Mesir (17): Luxor Valley of the Kings, Lembah Pemakaman Para Firaun yang Tersembunyi

Pintu masuk. Tampak belakang seperti piramid, yang dahulu memang bentuknya mengerucut seperi piramid di Kairo.
Ini adalah lokasi valley of Kings sebelah timur.
Mereka masih terus bekerja menggali dan menyelidiki lokasi baru.
Pengunjung wajib naik kereta ini dari dan ke lokasi parkiran.
Lokasi berbatu dan tebing curam perlu diperhatikan alas kaki yang nyaman jika anda ingin berkunjung ke sini.

Bis kami melaju lagi usai berkunjung ke Dheir el-Bahari, yang sama-sama pernah dijadikan lokasi bersemayamnya firaun yang sudah wafat. Di tempat sebelumnya bak istana padang pasir, kami bisa menjelajahi tempat bersemayam makam Hatshepsut, firaun perempuan yang tangguh dan dikenal membawa Mesir pada kemajuan. Lokasi ini disebut pemakaman lembah barat karena kondisinya yang elit dan lebih populer dikunjungi turis. Sedangkan lokasi selanjutnya lebih pada kubur batu tersembunyi para firaun yang terbentuk selama ribuan tahun lalu. Lokasinya disebut sebagai pemakaman lembah timur, yang tampak dipenuhi lubang batu dan tebing pasir yang gersang. Namun lokasi ini memiliki harta karun sejarah yang tak ternilai. Tahun 1922 lokasi ini dibuka untuk umum sebagai awal pariwisata dan cikal bakal sejarah yang ingin diketahui publik dunia.

Siapa yang tak kenal para tokoh firaun yang dipelajari dalam sejarah di sekolah. Lokasi yang kami datangi menunjukkan bukti peradaban manusia sebelum masehi yang mengesankan. Mereka adalah firaun yang membangun kubur batu dengan hiasan kebesaran dan harta karun di dalamnya. Di sini masih terus dilakukan penggalian dan penyelidikan tentang kemungkinan para penguasa berabad-abad sebelumnya sehingga kami sebagai turis tidak mungkin menjangkau semua lubang kubur yang tersedia.

Tiket masuk dibagikan kepada tiap orang diantara kami. Suhu yang sama teriknya di lokasi pemakaman lembah barat, membuat kami berhenti sejenak sambil mendengarkan pemandu berbahasa Jerman menjelaskannya. Sesuai tiket masuk, pengunjung hanya boleh mengunjungi tiga lokasi kuburan dari sekian lubang kubur batu para firaun. Di sini mungkin kita bisa menemukan raja dan ratu abad sekian yang pernah memerintah. Namun sesuai aturan, 3 lokasi lubang batu sudah cukup membuka mata kami bagaimana mereka menyimpan raga para penguasa agar tampil mempesona.

Lembah pemakaman ini diperkirakan ada sejak abad 15 Sebelum Masehi. Sekitar 63 lubang batu, dengan lubang gua yang ditandai bisa dikunjungi atau tidak. Hanya 15 lokasi lubang batu yang bisa dikunjungi. Dari papan informasi memang belum semua makam sudah dikenali, hanya para tokoh elit yang sudah diberi informasi. Juga informasi pemandu membantu lubang batu mana yang menarik dan layak dikunjungi. Lubang batu kubur ini seperti berhiaskan teks dan gambar religius yang mengingatkan kita pada Sang Pencipta. Masing-masing gua batu dituliskan nomor, nama dan dijaga petugas yang mengontrol turis yang masuk. Sementara di luar, kita masih melihat pekerja hilir mudik menggali dan bekerja di lokasi.

Di lokasi pemakaman lembah timur, ada yang mengatakan layak untuk datang ke kubur Thutmose I, sebagai firaun pertama yang dikubur di sini. Selanjutnya kita bisa melihat kubur penguasa Thutmose III dan seterusnya. Ada juga yang tertarik pada Ramses yang selalu dibuatkan film-film jika kita menyimaknya dalam dunia hiburan. Firaun yang terkenal dan layak dikunjungi juga seperti Tutankhamun, Seti I dan Ramses II. Untuk masuk ke makan Tutankhamun, kita perlu bayar ekstra lagi. Informasi lain menyebutkan lubang makamnya saja sama saja, orang hanya kagum pada figur firaun tersebut saja.

Tiap lokasi gua batu yang boleh dikunjungi tersedia papan informasi seperti ini. Sisanya banyak yang belum dikenali.
Papan informasi depan lubang batu.

Atau seperti ini, papan informasi di depan gua.

Ada hiasan dinding tak berwarna dan penuh arti seperti ini.

Ada yang sudah berhias penuh warna.

Di gua batu tampak dindingnya masih kokoh dan berhias penuh makna, sementara makamnya lurus ke bawah.
Tampak di tengah adalah batu sarkofagus, meletakkan mumi.

Ada gua batu berisi kamar-kamar milik keluarga penguasa yang ikut dimakamkan. Ada juga dulu tempat menyimpan harta karun keluarga.

Setiap dinding gua sarat makna yang tak boleh disentuh oleh pengunjung.
Pengunjung akan mendapati lorong berhias seperti ini dari pintu masuk hingga ke tengah, yang berisi batu makam.

Kami mengikuti arahan pemandu tur saja. Kami berkunjung ke lubang batu milik firaun Ramses IV, Ramses IX dan Seti II. Sewaktu berada di makam Ramses IX, saya sama sekali tak ambil gambar karena ada himbaun larangan ambil foto. Rupanya pengunjung bisa berfoto, hanya tidak boleh merekam, buat video tujuan komersial. Lubang gua berikutnya, saya pun mendokumentasikan bagian dalam kubur para firaun tersebut.

Di tiap lubang gua, kita bisa melihat denah kamar bagaimana mereka menyimpan penguasa dan keluarganya ketika wafat. Lalu ada lubang gua yang sudah lengkap informasi bertuliskan bahasa Inggris dan bahasa Arab tentang firaun yang mana, biografi hingga bagaimana penemuan makamnya. Lalu di beberapa lokasi lubang gua juga tampak antrian dimana kita tak bisa berlama-lama di dalam karena pengunjung harus memberi kesempatan yang lain juga.

Pada dasarnya lubang batu yang jadi kubur para firaun ini sama. Hal yang membedakan adalah grafis yang menghiasi dinding kubur, yang sarat makna menurut para sejarahwan dan arkeolog. Ada grafis hierogliph dengan warna-warni yang indah, namun ada juga yang tampak hanya ukiran tanpa warna. Pengunjung juga sudah tidak bisa melihat mumi, hanya batu sarkofagus yang menjadi peninggalan bagaimana dulu para firaun dan keluarganya dimakamkan. Pengunjung seperti saya menjadi paham bagaimana para penguasa dahulu menjalani kehidupan selanjutnya ke alam baka.

Tips dari saya

  1. Datanglah bersama program tur resmi yang dipandu dengan pemandu yang mumpuni dan bisa berbahasa asing seperti yang anda inginkan. Tiket masuk 200EGP.
  2. Jalan yang curam, berbatu dan berdebu tentu pilihan alas kaki pun sebaiknya yang nyaman sekali. Saya lebih memilih sepatu tertutup.
  3. Bawa minum. Jika ingin beli air minum di sana, siapkan uang receh sekitar 2€ untuk air minum.
  4. Pakai penutup kepala. Lokasi yang panas dan berdebu tentu paling nyaman memakai penutup kepala.
  5. Pakai kacamata surya.
  6. Dilarang merokok.
  7. Dilarang menyentuh atau memegang dinding yang dikunjungi.
  8. Tak usah bawa banyak barang, apalagi tas besar karena kita akan melalui pemeriksaan yang ketat.
  9. Jika anda ingin dokumentasi video, tanyakan petugas di pintu masuk sebelum anda ditegur petugas secara ilegal.
  10. Tolak dengan sopan berbagai jasa yang ditawarkan oleh orang lokal agar menimbulkan rasa nyaman.
  11. Ikuti panduan dan petunjuk pemandu tur, karena ada area yang dilarang untuk turis.
  12. Siapkan uang receh jika ingin pergi ke toilet.

1 November: Hari Raya Orang Kudus, Allerheiligen di Jerman. Begini Tradisinya

Ilustrasi. Area pemakaman di Austria. Pada tanggal 1 November pun di Austria dijadikan hari libur nasional.

Contoh hiasan karangan bunga kering.

Biasanya area pemakaman di Jerman atau di Austria selalu ada Kapel atau Gereja, meski tak semua berlaku begitu. 



Bagi wilayah Bundesland, negara bagian yang bermayoritas Katolik maka 1 November menjadi hari libur. Di sini disebutnya Allerheiligen atau All Saints Day dalam bahasa Inggris. Ritual ini tidak hanya karena keyakinan semata sebagai umat Katolik, namun juga menjadi tradisi bagi orang Jerman yang sudah dilakukan selama ratusan bahkan ribuan tahun lalu. 

Adalah Jerman sebagai negara pertama yang melaksanakan ziarah ke kubur pada saat perayaan Hari Raya Orang Kudus. Dulu perayaan ini lebih banyak diselenggarakan di wilayah tempat kelahiran para santo atau santa yang sudah dimulai sejak abad 2 Masehi. Namun kemudian Paus Gregorius III mengumumkan perayaan ini diselenggarakan sebagai tradisi Gereja secara universal.

Sejak dua bulan lalu, supermarket dan toko-toko bunga di Jerman sudah dipenuhi dengan hiasan bunga kering. Nantinya hiasan ini diletakkan di atas makam. Hiasan ini tidak wajib, hanya sebagai pelengkap saja. Biasanya para ibu dan perempuan memikirkan hal ini sebelum tanggal 1 November.

Baca https://liwunfamily.com/2017/10/22/grabgesteck-hiasan-karangan-bunga-untuk-makam/

Kemarin sebagai hari libur, tiap Gereja sudah memiliki tradisi turun temurun dari generasi ke generasi untuk merayakan acara ini. Ada yang sudah memulainya di Gereja lalu kemudian dilanjutkan di makam. Ada juga yang langsung menyelenggarakan di kapel yang ada di makam. Sebagai informasi, di tiap kota memiliki area makam masing-masing. Jadi sebagai penghormatan kemarin, saya dan keluarga di sini datang ke dua kota yang berdekatan untungnya. Di makam, kota pertama perayaan untuk menghormati dan mendoakan keluarga dari pihak ayah mertua. Lalu, di makam kota kedua untuk menghormati dan mendoakan keluarga dari pihak ibu mertua.

Di Jakarta biasanya perayaan yang saya ikuti cukup mengikuti misa di Gereja. Jika punya banyak waktu saat di Jakarta, beberapa Gereja ada juga yang menyelenggarakan ziarah kubur juga. Namun saya tak pernah bisa ikut karena kesibukan bekerja tentunya.

Karena di Jerman dijadikan hari libur dan sudah menjadi tradisi dipastikan semua orang datang ke makam kemarin. Parkir pun penuh dan perlu berjalan jauh untuk mencapai makam. Dan udara kemarin tidak bersahabat alias dingin sekitar 8 derajat di luar namun tidak menyurutkan niat mereka untuk menghormati dan mendoakan para leluhur. 

Perayaan ibadat sederhana dan singkat dipimpin oleh Pastor. Suasana haru tampak di makam kala masing-masing orang berkumpul di di dekat makam keluarga. Ibadat juga diikuti dengan pemberkatan makam oleh Pastor. Pastor berkeliling di sekitar makam. Acara pun selesai. Di sini pula dijadikan ajang jumpa sanak keluarga dan family yang lama tak berjumpa. Namun sedih juga bilamana tak ada lagi sanak keluarga. Saya melihat seorang nenek yang sudah sepuh seorang diri berdoa sambil menangis di hadapan makam keluarganya. 

Mengunjungi makam dan berdoa bagi anggota keluarga dan kerabat yang sudah meninggal memang menyentuh bagi siapa saja. Tradisi ini pun dirayakan Gereja Katolik secara khusus pada 1 November. Di Jerman tradisi ini masih dipelihara hingga sekarang. 

Karena kondisi yang tak nyaman saat ibadah berlangsung, tak ada pengambilan dokumentasi. Semoga bisa dimaklumi😁