Mesir (13): 2 Sup Menyehatkan Berikut Wajib Dicoba Loh

Sup adalah salah satu makanan favorit saya bila musim dingin tiba. Aneka sup musim dingin pernah saya ulas sebelumnya di artikel, INSPIRASI SUP MUSIM DINGIN. Sup yang hangat berisi bahan-bahan menyehatkan tentu membantu tubuh tetap terlindungi dari serangan sakit kala orang yang dilahirkan di wilayah tropis seperti saya harus beradaptasi. Sup dalam porsi kecil sudah membuat saya kenyang menikmatinya.

Pengalaman menikmati sup kala traveling misalnya saat saya berada di Budapest. Lucunya saya menikmati sup dari Thailand yang ternyata enak sekali. Karena saya sudah merasa kerap mencicipi goulasch suppe yang original di Hungaria sehingga saya ingin rasa sup berbeda.

Kali ini saya bagikan dua sup saat saya traveling di Mesir.

1. Sup Ozro dan sayur

Pertama, anda pasti bertanya, apa itu Orzo? Saya yang tak familiar dengan masakan Timur Tengah tentu takjub dengan penampakan orzo yang mirip nasi bentuknya. Orzo memang sejenis pasta yang bentuknya seperti beras. Namun soal rasa, orzo berbeda dengan nasi. Rupanya orzo terbuat dari gandum yang bisa disajikan dalam sup atau salad.

Orzo ini konon lebih menyehatkan karena rendah lemak dan kandungan proteinnya dua kali lipat.

Untuk membuat sup seperti di atas, ozro bisa disajikan dengan wortel, seledri bahkan bayam. Tak perlu waktu lama memasak sup ozro, ketika sayur sup sudah matang maka masukkan ozro. Tambahkan kaldu sayur, sedikit perasan lemon, garam dan merica. Tunggu beberapa saat hingga ozro siap dihidangkan.

2. Chard and Lentil soup

Sup kedua yang menyehatkan berasal dari kacang lentil. Ini seperti sup kacang-kacangan yang menyehatkan. Untuk membuatnya pun mudah.

Pertama, anda memasakkan kacang lentil dalam panci terlebih dulu. Beri kaldu ayam dan masak hingga berbuih. Anda bisa menambahkan kentang jika suka. Jika air menyusut dan sudah berwarna kecokelatan, anda bisa menambahkan ketumbar, minyak zaitun, garam, bawang putih bubuk dan sedikit perasan lemon.

Kacang lentil atau kacang berwarna kemerahan ini banyak mengandung zat besi yang cocok untuk bayi dan ibu hamil. Selain itu, kacang lentil itu sumber protein yang baik, mampu melindungi kesehatan pencernaan dan menjaga kesehatan tubuh.

Kacang lentil banyak dikonsumsi di Asia, seperti misalnya makanan di India. Siapa yang tak kenal makanan tradisional Dal Makhani dari India? Atau gorengan Samosa yang juga cocok untuk para vegetaris dan vegan.

Apakah anda tertarik mencoba sup di atas?

Advertisements

Mesir (14): Kuil Esna di Pinggir Sungai Nil

Tampak depan.
Jejak bersejarah depan kuil Esna kini tak nampak lagi. Dahulu ada patung berkepala singa di sini.
Pemandangan dari dalam kuil ke luar, tampak petugas berjaga.

Pagi subuh Sang Kapten sudah mengemudikan kapal dari Edfu ke Esna, jaraknya 55 kilometer dari Luxor. Esna ini bagian dari teritori pemerintahan kota Qena, yang pernah saya ceritakan di sini. Bisa dikatakan letak Esna menjadi persinggahan dari Luxor ke Assuan, begitu pun sebaliknya. Di Esna ini kami akan mengunjungi kuil Khnum yang letaknya di pinggir sungai nil. Dahulu temple ini begitu mengagumkan karena temple ini dibangun untuk Dewa Khnum.

Kami sudah bersiap di lobby bawah untuk berjalan dalam rombongan turis berbahasa Jerman. Rupanya jarak temple dengan dermaga kapal begitu dekat. Sementara kami trip ke temple, karyawan kapal pergi sembahyang di masjid dermaga. Ya, ini adalah hari Jumat. Senandung pujian dilantunkan di masjid dekat dermaga, sambil kami berjalan kaki mendekati Esna Temple, dengan jarak tak jauh dari dermaga.

Suhu hari itu mencapai 40 derajat celcius. Kami sudah mengetahuinya dari tour guide kemarin. Masing-masing kami sudah dilengkapi topi atau penutup kepala, kacamata surya dan sunblock untuk melindungi kulit. Untuk mencapai temple kami harus melewati area rumah penduduk yang dijadikan toko sovenir. Kini temple yang dulunya begitu indah, karya peninggalan kejayaan romawi sudah tampak tak terawat. Konon kuil khnum pernah ada pada jaman Ptolomeus, didirikan saat dinasti Tuthmosis III.

Ketika kami tiba, petugas pintu masuk mengontrol barang bawaan kami dan menyobek tiket masuk. Letak temple menjorok ke bawah, dimana kami harus menggunakan tangga kayu seadanya. Di samping temple dibangun rumah penduduk yang rapat. Jika anda masuk langsung ke tengah, kita bisa melihat jejak asap yang menutupi langit-langit temple yang dulunya indah. Ya, penduduk setempat pernah menetap dan tinggal dalam kuil. Mereka memasak dan menjadikan kuil sebagai tempat tinggal.

Gambaran raja dengan senjatanya jaman dulu.
Tampak tangan terikat bagi mereka yang melanggar kejahatan.
Ada 24 tiang besar setinggi 17 meter berhiaskan pujian dan nyanyian untuk dewa.
Langit-langitnya tampak menghitam, akibat tak terawat dulu.
Di atas tampak domba jantan yang mewakili Dewa, selain Dewa Khnum.

Kuil ini rupanya tidak hanya didedikasikan untuk Dewa Khnum saja, ada beberapa dewa lain yang juga disenandungkan lewat ukiran yang ditampilkan di sini seperti Neith, Heka, Seftet dan Menheyet. Ukiran tersebut tampak lebih baik dibandingkan kuil lain, seperti ada warna-warni yang berhias pada kuil. Itu dikarenakan kuil ini dibangun pada jaman orang Mesir sudah mengalami kemajuan, pada periode Yunani dan Romawi. Bahkan Kaisar Claudius dari Bangsa Romawi sempat memperlebar kuil ini yang semula hanya berada di sisi barat aula saja. Total ada 24 tiang besar di aula kuil yang dipenuhi dekorasi hiasan, dengan atasnya adalah ukiran bunga seperti bunga lotus yang jadi simbol wilayah Mesir atas atau bagian selatan Mesir.

Seperti aula yang besar dengan tinggi mencapai tujuh belas meter, kuil ini berhiaskan pujian kepada Dewa Khnum. Selain itu kuil ini memperlihatkan bagaimana kehidupan masyarakat dahulu di jaman kekaisaran romawi. Bagaimana raja mempersenjatai dirinya untuk melawan kejahatan. Di sisi lain diperlihatkan penjara itu ada bagi mereka yang bersalah dan harus dihukum. Ada tangan-tangan terikat yang diperlihatkan jelas bagi mereka yang pantas dihukum. Pemerintahan dan keadilan sudah lama diterapkan di Mesir kuno.

Langit-langit kuil sebagian hitam dan sebagian lain memperlihatkan astronomi dalam huruf hierogliph. Di sini diperlihatkan zodiak tentang gambaran masyarakat dulu mempercayainya simbol dan lambang kelahiran. Lainnya kita bisa melihat hewan dan unggas yang juga hidup pada masa tersebut. Dahulu hewan liar dianggap mewakili roh jahat, yang harus berhati-hati menghadapinya. Sedangkan domba diperlihatkan sebagai hewan baik.

Gambaran astronomi dan zodiak, misalnya lambang scorpio.
Warna-warni pada huruf hierofliph memperlihatkan kuil ini dibangun pada saat masyarakat dulu tampak maju dibandingkan yang lain.

Di depan kuil kini sudah tak utuh lagi. Dahulu ada patung berkepala singa yang melambangkan Dewa Manheyet. Kini semua tampak tak terlihat utuh. Menariknya di sini terdapat sisa-sisa kapel para jemaat Kristen Awal yang diperlihatkan batu altar yang tak utuh dan ruang ganti imam. Di Mesir ada sebagian kecil penganut kristen yang disebut orang Koptik.

Kami tak berlama di kuil ini. Selain suhu udara yang menyengat, kami sudah merasa waktu makan siang segera tiba. Kami bergegas menuju kapal, tepatnya restoran untuk makan siang. Anak buah kapal dan karyawan yang melayani kami di kapal kini telah kembali dari sembahyang di masjid terdekat.

Makanan Khas Timur Tengah (9): Seviyan Vermicelli Milk Pudding, Alternatif Sarapan Lagi

Bentuknya seperti lidi yang halus.

Menjelajahi Mesir yang kaya kuliner membuat saya mengenal aneka pudding yang selama ini tak banyak saya ketahui. Salah satunya adalah Seviyaan yang beberapa kesempatan disajikan sebagai alternatif sarapan saat kami bermalam di Mesir. Sebagai petualang rasa kuliner, saya tidak ingin melewati kesempatan untuk mencicipinya. Dan ternyata enak juga loh, setiap kali dihidangkan saya ambil lagi semangkuk. Cukup mengenyangkan untuk porsi makan ukuran saya.

Selain rice pudding yang pernah saya jumpai di Mesir, ternyata ada lagi pudding yang terbuat dari pasta. Pasta ini bentuknya seperti bihun tetapi lebih tebal dan lebih pendek. Jika dibayangkan, ini seperti lidi mungkin. Rasa pasta juga lebih halus dan lembut. Sedangkan seviyaan sendiri dengan santan terasa manis. Ya, boleh digolongkan seperti pudding.

Husein menuliskannya dalam bahasa Arab.

Karena saya penasaran, saya panggil Husein yang setia melayani kami di restoran. Seperti biasa, dia menjelaskan dengan ramah kuliner yang saya maksudkan. Namanya adalah seviyaan, yang dituliskan di serbet makan saya dalam bahasa Arab. Begitulah saya. Ini seperti saya pernah menikmati kuliner di Shenzhen, Tiongkok dan meminta resepsionis hotel untuk menuliskan namanya dalam huruf aksara bukan latin.

Dengan kuah susu yang enak dan manis.

Husein yang baik hati menjelaskan bagaimana pembuatannya. Semula saya pikir kuahnya yang berwarna putih dan berasa manis adalah santan kelapa. Ternyata ini adalah susu. Sedangkan seviyaan yang seperti pasta ini harus sudah masak sebelumnya. Kemudian bahan lain adalah kapulaga dan gula putih serta bubuk dalam bahasa Arab sebagai pelengkap. Saya lupa namanya.

Cara membuatnya mudah. Masukkan secangkir susu di dalam panci. Setelah panas, masukkan seviyaan yang sudah masak dan dipotong-potong terlebih dulu. Seviyaan yang pendek lebih mudah ditangani dan dimakan. Sementara dimasak, tambahkan gula putih dan kapulaga sesuai selera. Anda harus mengaduk-aduk agar susu tidak pecah.

Anda bisa menikmati setelah seviyaan pudding dingin, bisa untuk alternatif sarapan loh. Hmmm, enak!

Mesir (12): Desa Wisata Nubian Penuh Warna dan Buaya Sebagai Hewan Peliharaan

Begitu tiba, langsung disambut pasar isi sovenir.
Ini seperti rempah-rempah.
Coba tebak ini apa ya?

Program jam 15.00 sore hari adalah mengunjungi desa suku nubian yang unik dan penuh warna. Kapal kami masih berlabuh di Assuan atau Aswan. Setelah makan siang dan istirahat sebentar, kami pun bersiap melanjutkan acara berikutnya. Yaitu berkunjung ke desa wisata di seberang sungai nil yang juga menjadikan buaya sebagai hewan peliharaan. Dengan perahu kami menuju ke sana, yang berarti kami bisa melihat keindahan alam sekitar sungai nil.

Ayo, cek cerita tentang buaya yang sebelumnya diceritakan di sini!

Sampai di dermaga, kami sudah disiapkan perahu untuk rombongan turis berbahasa Jerman. Karena rombongan lainnya adalah turis asal Inggris yang tentu beda bahasa pengantarnya selama trip. Perahu motor kami semakin menjauhi dermaga, yang dikemudikan orang suku nubian. Kami bisa mengamati pemandangan sekitar sungai nil yang indah dan aneka burung yang menjadi habitatnya. Wisata kali ini lengkap, ada nature dan culture. Suka sekali!

Salah satu dinding warga dicat mencolok seperti ini.
Balkon atas.
Ruang tamu.

Di elephantine, pulau di sungai nil, yang juga berisi nilai sejarah 3000 tahun lalu yang sampai sekarang masih dikerjakan para arkeolog dunia. Konon temple khnum menjadi cikal bakal bagaimana batu granit bisa membentuk struktur bangunan seperti piramida di Kairo.

Lanjut menyusuri sungai nil, kami ditunjukkan monumen Aga Khan III. Beliau dimakamkan di situ setelah dua tahun wafatnya. Aga Khan dikenal sebagai tokoh muslim. Wisatawan yang tinggal di Assuan juga berkesempatan ke monumen ini. Untuk mengetahui siapa Aga Khan, silahkan anda cari tahu!

Monumen Aga Khan.

Perahu kami masih menyusuri sungai nil selama satu jam sebelum kami tiba di desa nubian. Tampak kejauhan desa ini berwarna-warni cerah yang memikat turis untuk datang. Kami juga sudah diingatkan untuk tidak memberi uang pada anak-anak di sini, yang kebanyakan sudah tak bersekolah dan bekerja membantu keluarga. Jika ingin memberi sesuatu pada anak-anak di sini, cukup cokelat, permen atau alat tulis. Begitu pesan pemandu wisata kami.

Buaya jadi peliharaan di rumah.
Awas buaya! Jadi dekorasi rumah.

Tiba di dermaga desa, pedagang sovenir dan anak-anak menyambut kami seperti biasa. Kami melewati pasar yang berisi sovenir kerajinan tangan dan hasil alam yang tampak menarik mata. Saya sendiri tidak tahu apa yang dijual mereka. Kami terus bergerak untuk datang ke suatu rumah besar yang dijadikan pusat informasi turis. Di sini kami bertemu rombongan turis dari belahan negara lain, yang dicirikan dengan bahasa yang berbeda-beda.

Pemandu wisata mengajak kami berkumpul untuk mendengarkan berbagai informasi seputar desa ini. Setelah itu, kami diberi waktu tiga puluh menit untuk berfoto dan berkeliling mengamati. Oh ya, tentu ada sesi foto bersama buaya. Kami diperlihatkan buaya dalam lubang yang diberi teralis, sehingga kami bisa melihatnya dari atas. Ya, buaya ini dipelihara oleh warga di sini. Buaya pun dijadikan aksesoris di rumah. Itu sebab mereka menjulukinya ‘crocodile house’.

Desa ini dihuni suku nubian asli. Meski terbilang berada di wilayah remote, desa ini bisa menghidupi warganya dari sektor pariwisata dan kerajinan alam. Turis yang lama di situ juga bisa berkeliling dengan onta untuk mengamati warna-warni desa tersebut.

Naik perahu seperti ini.
Dari kejauhan.
Sekelompok turis lainnya.

Puas berfoto, kami kembali ke perahu untuk beranjak ke Assuan. Selama di perahu, tukang perahu lagi-lagi menggelar dagangannya yang berisi kerajinan tangan. Di sisi lain, saya sendiri sibuk mengamati warna-warni desa nubian dari kejauhan. Tak terasa senja pun tiba, warna sungai nil pun semakin jelas indah mempesona.

Terimakasih desa nubian. Di satu sisi buaya begitu menakutkan dan mengancam manusia. Namun di sisi lain di sini, buaya bersahabat dengan manusia.

Mesir (11): Kenali 6 Jenis Teh yang Bermanfaat Untuk Kesehatan

Tiap negara punya tradisi sendiri tentang budaya minum teh, termasuk Mesir yang berada di benua Afrika. Sebagamana yang pernah saya bahas tentang kebiasaan orang Mesir memberi suguhan minuman teh saat tamu datang. Mereka umumnya memberi teh karkadeh yang warnanya merah. Cerita saya bisa dicek di link ini.

Ternyata Mesir punya ragam teh yang patut anda ketahui. Teh sendiri saya temukan di pasar tradisional yang masih alami diracik. Dan di situ saya jadi paham bahwa ada jenis-jenis teh yang biasa dinikmati masyarakat Mesir umumnya.

1. Teh Karkadeh

Saya pernah mengulas sebelumnya tentang teh merah ini. Teh karkadeh disebut juga hibiscus tea yang ditemukan di Indonesia, biasa disebut teh rosella. Dinamakan Rosella karena berasal dari tanaman roselle, yang juga disebut hibiscus sabdariffa. Bisa jadi warna merah dihasilkan dari warna tanaman roselle sendiri yang sudah berwarna merah

Teh karkadeh disuguhi pada tamu oleh warga lokal sebagai penghormatan pada tamu yang datang. Bila dilihat, teh karkadeh warnanya seperti merah sirup atau merah darah. Teh bisa diminum dengan atau tanpa gula, sesuai selera anda. Bahkan anda bisa memesan teh karkadeh dalam rasa yang dingin mengingat suhu di Mesir yang luar biasa panas.

Saya sendiri tidak terlalu suka dengan rasa teh karkadeh. Karena umumnya saya suka teh selera Asia, seperti teh di Indonesia. Teh karkadeh bisa dijumpai di warung-warung makan di sekitar Mesir bagian selatan. Bahkan mereka menyebut teh rosella disajikan saat ada perayaan istimewa seperti pernikahan. Boleh dibilang jika anda datang ke Mesir, anda harus mencoba teh ini agar datang kembali.

2. Teh Badui

Badui adalah salah satu suku paling minoritas di Mesir. Tentang suku ini akan saya ceritakan terpisah. Teh badui biasa disajikan oleh warga Badui sendiri. Orang Badui yang ramah akan menyajikannya untuk anda, jika anda singgah dan berbaur bersama mereka. Saya sendiri tidak begitu detil melihat teh badui ini. Teh mereka semacam perpaduan tanaman liar kering, kapulaga, kulit kayu manis, daun teh hitam dan sedikit gula atau susu. Dimasak di atas bara api selama sepuluh menit sebelum disajikan.

3. Teh Kuning

Semula saya berpikir bahwa teh hanya dihasilkan di daerah musim dingin saja. Saya salah ternyata. Meski Mesir memiliki suhu yang terik dan hangat sepanjang tahun, ternyata Mesir juga bisa menghasilkan teh juga. Jika teh yang selama ini saya kenal berasal dari daun untuk menjadi teh, maka teh kuning dari Mesir berasal dari biji tanaman.

Biji tanaman ini berasal dari tanaman shambala yang tumbuh di daerah seperti Mesir. Tanaman ini banyak digunakan untuk pengobatan sehingga jika dihasilkan sebagai teh baik juga untuk kesehatan tubuh. Bahkan studi menunjukkan teh kuning dari Mesir dipercaya bisa menjadi obat, mempercepat proses penyembuhan hingga menurunkan berat badan. Wow!

4. Teh Doum

Teh berikutnya saya pikir hanya ditemukan di Mesir dan daerah padang pasir. Teh doum ini berasal dari tanaman sawit, yang juga disebut the doum palm fruit. Tanaman ini disebut sebagai salah satu tanaman paling berguna di dunia. Mulai dari akar, buah, batang hingga daunnya bisa dimanfaatkan manusia. Untuk teh sendiri, diambil dari buah pohon ini. Menurut studi, teh ini diyakini mengandung anti inflamasi, anti oksidan dan anti mikroba.

5. Teh Chamomile

Di Jerman teh chamomile bukan hal baru. Saya dengan mudah mendapatkan teh chamomile ini karena tanaman seperti bunga matahari banyak tumbuh di sini. Teh chamomile dipercaya dapat mengurangi risiko diabetes. Teh chamomile bisa menjadi pilihan relaksasi bila saya jenuh beraktivitas seharian.

Di Mesir teh chamomile juga mudah diperoleh karena tanaman chamomile tumbuh subur di lembah sungai nil. Warna teh chamomile biasanya kuning ringan. Minum selagi hangat, teh ini memberi efek menenangkan terutama bila anda kecapekan, kurang tidur atau bermasalah pada pencernaan.

6. Teh Mint

Terakhir adalah teh mint. Manfaat teh mint sudah pernah saya bahas di link ini. Teh mint ini begitu mudah didapat di Mesir. Selesai kami melakukan perjalanan trip di luar, kami mendapatkan secangkir teh mint. Ketika di Mesir suhunya sangat terik, kami minum teh mint yang hangat, ternyata itu sangat baik untuk tubuh. Sesekali suhu udara menyengat, silahkan coba teh mint!

Apa jenis teh yang anda sukai?

Mesir (10): Malam Budaya Nubian, Kamis Malam di Assuan

Masjid raya di Assuan.
Tarian suku nubian.
Kelompok seniman nubian terampil membawakan instrumen musik.
Duduk menikmati shisa adalah kebiasaan sehari-hari warga.

Program selanjutnya di Kamis malam hari adalah malam kesenian orang nubian yang sebagian besar menghuni Mesir bagian Selatan seperti Assuan dan negara Sudan. Malam ini kami masih di Assuan, dengan suguhan tarian dan musik yang dibawakan kelompok seni suku nubian. Ada yang menyebutnya juga nubia atau kush yang mendiami lembah sungai nil sejak kejayaan bangsa romawi, sebelum masehi.

Matahari mulai terbenam di sisi sungai nil. Makan malam pun sudah selesai. Saya dan suami memilih duduk di atas dek kapal menikmati pesona senja dan kerlap kerlip kota Assuan yang indah. Di sudut kota, masjid besar mengaggungkan pujian doa. Sementara di sisi lain, warga mememuhi taman di pinggir sungai nil. Bernyanyi, duduk bersama menikmati shisa hingga suara ceria anak-anak tak luput dari perhatian saya dan suami. Beberapa tamu kapal juga duduk bersama kami di kafe atas.

Jam 21.00 kelompok seni nubian bersiap tampil. Kami turun menyaksikan keramaian itu. Tiga orang tampil dengan pakaian warna-warni. Ada yang membawa rebana, gendang dan alat musik tradisional. Suara riuh menyambut kehadiran mereka. Seorang dari mereka meminta kami sebagai tamu kapal bertepuk tangan mengiringi tarian dan nyanyian mereka.

Tarian lain.
Senja di sungai nil.
Perahu yang membawa turis-turis berbahasa Jerman berkunjung ke desa nubian.
Pemandangan sungai nil di sisi gurun pasir.
Malam hari di dek atas kapal.

Saya sendiri mendengar nyanyian yang dinyanyikan dalam bahasa nubian, bukan bahasa Arab yang jadi bahasa resmi Mesir. Para kelompok seni dengan wajah sumringah meminta kami mengikuti apa yang diperagakan. Tawa mengiringi penampilan beberapa tamu dan seniman yang tampil dengan nyanyian dan tarian.

Selesai para seniman menghibur kami selama 45 menit, saya dan suami segera naik ke kafe atas kapal. Kami menikmati remang-remang malam menyusuri sungai nil. Warga setempat tampak bersuka ria karena Jumat adalah hari libur untuk mereka. Anak-anak di Mesir saat kami berlibur memang sedang libur sekolah. Libur sekolah di Mesir berlangsung selama tiga bulan.

Makanan Khas Timur Tengah (9): 5 Kue-kue Manis yang Memikat di Mesir

Saya senang menikmati kue-kue yang disuguhi hotel selama liburan di Mesir. Kue kue di Mesir umumnya enak dan manis di lidah. Kue-kue ini selalu tersedia di meja prasmanan. Ini yang membuat berat badan saya bertambah manakala saya benar-benar menikmati liburan di sana. Mereka pun menyajikan kue-kue ini dengan dekorasi yang indah. Tentu siapa pun akan tergoda mencicipinya.

Saya pun bertanya pada kenalan di Jerman yang bisa berbahasa Arab, tentang nama dan pembuatan kue-kue tersebut. Kue-kue berikut dinikmati setelah menikmati makanan penutup. Makanan manis ini memang tepat untuk memberi sentuhan rasa berbeda, dengan asam, manis, pedas, asin dan gurihnya makanan sebelumnya.

Berikuti saya bagikan hasil penelusuran saya.

1. Baklava

Kue baklava adalah kue yang cukup populer di Jerman. Saya sendiri pernah menuliskan pembuatan kue borek yang berasal dari Turki. Kue borek seperti baklava yang juga ada di Mesir. Ada beberapa kesempatan baklava disajikan, saya tidak menyadarinya hingga saya berhasil mendokumentasikan baklava roll yang berisi pisang. Sementara baklava original tak sempat didokumentasikan.

Umumnya baklava bentuknya seperti ini.

Baklava adalah kue populer di wilayah Timur Tengah, yang telah ada sejak kekaisaran Ottoman. Migrasi telah memberi pengaruh pada sebagian wilayah di Eropa untuk mengadopsi kuliner seperti baklava. Orang-orang Turki yang pindah ke Jerman juga memperkenalkan kue baklava sebagai kuliner mereka. Selain itu, pastry baklava juga diperkenalkan oleh para migran Timur Tengah yang kini juga kerap bertemu saya di kursus integrasi budaya Jerman.

2. Halva

Halva ini rasanya lembut manis dengan isian kacang atau manisan. Halva ini sudah ada sejak abad 13 loh. Kue halva sebenarnya ada dua jenis, ada yang berbahan dasar tepung dan satu lagi berbahan butter. Halva tetap kue Arab yang terasa manis seperti julukan nama kue ini. Halva memang dicetak dalam loyang kue yang kemudian dipotong kotak-kotak. Isian halva juga sesuai selera seperti kacang lentil, nus dan manisan.

3. Basbousa

Ini disebut juga Haresa bagi orang Irak dan Syria.

Basbousa ini pernah saya bahas sebagai makanan Timur Tengah saat saya diajak teman migran asal Syria yang mengajak kaffetrinken di rumahnya. Cerita saya dapat dicek di link ini. Bagi orang Syria dan Iran, kue basbousa disebut dengan nama haresa.

Kue lainnya.

Cara membuatnya cukup mudah dari tepung yang disebut semolina, yoghurt dan gula yang dipanggang di oven. Biasanya kue ini dihias dengan kacang atau bisa juga dengan gula yang dicairkan seperti foto.

4. Layali Lubnan

Kue selanjutnya adalab layali lubnan dengan warna putihnya yang indah. Masih dengan tepung semolina, gula dan susu. Anda juga bisa menambahkan air mawar atau jeruk lemon yang diparut. Kue ini biasa disajikan sebagai dessert setelah didinginkan di kulkas. Untuk topping atas, anda bisa kreasikan sesuai selera.

5. Kahk

Kue bundar, kahk.

Kue berikutnya adalah kahk yang umumnya disajikan saat hari raya Idul Fitri. Kue bulat dan tebal ini berasa manis karena disiram dengan gula bubuk. Tepung, telur dan mentega menjadi bahan baku kue ini. Tentu di dalam kue bulat ini bisa diisi dengan macam-macam manisan.

Sebenarnya saya menikmati dan mendokumentasikan aneka pastry dan kue lainnya di Mesir, hanya saja saya tidak tahu nama-nama kue tersebut.

Baiklah, kue mana yang anda ingin coba?

Mesir (9): Assuan atau Aswan, Kota Tertua yang Kaya dengan Wewangian

Selesai di Philae Temple, bus yang kami tumpangi beranjak ke lokasi lainnya. Sebelum jam 13.00 waktu makan siang tiba, kami mengitari kota Assuan atau yang bisa disebut juga Aswan. Dari Assuan, kita bisa ke negeri tetangga Sudan, yang berjarak 300 kilometer. Jelas tour guide dalam bahasa Jerman pada kami di bus. Sepanjang jalan, ia banyak menunjukkan tempat-tempat publik di Assuan dan berbagai infomasi lainnya.

Kota Aswan terletak di sebelah selatan Mesir. Di sini disebut the first cataract of nile rivers dari enam titik sungai nil lainnya. Sisanya kebanyakan di Sudan.

Katedral Ortodoks untuk orang Koptik.
Hotel Old Cataract dari sungai nil.

Jika merujuk perjalanan saya ke Philae Temple yang berada di Aswan maka dapat dipastikan kota ini termasuk kota tertua sebelum masehi. Bahkan nama Aswan yang juga disebut syene disebut penulis kuno. Syene sendiri bisa dilihat kisahnya dalam kitab suci. Di sini didiami orang-orang suku nubian, yang berperawakan berbeda dari orang Mesir umumnya. Mereka berperawakan tidak besar, kulit hitam dan rambut keriting. Bahasanya pun berbeda, yang sampai sekarang masih digunakan untuk percakapan sehari-hari.

Menurut pemandu wisata kami, Assuan sudah dikenal dunia sebagai pengobatan herbal. Sebagaimana diketahui beberapa infomasi soal dunia medis sudah tergambar jelas di kuil. Misalnya lambang apotek yang digambarkan ular pun bermula di sini. Atau jika mengalami sakit ini dan itu ada beberapa pengobatan alami yang diambil dari tanaman yang tumbuh di sini, seperti tumbuhan yang menghasilkan minyak kayu putih. Karena Assuan yang dikenal dengan sumber daya alam wewangian yang biasa dipergunakan untuk parfum, Assuan menjadi singgahan pasar dunia. Tak salah jika sovenir dari Assuan yang bisa dibawa pulang adalah parfum alami tanpa alkohol yang wanginya mirip seperti parfum ternama.

Pemandangan dari sungai nil.
Salah satu orang suku Nubian yang membawa kami menyusuri sungai nil.
The Elephantine, pulau di sungai nil yang juga masih diselami oleh para arkeolog.

Assuan menjadi dikenal ketika Agatha Christie, seorang penulis ternama dunia yang pernah menuliskan kisah misteri ‘Death on the Nile’ dan sempat dibuat menjadi film. Di Jerman pun film tersebut juga populer sebagai film krimi. Untuk menuliskan kisah fiksi tersebut, Agatha Christie menginap di hotel Old Cataract yang view menghadap ke sungai nil. Hotel ini kerap dikunjungi turis karena lokasinya yang indah.

Kembali lagi tentang Assuan yang dikenal wewangian, kunjungan kami setelah Philae Temple adalah pabrik wewangian. Di tempat ini kami diperkenalkan bagaimana Assuan sudah dari dulu mengimpor bahan baku parfum sejak lama. Jika menyelusuri sejarah parfum, di Assuan sini berawal. Parfum sendiri berarti rumah wewangian dalam pengertian setempat. Dan Mesir dikenal dalam sejarah sebagai negeri pertama yang sudah mempopulerkan parfum.

Di sini pula saya tahu bagaimana beda parfum dan wewangian lain. Tak hanya itu, bagaimana parfum itu juga digunakan agar tahan lama wanginya. Di sini kami diperlihatkan tentang wewangian dan aromatherapi yang bermanfaat untuk pengobatan.

Assuan atau Aswan juga termasuk kota moderen kok. Ada pusat perbelanjaan, makanan cepat saji asal Paman Sam hingga kafe atau restoran manca negara. Soal hotel, silahkan sesuaikan dengan anggaran anda ada di sini. Kini Assuan sudah dihuni orang-orang multi etnis juga.

Selanjutnya, masih soal Assuan akan saya tunjukkan kehidupan desa wisata yang dihuni suku nubian. Di sini buaya dijadikan hewan peliharaan.

Selamat berhari Minggu!

5 Alasan Laut Ternyata Membuat Saya Bahagia

Pesona laut merah di Hurghada, Mesir.

Jika diminta berlibur ke gunung atau laut, anda lebih pilih mana? Alam memang memiliki cerita liburan masing-masing, yang tak bisa dibandingkan. Ada julukan, anak pantai bagi mereka yang suka laut dan anak gunung bagi mereka yang senang dengan pegunungan. Namun saya yang lahir dan dibesarkan di kota besar seperti Jakarta, suka pergi ke dua destinasi tersebut.

Nah, berlibur ke laut itu memang nyatanya menawarkan pesona tersendiri. Terakhir kali saya melakukannya waktu liburan tahun lalu di Kroasia. Di Zadar Kroasia, laut mediterania memang indah seperti kekaguman yang saya tuliskan di sini. Sedangkan di Hurghada Mesir saya takjub dengan keindahan pasir dan kehidupan bawah laut dari laut merah.

Saya berpikir, mengapa orang begitu senang berlibur ke laut? Saya menyelami perasaan itu saat saya berjemur di tepi laut merah. Saya menjadi bahagia.

Berikut lima alasan saya bahwa berlibur di laut membuat bahagia.

1. Suara ombak itu memberi kedamaian dan menenangkan

Dahulu saat saya masih kecil, saya suka sekali mendengarkan hiasan kerang laut besar seukuran kepalan tangan. Hiasan ini dari paman saya yang dibawa dari pulau Flores, Indonesia yang kaya juga dengan lautnya. Saya dapat mendengarkan suara laut lewat kerang itu. Suara itu seperti menenangkan buat saya. Hati yang damai tentu membuat bahagia. Mungkin ini yang menjadi ide penulis novel atau skenario film ketika tokoh dalam cerita mereka diumpamakan berjalan di tepi pantai atau pergi ke laut untuk mencari ketenangan dari masalah yang dihadapi si tokoh.

Saya dan suami menghabiskan waktu berjemur setelah sarapan pagi. Atau saya bangun sekitar jam lima pagi saat matahari terbit dan keluar kamar hotel, kemudian berjalan di tepi pantai kala sepi dan tak ada orang di situ. Sensasi pengalaman mendengarkan deburan ombak laut ternyata memberikan rasa bahagia.

2. Baik untuk kesehatan kulit dan tulang

Sinar matahari yang mengandung vitamin D ini baik untuk nutrisi kulit dan tulang. Saya sangat merasakan bagaimana saya rindu kulit saya terbakar matahari kala saya sedang menghadapi musim dingin di Eropa. Sebagai orang yang berasal dari iklim tropis, saya kerap merindukan hangatnya matahari. Perasaan ini mungkin juga dialami oleh sebagian orang dari negeri empat musim. Itu sebab laut menjadi destinasi liburan mereka.

Anda tahu bahwa kulit dan tulang sehat itu membahagiakan. Saya tak perlu menyimpan kaki dan tangan di balik selimut hangat. Tak perlu sarung tangan dan kaos kaki di luar rumah. Ada kalanya kita menjadi bersyukur ketika kita merasakan hangatnya matahari. Itulah rasa bahagia.

3. Laut menyimpan memori masa lalu yang indah

Siapa pun pasti punya kenangan saat menghabiskan diri di laut di masa lalu. Saya bercerita pada suami tentang masa lalu dimana saya mencoba parasailing di Bali. Pengalaman itu benar-benar menakjubkan bahwa saya yang semula takut mencobanya, ternyata saya mampu. Lalu suami saya bercerita liburannya di tepi laut mediterania di Italia bersama teman-temannya klub olahraga yang punya cerita lucu. Kami berdua pun tertawa mengenang cerita itu.

4. Mengurangi stress

Ketika kami pergi untuk berjemur di pantai, kami tinggalkan semua alat komunikasi dan elektronik. Ini seperti retreat atau wellness urlaub, dimana kami mengundurkan diri sejenak dari hiruk pikuk kesibukan pekerjaan dan studi. Kami hanya bawa buku untuk mengisi waktu. Itu salah satunya.

Ada banyak cara orang mengurangi stress di laut. Ada yang melakukan olahraga air. Ada yang berenang di laut. Ada yang melakukan diving dan snorkling. Atau hanya diam saja di atas balai-balai yang disediakan di tepi pantai. Dijamin itu semua tidak membuat stress. Alam menciptakan rasa bahagia sebagaimana yang ingin anda lakukan untuk mensyukurinya.

5. Membuat nyaman dan mudah terlelap (tidur)

Jujur saya merasa nyaman di balai malas di tepi pantai. Ini membuat saya tertidur sambil membaca buku. Angin pantai semilir membuat saya terlelap di balai malas itu. Begitu pun setelah seharian berada di laut, saya merasa ngantuk dan sudah tertidur lebih awal. Sepertinya saya menikmati pesona laut dengan baik sehingga saya bahagia.

Biasanya kita menjadi sulit tidur ketika ada sesuatu yang masih mengganggu dan membuat tak nyaman. Seharian di laut membuat saya mudah tidur di malam hari. Bahagia rasanya.

Saya pikir apa pun pilihan liburan anda. Pastikan bahwa itu membuat anda bahagia menikmatinya.

Es Krim Goreng, Jajanan Kairo yang Penuh Atraksi

Es krim goreng di Kairo.

Es krim selalu punya kisahnya sendiri. Saya beberapa kali mengulas es krim yang digemari di negeri suami saat musim panas tiba. Cerita saya tersebut bisa dicek di sini. Lalu bagaimana es krim di negeri tropis seperti Mesir yang baru saja kami kunjungi? Sebenarnya sih es krim saja dimana pun, termasuk di Mesir yang masuk suhu sangat panas saat kami berlibur musim panas. Namun saya menemukan es krim yang berbeda.

Setelah es krim jadi digulung-gulung seperti gambar, lalu ada siraman cokelat untuk menambah rasanya.

Es krim goreng!

Sebenarnya ini kali ketiga saya melihat orang meracik es krim seperti itu. Pertama, saya pernah melihatnya di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta beberapa tahun lalu. Hanya saja saya lupa tepatnya dimana dan apa nama dagang es krim tersebut. Seingat saya, pembuatan es krim yang demikian diklaim berasal dari Turki.

Lalu kali kedua saya melihat es krim tersebut sepertinya di suatu pusat perbelanjaan di Eropa, hanya saja saya lupa juga tepatnya dimana. Model juga sama, es krim diletakkan di atas panci datar yang dingin kemudian diberi rasa sesuai permintaan pembeli. Lalu ada sedikit atraksi bolak-balik yang menampilkan kemahiran pedagang es untuk menghibur pembelinya. Setelah es krim berhasil digulung, lalu siap diletakkan di wadah. Ada sedikit dekorasi, entah cokelat dan warna-warni lain yang disesuaikan dengan rasa pesanan.

Salah satu es krim cokelat yang saya pesan dengan harga 4€ di Mesir, sementara suami pesan bir.

Kali ketiga saya mendapati hal serupa yang mengundang atensi turis seperti saya, saat kami sedang di Kairo. Kebetulan pemesan es krim sebelum saya berasal dari Spanyol. Mereka tampak kagum dengan atraksi pedagang es yang menghibur mereka dengan menyajikan es krim seperti menggoreng sesuatu. Harga es krim ini sekitar 2,50€ sesuai rasa yang saya pesan, yakni banana nutella.

Rupanya es krim goreng ini juga menjadi street food sama seperti chicken shawarma, yang pernah saya bahas sebelumnya. Es krim di daerah wisata di Mesir cukup mahal. Kami memesannya mengingat suhu mencapai 40 derajat celcius. Namun es krim goreng bisa jadi pilihan bila anda datang ke Kairo.