Museum Anjing Dachshund di Passau: Dari Pablo Picaso, Olympiade Munich 1972 Hingga Segalanya Tentang Dackel

Museum tampak depan.
Ini koleksi anjing dackel yang menggemaskan.

Anjing ini menggemaskan karena kakinya pendek tetapi badannya panjang.

Koleksi anjing dackel yang tampak mewah.

Dackel berbalut emas.

Saya mengenal aneka jenis anjing sebagai binatang peliharaan sejak hijrah ke Jerman. Untuk memelihara anjing di sini itu tidak mudah, sebagaimana yang pernah saya ceritakan di artikel ini sebelumnya. Karena begitu besar tanggung jawabnya, saya belum berani memelihara anjing di rumah. Meski saya tahu bahwa punya binatang peliharaan bisa memicu kebahagiaan.

Jika anda pecinta binatang, bahkan menyukai anjing yang menggemaskan maka anda perlu datang ke museum anjing di kota Passau, Jerman. Museum ini lebih spesifik pada jenis anjing Dachshund, atau di Jerman anjing ini lebih dikenal dengan sebutan Dackels atau Teckels juga. Namun di Bavaria lebih sering mengenal jenis anjing ini dengan sebutan dackel. Anjing jenis ini biasa menjadi hewan peliharaan di Jerman. Jika menelisik riwayatnya, anjing jenis ini berasal dari Jerman.

Begitu dicintainya anjing dackel ini sehingga hewan ini terpilih sebagai maskot penyelenggaraan olahraga terbesar di dunia. Pada tahun 1972, di München berlangsung olimpiade yang mengusung maskot Anjing dackel. Nah, di museum ini anda bisa melihat pernak-pernik sovenir yang mengusung maskot anjing dackel pada saat penyelenggaraan akbar kompetisi olahraga sejagat itu.

Di Bavaria sendiri pada jaman dulu, anjing dackel dianggap sebagai hewan yang biasa dibawa saat berburu musang dan hewan sejenisnya yang merusak hasil ladang. Dackel dianggap sebagai hewan yang tak pernah membuat kesalahan untuk menangkap hasil buruan. Dia mengendus dengan baik. Ukurannya tak sebesar anjing umumnya, kakinya pendek tetapi badannya panjang. Warna bulunya kadang cokelat, hitam atau campuran keduanya. Seperti miniatur, anjing ini lincah dan memang terlihat menggemaskan.

Di museum yang terletak di Alstadt kota Passau Jerman, museum deckel menjadi salah satu incaran turis yang datang. Tingkah pola dackel yang lucu dan menyenangkan telah membuat siapa saja yang datang jatuh hati pada aneka koleksi yang disimpan di museum ini. Pendirinya memang tertarik dengan anjing dackel. Dia telah mengumpulkan koleksi tentang dackel sejak puluhan tahun. Meski lokasi museum tak besar, tetapi ada sekitar dua ribuan koleksi tentang dackel di sini.

Tokoh dunia dengan anjing dackel.
Dackel sebagai maskot olimpiade tahun 1972 di Munich, Jerman.

Dackel di Bavaria, Jerman.

Diawali dengan tokoh dunia Pablo Picaso yang ternyata dackel lover hingga tokoh dunia lainnya. Sebut saja Ratu Elizabeth II, John F Kennedy, Marilyn Monroe, Albert Einstein hingga John Wayne adalah para tokoh dunia yang berfoto bersama dackel. Anda bisa lihat dokumentasinya di sini. Lalu beranjak ke dalam, ada dackel yang dibalut emas dalam satu kotak kaca. Anda bisa menemukan pernak-pernik dackel yang dijadikan maskot olimpiade di Munich tahun 1972.

Begitu seterusnya, koleksi sovenir tentang dackel tersimpan rapi dalam museum ini. Mulai hal yang lucu, unik dan menggemaskan hingga informasi bersejarah yang melibatkan dackel di dalamnya. Di sini pengunjung juga bisa melihat bagaimana anjing dackel di USA dikaitkan dengan hot dog, makanan favorit di sana.

Anda perlu tahu bahwa museum yang baru dibuka sejak tahun 2018 ini telah berhasil menyedot perhatian masyarakat dunia pecinta anjing atau anjing dackel. Karena ini adalah museum dackel pertama di dunia. Wow!

Bagi pencinta anjing, terutama anjing dackel perlu berkunjung ke sini. Aneka aksesoris, perlengkapan rumah tangga hingga keperluan pribadi yang diberi lambang dackel benar-benar menggemaskan. Anda bisa membelinya di depan, sebelum memasuki museum.

Advertisements

Mesir (4): Museum Buaya Berisi Mumi Buaya Ribuan Tahun Lalu

Museum Buaya berada di sebelah Kuil Ombo atau Candi Sobek. Sobek adalah nama salah satu dewa Mesir jaman dulu yang digambarkan berwajah buaya. Sobek diyakini pernah memerintah pada 2500 Sebelum Masehi. Sobek juga dipercaya penguasa air. Air bagi masyarakat Mesir adalah cinta. Bahkan mereka menyebut sungai nil adalah hadiah terindah warga Mesir. Bayangkan bahwa hujan hanya datang satu kali dalam setahun. Itu sebab air punya makna kehidupan sejak dulu.

Mumi buaya yang berusia ratusan hingga ribuan tahun.

Sudah hampir gelap kami tiba di museum buaya. Petugas jaga memeriksa tiket masuk dan mempersilahkan kami masuk. Tour guide kami menunggu di luar. Kami diperingatkan petugas jaga museum tidak boleh mendokumentasikan dengan kamera atau video elektronik. Kami hanya boleh menggunakan kamera telepon genggam, tanpa blitz. Karena buaya di sini sudah berbentuk mumi yang disucikan.

Telur hingga anak buaya yang dimumikan.

Setelah pintu masuk tampak 20 buaya yang sudah tak bernyawa di dalam etalase kaca. Kami melihat di luar kaca buaya-buaya ini tampak menghitam dengan ukuran bervariasi. Ukuran buaya mulai dari 4,3 meter hingga 2 meter. Buaya ini pernah hidup di lembah sungai nil. Kini buaya tersebut sudah berpindah habitat ke sungai selatan Aswan.

Kuil pemujaan dewa Sobek.

Buaya dianggap suci karena mewakili dewa Sobek, yang menguasai air. Di sisi lain, buaya adalah hewan vertebrata tertua yang pernah hidup di dunia. Usianya juga panjang.Di etalase lain, buaya tampak masih dimumikan dibungkus dengan kain. Terdapat juga kertas doa, namun sayang saya tidak mendokumentasikannya. Etalase lain menggambarkan perkembangan buaya yang sudah dimumikan juga. Mulai dari telur buaya, bayi buaya hingga buaya yang masih berusia beberapa bulan dalam etalase tersebut. Kunjungan museum yang singkat diakhiri dengan toko souvenir untuk turis. Selanjutnya, saya perkenalkan satu desa yang memperlihatkan buaya dan manusia bisa hidup bersama. Buaya dijadikan hewan peliharaan keluarga.

Lutherstadt Wittenberg (2): Menjelajahi Sosok Martin Luther di Museum

Tampak depan.

Data pengunjung dari berbagai belahan dunia.

Sebaran umat di seluruh dunia dalam data juga bisa disimak di museum.

Melanjutkan kunjungan saya di kota Martin Luther yakni Wittenberg, kali ini saya ajak anda menyelami bagian dalam dari gereja All Saints. Gereja ini disebut juga dalam bahasa Jerman Schlosskirche yang juga menjadi fenomenal karena tempat bersejarah terjadinya reformasi gereja. Tokoh yang merencanakan dan mengawali perubahan gereja ini adalah Martin Luther. Ini bukan hanya menjadi sejarah gereja saja, melainkan juga sejarah dunia yang penting untuk diingat.

Martin Luther dilahirkan pada 10 November 1483. Dia pula tokoh yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman, yang awalnya hanya dikenal dalam bahasa Latin. Setelah menempuh program doktoral Teologi di Italia, lima tahun kemudian ia protes terhadap kebijakan gereja saat itu. Kemudian 31 Oktober 1517, ia menancapkan 95 Thesisnya di pintu gereja All Saints atau yang juga dikenal Schlosskirche. Tahun 1525, Luther menikahi Katharina von Bora. Pada usia 63 tahun, Luther meninggal dunia.

Mengenali sosok Martin Luther, anda bisa datang ke Lutherhaus, dimana beliau pernah tinggal. Namun saya datang menjelajahi museum Schlosskirche yang juga menyimpan kronologis terjadinya reformasi gereja. Di gereja ini pula konon Luther dimakamkan bersama dua pengikutnya yang setia.

Untuk masuk ke museum ini ada bagian yang gratis dan ada bagian berbayar. Pada bagian gereja di dalam memperlihatkan umumnya gereja katolik di Jerman yang bergaya gothik. Sayangnya gereja ini sudah tak aktif dan dijadikan museum. Di sini ada benda-benda rohani yang masih terawat baik, meski sebenarnya dahulu ini adalah gereja katolik. Kini gereja ini menjadi pusat jutaan mata yang ingin tahu bagaimana terjadinya reformasi gereja yang terjadi lima ratus tahun lalu.

95 Thesis terbaca jelas.

Setelah puas berkeliling bagian dalam gereja, anda bisa melihat sisi luar gereja yang dibangun dengan informatif dan aktraktif bagi turis. Ada biografi Martin Luther dari kelahiran hingga kematiannya. Lalu juga isi Thesis Luther yang terbaca dengan baik dalam bahasa Jerman. Di sini pula ada data statistik sebaran gereja yang denominasi di seluruh dunia setelah terjadinya reformasi.

Altar.

Pengunjung yang tak pernah sepi.

Organ dan interior umumnya gereja bergaya gothik di Jerman.

Bagian belakang gereja.

Hal menarik lainnya, anda bisa melihat video dan audio dalam museum berbayar. Di depan pintu ada monitor data pengunjung yang mencatat kedatangannya. Saya adalah orang ke-79 dari Indonesia yang pernah berkunjung ke sini. Museum ini sendiri dibuka menjelang perayaan lima ratus tahun reformasi gereja tahun 2017 lalu.

Marstallmuseum, Munich (2): Galeri Kereta Kencana yang Mewah Nan Bersejarah

Kereta kencana yang digunakan Raja Ludwig II pada musim panas.

Kereta kencana yang digunakan Raja Max I Joseph pada penobatan kedua menjadi Raja.

Lambang hercules yang diberi lingkaran merah.

Kereta kencana lainnya.

Gerbong kereta kuda yang dipakai bangsawan Maria Antonia von Österreich (1669-1692) yang menikah dengan bangsawan Bavaria.

Melanjutkan kunjungan ke Marstallmuseum yang sudah diulas sebelumnya, maka saya ajak lagi membahas sisi lain dari museum yakni pameran kereta kencana yang tak semua orang di dunia memilikinya. Di museum ini tersimpan kereta kuda dan taksi mewah milik keluarga bangsawan Bavaria selama tiga abad. Kereta kuda ini bukan hanya sekedar alat transportasi saja, tetapi lambang status dan prestige bagi pemiliknya. Museum ini menjadi warisan berharga dunia yang memamerkan lebih dari sekedar museum transportasi saja, melainkan karya seni berharga yang memperlihatkan koleksi mewah dan detil aksesoris yang melengkapinya.

Kunjungan saya memang tak lama, namun ini berbeda bagi pecinta koleksi museum yang ingin memperhatikan tiap detil kereta kencana dari masa ke masa. Di museum ini saya tidak mendapati tour guide tetapi setiap lokasi selalu dilengkapi media visual yang menjelaskannya. Hal menariknya, museum menyediakan tayangan video singkat dan sofa untuk menikmati galeri potret kuda dan kereta kencana. Gemerincing kaki kuda pun diperdengarkan sehingga membawa pengunjung seolah-olah seperti di masa lalu.

Konon bangunan museum semula memang diperuntukkan untuk sekolah berkuda. Mengingat warisan kereta kencana yang mewah dan bersejarah maka diputuskan untuk membuat museum agar bisa dinikmati publik. Untuk kereta yang bersejarah diberi sorototan istimewa semisal kereta yang pernah dipakai Charles Albert dan Maximillian I. Ada juga kereta kencana yang terinspirasi dari kereta kencana Inggris dan Prancis pada abad 17.

Museum ini menyimpan koleksi kereta kuda selama abad 17 hingga abad 19. Ada gerbong keretanya, replika kuda, kereta luncur, kereta rekreasi, kereta gala penobatan hingga aksesoris kuda yang dipakai pada masa itu. Dahulu juga kuda yang biasa dipakai keluarga kerajaan diberi nama dan dilukis. Lukisan tiap kuda dan namanya juga ada di sini.

Kereta jenazah.

Saya juga menemukan kereta jenazah yang dipakai pada masa lalu. Untuk kereta jenazah tidak memperlihatkan kemewahan. Kereta ini seperti peti dibungkus warna hitam dan ornamen sederhana.

Di sudut lain, saya memperhatikan kereta indah yang dipakai raja Ludwig II ke Istana Linderhof pada musim panas. Sedangkan di musim dingin, kereta kuda ini dilengkapi tudung untuk menutupi si kusir.

Kereta kencana paling tua adalah yang dipakai Bangsawan Max Emanuel (1680-1726). Di kereta tersebut terdapat patung yang melambangkan hercules yang dalam mitologi Yunani digambarkan sebagai manusia terkuat. Konon Bangsawan Max Emanuel juga paling suka mengendarai kuda.

Sementara di sudut lain, ada kereta kencana yang digunakan kala penobatan Raja Max I Joseph tahun 1806. Beliau dinobatkan setelah berakhirnya perang Napoleon sekitar tahun 1800-an. Setelah perang Napoleon berakhir, Bavaria memiliki otonomi kekuasaan tersendiri. Di kereta kuda penobatan raja Bavaria pertama kali menggunakan kereta dengan empat lambang virtual di tiap ujung gerbongnya. Empat lambang tersebut adalah wisdom, strength, prosperity dan justice. Atas alasan politik, baru dilakukan penobatan raja pada kali kedua secara resmi.

Ada dua kereta yang dipamerkan yang dipakai Raja Max I Joseph. Desain gerbong kereta Raja Max I Joseph pada penobatan kedua terinspirasi dari kereta yang digunakan Raja Louis XVI saat penobatan menjadi raja dan sebelum terjadinya revolusi. Di kereta kedua ini tampak terlihat jelas lambang pemerintahan pada pintunya.

Setelah datang di museum ini, saya hanya berpikir bahwa seandainya kereta kencana ini bisa berbicara pasti mereka akan bercerita sejarah peradaban manusia di masa lalu. Setiap detilnya begitu jelas memperlihatkan karya seni, bukan sekedar alat transportasi mewah belaka. Setelah cukup berkeliling, pengunjung juga bisa datang ke lantai dua, yakni museum porselen.

Anda tak perlu bayar tiket masuk lagi menuju museum porselen, hanya saja kami tidak begitu tertarik berkunjung. Museum ini lebih memperlihatkan koleksi mewah porselen milik keluarga kerajaan. Katanya sih, dahulu porselen ini juga diproduksi sendiri sebagai perlengkapan rumah tangga hingga aksesoris dekorasi.

Sebelum berkunjung ke museum ini, kami datang ke istana Nymphenburg. Nantikan cerita kunjungan kami selengkapnya!

Marstallmuseum, Munich (1): Dari Kandang Kuda Hingga Museum

Patung kuda untuk visual pada kereta kencana dipakai saat penobatan Kaisar Karls VII.

Pintu masuk dan hiasan ukiran gaya rococo tampak mencolok di kereta kencana ini.

Kereta kencana yang dipakai untuk penobatan Kaisar Karls VII.

Replika kuda yang dipakai bangsawan jaman dulu.

Replika kereta kuda dan pengiringnya yang digunakan bangsawan masa lalu.

Kunjungan saya akhir pekan lalu ke sebuah museum yang menarik di sekitaran München. Nama museum ini adalah Marstallmuseum yang letaknya berdekatan dengan kastil, Schloss Nymphenburg. Untuk tiketnya bisa juga sekalian digabung dengan kunjungan ke kastil. Tiket gabungan untuk mahasiswa harganya jadi lebih murah yakni 8,5€ sedangkan tiket umum adalah 10€.

Museum ini awalnya memang untuk kandang kuda dan meletakkan kereta kencana yang digunakan para bangsawan dari keluarga kerajaan Bavaria. Bangunannya sendiri sudah ada sejak tahun 1719. Karena letaknya bersebelahan dengan kastil yang jadi kediaman para bangsawan, maka kandang kuda ini pun disulap menjadi tempat yang menawan. Di sini pula ada beragam kereta kencana yang digunakan kaisar dan permaisuri sebagai moda transportasi di jaman dulu kala.

Tahun 1923 museum ini dibuka untuk umum setelah mempertimbangkan aneka koleksi yang sangat berharga dan bersejarah. Di sini pengunjung bisa melihat kuda lengkap dengan namanya sebagai transportasi yang digunakan bangsawan. Informasi ini diperlihatkan lewat lukisan masing-masing kuda dengan namanya. Bahkan ada lukisan yang memperlihatkan Raja Ludwig II sedang menunggang kuda kesayangannya.

Pada saat museum ini dibuka, tentu tak luput dari kejadian perang dunia kedua yang melanda Jerman. Tempat ini juga menjadi korban dan mengalami kerusakan. Museum ini sempat diungsikan ke dekat bagian kastil yang memang letaknya dekat. Selesai direnovasi, museum ini kemudian dibuka lagi untuk umum.

Lukisan kuda berikut namanya yang digunakan bangsawan masa lalu.

Kereta kencana lainnya.

Untuk menghidupkan suasana museum, pengunjung seperti mendengarkan suara gemerincing kaki kuda yang membawa kereta kencana. Tidak hanya itu. Ada patung kuda yang mirip sekali dan memang untuk memvisualisasikan bagaimana sesungguhnya kendaraan ini dijalankan.

Visualisasi lainnya juga memperlihatkan bagaimana kuda dan kereta kencana berjalan dalam satu kelompok panji kekaisaran berjalan beriringan sampai berpuluh-puluh kilometer panjangnya. Hal menarik lainnya adalah keunikan tiap kereta kencana yang menjadi simbol si pemakainya. Di abad 18 gaya arsitektur rococo memang sedang menjadi trend di Eropa, termasuk dalam kereta kencana ini pun ada tangan arsitek dan seniman yang membuatnya tampak sempurna.

Museum ini menjadi berharga bukan hanya nilai sejarah yang tersimpan ratusan tahun lalu. Misalnya, ada kereta kencana yang digunakan Kaisar Karls VII saat dinobatkan jadi raja. Museum ini juga memperlihatkan karya seni dunia yang terwakili lewat moda transportasi kereta kencana. Bayangkan saja ukiran yang detil dan lukisan sempurna terpahat di kereta kencana ini yang menunjukkan jejak produk seni yang lengkap. Dahulu kereta kencana ini lambang status pemiliknya.

Nantikan cerita saya berikutnya!

Museum Porsche, Stuttguart: Suka Mobil Bermerek dan Penggemar Mobil Balap

Tampak depan museum adalah pabrik pembuatannya.

Pintu masuk museum.

Di area parkir mobil.

Suka berkendara dengan mobil? Anda wajib berkunjung ke Stuttguart. Kota ini bisa disebut kota Otomatif karena terdapat dua museum ternama yakni Museum Mercedes-Benz dan Museum Porsche. Di Jerman, ada beberapa kota yang memang menjadi sentra otomotif baik sebagai informasi maupun produksi. Salah satunya adalah Stuttguart.

Sebelumnya, saya sudah pernah berkunjung ke museum BMW di München. Dari berkunjung ini, saya jadi tahu apa singkatan BMW yang selama ini diplesetkan di Jakarta. Di depan museum, terdapat juga pabrik produksinya. Untuk berkunjung ke museum BMW, tidak dikenakan biaya tiket masuk.

Kini lanjutan dengan museum otomatif lainnya adalah porsche yang terletak di Stuttguart. Sebelum menuju ke museum, tampak kami melalui pabrik pembuatannya. Sedangkan gedungnya dibuat dengan arsitektur yang mengagumkan dan mencolok dari kejauhan. Bagaimana tidak? Ada beberapa mobil seolah sedang menempel di menara depan museum. Keren ‘kan!

Ketika memarkirkan mobil, kami melihat jajaran mobil-mobil porsche yang menawan. Tampak penasaran lagi, ketika sebuah papan informasi bertuliskan dalam bahasa Jerman dan bahasa Inggris yang mengundang atensi pengunjung. Bunyi tulisannya begini “Wenn Sie schon mal hier sind, könnten Sie auch gleich fahren.” Artinya, anda sudah di museum porsche tetapi mengapa tidak mencoba untuk mengendarainya.

Sama seperti pada museum otomatif lainnya, di museum ini disuguhi sejarah awal bagaimana porsche dirancang. Kemudian kita mendapati aneka mobil porsche dari tahun ke tahun. Bagi penggila mobil porsche pasti anda menyukainya karena bentuknya yang cool dan mengundang mata siapa saja yang melihat. Kata suami saya, mobil porsche tahun 1970-an saja bisa terjual dengan harga 200.000 Euro bahkan mungkin lebih. Sementara mungkin bagi saya yang tak paham otomatif, mobil tua biasanya harganya murah. Namun tidak untuk porsche, selalu punya nilai jual yang fantastis.

Ada kira-kira 80 kendaraan yang terpajang di sana. Pengunjung disuguhi mobil-mobil porsche yang menawan dari masa ke masa. Juga desain bangunan museum yang moderen dan mewah seolah menunjukkan identitas mobil porsche itu sendiri. Begitu pun ada sajian restoran yang bisa dinikmati pengunjung. Sedangkan bagi saya, saya cukup senang mengamati aneka sovenir yang bisa jadi buah tangan.

Hal menarik dari museum ini tersedianya arena bermain untuk anak-anak. Ini baik bagi pengunjung yang membawa anak-anak agar mereka juga bisa merasa nyaman selama di museum. Ada juga permainan mengenadarai mobil porsche sehingga anda seolah-olah mengendarainya. Juga area mobil mainan yang dimainkan dengan remote control untuk dilalui dalam jalur-jalur.

Museum yang dibangun sejak 2009 ini cocok dan direkomendasikan bagi pecinta otomotif atau penggemar mobil balap. Buat kami, cukup satu jam berkunjung. Apalagi ada biaya parkir mobil yang harus dikeluarkan. Selebihnya jika anda ingin menjangkaunya dengan kendaraan umum, anda bisa gunakan S-bahn S6 dari Hauptbahnhof. Lalu turun di Neuwirtshaus (Porscheplatz).

Jadi kapan anda akan berkunjung ke sini?

Trier, Jerman (5): Karl Marx House

Tampak depan Museum Karl Marx.

Patung Karl Marx.

Sebagaimana yang saya ceritakan sebelumnya, bahwa Trier menjadi tujuan wisatawan yang datang ke Jerman untuk menyelami sejarah masa lampau. Di Trier ini saya sudah menuliskan situs yang jadi peninggalan kekaisaran romawi. Bahkan bangunan yang megah seperti layaknya di Roma, Italia yang masih dipertahankan hingga sekarang. Rupanya tak hanya itu Trier dikenal, kota ini juga tempat kelahiran pemikir besar dunia. Dia adalah Karl Marx yang dikenal sebagai filosof, ekonom, sejarahwan bahkan bisa disebut politisi. Namanya dikenal dunia lewat buah gagasan yang dicetuskannya.

Sebagian orang di dunia masih mengagumi karya pemikiran Karl Marx ini, terutama wisatawan dari Tiongkok. Itu sebab saat kami datang, ada beberapa kelompok wisatawan asal Tiongkok yang sedang berkunjung. Beberapa wisatawan Tiongkok lainnya tampak antri mengambil foto di depan patung Karl Marx yang dikagumi itu.

Letak museum ini dekat dengan Porta Nigra, yang akan saya ceritakan berikutnya. Karl Marx lahir tahun 1818 di Trier, kemudian wafat tahun 1883 di London. Ia lahir di rumah yang sekarang dijadikan museum. Dahulu Trier masuk dalam wilayah kekuasaan Prusia. Untuk menyelami seperti apa masa kecil dan hidup Karl Marx, silahkan datang ke museum ini!

Dunia pun mengakui buah pemikiran Karl Marx yang kemudian banyak menginspirasi dalam bidang filsafat, politik dan ekonomi. Ia sendiri dinyatakan stateless, tanpa kewarganegaraan. Semasa hidup, ia menetap di beberapa negara Eropa lainnya. Bahkan ia sempat bekerja sebagai jurnalis dan ditahan di London. Meski hidupnya tak mulus dan banyak kecaman, namun banyak orang di dunia yang masih mengaguminya hingga sekarang.

Ini yang menjadi alasan dibukanya kembali museum yang pernah jadi rumah kelahiran Karl Marx. Museum ini awalnya didirikan tahun 1928. Lalu sempat ditutup beberapa kali karena berbagai alasan. Bahkan museum itu sempat dijadikan tempat percetakan, kemudian yayasan. Namun kini museum tersebut dibuka kembali, dengan tambahan lantai tiga yang lebih luas dan lapang.

Untuk masuk, pengunjung dikenakan biaya karcis. Di sini pengunjung bisa mendapatkan informasi lengkap dari mulai brosur dan flyer tercetak hingga media audio lainnya. Setiap tahun tercatat puluhan ribu wisatawan datang ke sini. Sebagian besar wisatawan tidak hanya dari Tiongkok, tetapi juga Eropa Timur dan Rusia.

Museumsdorf Bayerischer Wald: Sekolah, Penjara dan Anak-anak di Masa Lalu (3)

Melanjutkan kunjungan saya ke museum tentang kehidupan masyarakat Bavaria, Jerman sekitar abad 16 hingga abad 20 di masa lalu, berikut lanjutannya. Untuk cerita sebelumnya dapat ditemukan dalam link berikut

Anak-anak

Spielhäuschen tampak depan.

Anak-anak mendapatkan perhatian di Jerman. Anak usia sekolah wajib bersekolah, tidak boleh seorang anak bekerja. Sebegitu perhatiannya di sini soal hak anak untuk bermain, sampai-sampai area publik seperti ruang tunggu di kantor, rumah sakit, toko pakaian, klinik, bank atau lainnya maka tersedia area bermain untuk anak. Tentang hal ini, bisa baca ulasan saya di link ini. Nah di museum ini diperlihatkan bahwa sudah ada spielhäuschen yakni arena bermain anak di masa lalu.

Kereta bayi dari masa ke masa.

Salah satu kereta bayi yang ditemukan pada abad 19.

Tak hanya itu saja, saya melihat area transportasi umum ramah terhadap orangtua yang membawa kereta bayi. Di bis umum, selalu ada area ini dan mendapatkan perhatian khusus. Lalu juga area parkir tampak orangtua dengan kereta bayi pun turut mendapatkan perhatian di sini. Berkenaan dengan kereta bayi, di museum ini diperlihatkan dari masa ke masa tentang perubahan kereta bayi. Menurut literatur dikatakan kereta bayi telah ada sejak abad 12. Perlahan dikenal juga di Jerman dan dipergunakan orangtua di sini sekitar abad 19. Museum ini lengkap memperlihatkan tentang bentuk kereta bayi yang disimpan dengan baik di sini.

Sekolah

Di bangunan ini pernah menjadi sekolah dasar, penjara sosial dan kantor pemerintahan.

Untuk mengambil gambaran seperti apa sekolah pada masa lalu, museum ini menempatkan das schulhaus yang pernah ada di salah satu kota di Bavaria. Sekolah ini semacam sekolah dasar untuk anak-anak, yang dibangun pada tahun 1666-1667. Tentu gedungnya sederhana sekali pada masa itu, masih berdinding balok kayu dan bertingkat.

Di papan informasi di museum tertulis bahwa bangunan itu pernah menjadi sekolah pada tahun 1670 – 1780. Ada beberapa ruang kelas di situ. Simulasi di salah satu kelas dijelaskan bahwa satu kelas terdiri atas bangku kayu, meja kayu, papan tulis hitam, kapur dan penghapus papan serta beberapa buku pengetahuan dan alat bantu belajar. Dalam kelas juga ada papan mengenal huruf dasar.

Papan informasi menjelaskan contoh ruangan kelas yang berlangsung selama 110 tahun, sekolah di masa lalu.

Contoh ijazah sekolah tahun 1853.

Hal menarik adalah saya mendapati bagaimana di masa lalu sudah terdapat laporan capaian siswa. Tidak dijelaskan apakah ini per semester, per tahun atau lamanya tahun. Ijazah sekolah disebut dalam bahasa Jerman “Schulzeugnis” dari seorang siswa yang pernah bersekolah di abad 19. Ada beberapa subjek mata pelajaran yang tertulis dengan tulisan tangan halus yang sudah tidak bisa terbaca oleh saya. Hanya saja penilaian dari angka 1 hingga 5. Angka 1 berarti sangat baik hingga angka 5 yang berarti sangat kurang baik. Itu asumsi saya membacanya ijazah tersebut.

Anak-anak di sini diwajibkan untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan. Orangtua harus mengupayakan anak agar mendapatkan pendidikan dan kebutuhan yang layak. Bahkan pemerintah pun tak segan memberikan bantuan material hingga non material yang memfasilitasi anak agar mendapatkan perhatian yang layak. Itu sebab di sini semua orang sudah bisa memiliki kemampuan dasar yakni membaca, menulis dan berhitung. Bayangkan bahwa tahun 1600-an di salah satu kota kecil di Bavaria, Jerman sudah dibangun sekolah dasar.

Penjara

Pojok adalah contoh masker yang dikenakan pada patung sebagai contoh hukuman. Kiri adalah papan informasi.

Contoh masker yang dikenakan pada orang yang bersalah.

Selanjutnya adalah penjara atau tempat untuk menahan orang-orang yang dianggap bersalah. Mengapa saya membahas penjara? Rupanya bangunan sekolah yang saya bahas di atas, berakhir sebagai sekolah pada tahun 1780. Di bangunan yang besar ini pula berdampingan penjara yang berlaku sekitar abad 17. Bahkan tak hanya sekolah dan penjara saja, ada Rathaus juga yang dikelola dalam bangunan yang sama. Rathaus semacam kantor urusan pemerintah.

Penjara yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang bersalah dan melanggar norma sosial dan menyangkut moral misalnya mencuri, menggunjingkan orang atau menguping. Hukumannya pun lebih pada penahanan selama satu atau sekian hari yang memberi dampak jera pada orang tersebut.

Masih ingat tentang kunjungan saya ke Schärding, Austria? Di situ saya mendapati masker atau topeng yang dipasang di wajah, sebagai hukuman bila bersalah. Di sini diperlihatkan bagaimana wajah orang yang bersalah juga mengenakan topeng seperti itu. Dikatakan mereka yang suka menggunjingkan orang maka mendapatkan masker berlidah panjang. Mereka yang bersalah dan menguping maka mendapatkan masker bertelinga besar. Atau mereka yang mencuri tangannya dipasung dengan palang kayu.

Jangan tanya siapa yang menjatuhkan hukuman tersebut! Atau bagaimana mereka yang bersalah sampai mendapatkan sanksi dan hukuman itu. Di sini tidak dijelaskan.

Masih ada satu topik lagi yang akan dibahas selanjutnya.

Museumsdorf Bayerischer Wald: Mengamati Rumah Dari Masa Ke Masa (2)

Di jaman dulu, orang bavaria banyak membangun rumah dari kayu.

Berangsur-angsur rumah dibuat dari batu granit.

Namun ada juga rumah yang dibangun dengan kedua unsur tersebut di Bavaria, Jerman.

Melanjutkan hasil kunjungan saya ke Museumdorf Bayerischer Wald, pada bagian kedua ini akan dijelaskan tentang rumah tinggal. Untuk melihat bagaimana bagian pertama dijelaskan, dapat dicek di sini.

Home sweet home. Bagaimana pun rumah tak hanya sekedar sebagai tempat berteduh, namun menjadi sejarah kehidupan manusia. Jika diamati rumah-rumah di Bavaria di masa lalu memadukan bahan bangunan kayu dan batu, bahkan hingga sekarang masih ada juga rumah yang dibangun memadukan kedua unsur tersebut. Kayu juga dipergunakan sebagai perkakas rumah tangga seperti kursi, meja, lemari, tempat tidur dan juga perkakas pekerjaan seperti pertanian dan peternakan. Sekarang perkakas rumah tangga sudah terbuat dari berbagai macam material, lebih moderen, nyaman dan praktis.

Dinding kayu di “Napoleonhäus” yang berlubang bekas hantaman peluru.

Ketika masuk museum di muka, pengunjung disuguhi Napoleonhäus, yang menjadi sejarah bagaimana masa Napoleon menguasai sebagian besar Eropa termasuk Jerman. Rumah yang berdinding kayu ini dibangun sekitar tahun 1700-an sempat ditembak pasukan Perancis sekitar tahun 1812. Periode Napoleon berkuasa berkisar tahun 1790-an hingga 1815. Lubang-lubang peluru pada dinding masih membekas, kemudian rumah ini dihuni oleh cucu, cicit dan generasi penerusnya. Sempat mengalami perbaikan, namun dinding kayu bekas peluru tetap dipertahankan.

Hal menarik lainnya yang saya amati adalah pembagian ruang dalam rumah di sini dari masa ke masa. Di tahun 1800-an misalnya perkakas perkebunan dan peternakan menjadi bagian dari rumah. Ada yang diletakkan di gudang, dalam satu atap. Ada yang diletakkan terpisah dan di luar rumah. Berangsur-angsur tak ada lagi bagian itu dalam rumah tinggal.

Ruang makan tampak sederhana di salah satu rumah 1800-an.

Berangsur-angsur ruang makan sudah tampak lebih moderen. Dan ada sofa di sebelah kiri.

Salah satu kamar tidur.

Ruangan mencuci dan mengeringkan pakaian di jaman dulu di luar rumah. Kini banyak dilakukan di keller, ruang bawah tanah atau dalam rumah.

Untuk kebutuhan mencuci dan mengeringkan pakaian di sini sudah menggunakan mesin, jaman dulu diletakkan di luar rumah, di suatu ruangan terpisah dan menggunakan papan penggilas. Di situ pula terdapat oven untuk mengeringkan pakaian, yang mungkin dipergunakan pada musim dingin. Jika sekarang semua rumah sudah memakai pemanas otomatis nan praktis di musim dingin. Di masa lalu ada tungku lengkap dengan cerobongnya untuk menghangatkan ruangan.

Baca https://liwunfamily.com/2017/10/08/ini-dia-fungsi-keller-ruang-bawah-tanah-rumah-di-jerman/

Rumah-rumah orang di sini di masa lalu memang besar, bahkan hingga bertingkat-tingkat. Itu belum termasuk keller, ruang bawah tanah dan gudang penyimpanan. Mengapa rumah di Bavaria dulu besar? Karena dalam satu rumah bisa dihuni untuk 3 generasi sekaligus. Mereka hidup dalam keluarga besar, seperti kakek-nenek hingga cucu dalam satu rumah bersamaan. Kini berangsur-angsur orang memilih hidup terpisah, meski masih ada juga orang yang mempertahankan tradisi itu.

Rumah di sini selalu besar.

Sudah tampak moderen, halaman rumah dijadikan kebun perkarangan.

Tampak pula informasi dan tempat pembuatan bagaimana orang Bavaria membuat roti sebagai makanan pokok. Boleh dibilang ada ribuan merek bir di Jerman. Nah, di sini juga kita bisa mengetahui bagaimana memproduksi bir lokal di masa lalu. Juga diperlihatkan bagaimana mereka mendapatkan sumber energi dari air atau PLTA (pembangkit listrik tenaga air). Atau bagaimana mereka yang hidup dari peternakan mengelola ternak mereka. Hmm, menarik!

Masih ada cerita selanjutnya, silahkan ditunggu ya!

Museumsdorf Bayerischer Wald: Melihat Bavaria, Jerman di Masa Lalu (1)

Bavaria adalah satu dari 16 Bundesland di Jerman. Bavaria merupakan wilayah terbesar dibandingkan wilayah lain. Letaknya berada di Jerman bagian selatan, berbatasan dengan Austria. Ibukotanya cukup populer yakni Munich. Orang Jerman menyebut Bavaria sebagai Bayern dan Munich sebagai München. Bavaria memiliki bahasa lokal dan dialek yakni Boarisch yang berbeda dari bahasa Jerman, Deutsch pada umumnya. Selain kuliner yang sering saya bahas di sini, Bavaria menyimpan banyak sejarah yang tidak banyak diketahui. Untuk mengetahuinya, suatu kali saya dan suami berkunjung ke salah satu museum di sini. Namanya Museumdorf Bayerischer Wald, yang berada di Tittling.

Karena ada banyak hal yang bisa diceritakan dari museum ini, saya akan membaginya menjadi beberapa bagian. Pada bagian pertama, saya akan jelaskan tentang museum ini.

Museum ini dibuka hanya pada periode tertentu saja, mungkin disesuaikan dengan musim. Jika musim dingin, museum tutup. Itu karena museum ini berada di lahan terbuka 20 hektar, dengan jumlah objek ada 60.000. Jumlah objek cukup banyak apalagi memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sengaja dikumpulkan, objek tersebut telah ada sejak abad 16 hingga abad 20. Harga tiketnya sendiri 7€ per orang.

Di depan museum. Ada loket tiket, restoran, toilet umum dan ruang informasi umum.

Papan informasi sejarah toilet.

Bilik toilet tampak samping.

Tampak dalam toilet yakni untuk orang dewasa dan kiri untuk anak-anak.

Gerobak sebagai alat transportasi dan pengangkut panen.

Jika diamati, bilik toilet berada tak jauh dari bak air yang semuanya berada di luar rumah.

Museum ini digagas oleh Georg Höltl pada tahun 1972. Dia bermaksud mengumpulkan objek seperti rumah, pakaian, perkakas rumah tangga dan hal-hal yang terjadi di wilayah Bavaria pada masa lalu. Ini dimaksudkan tidak hanya mengandung nilai historis saja namun sebagai sumber informasi dan edukasi. Itu sebab suami saya sudah melakukan kunjungan belajar dari sekolahnya di masa lalu ke museum ini. Karena saya ingin tahu soal budaya dan sejarah di sini, dia pun mengajak saya berkunjung ke museum ini juga.

Di museum ini anda bisa menyaksikan bagaimana rumah di Bavaria dibangun dari masa ke masa. Dahulu orang membangun hanya dengan kayu saja, kemudian tembok lalu granit dan seterusnya hingga menjadi bangunan moderen seperti sekarang. Tak hanya itu, siapa yang terpikir soal urusan buang hajat alias toilet. Di sini saya bisa menyaksikan bagaimana orang-orang di sini membuat toilet yang terpisah dari rumah. Jika sekarang toilet sudah dibuat moderen, nyaman, bersih dan menjadi bagian dari ruangan di rumah. Di jaman dulu toilet berada di depan rumah, terbuat dari kayu dan terdiri dari bangku kayu yang diberi lubang. Toilet dulu semacam bilik kayu yang letaknya di depan rumah. Itu baru soal toilet.

Hal menarik lainnya dari museum ini juga bagaimana orangtua sudah memikirkan membawa bayi dengan keranjang dorong bayi. Bentuknya pun berbeda-beda dari masa ke masa. Lain lagi soal transportasi, bahwa ketika itu belum ada mobil maka ada sejumlah gerobak yang digunakan sebagai alat pengangkut. Untuk membuat suasana seperti pada masa lalu, bangunan dan objek hanya dipindahkan dan tidak diubah seperti kondisi sebelumnya. Atau bagaimana orang di masa lalu mendapatkan pendidikan dasar yang layak. Ini disebut Volkschule.

Saya pikir museum ini layak dikunjungi jika anda suka dengan sejarah dan punya rasa ingin tahu yang besar. Tak perlu khawatir kelaparan di sini karena tersedia restoran untuk pengunjung yang letaknya di depan pintu masuk dan terpisah dari objek museum.

Cerita selanjutnya, silahkan ditunggu!