Medan, North Sumatera: Sri Mariamman Temple

Sri Mariamman Temple Medan, North Sumatera – Indonesia.

The top of tower in fully ornaments.

The entrance door of temple.

Inside of temple.

This is awesome.

This ornaments seem on top of walls.

One chamber of Temple.

Continued to explore Medan, a capital city of North Sumatera, Indonesia in previously post, I stopped for awhile in the oldest Hindu temple. I saw the tower of temple from far away so really awesome. Indeed, in beginning you found the special gate which can find usually as common temples in South India. I have met a guy who had physically look India people. He was friendly to welcome me and to make some pictures inside. 

I asked the detailed information to a guy whom I met in first time. He can speak Bahasa Indonesia as well. This temple was built since 1884 and aimed to serve worship of Goddes Mariaman. That is a reason we called this temple as Sri Mariamman Temple. Goddes Mariamman is one of Goddes who is believed to have power in healing severe illness and diseases. People came to pray including the community called by Tamil. They have been lived in Medan for centuries ago. 

I am sure you will wonder with the surrounding architecture of temple. Based on the literature, this architectural known by Dravidian architectur. There were a lot of statues to represent the Goddes. This was incredible how unique and detailed ornaments to decorate the beautiful temple became more eternally peace for reality of visiting.

When you visit Medan, you can stop by in Kampung Madras. This temple located in Kampung Madras, not far from Sun Plaza. I found two Tamil generations who have been living in here since born then allowing to make some photos inside. They were typically looking like India people.

Actually I was still curious what the linkage between Sri Mariamman in Medan and Sri Mariamman temples in Penang, Malaysia or Singapore. I found both in that cities while traveling. All architectures and ornaments were really no difference. No answer! The guy who I met previously, he was been with other guy to discuss something important. Then I raised my hand, palm forward and mouth ‘Terimakasih’ as nonverbal sign to appreciate him. Terimakasih means a Indonesian word to express gratitude. I left this temple in still questioning.

Read https://liwunfamily.com/2015/02/03/mengunjungi-sri-mariamman-temple-di-medan-penang-dan-singapura/

Penang, Malaysia: Ritual Menjelang Kremasi ala Tionghoa

Dipimpin oleh seorang Biksu, bersembahyang sebelum dilakukan upacara kremasi.

Menjelang upacara kremasi.



Cerita traveling masih seksi, meski kunjungan ke Penang sudah lama. Saya ceritakan kembali karena berkaitan dengan artikel tradisi Allerheiligen di Jerman. Tiap tempat ada budaya dan tradisinya masing-masing. Tugas saya sebagai pendatang mengamati dan berbagi pengalaman, termasuk upacara kremasi menurut tata cara Tionghoa.

Di Penang saya berkenalan dengan seorang teman asal Jerman. Dia sudah lebih dulu tinggal di Penang sebagai turis. Karena saya tidak bisa menuju ke Hat Yai, Thailand dikarenakan tiket mini van habis saat lebaran maka saya pun bingung, tak ada agenda yang bisa dilakukan di Penang. Teman saya, orang Jerman ini kemudian membawa saya berkeliling kota Penang, termasuk menemani dia mendokumentasikan upacara menjelang kremasi yang kebetulan dekat dengan hostel, tempat menginap.

Hotel kami memang berada di pusat kota tua Penang yang juga paling banyak dihuni oleh etnis Tionghoa. Teman saya rupanya tertarik untuk datang ke upacara kremasi. Bagi saya ini menjadi menarik juga karena saya belum pernah melihatnya di Indonesia. 

Kerabat yang datang bersembahyang dan memasang dupa untuk mendoakan jenazah. 

Upacara simbol pembakaran di depan rumah kedukaan.

Saya dan beberapa turis ikut serta, tampak berbaju putih dan baju merah adalah turis dari Belanda.

Ini upacara menjelang kremasi sebagai simbol kepada Dewa Api. Api terus menyala dan dipantau beberapa orang agar nyala api tetap terkendali.

Keesokan hari persiapan di rumah kedukaan  sebelum dilakukan kremasi.

Mengapa dilakukan kremasi? Itu pertanyaan saya dan teman saya pada salah seorang yang berada di sana dalam bahasa Inggris. Kremasi adalah keyakinan mereka dan juga atas permintaan si almahurm. Sebelum dilakukan kremasi, jenazah masih disimpan di rumah kedukaan untuk memberikan kesempatan penghormatan terakhir kepada kerabat dan sanak saudara. 

Karena acaranya sudah sore menjelang malam hari, tak banyak yang bisa saya amati selain saya ingin tetap menghormati keluarga yang kedukaan. Tampak di rumah duka, ada seorang Biksu memasang dupa dan bersembahyang. Semua orang tampak bersembahyang bagi jenazah yang akan dikremasi. Beberapa turis tampak mengamati dan mendokumentasikan upacara ini, termasuk saya dan turis dari Eropa. 

Setelah bersembahyang, di depan sekitar jalan yang sepi, dekat dengan rumah duka dilakukan pembakaran pernak-pernik yang semuanya berwarna emas. Saya tidak tahu itu apa. Seorang bapak juga meminta kami ikut serta menaburkan pernak-pernik ini untuk dibakar. Sayangnya beliau tak bisa berbahasa Inggris atau Melayu sehingga saya tidak tahu apa maknanya. Namun ini bukan pembakaran jenazah yang dimaksud. Katanya ini simbol sembahyang kepada Dewa Api yang akan melindungi krematorium.

Keeksokan harinya baru dilakukan upacara kremasi. Namun saya tidak ikut serta upacara tersebut, hanya menyaksikan di rumah duka persiapannya. 

Begitulah tradisi pemakaman yang saya ketahui. Saya ingat teman kerja saya dulu di Jakarta, dia seorang Katolik namun sebelum beliau meninggal meminta agar dikremasi. Dia divonis kanker dan sudah memberikan mandat terakhir menjelang ajalnya. Tetapi memang tidak ada upacara seperti di atas. Hanya misa pemberkatan jenazah dan selanjutnya kremasi. Ternyata kremasi tidak melulu soal kepercayaan, ada juga pilihan jika sudah diamanatkan sebelumnya.

Selalu ada pengalaman menarik dari traveling, itu yang saya petik ketika saya kehabisan tiket mini van menuju Thailand. Saya pun jadi mengeksplorasi kota Penang sesaat. 

Baca https://liwunfamily.com/2015/01/28/berkunjung-ke-pulau-pinang-penang-malaysia/

Apakah anda punya pengalaman serupa?