Terkadang Apa yang Ditakuti Adalah Apa yang Harus Dihadapi

Suatu kali saya dan seorang teman lain menghadapi satu pekerjaan bersama-sama. Kami berdiskusi mana yang akan dikerjakan oleh siapa. Lalu dia katakan, “Anna, saya tidak akan mengerjakan bagian itu. Saya takut salah.” Saya pun mengangguk. Dan menyahut bahwa saya yang akan mengerjakannya. Dia senang.

Beberapa saat kemudian, team leader kami datang. Langsung kami mulai mengerjakan tugas bersama-sama. Pembagian tugas berubah. Team leader pun membagi tugas. Anda tahu, teman saya mendapatkan bagian pekerjaan yang tidak disukai. Kami berdua saling menatap, seolah memberi tanda bahwa tidak ada yang perlu ditakuti.

Banyak hal dalam perjalanan hidup, saya mengalami bahwa saya tidak ingin menghadapi atau melakukan ini dan itu. Kenyataannya saya malahan menghadapi semua yang menjadi kekhawatiran saya.

Sebagai misal, dahulu saya bukan orang yang pandai berbicara di depan publik. Saya mudah demam panggung. Berbicara di hadapan banyak orang sudah membuat saya gugup. Toh kenyataannya saya dihadapkan pada pekerjaan yang menuntut saya berbicara di depan publik. Bahkan beberapa orang terdekat saya kaget melihat perubahan yang saya alami.

Dulu saya paling takut berpergian seorang diri. Orangtua saya selalu menyertakan asisten rumah tangga atau saudara sepupu beserta saya saat pergi. Mereka begitu mengkhawatirkan saya. Sekarang saya bahkan bisa traveling seorang diri hingga ke Jerman. Bahwa ternyata apa yang menjadi ketakutan justru adalah apa yang harus dijalani.

Dulu saya takut berbicara bahasa Inggris. Bos saya di Indonesia adalah seorang warga negara asing yang serta merta harus berbicara bahasa Inggris. Saya selalu menghindar agar tidak berbicara bahasa Inggris. Siapa sangka lambat laun saya menghadapi situasi dimana setiap saat harus berbicara bahasa Inggris.

Pengalaman hidup mengajarkan bahwa ketakutan terbesar adalah pikiran tidak bisa, pikiran takut salah dan pikiran pesimis negatif yang menjatuhkan. Ketika kita menghadapi dan melakukan apa yang ditakuti justru kita berhasil mengukur potensi diri. Kita bisa sesungguhnya.

Untuk menjadi pribadi yang lebih baik adalah kita bisa menghadapi rasa takut. Bersiaplah bahwa itu akan menjadi kesempatan yang menantang kita keluar dari zona nyaman. Dengan begitu perubahan hidup akan terjadi. Jangan berharap hidup berubah jika kita masih takut dengan ketidakmampuan kita!

Dalam diri setiap orang ada kemampuan “raksasa” atau giant power yang mungkin perlu dibangunkan sewaktu-waktu saat kita takut.

Siapkah anda melakukan hal yang sedang anda takuti?

Selamat berakhir pekan!

Advertisements

Lihatlah Masalah Dari Berbagai Sudut Pandang!

image

Seorang Profesor yang bijak memberi sebuah foto dalam layar yang terpajang di dinding kelas. Ia menunjukkan sebuah foto dan bertanya kepada mahasiswanya.

“Ada yang tahu ini gambar apa?” tanyanya.

Seorang mahasiswa berkacamata mengacungkan jari dan menjawab, “Bunga, Pak.”

Professor menggeleng. “Ada yang lain?” tanyanya kembali.

“Sepasang kupu-kupu,” sahut mahasiswa perempuan berambut kuncir di dekat pintu. Mahasiswa lain tampak mengamati foto itu, sementara yang lain sibuk berdiskusi mencoba menebaknya.
Saya melihatnya itu baju bermotif pak.” Demikian kata mahasiwa lainnya lagi.

Professor kembali menggelengkan kepala. “Kira-kira apa gambar itu?” tanyanya sekali lagi.

Seorang mahasiswa lain menyahut, “Kami nyerah, Pak.”

Akhirnya professor itu memperluas foto menjadi tampak jelas. Terlihat gambar kepik, semacam kumbang berwarna merah dan berbintik hitam.

Profesor pun menjelaskan, “Tidak ada satu pun yang bisa menebak jelas foto itu jika terlihat hanya satu arah dan terlalu dekat, termasuk saya.”

Demikian jika kita memandang suatu masalah dan fokus pada satu arah saja. Kebanyakan dari kita terpaku pada satu arah saja ketika muncul masalah dalam hidup, sehingga kita tidak bisa melihat jelas apa maksud keseluruhannya. Lihatlah masalah  secara utuh dari berbagai sisi, agar tidak salah menilainya,” kata professor menjabarkan.

Mahasiswa di kelas mengiyakan mendengarkan penjelasan professor itu.

Jika masalah muncul, jangan bersikap terlalu fokus hingga kalian tidak bisa melihatnya terlalu jelas. Beri jarak dan lihatlah dari berbagai sudut pandang, termasuk hal yang positif. Dengan demikian, kalian akan tahu apa sesungguhnya yang terjadi padamu.”

Sambil menutup penjelasan, professor pun menyerukan, “Apa pun yang terjadi, saat kalian berdoa jangan serukan, ‘Oh Tuhan, betapa besar masalahku!’ tetapi katakanlah, ‘Oh masalah, betapa besar Tuhanku!’ ya!” Dia pun menambahkan, “Besar kecilnya masalah hanya soal sudut pandang.”

* Diceritakan dari seorang teman baik