Roma Tidak Mungkin Dibangun dalam Semalam

Keindahan pusat kota Roma di sore hari.

Di ujung tampak spanish steps. Di kanan adalah butik Gucci dan beberapa pertokoan ternama lainnya. 

Petugas kebersihan mengangkat sampah-sampah agar kota tetap bersih dan elok dipandang.

‘Rom ist auch nicht am einen Tag erbaut worden.’ Demikian pepatah bahasa Jerman menyebutkan bahwa membangun kota Roma tidak mungkin dalam semalam. Arti peribahasa ini adalah jangan pernah takut untuk mewujudkan mimpi, meskipun terlihat mustahil. Tidak ada mimpi yang terlalu besar atau pemimpi yang terlalu kecil, teruslah berpegang pada impian anda!

Adalah kota Roma yang tak pernah saya bayangkan di masa kecil bahwa suatu saat saya bisa tiba di sini. Saya hanya berpikir saat masih sekolah, hanya kalangan berduit untuk bisa di sini. Ternyata saya bisa hanya karena suatu keinginan bahwa saya bisa berkunjung ke rumah Tuhan di Vatikan. Sensasi petualangan yang tak pernah saya dapatkan sebelumnya bilamana saya traveling. Di sini saya menikmati keindahan tiap sudut sejarah bahwa dulu kota ini begitu indah dibangun. Anda akan melihat ini lebih sekedar seni. Ini adalah soal rasa dan gairah kehidupan jaman dulu kala. 

Bangunan bercirikan baroque tak ubahnya seperti di Jerman. Namun di Roma, bangunan ini menyimpan sejarah dan misteri peradaban manusia yang pernah ada ribuan tahun lalu. Modernitas tidak menggerus antusias turis untuk menikmati setiap inchi kota Roma. Bahkan situs yang masih ada dibiarkan untuk dilindungi meski kebutuhan lahan di kota Roma begitu tinggi.

Kupon WC terlihat 0,50€ tetapi anda mesti bayar 1€.

Anda tahu begitu pelitnya kafe di pusat kota Roma menyediakan hanya 1 toilet bersama atau unisex. Jadi baik laki-laki maupun perempuan yang berhasrat ingin ‘ke belakang’ harus mengantri dalam ruang yang sama. Beberapa kali saya dan suami berhenti di kafe/restoran untuk sekedar ‘urusan ke belakang.’ Di tempat wisata tidak semua ada WC umum. Jika pun ada, siapkan koin 1€ untuk bisa membuka pintu masuk. Meski tertulis di bon 0,50€ tetapi kita harus membayarnya dua kali lipat jika ingin pintu WC terbuka.

Kiri kanan digunakan untuk parkir kendaraan.

Tanda peringatan petunjuk parkir.

Apartemen di kota Roma.

Lahan begitu mahal di sini. Mahalnya lahan terlihat dari parkir mobil yang selalu ada di pinggir jalan. Kiri dan kanan jalan dimanfaatkan untuk parkir kendaraan. Ini Roma! Gedung parkir kendaraan? Sepertinya saya harus tinggal lebih lama untuk mengetahui sewa parkir di area khusus parkir.

Jalurnya pun banyak seperti pepatah mengatakan ‘banyak jalan menuju Roma.’ Di peta kota Roma terlihat jalan-jalan yang kecil dan mungkin hanya satu jalur atau jalur yang digunakan bersama-sama meski berbeda tujuan. Pernah tersesat di sini? Anda pasti mengenal saya dengan baik soal tersesat. Syukurnya, saya selalu bisa kembali ke tempat tujuan. Penduduk kota Roma sangat ramah dan helpful

Peta kota Roma yang dibelah sungai. Kiri masih di kota Roma adalah Vatikan. Kanan adalah pusat kota Roma.

Contoh lukisan dari seniman ternama.

Bangunan yang tak lekang oleh waktu. Indah sekali!

Ini sebab orang bijak mengatakan ‘banyak jalan menuju Roma.’ Demikian bahwa banyak cara untuk mencapai tujuan anda. Banyak cara untuk membuktikan impian anda, tidak harus dengan jalur yang sama dan direncanakan ‘kan. Bahwa terkadang hal tak terduga dan tak direncanakan membuat anda sadar bahwa hidup itu berisi kepingan keajaiban.

Siapa ingin berkunjung ke kota Roma?

Anda akan melihat bahwa kota ini sepertinya dulu menyimpan kejayaan peradaban. 

Menikmati kota Roma pun tak cukup semalam. Bangunan megah dan lukisan indah para seniman tersohor dunia membuat saya berdecak kagum. Luar biasa! 

Terimakasih Tuhan, saya pernah melihat keindahan kota Roma yang dulu hanya dipelajari di sekolah 😊

Advertisements

Gratis Parkir Memang! Namun Pahami Artinya

Ini artinya boleh parkir selama satu jam pada hari kerja jam 8 pagi hingga 18 sore. Selebihnya bebas. Jangan lupa pasang petunjuk parkir 1 jam sebagaimana yang diminta!

Ini papan petunjuk waktu parkir sesuai petunjuk parkir pada gambar di atas. Jika boleh gratis 60 menit maka anda kasih petunjuk waktu parkir misalnya anda tiba jam 12 siang. Jika anda tidak punya papan petunjuk waktu namun anda parkirkan mobil anda maka petugas akan memberikan ‘surat cinta’ lagi pada anda. Papan petunjuk bisa anda dapatkan gratis atau membeli hanya 1€, tidak mahal ‘kan.

Jika ada tanda seperti ini di lokasi parkir berarti anda harus menyimak betul apakah sesuai dengan kondisi anda saat itu? Jadi parkir pun ramah terhadap penyandang disabilitas. 

Jika di Indonesia saat akan memarkirkan mobil, saya hanya mengenal simbol P yakni BOLEH PARKIR dan P coret yakni DILARANG PARKIR. Namun apakah ada tanda lain untuk parkir? Yups, selamat datang di Jerman! Untuk belajar berkendara tidak hanya cukup memiliki kartu ijin mengemudi, tetapi pahami juga arti simbol lalu lintas.

Parkir di Jerman ada yang gratis dan ada pula yang tidak gratis. Seperti yang pernah saya tuliskan di sini. Jika anda harus bayar maka akan tersedia mesin kasir otomatis yang harus dibayarkan sesuai lamanya parkir. Namun ada juga di beberapa tempat memberi gratis untuk jangka waktu tertentu misal 30 menit, dan sisanya anda harus membayar di mesin tersebut. Semua dilakukan secara mandiri.

Jangan harap pula saat anda memarkirkan mobil, ada petugas yang membantu memberikan petunjuk! Di sini dilakukan sendiri oleh pengendara. Saat akan parkir mobil pastikan dulu lokasi tersebut sesuai petunjuk lalu lintas yang berada di lokasi. Pasalnya jika anda ketahuan melanggar maka anda akan kena denda. Siapa yang melakukannya? Petugas pengawas dengan seragam dinas. 

Mengapa jadi tahu soal denda perpakiran? Karena saya ada pengalaman. Suatu kali saat harus parkir mobil, saya lihat sudah tidak ada space di tempat seharusnya. Terpaksa parkir di tempat yang agak jauh dari lokasi tujuan. Rupanya selesai urusan, saya dapat ‘surat cinta.’ Surat itu mengatakan bahwa area yang saya pakai adalah area parkir privat, yakni hanya pemilik lokasi yang boleh parkir di situ. Hmm, kena deh 10€. 

Seharusnya saya bisa gratis parkir 30 menit dan urusan saya hanya 15 menit. Done! Rupanya saya harus membayar 10€ untuk kesalahan parkir. Bagaimana jika saya tidak membayar denda? Tidak mau dan tidak boleh. Itu kata suami saya. Orang Jerman tertib hukum. Memang bayar denda tidak pernah langsung kepada petugas, jadi langsung dibayarkan ke bank. Nomor mobil kita tercatat oleh petugas. Jadi bila kita melanggar dan tidak membayar denda, di kemudian hari kita akan berhadapan dengan masalah soal pengurusan ijin berkendara. Apa mau? 

Mungkin cara ini ampuh juga diterapkan di Indonesia asalkan semua benar-benar sudah terintegrasi. Petugas memang tidak pernah menerima uang denda. Hanya petugas memberikan lembar peringatan saja. Denda bisa langsung dibayarkan lewat bank. Ingat bayar denda antar bank pun gratis! Jadi tidak usah dipikir lintas bank maka ada fee antar bank lagi. 10 € Denda yang harus dibayar ya silahkan bayar sejumlah itu, tidak ada charge antar bank.

Sebelum parkirkan kendaraan anda, pahami simbol-simbol parkir yang tertera. Lalu amati juga apakah di sekitar parkir untuk privat atau umum? Setelah itu pasang papan parkir sesuai petunjuk waktu. Taruh papan parkir di bawah kaca depan di dalam mobil. Bilamana ada pengecekkan maka petunjuk parkir bisa terlihat. 

Satu hal juga yang membuat Jerman dikenal tertib. Parkir mobil itu sesuai tempat yang ditentukan. Bila di pinggir jalan, maka gunakan jalur di atas jalan. Bukan di pinggir jalan raya dimana akan menimbulkan kemacetan dan terganggu bagi pengguna jalan lainnya.

Bagaimana pengalaman anda memakirkan kendaraan?

Parkir Berbayar Otomatis

(Ini kasir otomatis untuk bayar parkir yang tampak di suatu rumah sakit. Sumber foto: Dokumen pribadi)

(Ini salah satu Parkautomat 20 cents € untuk 30 menit. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Sewaktu di Jakarta, saya dan suami mampir di wilayah Sabang untuk membuat pas foto. Karena sudah lama tidak di Jakarta, saya lupa jika di Sabang berlaku parkir berbayar otomatis, entah apa namanya. Oopps, suami sudah terlanjur parkir, ya sudah, terima nasib bagaimana menggunakannya. 

Saat mau coba utak-atik mesin otomatis parkir atau Parkautomat, tiba-tiba ada bapak pengatur parkir datang membantu. Dia tanya keperluan saya. Pikirnya jika untuk pas foto, mungkin hanya lima ribu rupiah. Saya serahkan uang tersebut. Done!

Nah, di Jerman Parkautomat juga diberlakukan. Baru-baru ini stasiun televisi Jerman menayangkan liputan implementasi Parkautomat lalu kemudian meminta pendapat warga seputar hal itu. Ada yang suka karena lebih praktis. Ada pula yang tak suka karena terbiasa gratis dan sekarang harus bayar, dan sebagainya. 

Tidak semua area pakai Parkautomat, kebanyakan area pemerintahan atau publik yang ramai seperti rumah sakit, dsb. Jika bisa gratis mengapa harus bayar hahaha.. Jadi saya dan suami pun berebut cari lahan parkir gratis meski jaraknya jauh dari tempat yang dituju. Risiko ya?!

Misalkan 20 cents € untuk 30 menit, ada orang yang sudah terlanjur bayar untuk 30 menit kemudian pergi setelah 20 menit. Berarti masih ada 10 menit tersisa, kita bisa pakai juga 10 menit berikutnya gratis. Ini semua terlihat di penunjuk waktu Parkautomat. Biasanya urusan di sini tidak terlalu lama, lumayan gratis 10 menit hehehe…

Lalu bagaimana jika cuek dan tidak bayar, ‘kan di Jerman tidak ada petugas parkir yang cek alias semua berdasarkan kesadaran? Hmm… siapa berani berhadapan dengan polisi dan kena denda?! Jadi daripada kena denda lebih baik bayar. Polisi terbiasa memantau dan berpatroli.

Oh ya, ada pula sistim Parkautomat yang biasa di Indonesia perlu ada staff yang beri karcis. Di sini mereka yang akan parkir masuk dan ambil tiket otomatis. Kartu dari mesin parkir itu disimpan. Setelah selesai urusan, kita bayar langsung di Kassenautomat yang bekerja otomatis dengan memasukkan kartu parkir. Di situ akan tertera besaran € yang harus dibayar. Setelah bayar dengan jumlah sesuai, kartu parkir dikembalikan. Kartu tersebut digunakan untuk keluar area parkiran dengan memasukkan ke mesin otomatis.

Semua dilakukan secara swalayan dan otomatis. So, berapa banyak karyawan yang dihilangkan di sini? Petugas pemberi karcis, petugas jaga + pengatur parkir dan petugas yang jadi kasir penerima uang. 

Begitulah cara kerja parkir berbayar otomatis yang saya ketahui. Dengan menjamurnya kendaraan, retribusi parkir menjadi sumber penerimaan yang lumayan besar jika dikelola dengan tepat.

Saya jadi ingat sewaktu masih kuliah di Jakarta, sempat membantu jadi Note-Taker FGD tentang perpakiran di Jakarta sekitar tahun 2000-an. FGD ini diselenggarakan oleh NGO. Nah, di sini saya paham bahwa retribusi parkir merupakan pasokan uang harian yang lumayan besar. Itu kira-kira 10 tahun-an lalu, kebayang jika dana parkir bisa dikelola dengan baik untuk pembangunan bersama.

☆ Foto menyusul…