Mesir (18): Egyptian Banana Pudding, Seperti Kolak Isiannya

Ada pisang dan pacar cina warna-warni.

Setelah berbicara banyak soal wisata dan kuliner yang memang selalu menarik untuk dibagikan, negeri Mesir ini juga kaya kuliner yang rasanya cocok untuk lidah seperti saya yang dilahirkan di Indonesia. Bisa dikatakan aneka kuliner di Mesir ini enak semua di lidah saya, meski tiap orang punya selera berbeda-beda dalam hal makanan. Hanya saja ada kue dan makanan pencuci mulut yang manisnya sama seperti di Indonesia sementara saya tidak terlalu suka makanan yang sangat manis.

Setelah kue-kue manis yang pernah saya sajikan dalam artikel sebelumnya, maka saya lanjutkan pada makanan pencuci mulut yang isinya seperti kolak. Anda tahu kolak ‘kan yang biasa dijual dan disediakan saat bulan Ramadhan di Indonesia. Meski saya tidak menjalani puasa tetapi saya suka sekali menikmati kolak, mulai dari jajanan kaki lima hingga buatan ibu saya. Kolak itu bisa dikreasikan sesuai selera pembuatnya. Pastinya kolak itu manis dan ada pisang yang berkuah santan.

Pencuci mulut dari Mesir yang saya nikmati itu mirip seperti kolak. Anda bisa lihat tampilannya. Ada pisang juga yang menjadi isiannya. Warna pudding yang kuning dipermanis lagi dengan warna-warni pacar cina yang indah. Hmm, ternyata enak.

Saya tidak mendapatkan nama pencuci mulut tersebut. Saya tanya pada petugas, mereka menjawab dalam bahasa Inggris bahwa itu adalah pudding. Ya, saya pun tak enak untuk mengganggu jam bertugasnya karena beliau memang langsung segera berlalu dan merapikan meja berikutnya.

Bedanya dengan kolak, pudding ini memang tak berkuah. Teksturnya lembut sama seperti pudding umumnya. Rasa manis dan kenyal berasal dari pacar cina. Anda perlu sendok dan meletakkanya di mangkuk kecil untuk menikmati lezatnya pudding ini.

Apakah anda tertarik mencobanya?

Advertisements

Makanan Khas Jerman (59): Saure Lunge, Sup Paru Asam dan Sammerknödel

Saure Lunge yang saya beli di Ingolstadt, Jerman.

Suatu kali saya mengunjungi salah satu kota, dekat Munich untuk berbelanja yakni Ingolstadt. Tiba di sana adalah waktu makan siang. Segera saya dan suami mencari restoran yang bisa langsung melayani kami. Dipilihlah restoran citarasa masakan lokal, Bavaria.

Apa yang anda bayangkan jika anda memakan paru?

Saya pernah menikmati paru goreng yang kadang dijadikan cemilan di Indonesia. Tepatnya saya menikmati paru goreng khas masakan Jawa Timur bila saya memesan soto daging. Paru goreng itu gurih dan crunchy saat dikunyah.

Namun bagaimana jika paru tersebut dibuat dalam olahan masakan Bavaria? Penasaran ‘kan!

Bandingkan dengan menu sama yang disebut ‘Beschel’ di Austria.

Nama masakannya adalah saure lunge. “Saure” diterjemahkan dalam bahasa Jerman yakni “Asam” dan “Lunge” diterjemahkan menjadi “paru” begitulah kira-kira. Karena saya melihat nama masakannya terkesan asam, saya pun tidak memesannya. Suami saya memesannya karena konon saure lunge menjadi makanan meriah pada jaman dahulu di Ingolstadt.

Satu porsi saure lunge terdiri atas tumisan paru yang diberi saus khas seperti kebanyakan masakan Bavaria umumnya. Menurut suami saya, umumnya saus di saure lunge begitu kental dan terlihat seperti berkuah. Tetapi kenyataannya, saure lunge yang dipesan suami sudah tidak berkuah lagi. Beruntunglah saya tidak memesannya karena saya yakin pasti rasanya lebih asam.

Oh ya, saure lunge juga punya nama lain yakni Saurem Lüngerl. Di Austria, nama masakan ini kadang disebut juga beschel. Menurut saya, sup paru asam ini lebih enak rasanya yang saya pesan di Jerman. Bumbu saure lunge terasa asam manis, sedangkan beschel di Austria lebih banyak daun dillnya.

Untuk mereka yang rindu makanan ini tetapi malas membuatnya sendiri maka makanan ini juga bisa dipesan di restoran atau dibeli di supermarket dalam bentuk kemasan siap disajikan.

Saure lunge ini dimakan bersama sammerknödel. Bisa dikatakan sammerknödel semacam pengganti kentang atau roti untuk makanan tertentu seperti saure lunge ini atau schweinebraten. Sammerknödel dijumpai pada masakan di Jerman bagian Selatan seperti Bavaria, Austria dan sedikit Ceko.

Thunfisch Salad, Salad dengan Ikan Tuna: Makanan Khas Jerman (58)

Kembali lagi saya membahas salad yang tak pernah habis diulas. Saya tergila-gila makan salad mengingat suhu udara yang terik dan cocok untuk membuat tubuh tidak mengalami dehidrasi. Sebelumnya, saya sudah mencoba menikmati salad tuna dengan racikan khas masakan Italia di link ini. Tak hanya itu, saya juga pernah menyantap salad tuna dengan gaya khas Asia di restoran Vietnam di link ini.

Nah, kedua salad ini diracik dengan gaya berbeda tetapi salad tersebut tetap enak. Selanjutnya, bagaimana jika salad diracik secara lokal khas masakan Jerman?

Saya memesannya di restoran di rest area jalur bebas hambatan, tol. Anda pasti kenal nama restoran Jerman ini. Paulaner. Ya, di Jerman ada beberapa rest area di autobahn yang menempatkan restoran Paulaner untuk disinggahi. Restoran yang mengusung masakan Jerman ini memang bergaya moderen dengan masakan yang klasik, seperti salad yang dibuatkan untuk saya.

Untuk salad terasa enak atau tidak bergantung bagaimana juru masak membuatkan saus yang dicampurkan di antara sayuran segar di dalamnya. Saus salad ini menjadi rahasia dapur tiap restoran. Saus pada salad tuna ini terasa asam manis dengan sedikit saus tomat di dalam. Jangan lupa anda perlu mengaduknya agar saus salad tercampur aduk! Kadan9g kala ada restoran yang meletakkan saus salad sebagai topping, tetapi topping salad ini adalah potongan daging ikan tuna.

Apa yang membedakan salad khas Jerman adalah irisan bawang entah bawang merah atau bawang bombay. Sebagaimana anda perlu tahu bahwa bawang merah di sini berukuran besar, jadi jika diiris pun tampak serupa seperti bawang bombay. Irisan bawang merah segar itu menambah nikmat salad ini. Jika anda tak suka bawang merah yang sebenarnya tak terlalu menyebabkan bau mulut seperti bawang merah kecil, anda bisa memesannya pada pramusaji agar salad tanpa irisan bawang.

Tak hanya potongan sayur segar seperti daun salada air, wortel dan irisan tomat tetapi ada juga potongan telur yang bisa anda nikmati bersamaan. Tentu daging ikan tuna ini sudah ready to eat yang sudah matang. Rasa tuna dengan aneka sayuran bercampur satu di mulut. Ini enak!

3 Menu Nasi Mancanegara yang Perlu Anda Tahu

Nasi adalah makanan pokok Indonesia. Nasi bisa dimakan untuk sarapan pagi, makan siang atau makan malam di tanah air. Ini tentu berbeda bagi masyarakat belahan bumi lain yang menikmati nasi bukan sebagai makanan pokok. Bahkan nasi dimasak dan disajikan dengan cara berbeda dari masakan nusantara. Ini bisa menjadi pengobat rindu saat saya ingin makan nasi dengan rasa yang berbeda saat saya sedang tidak berada di Indonesia.

Untuk membuktikannya, saya mencoba tiga menu nasi berikut.

1. Khao phat kung

Jika anda melihat tampilan menu di atas, makanan nusantara apa yang anda kaitkan? Semula saya melihat tampilannya di menu seperti nasi goreng. Itu sebab saya memesannya. Ya, menu ini adalah nasi goreng dari Thailand. Saya memesannya di kota Pilsen, Ceko di salah satu restoran selera asia. Namanya adalah khao phat kung atau dalam bahasa Inggris dikenal shrimp fried rice.

Nasi goreng dari Thailand ini memang berbeda bumbu dengan makanan nusantara. Saya merasa ada rasa asam dan asin bersamaan. Ada nasi yang digoreng, udang, irisan cabai, tauge dan daun ketumbar. Saya terkejut juga ternyata ada irisan lemon di nasi goreng tersebut. Terakhir, saya berpikir topping adalah bawang goreng ternyata kacang goreng.

2. Risotto

Saya memesannya di salah satu restoran ekslusif di Zagreb, Kroasia. Padahal sebagaimana anda tahu bahwa risotto berasal dari Italia. Saya mengenal pertama kali risotto di salah satu restoran italia di Jakarta. Kemudian saya pernah mengupas secara khusus di link ini. Bagaimana rasa risotto yang dinikmati di Kroasia?

Kroasia kaya akan makanan laut yang berasal dari laut Adriatik. Jika anda berkesempatan mampir ke Kroasia, aneka masakan laut bisa anda nikmati di restoran mana saja. Untuk sajian risotto yang saya pesan, terdiri nasi, udang dan cumi-cumi dengan sedikit sentuhan rasa masakan mediterania. Risotto adalah nasi yang berbumbu dan sedikit creamy. Dengan tambahan sea food, rasa risotto berbeda seperti yang pernah saya nikmati sebelumnya.

3. Friekadellen mit Gemüse-sahne-soße

Terakhir adalah makanan nasi dengan bumbu khas masakan Jerman. Jika kedua menu nasi di atas adalah hasil pesanan saya di restoran maka menu terakhir merupakan masakan buatan saya di rumah. Ini berdasarkan hasil percobaan setelah membaca resepnya. Hasilnya, ini mudah dibuat.

Pertama, anda harus membuat bola-bola kecil dari daging sapi yang diberi bumbu garam, merica dan bawang putih. Lalu goreng bola-bola tersebut hingga matang. Kemudian siapkan krim ke dalam sup dan sedikit air. Tambahkan sayuran yang dikehendaki seperti wortel, kacang polong atau jagung manis. Beri sedikit mustard dan kaldu sapi. Masak hingga matang. Makan bersama nasi hangat. Dijamin enak!

Dari ketiga menu di atas, mana yang mungkin anda sukai?

Falafel, Bola Goreng Rempah: Makanan Khas Timur Tengah (4)

Melanjutkan kuliner dari negeri timur tengah, seorang teman membuatkannya untuk saya makanan yang disebut falafel. Falafel merupakan bola-bola yang terbuat dari kacang Arab, yang ditambah bumbu kemudian digoreng. Falafel terkenal sebagai makanan khas Timur Tengah, yang saya kenal di sini. Berkat seorang teman, saya jadi menikmati makanan khas ala Timur Tengah ini. Menurut teman saya, falafel banyak disajikan saat bulan Ramadhan.

Falafel rupanya juga dijadikan isian di kedai milik orang Turki. Saya memperhatikan falafel menjadi menu isian donner. Bedanya falafel disajikan dengan salad sayuran dan saus pedas. Kemudian diletakkan di roti seperti donner. Saya sendiri melihat informasi menu tertera, hanya belum sempat mencoba pesan. Artinya, falafel kini menjadi makanan yang sudah mendunia.

Jika saya tanyakan darimana asal falafel, banyak informasi bersebaran. Intinya falafel memang berawal dari masyarakat Timur Tengah. Karena falafel juga menjadi jajanan street food di negara-negara Timur Tengah. Siapa pun suka karena rasanya yang mudah diterima lidah meski mengandung bumbu rempah yang khas.

Bagi anda yang vegetaris, perlu mencicipi falafel dan menjadi pilihan diet yang menyehatkan. Pasalnya falefel ini hanya menggunakan kacang fava, seperti buncis. Kemudian ditambah bumbu seperti bawang putih, jinten, biji wijen, ketumbar, daun peterselli atau daun bawang. Semua digiling bersama tepung khas Timur Tengah. Sebelum digoreng, adonan dibentuk menjadi bola-bola kecil terlebih dulu.

Oh ya, bukti bahwa falafel sudah mendunia ketika saya memesan salad orientalis di restoran bergaya western. Di dalam salad yang pesan, ada lima biji falafel di antara tumpukan sayuran salad yang diasinkan. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa falafel juga menjadi makanan umum yang dikreasikan agar semakin diterima oleh banyak orang.

Saat saya mencicipi falafel buatan teman saya ini, saya benar-benar terkesan. Rasanya lezat sekali! Mungkin ini bisa jadi pilihan anda yang suka makanan vegan.

Menikmati Tarte Flambèe dan Segelas Cappuccino: Makanan Khas Perancis (1)

Flammküchen ala Perancis.

Menikmati jalan-jalan di Perancis seolah-olah turis seperti menikmati sajian di suatu kafe. Begitu kami memandang banyak orang-orang memenuhi kafe dan bar. Kami pun turut serta lalu berhenti di suatu kafe di Strasbourg. Ini bukan jam makan siang, namun kami sudah merasa lapar.

Kami memesan secangkir cappuccino dan flammküchen. Ya, di Jerman kami biasa menyebutnya demikian. Di Perancis ini disebut tarte flambèe. Sejenis pizza yang yang diberi topping sesuai selera.

Jika merujuk pada kuliner di Regensburg yang pernah saya liput, sajian ini sebenarnya adalah sama. Silahkan cek di sini! Tarte flambèe yang asli juga bernama elsass, sedangkan dalam bahasa Jerman hidangan ini bernama elsässer flammküchen. Isian dan bentuknya pun sama.

Apa yang terjadi?

Jika merujuk pada sejarah antara Jerman dan Perancis, tidak hanya karena serangan Napoleon Bonaparte saja. Setelah perang dunia kedua, Jerman yang luluh lantah akibat kalah perang sempat terbagi dalam empat zona, yang membuat Jerman berusaha bangkit. Empat zona itu dinaungi oleh empat negara, salah satunya adalah Perancis. Perancis menaungi zona di bagian barat Jerman. Mungkin itu alasan kuliner Perancis juga menjadi bagian kuliner di Jerman. Salah satunya yang kita jumpai adalah nama berbeda tetapi satu sajian kuliner yang sama, Flammküchen.

Saya pernah tanya bagaimana membuatnya pada seorang teman yang bekerja di restoran. Anda bisa membelinya yang instan dan tinggal memanggangnya saja di oven. Atau cara lain adalah membuat racikannya sendiri. Untuk rotinya, sama seperti pizza bahan pembuatannya. Jika malas membuat di supermarket sudah tersedia roti yang jadi dasar flammküchen.

Di atas roti yang pipih, berikan cream. Bentuknya seperti yoghurt dan rasanya tawar. Taburi dengan cream seluruh permukaan atas roti. Lalu taburi dengan daging ham yang sudah dipotong-potong kecil. Beri tambahan bawang bombay. Lalu panggang di oven hingga pinggir roti tampak garing.

Selesai terpanggang, hiasi di atasnya dengan irisan daun peterseli dan merica. Anda juga bisa menghiasinya dengan irisan daun bawang atau bawang merah. Silahkan sesuaikan dengan selera anda! Ini tampak seperti pizza ‘kan?

Saya menikmati elsass tarte flammbèe dengan segelas cappuccino sambil melihat lalu lalang orang-orang di kota Strasbourg. Hmm, saya terlihat seperti turis saja.

Mexican Chorizo, Sosis Berasa Pedas: Makanan Khas Meksiko (3)

Chorizo, sosis ala Meksiko nan pedas.

Diberi kentang goreng, ditambah saus tomat dan mustard.

Makanan berikut sebenarnya menjadi menu khas di Jerman. Ya apalagi jika berhubungan dengan sosis. Masyarakat di sini suka menikmati sosis. Namun sosis yang saya perkenalkan berasal dari Meksiko. Begitu pun saat kami memesannya di restoran, nama menu pun menjadi “Scharfe Mexicana mit Pommes Frittes”.

Debreziner, sosis ala Jerman yang juga pedas.

Jika merujuk pada kuliner Meksiko tentu rasa yang ditawarkan adalah rasa pedas. Itu sebab nama menu ditambahkan rasa pedas. Konon sosis ini memang pedas karena berasal dari cabai khas Meksiko yang super pedas. Hal ini yang menyebabkan warna sosis menjadi merah pekat ketimbang sosis lain yang umumnya ditemukan di Jerman.

Di Jerman sendiri ada sosis pedas yang dikenal dengan sebutan debreziner. Debreziner menjadi pedas karena terbuat dari daging kuda. Katanya lagi ada tambahan paprika untuk membuatnya. Warna merah pada sosis debreziner juga yang menandai sosis ini pedas ketimbang sosis-sosis lain di Jerman.

Kembali ke sosis ala Meksiko, sosis ini disajikan dengan digoreng. Dapat pula sosis dipanggang atau direbus. Untuk menikmatinya, serupa dengan currywurst. Yakni kentang goreng dan saus tomat menemani sosis ini. Plus ada senf, mustard yang juga bisa untuk menguatkan rasa sosis.

Sosis ala Meksiko terkenal pedas karena cabai yang digunakan. Terkadang sosis ini juga diiris dan menjadi topping pizza. Bagi pecinta sosis, silahkan coba sosis satu ini!

Beilagen Salat, 5 Varian Salad Pendamping: Makanan Khas Jerman (44)

Beilagen salat terdiri atas aneka sayuran ditambah dressing manis, asam dan manis.

Salad menjadi makanan yang tak wajib dihidangkan namun sebaiknya dikonsumsi. Mengapa tak wajib? Jika makan di rumah, belum tentu juga tersedia salad buatan sendiri. Sedangkan di restoran, salad bisa dijadikan complimentary tetapi ada juga yang harus bayar ekstra. Restoran yang saya maksud adalah restoran tradisional khas Bavaria.

Karena seringnya saya makan di restoran tradisional di sini, saya punya koleksi foto hidangan aneka beilagen salat. Tiap restoran punya ciri khas masing-masing dan tidak selalu sama dalam menyajikan beilagen salat. Pasalnya salad ini memang sebagai pelengkap, bonus dan tidak perlu membayar. Meski tidak semua makanan utama selalu mendapatkan salad, namun kebanyakan makanan berat ala makan siang tentu wajib ada salad.

Beilagen salat punya porsi yang tak besar ketimbang salad pesanan. Namanya juga cuma makanan pendamping, jadi isinya pun tak banyak. Satu yang pasti, salad ini berisi aneka sayuran dengan dressing bervariasi tergantung kreasi koki tiap restoran.

Dan tak mungkin juga karena gratis, anda hanya makan ini saja. Tentu anda memesan menu baru kemudian mendapatkan beilagen salat. Namun jika anda suka dan tertarik lebih besar porsinya maka anda harus membayar lebih.

Tanpa berpanjang lebar, silahkan simak masing-masing foto beilagen salat yang ditampilkan!

Salad kedua, perhatikan dressingnya yang berbeda.

Salad ketiga, sayuran penuh dan dressing yang berbeda pula.

Salad keempat, dressing sepertinya mirip hanya saja ada irisan telur rebus juga.

Salad kelima, dressing tidak terlihat hanya bisa dirasa tetapi ada salad kentang.

Frikadellen, Perkedel ala Jerman: Makanan Khas Jerman (38)

Dua ‘perkedel’ yang berwarna kecokelatan ditemani dengan salad kentang.

Frikadellen atau Frikadeller begitu perkedel di sini disebutnya dalam menu di restoran tradisional Bavaria. Perkedel tentu anda mengenalnya sebagai makanan di Indonesia yang terbuat dari kentang. Ibu saya di Jakarta biasa membuatkan perkedel dari kentang yang direbus terlebih dulu kemudian dihancurkan sebelum dibentuk pipih bola. Bumbu perkedel hanya kaldu sapi, sedikit lada dan bawang putih. Perkedel yang sudah dibentuk kemudian digoreng dengan sebelumnya dibungkus dengan kuning telur.

Bagaimana perkedel ala orang Jerman?

Saya pikir pembuatannya tidak berbeda jauh. Hal yang membedakannya adalah bahan yang digunakan. Di sini perkedel menggunakan daging sapi cincang, bukan kentang seperti yang kita kenal. Agar bisa terbentuk, bahan yang digunakan lainnya adalah tepung roti dan juga telur. Semua bahan dicampurkan jadi satu.

Untuk rasa perkedel, bahan yang digunakan hampir mirip. Ada bawang putih, lada bubuk, daun peterselli yang sudah dicincang, maggi atau kaldu sapi. Terkadang untuk menjiwai rasa masakan ala Jerman, bahan juga ditambahkan senf. Senf adalah semacam mustard yang biasa dimakan untuk campuran rasa di sosis atau leberkassesemmeln.

Sentuhan akhir adalah membentuknya seperti bola-bola dan pipih. Kemudian digoreng dengan sedikit minyak hingga berwarna kecokelatan. Gunakan api kecil agar tidak mudah hangus.

Saat saya memesannya di restoran tradisional, ada dua buah perkedel ditambah salad kentang. Untuk kuahnya hanya pelengkap sajian saja. Ini seperti kuah kaldu sapi.

Kira-kira anda memilih yang mana? Perkedel dengan kentang atau perkedel terbuat dari daging sapi cincang?

Schnitzel, Kreasinya yang Bisa Dicoba: Makanan Khas Jerman (33)

Schnitzel versi pertama. Isi daging adalah speck dan meeretich.

Siapa yang tak kenal schnitzel, makanan tradisional di sini? Pasalnya jika anda berkunjung ke Jerman, schnitzel menjadi makanan murah meriah yang mudah ditemukan di restoran mahal hingga murah di seluruh Jerman. Jika anda ingin mencoba seperti apa schnitzel, beberapa kali saya sudah pernah mencicipinya di hotel dan restoran di Indonesia. Artinya adalah schnitzel adalah salah satu hidangan Jerman yang sudah mendunia.

Baca https://liwunfamily.com/2017/03/29/makanan-jerman-murah-di-jakarta-di-sini/

Saya pun pernah membuatnya sendiri di rumah. Resepnya bisa dicek di sini. Mudahnya schnitzel adalah daging yang diiris seperti steak. Kemudian daging dipukul-pukul dan diberi garam juga merica. Lalu lumuri daging dengan tepung dan celupkan lagi ke dalam telur. Setelah bermandikan telur, masukkan lagi ke dalam kubangan tepung panir atau tepung roti. Lalu goreng kedua sisi daging hingga berwarna kecokelatan. Begitu cara mengolah schnitzel.

Baca https://liwunfamily.com/2018/03/25/tiga-makanan-khas-jerman-yang-umum-dijual/

Nah, pada pos ini saya ingin membagikan kreasi schnitzel yang saya jumpai di dua restoran berbeda. Sebagai pengalaman, bisa jadi anda tertarik mencobanya atau membuat kreasi serupa di rumah.

Schnitzel versi pertama

Pertama adalah isian daging schnizel tidak lagi daging sapi atau daging babi melainkan yang lain. Meski tetap berlumur tepung roti, namun sejatinya ini adalah speck atau bacon yang dibentuk seperti kepingan daging. Lalu ada meeretich yang dibalutkan bersamaan dengan bacon.

Apa itu meeretich? Meeretich adalah semacam wasabi. Setelah saya menemukan tanamannya, ini sejenis lobak pedas yang berwarna putih. Meeretich bisa dibuat dalam bentuk pasta yang dicelupkan pada makanan semisal sosis sebelum disantap. Sedangkan meeretich dalam schnitzel yang saya temukan berbentuk parutan. Warnanya yang putih dan diparut kerap terlihat seperti keju parut, padahal itu adalah meeretich.

Pada versi pertama ini, schnitzel disajikan dengan kentang goreng yang dibumbui garam dan bawang bombay. Ada salad segar juga yang bisa disantap. Artinya salad bukan sekedar hiasan belaka. Penampakan schnitzel versi pertama bisa dilihat di atas.

Baca https://liwunfamily.com/2017/07/14/meerrettich-cocolan-semacam-wasabi/

Schnitzel versi kedua

Schnitzel tanpa dibungkus tepung seperti umumnya dan diberi saus paprika.

Untuk versi kedua, jika melihat dari foto seperti saus paprika merah yang menutupi hidangan. Saya juga terkejut ketika memesan dan mendapati hidangan ini, tak terpikir bahwa saus paprika menutupi hidangan. Saat dibuka, saya mendapati nasi dan sepotong daging tanpa dibungkus tepung.

Ketika melihatnya di daftar menu, suami menjelaskan bahwa hidangan ini semacam schnitzel namun dagingnya tidak dibungkus tepung seperti umumnya. Hal menarik, dalam buku menu dikatakan bahwa ini hidangan pedas. Plus satu lagi, schnitzel disantap bersama nasi putih. Bayangkan bahwa tak pernah saya menyantap schnitzel dengan nasi. Karena penasaran, saya pun memesannya.

Saya mendapati saus paprika merah dengan rasa asin. Saus terdiri dari potongan paprika, tomat dan bawang bombay. Saya tidak terlalu suka dengan versi kedua. Porsinya juga terlalu besar sehingga saya menyisakannya di piring.

Dari penjelasan kedua variasi schnitzel yang saya ceritakan, mana yang kira-kira anda suka?