasi!

6 Pekerjaan Kala Musim Panas Tiba

Liburan musim panas tiba. Di wilayah Bavaria, tempat tinggal kami terhitung sejak Jumat (27/7) sudah selesai kalender akademik. Libur selama enam minggu pun terjadi di sini. Siapa yang tak senang liburan?

Sebagian orang sudah siap dengan tiket dan rencana liburan. Sebagian lagi mengambil kursus musim panas untuk meningkatkan kapasitas diri. Sebagian lagi kembali ke kampung halaman mengunjungi sanak keluarga. Dan terakhir sebagian lagi memilih untuk tetap tinggal di sini dan bekerja tambahan, summer job.

Mungkin pekerjaan ini asing di telinga kita manakala kita hanya punya dua musim. Namun tinggal di negeri empat musim, saya jadi beradaptasi bahwa mencari uang itu mudah asal ada kemauan. Musim panas punya waktu siang lebih panjang. Jadi jika harus bangun pagi, udaranya bersahabat dan sudah tidak gelap lagi. Tak hanya itu musim panas adalah paling asyik buat bekerja. Kebanyakan orang mengenakan pakaian casual seperti kaos t-shirt, celana/rok pendek dan semacamnya.

Berikut hasil pengamatan saya, pekerjaan sementara yang dilakukan kebanyakan mahasiswa atau orang yang ingin cari penghasilan tambahan kala musim panas.

1. Pramusaji

Di musim panas seperti ini, di Jerman tak pernah sepi dari turis baik itu turis domestik maupun turis mancanegara. Mereka pun senang menghabiskan diri di kafe atau restoran yang terbuka (outdoor). Tak hanya itu saja, area biergarten yakni tempat nongkrong minum bir pun dilakukan di area terbuka. Jadi jumlah pengunjung restoran/kafe pun meningkat. Belum lagi mereka senang membakar tubuh mereka di kala siang. Itu sebab lowongan kerja sebagai pramusaji meningkat. Perlu diingat, pramusaji di Jerman untuk kafe/restoran juga merangkap kasir.

2. Asisten dapur

Jika musim dingin membuat orang malas beraktivitas di pagi hari. Namun untuk musim panas, banyak hal sudah dimulai di pagi hari. Bagi mereka yang belum lancar berbahasa Jerman, mereka bisa mengambil pekerjaan sebagai küchenhilfe atau asisten dapur. Mereka bisa bekerja di dapur kafe, restoran atau hotel. Musim panas membuat orang senang berpergian. Tentu jumlah tamu pun meningkat.

3. Petugas hotel (hotel housekeeper)

Sehubungan dengan meningkatnya turis yang menginap, tak jarang banyak hotel juga menawarkan pekerjaan kontrak selama musim panas. Umumnya mereka membutuhkan tenaga untuk membersihkan kamar, semacam hotel housekeeper. Jika kemampuan berbahasa Jerman sudah lancar, hotel juga mencari sebagai tenaga tambahan di front office. Mungkin saja karyawan tetap yang bekerja di posisi tersebut sedang berlibur. Jadi wajar mereka merekrut tenaga sementara di situ.

4. Pemandu wisata

Jerman memiliki banyak kota tua yang patut dijelajahi. Seiring meningkatnya turis, kebutuhan untuk menyediakan pemandu yang mahir berbahasa Jerman dan bahasa asing lainnya amat sangat diperhitungkan. Jika kita punya kemampuan melayani sebagai pemandu wisata, punya informasi wisata yang mumpuni plus punya pengetahuan berbahasa asing untuk negara Eropa, silahkan saja melamar di posisi ini.

5. Asisten di area wisata

Apa saja yang dimaksud asisten di area wisata? Ada yang bekerja sebagai tenaga kebersihan di wilayah wisata. Ada pula yang bekerja sebagai penjaga tiket. Ada pula yang harus melayani pengunjung di kafe/restoran di area wisata. Ada pula yang menjadi penjual es krim di area wisata. Kapan lagi banyak orang membeli es krim jika bukan musim panas. Mereka yang jeli melihat peluang ini, membuka konter es krim saat musim panas. So peluang kerja pun bisa ditangkap mata.

6. Kerja di kapal wisata

Terakhir bekerja di kapal wisata. Kapal wisata ini melayani rute tempuh yang pendek. Musim panas menjadikan orang senang menikmati keindahan alam di kapal wisata. Di musim dingin, kapal wisata tidak beroperasi. Bekerja di kapal wisata mulai dari asisten dapur yang menyediakan makanan bagi para tamu. Atau mereka yang bergerak sebagai pramusaji.

Demikian hasil pantauan saya. Sepanjang kita punya niat bekerja di negeri orang, bukan tidak mungkin anda juga berhasil mengumpulkan pundi-pundi uang.

Selamat liburan di musim panas!

Untuk Mahasiswa Bisa Cari Uang Kerja Part Time Begini

Salah satu hotel tempat saya menginap di Seoul, Korea Selatan yang menempatkan mahasiswa untuk kerja sambilan.

Apakah anda mahasiswa? Tentu ingin sekali menambah pundi-pundi penghasilan manakala dompet sudah tak terisi uang lagi. Ini pengalaman pribadi. 

Di beberapa negara yang saya jumpai kala traveling, saya bertemu dengan mahasiswa yang bekerja sebagai petugas jaga di penginapan. Mengapa mahasiswa? Umumnya mahasiswa cakap berbahasa asing, terutama bahasa Inggris. Ketimbang pengelola penginapan yang membayar karyawan, mereka pilih tenaga mahasiswa yang bisa bekerja paruh waktu dengan gaji yang tak terlalu besar dibandingkan karyawan biasa.

Di Seoul saya mendapatkan harga yang cukup terjangkau untuk menginap. Saat tiba di hotel, saya terkejut mengapa petugas hotel yang melayani saya berwajah Caucasian? Dia juga berbicara baik dalam bahasa Inggris. Rupanya dia adalah mahasiswa asal USA yang sedang menempuh pendidikan lanjutan di Korsel dan mengambil pekerjaan paruh waktu.

Di Hong Kong dan beberapa negara Asia yang saya kunjungi pun begitu untuk hotel-hotel standar. Mereka membayar mahasiswa untuk menjadi petugas jaga atau receptionist di depan hotel. Terkadang mereka pun sempat tak paham mengenai manajemen hotel. 

Meski tak paham soal perhotelan, mahasiswa yang bekerja di hotel harus paham mengenai budaya dan seluk beluk dari negara yang kita kunjungi. Mengapa? Pastinya informasi ini diperlukan oleh setiap tamu bilamana mereka membutuhkan informasi.

Apakah di Indonesia sudah memberlakukan pekerjaan seperti ini untuk mahasiswa? Saya tidak tahu.

Namun mengapa mahasiswa dipilih untuk bekerja di hotel sebagai petugas jaga:

  • Mahasiswa ditempatkan sebagai back up staff seperti pada hari wiken, hari libur atau jaga malam.
  • Mahasiswa cakap dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris.
  • Mahasiswa pandai dalam berkomunikasi terutama soal budaya dan wisata. Katanya ini era milenial, dimana orang muda suka traveling. Sebagai petugas jaga dipilihlah orang-orang muda seperti mahasiswa.

Hallo mahasiswa, apakah anda mau coba pekerjaan ini?

Makanan Asia di Jerman (2): Asian Food Haiky

Bagi mahasiswa perantau, rindu makanan Asia bisa datang ke sini karena diskon 10% dengan menunjukkan kartu mahasiswa. Ini Thailand Chicken Curry.

Detilnya chicken curry ada sayur rebung, paprika, timun, wortel, kol dan daging ayam lalu diberi santan dan kuah kari.

Jika anda datang ke Jerman, tak usah khawatir bila rindu masakan khas Asia. Pasalnya hampir di semua kota di Jerman ada restoran citarasa Asia. Di restoran Asia di sini kita bisa menjumpai masakan khas Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand dan Vietnam. Tentunya rasa masakan ini tak jauh berbeda dengan masakan yang biasa kita jumpai di Indonesia. Lagi pula makanan Asia kebanyakan no pork alias halal dimakan.

Nasi dan sayuran kuah santan bumbu kari khas Thailand. Ketika lihat gambar di daftar menu, dipikir ini semacam cap cay ternyata kari hanya isinya sayuran saja.

Kali ini saya mampir di restoran franchise Asian Food Haiky yang katanya ada di beberapa kota besar di Jerman. Restoran ini ada di sebuah mall di Selatan Jerman. Setiap jam makan siang tiba, jangan harap anda bisa langsung makan tanpa mengantri! Itu artinya butuh kesabaran memesan makanan di sini.

Hal pertama yang dilakukan adalah anda berdiri di depan kasir lalu pilih makanan yang akan dimakan. Agar orang di belakang anda tidak mengomel saat anda masih berpikir menu yang akan disantap maka sebaiknya lihat dulu menu makanannya baru memesan di depan kasir. Semua daftar menu dijelaskan secara rinci dalam bahasa Jerman. Misalnya Thai Chicken Curry maka akan dirincikan Huhn (daging ayam) mit cocos sauße (saus kari dengan santan) und reis (nasi). Tentu perincian jenis makanan membuat orang mudah menangkap visualisasi makanan bagi orang yang tidak familiar masakan Asia sebelumnya. 

Jadi saat memesan makanan, anda tidak mendapatkan buku menu makanan seperti di restoran melainkan terpajang di atas kasir. Ada makanan yang memiliki image foto, ada pula yang tidak. Jadi rincian makanan memang diperlukan untuk membayangkan makanan tersebut. 

Semua karyawan dalam restoran ini adalah pendatang dari Asia. Jadi bisa dibayangkan kadang miskomunikasi pun terjadi antara kasir dengan pelanggan yang mungkin lafal kata dan intonasi yang cepat dalam bahasa Jerman. Untuk itu, daftar menu makanan di papan display juga menggunakan nomor. Anda bisa langsung menyebutkan nomornya dan jumlah makanan yang dipesan. 

Ada beberapa makanan yang memang langsung tersaji di depan mata saat anda menyebutkan, misal nasi goreng. Mereka ada nasi goreng juga loh. Saat kasir dan si pemesan bertransaksi uang, bisa jadi karyawan lain sudah menyiapkan nasi goreng di hadapan anda. Namun bisa juga saat memesan makanan, makanan tersebut memerlukan waktu untuk memasaknya. Jadi anda perlu bersabar menunggu kira-kira 10-15 menit bila waktu makan siang tiba. 

Jangan berharap anda bisa memesan segelas es teh manis seperti di Indonesia! Di sini minuman tersedia dalam kemasan yang praktis. Jangan harap pula ada minuman gratis semacam teh tawar di setiap makanan! Jadi anda mesti bayar meski minum segelas air putih sekalipun.

Untuk peralatan makan sendiri, anda perlu menyiapkannya sembari anda memesan makanan di kasir. Silahkan ambil apa yang anda perlukan seperti sendok, garpu, pisau, tisu dan sedotan. Karena semua itu tidak tersedia di atas meja anda. 

Seperti biasa di atas meja tersedia garam tabur, kecap dan lada bubuk jika anda merasa perlu menambahkan. So far, pelayanannya baik. Semua makanan di sini tersedia dalam porsi yang besar bagi saya yang terbiasa makan dalam porsi kecil. Namun beberapa pilihan makanan ada yang ditawarkan ukuran medium dan ukuran besar. 

Jika makan siang tiba, mungkin anda harus berbagi bangku dengan pelanggan lain. Silahkan bertanya dengan sopan “Ist der Sitzplatz frei?” Tentunya mereka pun akan berbagi kursi dengan anda. Namun jika anda sungkan, di restoran ini tersedia paket makan yang langsung dibawa pulang. Kemasannya menarik dan praktis dibawa pula. 

Oh ya, plusnya lagi di tempat ini adalah bebas internet. Sepanjang anda punya nomor lokal atau nomor telpon Jerman maka anda akan bisa terkoneksi dengan WIFI. Selain itu apabila anda adalah mahasiswa, tunjukkan kartu mahasiwa maka anda akan dapat diskon 10%. Asyik ‘kan!

Selamat makan!