Begini 5 Penyebutan dan Cara Masak Telur di Jerman

Telur adalah salah satu stok makanan yang wajib tersedia di rumah. Pasalnya telur bisa dijadikan sarapan pagi, makan siang hingga makan malam. Semua ada pada kebutuhan anda untuk mengolah telur agar tetap lezat dinikmati. Ini juga yang saya alami selama tinggal di Jerman. Ada lima penyebutan untuk mengolah telur berdasarkan pengalaman saya tersebut.

Lima penyebutan berikut adalah cara mengolah dan memasak telur di Jerman. Biasanya makan telur berikut lebih sering saat sarapan pagi. Telur dan roti adalah contoh menu sarapan pagi yang mudah dibuat dan dikreasikan. Untuk resep telur sebagai sarapan pagi, silahkan cek di sini.

Baca: Resep olah telur dalam 5 menit untuk sarapan pagi

1. Gekochtes ei (Telur rebus)

Meski terkesan sepele, ternyata tidak semua orang bisa memasak telur rebus dengan baik.

Awalnya saya benar-benar tak tahu bagaimana memasak telur rebus dengan baik. Maklum selama saya tinggal di Indonesia, saya memang jarang sekali bersentuhan dengan dapur. Hingga akhirnya saya menikah, saya belajar memasak telur rebus dari suami. Telur rebus bisa untuk sarapan pagi atau jika sudah dingin, telur rebus bisa untuk makan malam. Akhirnya saya menjadi tahu bagaimana membuat telur rebus dengan baik setelah terbiasa bersentuhan dengan dapur selama hidup di Jerman. Ternyata mudah loh, berikut caranya.

Pertama, panaskan panci yang berisi telur yang hendak direbus dan air yang menutupi keseluruhan telur. Beri sedikit garam. Lalu tunggu hingga air mendidih. Ketika air berisi telur sudah mendidih, kecilkan api dan tunggu hingga masak selama 10 menit. Hasilnya anda akan mendapatkan telur rebus yang benar-benar matang. Telur rebus memang jadi salah satu bagian dari sarapan bagi sebagian orang Jerman. Itu sebab, mereka sampai punya perlengkapan makan untuk meletakkan telur rebus dan sendok telur. Keren!

2. Spiegelei (Telur mata sapi)

Bisa tambahkan sedikit garam dan bubuk paprika misalnya.

Telur mata sapi bisa jadi merupakan favorit anda. Mengapa telur mata sapi disebut spiegelei dalam bahasa Jerman? Spiegel diterjemahkan menjadi ‘cermin’ dan ei adalah telur. Konon telur mata sapi ini jika sudah masak di atas wajan, warna kuningnya utuh dan berkilau seperti cermin. Begitu pun warna putihnya tetap utuh. Itu sebab mereka menjulukinya sebagai spiegelei. Sementara kita menjulukinya telur mata sapi, diambil dari terjemahan julukan ‘bull’s eye’ dari hasil menggoreng telur. Dimana kuning telurnya tetap utuh seperti mata. Tetapi bagaimana orang-orang di sini membuat telur mata sapi, berikut caranya.

Panaskan wajan, lalu beri sedikit butter. Ketika butter sudah meleleh, pecahkan telur di atas wajan. Biarkan masak tanpa dibolak-balik. Beri taburan sedikit garam dan merica. Angkat telur ketika bagian bawahnya sudah masak. Kira-kira anda memasaknya selama 3-5 menit. Ada sebagian juga yang ingin telur mata sapi setengah matang, itu berarti anda jangan terlalu lama memasaknya.

3. Rührei (Telur orak-arik)

Telur orak-arik.

Teknik telur selanjutnya adalah telur orak-arik. Ini mungkin sudah sering anda buat di rumah. Sebagian orang di sini ada juga yang menikmati telur orak-arik sebagai sarapan pagi. Tentu telur orak-arik ini dinikmati bersama roti dengan butter. Di hotel di Jerman yang menyediakan sarapan pagi, maka anda biasanya bisa menemukan aneka telur yang dihidangkan termasuk telur orak-arik.

Ambil beberapa telur dan letakkan dalam wadah. Kocok telur dengan ujung garpu hingga semua telur bercampur rata. Beri garam secukupnya. Panaskan wajan dan letakkan butter pada keseluruhan permukaan wajan. Lalu tuang telur ke atas wajan datar. Telur mulai diacak-acak dengan sendok kayu setiap sisi ke tengah telur secara berirama hingga masak. Setelah telur orak-arik sudah masak, letakkan di atas piring. Anda bisa memberi taburan paprika bubuk atau merica bubuk sesuai selera.

Oh ya, tak jarang juga orang-orang di sini membuat telur orak-arik dengan schinken, bacon yang sudah matang. Jika ditambahkan bacon, maka tak perlu lagi diberi garam. Karena telur orak-arik sudah terasa asin bila diberi bacon.

4. pochierte Eier (Telur setengah matang)

Telur setengah matang.

Selanjutnya, ini adalah bagian teknik memasak telur yang sulit. Tetapi telur setengah matang yang berbeda dari telur rebus pada nomor 1 ini juga banyak digemari sebagai pilihan sarapan pagi buat kebanyakan orang-orang Jerman. Penasaran? Simak caranya berikut.

Panaskan wajan yang berisi air setengah panci kira-kira. Lalu beri garam ke dalam air. Tunggu air hingga mendidih. Pecahkan telur di mangkuk kecil agar telur tidak hancur. Jangan diaduk! Saat air mendidih maka kecilkan api sambil masukkan telur dalam mangkuk tadi. Masak hingga empat menit lamanya. Lalu angkat telur dengan sendok penyaring yang biasa digunakan untuk menggoreng. Agar tidak basah saat diletakkan di piring, pertama letakkan dulu di atas piring yang berisi tisu makan. Gunanya untuk menyerap air. Secara hati-hati, pindahkan ke piring. Belah setengah telur hingga kuningnya meleleh. Beri black paper untuk tambahan rasa.

5. Omelette (Telur dadar gulung)

Omelette dipesan saat sarapan pagi di hotel.

Terakhir adalah omelette yang mungkin juga sering anda buat di rumah. Jika olahan telur di atas bisa diterjemahkan dalam bahasa Jerman, tidak untuk omelette. Kata omelette memang berasal dari negeri tetangga, yakni Prancis yang muncul sekitar abad 18. Omelette sendiri memang jadi sarapan pagi di negerinya. Di Ho Chi Minh City, Vietnam saat saya berkunjung ke sana, saya baru tahu omelette dan roti baguette menjadi sarapan pagi yang umum. Namun, bagaimana omelette yang dibuat umumnya oleh warga di sini?

Siapkan wadah. Masukkan dua buah telur, tambahkan irisan paprika, speck, sedikit jamur jika suka, garam dan merica. Kocok yang kuat. Panaskan wajan dan masukkan butter. Masukkan adonan telur. Saat setengah matang, gulung telur sehingga menjadi rolade. Masak hingga matang. Sajikan selagi hangat.

Sekarang anda jadi tahu ‘kan nama kreasi telur saat sarapan pagi di Jerman. Ini membantu anda bila jadi turis di sini. Semoga bermanfaat!

Begini Nama Kesayangan Orang Slowakia

Ilustration.

Lain budaya, lain kebiasaan. Saya punya banyak teman dari berbagai negara di sini. Kami suka berdiskusi dan tukar pengalaman satu sama lain. Kali ini saya ingin bercerita soal kebiasaan teman saya asal Slowakia yang menurut saya menarik untuk dibagikan kepada anda. Dia kerap memanggil seseorang yang dia kenal cukup dekat sebagai teman, yang berbeda dengan pada nama resmi panggilannya.

Saya penasaran sewaktu saya mendengar teman saya asal Slowakia ini memanggil teman lain yang bernama Agnes. Teman saya asal Slowakia ini menyebut teman saya yang bernama Agnes ini dengan “Agneska” padahal setelah saya telusuri nama sebenarnya adalah Agnes. Di sini ada tambahan “ka” pada nama panggilan seseorang. Begitu pun teman saya asal Slowakia ini sendiri, dia punya nama panggilan Martina. Saya sering mendengar dia disebut “Martinka” oleh beberapa kolega lain yang cukup dekat dengannya. Begitulah!

Semakin penasaran, semakin membuat saya bertanya kepada Martina. Dia yang ramah pun menjelaskan kepada saya asal muasal nama kesayangan yang disematkan kepada beberapa orang yang menurut dia cukup dekat.

Mengapa dia memanggil nama sedikit berbeda dari seharusnya hanya untuk beberapa orang saja?

Nama adalah sebuah panggilan. Mengubah nama panggilan seseorang belum tentu mudah diterima oleh yang bersangkutan sendiri yang berasal dari lain budaya dan lain negara. Itu sebab Martina, teman asal Slowakia ini menyebutnya sebagai nama kesayangan. Nama panggilan dari orang-orang Eropa Timur umumnya adalah nama santo-santa yang dipakai sebagai nama babtis. Itu sebab mereka juga masih merayakan “Die schönsten Heiligennamen” yakni nama-nama yang dirayakan sesuai perayaan orang kudus. Misal, nama saya Anna maka nama saya dirayakan setiap tanggal 26 Juni. Lalu orang-orang sekitar yang masih merayakan tradisi itu memberi ucapan kepada saya dan semua orang yang bernama Anna saat itu.

Kembali ke soal nama kesayangan yang disematkan oleh orang-orang Slowakia. Di Slowakia sendiri, tiap orang punya nama panggilan dan nama keluarga. Untuk nama kesayangan yang disematkan itu hanya untuk penyebutan saja dan tidak resmi diberlakukan. Misal, teman saya bernama, “Martina” maka nama untuk penulisan dan resmi yang digunakan tetap “Martina”. Karena Martina adalah seorang perempuan maka ada sufiks penambahan “ka” menjadi “Martinka” dan “Agnes” menjadi “Agneska”. Perubahan nama itu bergantung pada gender dari orang yang bersangkutan sehingga terdengar maskulin dan feminin.

Anda mungkin bertanya, bagaimana jika orang Slowakia memanggil nama mereka yang pria?

Seorang pria dengan nama “Andrej” misalnya maka dipanggil menjadi “Andrejko“. Kini anda pasti paham bahwa ada sufiks tambahan “ko” yang cukup menarik terdengarnya. Sufiks penambahan nama “ka” dan “ko” disematkan sebagai nama kesayangan.

Ini baru nama panggilan, belum kita berbicara nama keluarga. Karena nama keluarga pun mengalami perubahan sesuai genus atau jenis kelamin dari kata tersebut, apakah feminim atau maskulin. Sementara bagi kita di Indonesia, tiap kata tidak memiliki genus. Tambahan lain untuk nama keluarga di Slowakia, bila ada nama keluarga memiliki kata sifat misalnya akhiran -y maka diganti menjadi -a.

Ini tidak berlaku bagi kita yang perlu membuat bubur merah putih untuk mengganti nama. Begitulah tradisi dari orang-orang Slowakia berdasarkan perbincangan saya dengan teman di sini.

Anda pasti penasaran, apa nama kesayangan yang diberikan Martina pada saya ‘kan?

5 Alasan Orang Lupa Nama yang Baru Dikenalnya

Apalah arti sebuah nama! Namun nama itu punya makna untuk dikenali. Tak kenal maka tak sayang. Namun bagaimana jadinya jika anda bukan seorang yang selalu ingat nama seseorang, apalagi rekan kerja anda sendiri. Kejadian ini juga saya alami yang mendorong saya untuk menuliskannya di bawah ini.

Meski ada pelajaran psikologi kognitif yang secara teori bisa menjelaskan alasannya, namun praktiknya saya lebih mudah menjelaskan berdasarkan pengalaman saja. Lupa nama seseorang bukan berarti gejala kepikunan, kecuali itu terjadi kerap kali sehingga anda perlu memeriksakan pada ahlinya. Namun pada dasarnya, saya tahu bahwa bekerja dalam lingkup multikultural adalah mengenal nama-nama orang dari berbagai negara yang terkadang asing buat saya.

Berikut alasannya:

1. Tipe kepribadian Sanguinis

Pertama kali saya menguji diri sendiri ketika awal menjadi mahasiswa jurusan psikologi sekian tahun lalu, hasilnya menunjukkan saya cenderung lebih pada tipe kepribadian sanguinis. Sekarang tipe kepribadian saya pun tetap tak berubah bahwa saya tetap cenderung Sangunis.

Tipe sangunis dipercaya merupakan orang yang ceria, menyenangkan banyak orang, supel, mudah bergaul dan bisa menghangatkan suasana. Mereka yang sangunis adalah orang yang disukai dalam pergaulan dan populer. Namun dibalik kelebihannya, mereka kurang fokus dan punya ingatan yang kurang baik dalam mengingat nama, termasuk nama seseorang. Itulah saya.

Jangan meminta orang bertipe Sangunis untuk mengingat nama! Trik saya sebagai fasilitator atau berbicara di depan mimbar, saya meminta mereka menuliskan nama peserta yang diletakkan di depan meja, seperti table name begitu. Atau, saya sudah menyiapkan kertas tempel seperti “tom and jerry” yang ditempelkan di saku depan baju. Saya malu juga jika harus mengulang pertanyaan, siapa namanya? Padahal orang tersebut sudah menyebutkannya. Bagaimana pun nama yang disebutkan dengan baik adalah apresiasi atau penghargaan kepada orang lain.

2. Nama orang tersebut susah untuk diucapkan

Bagaimana pun kesulitan terbesar mengingat nama adalah ketika seseorang punya nama yang memang susah diingat. Mengenal orang dari berbagai negara membuat saya mengenal aneka macam orang dengan nama yang terkadang asing dan tidak familiar untuk saya. Belum lagi, nama sesuai huruf bisa berbeda dengan penyebutannya. Itu sudah membuat saya lupa nama seseorang. Untuk alasan ini, biasanya saya tanya adakah nama singkat atau nama kecil yang mudah diingat.

3. Anda sedang tidak fokus

Alasan berikut yang menyebabkan saya tiba-tiba lupa nama seseorang adalah saat saya sedang fokus pada satu hal kemudian tergesa-gesa memanggil nama seseorang yang asing atau baru dikenal. Ini sering saya alami, saat saya sedang sibuk mengerjakan satu hal tetapi saya harus menjelaskan hal lain yang baru dikerjakan oleh orang lain. Tiba-tiba saya lupa nama orang lain tersebut, sehingga saya menyebut kriteria lelaki/perempuan dan asal negara. Untunglah lingkup pekerjaan saya berasal dari aneka negara lima benua yang berbeda. Sebagai orang baru, perkenalan saya pada rekan kerja hanya nama dan asal negara. Ternyata perkenalan itu membantu. Jadi saat berkenalan, tanyakan hal lain yang umum atau tidak sekedar nama saja. Ini akan membantu anda menyebutkan secara spesifik saat lupa nama mereka. Saya juga seorang diri berasal dari Indonesia.

4. Masih baru perkenalan

Saya pikir adalah wajar bahwa kita bisa lupa nama di awal perkenalan. Saya termasuk orang yang bekerja paruh waktu dan baru saja mulai mengenal berbagai rekan sekerja. Bahkan saya lupa nama tiap orang yang bekerja bersama saya karena nama tiap orang ditulis begitu lengkap, sementara yang dikenal biasanya hanya nama panggilan. Nama saya Anna dan ada nama keluarga. Toh, mereka tetap memanggil saya “Anna” bukan “Nana” atau “Ance” atau yang lainnya.

5. Anda benar-benar tidak ingin mengingatnya

Ada seorang teman yang adalah pengajar, bisa mengingat nama tiap muridnya dengan baik. Alasannya, mengingat nama adalah bentuk penghargaan pada seseorang. Saat saya tanya, mengapa dia bisa ingat semua anak didiknya? Alasannya, dia ingin hanya punya jumlah siswa terbatas dan tidak banyak. Dia ingin membangun keakraban dengan siswa yang mengambil mata kuliahnya. Cara dia mengingat nama siswa cukup unik. Dia mengaitkan setiap nama siswa dengan nama teman-temannya, orang yang pernah dikenal atau public figure. Misalnya, ada siswa bernama Tomy, dia kaitkan dengan Tom Hanks misalnya. Menurut teman saya ini, ketika anda lupa nama seseorang yang baru dikenal, bisa jadi karena anda benar-benar tidak ingin mengenalnya dengan baik. Itu sebab anda lupa dan melupakannya.

Dari lima alasan di atas, sebenarnya ada alasan lain yang menarik berdasarkan pengalaman. Saya bisa lupa nama seseorang dikarenakan dalam waktu bersamaan, saya harus mengingat hal lain. Misalnya, saya sedang traveling dan bertanya nama jalan yang jadi tujuan saya. Sebelum bertanya, saya awali dengan dialog nama, asal negara dan sebagainya. Ketika saya harus mengingat nama jalan dan rute yang ditempuh, maka saya bisa lupa nama orang yang baru saja saya kenal. Sepertinya, saat anda mengingat maka anda perlu fokus pada satu hal, bukan dua hal yang berbeda.

Apakah anda ada pengalaman serupa?

Nama Baru, Keberuntungan Baru

Is it a good luck to change name? How do you think? This is not related with personally name, but business purpose. In following story, I told that I didn’t find the store as requested. This store has already changed name. So it is really hard process to change name for business purpose. Another reason I heard changing name meant bringing fortune. Hmmm… the sure thing I learned that business is trust. So new name can lead new trust in publicity. 

How do you think?

Ilustrasi.

Apakah anda percaya pada judul di atas bahwa nama baru maka keberuntungan yang baru?

Tidak, saya tidak ganti nama. Nama saya tetap Anna sejak saya kecil hingga sekarang. Namun ada sebagian teman yang mengganti nama panggilan mereka untuk suasana yang baru. Saya sendiri lupa menanyakan alasan dibalik penggantian nama panggilan mereka. Apakah nama panggilan baru terdengar lebih baik? Bisa saja. Mungkin nama panggilan lama terlalu banyak atau mereka yang berganti nama panggilan ingin sesuatu yang berbeda. Bisa jadi.

Saya tidak membahas nama baru untuk seseorang tetapi dalam dunia bisnis. Wow!

Suatu kali saya dan suami mencari toko hingga beberapa kali kami salah menduga. Kembali lagi suami memutarkan mobilnya dan mencari nama toko itu. Kami sungguh tidak menemukannya. Karena ini amanat mertua bahwa kami harus ke toko tersebut maka kami pun tak menyerah. Begitu memarkirkan mobil, kami mendatangi toko yang berbeda nama tetapi punya alamat yang sama dan menjadi tujuan kami. Pikir kami, barangkali kami bisa bertanya kemana toko itu pindah.

Akhirnya kami bertemu dengan karyawan yang ramah di toko itu. Kami bertanya tentang maksud pencarian toko itu. Alangkah terkejutnya kami bahwa toko itu adalah toko yang sama hanya saja berganti nama. Toko yang kami cari berganti nama. Ada sejarah dibalik penggantian nama termasuk kepemilikannya. Meski tak mudah diterima dengan nama yang baru namun proses bisnis dengan ketekunan mendatangkan kepercayaan.

Yups, nama dalam bisnis adalah kepercayaan. Sampai-sampai mertua saya meminta kami harus mencari toko yang sesuai dengan nama yang diminta. Bisa jadi mereka mempercayai service atau pelayanan yang diberikan toko dengan nama tersebut. Jangan bilang apalah arti sebuah nama! Nama dalam bisnis sangat berarti. Bayangkan bahwa tercoreng nama maka rugilah bisnis yang menyandang nama tersebut.

Nama juga menjadi citra tentang apa yang dijual dalam bisnis tersebut. Kita pun tahu bagaimana nama begitu kuat membentuk citra dan menarik pelanggan. Ini lagi-lagi berkaitan dengan bisnis. Bisnis yang sudah punya “nama” rasanya sulit berganti nama. 

Kembali ke soal nama baru yang menjadikan keberuntungan, apakah anda percaya? Mungkin saja ada alasan kuat dibalik perubahan nama semisal kepemilikan. Atau nama baru menjadi doa dan harapan yang baru. Semua ada di tangan sang pemilik bisnis.

Ada pendapat?