5 Manfaat Blogging Tiap Hari di Hari ke-700

Beberapa hari lalu, akhirnya saya menembus 700 hari menulis tiap hari di blog. Ada rasa bangga bercampur haru karena saya tak menyangka bahwa saya bisa berhasil mengumpulkan ide untuk menulis setiap hari dan memasukkan menjadi jurnal di blog ini. Menulis memang bukan perkara mudah pun sulit. Semua itu berawal dari niat dan minat. Dengan begitu, saya terbiasa mendokumentasikannya menjadi sebuah artikel tiap hari dengan rutin.

Saya bermimpi, seribu hari untuk blogging tiap hari. Meski saya benar-benar sibuk, tetapi sepanjang internet tersedia maka saya usahakan blogging dalam waktu yang konsisten. Bagaimana pun blogging tiap hari itu ternyata bermanfaat loh. Saya sudah merangkum manfaat yang saya rasakan sebagai berikut di bawah ini.

1. Lebih kreatif

Apakah anda percaya bahwa blogging tiap hari itu membuat kreatif? Bayangkan saja, saya harus memikirkan konten apa saja yang perlu saya siapkan dan tampilkan dalam blog. Bukankah itu kreatif namanya? Belum lagi, saya mesti mengkreasikan ide untuk menjadi artikel agar menarik pembaca. Bukankah itu kreatif? Saya juga harus berpikir agar pembaca itu tidak bosan, dengan mengkreasikan ide yang berbeda tiap hari. Bukankah itu kreatif?

2. Lebih banyak membaca

Membuat artikel yang enak dibaca dan menambah wawasan itu ternyata tak mudah. Saya dihadapkan pada informasi yang perlu saya pelajari terlebih dulu. Misalnya, saya membahas kuliner ini dan itu maka saya perlu mencari tahu mulai dari bahan masakan hingga pengolahannya. Atau saya ingin mengulas tempat yang baru saja saya kunjungi dalam traveling. Saya perlu informasi tambahan yang diperlukan untuk memperkaya artikel yang ditulis. Itu semua hanya perlu dilakukan dengan membaca. Jadi blogging tiap hari tanpa membaca itu rasanya mustahil. Jika ingin membaca lebih banyak lagi, lakukan blogging tiap hari.

3. Punya rasa ingin tahu yang tinggi

Blogging tiap hari itu juga membuat saya penasaran pada banyak hal. Karena blog saya ini adalah blog yang berisi macam-macam tema maka saya pun punya rasa ingin tahu pada macam-macam hal pula. Terhadap makanan yang berasal dari suatu negara misalnya, saya bertanya pada pramusaji. Atau saya bertanya pada kenalan saya lainnya di sini yang berasal dari negara yang sama seperti kuliner yang saya bahas. Rasa ingin tahu itu terdorong atas niat saya blogging tiap hari. Saya tidak bisa merasa “masa bodoh” dengan ide A, B, C yang hendak ditulis. Rasa ingin tahu memperkaya artikel yang ditulis.

4. Meningkatkan keterampilan linguistik

Kecerdasan linguistik didefinisikan sebagai kemampuan berpikir dalam kata-kata dan menggunakan bahasa yang mengekspresikan dan memahami yang kompleks. Tentang kecerdasan linguistik, saya pernah mengulasnya di link ini. Kecerdasan linguistik itu perlu dan penting di era komunikasi yang sedang canggih sekarang. Salah satu cara meningkatkan kecerdasan linguistik adalah blogging tiap hari, agar pesan yang terkomunikasikan lewat tulisan benar-benar diterima dengan baik oleh pembaca.

5. Berpikir logis dan berbicara terstruktur

Blogging tiap hari itu melatih penalaran logis yang mengasah otak untuk menangkap sebab akibat dari ide yang ditulis. Menulis tiap hari juga melatih penalaran abstrak yang dialami menjadi sebuah artikel agar dapat dicerna oleh pembaca. Blogging juga membantu berbicara terstruktur akibat terbiasa menyusun ide-ide yang runut, terstruktur dan kompleks kadang-kadang. Blogging tiap hari bermanfaat untuk melatih saya menjadi penulis, reviewer dan editor bersamaan sekaligus.

Bagaimana pengalaman anda blogging?

Advertisements

Belajar dari Anne Frank, Menulis itu Mengenal Diri Sendiri

Apakah anda tahu siapa itu Anne Frank? Saya jadi paham sosok Anne Frank setelah menonton film autobiografi yang ditayangkan di Jerman. Film ini dikisahkan dari buku harian yang ditulis Anne sendiri. Buku harian ini akhirnya menjadi salah satu bukti kekejaman perang yang pernah terjadi di masa lalu. Bahwa perang menjadi tragedi kemanusiaan yang tak akan pernah terlupakan, itu dituliskan dari sudut pandang seorang Anne yang beranjak remaja.

Sosok Anne Frank cukup populer, anda bisa cari lebih lanjut profilnya. Dalam film ada hal menarik yang bisa dipetik sebagai hikmah hobbi saya menulis.

Anne mendapatkan hadiah buku harian saat usiannya beranjak 13 tahun. Usia 13 tahun adalah usia transisi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Sebagai remaja yang beranjak dewasa, ia menuliskan berbagai persoalan yang dihadapi umumnya. Misalnya bagaimana perubahan fisiknya yang berubah dan ini ditunjukkan dalam gaya berpakaiannya. Ia meminta saran pada kakak perempuannya bagaimana berpenampilan seperti perempuan dewasa.

Ia menuliskan gejolak remaja lainnya misalnya kala ia jatuh cinta dan memandang harapan pada lawan jenis. Anne juga menceritakan tentang siblings yakni hubungannya dengan kakak perempuannya yang banyak mendukung dan membimbingnya. Bahkan ia juga berselisih paham dengan ibunya, sementara ayahnya dipandang Anne cukup memahami karakter pribadi Anne.

Ini semua menjadi menarik untuk diceritakan kembali ketika Anne menuliskannya dengan baik dalam buku hariannya. Dia menuliskan pula bagaimana selama lebih dari dua tahun hidup dalam ruang kecil dan tersembunyi bersama keluarga lain ketika perang melanda. Namun Anne adalah sosok remaja pada umumnya, yang membuat saya terkenang masa saya beranjak remaja yang penuh tanya dan gejolak perubahan hidup.

Anne berpendapat bahwa menuliskan segalanya di buku harian membuat ia mengenal dirinya sendiri. Hadiah buku harian kala ia berulangtahun ketiga belas tahun rupanya telah memberikan makna bagaimana ia tumbuh secara pribadi dengan karakternya yang unik sebagai perempuan remaja dan sebagai seorang Yahudi waktu itu. Ia menuliskan bagaimana ia kesal ketika seorang ibu yang sama-sama menumpang dalam rumah sempit persembunyian itu membandingkan Anne dengan kakak perempuannya yang punya kepribadian lebih baik.

Melalui buku harian, Anne menuliskan pergumulan masa remaja sebagai hal yang tak mudah dihadapi. Dia juga menolak permintaan ibunya saat dia harus berdoa menurut keyakinannya. Dia juga merasa dirinya itu unik dan tak ingin dibandingkan dengan kakak perempuannya. Ibunya kerap berpendapat bahwa kakaknya yang bernama Margot itu adalah anak perempuan yang baik. Anne menuliskan apa yang dia hadapi sebagai remaja dan seseorang Yahudi yang saat itu terancam karena kondisi perang.

Menurut saya, pesan menarik yang bisa dipetik dari film ini adalah menuliskan jurnal pribadi akan membantu mengenal diri sendiri.

Ini pula yang saya sarankan pada seorang remaja beberapa waktu lalu ketika dia merasa bingung dengan pergumulan hidupnya. Saya memberikannya buku harian agar dia menuliskan apa yang dia alami dan rasakan hanya untuk dirinya sendiri. Dua bulan kemudian dia memberi kabar bahwa saran saya menulis di buku harian itu membantunya untuk mengatasi kegalauan yang dia hadapi.

Menulis itu adalah ekspresi diri dari apa yang anda alami dan rasakan. Simpan itu untuk anda kemudian kelak anda baca bagaimana anda mengalami dan merasakan peristiwa itu. Dan anda akan tahu bahwa menulis itu mengenal diri sendiri.

Tantangan Menulis Tiap Hari di Blog dan Tipsnya

Developing a daily writing habit is actually needed a lot of efforts. Many times my mind was stuck on theme nor idea to write and posting its day to day. I committed to write up in daily until certain period of time. That is really hard part. Yes, make it practice and routine daily writing can be the challenging. It leads me to explain five challengings the daily writing based on my experience. At least, the necessary thing is to make it writing as fun activity. Do you? Please share your minds if any­čśë

Happy Sunday!ÔŁĄ



Menulis setiap hari di blog itu seperti naik bianglala. Namun pastinya menyenangkan. 

Apakah anda suka menulis? Apakah anda ingin menulis jadi kebiasaan anda? Jika ya, bagaimana jika memulai menulis setiap hari? Pastinya tidak mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi setiap hari bagi mereka yang memulai satu hari satu artikel. 

Saya memulai blog tahun 2008, sepuluh tahun lalu. Namun saya sempat pasif dan tidak produktif lagi. Sekarang saya menyesal juga mengapa saya tidak rajin mendokumentasikan kunjungan kerja saya ke pelosok tanah air saat saya masih bekerja di Indonesia dulu. Bisa jadi sekarang blog saya sudah penuh. 

Tak ada kata terlambat, saya benahi blog dan dirampingkan dengan membuang artikel tidak penting dan bersifat pribadi. Alhasil, saya ketagihan menulis setiap hari. Meski demikian, ini tidak mudah. Setelah sepuluh tahun maka saya baru mengumpulkan 970-an artikel. Dulu tidak ada follower, sekarang saya baru tahu bahwa saya sudah diikuti seribu blogger. 

Anyway, apa saja tantangan menulis tiap hari?

1. Rasa Bosan 

Siapa sih yang tidak pernah mengalami rasa bosan dalam hidup, termasuk menulis? Bosan dikarenakan rutinitas yang monoton dan tanpa akhir. Saya pernah memulai dengan satu hari hampir 9 artikel berbeda. Lalu saya ubah menjadi 2 artikel setiap hari selama 7 bulan. Makin lama saya sibuk dan tidak mungkin memenuhi dua artikel satu hari. Akhirnya saya memastikan diri untuk membuatnya satu hari satu artikel. One day one post. Bosan itu wajar. Bosan itu normal. Bosan bisa terjadi pada siapa pun, bahkan seorang penulis profesional sekalipun

Tips:

Jika bosan melanda, saya cari aktivitas lain “bukan menulis” agar rasa bosan saya hilang. Saya berjalan melihat pemandangan alam, mendengarkan suasana sekitar atau membaca. Intinya jangan paksakan diri untuk menulis jika anda memang sedang tidak mood. Menulis itu harus menyenangkan. Bukan hanya untuk pembaca saja tetapi diri sendiri.

2. Kehabisan ide menulis 

Jika anda punya blog bertema khusus mungkin segalanya akan lebih mudah. Artinya ide tulisan tidak jauh dari tema blog misalnya blog perjalanan, blog keluarga, blog otomotif, blog gaya hidup dan seterusnya. Nah, blog gado-gado seperti saya memiliki keunggulan dan kekurangan sekaligus. Di satu sisi, saya bebas menentukan ide menulis. Sementara di sisi lain, saya pun mulai kehilangan ide menulis dan bahan untuk ditulis. Kehilangan ide menulis itu lagi-lagi adalah hal yang wajar. Saya pernah ikut kursus menulis yang didanai kantor. Dikatakan bahwa kehilangan ide menulis disebabkan saya sedang tidak fokus untuk menulis. Mungkin ada masalah pekerjaan atau pikiran yang mengalihkan sementara untuk tidak bisa menulis. Sekali lagi, kehilangan ide menulis itu wajar juga dialami oleh mereka yang profesional menulis sekalipun.

Tips

Jika anda ingin mencoba satu hari satu artikel maka siapkan satu minggu 10 artikel. 10 Artikel tersebut bisa jadi masih draf kasar dan memang belum selesai dituliskan. Ketika terlintas sebuah ide untuk dituliskan, simpan dalam draf atau tulis dalam kertas. Jadikan itu semacam bank tulisan! Saat anda kehabisan ide menulis, anda bisa cek “bank” anda mana yang bisa dikeluarkan dan siap dijadikan artikel. Ide menulis itu bisa datang kapan saja dan dimana saja. Yang diperlukan adalah kemampuan anda mengolahnya menjadi sebuah tulisan yang menarik pembaca. Siapa sangka, saya sering mendapatkan ide menulis di ruang kecil toilet pribadi di rumah. Itu contoh bahwa ide menulis bisa datang kapan saja dan dimana saja.

3. Kurang produktif dan kreatif

Siapa bilang menulis itu mudah? Susah sekali saat baru memulainya. Khawatir salah atau penulisan yang tidak sesuai dengan aturan tanda baca, struktur kalimat dan sebagainya. Bahkan menulis setiap hari saja bisa jadi menjadi tantangan bahwa artikel yang ditulis membosankan dan tidak kreatif. Kata teman saya yang bekerja di media, menulis traveling itu menarik minat orang membaca. Lalu apakah saya harus traveling setiap hari? Tentu tidak. Saya bisa saja pergi ke negara lain yang berjarak beberapa jam dari tempat tinggal saya. Wong, dekat. Hanya saja, saya tidak mungkin melakukan itu semua. Kurang produktif dan kreatif dihadapi oleh mereka yang setiap hari harus berhadapan dengan dunia tulis menulis. 

Tips

Tak ada pengalaman yang sia-sia dan tidak menarik di dunia ini. Cara anda mengalami dan saya mengalami pastinya berbeda. Meski kita sedang sama-sama belajar naik sepeda. Jadi tuliskan apa pun yang menurut anda kurang produktif dan kreatif. Anda tidak pernah tahu bahwa apa yang anda tuliskan itu bermanfaat dan membuka sisi lain yang tidak diketahui orang lain. Anda boleh saja melakukan blog walking, tetapi jangan mengubah gaya anda menulis! Gaya setiap orang dalam mengekspresikan pengalaman dan pendapat itu yang menarik. 

4. Sibuk dengan aktivitas lain 

Siapa bilang saya rajin menulis di blog tiap hari karena tidak punya kerjaan? Saya punya segudang pekerjaan yang lebih banyak dilakukan ketimbang di Indonesia. Namun orang terdekat saya, yakni suami mendukung aktivitas menulis yang saya lakukan. Sibuk dengan aktivitas lain bukan berarti anda berhenti menulis yang jadi bakat anda ‘kan? Jika menulis adalah minat anda, sempatkanlah kala anda memang punya waktu lowong. 

Tips

Setiap orang punya 24 jam yang sama. Artinya anda punya kesempatan yang sama untuk memulai melakukan aktivitas menulis jika anda suka dan berminat. Minta orang terdekat memahami minat dan bakat anda menulis, mereka dengan senang hati pasti mendukung. Menulis itu aktivitas positif dan menyenangkan. Sediakan waktu setidaknya satu jam setiap hari untuk menulis atau menuangkan gagasan. Simpan pula ide-ide menulis dalam bank tabungan tulisan. Saat aktivitas anda sedang padat semisal saya lelah, saya ada ujian atau saya sibuk dengan urusan rumah tangga maka saya ambil tabungan ide di bank saya. Jika sepuluh tahun lalu saya menulis hanya bisa dilakukan lewat laptop, kini saya bisa melakukannya lewat aplikasi telepon genggam. Mudah dan praktis. Apalagi foto-foto untuk melengkapi ilustrasi tulisan saya, kini sudah bisa terhubung langsung. Lagi-lagi saya punya bank foto juga sehingga karya saya semakin menarik pembaca.

5. Menulis jadi rutinitas

Bagaimana caranya menulis menjadi kebiasaan sehari-hari? Rasanya itu tidak mudah. Membangun kebiasaan baik dan positif itu perlu niat dan dukungan orang terdekat. Jika anda berniat dan berminat, selalu ada celah yang memungkinkan anda jadi terbiasa. Anda bisa meminta dukungan orang terdekat maka mereka mengerti dan memahami kebaikan dari menulis. Menulis bagi saya semacam ekspresi diri. Ketika ada orang sibuk dengan media sosial, saya tetap suka menulis. Ketika ada orang sibuk membuat video blog, saya tetap ingin menulis. Lagi-lagi saya hanya ingin menuangkan apa yang saya pikirkan. 

Tips

Siapa pun anda dan apa pun profesi anda, sejarah sudah mencatat bahwa tulisan mampu menginspirasi bahkan mengubah dunia. Jadikan menulis sebagai kebiasaan yang bertujuan. Tanpa motivasi dan minat maka menulis menjadi keterpaksaan.

Kesimpulan

Sebagaimana yang saya tulis di atas, saya bermaksud memberi semangat pada diri sendiri agar tidak bosan dan tetap menjadi kebiasaan. Saya seperti memiliki “alarm pribadi” yang jadi pengingat untuk menulis. Saya punya tujuan hingga periode tertentu untuk melakukannya setiap hari. Anda sendiri bagaimana?

Selamat berhari Minggu!

Kecerdasan Linguistik? Begini 7 Cara Meningkatkannya

Contoh melatih kecerdasan linguistik adalah mencocokan kalimat. Tentu anda harus punya banyak wawasan mengisinya seperti banyak membaca. Contoh kuis di majalah Jerman tentang kuliner dari Indonesia. Hayo, apa jawabannya?

1_blog
Contoh laporan pembelajaran yang dibuat oleh siswa. Ini menarik untuk melatih kecerdasan Linguistik. Dokumen pribadi.
blog4
Kecerdasan Linguistik juga ditentukan seberapa banyak bahan bacaan yang dibaca. Dokumen pribadi.

 

 

Tidak cerdas Matematika apalagi IPA? Jangan takut! Ini pengalaman pribadi bahwa saya tidak pandai dalam kedua ilmu tersebut. Namun nyatanya bahwa kehidupan kemudian dalam pekerjaan ditentukan oleh seberapa besar minat dan bakat saya. Jika dulu mitos berkembang bahwa orang yang cerdas adalah pandai dalam ilmu hitung dan ilmu alam. Sekarang kecerdasan tidak ditentukan semata-mata kepandaian dalam dua ilmu tersebut.

Saat kuliah psikologi, saya diperkenalkan pada Theory of multiple intelegencies yakni bahwa kecerdasan tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal. Hal ini disampaikan oleh Psikolog Amerika Howard Gardner (1983). Salah satu kecerdasan yang menjadi elemen dari teori tersebut adalah kecerdasan linguistik. Pastinya penasaran apa sih kecerdasan linguistik?

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk berpikir dalam kata-kata dan menggunakan bahasa yang mengekspresikan dan memahami kalimat yang kompleks. Sederhananya adalah kompetensi ini ditentukan dari seberapa baik anda dalam menyerap bahasa lisan dan tulisan. Tak hanya itu, kompetensi ini juga ditentukan pada kemampuan menyampaikan pendapat secara lisan dan tulisan. Mungkin anda berpikir kecerdasan linguistik ada pada mereka yang berkarya sebagai wartawan, penulis atau pembicara publik misalnya. Namun sebenarnya setiap orang punya kecerdasan linguistik ini, namun mana yang lebih dominan dalam tiap pribadi.

Seorang mahasiswa dituntut mau tidak mau mempertajam kecerdasan linguistik mereka. Bagi mereka yang menempuh program magister misalnya dosen lebih banyak membuat anda berpikir analitik lewat ceramah mereka. Atau anda diminta untuk lebih sering mengutarakan pendapat di kelas atau membuat paper. Kadang saya berharap seandainya di sekolah dulu di Indonesia tiap guru meminta siswa membuat laporan pembelajaran, tentu ketika mahasiswa menulis tidak lagi menjadi masalah.

Siapa pun anda, berikut saran saya jika ingin meningkatkan kecerdasan linguistik:

(1). Bermain teka-teki silang atau acak kata.

Saya suka sekali permainan ini. Selain mengasah otak tentunya mengisi teka-teki silang juga termasuk mengisi waktu luang. Di sini otak anda akan berpikir untuk mencari atau mencocokkan kata yang sesuai. Meski sebuah permainan, namun ini sulit juga. Permainan ini juga menguji kekayaan kosakata yang anda miliki. Disamping itu tentu anda harus punya banyak wawasan agar bisa memenangkan permainan ini.

(2). Menulis jurnal atau buku harian. 

Ini mungkin cara yang paling mudah. Sejak kelas 3 SD saya sudah memulainya dari sekedar buku tulis sederhana hingga buku yang memang spesial buku harian. Ayah saya menyarankan untuk menulis pengalaman apa saja yang dialami setiap hari. Menarik ya! Dari menulis buku harian, saya jadi paham bagaimana menuangkan pengalaman secara terstruktur. Benar juga saran ayah saya.

Baca https://liwunfamily.com/2015/11/05/5-tips-ajari-anak-gemar-menulis/

img-20160308-wa0020.jpg
 

Untuk menentukan kecerdasan Linguistik juga diperlukan seberapa banyak bahan bacaan yang dibaca. Dokumen pribadi

 

(3). Membaca. 

Semua sepakat jika dikatakan membaca dapat meningkatkan kecerdasan linguistik. Ketertarikan saya membaca bermula dari rasa ingin tahu. Setelahnya saya pikir membaca menambah kekayaan kosakata dan meningkatkan wawasan. Bukankah saat berbicara anda perlu banyak wawasan juga agar diterima publik?

Baca https://liwunfamily.com/2015/02/20/strategi-ajari-anak-membaca-secara-komperhensif/
(4). Ikut kursus menulis. 

Tahun 2009 saat saya dapat educational benefit dari kantor tempat saya bekerja 500 USD. Saya manfaatkan uang itu dengan ikut kursus singkat menulis. Alasannya posisi pekerjaan saya membutuhkan kapasitas menulis lebih banyak. Di sini tidak hanya didapatkan teknik menulis saja namun memotivasi peserta agar percaya diri untuk menulis. Rupanya kebanyakan orang masih ragu dan tak percaya diri untuk menulis.

Baca https://liwunfamily.com/2009/11/26/menulis-adalah-seni/

(5). Menekuni bahasa asing.

Sekarang saya menguasai tiga bahasa yakni bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Ternyata kursus bahasa itu menyenangkan juga. Saya belajar bagaimana berkomunikasi bahasa asing kepada orang lain meski itu sulit. Teman kursus saya di Jerman dari berbagai budaya, terutama mereka adalah migran dan pengungsi. Terbayang bahwa sering kali saya harus menjelaskan sesuatu namun mereka tidak paham karena bahasa Inggris dan bahasa Jerman yang terbatas. Di sini anda dilatih kecerdasan linguistik agar komunikasi yang anda sampaikan dipahami dengan baik.

Baca https://liwunfamily.com/2015/02/15/belajar-bahasa-jerman-ala-instan/

(6). Menulis puisi, cerita pendek atau lirik lagu.

Jika tak suka melakukan poin satu hingga lima, coba deh membuat puisi. Mungkin idenya tak menarik namun mengapa tidak buat puisi? Keluarkan sisi romantis anda! Buatlah puisi yang tak perlu dibaca oleh orang lain jika merasa malu! Atau anda bisa membuat khayalan jadi cerita pendek misalnya. Ini sering saya buat jika saya mentok menemukan ide menulis. Namun bagi anda yang berbakat, bukan tidak mungkin membuat lirik lagu.

(7). Menonton film.

Tak suka melakukan enam poin di atas, coba menonton film. Anak teman saya pandai berbicara bahasa Inggris meski usianya masih balita rupanya setiap hari dibiarkan menikmati tayangan film kartun berbahasa Inggris. Film juga berpengaruh untuk mengasah linguistik anda mulai dari memahami tokoh film, alur cerita hingga kosakata yang muncul bilamana itu film berbahasa asing.

Kesimpulan

Kecerdasan linguistik bagi seseorang penting di era revolusi komunikasi saat ini. Tentu kecerdasan ini menyangkut kemampuan berbahasa, baik tertulis maupun lisan sehingga pesan tersampaikan dengan baik. Meningkatkan kecerdasan Linguistik perlu agar dapat membantu seseorang memecahkan masalah dengan baik dan juga melatih kecakapan penalaran abstrak. Mereka yang cerdas linguistik juga berbicara terstruktur dan pandai dalam berpendapat, terutama bagi mereka yang menjadi pembicara publik, motivator, penyiar, dsb. Cerminan ini memang perlu latihan terus menerus misalnya dengan rajin menulis seperti blogging yang saya lakukan saat ini.

Baca https://liwunfamily.com/2016/04/02/hebatkan-dirimu-lewat-tulisan/

Ada pendapat?

Selamat Hari Blogger Indonesia 27 Oktober

Hi Bloggers in Indonesia, Happy Anniversary! Semangat menulis ya!

Ini yang menginspirasi saya menulis, Beata Maria Theresa Led├│chswska yang diabadikan di Dom Salzburg. Karya tulisnya mampu membuat sejarah. Di atasnya adalah lukisan perbudakan di Afrika yang diperanginya melalui tulisan. Apa inspirasi menulis anda?

Hari ini 27 Oktober diperingati sebagai hari Blogger di Indonesia. Bagi saya menulis lebih dari sekedar hobi atau minat saja. Saya pernah menuliskan manfaat terapi menulis bagi kesehatan mental. 

Baca https://liwunfamily.com/2016/10/27/5-manfaat-blogging-buat-kesehatan-mental/

Saya pernah memberi penguatan kapasitas menulis bagi tenaga pendidik di Jawa Barat. Saya menanyakan ke beberapa peserta meski dunia tulis menulis adalah ‘makanan’ sehari-hari di saat mengajar namun menulis itu tak mudah alias sulit. Padahal manfaatnya luar biasa jika ditekuni bahkan bila diajarkan lagi ke siswa didik dalam membuat tulisan laporan pembelajaran, misalnya. Keren ‘kan! Berapa banyak siswa-siswa nanti yang akan menjadi penulis.

Baca https://liwunfamily.com/2014/08/03/5-alasan-mengapa-perlu-menulis/

Apa alasan saya menulis? Saya selalu berharap bahwa tulisan saya menginspirasi atau mengubah sesuatu. Apakah bisa? Bisa pastinya. Saya ingatkan tentang sejarah masa lalu dari tulisan yang berjudul ‘Max Havelaar’ karya Dr. Douwes Dekker sebagai nama pena, aslinya adalah Multatuli. Awalnya ini adalah roman namun mengambil latar belakang tentang sistim tanam paksa di Rengasdengklok, Banten. Tulisan yang diterbitkan tahun 1860, ternyata mampu mengubah apa yang terjadi. Sepuluh tahun kemudian muncul UU Agraria tahun 1870 untuk memperbaiki sistim tanam paksa. See that!

Bacahttps://liwunfamily.com/2016/04/02/hebatkan-dirimu-lewat-tulisan/

Itu contoh di tanah air, sampai sekarang saya belum selesai membaca roman itu. Lalu suatu kali saya pun tersentuh dengan inspirasi menulis lainnya dari seorang Beata atau orang kudus yang diakui Gereja Katolik. Namanya Maria Theresa Led├│chwska, yang saya temukan di Dom Salzburg. Siapakah dia sesungguhnya?

Maria Theresa Led├│chwska adalah seorang misionaris dan pendiri konggergasi para suster di Afrika. Apa yang dilakukan selama hidupnya? Dia memperjuangkan keadilan dan martabat manusia yang ditindas karena perbudakan di Afrika melalui karya sastra. Dia menulis novel dan mempublikasikan sejumlah buku untuk memenuhi misi kemanusiaannya. Di Afrika, dia sampai diberi gelar ‘Apostle to the Slaves.’ Dia memulai karya misinya akhir abad 19 dan wafat tahun 1922. Kutipan favoritnya yang membuat saya tersentuh adalah ‘Jika Tuhan sudah memberikan bakat menulis padamu, kembangkan itu sebagai pelayanan dalam hidup.’

Dari situ saya terinspirasi bahwa menulis bukan sekedar hobi atau kesukaan, jika kita bersedia menekuninya maka menulis akan mengubah dunia. Ini masanya dan tulisan tak pernah lekang oleh waktu. 

Satu hal yang diingatkan menulis itu meningkatkan kualitas otak yakni bagian batang dan thalamus untuk mengkoordinasikan infomasi, gerak tubuh dan atensi. Menulis akan mengaktifkan otak sesering mungkin. Otak merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa. Jika hidup terasa monoton, terlalu membosankan dan merasa itu-itu saja, mengapa tidak mencoba menulis?

Buat sejarah hidup anda dengan menulis, mengapa tidak? ÔťŹ

Menulislah Saat Anda Galau!

image
Sumber foto: Dokumen pribadi

Saya punya teman dekat di ujung dunia sana yang baru saja galau bahkan lebih dari sekedar galau karena putus cinta. Pacar yang dipujanya itu kini pergi meninggalkan dia. Masuk akal ketika dia galau hingga frustrasi, depresi dan hilang asa begitu dia menyebut kondisi dirinya sendiri karena hubungan mereka sempat merencanakan pelaminan. Wow! Sebagai teman baik, saya ikut prihatin dan membantu memulihkan perasaannya kembali.

Melihat dirinya “down” dan depresi, saya minta dia mencari bala bantuan. Berikut kutipan dia saat saya minta cari pertolongan,
Saya mau cerita ke orangtua, malu karena saya terlalu memuja mantan. Saya mau curhat ke teman, belum tentu didengarkan, bisa jadi dicibir dan mungkin bahan gosip. Saya mau cari Konselor ahli, saya perlu atur jadwal dan pakai biaya lagi. Saya mau datang ke pemuka agama, wong saya jarang beribadah. Saya bingung, An,” katanya terbata-bata saat video call dengan Skype.

Lalu saya merespon begini, “Lah, saya temanmu juga. Kamu malah cerita ke saya?”

Dengan alasan saya bisa membantunya, saya minta dia keluar dari situasi terpuruk tersebut. “Hey, move on! Do not hang on him!” seru saya padanya.

***

Membantu teman saya tersebut, sudah dua kali saya dapat email darinya yang berisi apa yang ingin ditulisnya. Yups, saya minta dia menulis, bukan posting status. “Tulislah apa yang ingin kamu tulis! Bisa kemarahan, kesedihan, puisi, cerita masa lalu dengan dia, masa depan tanpa dia, atau apa saja.” kata saya menasihati.

Saya berpikir menulis jadi terapi yang baik untuknya ketika tidak ada siapa pun yang dipercayainya. Belajar dari kisah nyata B.J Habibie yang menderita depresi karena kepergian isterinya, dokter dan tenaga medis di Jerman menyarankan untuknya menulis. Hingga akhirnya ia menemukan kedamaian batin dengan menulis.

Mengapa menulis jadi terapi yang baik buat depresi?

Di tahun 2009, Journal Psychology Today merilis pengalaman seorang penulis yang berhasil melewatkan masa-masa sulit dan depresi saat kehilangan suaminya (meninggal) melalui terapi menulis. Saran ini diberikan dokter dan psikolog untuk membantunya. Terapi ini dikenal dengan nama “Bibliotherapy”.

APA ITU?

“Bibliotherapy is an expressive therapy that involves the reading of specific texts with the purpose of healing. It uses an individual’s relationship to the content of books and poetry and other written words as therapy. Bibliotherapy is often combined with writing therapy”

Jadi mengapa menulis?

1. Karena menulis dinilai mampu menghubungkan secara ekspresif penulis (yang mengalami masalah depresi tersebut) dengan isi (kata/kalimat tertulis misal puisi, cerita).

2. Karena menulis dianggap menyembuhkan, selain terapi medis.

3. Karena menulis sebagai media katarsis untuk pemulihan depresi (Jurnal UNDIP 2011).

4. Karena menulis (menurut saya) menemukan kedamaian batin.

So, daripada posting status saat galau lebih baik tuliskan cerita bermutu! Siapa tahu jadi penulis terkenal?!