Mesir (8): Assuan Philae Temple, Didedikasikan Untuk Dewa Isis yang Tak Pernah Selesai Dibangun

Kuil tampak dari perahu yang kami tumpangi.
Pilar batu besar menandai ciri khas bangunan kekaisaran romawi.
Tampak sphinx yang tak utuh lagi di depan pintu masuk.

Apa kabar anda di hari Minggu? Saya ajak jalan-jalan lagi ya. Setelah puas berfoto di High Plant Dam, bus pun melanjutkan perjalanan. Petugas tur menjelaskan kisah kota Assuan yang kami jejaki saat itu. Ada pula yang menyebutnya Aswan. Itu sama saja. Tentang kota Assuan, saya buat terpisah.

Dewa Isis adalah dewa alam semesta. Itu sebab di atas kepalanya adalah bola dunia.
Tampak beberapa dewa lainnya dengan pilar batu yang bercirikan bunga lotus.

Tak sampai empat puluh menit, bus berhenti di suatu dermaga kecil. Ada banyak rombongan turis juga di situ. Tempat yang kami kunjungi selanjutnya adalah Philae Temple. Letak kuil ini ada di sebuah pulau kecil dan memerlukan perahu menuju ke sana. Rombongan turis berbahasa Jerman dibagi dua kelompok agar perahu aman menuju tujuan.

Sepanjang parkir bus hingga perahu berlabuh, hilir mudik pedagang sovenir menjajakan dagangannya. Kami tidak menggubris hingga berhasil duduk di perahu motor. Perahu bergerak menjauhi dermaga, menuju kuil tujuan. Pemandangan danau ini benar-benar alami dan indah. Letaknya berada di Lake Nasser, antara High Dam dan Old Dam. Di sekitar sini, suku nubian tinggal dengan karakteristik yang sedikit berbeda dari orang Mesir umumnya. Ya, suku nubian berasal dari Ethiopia, yang lebih sering kita kenal sebagai orang Ethiopia.

Kami tiba di Philae Tempel. Tiket masuk sebesar 140EGP dibagikan dari tour guide. Di depan pintu masuk ada papan informasi yang menjelaskan bahwa kuil ini dibangun jaman Mesir lampau yang didedikasikan untuk dewa Isis. Kuil sudah ada sejak jaman Dinasti Taharqa abad 6 atau 7 sebelum masehi. Kemudian pada abad 2 sebelum masehi, Raja Ptolomeus II berusaha menyelesaikan kuil ini, tetapi upayanya belum berakhir juga. Hingga Mesir dikuasai kekaisaran romawi pun, Philae Tempel tak pernah selesai terbangun.

Dewa Isis digambarkan juga sebagai a Bird goddess. Dia juga dipercaya memiliki sayap.
Tiap dindingnya menggambarkan pujian kepada dewa Isis.
Ini adalah lambang bunga lotus.

Dewa Isis adalah ibu dari Horus yang dipercaya menolong saat kematian. Menurut mitologi Yunani lampau, dewa Isis memegang peran penting karena melahirkan dewa Horus. Di kuil ini kisah dewa Isis diperlihatkan lewat simbol-simbol huruf hierogliph yang terukir di dinding utama kuil. Bahkan jaman Ptolomeus II, dewa Isis diyakini sebagai penguasa alam semesta. Kuil ini adalah bukti bagaimana orang dulu begitu mengagungkan dewa Isis, universal goddess.

Saya yang mendengarkan penjelasan petugas tur dalam bahasa Jerman terkagum-kagum bahwa dulu saya senang sekali menonton film-film mitologi Yunani. Ini bukanlah mimpi bahwa akhirnya saya bisa menyambangi kuil ini, meski kini kondisinya pun tak sempurna lagi. Apalagi pada abad 3-4 sesudah masehi, kuil ini ditinggalkan ketika orang-orang masa itu telah mengenal Tuhan. Tak hanya itu, bencana banjir beberapa kali yang melanda pulau terpencil ini sempat mengancam kuil ini meski akhirnya terselamatkan.

Kuil ini pada akhirnya memang tak selesai dibangun. Di sisi kiri kuil, pengunjung akan menemukan Temple of Horus dan Temple of Nakhtenbo. Juga kita bisa melihat Hadrian Gate, yang berciri khas kekaisaran romawi dengan pilar batu kokoh dan menjulang tinggi. Setelah itu, ada dua patung singa seperti sphinx yang tampaknya tak utuh lagi. Figur dewa Isis, Hathor dan Horus terukir di pintu masuk kuil.

Altar.
Tampak tak pernah selesai dibangun.
Pemandangan cantik danau Nasser.

Berbagai huruf hierogliph yang menyatakan pujian untuk dewa Isis tampak jelas di sini. Namun ada hal menarik, di sini ada altar yang dikaitkan keyakinan masyarakat Mesir kuno sesudah Masehi. Ini seperti menandakan mereka adalah jemaat kristen awal sekitar abad 4-5 setelah masehi. Ini menandakan tak ada lagi penyembahan kepada dewa. Bisa jadi ini adalah cikal bakal kristen koptik yang juga menjadi bagian 10% dari warga Mesir yang mayoritas islam.

Di sini juga diperlihatkan bunga lotus sebagai simbol wilayah Mesir atas, yakni wilayah Assuan sekitarnya. Bahkan beberapa pilar batu juga menggambarkan bunga lotus. Jika anda menyimak cerita sebelumnya tentang high dam plant, terdapat monumen persahabatan yang juga dilambangkan sebagai bunga lotus.

Keluar dari kuil, kita bisa melihat pemandangan danau Nasser yang cantik. Ada juga ruang pemujaan, yang letaknya di seberang. Sisi lain adalah toilet dan kios penjulan sovenir.

Di luar tampak ada kursi batu yang berbentuk teater. Entah apa maksudnya. Pengunjung diberi kesempatan berfoto di sekitar kuil selama tiga puluh menit.

Tips dari saya, jika anda hendak ke sini:

  1. Siapkan pakaian casual.
  2. Alas kaki yang nyaman.
  3. Pakai topi atau penutup kepala agar tidak kepanasan.
  4. Pakai kacamata surya jika butuh.
  5. Pakai sunblock jika perlu.
  6. Ikuti petugas tur resmi agar aman dan nyaman selama trip.
  7. Bawa minum.
  8. Siapkan uang receh untuk keperluan toilet.

Selamat jalan-jalan!

Advertisements

Makanan Khas Timur Tengah (8): Chicken Shawarma, Seperti Donner Kebab dari Mesir

Shawarma.

Semula saya dan suami mengira makanan berikut adalah donner kebab. Karena orang yang bekerja di bagian makanan orientalis tampak menyayat daging yang dipanggang seperti seseorang pedagang berjualan donner kebab. Di depannya terdapat roti pita yang sudah dibelah dua dengan bagian tengah berlubang. Ini benar-benar mirip donner.

Tertulis nama makanan tersebut adalah chicken shawarma.

Apa itu?

Karyawan hotel menjajakan shawarma.

Shawarma ini begitu mudah dijumpai di Mesir sebagai street foods. Makanan ini dijajakan dengan harga terjangkau dan populer untuk dicoba bila datang ke Mesir. Saya melihat kedai penjual shawarma penuh oleh pembeli karena makanan praktis dan harganya terjangkau. Untuk menikmatinya ada saus mirip mayonnaise.

Shawarma adalah roti pita khas timur tengah yang dipanggang dengan isian sayur dan daging panggang. Daging panggangnya bisa bervariasi seperti daging kambing, sapi, kalkun hingga daging ayam. Seperti yang berada di hadapan saya adalah chicken shawarma. Katanya chicken shawarma lebih sehat ketimbang shawarma berisi daging kambing, yang lebih berlemak.

Di dalam isian shawarma ada hummus, tahini, acar, sayuran dan irisan ayam kalkun. Rotinya bisa roti pita seperti contoh di atas atau roti naan yang kemudian nantinya digulung. Ini seperti donner di Turki yang ternyata ada keterkaitan sejarah kehadiran dua makanan ini.

Jika disandingkan dengan gyros, berbeda karena saus tzatziki pada gyros.

Tertarik mencobanya?

Mesir (7): High Dam Site Assuan, Begini Cara Mereka Simpan Air

Papan informasi.

Rabu pagi jam 06.30 kami sudah bersiap diri di lobby bawah untuk program perjalanan selanjutnya. Setelah makan pagi di restoran, kami bergegas menuju bus yang membawa kami keliling kota Assuan. Saya pun tak menyadari bahwa kapal kami sudah tiba di Kota Assuan, sepertinya saat kami tidur lelap, kapten kapal mengemudikannya dengan tenang, tanpa terasa ke Assuan. Ya, Assuan dikenal dunia sebagai pasar singgah di benua Afrika.

Pemandangan sekitar dam.

Tiba dalam bus, tour guide menjelaskan program hari ini kepada kami dalam bahasa Jerman. Lalu dia pun banyak cerita tentang Assuan, sementara pak sopir membawa kami ke acara pertama. Cerita tentang kota Assuan, saya buat terpisah. Kami berkunjung ke bendungan air terbesar yang disebut High Dam Site. Dam ini sangat berarti bagi warga Mesir untuk menampung air mengingat jarang sekali hujan datang dan letak sungai nil di Mesir pun bukan di bagian muara. Negara-negara yang dilalui sungai nil, apalagi di muara sudah lebih dulu mendapatkan air, sementara Mesir hanya sisanya saja.

Bendungan.

Atas dasar itu, pemerintah Mesir membangun dam besar sejak Januari tahun 1960 dan selesai dibangun tahun 1971. Dam ini masuk dalam area yang dijaga ketat, mengingat ini adalah sumber air bagi warga Mesir. Untuk masuk ke dalam pun, ada beberapa pos penjagaan yang harus dilalui dilalui. Di pintu utama, tas dan barang bawaan pun harus melewati mesin scanner. Pengunjung yang datang wajib membayar 75 LM Egyptian Pound.

Old Asswan dam.

Dam ini menggantikan Old Asswan Dam. Di dam baru kita bisa berfoto tetapi tidak boleh merekam dengan video. Beberapa petugas militer tampak hilir mudik di sekitar kami. Petugas tur memberikan kami waktu setengah jam untuk foto dan mengeksplorasi.

Monumen persahabatan.

Tempat yang wajib didokumentasikan di sini selain bangunan plant high dam, yakni friendship symbol. Mengapa? Ini adalah monumen yang menandai persahabatan. Sebelum ada dam ini, negara-negara yang dilalui sungai nil memperebutkannya sehingga terjadi konflik. Lewat pembangunan dam ini, orang Mesir tak lagi khawatir kekurangan air.

Setelah berfoto di beberapa tempat yang indah, tiga puluh menit berlalu. Sopir bis segera menyalakan motor untuk segera kami melanjutkan tujuan kami.

Kemana? Nantikan cerita saya selanjutnya!

4 Salad Isi Sayuran Saja Tetapi Enak, Mau Bukti?

Salad sayuran yang dipesan di restoran Vietnam.

Hampir menutup musim panas, saya tetap memburu salad yang unik, menarik dan enak untuk dibagikan pada anda. Unik karena disajikan dengan kreativitas si koki dapur. Menarik karena saya belum pernah menemukan sebelumnya. Satu lagi, enak tentunya karena saya sudah mencobanya.

Tiga salad berikut hanya berisi sayuran saja tetapi sudah cukup membuat saya puas memesan mereka. Bahkan menikmati sayuran dalam salad ini saja sudah membuat saya kenyang.

Pertama, salad dari Vietnam.

Vietnam telah mendominasi kuliner khas Asia, selain Thailand. Salah satunya adalah salad khas Vietnam yang saya pesan beberapa waktu lalu. Isinya benar-benar murni hanya sayuran saja. Ada irisan wortel, tauge, kol, timun, paprika dan bawang merah besar. Untuk sausnya, ada sedikit mayonnaise dengan bumbu asam manis yang cukup enak di lidah saya. Setelah saus, salad ditutup dengan irisan daun ketumbar.

Kedua, salad dari India

Sedangkan salad kedua berasal dari salad vegan yang dipesan khusus dari restoran India. Isinya pun hanya sayuran saja. Ada yang menarik, salad ini diberi biji kenari yang gurih dan kaya nutrisi.

Salad terdiri atas irisan lobak putih yang rasanya seperti bengkuang, timun, tomat dan taburan daun ketumbar. Untuk dressing sausnya, ada cuka dan minyak zaitun untuk salad. Agar terasa gurih, ada biji kenari yang ditaburi di atas salad.

Ketiga, salad dari Yunani

Salad berikut adalah salad yang umumnya saya dapatkan sebagai complimentary dari menu yang dipesan di restoran Yunani. Ini juga termasuk salad sayuran.

Isian salad adalah daun salada air, kol, timun, irisan wortel, acar kol merah dan peperoni. Untuk sausnya, ada rasa asam manis yang berasal dari tzatziki yang menjadi saus khas mediterania. Menariknya, ada biji zaitun yang diselipkan dalam salad. Ini menjadi kekhasan masakan mediterania.

Keempat, Salad dari Mesir

Terakhir salad sayuran dari Mesir berupa aneka sayuran yang diiris terlebih dulu. Ada wortel, kol, timun dan acar bawang merah besar. Di sini ada terung ungu yang sudah dipanggang terlebih dulu. Hal yang membedakan lainnya adalah bawang merah besar yang dibelah dua dan dipanggang. Beri sedikit garam dan perasan jeruk nipis. Wah, enak ternyata!

Jadi, anda akan pilih mana?

Mesir (6): Ada Banyak Alasan Berkunjung, Anda Perlu Tahu

Pesisir laut merah yang indah.

Beberapa teman bertanya, mengapa kami memilih liburan musim panas ke Mesir? Jawabannya banyak. Pertama, kami suka dengan kultur atau budaya. Mesir adalah negara yang termasuk tertua di dunia yang kaya akan budaya sejak sebelum masehi. Kita tidak akan pernah habis menjejalahi budayanya yang sarat sejarah sejak saya belajar dulu di sekolah. Biasanya kami liburan di suatu negara tidak lama, namun kali ini kami punya lebih dari dua minggu hanya untuk Mesir.

Mesir tidak hanya piramida dan sphinx saja. Ada banyak alasan untuk datang ke sini.

Piramida dan sphinx yang ada di Kairo sudah ada dari ribuan tahun lalu.

Alasan kedua adalah Mesir juga punya alam dan pantai yang indah. Meski hanya sepuluh persen wilayah Mesir berisi gurun pasir, tetapi selalu ada sisi yang indah dan menarik untuk dikunjungi. Kami mengeksplor kota Luxor dan Assuan di pesisir sungai nil dengan kapal wisata. Sungai nil pun punya pesona tersendiri. Benar kata orang Mesir, sungai nil adalah hadiah terindah dari Tuhan. Di satu sisi sungai nil begitu subur sehingga dihuni banyak penduduk dan di sisi lain sungai nil dipenuhi padang yang gersang nan tandus.

Kaya kuliner dan selalu puas dengan makan dan minum selama traveling.

Bersamaan dengan kami adalah turis asal Eropa yang menghabiskan waktu liburan musim panas di Mesir. Mereka menghabiskan diri dengan berjemur. Di tepi laut merah letak hotel kami selanjutnya. Jika anda suka diving dan snorkling, ini wajib sekali dicoba. Pantainya sangat indah. Dari sini, ada ferry yang bisa mengantar penumpang ke negara Saudi Arabia dengan waktu tempuh tiga setengah jam.

Jika suka sejarah, Mesir adalah tempatnya.

Mesir pun hanya ditempuh selama empat jam setengah dari bandar udara Munich, Jerman. Itu contohnya. Jadi penerbangan dari Eropa ke Mesir hanya beberapa jam saja sudah menjadi alasan untuk datang ke sini. Bayangkan jika mesti terbang menempuh belasan jam, mereka sudah merasa bosan. Mesir bisa jadi pilihan orang-orang Eropa berlibur.

Seorang penari Nubian sedang bersiap tampil.

Alasan lain semua kembali pada diri masing-masing. Kami pun bertemu dengan beberapa orang Eropa yang mengaku datang ke Mesir tiap liburan musim panas. Atau mereka datang bukan kali pertama seperti kami. Satu hal buat kami, selalu ada sisi menarik lebih dari sekedar traveling. Tinggallah beberapa lama di Mesir maka anda akan menemukan alasannya.

Huruf hierogliph yang menandakan Mesir sudah menjadi pelopor komunikasi lewat simbol-simbol.

Berikut 10 hal menarik saat saya traveling di Mesir.

  1. Orang di sini mengakui tidak mudah buat orang Jerman yang terbiasa disiplin waktu. Janjian kami dengan petugas tur selalu tidak tepat. Waktu singkat dipikir hanya 10-15 menit, kenyataannya berlaku lebih dari 30 menit. Buat kami tidak masalah, ini adalah liburan. Tetapi bagi warga di sini, kebiasaan tak tepat waktu sudah menjadi tradisi.
  2. Kebiasaan memberikan tip atau uang jasa. Dalam kultur Mesir ini disebut ‘Bakischich’ dalam bahasa Arab. Besarannya sekitar 10-15 persen dari total yang dibelanjakan. Agar pelayanan lebih maksimal, berikan tip di awal. Hari pertama semisal menginap di hotel beberapa hari maka kami sudah berikan tip di awal sehingga service room memuaskan. Tak segan, mereka yang membantu juga meminta tip untuk diberikan setelah selesai jasa layanan seperti tour guide, porter tas, kusir delman, sopir bis wisata, dsb. Ini sudah menjadi kebiasaaan mereka.
  3. Biaya hidup terjangkau dan paket wisata yang murah. Biasanya saya cukup sibuk menentukan soal makanan selama kami traveling. Di Mesir, kami bisa mendapatkan paket ‘all inclusive’ makan dan minuman dari pagi hingga malam yang lengkap selama traveling. Kulinernya sesuai lidah dan enak. Ada program acara yang menarik sehingga wisatawan seperti kami tak bosan dan betah selama di Mesir.
  4. Hari Jumat adalah hari libur di sini, sama seperti hari Minggu di Jerman. Sedangkan Kamis seperti layaknya hari Sabtu dan hari Minggu seperti hari Senin.
  5. Mesir menggunakan mata uang Egpytian Pound (LE) Mesir, meski begitu berlaku juga mata uang Euro untuk berbelanja di toko sovenir dan area pariwisata.
  6. Makanan yang disediakan adalah halal. Meski wisatawan selama saya berpergian adalah orang-orang Eropa, mereka puas dengan kuliner yang disediakan. Semua enak dan pas di lidah. Tiap hari ada tema kuliner yang buat wisatawan tidak bosan.
  7. Begitu pun soal minuman alkohol. Karena kami tinggal di wilayah pariwisata yang pastinya dihuni turis dari berbagai dunia maka mereka menyediakan alkohol dengan harga yang cukup mahal.
  8. Bahasa sehari-hari orang Mesir adalah bahasa Arab. Namun mereka yang bekerja di sektor pariwisata bisa berbicara dengan baik dalam bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Jerman dan bahasa Prancis.
  9. Tidak ada harga yang pasti saat anda berbelanja. Mereka memasang harga tetapi anda juga berhak menawar.
  10. Saat musim panas di Eropa seperti saat kedatangan kami, tidak ada perbedaan waktu antara Mesir dan Jerman. Kira-kira untuk waktu Indonesia Bagian Barat maka terjadi perbedaan lima jam lebih awal saat musim panas, semisal di Mesir jam 7 pagi maka di Jakarta jam 12 siang.

Alasan lain, warga Mesir sangat ramah kepada wisatawan yang datang.

Semoga bermanfaat.

Makanan Khas Afrika (5): Roz bil Laban, Pudding Nasi dari Mesir

Pudding nasi original buatan Mesir.

Anda mungkin masih ingat, saya pernah membahas tentang rice pudding atau pudding nasi beberapa waktu lalu. Ulasan tersebut bisa dicek di sini.

Ditambahkan sedikit cinamon untuk menambah rasa.

Berkaitan dengan rice pudding, saya mendapatkannya juga saat bermalam di kapal wisata di Mesir. Pudding nasi ini disajikan sebagai sarapan pagi Saya cukup terkejut juga mendapatinya dalam etalase sarapan pagi. Semula saya pikir ini adalah bubur karena tampak jelas terlihat bulir-bulir nasinya. Rupanya itu adalah pudding nasi.

Pudding nasi dengan gula putih tabur, enak juga loh.

Saya tentu saja mengambilnya dalam mangkuk. Saat duduk, saya bertanya pada pramusaji yang ramah melayani saya. Dia katakan itu adalah pudding nasi. Dia pun dengan senang menceritakan bagaimana pembuatan pudding nasi buatan isterinya di rumah.

Pudding nasi sebenarnya hanya berisi beras yang dimasak bersamaan susu. Diberi garam sedikit dan rasa vanila jika suka. Rice pudding buatan isterinya itu sangat enak. Jelas si pramusaji yang bernama Husein kepada saya.

Tak mau kalah, saya jelaskan saya juga suka pudding nasi sejak tinggal di Jerman. Saya justru baru mengetahui bahwa Mesir juga menjadikan pudding nasi sebagai sarapan pagi. Saya pun suka pudding nasi rasa vanila atau kadang ditambahkan kayu manis.Seperti bersemangat merespon cerita saya, Husein pergi ke bagian dapur.

Begitulah orang Mesir yang selalu ramah pada turis. Bergegas Husein membawakan bubuk kayu manis. Saya pun memasukkannya sedikit ke dalam mangkuk.

Anda bisa melihat dua pudding nasi asli dan pudding nasi dengan tambahan kayu manis.

Anda suka mana?

Makanan Khas Afrika (4): Egyptian Zuccini Oven Baked with Bechamel, Timun Jepang Panggang

Makanan berikut dari Afrika yang saya perkenalkan berasal dari Mesir. Maklum saja karena kami baru saja berpergian ke sana untuk menghabiskan liburan musim panas.

Tertulis courgitte dalam etalase makanan. Saya pun mengambilnya sedikit untuk mencicipinya. Saya khawatir menyisakannya di piring jika tidak suka. Semula saya pikir ini adalah semacam lasagna buatan Mesir.

Saat saya duduk, beberapa rekan sesama turis berbahasa Jerman membicarakan courgitte. Saya pun mendengarkannya. Ternyata ini bukan lasagna seperti dalam pikiran saya. Orang Jerman menyebut timun jepang sebagai zucchini. Sebenarnya ini adalah timun jepang yang dipanggang.

Kok bisa? Penasaran ‘kan?

Nama sebenarnya tertulis dalam bahasa Arab yakni Kousa bil Bechamel. Untuk membuatnya pun agak mirip dengan lasagna. Husein, si pramusaji yang ramah melayani kami pun tak segan menjelaskannya pada saya, saat saya bertanya bagaimana pembuatannya.

Pertama, tentu anda harus membuat saus daging dulu. Daging sapi cincang ditumis bersamaan dengan bawang merah dan bawang putih cincang. Masak hingga berwarna kecokelatan selama kurang lebih lima belas menit.

Selanjutnya adalah menambahkan saus tomat, bubuk pala dan merica. Beri sedikit air dan didihkan hingga membuat daging sapi cincang matang.

Kedua, membuat saus béchamel. Caranya adalah cairkan mentega dalam panci dan tambahkan bumbu. Aduk terus sambil masukkan susu sedikit hingga saus mengental. Panaskan oven untuk memanggang.

Tahap terakhir adalah melumuri loyang dengan mentega. Lapisi dengan timun jepang yang sudah dipotong kecil. Kemudian lapisan selanjutnya, tentu daging cincang yang ditumis. Lakukan seterusnya hingga loyang terisi penuh. Tutup dengan saus bechamel. Panggang dalam oven hingga matang.

Karena piring berisi courgette telah habis saya nikmati, saya jadi lupa mengabadikannya dalam foto. Saya terlalu asyik mendengarkan penjelasan Husein. Courgitte biasa disajikan dengan nasi.

Apakah ini mirip dengan Lasagna?

Mesir (5): Hibiscus Tea, Teh Hitam, Teh Mint dan Kegemaran Minum Teh

Hibicus tea yang berwarna merah dan teh hitam yang berwarna cokelat gelap.

Ada hal menarik jika kita bertamu ke rumah warga Mesir, mereka memberi minum teh kepada tamu. Hal ini kerap saya dapatkan semisal saat bertandang ke rumah salah seorang warga di desa wisata di Assuan. Para tamu yang notabene adalah turis dari berbagai dunia, mendapatkan suguhan minuman teh dari si empunya rumah.

Teh Mesir.

Pengalaman lainnya soal minum teh adalah saat kami datang ke toko sovenir yang menjadi rangkaian tur. Sebelum seorang pria yang menjadi sales menjelaskan produk mereka, pria ini meminta rekannya untuk membawakan minuman untuk kami sebagai tamu yang datang. Dan minuman teh datang, kemudian pria yang notabene sales menjelaskan bahwa warna teh merah adalah teh karkadeh atau hibiscus tea dan warna teh gelap adalah teh hitam.

Penyambutan tamu dengan teh.

Tentang teh hitam, saya pernah membahasnya di link ini.

Pengalaman lain adalah di kapal wisata kami juga disuguhi teh mint setelah tiba di pintu utama kapal. Teh penyambutan ini diberikan ke tiap wisatawan yang menginap di kapal wisata sesudah kami seharian di luar melakukan pelesiran dengan suhu yang luar biasa panas. Anda bisa bayangkan suami saya tidak terbiasa minum teh dan beberapa jam di luar sudah membuatnya tak nyaman karena suhu yang sangat panas. Akhirnya dia terpaksa menerimanya. Saya jelaskan teh mint baik untuk kesehatan setelah kami berpanas ria di luar.

Teh memang baik untuk kesehatan seperti yang saya jelaskan di link ini. Siapa pun tak menyangkal itu.

Selain baik untuk kesehatan, warga di sini berharap kita akan kembali lagi datang ke Mesir karena kita sudah minum teh suguhan mereka. Itu barangkali alasan beberapa pasangan yang sudah senior dan berusia lanjut datang rutin ke Mesir sebagai liburan mereka. Mereka meninggalkan Eropa dan terbang ke Mesir untuk liburan.

Teh lokal yang berasal dari Mesir itu berwarna merah. Saya sendiri memilih minum teh hitam. Tetapi suatu kesempatan, saya mencoba teh karkadeh yang ternyata saya tidak suka rasanya. Mungkin beda selera, suami saya akhirnya memilih minum teh karkadeh daripada dia tidak mendapat minum sama sekali.

Begitulah keramahan warga Mesir bila menyambut kita sebagai tamu. Di kapal wisata pun, kami mendapatkan beberapa kesempatan tea time di teras kapal.

Jika anda suka minum teh, jangan lewatkan kesempatan mencoba teh karkadeh dari Mesir!

Mesir (4): Museum Buaya Berisi Mumi Buaya Ribuan Tahun Lalu

Museum Buaya berada di sebelah Kuil Ombo atau Candi Sobek. Sobek adalah nama salah satu dewa Mesir jaman dulu yang digambarkan berwajah buaya. Sobek diyakini pernah memerintah pada 2500 Sebelum Masehi. Sobek juga dipercaya penguasa air. Air bagi masyarakat Mesir adalah cinta. Bahkan mereka menyebut sungai nil adalah hadiah terindah warga Mesir. Bayangkan bahwa hujan hanya datang satu kali dalam setahun. Itu sebab air punya makna kehidupan sejak dulu.

Mumi buaya yang berusia ratusan hingga ribuan tahun.

Sudah hampir gelap kami tiba di museum buaya. Petugas jaga memeriksa tiket masuk dan mempersilahkan kami masuk. Tour guide kami menunggu di luar. Kami diperingatkan petugas jaga museum tidak boleh mendokumentasikan dengan kamera atau video elektronik. Kami hanya boleh menggunakan kamera telepon genggam, tanpa blitz. Karena buaya di sini sudah berbentuk mumi yang disucikan.

Telur hingga anak buaya yang dimumikan.

Setelah pintu masuk tampak 20 buaya yang sudah tak bernyawa di dalam etalase kaca. Kami melihat di luar kaca buaya-buaya ini tampak menghitam dengan ukuran bervariasi. Ukuran buaya mulai dari 4,3 meter hingga 2 meter. Buaya ini pernah hidup di lembah sungai nil. Kini buaya tersebut sudah berpindah habitat ke sungai selatan Aswan.

Kuil pemujaan dewa Sobek.

Buaya dianggap suci karena mewakili dewa Sobek, yang menguasai air. Di sisi lain, buaya adalah hewan vertebrata tertua yang pernah hidup di dunia. Usianya juga panjang.Di etalase lain, buaya tampak masih dimumikan dibungkus dengan kain. Terdapat juga kertas doa, namun sayang saya tidak mendokumentasikannya. Etalase lain menggambarkan perkembangan buaya yang sudah dimumikan juga. Mulai dari telur buaya, bayi buaya hingga buaya yang masih berusia beberapa bulan dalam etalase tersebut. Kunjungan museum yang singkat diakhiri dengan toko souvenir untuk turis. Selanjutnya, saya perkenalkan satu desa yang memperlihatkan buaya dan manusia bisa hidup bersama. Buaya dijadikan hewan peliharaan keluarga.

Mesir (3): Kom Ombo Temple, Kuil Kuno tentang Buaya dan Pengobatan

Tampak depan candi.
Dari candi, senja tampak mempesona.

Tiba di perjalanan paket pertama di Luxor adalah Kom Ombo dan Museum Buaya. Karena dua tempat ini punya banyak cerita dan foto, saya buat terpisah. Kapal kami berlabuh di Kom Ombo dari Luxor menuju Assuan. Rupanya kami datang saat senja hari. Ini waktu yang tepat untuk berfoto manakala sinar matahari ke arah kuil tampak mempesona, dengan senja yang cantik. Petugas tur membagikan tiket masuk ke kami dan anggota rombongan. Tur kami dalam bahasa Jerman tepatnya.

Sisi dalam dengan pilar yang dibangun seperti pada kekaisaran romawi.

Harga tiket 100 Lira Mesir dalam mata uang lokal, ini sudah termasuk tiket masuk museum buaya yang letaknya di sebelah kuil.

Salah satu dinding candi, bagaimana peran domestik perempuan dan berbagai simbol bahan makanan jaman itu.

Tepat di pintu utama, tampak gerbang kuil yang mempesona dengan sinar matahari hampir redup. Jika tak salah, pintu utama kuil menghadap ke barat. Kami berhenti mendengarkan penjelasan petugas tur. Dinding kuil masih tampak jelas terukir berbagai simbol penuh makna. Di sisi gerbang utama ada lambang ibu, bapak dan anak, seperti sebuah keluarga. Namun wajah ayah dalam dinding tersebut tergambar buaya.

Sisi lain menggambarkan keluarga. Ayah bermuka buaya, di tengah adalah ibu dan paling kiri adalah anak.

Kuil ini terbagi dua bagian, selatan dan utara yang dibangun pada masa Ptolomeus. Di bagian selatan candi didekasikan untuk dewa Sobek. Itu sebab nama tempat ini dikenal kuil sobek. Sobek digambarkan sebagai dewa yang menciptakan dunia dan alam semesta. Di sini pula terdapat kuil pemujaan untuk Sobek.

Lalu mengapa difigurkan buaya pada wajahnya?

Masyarakat dulu di sini percaya bahwa pencipta semesta adalah inkarnasi dari hewan. Namun ada pula yang menganggap Sobek berubah wujud menjadi buaya setelah bertapa. Sebagian percaya melihat wujud buaya di pertapaan tersebut. Ada yang menganggap itu adalah Sobek yang berwujud buaya. Itu sebab masyarakat setempat tidak membunuhnya.

Apakah anda bisa menemukan figur proses persalinan hingga menyusui?

Untuk membuktikannya, di sebelah kuil terdapat mumi buaya yang sudah ada sejak 2600 tahun lalu, tepatnya ketika kuil ini berdiri sebelum Masehi. Buaya begitu dihormati dahulu oleh warga di sini sehingga wajahnya dirupakan di kuil ini. Bahkan ada satu desa di Assuan yang menjadikannya hewan peliharaan di rumah. Cerita tentang desa ini akan saya buat terpisah.

Lorong pengukur air.

Pada bagian utara terdapat pilar batu yang dibangun mewakili kekaisaran romawi Kaisar Marcus Aurelius pada masa sekitar abad 2 sebelum Masehi. Ada tampak keluarga, figur suami, isteri dan anak. Dahulu dewa digambarkan seperti keluarga. Namun pendapat lain mengatakan ini adalah saudara laki-laki Sobek yang juga berwujud buaya. Kuil ini sudah lama dibangun sebelum Masehi.

Kini kuil memang tinggal reruntuhan saja dan tampak tak utuh. Namun para peneliti dan arkeolog masih mengerjakan makna simbol dari kuil ini sebagai informasi terbaru. Juga para ahli pengobatan berusaha memecahkan simbol yang sangat bermakna sekali di sini. Contohnya anda bisa melihat bagaimana proses persalinan terjadi. Atau ada tertulis tentang manfaat buah almond bagus untuk kulit dan rambut. Lainnya khasiat resep mujarab yang bisa dimanfaatkan dunia pengobatan. Sayangnya semua masih tertulis dalam huruf mesir kuno.

Sebagian yang tersisa.

Sampai sekarang para ahli berusaha memecahkan teka-teki simbol yang tertulis pada candi. Dan pekerjaan itu belum selesai, yang didanai lembaga internasional.

Tur kuil berakhir pada lorong pengukur ketinggian air sungai nil. Dahulu belum ada ukuran yang berlaku sebagaimana mestinya. Di kuil ini ada lorong mengukur ketinggian air yang dibangun dari menara dengan ukuran berupa tangga. Tangga ini menjadi ketinggian sungai nil untuk mengantisipasi luapan sungai yang tidak dikehendaki.

Kunjungan berlanjut ke museum buaya yang letaknya bersebelahan. Cerita berlanjut!