Makanan Khas India (14): Red Hot Chilli Fish Curry, Kari Ikan Super Pedas dan Minuman Manggolassi, Atasi Rasa Pedas

Fisch Chilli, tertulis di buku menu.
Manggolassi untuk menangkal rasa makanan India yang pedas.

Kuliner ikan kari yang super pedas berikut ini dipesan di restoran khas negeri Bollywood baru-baru ini. Sebagaimana anda tahu bahwa makanan khas India begitu kaya rempah, bahkan anda sendiri mungkin tak bisa menebak apakah ini ikan atau daging. Karena semuanya begitu tertutup dengan bumbu kari yang merah dan tebal. Sesuai penampakan, nama makanan ini adalah Red Hot Chilli Fish Curry.

Bagi anda penyuka makanan berbumbu rempah dan berasa kari maka makanan kari ikan ini cocok untuk anda. Kari ikan ini terbuat dari rempah pilihan dari India seperti cabai merah, jahe dan rempah India lainnya yang saya tak kenal.

Makannya dengan nasi basmati, khas India.

Begitu pedasnya makanan ini sehingga tak hanya cabai saja yang terasa, ada irisan jahe yang juga diletakkan sebagai dekorasi di atas makanan. Perpaduan warna merah dari cabai merah, putih irisan jahe dan hijau daun bawang membuat makanan ini tampak menarik. Padahal makanan ini super pedas, yang mungkin tak akan dipilih semua orang.

Ketika saya memilih menu ini, ada tanda peringatan pada buku menu bahwa makanan ini super pedas. Makanan ini ditandai sebagai super pedas sehingga anda perlu mempertimbangkannya bila tak suka makanan pedas. Ini saran yang baik bagi pengelola restoran agar memberi tanda tertentu pada menu makanan yang tampaknya pedas dan super pedas.

Ikan yang dipilih untuk kari ikan bisa apa saja asalkan ikan tersebut masih fresh, bukan ikan asap atau ikan asin. Ikan fresh tentu ikan tersebut menghasilkan tekstur dan yang enak apalagi setelah diberi banyak rempah dan kari.

Untuk mengurangi rasa pedas saat saya memesan ikan kari ini maka saya disarankan menikmati manggolassi. Saya pun menyetujui saran si pramusaji yang mungkin ini baik bagi saya bila nanti saya tidak tahan pedas. Ternyata saran mereka benar, minuman manggolassi dapat mengatasi rasa pedas setelah saya menyantap kari ikan super pedas.

Apakah anda tertarik mencoba ikan kari super pedas dan manggolassi?

Begini 5 Penyebutan dan Cara Masak Telur di Jerman

Telur adalah salah satu stok makanan yang wajib tersedia di rumah. Pasalnya telur bisa dijadikan sarapan pagi, makan siang hingga makan malam. Semua ada pada kebutuhan anda untuk mengolah telur agar tetap lezat dinikmati. Ini juga yang saya alami selama tinggal di Jerman. Ada lima penyebutan untuk mengolah telur berdasarkan pengalaman saya tersebut.

Lima penyebutan berikut adalah cara mengolah dan memasak telur di Jerman. Biasanya makan telur berikut lebih sering saat sarapan pagi. Telur dan roti adalah contoh menu sarapan pagi yang mudah dibuat dan dikreasikan. Untuk resep telur sebagai sarapan pagi, silahkan cek di sini.

Baca: Resep olah telur dalam 5 menit untuk sarapan pagi

1. Gekochtes ei (Telur rebus)

Meski terkesan sepele, ternyata tidak semua orang bisa memasak telur rebus dengan baik.

Awalnya saya benar-benar tak tahu bagaimana memasak telur rebus dengan baik. Maklum selama saya tinggal di Indonesia, saya memang jarang sekali bersentuhan dengan dapur. Hingga akhirnya saya menikah, saya belajar memasak telur rebus dari suami. Telur rebus bisa untuk sarapan pagi atau jika sudah dingin, telur rebus bisa untuk makan malam. Akhirnya saya menjadi tahu bagaimana membuat telur rebus dengan baik setelah terbiasa bersentuhan dengan dapur selama hidup di Jerman. Ternyata mudah loh, berikut caranya.

Pertama, panaskan panci yang berisi telur yang hendak direbus dan air yang menutupi keseluruhan telur. Beri sedikit garam. Lalu tunggu hingga air mendidih. Ketika air berisi telur sudah mendidih, kecilkan api dan tunggu hingga masak selama 10 menit. Hasilnya anda akan mendapatkan telur rebus yang benar-benar matang. Telur rebus memang jadi salah satu bagian dari sarapan bagi sebagian orang Jerman. Itu sebab, mereka sampai punya perlengkapan makan untuk meletakkan telur rebus dan sendok telur. Keren!

2. Spiegelei (Telur mata sapi)

Bisa tambahkan sedikit garam dan bubuk paprika misalnya.

Telur mata sapi bisa jadi merupakan favorit anda. Mengapa telur mata sapi disebut spiegelei dalam bahasa Jerman? Spiegel diterjemahkan menjadi ‘cermin’ dan ei adalah telur. Konon telur mata sapi ini jika sudah masak di atas wajan, warna kuningnya utuh dan berkilau seperti cermin. Begitu pun warna putihnya tetap utuh. Itu sebab mereka menjulukinya sebagai spiegelei. Sementara kita menjulukinya telur mata sapi, diambil dari terjemahan julukan ‘bull’s eye’ dari hasil menggoreng telur. Dimana kuning telurnya tetap utuh seperti mata. Tetapi bagaimana orang-orang di sini membuat telur mata sapi, berikut caranya.

Panaskan wajan, lalu beri sedikit butter. Ketika butter sudah meleleh, pecahkan telur di atas wajan. Biarkan masak tanpa dibolak-balik. Beri taburan sedikit garam dan merica. Angkat telur ketika bagian bawahnya sudah masak. Kira-kira anda memasaknya selama 3-5 menit. Ada sebagian juga yang ingin telur mata sapi setengah matang, itu berarti anda jangan terlalu lama memasaknya.

3. Rührei (Telur orak-arik)

Telur orak-arik.

Teknik telur selanjutnya adalah telur orak-arik. Ini mungkin sudah sering anda buat di rumah. Sebagian orang di sini ada juga yang menikmati telur orak-arik sebagai sarapan pagi. Tentu telur orak-arik ini dinikmati bersama roti dengan butter. Di hotel di Jerman yang menyediakan sarapan pagi, maka anda biasanya bisa menemukan aneka telur yang dihidangkan termasuk telur orak-arik.

Ambil beberapa telur dan letakkan dalam wadah. Kocok telur dengan ujung garpu hingga semua telur bercampur rata. Beri garam secukupnya. Panaskan wajan dan letakkan butter pada keseluruhan permukaan wajan. Lalu tuang telur ke atas wajan datar. Telur mulai diacak-acak dengan sendok kayu setiap sisi ke tengah telur secara berirama hingga masak. Setelah telur orak-arik sudah masak, letakkan di atas piring. Anda bisa memberi taburan paprika bubuk atau merica bubuk sesuai selera.

Oh ya, tak jarang juga orang-orang di sini membuat telur orak-arik dengan schinken, bacon yang sudah matang. Jika ditambahkan bacon, maka tak perlu lagi diberi garam. Karena telur orak-arik sudah terasa asin bila diberi bacon.

4. pochierte Eier (Telur setengah matang)

Telur setengah matang.

Selanjutnya, ini adalah bagian teknik memasak telur yang sulit. Tetapi telur setengah matang yang berbeda dari telur rebus pada nomor 1 ini juga banyak digemari sebagai pilihan sarapan pagi buat kebanyakan orang-orang Jerman. Penasaran? Simak caranya berikut.

Panaskan wajan yang berisi air setengah panci kira-kira. Lalu beri garam ke dalam air. Tunggu air hingga mendidih. Pecahkan telur di mangkuk kecil agar telur tidak hancur. Jangan diaduk! Saat air mendidih maka kecilkan api sambil masukkan telur dalam mangkuk tadi. Masak hingga empat menit lamanya. Lalu angkat telur dengan sendok penyaring yang biasa digunakan untuk menggoreng. Agar tidak basah saat diletakkan di piring, pertama letakkan dulu di atas piring yang berisi tisu makan. Gunanya untuk menyerap air. Secara hati-hati, pindahkan ke piring. Belah setengah telur hingga kuningnya meleleh. Beri black paper untuk tambahan rasa.

5. Omelette (Telur dadar gulung)

Omelette dipesan saat sarapan pagi di hotel.

Terakhir adalah omelette yang mungkin juga sering anda buat di rumah. Jika olahan telur di atas bisa diterjemahkan dalam bahasa Jerman, tidak untuk omelette. Kata omelette memang berasal dari negeri tetangga, yakni Prancis yang muncul sekitar abad 18. Omelette sendiri memang jadi sarapan pagi di negerinya. Di Ho Chi Minh City, Vietnam saat saya berkunjung ke sana, saya baru tahu omelette dan roti baguette menjadi sarapan pagi yang umum. Namun, bagaimana omelette yang dibuat umumnya oleh warga di sini?

Siapkan wadah. Masukkan dua buah telur, tambahkan irisan paprika, speck, sedikit jamur jika suka, garam dan merica. Kocok yang kuat. Panaskan wajan dan masukkan butter. Masukkan adonan telur. Saat setengah matang, gulung telur sehingga menjadi rolade. Masak hingga matang. Sajikan selagi hangat.

Sekarang anda jadi tahu ‘kan nama kreasi telur saat sarapan pagi di Jerman. Ini membantu anda bila jadi turis di sini. Semoga bermanfaat!

Makanan Khas Jerman (71): Blutwurst, German Blood Sausage atau Sosis Hitam

Dua sosis seperti yang anda lihat!

Apa yang terbayang dalam benak anda jika membaca menu di restoran adalah German Blood Sausage? Daripada berandai-andai, ini saya beritahukan masakan khas Jerman yang saya dapatkan di restoran lokal di sini.

Suatu kali saya dan suami datang makan siang di area turis di Jerman. Kami menyambangi restoran lokal di suatu kota yang memang menjadi sentra turis. Kami masuk dan memilih tempat duduk di dalam. Kami mendengar banyak orang sekitar berbicara dalam bahasa asing, bukan bahasa jerman tentunya. Kemudian pramusaji datang dan menawarkan buku menu. Saya bingung memesan menu apa saat itu.

Tiba-tiba pramusaji datang dan menjelaskan menu yang sedang istimewa saat itu. Katanya, restoran ini sedang promo blutwurst dengan kentang. Lalu pramusaji menjelaskan dalam bahasa Inggris apa itu blutwurst. Dia sepertinya berpikir bahwa saya bagian dari turis-turis yang sedang datang ke situ. ‘German Blood Sausage’ akhirnya dipilih oleh suami saya sementara saya memilih goulasch suppe.

Sebelah meja kami adalah sepasang turis yang ramah. Mereka datang berlibur ke Jerman. Mereka tersenyum pada kami berdua dan berkata “Well, we said it is not blood sausage. It is like blood pudding in UK. Sometimes we called it black pudding coz it is really black.” Ach ok, suami saya paham apa yang dipesannya. Saya pun berterimakasih dengan percakapan yang hangat soal blood sausage.

Blood sausage juga bisa dikatakan sosis hitam karena memang sosis ini pasti berwarna hitam. Sebenarnya sosis hitam itu tidak melulu berisi kandungan darah. Di Eropa dan Amerika, sosis hitam ini berisi juga protein hewani sehingga itu tampak hitam. Kandungan isian sosis pun berbeda-beda tiap negara. Saya sendiri pernah menjumpai sosis hitam di Seoul atau Bangkok. Apalagi Jerman yang kaya akan varian sosis, tentu sosis hitam bisa menjadi pilihan rasa sosis.

Jangan berpikir buruk dulu soal sosis hitam! Karena sosis hitam ini pun ternyata pernah saya nikmati juga di Indonesia. Jika anda tahu ‘Saren, ini mirip saren. Saren berasal dari darah ayam. Makanan ini sendiri banyak ditemukan di pulau Jawa. Hanya bentuk dan kemasannya tidak dibuat seperti sosis.

Pesanan kami datang. Tampak pesanan suami saya dua sosis, kentang goreng dan sauerkraut. Untuk menikmati sosis hitam ini, dia perlu membelah dan mengeluarkan isi dua sosis tersebut. Kemudian keduanya memang harus disajikan bersamaan untuk dicampurkan jadi satu isian kedua sosis tersebut. Hmm, begitulah caranya menikmati sosis hitam, yang sedikit berbeda dari sosis lainnya.

Rekomendasi Tempat (16): Drei Goldene Kugeln, Mall Plus City Austria

Wiener Schnitzel 150 gram.

Rekomendasi selanjutnya adalah restoran yang mengusung citarasa masakan Austria. Sebagai informasi, kuliner Austria dengan Jerman itu sepertinya hampir identik. Kita bisa menemukan ragam kuliner Austria yang mirip dengan Jerman, begitu pun sebaliknya. Apalagi saya yang tinggal di negara bagian Bavaria, dapat dipastikan memiliki citarasa kuliner yang sama dengan negeri tetangga, Austria. Termasuk tiga kuliner berikut yang dipesan di restoran lokal di salah satu pusat perbelanjaan Plus City.

Di akhir pekan, pilihan menikmati kuliner negeri tetangga memang menggoda. Ini menjadi ide menarik dimana kami ingin shopping sambil menikmati waktu keluarga dengan makan siang di mall. Pilihannya jatuh pada restoran lokal, Drei Goldene Kugeln yang ada di depan pintu masuk lantai 1 mall Plus City, Austria. Restoran ini memang selalu ramai, bahkan kami beberapa kali ke situ dan tidak mendapatkan tempat. Untuk kesekian kalinya, kami berhasil mendapatkan tempat duduk sehingga kami pun memesan menu lokal di situ.

Seehect gegrillt mit Krauterbutter.
Schweinebraten mit Knödel.
Buku menu.

Tak ada yang berbeda antara menu lokal Jerman dengan Austria. Ini tampak sekilas dari buku menu yang ditawarkan. Berhubung kami sudah lapar, kami memesan tiga menu karena kami pergi bersama ibu mertua. Pramusaji pun dengan sigap mencatat tiga pesanan kami. Beruntungnya kami segera mendapatkan tempat duduk di saat jam sibuk, waku makan siang di akhir pekan.

Untuk schnitzel, ini adalah menu andalan yang ditawarkan restoran ini. Schnitzel bukan hal baru bagi kami di Jerman. Makanan ini pun sudah mendunia dan saya sudah sempat memesannya di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya kala kami traveling. Namun pasti ada yang berbeda dari schnitzel di sini. Ya, schnitzel di sini dibedakan dengan kategori beratnya daging yang diinginkan. Ukuran schnitzel yang paling kecil adalah 150 gram dan masih ada dua pilihan schnitzel yang berat lainnya. Seperti saya yang tak suka makan dalam porsi besar, saya memesan schnitzel dalam porsi kecil.

Baca: Schnitzel yang saya beli di Jerman

Menu lainnya yang dipesan juga bisa anda simak yakni ikan panggang. Jangan bayangkan ikan panggang dengan nasi plus lalapan sambal pedas! Seperti yang anda lihat, ini adalah ikan tanpa duri dengan kentang salad. Untuk menambahkan rasanya, ikan diberi butter yang berasa herbal atau disebut krautterbutter. Bagi penyuka makan ikan, menu seperti ini bisa menjadi kreasi tersendiri karena ini berbeda dengan menu ikan ala nusantara yang terkenal pedas.

Baca: Makan ikan tanpa nasi dan sambal

Menu lokal ketiga yang dipesan adalah schweinebraten mit knödel. Ini bukan kali pertama saya membahasnya, anda bisa lihat sendiri ini sama seperti menu lokal Jerman. Sauerkraut adalah salah satu yang menjadi ciri khas makanan lokal Jerman dan Austria.

Baca: Schweinebraten yang dipesan di Jerman

Lokasi yang strategis dan pelayanan cepat memang menjadi nilai plus di restoran ini. Restoran ini memberikan keistimewaan citarasa menu andalan lokal, di antara restoran-restoran lain di mall Plus City yang memang didominasi menu makanan non lokal.

Bagaimana pun makanan lokal di Austria tak ubahnya makanan yang didapat di Jerman. Ini bisa menjadi gambaran jika anda datang ke Austria.

Makanan Khas Timur Tengah (12): Koushary, Hidangan Perpaduan Nasi, Pasta dan Kacang Lentil

Salah satu porsi koshari atau koshary yang saya ambil.

Hidangan dari Mesir ini masih berlanjut dan tak luput juga diulas. Pasalnya saya sempat melihat hidangan ini beberapa kali diletakkan di meja prasmanan. Saya pun penasaran dan mengambil sedikit porsi dalam piring saya. Saya tertarik karena koushary, nama yang tertulis di atas meja prasmanan, berisikan nasi, sedikit pasta dan kacang. Hmm, rasanya pun enak.

Koushary, ada yang menyebutnya sebagai kushari, koshary, kosheri atau koshari. Sepintas nama-nama tersebut terdengar sama jika disebut, hanya penulisannya berbeda karena diambil dari huruf lokal yang berbahasa arab.

Saya membayangkan koushary ini seperti saya biasa membeli nasi uduk saat tinggal di Jakarta atau nasi kuning saat saya tinggal di Bandung. Koushary ini bisa dijumpai hampir di seluruh warung makan di Mesir. Ini seperti street foods juga yang mengeyangkan. Bayangkan makan satu porsi koushary sudah lengkap dengan nasi, pasta dan kacang lentil yang berbumbu. Lalu diberi bawang goreng di atasnya maka semua sudah terasa nikmat buat orang-orang di Mesir. Anda tinggal memilih lauk pauk atau tumisan sayur sebagai pelengkap.

Jika India punya Dal Makhani sebagai makanan nasional, maka Mesir punya koushary.

Koshary seumpama nasi uduk Jakarta atau nasi kuning Bandung bisa dicocokkan dengan sambal khas tomat dan lain sebagainya. Satu piring penuh koushary tersedia 200 kalori bila dihitung nilai gizinya. Tak ada aturan untuk menikmati koushary sebagai sarapan pagi, makan siang atau makan malam. Bahkan jika anda sudah merasa lapar, koushary bisa dibeli di pinggir jalan.

Ketika Husain menceritakan koushary, saya seperti tak habis pikir bagaimana menikmati semua secara bersamaan. Ini tampak berantakan dan tak menarik. Suami saya yang melihat saya mengambil satu porsi di piring tampak meragukan bahwa saya akan menghabiskannya. Ternyata ini enak, renyah, gurih dan berbumbu yang nikmat. Antara nasi, mie (pasta) dan kacang bersamaan.

Nyatanya koushary wajib dinikmati bila anda datang ke Mesir. Bahkan saya semakin penasaran ketika warung makan, gerobak kaki lima di Kairo hingga restoran pun menjualnya. Anda akan semakin penasaran jika anda tidak mencobanya saat sedang berada di Mesir.

Apakah anda sudah pernah menikmati koushary sebelumnya?

Makanan Khas Asia (56): Korean Food Gimbap, Lalu Adakah Bedanya dengan Sushi?

Gimbap bisa diisi sesuai selera anda.
Gimbap yang saya nikmati di pasar pagi di Seoul, Korsel. Gimbap dibalut minyak wijen pada rumput laut. Ini juga membedakannya dengan sushi.

Hallo pecinta makanan Korea, saya kembali lagi mengulas makanan yang mungkin tertarik mencoba atau anda sudah pernah mencicipinya barangkali. Jika anda pernah ke Korea Selatan (Korsel) maka anda akan tahu gimbap itu begitu mudah dijumpai. Gimbap yang saya bahas ini diperoleh dari teman mahasiswa asal Korea Selatan yang memperkenalkannya dalam acara malam budaya di kampus, tempat saya belajar di Jerman.

Pernahkah anda makan gimbap?

Jika dilihat lebih dekat, maka anda perhatikan bahwa ini seperti sushi.

Atau pernahkah anda menikmati sushi, makanan khas Jepang?

Jika anda perhatikan sekilas, gimbap itu mirip dengan sushi ‘kan? Ketika teman asal Korsel ini sedang merencanakan untuk membuatnya, dia bermaksud meminjam sushi maker yang saya punya. Dalam artikel tersebut, saya bercerita bagaimana membuat sushi dengan bantuan alat tersebut, yang saya beli Jerman. Itu berarti sushi dan gimbap, sama atau beda?

Ternyata saya tidak sendiri. Ada sejumlah teman mahasiswa lain yang juga bertanya, apakah gimbap itu sama dengan sushi? Kebetulan satu orang mahasiswa berjaga dan memberikan satu per satu makanan asal negaranya, yang menjadi tanggungjawabnya. Dari penjelasannya, saya menjadi tahu bahwa sushi dan gimbap terdapat perbedaan. Penasaran ‘kan?

Gimbap bisa juga disebut kimbap. Mungkin kimbap terasa familiar, sedangkan bagi orang Korea lebih menyebutnya gimbap, hanya karena pengejaannya saja. Baik gimbap maupun kimbap adalah sama. Tetapi gimbap itu berbeda dengan sushi, makanan khas asal Jepang. Sushi sendiri sudah tak asing lagi di Jakarta, Indonesia. Ada banyak gerai sushi yang membuka bisnisnya. Saya kerap mencicipinya dahulu saat saya masih di Jakarta.

Gimbap di atas disajikan dua pilihan, yakni vegetaris dan non vegetaris. Untuk vegetaris terdapat telur dan sayuran di dalamnya. Sedangkan gimbap isian non vegetaris terdapat ikan dan daging. Gimbap menggunakan beras sedangkan untuk sushi biasanya menggunakan beras sushi khusus. Di supermarket di sini tersedia pilihan beras sushi yang memang berbeda dari beras pada umumnya. Itu sudah menjelaskan perbedaannya dengan sushi.

Disebut gimbap karena gim berarti rumput laut yang membungkusnya. Seperti yang anda lihat, tiap gimbap dibungkus dengan rumput laut. Sedangkan bap dimaksudkan dengan beras. Dari asal kedua kata ini maka makanan ini dikenal gimbap. Sedangkan orang luar Korsel lebih mengejanya menjadi kimbap.

Perbedaan lainnya juga pada saat kita membumbui sushi dan gimbap. Sushi bisa dibumbui dengan saus yang sedikit kecut seperti cuka dan wasabi. Ini sudah jelas membedakan antara sushi dan gimbap. Gimbap biasa dinikmati dengan minyak wijen. Gimbap terasa lebih manis, sedangkan sushi tidak.

Jika anda bertanya, manakah yang lebih dulu otentik gimbap atau sushi? Saya sendiri pernah mengulas bagaimana Korsel itu merupakan perpaduan dua budaya Tiongkok dan Jepang yang pernah menguasai negara tersebut. Kedatangan bangsa Jepang di masa lalu bisa jadi mempengaruhi kuliner di Korsel. Tentang kunjungan saya ke Korsel, bisa dicek di artikel-artikel sebelumnya.

Mesir (18): Egyptian Banana Pudding, Seperti Kolak Isiannya

Ada pisang dan pacar cina warna-warni.

Setelah berbicara banyak soal wisata dan kuliner yang memang selalu menarik untuk dibagikan, negeri Mesir ini juga kaya kuliner yang rasanya cocok untuk lidah seperti saya yang dilahirkan di Indonesia. Bisa dikatakan aneka kuliner di Mesir ini enak semua di lidah saya, meski tiap orang punya selera berbeda-beda dalam hal makanan. Hanya saja ada kue dan makanan pencuci mulut yang manisnya sama seperti di Indonesia sementara saya tidak terlalu suka makanan yang sangat manis.

Setelah kue-kue manis yang pernah saya sajikan dalam artikel sebelumnya, maka saya lanjutkan pada makanan pencuci mulut yang isinya seperti kolak. Anda tahu kolak ‘kan yang biasa dijual dan disediakan saat bulan Ramadhan di Indonesia. Meski saya tidak menjalani puasa tetapi saya suka sekali menikmati kolak, mulai dari jajanan kaki lima hingga buatan ibu saya. Kolak itu bisa dikreasikan sesuai selera pembuatnya. Pastinya kolak itu manis dan ada pisang yang berkuah santan.

Pencuci mulut dari Mesir yang saya nikmati itu mirip seperti kolak. Anda bisa lihat tampilannya. Ada pisang juga yang menjadi isiannya. Warna pudding yang kuning dipermanis lagi dengan warna-warni pacar cina yang indah. Hmm, ternyata enak.

Saya tidak mendapatkan nama pencuci mulut tersebut. Saya tanya pada petugas, mereka menjawab dalam bahasa Inggris bahwa itu adalah pudding. Ya, saya pun tak enak untuk mengganggu jam bertugasnya karena beliau memang langsung segera berlalu dan merapikan meja berikutnya.

Bedanya dengan kolak, pudding ini memang tak berkuah. Teksturnya lembut sama seperti pudding umumnya. Rasa manis dan kenyal berasal dari pacar cina. Anda perlu sendok dan meletakkanya di mangkuk kecil untuk menikmati lezatnya pudding ini.

Apakah anda tertarik mencobanya?

Makanan Khas Jerman (59): Saure Lunge, Sup Paru Asam dan Sammerknödel

Saure Lunge yang saya beli di Ingolstadt, Jerman.

Suatu kali saya mengunjungi salah satu kota, dekat Munich untuk berbelanja yakni Ingolstadt. Tiba di sana adalah waktu makan siang. Segera saya dan suami mencari restoran yang bisa langsung melayani kami. Dipilihlah restoran citarasa masakan lokal, Bavaria.

Apa yang anda bayangkan jika anda memakan paru?

Saya pernah menikmati paru goreng yang kadang dijadikan cemilan di Indonesia. Tepatnya saya menikmati paru goreng khas masakan Jawa Timur bila saya memesan soto daging. Paru goreng itu gurih dan crunchy saat dikunyah.

Namun bagaimana jika paru tersebut dibuat dalam olahan masakan Bavaria? Penasaran ‘kan!

Bandingkan dengan menu sama yang disebut ‘Beschel’ di Austria.

Nama masakannya adalah saure lunge. “Saure” diterjemahkan dalam bahasa Jerman yakni “Asam” dan “Lunge” diterjemahkan menjadi “paru” begitulah kira-kira. Karena saya melihat nama masakannya terkesan asam, saya pun tidak memesannya. Suami saya memesannya karena konon saure lunge menjadi makanan meriah pada jaman dahulu di Ingolstadt.

Satu porsi saure lunge terdiri atas tumisan paru yang diberi saus khas seperti kebanyakan masakan Bavaria umumnya. Menurut suami saya, umumnya saus di saure lunge begitu kental dan terlihat seperti berkuah. Tetapi kenyataannya, saure lunge yang dipesan suami sudah tidak berkuah lagi. Beruntunglah saya tidak memesannya karena saya yakin pasti rasanya lebih asam.

Oh ya, saure lunge juga punya nama lain yakni Saurem Lüngerl. Di Austria, nama masakan ini kadang disebut juga beschel. Menurut saya, sup paru asam ini lebih enak rasanya yang saya pesan di Jerman. Bumbu saure lunge terasa asam manis, sedangkan beschel di Austria lebih banyak daun dillnya.

Untuk mereka yang rindu makanan ini tetapi malas membuatnya sendiri maka makanan ini juga bisa dipesan di restoran atau dibeli di supermarket dalam bentuk kemasan siap disajikan.

Saure lunge ini dimakan bersama sammerknödel. Bisa dikatakan sammerknödel semacam pengganti kentang atau roti untuk makanan tertentu seperti saure lunge ini atau schweinebraten. Sammerknödel dijumpai pada masakan di Jerman bagian Selatan seperti Bavaria, Austria dan sedikit Ceko.

Thunfisch Salad, Salad dengan Ikan Tuna: Makanan Khas Jerman (58)

Kembali lagi saya membahas salad yang tak pernah habis diulas. Saya tergila-gila makan salad mengingat suhu udara yang terik dan cocok untuk membuat tubuh tidak mengalami dehidrasi. Sebelumnya, saya sudah mencoba menikmati salad tuna dengan racikan khas masakan Italia di link ini. Tak hanya itu, saya juga pernah menyantap salad tuna dengan gaya khas Asia di restoran Vietnam di link ini.

Nah, kedua salad ini diracik dengan gaya berbeda tetapi salad tersebut tetap enak. Selanjutnya, bagaimana jika salad diracik secara lokal khas masakan Jerman?

Saya memesannya di restoran di rest area jalur bebas hambatan, tol. Anda pasti kenal nama restoran Jerman ini. Paulaner. Ya, di Jerman ada beberapa rest area di autobahn yang menempatkan restoran Paulaner untuk disinggahi. Restoran yang mengusung masakan Jerman ini memang bergaya moderen dengan masakan yang klasik, seperti salad yang dibuatkan untuk saya.

Untuk salad terasa enak atau tidak bergantung bagaimana juru masak membuatkan saus yang dicampurkan di antara sayuran segar di dalamnya. Saus salad ini menjadi rahasia dapur tiap restoran. Saus pada salad tuna ini terasa asam manis dengan sedikit saus tomat di dalam. Jangan lupa anda perlu mengaduknya agar saus salad tercampur aduk! Kadan9g kala ada restoran yang meletakkan saus salad sebagai topping, tetapi topping salad ini adalah potongan daging ikan tuna.

Apa yang membedakan salad khas Jerman adalah irisan bawang entah bawang merah atau bawang bombay. Sebagaimana anda perlu tahu bahwa bawang merah di sini berukuran besar, jadi jika diiris pun tampak serupa seperti bawang bombay. Irisan bawang merah segar itu menambah nikmat salad ini. Jika anda tak suka bawang merah yang sebenarnya tak terlalu menyebabkan bau mulut seperti bawang merah kecil, anda bisa memesannya pada pramusaji agar salad tanpa irisan bawang.

Tak hanya potongan sayur segar seperti daun salada air, wortel dan irisan tomat tetapi ada juga potongan telur yang bisa anda nikmati bersamaan. Tentu daging ikan tuna ini sudah ready to eat yang sudah matang. Rasa tuna dengan aneka sayuran bercampur satu di mulut. Ini enak!

3 Menu Nasi Mancanegara yang Perlu Anda Tahu

Nasi adalah makanan pokok Indonesia. Nasi bisa dimakan untuk sarapan pagi, makan siang atau makan malam di tanah air. Ini tentu berbeda bagi masyarakat belahan bumi lain yang menikmati nasi bukan sebagai makanan pokok. Bahkan nasi dimasak dan disajikan dengan cara berbeda dari masakan nusantara. Ini bisa menjadi pengobat rindu saat saya ingin makan nasi dengan rasa yang berbeda saat saya sedang tidak berada di Indonesia.

Untuk membuktikannya, saya mencoba tiga menu nasi berikut.

1. Khao phat kung

Jika anda melihat tampilan menu di atas, makanan nusantara apa yang anda kaitkan? Semula saya melihat tampilannya di menu seperti nasi goreng. Itu sebab saya memesannya. Ya, menu ini adalah nasi goreng dari Thailand. Saya memesannya di kota Pilsen, Ceko di salah satu restoran selera asia. Namanya adalah khao phat kung atau dalam bahasa Inggris dikenal shrimp fried rice.

Nasi goreng dari Thailand ini memang berbeda bumbu dengan makanan nusantara. Saya merasa ada rasa asam dan asin bersamaan. Ada nasi yang digoreng, udang, irisan cabai, tauge dan daun ketumbar. Saya terkejut juga ternyata ada irisan lemon di nasi goreng tersebut. Terakhir, saya berpikir topping adalah bawang goreng ternyata kacang goreng.

2. Risotto

Saya memesannya di salah satu restoran ekslusif di Zagreb, Kroasia. Padahal sebagaimana anda tahu bahwa risotto berasal dari Italia. Saya mengenal pertama kali risotto di salah satu restoran italia di Jakarta. Kemudian saya pernah mengupas secara khusus di link ini. Bagaimana rasa risotto yang dinikmati di Kroasia?

Kroasia kaya akan makanan laut yang berasal dari laut Adriatik. Jika anda berkesempatan mampir ke Kroasia, aneka masakan laut bisa anda nikmati di restoran mana saja. Untuk sajian risotto yang saya pesan, terdiri nasi, udang dan cumi-cumi dengan sedikit sentuhan rasa masakan mediterania. Risotto adalah nasi yang berbumbu dan sedikit creamy. Dengan tambahan sea food, rasa risotto berbeda seperti yang pernah saya nikmati sebelumnya.

3. Friekadellen mit Gemüse-sahne-soße

Terakhir adalah makanan nasi dengan bumbu khas masakan Jerman. Jika kedua menu nasi di atas adalah hasil pesanan saya di restoran maka menu terakhir merupakan masakan buatan saya di rumah. Ini berdasarkan hasil percobaan setelah membaca resepnya. Hasilnya, ini mudah dibuat.

Pertama, anda harus membuat bola-bola kecil dari daging sapi yang diberi bumbu garam, merica dan bawang putih. Lalu goreng bola-bola tersebut hingga matang. Kemudian siapkan krim ke dalam sup dan sedikit air. Tambahkan sayuran yang dikehendaki seperti wortel, kacang polong atau jagung manis. Beri sedikit mustard dan kaldu sapi. Masak hingga matang. Makan bersama nasi hangat. Dijamin enak!

Dari ketiga menu di atas, mana yang mungkin anda sukai?