Mesir (12): Desa Wisata Nubian Penuh Warna dan Buaya Sebagai Hewan Peliharaan

Begitu tiba, langsung disambut pasar isi sovenir.
Ini seperti rempah-rempah.
Coba tebak ini apa ya?

Program jam 15.00 sore hari adalah mengunjungi desa suku nubian yang unik dan penuh warna. Kapal kami masih berlabuh di Assuan atau Aswan. Setelah makan siang dan istirahat sebentar, kami pun bersiap melanjutkan acara berikutnya. Yaitu berkunjung ke desa wisata di seberang sungai nil yang juga menjadikan buaya sebagai hewan peliharaan. Dengan perahu kami menuju ke sana, yang berarti kami bisa melihat keindahan alam sekitar sungai nil.

Ayo, cek cerita tentang buaya yang sebelumnya diceritakan di sini!

Sampai di dermaga, kami sudah disiapkan perahu untuk rombongan turis berbahasa Jerman. Karena rombongan lainnya adalah turis asal Inggris yang tentu beda bahasa pengantarnya selama trip. Perahu motor kami semakin menjauhi dermaga, yang dikemudikan orang suku nubian. Kami bisa mengamati pemandangan sekitar sungai nil yang indah dan aneka burung yang menjadi habitatnya. Wisata kali ini lengkap, ada nature dan culture. Suka sekali!

Salah satu dinding warga dicat mencolok seperti ini.
Balkon atas.
Ruang tamu.

Di elephantine, pulau di sungai nil, yang juga berisi nilai sejarah 3000 tahun lalu yang sampai sekarang masih dikerjakan para arkeolog dunia. Konon temple khnum menjadi cikal bakal bagaimana batu granit bisa membentuk struktur bangunan seperti piramida di Kairo.

Lanjut menyusuri sungai nil, kami ditunjukkan monumen Aga Khan III. Beliau dimakamkan di situ setelah dua tahun wafatnya. Aga Khan dikenal sebagai tokoh muslim. Wisatawan yang tinggal di Assuan juga berkesempatan ke monumen ini. Untuk mengetahui siapa Aga Khan, silahkan anda cari tahu!

Monumen Aga Khan.

Perahu kami masih menyusuri sungai nil selama satu jam sebelum kami tiba di desa nubian. Tampak kejauhan desa ini berwarna-warni cerah yang memikat turis untuk datang. Kami juga sudah diingatkan untuk tidak memberi uang pada anak-anak di sini, yang kebanyakan sudah tak bersekolah dan bekerja membantu keluarga. Jika ingin memberi sesuatu pada anak-anak di sini, cukup cokelat, permen atau alat tulis. Begitu pesan pemandu wisata kami.

Buaya jadi peliharaan di rumah.
Awas buaya! Jadi dekorasi rumah.

Tiba di dermaga desa, pedagang sovenir dan anak-anak menyambut kami seperti biasa. Kami melewati pasar yang berisi sovenir kerajinan tangan dan hasil alam yang tampak menarik mata. Saya sendiri tidak tahu apa yang dijual mereka. Kami terus bergerak untuk datang ke suatu rumah besar yang dijadikan pusat informasi turis. Di sini kami bertemu rombongan turis dari belahan negara lain, yang dicirikan dengan bahasa yang berbeda-beda.

Pemandu wisata mengajak kami berkumpul untuk mendengarkan berbagai informasi seputar desa ini. Setelah itu, kami diberi waktu tiga puluh menit untuk berfoto dan berkeliling mengamati. Oh ya, tentu ada sesi foto bersama buaya. Kami diperlihatkan buaya dalam lubang yang diberi teralis, sehingga kami bisa melihatnya dari atas. Ya, buaya ini dipelihara oleh warga di sini. Buaya pun dijadikan aksesoris di rumah. Itu sebab mereka menjulukinya ‘crocodile house’.

Desa ini dihuni suku nubian asli. Meski terbilang berada di wilayah remote, desa ini bisa menghidupi warganya dari sektor pariwisata dan kerajinan alam. Turis yang lama di situ juga bisa berkeliling dengan onta untuk mengamati warna-warni desa tersebut.

Naik perahu seperti ini.
Dari kejauhan.
Sekelompok turis lainnya.

Puas berfoto, kami kembali ke perahu untuk beranjak ke Assuan. Selama di perahu, tukang perahu lagi-lagi menggelar dagangannya yang berisi kerajinan tangan. Di sisi lain, saya sendiri sibuk mengamati warna-warni desa nubian dari kejauhan. Tak terasa senja pun tiba, warna sungai nil pun semakin jelas indah mempesona.

Terimakasih desa nubian. Di satu sisi buaya begitu menakutkan dan mengancam manusia. Namun di sisi lain di sini, buaya bersahabat dengan manusia.

Mesir (10): Malam Budaya Nubian, Kamis Malam di Assuan

Masjid raya di Assuan.
Tarian suku nubian.
Kelompok seniman nubian terampil membawakan instrumen musik.
Duduk menikmati shisa adalah kebiasaan sehari-hari warga.

Program selanjutnya di Kamis malam hari adalah malam kesenian orang nubian yang sebagian besar menghuni Mesir bagian Selatan seperti Assuan dan negara Sudan. Malam ini kami masih di Assuan, dengan suguhan tarian dan musik yang dibawakan kelompok seni suku nubian. Ada yang menyebutnya juga nubia atau kush yang mendiami lembah sungai nil sejak kejayaan bangsa romawi, sebelum masehi.

Matahari mulai terbenam di sisi sungai nil. Makan malam pun sudah selesai. Saya dan suami memilih duduk di atas dek kapal menikmati pesona senja dan kerlap kerlip kota Assuan yang indah. Di sudut kota, masjid besar mengaggungkan pujian doa. Sementara di sisi lain, warga mememuhi taman di pinggir sungai nil. Bernyanyi, duduk bersama menikmati shisa hingga suara ceria anak-anak tak luput dari perhatian saya dan suami. Beberapa tamu kapal juga duduk bersama kami di kafe atas.

Jam 21.00 kelompok seni nubian bersiap tampil. Kami turun menyaksikan keramaian itu. Tiga orang tampil dengan pakaian warna-warni. Ada yang membawa rebana, gendang dan alat musik tradisional. Suara riuh menyambut kehadiran mereka. Seorang dari mereka meminta kami sebagai tamu kapal bertepuk tangan mengiringi tarian dan nyanyian mereka.

Tarian lain.
Senja di sungai nil.
Perahu yang membawa turis-turis berbahasa Jerman berkunjung ke desa nubian.
Pemandangan sungai nil di sisi gurun pasir.
Malam hari di dek atas kapal.

Saya sendiri mendengar nyanyian yang dinyanyikan dalam bahasa nubian, bukan bahasa Arab yang jadi bahasa resmi Mesir. Para kelompok seni dengan wajah sumringah meminta kami mengikuti apa yang diperagakan. Tawa mengiringi penampilan beberapa tamu dan seniman yang tampil dengan nyanyian dan tarian.

Selesai para seniman menghibur kami selama 45 menit, saya dan suami segera naik ke kafe atas kapal. Kami menikmati remang-remang malam menyusuri sungai nil. Warga setempat tampak bersuka ria karena Jumat adalah hari libur untuk mereka. Anak-anak di Mesir saat kami berlibur memang sedang libur sekolah. Libur sekolah di Mesir berlangsung selama tiga bulan.