Keriaan Oktoberfest 2019 yang Telah Berlalu

Patung Theresienwiese yang menjadi sejarah keberadaan Oktoberfest.
Langit mendung, tak cerah.
Meski cuaca tak mendukung, pengunjung di luar aula juga padat.
Wahana ini paling menegangkan. Anda berani?

Tahun ini saya dan suami datang ke Oktoberfest di awal Oktober. Biasanya saya datang ke acara festival budaya tahunan tersebut setiap bulan September. Tahun ini acara volkfest terbesar di Bavaria tersebut diperpanjang hingga 6 Oktober 2019. Itu sebab kami memutuskan datang menjelang penutupan.

Pertama, kondisi cuaca sungguh tidak mendukung. Rupanya sepanjang hari hujan melanda wilayah Bavaria. Kami berangkat suhu mendekati 8 derajat celcius. Padahal sekarang ini masih musim gugur. Kami urung pakai transportasi umum. Dengan begitu tidak ada acara minum bir buat kami karena kami mengendarai kendaraan pribadi. Kami berencana menikmati musik dan wahana permainan.

Begitu tiba di lokasi, hujan tak berhenti meski suhunya dua sampai empat derajat celcius lebih hangat dibandingkan sebelumnya. Saya mulai merasa kedinginan karena hujan terus mengguyur di luar prediksi. Ditambah saya memakai dirndl tanpa jaket. Lengkap sudah rasa tak nyaman dibalik keriaan volkfest yang biasanya kami hadiri. Tahun lalu kami begitu ceria dalam liputan saya di Oktoberfest 2018 ini.

Pengunjung ceria memenuhi wahana permainan.
Tiap booth di luar makanan didesain unik dan menarik.
Aula sudah penuh.
Schweinwurstl dan sauekraut.
Goulash suppe.

Kami segera parkir mobil, jaraknya tak begitu jauh dari lokasi. Biaya parkir sepanjang hari 20€. Kami pikir hujan akan berlalu, ternyata tidak. Kami segera merapat ke aula-aula yang menawarkan acara istimewa dan kuliner. Rupanya hujan gerimis membuat suasana aula menjadi lebih penuh. Pengunjung memadati aula sembari menghindari hujan di luar. Tanpa reservasi di aula, kemungkinan kecil untuk menikmati acara di aula.

Padat sekali pengunjung oktoberfest saat kami datang. Suara orang berbicara dalam bahasa bukan deutsch, menandakan pengunjung adalah turis mancanegara. Kami akhirnya hanya mendapat bangku di luar aula untuk memesan makan siang. Pemeriksaan di tiap aula begitu ketat. Demikian pula petugas jaga dan keamanan sigap dan lalu lalang menjaga kenyamanan pengunjung.

Langit mendung menggelayuti ibukota Bavaria. Namun begitu, semakin sore pengunjung semakin memenuhi acara Oktoberfest. Pengunjung membludak penuh tawa dan teriakan di tiap wahana permainan. Aula penuh bahkan ada yang sudah ditutup karena padatnya aula di dalam. Suara blaskapelle dan musik terdengar di masing-masing aula. Keriaan pengunjung di aula begitu terasa hingga pengunjung tanpa reservasi begitu sulit masuk.

Begitulah pengalaman Oktoberfest kami tahun ini yang telah berlalu.

Advertisements

Selamat Bayern München! Juara Bundesliga 7 Kali Berturut-turut

Sabtu akhir pekan lalu (18/7) kami sudah mulai menyisihkan waktu sore hari untuk nonton pertandingan sepak bola, Bundesliga.

Soal sepak bola, warga di sini antusias untuk menyaksikannya entah secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, pertandingan final antara klub Bayern München dengan lawannya diadakan di stadion Alianz Arena, Munich Sedangkan secara tidak langsung, kita harus menontonnya di televisi berbayar. Artinya, tidak semua orang punya televisi berbayar tersebut di rumah. Kebanyakan mereka menikmatinya di biergarten atau kafe yang punya fasilitas tersebut.

Kami pun tak ketinggalan. Saya yang tak paham tentang dunia sepak bola pun terbawa antusias untuk menyaksikannya. Dan jangan suruh saya menuliskan pertandingan sepak bola! Saya tidak bisa. Saya menuliskan dari sudut pandang berbeda. Misalnya, juara bertahan selama tujuh kali berturut-turut merupakan hal luar biasa. Itu pendapat saya.

Tahun-tahun kemenangan Bayern München di Bundesliga.

Bayangkan di sepanjang ruas jalan di stadion Alianz Arena terpasang banner tahun dimana klub Bayern München ini menang sebagai juara Bundesliga.

Orang-orang di sini memenuhi kafe/biergarten yang menyediakan fasilitas pertandingan Bundesliga.

Setelah ditelusuri rupanya juara bertahan tujuh kali berturut-turut sejak 2013 ini telah memenangkan Bundesliga sejak tahun 1932. Prestasi luar biasa, apalagi harus dipertahankan di tengah kekuatan lawan yang sama-sama mumpuni.

Euforia kemenangan memang melanda markas Bayern München. Tampak ucapan sebagai Bundesmeister terpampang jelas. Kemenangan Bayern München menggenapi tujuh kali juara.

Belajar menjadi juara, pernah saya tuliskan di link ini. Menjadi juara bukan akhir segalanya. Justru itu adalah permulaan untuk memulai mental juara sesungguhnya.

Marstallmuseum, Munich (2): Galeri Kereta Kencana yang Mewah Nan Bersejarah

Kereta kencana yang digunakan Raja Ludwig II pada musim panas.
Kereta kencana yang digunakan Raja Max I Joseph pada penobatan kedua menjadi Raja.
Lambang hercules yang diberi lingkaran merah.
Kereta kencana lainnya.
Gerbong kereta kuda yang dipakai bangsawan Maria Antonia von Österreich (1669-1692) yang menikah dengan bangsawan Bavaria.

Melanjutkan kunjungan ke Marstallmuseum yang sudah diulas sebelumnya, maka saya ajak lagi membahas sisi lain dari museum yakni pameran kereta kencana yang tak semua orang di dunia memilikinya. Di museum ini tersimpan kereta kuda dan taksi mewah milik keluarga bangsawan Bavaria selama tiga abad. Kereta kuda ini bukan hanya sekedar alat transportasi saja, tetapi lambang status dan prestige bagi pemiliknya. Museum ini menjadi warisan berharga dunia yang memamerkan lebih dari sekedar museum transportasi saja, melainkan karya seni berharga yang memperlihatkan koleksi mewah dan detil aksesoris yang melengkapinya.

Kunjungan saya memang tak lama, namun ini berbeda bagi pecinta koleksi museum yang ingin memperhatikan tiap detil kereta kencana dari masa ke masa. Di museum ini saya tidak mendapati tour guide tetapi setiap lokasi selalu dilengkapi media visual yang menjelaskannya. Hal menariknya, museum menyediakan tayangan video singkat dan sofa untuk menikmati galeri potret kuda dan kereta kencana. Gemerincing kaki kuda pun diperdengarkan sehingga membawa pengunjung seolah-olah seperti di masa lalu.

Konon bangunan museum semula memang diperuntukkan untuk sekolah berkuda. Mengingat warisan kereta kencana yang mewah dan bersejarah maka diputuskan untuk membuat museum agar bisa dinikmati publik. Untuk kereta yang bersejarah diberi sorototan istimewa semisal kereta yang pernah dipakai Charles Albert dan Maximillian I. Ada juga kereta kencana yang terinspirasi dari kereta kencana Inggris dan Prancis pada abad 17.

Museum ini menyimpan koleksi kereta kuda selama abad 17 hingga abad 19. Ada gerbong keretanya, replika kuda, kereta luncur, kereta rekreasi, kereta gala penobatan hingga aksesoris kuda yang dipakai pada masa itu. Dahulu juga kuda yang biasa dipakai keluarga kerajaan diberi nama dan dilukis. Lukisan tiap kuda dan namanya juga ada di sini.

Kereta jenazah.

Saya juga menemukan kereta jenazah yang dipakai pada masa lalu. Untuk kereta jenazah tidak memperlihatkan kemewahan. Kereta ini seperti peti dibungkus warna hitam dan ornamen sederhana.

Di sudut lain, saya memperhatikan kereta indah yang dipakai raja Ludwig II ke Istana Linderhof pada musim panas. Sedangkan di musim dingin, kereta kuda ini dilengkapi tudung untuk menutupi si kusir.

Kereta kencana paling tua adalah yang dipakai Bangsawan Max Emanuel (1680-1726). Di kereta tersebut terdapat patung yang melambangkan hercules yang dalam mitologi Yunani digambarkan sebagai manusia terkuat. Konon Bangsawan Max Emanuel juga paling suka mengendarai kuda.

Sementara di sudut lain, ada kereta kencana yang digunakan kala penobatan Raja Max I Joseph tahun 1806. Beliau dinobatkan setelah berakhirnya perang Napoleon sekitar tahun 1800-an. Setelah perang Napoleon berakhir, Bavaria memiliki otonomi kekuasaan tersendiri. Di kereta kuda penobatan raja Bavaria pertama kali menggunakan kereta dengan empat lambang virtual di tiap ujung gerbongnya. Empat lambang tersebut adalah wisdom, strength, prosperity dan justice. Atas alasan politik, baru dilakukan penobatan raja pada kali kedua secara resmi.

Ada dua kereta yang dipamerkan yang dipakai Raja Max I Joseph. Desain gerbong kereta Raja Max I Joseph pada penobatan kedua terinspirasi dari kereta yang digunakan Raja Louis XVI saat penobatan menjadi raja dan sebelum terjadinya revolusi. Di kereta kedua ini tampak terlihat jelas lambang pemerintahan pada pintunya.

Setelah datang di museum ini, saya hanya berpikir bahwa seandainya kereta kencana ini bisa berbicara pasti mereka akan bercerita sejarah peradaban manusia di masa lalu. Setiap detilnya begitu jelas memperlihatkan karya seni, bukan sekedar alat transportasi mewah belaka. Setelah cukup berkeliling, pengunjung juga bisa datang ke lantai dua, yakni museum porselen.

Anda tak perlu bayar tiket masuk lagi menuju museum porselen, hanya saja kami tidak begitu tertarik berkunjung. Museum ini lebih memperlihatkan koleksi mewah porselen milik keluarga kerajaan. Katanya sih, dahulu porselen ini juga diproduksi sendiri sebagai perlengkapan rumah tangga hingga aksesoris dekorasi.

Sebelum berkunjung ke museum ini, kami datang ke istana Nymphenburg. Nantikan cerita kunjungan kami selengkapnya!

Marstallmuseum, Munich (1): Dari Kandang Kuda Hingga Museum

Patung kuda untuk visual pada kereta kencana dipakai saat penobatan Kaisar Karls VII.
Pintu masuk dan hiasan ukiran gaya rococo tampak mencolok di kereta kencana ini.
Kereta kencana yang dipakai untuk penobatan Kaisar Karls VII.
Replika kuda yang dipakai bangsawan jaman dulu.
Replika kereta kuda dan pengiringnya yang digunakan bangsawan masa lalu.

Kunjungan saya akhir pekan lalu ke sebuah museum yang menarik di sekitaran München. Nama museum ini adalah Marstallmuseum yang letaknya berdekatan dengan kastil, Schloss Nymphenburg. Untuk tiketnya bisa juga sekalian digabung dengan kunjungan ke kastil. Tiket gabungan untuk mahasiswa harganya jadi lebih murah yakni 8,5€ sedangkan tiket umum adalah 10€.

Museum ini awalnya memang untuk kandang kuda dan meletakkan kereta kencana yang digunakan para bangsawan dari keluarga kerajaan Bavaria. Bangunannya sendiri sudah ada sejak tahun 1719. Karena letaknya bersebelahan dengan kastil yang jadi kediaman para bangsawan, maka kandang kuda ini pun disulap menjadi tempat yang menawan. Di sini pula ada beragam kereta kencana yang digunakan kaisar dan permaisuri sebagai moda transportasi di jaman dulu kala.

Tahun 1923 museum ini dibuka untuk umum setelah mempertimbangkan aneka koleksi yang sangat berharga dan bersejarah. Di sini pengunjung bisa melihat kuda lengkap dengan namanya sebagai transportasi yang digunakan bangsawan. Informasi ini diperlihatkan lewat lukisan masing-masing kuda dengan namanya. Bahkan ada lukisan yang memperlihatkan Raja Ludwig II sedang menunggang kuda kesayangannya.

Pada saat museum ini dibuka, tentu tak luput dari kejadian perang dunia kedua yang melanda Jerman. Tempat ini juga menjadi korban dan mengalami kerusakan. Museum ini sempat diungsikan ke dekat bagian kastil yang memang letaknya dekat. Selesai direnovasi, museum ini kemudian dibuka lagi untuk umum.

Lukisan kuda berikut namanya yang digunakan bangsawan masa lalu.
Kereta kencana lainnya.

Untuk menghidupkan suasana museum, pengunjung seperti mendengarkan suara gemerincing kaki kuda yang membawa kereta kencana. Tidak hanya itu. Ada patung kuda yang mirip sekali dan memang untuk memvisualisasikan bagaimana sesungguhnya kendaraan ini dijalankan.

Visualisasi lainnya juga memperlihatkan bagaimana kuda dan kereta kencana berjalan dalam satu kelompok panji kekaisaran berjalan beriringan sampai berpuluh-puluh kilometer panjangnya. Hal menarik lainnya adalah keunikan tiap kereta kencana yang menjadi simbol si pemakainya. Di abad 18 gaya arsitektur rococo memang sedang menjadi trend di Eropa, termasuk dalam kereta kencana ini pun ada tangan arsitek dan seniman yang membuatnya tampak sempurna.

Museum ini menjadi berharga bukan hanya nilai sejarah yang tersimpan ratusan tahun lalu. Misalnya, ada kereta kencana yang digunakan Kaisar Karls VII saat dinobatkan jadi raja. Museum ini juga memperlihatkan karya seni dunia yang terwakili lewat moda transportasi kereta kencana. Bayangkan saja ukiran yang detil dan lukisan sempurna terpahat di kereta kencana ini yang menunjukkan jejak produk seni yang lengkap. Dahulu kereta kencana ini lambang status pemiliknya.

Nantikan cerita saya berikutnya!

Airbrau, Menikmati Sensasi Makanan Bavaria dan Biergarten di Airport: Rekomendasi Tempat (20)

Seelachs knusprig gebackene.
Altes Bayerischer Knuspriger Schweinebraten.

Liburan musim panas datang. Orang hilir mudik di bandara, termasuk bandara wilayah tempat tinggal yakni bandara Franz Josef Strauß. Bandara yang sempat menyandang bandara terbaik ketiga di dunia tahun 2016, juga tak luput dari kebanyakan orang di sini yang berlibur. Tak lupa kami pun berada di bandara Munich yang keren ini.

Di bandara ini bisa jadi anda berkesempatan hanya sekedar transit atau tidak punya waktu banyak. Perut lapar dan ingin mencoba sensasi kuliner khas Bavaria. Atau anda terbiasa minum bir dan ingin merasakan sensasi bir yang khas di sini, namun hanya punya waktu sebentardi bandara. Bisa jadi begitu banyak keinginan namun waktu tak banyak.

Rekomendasi tempat berikut adalah restoran dan biergarten ala Bavaria. Adalah Airbrau, restoran yang dibuat dengan suasana seperti biergarten dan citarasa masakan lokal yang lezat. Pramusaji pun mengenakan pakaian tradisional. Tempatnya luas dan nyaman untuk menikmati suasana di bandara.

Sebelum kami berpergian liburan, sempatkan mampir di sini. Bagi pecinta bir, silahkan tanyakan rekomendasi bir yang disuka. Sedangkan untuk makanan lokal, menu masakan tertera juga dalam bahasa Inggris.

Jika tidak ingin minum bir, ada banyak pilihan minuman lain juga yang bisa dinikmati. Suasananya asyik sambil menunggu di bandara. Ada banyak pilihan menu lokal dan lainnya yang juga bisa dipilih.

Thai Basil dan Ikan Krispi, Asiagourmet: Rekomendasi Tempat (9)

Asiagourmet di Hauptbahnhof Munich.



Di Jerman, anda tak perlu khawatir bila merindukan masakan tanah air atau dari Asia. Pasalnya banyak gerai masakan Asia yang banyak dibuka, termasuk kota besar seperti Munich. Barangkali jika anda berkunjung ke Munich, anda bisa mampir mencobanya. 

Salah satu dari imbiss yang menjual makanan Asia adalah Asiagourmet. Saya dan suami mendapatinya di stasiun pusat, Hauptbahnhof  Munich saat kami sedang menjemput seorang kenalan yang hendak bertualang di Munich. Sebenarnya Asiagourmet adalah satu dari sekian imbiss makanan Asia yang ada di Hauptbahnhof

Makanan yang dipesan adalah Thai Basil dengan daging sapi. Ini bukan kali pertama saya mencicipinya. Saya sering memesannya di restoran Thailand di Jakarta atau di Thailand langsung. Barangkali berbeda dari masakan yang biasa saya coba sebelumnya. Ternyata berbeda.

Thai Basil.

Thail Basil yang saya pesan di Asiagourment sedikit berkuah kental, sementara pengalaman sebelumnya Thai Basil tidak berkuah, hanya sedikit berminyak karena proses ditumis. Thai Basil di Asiagourmet juga menggunakan daging sapi yang dipotong agak besar. Sayurannya pun lebih lengkap yakni wortel, brokoli, buncis, paprika, dan semacamnya. Rasanya juga sama pedasnya. 


Thai Basil yang pernah saya coba hanya menggunakan daun kemangi saja dan daging giling sehingga potongannya tidak besar. Lalu prosesnya hanya ditumis biasa dan tidak berair. Kadang diberi topping, telur mata sapi. Itu pengalaman saya mencoba Thai Basil sebelumnya. Di Asiagourmet, tak ada telur mata sapi. Nasi diletakkan di pinggir sehingga bercampur kuah. Seandainya tak berkuah seperti yang saya bayangkan, itu pemikiran saya.

Ikan krispi dan cah sayur.

Suami saya lebih memilih ikan. Sebenarnya dia suka cap cay yakni sejenis aneka sayuran yang ditumis dengan makanan laut. Karena tidak menemukannya, pilihan jatuh pada ikan dori fillet yang diberi tepung sehingga terasa krispi. Lalu di sekitarnya, ada sayuran seperti wortel, brokoli, buncis, jamur dan sebagainya yang ditumpuk di bawah ikan. 

Fillet ikan dori diberi tepung seperti biasa. Lalu digoreng dalam minyak penuh sehingga terasa tekstur krispi. Kemudian ikan dipotong-potong sebelum disajikan. Sedangkan untuk sayuran, prosesnya hanya ditumis biasa dan tidak terlalu berbumbu. Mungkin hanya menggunakan bawang saja.

Untuk harga, pastinya masih terjangkau ketimbang anda membeli makanan di restoran. Total membayar berikut minuman sekitar 18€. Kedua menu di atas hanya perkiraan saja, nama masakan saya lupa mencatatnya. Bagaimana menurut anda?

Anda ingin mencoba memasaknya di rumah atau anda ingin mencicipi langsung di Jerman?

Weißwurst, Sosis Putih Makanan Khas Bavaria

Weißwurst dimasak sendiri di rumah bersama roti pretzel.

Roti pretzel.

Satu kali teman baik kami mengundang makan di salah satu restoran terbaik di Munich. Kami janji bertemu di Hauptbahnhof  Munich jam 9 pagi pada hari Sabtu, dimana kebanyakan saya dan suami bangun lebih siang karena tak ada aktivitas pekerjaan saat wiken. Alhasil kami bisa bertemu tepat waktu, sesuai janji karena tak baik bilamana kita datang terlambat di Jerman. Kami pun sama-sama menuju ke restoran untuk ngobrol, temu kangen dan makan sesuatu karena kami semua melewatkan sarapan pagi. 

Jika datang ke restoran khas Jerman memang tak ada pilihan menu makanan lain selain makanan tradisional. Makanan apa yang paling cocok disajikan di antara jeda sarapan pagi dan makan siang? Jawabannya weißwurst atau sosis putih. Saya ikut saja pilihan suami dan temannya namun saya yang belum pernah makan sosis ini. Saya sudah membayangkan pasti sosis berwarna putih. Karena ‘weiß‘ jika diterjemahkan adalah ‘putih.’

Selang lima menit memesan makanan, pramusaji datang membawakan semacam mangkok besar berbahan porselen berisi weißwurst. Lalu pramusaji menyiapkan pretzel, roti yang khas yang biasa ditemukan di Bavaria. Suami dan temannya meminum bir gandum, katanya cocok untuk menemani makan weißwurst. Saya kedapatan minum air putih bersoda. 

Ini pertama kali saya makan weißwurst sehingga saya perlu melihat bagaimana mereka mulai memakannya. Pertama-tama ambil sosis yang sudah dipanaskan tadi dari mangkok. Tiriskan airnya karena kita tidak memerlukan airnya. Lalu kupas kulit sosis dengan memotong ujung sosis yang terkelupas sedikit sehingga kemudian kita bisa merobek keseluruhan kulit sosis dengan mudah. 

Karena dimakan di rumah, boleh saya menggunakan tangan. Namun anda perlu belajar agar tetap menggunakan garpu dan pisau jika makan di restoran atau area publik.

Tampilannya jika sudah dibuka seperti ini.

Ini cocolannya, semacam mustard manis. Menurut saya seperti sambal kacang ya ‘kan?

Ini seperti perlu teknik khusus karena anda hanya perlu garpu dan pisau saja. Jika di rumah, mungkin anda bisa merobek kulit sosis dengan tangan langsung, tetapi di area publik seperti restoran maka gunakan peralatan makan anda. Rupanya saya berhasil mengupas kulit sosis dengan baik. Kata teman suami “Jetzt bist Du Bayerisch” kepada saya. Maksudnya, sekarang saya sudah menjadi penduduk Bavaria.


Weißwurst adalah makanan tradisional khas Bavaria, Jerman bagian selatan. Karena tidak ada pengawet di dalam sosis, banyak orang berpendapat sosis ini sebaiknya disajikan sebelum lonceng Gereja dibunyikan. Itu artinya dimakan sebelum makan siang dimana lonceng Gereja selalu dibunyikan saat jam 12 siang. Namun di masa kini yang penuh kemajuan teknologi seperti lemari pendingin yang baik maka weißwurst juga bisa disajikan saat malam hari setelah disimpan dulu di lemari pendingin. 

Mungkin anda bertanya mengapa sosis tersebut berwarna putih? Pertanyaan ini pun saya tanyakan kepada teman-teman saya orang Bayerisch. Sebenarnya semua sosis berasal dari daging yang berwarna merah. Lalu jika sosis itu berwarna putih karena sosis ini hanya menggunakan campuran garam meja saja sehingga daging yang semula merah jika dimasak berubah menjadi putih keabu-abuan. Garam meja tidak mengubah warna sosis. Setelah mengetahuai pembuatannya, itu sebab weißwurst harus dimakan sebelum makan siang. Begitulah sesuai kebiasaan masyarakat Bavaria jaman dulu kala ketika belum ada lemari pendingin. 

Jika anda datang saat festival semacam Oktoberfest, maka makanan weißwurst  biasa disajikan. Makannya dengan roti Pretzel lalu sosis dipotong kecil-kecil dan diberi sedikit cocolan mustard manis. Tadinya saya pikir mustard manis itu seperti sambal kacang loh karena mirip sekali. Bedanya mustard manis ini tidak pedas dan memang lebih manis. 

Begitulah informasi seputar makanan tradisional khas Bayerisch. Semoga bermanfaat! 🍻

Bussi-Gesellschaft: Cium Persahabatan ala Orang München

Tiba hari yang ditunggu, saya janjian sama mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Jerman, kebetulan lagi mampir di LMU München untuk beberapa bulan. Kami bertemu di Galerieinkazentrum, seperti pusat perbelanjaan untuk makan siang sambil ngobrol. Pas mengenali perawakan orang Indonesia, langsung dari jauh kami sudah saling tersenyum. Ups, dia langsung menempelkan pipi kanan kiri cipika cipiki. Kaget dong. Kan baru saling kenal, kok langsung nyosor gitu ya secara dia ‘kan mahasiswa, bukan mahasiswi. Lalu hal ini juga terjadi ketika pertama kali berjumpa dengan teman saya orang Jerman pas di Airport, dia pun melakukan hal yang sama pada saya.
Nah, akhirnya dia pun bercerita kebiasaan masyarakat high society di sini dimana mereka akan saling cipika cipiki baik perempuan maupun pria. Saya pun suka mengamati hal tersebut saat mereka saling berjumpa satu sama lain di tempat publik seperti Hauptbahnhof atau stasiun kereta. Atau saat mereka berjumpa di Mall atau Restoran mereka juga akan melakukan hal yang sama. Hal ini juga sempat jadi bahan diskusi saya dengan teman kelas asal Inggris, dia pun kaget dengan gaya mereka yang dikenal “Bussi-Bussi” atau “Bussi-Gesellschaft”.

Bussi adalah julukan untuk cipika cipiki atau check-kissing sedangkan Gesellschaft” dapat diartikan “society”. Jadi bussi-bussi semacam cium persahabatan masyarakat disini. Namun sepertinya tidak semua di Jerman mengenal “Bussi-bussi” karena seperti teman saya asal Saxony, dia malah tidak paham cium persahabatan ini. 

Mungkin cukup populer “Bussi-bussi” terjadi hanya di München saja. Atau cukup juga mereka menyebut “Bussi” saja sudah dipahami sebagai cium persahabatan. Ada juga yang bilang bahwa “Bussi” adalah the bavarian dialect for kiss.

Jadi jangan heran jika datang berkunjung ke München dan menemukan mereka saling cipika cipiki baik pria maupun wanita.