Rekomendasi Tempat (16): Drei Goldene Kugeln, Mall Plus City Austria

Wiener Schnitzel 150 gram.

Rekomendasi selanjutnya adalah restoran yang mengusung citarasa masakan Austria. Sebagai informasi, kuliner Austria dengan Jerman itu sepertinya hampir identik. Kita bisa menemukan ragam kuliner Austria yang mirip dengan Jerman, begitu pun sebaliknya. Apalagi saya yang tinggal di negara bagian Bavaria, dapat dipastikan memiliki citarasa kuliner yang sama dengan negeri tetangga, Austria. Termasuk tiga kuliner berikut yang dipesan di restoran lokal di salah satu pusat perbelanjaan Plus City.

Di akhir pekan, pilihan menikmati kuliner negeri tetangga memang menggoda. Ini menjadi ide menarik dimana kami ingin shopping sambil menikmati waktu keluarga dengan makan siang di mall. Pilihannya jatuh pada restoran lokal, Drei Goldene Kugeln yang ada di depan pintu masuk lantai 1 mall Plus City, Austria. Restoran ini memang selalu ramai, bahkan kami beberapa kali ke situ dan tidak mendapatkan tempat. Untuk kesekian kalinya, kami berhasil mendapatkan tempat duduk sehingga kami pun memesan menu lokal di situ.

Seehect gegrillt mit Krauterbutter.
Schweinebraten mit Knödel.
Buku menu.

Tak ada yang berbeda antara menu lokal Jerman dengan Austria. Ini tampak sekilas dari buku menu yang ditawarkan. Berhubung kami sudah lapar, kami memesan tiga menu karena kami pergi bersama ibu mertua. Pramusaji pun dengan sigap mencatat tiga pesanan kami. Beruntungnya kami segera mendapatkan tempat duduk di saat jam sibuk, waku makan siang di akhir pekan.

Untuk schnitzel, ini adalah menu andalan yang ditawarkan restoran ini. Schnitzel bukan hal baru bagi kami di Jerman. Makanan ini pun sudah mendunia dan saya sudah sempat memesannya di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya kala kami traveling. Namun pasti ada yang berbeda dari schnitzel di sini. Ya, schnitzel di sini dibedakan dengan kategori beratnya daging yang diinginkan. Ukuran schnitzel yang paling kecil adalah 150 gram dan masih ada dua pilihan schnitzel yang berat lainnya. Seperti saya yang tak suka makan dalam porsi besar, saya memesan schnitzel dalam porsi kecil.

Baca: Schnitzel yang saya beli di Jerman

Menu lainnya yang dipesan juga bisa anda simak yakni ikan panggang. Jangan bayangkan ikan panggang dengan nasi plus lalapan sambal pedas! Seperti yang anda lihat, ini adalah ikan tanpa duri dengan kentang salad. Untuk menambahkan rasanya, ikan diberi butter yang berasa herbal atau disebut krautterbutter. Bagi penyuka makan ikan, menu seperti ini bisa menjadi kreasi tersendiri karena ini berbeda dengan menu ikan ala nusantara yang terkenal pedas.

Baca: Makan ikan tanpa nasi dan sambal

Menu lokal ketiga yang dipesan adalah schweinebraten mit knödel. Ini bukan kali pertama saya membahasnya, anda bisa lihat sendiri ini sama seperti menu lokal Jerman. Sauerkraut adalah salah satu yang menjadi ciri khas makanan lokal Jerman dan Austria.

Baca: Schweinebraten yang dipesan di Jerman

Lokasi yang strategis dan pelayanan cepat memang menjadi nilai plus di restoran ini. Restoran ini memberikan keistimewaan citarasa menu andalan lokal, di antara restoran-restoran lain di mall Plus City yang memang didominasi menu makanan non lokal.

Bagaimana pun makanan lokal di Austria tak ubahnya makanan yang didapat di Jerman. Ini bisa menjadi gambaran jika anda datang ke Austria.

Makanan Khas Timur Tengah (12): Koushary, Hidangan Perpaduan Nasi, Pasta dan Kacang Lentil

Salah satu porsi koshari atau koshary yang saya ambil.

Hidangan dari Mesir ini masih berlanjut dan tak luput juga diulas. Pasalnya saya sempat melihat hidangan ini beberapa kali diletakkan di meja prasmanan. Saya pun penasaran dan mengambil sedikit porsi dalam piring saya. Saya tertarik karena koushary, nama yang tertulis di atas meja prasmanan, berisikan nasi, sedikit pasta dan kacang. Hmm, rasanya pun enak.

Koushary, ada yang menyebutnya sebagai kushari, koshary, kosheri atau koshari. Sepintas nama-nama tersebut terdengar sama jika disebut, hanya penulisannya berbeda karena diambil dari huruf lokal yang berbahasa arab.

Saya membayangkan koushary ini seperti saya biasa membeli nasi uduk saat tinggal di Jakarta atau nasi kuning saat saya tinggal di Bandung. Koushary ini bisa dijumpai hampir di seluruh warung makan di Mesir. Ini seperti street foods juga yang mengeyangkan. Bayangkan makan satu porsi koushary sudah lengkap dengan nasi, pasta dan kacang lentil yang berbumbu. Lalu diberi bawang goreng di atasnya maka semua sudah terasa nikmat buat orang-orang di Mesir. Anda tinggal memilih lauk pauk atau tumisan sayur sebagai pelengkap.

Jika India punya Dal Makhani sebagai makanan nasional, maka Mesir punya koushary.

Koshary seumpama nasi uduk Jakarta atau nasi kuning Bandung bisa dicocokkan dengan sambal khas tomat dan lain sebagainya. Satu piring penuh koushary tersedia 200 kalori bila dihitung nilai gizinya. Tak ada aturan untuk menikmati koushary sebagai sarapan pagi, makan siang atau makan malam. Bahkan jika anda sudah merasa lapar, koushary bisa dibeli di pinggir jalan.

Ketika Husain menceritakan koushary, saya seperti tak habis pikir bagaimana menikmati semua secara bersamaan. Ini tampak berantakan dan tak menarik. Suami saya yang melihat saya mengambil satu porsi di piring tampak meragukan bahwa saya akan menghabiskannya. Ternyata ini enak, renyah, gurih dan berbumbu yang nikmat. Antara nasi, mie (pasta) dan kacang bersamaan.

Nyatanya koushary wajib dinikmati bila anda datang ke Mesir. Bahkan saya semakin penasaran ketika warung makan, gerobak kaki lima di Kairo hingga restoran pun menjualnya. Anda akan semakin penasaran jika anda tidak mencobanya saat sedang berada di Mesir.

Apakah anda sudah pernah menikmati koushary sebelumnya?

Makanan Khas Asia (56): Korean Food Gimbap, Lalu Adakah Bedanya dengan Sushi?

Gimbap bisa diisi sesuai selera anda.
Gimbap yang saya nikmati di pasar pagi di Seoul, Korsel. Gimbap dibalut minyak wijen pada rumput laut. Ini juga membedakannya dengan sushi.

Hallo pecinta makanan Korea, saya kembali lagi mengulas makanan yang mungkin tertarik mencoba atau anda sudah pernah mencicipinya barangkali. Jika anda pernah ke Korea Selatan (Korsel) maka anda akan tahu gimbap itu begitu mudah dijumpai. Gimbap yang saya bahas ini diperoleh dari teman mahasiswa asal Korea Selatan yang memperkenalkannya dalam acara malam budaya di kampus, tempat saya belajar di Jerman.

Pernahkah anda makan gimbap?

Jika dilihat lebih dekat, maka anda perhatikan bahwa ini seperti sushi.

Atau pernahkah anda menikmati sushi, makanan khas Jepang?

Jika anda perhatikan sekilas, gimbap itu mirip dengan sushi ‘kan? Ketika teman asal Korsel ini sedang merencanakan untuk membuatnya, dia bermaksud meminjam sushi maker yang saya punya. Dalam artikel tersebut, saya bercerita bagaimana membuat sushi dengan bantuan alat tersebut, yang saya beli Jerman. Itu berarti sushi dan gimbap, sama atau beda?

Ternyata saya tidak sendiri. Ada sejumlah teman mahasiswa lain yang juga bertanya, apakah gimbap itu sama dengan sushi? Kebetulan satu orang mahasiswa berjaga dan memberikan satu per satu makanan asal negaranya, yang menjadi tanggungjawabnya. Dari penjelasannya, saya menjadi tahu bahwa sushi dan gimbap terdapat perbedaan. Penasaran ‘kan?

Gimbap bisa juga disebut kimbap. Mungkin kimbap terasa familiar, sedangkan bagi orang Korea lebih menyebutnya gimbap, hanya karena pengejaannya saja. Baik gimbap maupun kimbap adalah sama. Tetapi gimbap itu berbeda dengan sushi, makanan khas asal Jepang. Sushi sendiri sudah tak asing lagi di Jakarta, Indonesia. Ada banyak gerai sushi yang membuka bisnisnya. Saya kerap mencicipinya dahulu saat saya masih di Jakarta.

Gimbap di atas disajikan dua pilihan, yakni vegetaris dan non vegetaris. Untuk vegetaris terdapat telur dan sayuran di dalamnya. Sedangkan gimbap isian non vegetaris terdapat ikan dan daging. Gimbap menggunakan beras sedangkan untuk sushi biasanya menggunakan beras sushi khusus. Di supermarket di sini tersedia pilihan beras sushi yang memang berbeda dari beras pada umumnya. Itu sudah menjelaskan perbedaannya dengan sushi.

Disebut gimbap karena gim berarti rumput laut yang membungkusnya. Seperti yang anda lihat, tiap gimbap dibungkus dengan rumput laut. Sedangkan bap dimaksudkan dengan beras. Dari asal kedua kata ini maka makanan ini dikenal gimbap. Sedangkan orang luar Korsel lebih mengejanya menjadi kimbap.

Perbedaan lainnya juga pada saat kita membumbui sushi dan gimbap. Sushi bisa dibumbui dengan saus yang sedikit kecut seperti cuka dan wasabi. Ini sudah jelas membedakan antara sushi dan gimbap. Gimbap biasa dinikmati dengan minyak wijen. Gimbap terasa lebih manis, sedangkan sushi tidak.

Jika anda bertanya, manakah yang lebih dulu otentik gimbap atau sushi? Saya sendiri pernah mengulas bagaimana Korsel itu merupakan perpaduan dua budaya Tiongkok dan Jepang yang pernah menguasai negara tersebut. Kedatangan bangsa Jepang di masa lalu bisa jadi mempengaruhi kuliner di Korsel. Tentang kunjungan saya ke Korsel, bisa dicek di artikel-artikel sebelumnya.

Mesir (18): Egyptian Banana Pudding, Seperti Kolak Isiannya

Ada pisang dan pacar cina warna-warni.

Setelah berbicara banyak soal wisata dan kuliner yang memang selalu menarik untuk dibagikan, negeri Mesir ini juga kaya kuliner yang rasanya cocok untuk lidah seperti saya yang dilahirkan di Indonesia. Bisa dikatakan aneka kuliner di Mesir ini enak semua di lidah saya, meski tiap orang punya selera berbeda-beda dalam hal makanan. Hanya saja ada kue dan makanan pencuci mulut yang manisnya sama seperti di Indonesia sementara saya tidak terlalu suka makanan yang sangat manis.

Setelah kue-kue manis yang pernah saya sajikan dalam artikel sebelumnya, maka saya lanjutkan pada makanan pencuci mulut yang isinya seperti kolak. Anda tahu kolak ‘kan yang biasa dijual dan disediakan saat bulan Ramadhan di Indonesia. Meski saya tidak menjalani puasa tetapi saya suka sekali menikmati kolak, mulai dari jajanan kaki lima hingga buatan ibu saya. Kolak itu bisa dikreasikan sesuai selera pembuatnya. Pastinya kolak itu manis dan ada pisang yang berkuah santan.

Pencuci mulut dari Mesir yang saya nikmati itu mirip seperti kolak. Anda bisa lihat tampilannya. Ada pisang juga yang menjadi isiannya. Warna pudding yang kuning dipermanis lagi dengan warna-warni pacar cina yang indah. Hmm, ternyata enak.

Saya tidak mendapatkan nama pencuci mulut tersebut. Saya tanya pada petugas, mereka menjawab dalam bahasa Inggris bahwa itu adalah pudding. Ya, saya pun tak enak untuk mengganggu jam bertugasnya karena beliau memang langsung segera berlalu dan merapikan meja berikutnya.

Bedanya dengan kolak, pudding ini memang tak berkuah. Teksturnya lembut sama seperti pudding umumnya. Rasa manis dan kenyal berasal dari pacar cina. Anda perlu sendok dan meletakkanya di mangkuk kecil untuk menikmati lezatnya pudding ini.

Apakah anda tertarik mencobanya?

Makanan Khas Jerman (59): Saure Lunge, Sup Paru Asam dan Sammerknödel

Saure Lunge yang saya beli di Ingolstadt, Jerman.

Suatu kali saya mengunjungi salah satu kota, dekat Munich untuk berbelanja yakni Ingolstadt. Tiba di sana adalah waktu makan siang. Segera saya dan suami mencari restoran yang bisa langsung melayani kami. Dipilihlah restoran citarasa masakan lokal, Bavaria.

Apa yang anda bayangkan jika anda memakan paru?

Saya pernah menikmati paru goreng yang kadang dijadikan cemilan di Indonesia. Tepatnya saya menikmati paru goreng khas masakan Jawa Timur bila saya memesan soto daging. Paru goreng itu gurih dan crunchy saat dikunyah.

Namun bagaimana jika paru tersebut dibuat dalam olahan masakan Bavaria? Penasaran ‘kan!

Bandingkan dengan menu sama yang disebut ‘Beschel’ di Austria.

Nama masakannya adalah saure lunge. “Saure” diterjemahkan dalam bahasa Jerman yakni “Asam” dan “Lunge” diterjemahkan menjadi “paru” begitulah kira-kira. Karena saya melihat nama masakannya terkesan asam, saya pun tidak memesannya. Suami saya memesannya karena konon saure lunge menjadi makanan meriah pada jaman dahulu di Ingolstadt.

Satu porsi saure lunge terdiri atas tumisan paru yang diberi saus khas seperti kebanyakan masakan Bavaria umumnya. Menurut suami saya, umumnya saus di saure lunge begitu kental dan terlihat seperti berkuah. Tetapi kenyataannya, saure lunge yang dipesan suami sudah tidak berkuah lagi. Beruntunglah saya tidak memesannya karena saya yakin pasti rasanya lebih asam.

Oh ya, saure lunge juga punya nama lain yakni Saurem Lüngerl. Di Austria, nama masakan ini kadang disebut juga beschel. Menurut saya, sup paru asam ini lebih enak rasanya yang saya pesan di Jerman. Bumbu saure lunge terasa asam manis, sedangkan beschel di Austria lebih banyak daun dillnya.

Untuk mereka yang rindu makanan ini tetapi malas membuatnya sendiri maka makanan ini juga bisa dipesan di restoran atau dibeli di supermarket dalam bentuk kemasan siap disajikan.

Saure lunge ini dimakan bersama sammerknödel. Bisa dikatakan sammerknödel semacam pengganti kentang atau roti untuk makanan tertentu seperti saure lunge ini atau schweinebraten. Sammerknödel dijumpai pada masakan di Jerman bagian Selatan seperti Bavaria, Austria dan sedikit Ceko.

Thunfisch Salad, Salad dengan Ikan Tuna: Makanan Khas Jerman (58)

Kembali lagi saya membahas salad yang tak pernah habis diulas. Saya tergila-gila makan salad mengingat suhu udara yang terik dan cocok untuk membuat tubuh tidak mengalami dehidrasi. Sebelumnya, saya sudah mencoba menikmati salad tuna dengan racikan khas masakan Italia di link ini. Tak hanya itu, saya juga pernah menyantap salad tuna dengan gaya khas Asia di restoran Vietnam di link ini.

Nah, kedua salad ini diracik dengan gaya berbeda tetapi salad tersebut tetap enak. Selanjutnya, bagaimana jika salad diracik secara lokal khas masakan Jerman?

Saya memesannya di restoran di rest area jalur bebas hambatan, tol. Anda pasti kenal nama restoran Jerman ini. Paulaner. Ya, di Jerman ada beberapa rest area di autobahn yang menempatkan restoran Paulaner untuk disinggahi. Restoran yang mengusung masakan Jerman ini memang bergaya moderen dengan masakan yang klasik, seperti salad yang dibuatkan untuk saya.

Untuk salad terasa enak atau tidak bergantung bagaimana juru masak membuatkan saus yang dicampurkan di antara sayuran segar di dalamnya. Saus salad ini menjadi rahasia dapur tiap restoran. Saus pada salad tuna ini terasa asam manis dengan sedikit saus tomat di dalam. Jangan lupa anda perlu mengaduknya agar saus salad tercampur aduk! Kadan9g kala ada restoran yang meletakkan saus salad sebagai topping, tetapi topping salad ini adalah potongan daging ikan tuna.

Apa yang membedakan salad khas Jerman adalah irisan bawang entah bawang merah atau bawang bombay. Sebagaimana anda perlu tahu bahwa bawang merah di sini berukuran besar, jadi jika diiris pun tampak serupa seperti bawang bombay. Irisan bawang merah segar itu menambah nikmat salad ini. Jika anda tak suka bawang merah yang sebenarnya tak terlalu menyebabkan bau mulut seperti bawang merah kecil, anda bisa memesannya pada pramusaji agar salad tanpa irisan bawang.

Tak hanya potongan sayur segar seperti daun salada air, wortel dan irisan tomat tetapi ada juga potongan telur yang bisa anda nikmati bersamaan. Tentu daging ikan tuna ini sudah ready to eat yang sudah matang. Rasa tuna dengan aneka sayuran bercampur satu di mulut. Ini enak!

3 Menu Nasi Mancanegara yang Perlu Anda Tahu

Nasi adalah makanan pokok Indonesia. Nasi bisa dimakan untuk sarapan pagi, makan siang atau makan malam di tanah air. Ini tentu berbeda bagi masyarakat belahan bumi lain yang menikmati nasi bukan sebagai makanan pokok. Bahkan nasi dimasak dan disajikan dengan cara berbeda dari masakan nusantara. Ini bisa menjadi pengobat rindu saat saya ingin makan nasi dengan rasa yang berbeda saat saya sedang tidak berada di Indonesia.

Untuk membuktikannya, saya mencoba tiga menu nasi berikut.

1. Khao phat kung

Jika anda melihat tampilan menu di atas, makanan nusantara apa yang anda kaitkan? Semula saya melihat tampilannya di menu seperti nasi goreng. Itu sebab saya memesannya. Ya, menu ini adalah nasi goreng dari Thailand. Saya memesannya di kota Pilsen, Ceko di salah satu restoran selera asia. Namanya adalah khao phat kung atau dalam bahasa Inggris dikenal shrimp fried rice.

Nasi goreng dari Thailand ini memang berbeda bumbu dengan makanan nusantara. Saya merasa ada rasa asam dan asin bersamaan. Ada nasi yang digoreng, udang, irisan cabai, tauge dan daun ketumbar. Saya terkejut juga ternyata ada irisan lemon di nasi goreng tersebut. Terakhir, saya berpikir topping adalah bawang goreng ternyata kacang goreng.

2. Risotto

Saya memesannya di salah satu restoran ekslusif di Zagreb, Kroasia. Padahal sebagaimana anda tahu bahwa risotto berasal dari Italia. Saya mengenal pertama kali risotto di salah satu restoran italia di Jakarta. Kemudian saya pernah mengupas secara khusus di link ini. Bagaimana rasa risotto yang dinikmati di Kroasia?

Kroasia kaya akan makanan laut yang berasal dari laut Adriatik. Jika anda berkesempatan mampir ke Kroasia, aneka masakan laut bisa anda nikmati di restoran mana saja. Untuk sajian risotto yang saya pesan, terdiri nasi, udang dan cumi-cumi dengan sedikit sentuhan rasa masakan mediterania. Risotto adalah nasi yang berbumbu dan sedikit creamy. Dengan tambahan sea food, rasa risotto berbeda seperti yang pernah saya nikmati sebelumnya.

3. Friekadellen mit Gemüse-sahne-soße

Terakhir adalah makanan nasi dengan bumbu khas masakan Jerman. Jika kedua menu nasi di atas adalah hasil pesanan saya di restoran maka menu terakhir merupakan masakan buatan saya di rumah. Ini berdasarkan hasil percobaan setelah membaca resepnya. Hasilnya, ini mudah dibuat.

Pertama, anda harus membuat bola-bola kecil dari daging sapi yang diberi bumbu garam, merica dan bawang putih. Lalu goreng bola-bola tersebut hingga matang. Kemudian siapkan krim ke dalam sup dan sedikit air. Tambahkan sayuran yang dikehendaki seperti wortel, kacang polong atau jagung manis. Beri sedikit mustard dan kaldu sapi. Masak hingga matang. Makan bersama nasi hangat. Dijamin enak!

Dari ketiga menu di atas, mana yang mungkin anda sukai?

Falafel, Bola Goreng Rempah: Makanan Khas Timur Tengah (4)

Melanjutkan kuliner dari negeri timur tengah, seorang teman membuatkannya untuk saya makanan yang disebut falafel. Falafel merupakan bola-bola yang terbuat dari kacang Arab, yang ditambah bumbu kemudian digoreng. Falafel terkenal sebagai makanan khas Timur Tengah, yang saya kenal di sini. Berkat seorang teman, saya jadi menikmati makanan khas ala Timur Tengah ini. Menurut teman saya, falafel banyak disajikan saat bulan Ramadhan.

Falafel rupanya juga dijadikan isian di kedai milik orang Turki. Saya memperhatikan falafel menjadi menu isian donner. Bedanya falafel disajikan dengan salad sayuran dan saus pedas. Kemudian diletakkan di roti seperti donner. Saya sendiri melihat informasi menu tertera, hanya belum sempat mencoba pesan. Artinya, falafel kini menjadi makanan yang sudah mendunia.

Jika saya tanyakan darimana asal falafel, banyak informasi bersebaran. Intinya falafel memang berawal dari masyarakat Timur Tengah. Karena falafel juga menjadi jajanan street food di negara-negara Timur Tengah. Siapa pun suka karena rasanya yang mudah diterima lidah meski mengandung bumbu rempah yang khas.

Bagi anda yang vegetaris, perlu mencicipi falafel dan menjadi pilihan diet yang menyehatkan. Pasalnya falefel ini hanya menggunakan kacang fava, seperti buncis. Kemudian ditambah bumbu seperti bawang putih, jinten, biji wijen, ketumbar, daun peterselli atau daun bawang. Semua digiling bersama tepung khas Timur Tengah. Sebelum digoreng, adonan dibentuk menjadi bola-bola kecil terlebih dulu.

Oh ya, bukti bahwa falafel sudah mendunia ketika saya memesan salad orientalis di restoran bergaya western. Di dalam salad yang pesan, ada lima biji falafel di antara tumpukan sayuran salad yang diasinkan. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa falafel juga menjadi makanan umum yang dikreasikan agar semakin diterima oleh banyak orang.

Saat saya mencicipi falafel buatan teman saya ini, saya benar-benar terkesan. Rasanya lezat sekali! Mungkin ini bisa jadi pilihan anda yang suka makanan vegan.

Menikmati Tarte Flambèe dan Segelas Cappuccino: Makanan Khas Perancis (1)

Flammküchen ala Perancis.

Menikmati jalan-jalan di Perancis seolah-olah turis seperti menikmati sajian di suatu kafe. Begitu kami memandang banyak orang-orang memenuhi kafe dan bar. Kami pun turut serta lalu berhenti di suatu kafe di Strasbourg. Ini bukan jam makan siang, namun kami sudah merasa lapar.

Kami memesan secangkir cappuccino dan flammküchen. Ya, di Jerman kami biasa menyebutnya demikian. Di Perancis ini disebut tarte flambèe. Sejenis pizza yang yang diberi topping sesuai selera.

Jika merujuk pada kuliner di Regensburg yang pernah saya liput, sajian ini sebenarnya adalah sama. Silahkan cek di sini! Tarte flambèe yang asli juga bernama elsass, sedangkan dalam bahasa Jerman hidangan ini bernama elsässer flammküchen. Isian dan bentuknya pun sama.

Apa yang terjadi?

Jika merujuk pada sejarah antara Jerman dan Perancis, tidak hanya karena serangan Napoleon Bonaparte saja. Setelah perang dunia kedua, Jerman yang luluh lantah akibat kalah perang sempat terbagi dalam empat zona, yang membuat Jerman berusaha bangkit. Empat zona itu dinaungi oleh empat negara, salah satunya adalah Perancis. Perancis menaungi zona di bagian barat Jerman. Mungkin itu alasan kuliner Perancis juga menjadi bagian kuliner di Jerman. Salah satunya yang kita jumpai adalah nama berbeda tetapi satu sajian kuliner yang sama, Flammküchen.

Saya pernah tanya bagaimana membuatnya pada seorang teman yang bekerja di restoran. Anda bisa membelinya yang instan dan tinggal memanggangnya saja di oven. Atau cara lain adalah membuat racikannya sendiri. Untuk rotinya, sama seperti pizza bahan pembuatannya. Jika malas membuat di supermarket sudah tersedia roti yang jadi dasar flammküchen.

Di atas roti yang pipih, berikan cream. Bentuknya seperti yoghurt dan rasanya tawar. Taburi dengan cream seluruh permukaan atas roti. Lalu taburi dengan daging ham yang sudah dipotong-potong kecil. Beri tambahan bawang bombay. Lalu panggang di oven hingga pinggir roti tampak garing.

Selesai terpanggang, hiasi di atasnya dengan irisan daun peterseli dan merica. Anda juga bisa menghiasinya dengan irisan daun bawang atau bawang merah. Silahkan sesuaikan dengan selera anda! Ini tampak seperti pizza ‘kan?

Saya menikmati elsass tarte flammbèe dengan segelas cappuccino sambil melihat lalu lalang orang-orang di kota Strasbourg. Hmm, saya terlihat seperti turis saja.

Mexican Chorizo, Sosis Berasa Pedas: Makanan Khas Meksiko (3)

Chorizo, sosis ala Meksiko nan pedas.

Diberi kentang goreng, ditambah saus tomat dan mustard.

Makanan berikut sebenarnya menjadi menu khas di Jerman. Ya apalagi jika berhubungan dengan sosis. Masyarakat di sini suka menikmati sosis. Namun sosis yang saya perkenalkan berasal dari Meksiko. Begitu pun saat kami memesannya di restoran, nama menu pun menjadi “Scharfe Mexicana mit Pommes Frittes”.

Debreziner, sosis ala Jerman yang juga pedas.

Jika merujuk pada kuliner Meksiko tentu rasa yang ditawarkan adalah rasa pedas. Itu sebab nama menu ditambahkan rasa pedas. Konon sosis ini memang pedas karena berasal dari cabai khas Meksiko yang super pedas. Hal ini yang menyebabkan warna sosis menjadi merah pekat ketimbang sosis lain yang umumnya ditemukan di Jerman.

Di Jerman sendiri ada sosis pedas yang dikenal dengan sebutan debreziner. Debreziner menjadi pedas karena terbuat dari daging kuda. Katanya lagi ada tambahan paprika untuk membuatnya. Warna merah pada sosis debreziner juga yang menandai sosis ini pedas ketimbang sosis-sosis lain di Jerman.

Kembali ke sosis ala Meksiko, sosis ini disajikan dengan digoreng. Dapat pula sosis dipanggang atau direbus. Untuk menikmatinya, serupa dengan currywurst. Yakni kentang goreng dan saus tomat menemani sosis ini. Plus ada senf, mustard yang juga bisa untuk menguatkan rasa sosis.

Sosis ala Meksiko terkenal pedas karena cabai yang digunakan. Terkadang sosis ini juga diiris dan menjadi topping pizza. Bagi pecinta sosis, silahkan coba sosis satu ini!