Bekerja Jadi Asisten Dapur Bukan Hanya Soal Keahlian Memasak, Tetapi Perlu Sertifikat Ini

“Gesundheitzeugnis” yakni sertifkat yang diperlukan bagi mereka yang bekerja, berkaitan dengan makanan dan minuman.

Bekerja paruh waktu selama studi di luar negeri adalah pengalaman yang menyenangkan. Sebagian teman-teman saya asal Indonesia memilih bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang saku. Bahkan ada teman yang berhasil membiayai sebagian pengeluarannya dari bekerja paruh waktu. Apalagi musim panas saat libur kalender akademis, ada beberapa teman yang pergi ke beberapa kota di Jerman untuk bekerja di pabrik. Ada yang bekerja di pelabuhan. Sebagian lagi mahasiswa, di musim panas bisa mencoba pekerjaan seperti yang saya tulis di sini.

Salah satu pekerjaan yang menantang adalah küchenhilfe, asisten dapur di restoran/kafe. Mungkin pekerjaan ini terdengar sepele, ternyata susah dan berat juga dijalani. Tingkat stress begitu tinggi manakalah jam sibuk seperti jam makan siang. Begitu pengakuan teman mahasiswa saat kami bertemu. Namun dia merasa senang karena dia mendapatkan penghasilan yang lumayan. Belum lagi, dia termasuk pekerja rajin sehingga pemilik restoran memberikannya trinkgeld, uang tip per minggu. Akhirnya dia pun membayar makan siang kami berdua di salah satu restoran asia.

Saya yang mendengar ceritanya terkagum-kagum. Akhirnya saya pun bertanya, bagaimana syaratnya bekerja jadi asisten dapur? Gesundheitzeugnis adalah syarat yang harus dimiliki. Apa itu?

Dalam bahasa Inggris, gesundheitzeugnis bila diterjemahkan adalah health certificate. Ini diberikan oleh dokter (Hausarzt/Allgemeinmedizine) sesuai kewenangan dari departemen kesehatan yang menyatakan bahwa orang yang mendapatkan sertifikat tersebut tidak punya penyakit menular tertentu dan paham tentang pengelolaan dan kebersihan bahan pokok makanan/minuman. Setelah dokter menyatakan seseorang dalam kondisi sehat, maka dia akan mendapatkan instruksi tentang pengelolaan makanan/minuman dari dokter tersebut.

Sertifikat ini berlaku selama dua puluh empat bulan dan biayanya 20€. Jika terjadi pemeriksaan dari otoritas yang berwenang maka pemilik usaha dan pekerja mendapatkan sanksi bila si pekerja di dapur tidak punya sertifikat yang dimaksud. Setelah dua puluh empat bulan berjalan baik, si pekerja di dapur harus punya sertifikat kedua yang kemudian bisa berlaku seumur hidup.

Mendengarkan penjelasan dari teman saya, saya jadi mengerti bahwa bekerja jadi asisten dapur di Jerman tidak hanya paham mengolah makanan saja. Kontrol terhadap pemilik usaha yang bergerak di makanan di Jerman sangat ketat. Tak segan bahkan otoritas berwenang menutup usaha bilamana ada usaha industri makanan tidak menjalani prosedur dengan tepat. Sertifikat ini akan disimpan oleh si pemberi kerja atau pemilik usaha makanan/minuman.

Teman saya bercerita bahwa untuk mendapatkan sertifikat itu juga tidak mudah. Pertama, dia akan diperiksa rekam medisnya. Kedua, dia diminta membaca buku petunjuk soal kebersihan dan pengelolaan makanan dalam bahasa Jerman. Saya tidak tahu, apakah tersedia buku petunjuk dalam bahasa Inggris? Setelah dia selesai membaca buku petunjuk, ketiga, dokter memanggilnya dan diadakan wawancara. Terakhir, dokter memberikan wejangan seputar hygenitas dan pengelolaan makanan. Misalnya, jika kita bersin, apa saja yang sebaiknya dilakukan saat kita sedang bekerja di dapur. Selalu mencuci tangan setelah dari toilet. Atau, bagaimana mengolah telur dan bahan mentah agar tidak mudah busuk.

Lain negara lagi kebijakan. Namun penjelasan teman saya menambah cerita saya tentang negeri Tante Markel ini. Semoga bermanfaat.

Komunikasi Juga Butuh Kepercayaan Loh

image1
Nothing is quite as precious as TRUST. Tulisan ini saya temukan di dinding toko emas di Singapore. Begitu menyentuh bahwa KEPERCAYAAN itu mahal harganya. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Ada banyak hambatan dalam berkomunikasi, seperti yang saya jelaskan di sini. Namun sesungguhnya ada satu elemen yang mendasari suatu komunikasi. Apa itu? KEPERCAYAAN. Berikut hasil percobaan dan pengalaman saya.

Suatu kali saya pernah tersesat sendirian traveling ke negeri Gingseng, Korsel. Pengalamannya saya tulis di sini. Saya berusaha berkomunikasi dengan penduduk setempat untuk bertanya alamat hotel. Sebagian besar orang yang saya tanyakan, mereka memilih tidak ingin berkomunikasi dengan saya. Mengapa? Kurang KEPERCAYAAN kepada saya yang adalah orang asing menurut mereka.

Atau saya bereksperimen saat kuliah, Psikologi Komunikasi bahwa kepercayaan juga menentukan komunikasi. Saya berdiri di halte bis lalu mengajak orang berbicara. Saya adalah orang asing dan memulai suatu komunikasi yang baru. Tentu mereka yang percaya pada saya, akan terus berkomunikasi. Namun sebagian besar menolak berkomunikasi. Mengapa? Kurang KEPERCAYAAN.

Terhadap orang yang asing atau orang yang baru dikenal, tentu tak mudah membangun komunikasi. Itu sebab seorang konselor pertama-tama harus membangun suasana KEPERCAYAAN dulu kepada kliennya. Dengan begitu klien dapat nyaman berkomunikasi dengan konselor. See that!

So, KEPERCAYAAN menjadi kunci juga dalam berkomunikasi. Siapa yang tidak merasa terkesan saat seorang MOTIVATOR berkomunikasi kepada pendengarnya? Ada KEPERCAYAAN sehingga anda pun mau mendengarkan, rela bayar seminarnya, beli buku-bukunya dan sebagainya. KEPERCAYAAN itu membuat anda bertahan mendengarkan ceramah dari seseorang yang anda kenal handal dan kompeten di bidangnya. Anda percaya bahwa dia layak membangun komunikasi dengan anda.

Jika anda terima telpon dari orang asing yang tidak anda kenal, belum tentu juga anda merespon untuk berkomunikasi lebih lanjut. Mengapa? Karena rendahnya KEPERCAYAAN anda pada si penelpon yang notabene orang asing itu.

Lalu misalkan anda berteman dengan seorang sahabat yang sudah anda kenal baik dan percaya seratus persen kepadanya. Suatu kali dia kedapatan berbohong pada anda. Kepercayaan anda yang seratus persen di awal, bisa jadi berkurang karena kebohongan tersebut. Kemudian ketika sahabat anda ingin berkomunikasi lagi dengan anda setelah kebohongan itu, tentu anda bisa ragu berkomunikasi kembali atau anda mau berkomunikasi namun dengan kepercayaan yang tidak sepenuhnya.

Kepercayaan juga menjadi dasar berkomunikasi.

Seorang sales juga perlu berkomunikasi dengan baik, pertama tentunya harus membangun kepercayaan dulu dengan kliennya. Siapa mau tertarik dengan tawaran sales di awal jika tidak percaya? 

Komunikasi itu tidak murah. Mengapa? Karena kepercayaan itu mahal harganya. Jadi bangunlah kepercayaan yang baik sehingga orang mempercayai apa yang anda katakan saat berkomunikasi!

Dalam buku yang berjudul ‘Trust and Betrayal in the Workplace: Building Effective Relationships in Workplace’ yang ditulis oleh Dennis Reina PhD dan Michelle Reina PhD dikatakan bahwa anda membutuhkan kepercayaan dalam berkomunikasi dengan kolega di tempat kerja. Kejujuran misalnya sangat diperlukan dalam membangun interaksi dengan rekan kerja. Bukankah anda perlu menjadi orang yang ‘trustworthy‘ di tempat kerja ‘kan? Berkomunikasilah yang seadanya, tanpa ditutupi meski kejujuran terkadang susah. Namun dengan begitu mereka tahu bahwa anda adalah orang yang dapat dipercaya.

Semoga bermanfaat!

Masihkah Pekerjaan Menentukan Identitas Sosial?

Dalam diskusi budaya antara Timur dan Barat, ditemukan bahwa bagi orang Timur katakanlah Indonesia, begitu mudah menanyakan apa profesi seseorang bahkan dengan orang asing atau yang baru dikenal. Namun, ternyata hal ini dalam budaya Barat menjadi dianggap ‘tidak sopan’ jika kita menanyakan ‘apa pekerjaan anda?’ pada orang lain meski bertanya pada seorang teman.

Semakin maju dunia, pekerjaan tidak lagi dipandang hanya bekerja di kantor, berangkat pagi pulang sore atau bekerja dengan sebutan ‘guru’, ‘dokter’, ‘karyawan’ dan aneka profesi lainnya. Kini bekerja pun bisa tanpa harus ke kantor, mereka yang bekerja secara online. Atau profesi pekerjaan pun cakupannya menjadi luas saat sekarang. 

Sebagai misal, ada 2 orang tukang batu. Lalu, saya yang semula tidak tahu apa pekerjaan mereka sebenarnya, bertanya begini “Apa yang anda lakukan hari ini?” Orang pertama menjawab “Saya menyusun batu” di kesempatan terpisah, saya bertanya pada orang kedua, dia pun menjawab “Saya membangun istana.” 

Dengan pertanyaan sama ternyata saya bisa menghasilkan dua respon yang berbeda. Jika melihat jawaban orang pertama, jelas saya bisa memandang orang ini mungkin tukang bangunan atau tukang batu. Sedangkan pada orang kedua, saya bisa berpikir mungkin orang tersebut adalah seorang Arsistek, Perancang Bangunan, Supervisor/Mandor pekerja bangunan, dsb. Padahal keduanya adalah tukang batu. 

Begitu mudah kita bertanya, apa yang sedang kau kerjakan sekarang? Itu dimaksudkan untuk bertanya profesi pekerjaannya. Profesi pekerjaan dipandang sebagai identitas sosial. 

Lalu orang mengkotak-kotakkan dalam kelompok tertentu dan mengkaitkan dengan tindakan dan norma sosial. Jika seorang pembela hukum, tidak boleh salah. Jika seorang dokter, tidak boleh sakit. Jika seorang ahli agama, tidak boleh salah. Jika seorang guru, harus santun. Dan seterusnya untuk hal lain. Identitas sosial ini yang kemudian dikaitkan profesi pekerjaan. 

Boleh dibilang, di tengah berbagai tuntutan ekonomi misalnya, masih ada saja orang yang berpikir salah karir. Atau hukum ‘The right man is in the right place’ belum tentu juga benar saat dilakukan seleksi karyawan. Namun profesi pekerjaan disandang sebagai identitas sosial, sehingga untuk mengenal seseorang, tanyakan apa pekerjaannya. 

Ada yang memilih pekerjaan karena pilihannya, namun ada pula karena terpaksa memilih dengan berbagai alasan. 

Ada yang bangga dengan profesi pekerjaannya, lalu ketika terjadi masalah. Orang-orang sekitar mencap dan mengkaitkan dengan pekerjaan. Misal, “Jadi guru kok bicaranya tak sopan”; “Jadi dokter kok bisa sakit ya” ; “Ahli komunikasi kok bicara saja tidak jelas” dan segala macamnya. 

Namun lepas dari apa pekerjaan kita dan identitas sosial yang melekat pada kita, kita sebenarnya ingin dikenal jadi diri sendiri. Ini saya, tanpa embel-embel gelar kesarjanaan atau profesi pekerjaan. 

Di sini saya paham, budaya di Jerman (Barat) bahwa mereka mampu memisahkan urusan pekerjaan dengan personal. Jika saya dan beberapa orang terlibat dalam diskusi obrolan pertemanan, tidak lagi kami berbicara soal pekerjaan. “Saat di dalam kantor, saya pakai jubah bos, namun di luar kantor saya adalah teman baik dan *****” kata teman saya sambil menyebutkan namanya. 

Jika di kartu identitas diri (KTP) saya di Indonesia ada kolom pekerjaan, di Jerman dalam kartu identitas diri tidak dicantumkan profesi pekerjaan. Artinya saya ingin dikenal lepas dari apa pun profesi saya. Ich bin Ich.