Tips Untuk Anda (10): 8 Cara Merawat Baju Berbahan Wol

Sebelum membeli baju, periksa dulu karakteristik perawatan baju pada labelnya.

Baju berbahan wol memang menjadi salah satu pilihan untuk menutupi tubuh kala musim dingin seperti sekarang ini di Jerman. Baju berbahan wol mampu melindungi tubuh dari serangan rasa dingin karena bahannya yang tebal. Bahannya juga dipandang elastis untuk bentuk tubuh. Berpakaian wol di musim dingin tak pernah mati gaya. Begitulah kira-kira pepatah bagi pecinta fashion yang bisa menjadikan wol sebagai bagian dari mode.

Semenjak saya tinggal di benua biru, saya lebih memperhatikan keperluan penampilan. Ini dimaksudkan agar saya tidak salah kostum sehingga tubuh rentan terserang penyakit. Maklum saya lahir dan besar di area tropis. Jika saya sakit di musim dingin, tentu bukan musimnya yang salah tetapi cara berpakaiannya yang perlu diperhatikan. Alhasil ada beberapa baju berbahan wol yang kini menjadi koleksi saya.

Semula saya abai dengan koleksi baju berbahan wol yang harus saya rawat. Saya berpikir semua material baju sama saja. Ternyata saya salah. Baju berbahan wol memang diperlakukan khusus untuk mencuci dan merawatnya. Hal ini dimaksudkan agar baju tetap awet dan masih bisa dipergunakan lagi. Bayangkan bahwa tiap musim punya mode pakaiannya tersendiri. Tentunya merawat baju berbahan wol akan meminimalisir pembelian baju yang sebenarnya tak terlalu penting sebagai kebutuhan.

Berikut tips dari saya sebagai berikut:

Pertama, cuci dengan tangan sedapat mungkin.

Pengalaman buruk saya adalah mencuci baju berbahan wol dengan mesin cuci dengan air bersuhu 40 derajat celcius. Alhasil baju menjadi mengerut atau mengecil dari ukuran sebenarnya. Jika anda hanya punya satu atau dua baju berbahan wol, lalu biarkan air kran untuk mandi buat mencuci dan membilas baju berbahan wol. Cuci dengan tangan semampunya sudah cukup.

Kedua, jika perlu pakai mesin cuci pilih air suhu 30 derajat celcius atau air dingin.

Punya baju berbahan wol tak perlu bawa ke laundry lagi, melainkan cuci saja di rumah. Karena saya tak bisa mencuci dengan tangan maka saya gunakan mesin cuci. Tentu ada yang perlu diperhatikan. Mesin cuci di rumah itu punya pilihan air bersuhu 30, 40 atau 60 derajat celcius. Untuk baju berbahan wol pilihlah air yang digunakan bersuhu 30 derajat celcius. Ada juga pilihan lain dalam tombol mesin cuci adalah ‘air dingin’ ini juga bisa dipilih.

Ketiga, minimalkan deterjen atau gunakan sampo bayi untuk mencuci.

Pengalaman buruk saya adalah saya menggunakan deterjen baju yang mungkin untuk bahan wol terlalu banyak takarannya. Akhirnya baju wol yang saya pakai membuat kulit saya gatal-gatal. Saya baru sadar bahwa deterjen baju terlalu banyak takarannya setelah teman mahasiswa menebak penyebab gatal-gatal yang saya alami.

Keempat, jangan gunakan pemutih!

Mungkin kita merasa baju berbahan wol berwarna putih tampak kusam lalu kita putuskan perlu pemutih. Jangan lakukan itu! Ini tentu akan merusak serat material wol yang disebabkan kandungan kimia dari pemutih. Agar memudahkan mencuci, biasakan menyatukan semua cucian baju berbahan wol sehingga praktis pencuciannya.

Kelima, jangan gunakan mesin pengering baju!

Setelah baju wol sudah bersih tercuci dengan tangan atau mesin cuci maka bilas baju pun dengan air dingin. Di sini saya juga punya mesin pengering terpisah mengingat di musim winter seperti ini mesin pengering sangat membantu. Tetapi saya tidak menggunakan mesin pengering untuk baju berbahan wol. Jika saya ingin memerasnya, saya tak perlu kuat memilin pakaian agar seratnya tidak rusak.

Keenam, biarkan kering tanpa gantungan baju.

Setelah baju wol selesai dibilas maka biarkan kering secara alami. Jangan gunakan gantungan baju! Biarkan kering alami di tempat terang dan bersih dengan membentangnya di tempat datar. Tidak menggantungnya pula agar bentuknya tidak berubah. Cara jitu saya adalah meletakkan baju wol basah dekat dengan heizung, penghangat ruangan agar cepat kering.

Ketujuh, tidak menyetrika baju berbahan wol.

Jika baju berbahan wol sudah kering, jangan pernah menyetrikanya. Karena itu memang tidak diperlukan. Gunakan kedua tangan untuk merapikan tiap sisi baju dan lipatlah dengan baik. Simpan baju berbahan wol di lemari pakaian, dengan tidak menggantungnya.

Kedelapan, simpan baju dalam keadaan terlipat bukan digantung.

Selama ini kita bisa jadi terbiasa menggantung baju agar tampak rapi. Namun ini tidak berlaku untuk pakaian berbahan wol. Setelah dilipat tanpa setrika maka rawatlah baju berbahan wol dalam lipatan-lipatan. Hal ini dimaksudkan agar bentuk baju tidak berubah.

Demikian 8 tips dari saya. Satu hal, sebelum kita membeli baju maka periksa dulu karakteristik perawatannya. Hal ini dilakukan agar baju tetap awet digunakan. Setelah membaca saran saya di atas, semoga ini membantu anda merawat pakaian berbahan wol.

Selamat berakhir pekan bersama keluarga!

Ingin Tahu Pakaian Tradisional Bavaria Masa ke Masa? Simak Ini

Pakaian tradisional adalah identitas budaya. Begitu pun yang saya amati setiap ada pergelaran budaya selama tinggal di Bavaria, bagian Jerman selatan. Mode pakaiannya pun tampak memiliki ciri tersendiri dibandingkan pakaian tradisional di wilayah Jerman bagian lainnya. Tak hanya itu saja, perkembangan jaman juga memperlihatkan perbedaan pakaian yang dulu terkesan konvensional menjadi lebih fashionable untuk dikenakan.

Bagaimana saya bisa mengetahuinya?

Suatu kali saya datang ke Volkfest atau semacam festival budaya yang rutin digelar, sebagaimana cerita saya di sini. Di festival tersebut, pria dan perempuan setempat mengenakan pakaian yang khas. Jika perempuan, mereka mengenakan dirndl dan pria mengenakan celana lederhöse yang juga sangat khas dengan aksesorisnya. Tak hanya pengunjung yang meramaikan saja berpakaian demikian, para pramusaji di biergarten yang melayani tamu pun berpakaian kebesaran khas orang Bavaria.

Ini juga bisa anda jumpai saat anda berkunjung ke Oktoberfest.

Dalam festival yang saya ceritakan tadi, ada bagian tentang budaya yang menampilkan perkembangan mode dari masa ke masa. Pada abad 19, wilayah Bavaria didominasi dengan pertanian sebagai pekerjaan utama. Pakaian yang masih konvensional nampak pada pria dan perempuan masa itu. Perempuan memakai dirndl yang panjang, menutupi mata kaki. Bahkan ada aksesoris tutup kepala hingga kaos kaki panjang sebelum mengenakan sepatu. Sementara pria tak berbeda jauh dengan mode sekarang. Lederhöse yakni celana berbahan kulit memang hanya sebatas lutut. Bahannya pun harus kuat karena mereka harus bekerja di ladang juga. Untuk jaket dan kaos kaki yang dikenakan pria jaman dulu, tak berbeda jauh dengan kondisi sekarang.

Mode kondisi sekarang?

Saya pernah dibelikan suami dirndl seperti cerita saya di sini. Sayangnya dia membelikan saya sebagai kejutan sehingga ukurannya tak sesuai. Rupanya untuk memakai dirndl ada triknya tersendiri. Seperti kebaya, tubuh perempuan dibentuk sedemikian rupa sehingga tampak elegan dan anggun. Jadi ukuran drindl itu harus dikenakan satu nomor kurang dari seharusnya. Misalnya, ukuran baju saya di Jerman adalah nomor 32 atau 34 kadang-kadang. Jadi ukuran dirndl saya tepatnya adalah nomor 30.

Kini saya punya beberapa dirndl. Dan ternyata harga dirndl pun fantastis mahalnya karena itu tergantung kekhasan dan dekorasi yang ditampilkannya. Harganya bervariasi sekitar 100€ sampai dengan 400€. Itu pun belum termasuk aksesoris, pakaian dalam drindl dan hal-hal lain yang melengkapinya, jika ingin. Tetapi jangan khawatir, jika tak ingin mengeluarkan kocek tebal, anda bisa mendapatkan model biasa di toko pakaian atau supermarket mulai dari 25€ hingga 60€.

Dirndl sekarang itu tidak sepanjang dahulu. Bagian seperti ‘celemek’ di masa kini dibuat dengan dekorasi yang indah dan tentu semakin rumit mengerjakannya maka semakin mahal harganya. Untuk pakaian dalam, ada yang memang tersedia khusus sehingga tampak serasi. Demikian juga aksesoris lainnya seperti anting, kalung, tas hingga sepatu.

Bersyukurlah sekarang para perempuan tidak perlu menggunakan dirndl tiap hari. Namun pakaian dirndl menjadi identitas saat acara festival budaya digelar.

So, siap-siap beli dirndl baru untuk Oktoberfest nih!

Mengapa Pria Meletakkan Saputangan di Saku Depan Kanan?

Pernahkah anda memperhatikan saku pada jas pria yang sedang berpakaian formal maka di saku kanan tampak setengah saputangan tersembul? Apa maksudnya itu? Apakah ada sejarah atau makna dibalik saputangan yang diletakkan di saku kanan jas pria? Itu pertanyaan saya.

Baru-baru ini saya menemani suami membeli satu setel jas lengkap untuk keperluan acara resmi. Saat kami sedang memilih, di situ saya memperhatikan saku kanan di jas tampak selipan saputangan yang keluar menonjol. Apakah itu sekedar aksesoris? Itu pemikiran saya. Atau sebenarnya ada fungsi yang saya sendiri tidak tahu.

Karena saya begitu ingin tahu, saya pun bertanya pada modeberaterin yang membantu kami memilihkan pakaian. Modeberaterin adalah karyawan toko pakaian yang bertugas membantu pelanggan memilih pakaian yang tepat. Ini semacam penata gaya. Mereka membantu mencari dan memilihkan pakaian mana yang cocok dikenakan pelanggannya.

Menurut dia, saputangan pada saku jas pria tidak harus berisi saputangan di masa kini. Dahulu memang banyak jas pria menempatkan saputangan yang berbentuk segiempat dalam saku jas agar saputangan tersebut bisa digunakan sewaktu-waktu. Dalam kehidupan di Eropa, para pria sering merasa membersihkan hidung atau melap keringat dengan saputangan. Ini sama seperti perempuan-perempuan Eropa jaman dahulu selalu membawa saputangan di tangan mereka atau diletakkan di dalam tas jinjing.

Makin lama saputangan di saku jas pria diganti dengan membalikkan kantong saku agar bisa menonjol. Ada juga yang menggantinya dengan dijahit agar seperti aksesoris saja. Dengan begitu citra saputangan yang menyembul di saku jas depan pria adalah ekspresi diri. Para perempuan punya beragam ekspresi mode yang selalu berganti, sedangkan pria tak banyak. Saku jas pria menjadi aksesoris mode yang menampilkan pria tampil elegan.

Namun demikian saku jas depan pria yang ditambahkan dekorasi ternyata menimbulkan keunikan. Di beberapa negara Eropa jaman dahulu menempatkan saputangan dari kain linen yang dihias. Ini seperti menandakan pribadi si pemakai jas. Bagaimana pun warna jas yang tanpa motif akan memberikan kesan berbeda dengan saputangan berbentuk persegi menonjol di saku depan.

Sejarah lain mencatat di abad 15, kain linen dari Tiongkok didatangkan ke Eropa. Bisa jadi ini menjadi cikal bakal mode penempatan saputangan persegi pada saku jas depan pria. Meski kini tidak semua jas pria masih melakukan demikian, namun ini bisa jadi pilihan mode jika pria ingin tampil berbeda.

Good to know 🙂

6 Cara Atur Pakaian Menurut Toko Pakaian

Ilustrasi.

Jika anda melihat isi lemari pakaian anda, kira-kira anda termasuk orang yang rapi menata pakaian atau justru sebaliknya? Apakah lemari pakaian anda berantakan atau pakaian anda tersusun rapi layaknya toko pakaian?

Baru-baru ini saya belajar dari toko pakaian bagaimana menata pakaian dengan apik, cantik dan memudahkan pengunjung mencari kebutuhan yang dimaksud.

Dari belajar mengamati itu saya menyimpulkan enam hal yang jadi panduan menata pakaian di toko pakaian.

1. Optik 

Saya bingung menerjemahkan optik dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia. Kurang lebih optik dapat disampaikan sebagai motif dari pakaian tersebut. Pertama-tama pastikan bahwa apa motif dari pakaian, pakaian polos berwarna tanpa motif dengan pakaian bermotif. Lalu susun pakaian bermotif yang sama, misalnya baju hem berkerah kotak-kotak dengan semua baju berkotak-kotak. Baju hem berkerah motif batik, misalnya. Atau T-shirt memiliki stiker di depan maka dijadikan satu dengan semua kaos yang memiliki stiker. Artinya di sini, kita mengkelompokkan berdasarkan motif yang tertera di pakaian.

2. Warna

Ada juga pengelompokkan berdasarkan warna. Di toko pakaian biasanya pengelompokkan baju berdasarkan warna ini pada pakaian tanpa motif atau pakaian polos warna. Apa warna favorit baju kesukaan anda? Lalu kelompokkan pakaian berdasarkan warna agar memudahkan pencarian. Misalnya kaos hitam berstiker depan dijadikan satu untuk semua kaos hitam berstiker. Atau, semua pakaian dalam berwarna putih seperti kaos dalam, celana dalam dijadikan satu. Begitu seterusnya, anda akan lihat betapa rapi dan mudahnya anda ketika mencarinya nanti.

3. Ukuran

Di toko pakaian, pengelompokkan dilakukan berdasarkan ukuran. Ukuran di sini mulai dari XS hingga 3XL. Penempatannya mulai dari ukuran terkecil hingga terbesar. Siapa tahu anda bisa mengelompokkan pakaian berdasarkan ukuran yang dimiliki untuk baju anak-anak misalnya.

4. Jenis Bahan

Dari hal di atas, jenis bahan yang paling sulit ditebak. Bagi mereka yang ahli dalam mode, tentu pengelompokkan berdasarkan jenis bahan memudahkan bagi mereka. Misalnya pakaian yang seratus persen terbuat dari katun. Lalu pengelompokkan pakaian dari wol atau berbahan satin misalnya. Ide ini bisa anda tiru jika anda piawai dalam soal jenis material pakaian.

 5. Tujuan/kebutuhan

Selain itu, saya melihat pula tujuan dari pengelompokkan pakaian berdasarkan kebutuhan sehari-hari hingga istimewa. Misalnya pakaian kerja atau pergi ke kantor dipisahkan dengan pakaian sehari-hari sebagai baju santai. Pakaian berlibur seperti pakaian renang, naik gunung atau baju pantai tentu bisa dikelompokkan tersendiri. Pakaian pesta tentu juga mendapatkan tempat istimewa yang dipisahkan dengan pakaian sehari-hari di rumah.

6. Merek 

Seberapa penting merek pakaian untuk anda? Jika menurut anda penting maka silahkan perhatikan juga bagaimana toko pakaian mengkelompokkan pakaian berdasarkan merek agar memudahkan pencarian. Ada aneka merek baju di pasaran. Bagi anda yang doyan berbelanja dan mengkoleksi pakaian, tidak ada salahnya mengkelompokkan pakaian berdasarkan merek. Siapa tahu rak pakaian anda akan tertata lebih apik dari sebelumnya.

Kesimpulan

Dari enam panduan menata pakaian di atas, kira-kira mana yang ingin anda terapkan di rumah? Pastinya ide ini akan membuat rak pakaian anda lebih rapi dan memudahkan pencarian.

Semoga bermanfaat!