Mesir (4): Museum Buaya Berisi Mumi Buaya Ribuan Tahun Lalu

Museum Buaya berada di sebelah Kuil Ombo atau Candi Sobek. Sobek adalah nama salah satu dewa Mesir jaman dulu yang digambarkan berwajah buaya. Sobek diyakini pernah memerintah pada 2500 Sebelum Masehi. Sobek juga dipercaya penguasa air. Air bagi masyarakat Mesir adalah cinta. Bahkan mereka menyebut sungai nil adalah hadiah terindah warga Mesir. Bayangkan bahwa hujan hanya datang satu kali dalam setahun. Itu sebab air punya makna kehidupan sejak dulu.

Mumi buaya yang berusia ratusan hingga ribuan tahun.

Sudah hampir gelap kami tiba di museum buaya. Petugas jaga memeriksa tiket masuk dan mempersilahkan kami masuk. Tour guide kami menunggu di luar. Kami diperingatkan petugas jaga museum tidak boleh mendokumentasikan dengan kamera atau video elektronik. Kami hanya boleh menggunakan kamera telepon genggam, tanpa blitz. Karena buaya di sini sudah berbentuk mumi yang disucikan.

Telur hingga anak buaya yang dimumikan.

Setelah pintu masuk tampak 20 buaya yang sudah tak bernyawa di dalam etalase kaca. Kami melihat di luar kaca buaya-buaya ini tampak menghitam dengan ukuran bervariasi. Ukuran buaya mulai dari 4,3 meter hingga 2 meter. Buaya ini pernah hidup di lembah sungai nil. Kini buaya tersebut sudah berpindah habitat ke sungai selatan Aswan.

Kuil pemujaan dewa Sobek.

Buaya dianggap suci karena mewakili dewa Sobek, yang menguasai air. Di sisi lain, buaya adalah hewan vertebrata tertua yang pernah hidup di dunia. Usianya juga panjang.Di etalase lain, buaya tampak masih dimumikan dibungkus dengan kain. Terdapat juga kertas doa, namun sayang saya tidak mendokumentasikannya. Etalase lain menggambarkan perkembangan buaya yang sudah dimumikan juga. Mulai dari telur buaya, bayi buaya hingga buaya yang masih berusia beberapa bulan dalam etalase tersebut. Kunjungan museum yang singkat diakhiri dengan toko souvenir untuk turis. Selanjutnya, saya perkenalkan satu desa yang memperlihatkan buaya dan manusia bisa hidup bersama. Buaya dijadikan hewan peliharaan keluarga.

Advertisements

Mesir (3): Kom Ombo Temple, Kuil Kuno tentang Buaya dan Pengobatan

Tampak depan candi.
Dari candi, senja tampak mempesona.

Tiba di perjalanan paket pertama di Luxor adalah Kom Ombo dan Museum Buaya. Karena dua tempat ini punya banyak cerita dan foto, saya buat terpisah. Kapal kami berlabuh di Kom Ombo dari Luxor menuju Assuan. Rupanya kami datang saat senja hari. Ini waktu yang tepat untuk berfoto manakala sinar matahari ke arah kuil tampak mempesona, dengan senja yang cantik. Petugas tur membagikan tiket masuk ke kami dan anggota rombongan. Tur kami dalam bahasa Jerman tepatnya.

Sisi dalam dengan pilar yang dibangun seperti pada kekaisaran romawi.

Harga tiket 100 Lira Mesir dalam mata uang lokal, ini sudah termasuk tiket masuk museum buaya yang letaknya di sebelah kuil.

Salah satu dinding candi, bagaimana peran domestik perempuan dan berbagai simbol bahan makanan jaman itu.

Tepat di pintu utama, tampak gerbang kuil yang mempesona dengan sinar matahari hampir redup. Jika tak salah, pintu utama kuil menghadap ke barat. Kami berhenti mendengarkan penjelasan petugas tur. Dinding kuil masih tampak jelas terukir berbagai simbol penuh makna. Di sisi gerbang utama ada lambang ibu, bapak dan anak, seperti sebuah keluarga. Namun wajah ayah dalam dinding tersebut tergambar buaya.

Sisi lain menggambarkan keluarga. Ayah bermuka buaya, di tengah adalah ibu dan paling kiri adalah anak.

Kuil ini terbagi dua bagian, selatan dan utara yang dibangun pada masa Ptolomeus. Di bagian selatan candi didekasikan untuk dewa Sobek. Itu sebab nama tempat ini dikenal kuil sobek. Sobek digambarkan sebagai dewa yang menciptakan dunia dan alam semesta. Di sini pula terdapat kuil pemujaan untuk Sobek.

Lalu mengapa difigurkan buaya pada wajahnya?

Masyarakat dulu di sini percaya bahwa pencipta semesta adalah inkarnasi dari hewan. Namun ada pula yang menganggap Sobek berubah wujud menjadi buaya setelah bertapa. Sebagian percaya melihat wujud buaya di pertapaan tersebut. Ada yang menganggap itu adalah Sobek yang berwujud buaya. Itu sebab masyarakat setempat tidak membunuhnya.

Apakah anda bisa menemukan figur proses persalinan hingga menyusui?

Untuk membuktikannya, di sebelah kuil terdapat mumi buaya yang sudah ada sejak 2600 tahun lalu, tepatnya ketika kuil ini berdiri sebelum Masehi. Buaya begitu dihormati dahulu oleh warga di sini sehingga wajahnya dirupakan di kuil ini. Bahkan ada satu desa di Assuan yang menjadikannya hewan peliharaan di rumah. Cerita tentang desa ini akan saya buat terpisah.

Lorong pengukur air.

Pada bagian utara terdapat pilar batu yang dibangun mewakili kekaisaran romawi Kaisar Marcus Aurelius pada masa sekitar abad 2 sebelum Masehi. Ada tampak keluarga, figur suami, isteri dan anak. Dahulu dewa digambarkan seperti keluarga. Namun pendapat lain mengatakan ini adalah saudara laki-laki Sobek yang juga berwujud buaya. Kuil ini sudah lama dibangun sebelum Masehi.

Kini kuil memang tinggal reruntuhan saja dan tampak tak utuh. Namun para peneliti dan arkeolog masih mengerjakan makna simbol dari kuil ini sebagai informasi terbaru. Juga para ahli pengobatan berusaha memecahkan simbol yang sangat bermakna sekali di sini. Contohnya anda bisa melihat bagaimana proses persalinan terjadi. Atau ada tertulis tentang manfaat buah almond bagus untuk kulit dan rambut. Lainnya khasiat resep mujarab yang bisa dimanfaatkan dunia pengobatan. Sayangnya semua masih tertulis dalam huruf mesir kuno.

Sebagian yang tersisa.

Sampai sekarang para ahli berusaha memecahkan teka-teki simbol yang tertulis pada candi. Dan pekerjaan itu belum selesai, yang didanai lembaga internasional.

Tur kuil berakhir pada lorong pengukur ketinggian air sungai nil. Dahulu belum ada ukuran yang berlaku sebagaimana mestinya. Di kuil ini ada lorong mengukur ketinggian air yang dibangun dari menara dengan ukuran berupa tangga. Tangga ini menjadi ketinggian sungai nil untuk mengantisipasi luapan sungai yang tidak dikehendaki.

Kunjungan berlanjut ke museum buaya yang letaknya bersebelahan. Cerita berlanjut!

Mesir (2): Malam Pertama Menginap di Hotel, Malam Kedua di Kapal Wisata

Sunset di sungai Nil, kota Luxor.
Makan malam dari kapal wisata.

Tiba di Hurghada, bandara internasional, kami segera mengurus visa. Antrian begitu banyak mengingat pesawat yang kami tumpangi dari Jerman membawa turis yang hendak berlibur. Setelah urusan visa dan bagasi selesai, kami bergegas menuju pintu keluar.

Di petunjuk informasi agen tur kami dikatakan bahwa ada petugas tur yang menjemput. Ternyata seorang petugas biro perjalanan mengarahkan kami pada mobil mini van menuju hotel, tempat kami menginap malam pertama. Rupanya dalam mobil sudah ada turis-turis dari Jerman juga yang menuju ke hotel dengan jalur yang sama.

Dance performance sebagai program malam di hotel kami menginap malam pertama.
Buah jambu biji ada di Mesir.

Tiba di hotel, petugas resepsionis menyambut kami dengan ramah dalam bahasa Jerman. Karena kami sudah lapar, kami langsung bisa menuju lokasi restoran, tempat makan malam. Cerita soal makanan bisa dicek sebelumnya di sini.

Setelah makan malam, kami melihat sekelompok tamu hotel duduk di tepi kolam renang menikmati shisa dan menonton film di layar lebar. Kami melewatinya karena kami mendengar atraksi musik dan tarian yang lebih menarik. Lokasinya ada di amphiteater. Ini adalah amphiteater buatan hotel yang membuat tamu hotel bisa menyaksikan apa saja di panggung dengan bangku-bangku mirip stadion.

Perjalanan dari Hurghada ke Luxor.

Atraksi undian dari hotel hingga tarian mempesona kami sebagai tamu hotel. Kami jadi tidak bosan selama di hotel yang berada di tepi laut merah ini. Pihak hotel juga menyediakan aneka minuman seperti kopi, teh hingg cocktail gratis. Sedangkan minuman alkohol harus membayar ekstra. Tersedia juga gratis popcorn dan permen kapas sesuai permintaan.

Ini liburan malam pertama, kami sudah lelah. Padahal tidak ada perbedaan waktu antara Jerman dan Mesir di musim panas.

Masjid besar di kota Qena.
Melewati kota Qena.

Besok pagi kami harus berpindah kota dari Hurghada ke Luxor. Setelah makan pagi di restoran, ada mini van yang menjemput kami sebelum kami berpindah naik bis ke Luxor.

Kami menempuh perjalanan selama 5 jam dari Hurghada dengan menumpang bis ekslusif, tanpa khawatir kepanasan. Padahal suhu udara di Mesir mencapai 40 derajat celcius. Luar biasa kan!

Kami berhenti 30 menit di untuk istirahat dan ‘urusan toilet’. Sepanjang perjalanan, kami hanya menemukan padang luas yang berbatu dan gersang.

Bis hampir mendekati kota Luxor, tiba-tiba tour guide mengatakan bahwa kami tiba di kota yang cukup besar bernama Qena. Kota ini berada di selatan Mesir. Kami bisa mengamati bagaimana kehidupan masyarakat Mesir umumnya.

Setelah kota Qena, kami langsung menuju Luxor. Kota Luxor berarti kota yang terkesan lux karena terdapat istana raja. Kota ini dilalui sungai nil. Di sini kami akan melalui wisata sungai nil dan menginap satu minggu di kapal wisata.

Tampak desain lobby kapal menuju ke kamar.

Tiba di kapal wisata tujuan, pemandu tur sudah menyambut kami. Kami langsung mendapatkan kamar tidur dan bergegas mendapatkan himbauan mengenai panduan perjalanan selama kami di kapal.

Makan siang dan makan malam dilayani secara prasmanan. Malam ini kami berlabuh di Luxor. Dan selama tujuh hari kami menginap di sini, dengan fasilitas seperti hotel bintang lima. Di kamar mandi didesain ekslusif dengan bathtube misalnya. Atau dek atas terdapat balkon, kafe, kolam renang, klinik dan fasilitas lainnya akan diceritakan secara terpisah.

Makanan Khas Afrika (3): Tumis Hati Sapi ala Mesir

Nasi dan tumis hati sapi.

Waktu makan malam tiba. Kami masih dalam perjalanan dari bandara udara menuju hotel. Begitu tiba di hotel, tempat kami menginap pertama kali, kami sudah mencium aroma masakan. Maklum saja, kami sedang melalukan check in di resepsionis hotel yang ternyata letaknya dekat dengan restoran. Selesai check in, petugas mengarahkan kami untuk makan malam sementara barang dan koper kami langsung di antar ke kamar.

Aksi koki memasak tumis hati sapi.

Makan yang disediakan hotel itu sistim buffet, saya memilih yang saya mau. Tiba di giliran bagian daging, matanya saya tertuju pada aksi koki yang memasaknya penuh semangat berapi-api. Bayangkan saja aksinya ini membuat aroma masakan semakin menjadi-jadi. Saya pun lapar. Tertulis nama menu adalah tumis hati sapi.

Si koki tersenyum saat saya menyodorkan piring. Koki menjelaskan dalam bahasa Inggris 2 menit lagi. Saya pun menunggu demi tumis hati yang saya inginkan.

Piring pun terisi porsi tumis hati sapi yang saya inginkan. Ini berbeda dengan tumis hati yang pernah saya pesan di restoran Yunani. Cerita saya di cek di sini.

Segera saya mengambil nasi putih yang dimasak dengan gaya khas Mesir. Warna nasi pun tak putih seperti yang sering saya makan. Ada rasa dan bumbu yang dimasukkan di dalamnya. Ini seperti nasi berbumbu dengan warna cokelat terang. Tetapi ini bukan nasi goreng.

Kembali ke tumis hati sapi, ada warna cokelat kehitaman dari saus yang diberikan. Ini berasa sedikit manis gurih dalam sausnya. Sementara potongan hati sapi dibiarkan menyatu dengan potongan sayur. Ada wortel, timun jepang, paprika, daun capri dan bawang bombay. Rasanya sudah pasti mantap dan enak!

Ini mungkin bisa jadi ide anda memasak tumis hati sapi ala Mesir seperti yang saya ceritakan di atas.

Mesir (1): Begini Urus Visa Wisata

Selamat datang di bandara udara Internasional Hurghada, Mesir.

Akhirnya liburan musim panas tiba. Kami putuskan pergi ke Mesir tahun ini. Kami memang mengagendakan berangkat ke Mesir untuk merasakan sensasi wellness urlaub seperti yang pernah saya ceritakan di sini. Menurut suami saya, liburan seyogyanya tidak disibukkan dengan berbagai urusan ini itu yang membuat stress. Dia ingin bahwa kami bisa berlibur dengan rileks, santai dan membuat kita benar-benar merasakan liburan.

Sepakat! Saya pun harus urus visa Mesir di Frankfurt. Di Jerman, ada tiga tempat untuk mengurusnya dan yang terdekat dari lokasi rumah tinggal adalah Frankfurt. Meskipun begitu, saya dan suami harus menginap semalam di hotel di Frankfurt. Akhirnya saya pun menyambangi kota metropolitan Frankfurt untuk selembar visa.

Sebagai penduduk Jerman, suami hanya perlu visa on arrival. Dia membayar 30€ begitu tiba di pintu terminal kedatangan bandara internasional Hurghada.

Syarat visa yang diperlukan untuk saya adalah

1. Pas foto berlatarbelakang putih 2 lembar.

2. Formulir aplikasi yang bisa diunduh di website kedutaan Mesir atau datang langsung ke kantor pengurusan visa Mesir. Setelah formulir terisi, fotokopi sebanyak dua kali.

3. Agenda perjalanan dan booking hotel dari biro perjalanan dan fotokopi dua kali.

4. Paspor asli dan dua lembar fotokopinya.

5. Kartu ijin tinggal di Jerman dan dua lembar fotokopinya.

6. Lembar amplop tertutup (karena visa saya dikirimkan via pos yang terdaftar)

7. Terakhir, bayar visa sebesar 38€.

Mudah ‘kan?

Tiba di gedung konsuler Mesir di Frankfurt, kami disambut petugas jaga di depan pintu. Telepon genggam ditahan petugas. Kami pun ditanya tujuan kedatangan. Karena kami bermaksud untuk membuat visa wisata ke Mesir maka kami diberi kartu beraksara bukan latin. Kartu ini sebagai jaminan penahanan telepon genggam. Jika urusan sudah selesai, kartu diberikan kepada petugas untuk mendapatkan telepon genggam kembali.

Kami diarahkan pada bagian pengurusan visa yang dilayani secara manual oleh satu orang petugas. Kami pun berdiri mengantri.

Saat saya menyerahkan dokumen, tidak banyak pertanyaan dari petugas. Stafnya dengan ramah membantu saya untuk menyiapkan dokumen yang langsung saya lengkapi saat itu juga. Bahkan beliau menyarankan saya agar visa yang sudah selesai sebaiknya dikirim via pos, ketimbang menunggu dua hari kemudian.

Done! Visa selesai. Kemudian visa dikirim via pos dalam kurun waktu kurang dari lima hari.

Keren!

Tips,

  1. Datang lebih awal sehingga bisa melengkapi kekurangan yang diminta petugas.
  2. Siapkan dokumen sesuai tujuan anda.
  3. Berpakaianlah rapi dan sopan.

Nantikan cerita liburan saya ke Mesir selanjutnya!