Amsterdam (7): Begijnhof, Kisah Desa Tradisional di Pusat Kota

Sebagian besar didominasi bangunan abad 17 dan 18.
Ini area yang tidak boleh dimasuki turis.
Tak ada penjelasan siapa patung ini, mungkin ini adalah Cornelia Arents, the beguinage yang tidak mau dimakamkan di dekat gereja protestan. Tampak belakang adalah gereja protestan.

Jika di Seoul ada desa tradisional Namsangol Hanok village seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, maka di Amsterdam bisa jadi punya Begijnhof yang letaknya juga di pusat kota. Saya mengetahuinya setelah saya dan suami berkunjung ke Amsterdam Museum. Letaknya yang menjorok ke dalam memang tak mudah ditemukan. Begitu masuk ke dalam dalam, anda dilarang berisik dan membuat kegaduhan.

Baca: Desa tradisional di kota Seoul

Begijnhof dinyatakan muncul sekitar abad 14 dimana warga Belanda masih religius dan termasuk penganut Katolik taat, seperti yang tampak di sini. Di desa ini hidup banyak perempuan yang memilih untuk selibat, seperti biarawati yakni mereka memilih tidak menikah dan mengabdikan diri untuk Tuhan dan sesama. Tetapi mereka sesungguhnya bukan biarawati karena mereka tidak mengambil sumpah. Begitu saya membacanya di papan informasi. Sebagian rumah-rumah di sini dibangun pada abad pertengahan dan sedikit mengalami perbaikan. Apalagi Beginjhof pernah mengalami kebakaran. Ada satu rumah yang diperbaiki juga tahun 1950-an.

Sebagaimana anda tahu bahwa abad 15 muncullah gerakan Luther yang mengawali perubahan dalam gereja Katolik. Gerakan protes Luther yang berasal dari Wittenberg, Jerman terhadap gereja memberi pengaruh hingga ke Belanda. Sempat terdengar, abad 16 terjadi reformasi gereja di Belanda sehingga sebagian besar warga beralih menjadi penganut gereja Lutheran. Banyak warga Belanda tak lagi menjadi penganut ajaran katolik, tetapi tidak untuk sekelompok warga yang tinggal di Beginjhof. Sebagai informasi, Belanda bagian utara didominasi warga Kristen Protestan dan warga di bagian selatan didominasi warga Katolik.

Baca: Mengunjungi gereja All Saints, tempat Luther menempelkan 150 Thesisnya

Penduduk di Begijnhof menamakan diri sebagai ‘the beguinage’ memilih bertahan di desa itu dan terisolir. Mereka mempertahankan gereja katolik yang ada di situ. Sekilas kapel yang terletak di nomor 31 seperti rumah biasa, dikarenakan mereka ingin menyembunyikannya. Munculnya gerakan reformasi gereja menyebabkan Beginjhof punya gereja protestan juga. Kini ada dua gereja, yakni gereja katolik dan gereja protestan. Ada yang menjuluki gereja ini adalah gereja tersembunyi karena umumnya gereja selalu tampak terlihat dan terbuka.

Salah satu dinding rumah warga.
Gerbang masuk yang di atas pintu tampak prasasti batu Santa Ursula, sebagai pelindung.
Gereja protestan.
Kapel, yang keseluruhan adalah bangunan asli abad 16, bangunan paling tua di situ.

Tercatat orang terakhir ‘the beguinage’ wafat sekitar tahun 1970. Meski tak ada lagi orang asli Begijnhof, tetapi masih ada sampai sekarang 108 perempuan yang memilih tetap tinggal dan merawat desa itu. Itu sebab, orang yang datang diminta untuk tidak buat kegaduhan. Turis boleh melihat-lihat, berfoto dan berdoa di dalam gereja juga.

Ini menjadi spot foto bagi turis karena desa ini masih terdapat bangunan Houten Huys, tipe bangunan di Belanda pada abad pertengahan. Di tengah keriuhan pusat wisata Amsterdam, ternyata ada Begijnhof yang memberi ketenangan. Mereka sengaja menciptakan suasana batin yang damai, terisolir dari hiruk pikuk kota Amsterdam.

Selamat berhari Minggu bersama keluarga!