Agustiner Bräu Das Oberhaus, Passau: Rekomendasi Tempat (19)

Bir Radler.
Sup bola daging sapi goreng.
Tempat ini juga menawarkan panorama kota Passau dari atas.

Jika anda datang ke Oktoberfest, pesta bir terbesar di Munich maka anda mengenal nama bir terkenal berikut. Ya, Agustiner Bräu dari München adalah salah satu restoran dan biergarten juga yang cukup populer di Munich. Bahkan restorannya layak dikunjungi seandainya ingin mencicipi kuliner Jerman Bavaria.

Rupanya tak hanya di Munich saja, di Passau pun restoran dan biergarten Agustiner ada. Tepatnya berada di Das Oberhaus, letaknya di atas yang memungkinkan siapa saja bisa melihat keindahan kota passau. Dari tempat ini, kami berkunjung maka bisa terlihat panorama kota Bayerische Venedig, atau Venesia-nya Bavaria.

Suami saya suka sekali dengan bir buatan Agustiner. Katanya rasanya benar-benar enak. Bir mereka telah ada sejak abad 14. Wow! Sementara di Jerman sendiri ada ribuan merek dagang bir dan Agustiner adalah salah satunya. Menikmati bir langsung di biergarten rupanya punya sensasi bir yang berbeda. Pasalnya bir langsung dituangkan dari drum yang masih segar.

Ngomong-ngomong soal panorama kota passau, pengunjung akan disuguhi pemandangan dari teras restoran. Tempatnya nyaman layaknya biergarten. Apalagi saat kami berdua memilih langsung pemandangan di teras restoran. Kota cantik Passau yang terbelah tiga sungai langsung terlihat jelas.

Soal kuliner lain di restoran ini tentu patut dicoba. Saat membuka daftar menu, suami pesan Radler. Sementara saya mencoba sup bola sapi goreng. Namanya klare rindsuppe. Rasanya cukup pas di lidah.

Demikian rekomendasi kunjungan kami ke restoran ini. Semuanya terasa pas di lidah. Pula restoran ini menawarkan panorama keindahan kota dari atas. So, tunggu apalagi jika anda berkunjung ke Passau maka sempatkan mampir.

Advertisements

Menikmati Menu Ikan Zander di Kapal Wisata, Kota Passau

Bosan dengan wisata keliling kota tua di Eropa? Atau bosan menyantap makanan di restoran? Nah ide berikut bisa dicoba dimana anda bisa menikmati wisata tanpa berlelah-lelah berjalan kaki dan menyantap sajian dengan pemandangan alam yang indah. Ya, berwisata dengan kapal wisata di kota Passau.

Pasalnya di kota Passau ada pilihan wisata dengan menggunakan kapal menyusuri sungai donau. Sungai donau atau yang biasa dikenal danube dalam istilah asing membuat suasana wisata anda semakin semarak. Di sini anda bisa menyusuri sungai sambil menikmati pemandangan indah juga tempat-tempat bersejarah lainnya. Di dalamnya tersedia pemandu wisata yang menjelaskan tentang tempat-tempat yang dilewati. Ada juga buku petunjuk yang menyediakan informasi dalam bahasa Jerman dan bahasa Inggris.

Harga tiket wisatanya bervariasi tergantung lama dan pilihan atraksi yang anda kehendaki. Namun pastinya kapal wisata ini memiliki nuansa yang tak membosankan. Suasana di dalam bak restoran berkelas dengan suguhan sajian istimewa seperti yang saya pilih berikut. Di kapal wisata ini tersedia hidangan tradisional ala Bavaria dan berbagai menu western lezat yang bisa menemani perjalanan anda.

Saya memesan Zanderfillet und Kartofelln seperti yang terlihat pada foto. Zander memiliki tubuh yang panjang seperti tombak dan siripnya yang tajam seperti duri. Ikan zander memang ditemukan di perairan Eropa, bahkan ikan ini juga hidup di sungai danube ini. Namun anda pastinya tidak akan melihat orang memancing atau nelayan menangkap ikan selama berwisata di sini. Karena sesuai peraturan pemerintah Jerman dilarang tanpa ijin menangkap hewan untuk dikonsumsi apalagi dijual.

Hidangan datang setelah saya memesan. Ikan ini berasa tawar dan tak ada duri. Ikan dibungkus tepung dan digoreng. Untuk menikmati ikan, diberi sentuhan rasa kräuterbutter, yakni butter dengan tambahan daun peterselli. Plus ada irisan lemon yang bisa menguatkan rasa segar ikan. Sebagai side-dishes ada kentang yang berbentuk kecil dan diberi daun peterseli. Dan tentunya salad yang diberi dressing yoghurt. Mantap!

Sambil menikmati sajian ikan zander, kita disuguhi suasana alam sungai danube atau donau. Untuk hidangan makan dan minum terpisah dari harga tiket kapal wisata. Di sini pula mungkin anda terinspirasi seandainya di Jakarta kelak bisa tersedia pilihan wisata menyusuri sungai yang bersih. Bukan mustahil ya. Memang diperlukan kesadaran dari warga dan peraturan yang ketat agar tidak membuang sampah ke sungai.

Semoga bermanfaat!

Pernah Menikmati Makanan di Austria, Tapi Pemandangannya ke Jerman

Pemandangan kota Passau yang dilalui dua sungai, donau atau danube dan sungai lain yakni inn.

Suatu kali kami sedang mencari tempat makanan yang baru dan menarik untuk dicoba. Lalu kami menemukan papan informasi di jalan terdapat restoran dan kafe yang menawarkan pemandangan indah ke arah kota Passau, Jerman. Padahal posisi kami sedang berada di pinggiran Austria. Penasaran dan kami pun meluncur ke sana.

Kami datang di hari Minggu yang cerah dimana hampir semua orang berpendapat bahwa hari itu begitu indah. Matahari bersinar terik yang membuat orang ingin keluar rumah. Itu sebab kami pun berjalan-jalan keluar rumah menikmati suasana di hari itu. Dan waktunya makan siang, tak terasa kami sudah berjalan jauh ke arah Austria.

Ada papan informasi semacam reklame yang menawarkan pemandangan indah di lokasi restoran dan kafe. Hmm, penasaran kami pun meluncur ke sana. Jaraknya tak jauh dari kami berada, hanya hitungan beberapa meter yang menanjak ke pegunungan. Yups, kami menuju tempat bernama Cafè-Restauran Blaas yang berlokasi di Hinding 38, Freinberg di Austria.

Schnitzel.

Palatschincke förster art.

Restoran terlihat penuh karena puluhan mobil parkir di depan. Kami pun tak dapat tempat parkir dan mulai mengurungkan niat untuk singgah. Beruntunglah ada satu mobil selesai dan keluar dari tempat parkir. Segera suami memarkirkan mobil dan kami pun sudah terlambat makan siang. Pramusaji menyambut ramah kami dan beruntungnya kami langsung mendapatkan tempat istimewa. Yakni kami duduk di teras dan bisa langsung melihat pemandangan Passau, salah satu kota terindah di Jerman. Dari situ, kami bisa melihat kubah Dom St. Stephan yang menjadi landmark kota. Lalu ada dua aliran sungai yang mengapit tengah kota. Itu adalah Passau.

Makanan yang menjadi keistimewaan dari restoran ini adalah Palatschinken. Ini semacam makanan side-dishes seperti kentang, roti dan semacamnya yang biasa dikonsumsi masyarakat Eropa Timur. Palatschinken bisa disajikan dengan dua rasa. Bisa dengan rasa manis seperti dessert, buah atau es krim karena bentuknya yang menyerupai crepes. Atau rasa yang lain yakni pedas atau disajikan side-dishes dengan menu lain, misal daging, sayur dan sebagainya. Saya pun memesan Palatschinke Förster Art.

Suami saya seperti biasa, dia lebih memilih sesuatu yang sudah pernah dicoba. Dia lebih memilih schnitzel ketimbang menu baru yang dibacanya meski semua restoran di Jerman selalu ada penjelasan tentang menu. Seporsi schnitzel tampak disukainya meski sudah puluhan atau ratusan kali dinikmatinya. 

Secara total, makanan yang disajikan enak dan lezat. Variasi palatschinken perlu dicoba. Saya mungkin akan mencoba yang berasa manis seperti yang sedang dipesan pengunjung di seberang meja saya. Soal harga makanan, masih dijangkau dompet. Karena tempat saya istimewa untuk melihat pemandangan, kerap pengunjung datang mengambil foto di dekat saya duduk. Begitulah. 

Jadi, selamat berhari Minggu! Apa rencana anda di hari ini?

Oberhaus Passau, Antara Sejarah dan Pelestarian Alam

Since many hundred years Passau has been promoting the nature conservation and history together becoming beautiful city. Passau is a city that located in Lower Bavaria. No wonders people have known Passau city of three rivers due to the confluence for Danube, Ilz and Inn. To see how the relevance between nature and history in Passau, I just visited Oberhaus Museum a few weeks ago. It was magnificent experience to explore detailed as written here about the steps track to reach out old fortress, castil and the landscape of Passau from top.

Passau, kota berpopulasi lima puluh ribu jiwa ini memang menarik ditelusuri. Saya pernah mengulas kecantikan kota ini yang disebut Venice of Bavaria, juga dilalui tiga sungai berbeda. Linknya bisa diintip di sini. Kota ini tak besar namun bersejarah, bahkan dulu Passau termasuk dalam wilayah kekaisaran romawi. Kita bisa menemukan sejarah dan berbagai peninggalannya di Römer Museum.

Sebagai kota tua tentu ada peninggalan bersejarah yang masih terawat baik hingga sekarang. Namanya Oberhaus yang terletak di wilayah tertinggi Passau. Di sini masih ada kastil yang masih terawat bangunannya meski sudah tidak ada lagi penghuni yang menempatinya. Boleh dibilang lebih dari delapan ratus tahun bagunan megah ini ada dan menyatu dengan alam.

Untuk jalur tersingkat, kita bisa langsung mengendarai mobil menuju oberhaus veste. Namun jika ingin berolahraga dan menyelami setiap sudutnya, silahkan melewati rute Ludwigsteig. Ini semacam rute pejalan kaki naik ke atas kira-kira seratus tiga puluh anak tangga. Namun rute ini aman bagi pengunjung. Dibangun sejak abad 19, jalur ini masih diminat untuk melihat keindahan panorma kota Passau.

Setiap teras dari undakan kastil, kita bisa menyaksikan bahwa dulu tempat ini dijadikan menara pengintai. Karena letaknya paling tinggi, tentu ada lubang-lubang yang sengaja dibuat. Tak hanya itu, katanya ini juga dijadikan benteng pertahanan. Lihat saja bangunannya masih kokoh dan berdiri tegak hingga sekarang. 

Jalur Ludwigsteig dibuka hanya pada 15 Maret-15 November tiap tahun. Itu artinya ini tidak dibuka pada musim dingin. Dan pengunjung perlu memperhatikan jadwal untuk memasuki area ini. Setelah melewati anak tangga, pemandangan indah kota Passau bisa dilihat dari sini. Hal paling indah lainnya adalah melihat tiga sungai berbeda warna dan jalur yang bertemu di satu titik bersamaan. 

Hingga kini saya masih mengagumi kota ini. Sebagai kota tua, banyak bangunan yang masih terawat baik. Selain itu, kota yang dilalui tiga sungai tentu tak luput dari Banjir. Di tahun 2013 contohnya banjir Passau masih diingat karena ketinggiannya. Hmm, belajar dari kejadian itu tentu pemerintah setempat bergiat melakukan pencegahan agar bencana alam itu tidak akan terulang lagi. 

Di Oberhaus ini, pengunjung bisa menyelami sejarah masa lalu dari setiap sudut bangunan yang masih kokoh. Namun ada juga misi pelestarian alam yang terlihat dari plakat ludwigsteig. Tak hanya itu, sepertinya sudah sejak dulu pemerintah di sini memperhatikan upaya pencegahan banjir sebab kota ini dilalui oleh tiga sungai.

Semoga bermanfaat!

Prasmanan Selera Asia, Jento Restaurant: Rekomendasi Tempat (17)

This post tells about the recommended restaurant which offers “Buffet”. Buffet is a system of serving to be placed on center in various food. Jento Restaurant, Bar and Louge with buffet is located on center of old town Passau and serves Asian flavour and cuisines.

Hidangan utama yang saya ambil, isinya macam-macam.

Hidangan pembuka.

Minum teh hijau jadi kegemaran saya di sini.

Ada aneka hidangan penutup namun saya hanya memilih pisang dibungkus cokelat.

Restoran Asia berikut yang diperkenalkan berada di pusat kota Passau. Ini semacam restaurant, bar dan lounge yang memperkenalkan citarasa Asia. Berbagai pilihan hidangan ditawarkan di sini, termasuk saat saya mencicipi makanan ala prasmanan (buffet) yang menggugah selera saya.

Saya dan seorang teman asal Indonesia janjian untuk makan siang di sini di kala hari kerja. Pasalnya jika menikmati sajian prasmanan di hari Minggu atau hari libur lainnya, harganya lebih mahal. Jadi kami sepakat melakukannya di hari kerja, di saat jam makan siang. Harganya pun bersahabat seperti penyambutan pramusaji yang melayani kami saat datang.

Untuk harga prasmanan per orang tentu diluar harga pesan minuman. Jika anda tidak ingin makan secara buffet, ada pilihan menu lainnya sesuai yang tertera di buku menu. Oh ya, buffet juga tersedia pilihan berbagai hidangan sushi. Jika anda menyukainya, ada biaya buffet plus sushi. Yups, ada biaya tambahan lainnya.

Seperti biasa, silahkan ambil makanan sesuai selera anda! Ingatlah bahwa ini bukan aji mumpung dimana boleh makan sebanyak-banyaknya! Namun makanlah sesuai kebutuhan anda. Sebaiknya pilih dan ambil sedikit dulu ketimbang mubajir dan tidak dimakan. Rasanya anda akan malu jika makanan yang sudah diambil tidak habis.

Untuk hidangan seperti ini, porsi makan saya tetap sama yakni tidak banyak. Saya lebih memilih ambil sedikit dan macam-macam jenisnya. Saya suka mencoba makanan yang baru terlihat di hadapan saya. Semuanya asli selera Asia.

Ada nasi putih dan nasi goreng. Mie goreng dan aneka mie. Lalu aneka tumisan sayuran. Ada daging ayam yang dipanggang atau diberi bumbu. Ada juga hidangan bebek atau beef yang bercampur dengan sayuran. Semua lengkap.

Pertama-tama ambil dulu hidangan pembuka, yakni sup. Setelahnya, silahkan ambil hidangan utama yang tersedia di meja hidangan! Lalu jangan lupa dessert yang bisa dinikmati di akhir hidangan. 

Suasana dalam restoran.

Pastinya anda akan merasa puas dengan varian sajian Asia yang menggugah selera. Tempatnya pun asyik buat nongkrong bersama teman atau keluarga.

Melange dan Cookies Cokelat yang Nikmat di Cafè Simon: Rekomendasi Tempat (18)

Melange.

Melange is a kind of coffee which has similar blend between coffee and foam milk such as capuccino. The difference between capuccino and melange is melange specialized for coffee lovers who like drinking milder coffe. The first time I have known melange in Cafè Simon that located in center of old town, Passau. This cafè was built since 1903 and served the best coffee and fancy cookies famous in here. 

Capuccino.

Aneka cookies yang dijual.

Sudah beberapa kali saya berkunjung ke sana karena lokasinya yang berada di Altstadt dan tempatnya yang menarik untuk nongkrong. 

Saya melihat sebagian pengunjung menjadikan cafè ini sebagai meeting point.  Begitu pun yang saya lakukan saat ingin ngobrol bersama teman-teman di sini. Mereka menyarankan untuk mencoba kopi di Cafè Simon yang katanya enak.

Ternyata cafè yang terletak di pusat kota Passau sudah terbilang tua, yakni sejak tahun 1903. Wow! Tak hanya kopi, berbagai penganan yang terbuat dari cokelat benar-benar nikmat. Wangi cookies cokelat harum menggoda pengunjung yang datang. Bahkan cafè ini sudah menyiapkan sovenir yang cantik berhias sehingga bisa dihadiahkan kepada orang lain. 

Namun di luar itu semua, saya mau sampaikan tentang melange, kopi yang dipesan suami kala kami datang berdua. Seperti biasa saya memesan capuccino, tiba-tiba suami memesan melange kemudian membuat saya penasaran. Kata suami, ini semacam kopi juga.

Apakah anda pernah tahu kopi melange?

Melange atau ada pula yang mengatakan wiener melange merupakan sajian kopi mirip seperti cappucino. Ini adalah campuran dari setengah cangkir kopi hitam dan setengah lagi susu krim yang menjadi busa susu sebagai topping. Dari tampilan luar terlihat agak mirip cappucino, namun setelah saya cicipi ada yang membedakan rasa keduanya.

Jika disebut wiener melange, merujuk pada asalnya maka kopi ini terkenal di Wina, Austria. Berdasarkan pencarian informasi, jenis kopi racik ini dipopulerkan oleh para biarawan Fransiskan. Kopi melange yang dipilih biasanya lebih ringan (mild) dibandingkan capuccino. 

Di supermarket di sini, saya bisa memilih kadar kopi yang ingin dinikmati. Saya biasanya pilih yang mild dan tidak terlalu kuat. 

Bagi anda penyuka kopi mild, mungkin anda perlu coba melange. Dengan begitu anda akan paham beda melange dan capuccino.

Semangkuk Kopi, Mau Coba? Cafè Aran: Rekomendasi Tempat (16)

Seiring berjamurnya kedai kopi bertambah pula kreasi industri yang memikat pelanggan penikmat kopi. Budaya nongkrong di warung kopi ternyata tidak hanya di Indonesia saja, di Jerman juga. Apalagi ada kebiasaan bagi orang Jerman menikmati kopi sambil ngobrol, ya kaffeetrinken.

Menyangkut hal tersebut, bagi mahasiswa di sekitaran Passau tentu nama kedai kopi berikut tidak asing lagi. Namanya Cafè Aran yang terletak di pusat kota Passau, bersebelahan dengan Universität Passau. Cafè ini tidak hanya digembari kalangan mahasiswa saja, namun berbagai kalangan usia. Alasannya sih tempat ini dibuat hommy dan asyik buat ngobrol.

Cafè ini sering dijadikan meeting point karena letaknya tak jauh dari terminal bis utama kota Passau. Namun lepas dari lokasinya yang strategis, ada hal menarik yang mungkin belum anda temukan di kedai kopi mana pun. Cafè ini menyediakan tidak hanya secangkir kopi tetapi semangkuk kopi. Loh kok?

Kopi dihidangkan dalam mangkuk kecil sesuai pesanan, bisa dalam porsi biasa atau porsi lebih besar. Tentu harganya berbeda, yakni porsi lebih besar berharga lebih mahal. Menarik ‘kan dan pastinya kopinya pun enak.

Untuk memesannya, anda perlu datang ke meja kasir. Di sana tersedia juga berbagai menu dan kudapan sesuai selera pengunjung. Oh ya, budaya memberi tip berlaku di kafe-kafe di sini. Nah, ini yang disukai oleh kalangan mahasiswa yakni tidak perlu memberikan tip kepada pramusaji. Setelah anda memesan dan membayar di kasir, silahkan tunggu beberapa saat sampai kopi pesanan dihidangkan!

Begitulah, jika penasaran dengan kedai kopi ini, silahkan mampir bila berkunjung ke sini! Semoga bermanfaat!

 

Photos Galery: Menyusuri Sungai Donau, Passau

Last week, we were been around Danube river in Passau. As known, Passau is called “Bavarian Venice” due to the confluence of beautiful three rivers. One of them is Danube that literally in German as Donau. After Wolga river, Danube is the second of largest river in Europe that passed through some countries.

***

Minggu lalu (11/3) cuaca di sini begitu cerah dan tidak dingin, diatas 13 derajat celcius. Kami berjalan-jalan menyusuri keindahan sungai Donau, di Passau. Sungai Donau dalam istilah Internasional dikenal dengan nama Danube. Sungai ini adalah sungai terbesar kedua di Eropa setelah sungai Wolga. 

Pinggir sungai Donau. 

Promenade di pinggir sungai

Dengan ikut paket tur dari ferry ini, anda bisa menyaksikan keindahan sungai ini yang melintasi beberapa negara. 

Dia adalah Emerenz Meier, seorang warga Passau yang cukup disegani sebagai seorang seniman di awal abad 20.

Jangkar sebagai penanda bahwa kota ini selalu jadi persinggahan pelancong, tidak hanya Jerman. 

Sepasang muda-mudi bermain kano di Donau.

Tepat di sini, sungai Donau bertemu dengan dua sungai lainnya, Ilz dan Inn.

Catatan ketinggian air yang menjadi momentum bersejarah.

Makan ala Prasmanan, Golden Wok: Rekomendasi Tempat (15)

Teh hijau.

Schnaps.

Nasi putih, cah tauge daging sapi, tumis udang dan krupuk.

Buah potong dan permen.

Biasanya saya datang ke restoran ala Asia dengan memesan menu sesuai buku daftar sajian yang tersedia di setiap meja tamu. Kali ini saya mencoba pilihan lain yakni prasmanan atau buffet yang disajikan di salah satu restoran Asia di Jerman. Restoran yang mengklaim spesial menu asal Tiongkok – Thailand ini terletak di kota Passau. 

Untuk harga per porsi per orang dikenakan 8,90€ untuk hari Senin sampai Sabtu. Sedangkan jika kita datang di hari minggu seingat saya harganya menjadi 15,90€. Untuk porsi anak-anak harganya jadi lebih murah. Saya dan suami pun akhirnya mencoba menu prasmanan ini. Alasannya, harga tersebut sudah termasuk hidangan pembuka sampai hidangan penutup. Namun memang harga tersebut tidak termasuk minuman yang dipesan. Ala prasmanan disajikan saat makan siang, sepertinya tidak dilakukan untuk menu makan malam.

Restoran terletak di jalan Neuburgerstrasse, yang berada di lantai atas. Sedangkan di bawahnya adalah supermarket Kaufland. Letaknya yang strategis membuat restoran ini banyak diminati oleh mereka yang suka selera makanan Asia. 

Dengan ramah, kami disambut oleh si pramusaji. Restorannya begitu luas, bersih dan ekslusif. Tampak ornamen seperti lampion dan aksara Tiongkok menghiasi restoran ini. Untuk meja prasmanan diletakkan agak menjorok ke dalam. Lalu tersedia juga toilet yang bersih dan nyaman. Keren!

Jika tamu sudah memilih ala prasmanan, maka silahkan datang ke meja buffet dengan aneka pilihan menu. Berbagai peralatan makan seperti piring, mangkuk, sendok, garpu, sumpit bahkan piring kecil untuk dessert tersedia di sekitar meja prasmanan. Silahkan anda memilih yang anda suka! Namun bagi saya yang tak suka makan banyak, jelas ala prasmanan ini hanya membuat saya memilih menu apa saja yang saya sukai. 

Hidangan pembuka ada beberapa pilihan seperti pekkingsuppe atau spring rolls. Ada juga aneka pilihan nasi mulai dari nasi putih biasa, nasi goreng hingga nasi berbumbu lainnya. Aneka hidangan laut hingga hidangan daging pun tersedia. Saya juga melihat krupuk, sudah lama saya tidak makan krupuk. Selain itu, sushi dengan berbagai pilihan tersedia di sini. 

Hidangan penutup, ada berbagai pilihan seperti buah potong, salat, coklat, permen dan aneka manisan lainnya. Tentunya ini semua dihidangkan disesuaikan dengan kebutuhan perut anda. 

Hal yang perlu diperhatikan saat makan ala prasmanan adalah perhatikan makanan yang dihidangkan. Jika perlu tanyakan terlebih dulu apabila anda merasa ragu atau tidak yakin. Anda bisa ambil porsi sampel lalu cicipi untuk memastikan hidangan tersebut. Rasanya tak elok jika anda sudah mengambilnya lalu tidak menghabiskannya. Ingat bahwa anda telah memilih dan mengambilnya sesuai kebutuhan, bukan pemberian. 

Sebagai complimentary, restoran ini memberikan schnaps ala Tiongkok. Schnaps biasa disajikan di gelas berukuran mini. Kali ini warnanya merah, namun rasanya tak berubah. Tetap hangat di tenggorokan.

So, semoga bermanfaat! Apakah anda pernah mencoba makan ala prasmanan di restoran lain?

Passau, Jerman (2): Kota Persinggahan Para Turis 

Mereke mengatakan Passau adalah Venice-nya Bavaria.


Artikel sebelumnya, saya membahas bagaimana kota Passau yang terletak di Lower Bavaria ini dikenal sebagai Kota Tiga Sungai yakni Ilz, Danube dan Inn. Ya, kota ini dilalui oleh tiga sungai yang berbeda. Begitu indahnya, hingga anda bisa melihat bagaimana kapal ferry mendarat dan singgah di sini hanya untuk berwisata.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/15/passau-jerman-kota-bertemunya-tiga-sungai-nan-indah/

 

IMG_20140122_221132
Foto diambil Saat musim panas.

 

Jika musim panas, saya akan menjumpai banyak turis datang dengan kapal ferry lalu mengeksplorasi keindahan kota ini yang tak luas. Di musim dingin seperti ini, banyak orang lebih menjadikan kapal ferry sebagai area romantis untuk makan malam di kapal sembari menikmati romansa malam. Saat ditawari suami, saya masih berpikir ulang. Mungkin saya akan coba di lain waktu saat musim panas. Kota ini menjadi persinggahan turis berbagai negara.

Keindahan lainnya yang masih terpelihara adalah jejak kota tua yang masih lestari dengan bangunan lama bergaya baroque di sekitar. Indah memenuhi kota lama. Di sana banyak dijumpai toko dan kafe/restoran. Beberapa kali saya singgah di kafe dan mengamati orang lalu lalang dengan berbagai keperluan. Ini layaknya seperti turis saja, meski kali ini saya bukan turis.

Jika anda membaca sejarah Passau, anda juga pasti mengenal tokoh legenda Hitler yang juga pernah tinggal bersama keluarganya di sini. Tepatnya di Jalan Theresienstraße, namun sayangnya jalan itu sudah dipenuhi berbagai kafe sehingga tidak lagi dijadikan sebagai tempat historis. Bahkan saya tidak menemukan dengan tepat rumah dimana tokoh legendaris itu tinggal. Sepertinya memang sengaja diubah nomor-nomor bangunan di sana agar orang tidak lagi penasaran dan cari tahu.

Jalan Theresienstraße, Passau.

Mall Stadtgalerie.

Adanya pusat perbelanjaan di kota ini menjadikan kota Passau menjadi tujuan banyak penduduk Bavaria sekitar. Selain itu, kota ini juga dipadati penduduk dari berbagai negara yang menjadi penduduk atau hanya sekedar menjadi siswa di Universität Passau. Pastinya kota ini menjadi persinggahan para turis karena keindahannya.

Jika anda mengamati video singkat di bawah ini, anda akan paham mengapa banyak orang menyebut Passau sebagai Venice of Bavaria.