Kue Schwarzwald ala Jerman atau Gateu ala Perancis? Pilih Mana!

Schwarzwald atau black forest.
Gateu dengan kreasinya.

Apakah anda penggemar kue black forrest? Kue ini sudah lama saya kenal sejak kecil di Indonesia. Pasalnya ibu saya beberapa kali membuatkannya. Hingga akhirnya saya tahu bahwa kue black forest yang terkenal itu berasal dari Jerman.

Jika Austria punya sachertorte, kue cokelat yang menggoda maka Jerman punya schwarzwald atau black forest. Sama-sama kue cokelat, Perancis punya gateu. Semuanya itu benar-benar menggoyang lidah para pecinta kue cokelat. Anda pasti tergiur untuk mencobanya, seperti saya yang melihatnya pertama kali.

Ya, di Jerman nama kue tersebut dikenal schwarzwald. Bila diterjemahkan memang sama pengertiannya dengan black forest. Kue ini terinspirasi dari hutan di wilayah Baden Wurtemburg yang dikenal schwarzwald karena warnanya yang tampak hitam dengan ribunnya pepohonan.

Kue black forest ditambah kue spons yang lembut dan selai cerri yang lezat serta tambahan cokelat. Itu yang terbayang di benak saya saat saya menikmatinya masa kecil. Bentuk aslinya di Jerman tak jauh berbeda bahkan rasanya lebih enak di tempat aslinya.

Tak berbeda dengan black forest asal Jerman, saya perkenalkan gateu yakni kue cokelat asal Perancis. Kue ini benar-benar enak bagi para penggila cokelat. Pasalnya kue ini dibuat dari bubuk cokelat dan cokelat yang meleleh. Ditambah pemanis rasa dan berbagai selera kesukaan membuat citarasa kue ini tiada duanya.

Gateu sudah lebih dulu ada ketimbang black forest. Satu abad lebih awal ketimbang black forest di Jerman. Seiring jaman resep gateu pun banyak varian dan kreasi. Bahkan gateu bisa ditemukan tidak hanya di Perancis, negeri asalnya. Itu sebab ada yang mengatakan black forest adalah salah satu kreasi gateu.

Entah benar atau tidak cerita tersebut, pastinya anda tidak akan menyesal mencoba kedua kue ini. Sama-sama enak!

Advertisements

2 Plat Du Jour, Makan Siang ala Perancis: Makanan Khas Perancis (2)

Le Plat Du Jour, isinya dengan daging sapi.
Satu lagi dengan daging ayam.
Meski tidak memesan wine, gelas wine tetap disediakan.
Secangkir espresso setelah makan siang.

Setelah berkunjung ke Liechenstein, kami pun melipir ke arah Perancis. Ada banyak tempat di sana yang bisa dikunjungi karena keindahannya, tidak hanya soal Paris. Tiba kami di perbatasan tiga negara yakni Perancis, Jerman dan Luxemburg. Kami bermaksud untuk makan siang.

Tiba di salah satu kota tua perbatasan di Perancis yang sepertinya sudah banyak ditinggali penduduknya. Cerita tentang kota ini di lembar berikutnya. Kemudian kami menemukan salah satu restoran dari beberapa restoran di pusat kota. Agar paham menu yang disajikan, kami lihat dulu menu yang tertera. Kami tetap tidak mengerti karena berbahasa Perancis. Belum lagi memang harga makanannya meski di kota kecil tetap saja lumayan merogoh kocek.

Berhubung sudah lapar, kami tiba di satu restoran. Saat ditanya daftar menu, restoran tidak punya dan pramusaji menunjukkan pada papan tulis di depan restoran. Ini cara yang banyak dilakukan restoran-restoran di Eropa, menuliskannya di papan tulis dengan kapur tulis pula.

Pramusaji tidak bisa bahasa Jerman pun bahasa Inggris. Akhirnya kami menyetujui menu makan siang yang ditawarkan. Rupanya di tiap meja terdapat gelas wine dan gelas biasa lain yang akhirnya digunakan untuk minum coca-cola. Karena tidak terbiasa dan sedang tidak ingin minum alkohol, gelas wine kami kosong. Sementara bapak tua di sebelah kami, duduk seorang diri dengan gelas wine separuh isi. Setelah wine habis, dia pesan bir dan seporsi makan siang. Alamak!

Kami dapat makanan kecil dan minuman pesanan sementara menunggu menu makan siang. Di ujung lain, tampak dua perempuan paruh baya menikmati wine dan semangkuk salad. Rupanya sudah terbiasa minum wine di kala siang hari. Ini sama seperti kebiasaan masyarakat di Bavaria, Jerman meminum bir di sela makan siang.

Makan siang datang. Makanan kecil ditarik, ada roti, perlengkapan makan dan dua piring makan siang. Dua porsi yang serupa, perbedaannya hanya pada dagingnya. Satu porsi terdiri atas kentang goreng, tomat panggang dan ayam panggang berbumbu. Sedangkan yang lain, terdiri atas kartoffelspätzle, tomat panggang dan daging sapi berbumbu. Ditambah ada beberapa iris roti untuk menikmatinya. Bumbunya agak sulit didekripsikan.

Bagi saya, kuliner khas Perancis memang nikmat. Tidak membuat perut kekenyangan, porsinya pas dan sesuai. Rasanya pun nikmat. Pantas saja, makanan Perancis terkesan eksklusif dan lezat.

Usai menikmati makan siang, pramusaji datang menarik piring kami. Dia menawarkan lagi makanan penutup atau sekedar kopi. Suami yang menyetir mobil pun menyanggupi untuk memesan kopi. Selang berapa lama, muncul secangkir kecil espresso. Sementara bapak tua di sebelah kami, ia pun memesan secangkir kopi usai makan siang dengan menu yang sama.

Karena harus lanjut perjalanan lagi, kami panggil pramusaji lagi. Jadi pramusaji merangkap kasir juga berlaku di sini. Dia menyerahkan semacam mangkuk kecil berisi bon dan tiga permen. Permen yang diberikan ternyata tidak sekedar permen. Enak juga ternyata.

Begitulah pengalaman menikmati sajian di Perancis secara lengkap. Apakah anda ada pengalaman lain?

Schengen, Luxembourg Bukan Hanya Soal Visa. Ini yang Perlu Diketahui (2)

Selamat datang di Schengen!
Bendera negara-negara yang tergabung zona schengen.
Museum yang dijadikan pusat informasi.

Akhirnya saya sudah dapat visa Schengen,” kata seorang teman kantor, sewaktu saya masih berkantor di Jakarta.

Teman lain menyahut “Asyik, jadi kapan kamu ke Schengen?”

Teman yang mendapat visa segera menjawab “Hei, saya mau ke Belanda. Bukan ke Schengen.”

Lalu berdua berdebat soal visa meski keduanya belum pernah pergi ke Schengen, yang letaknya di Luxembourg. Yups, kali ini saya membahas benar-benar kota Schengen yang dekat dengan batas Jerman dan Perancis.

Per 2018 ada 28 negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Namun bukan berarti negara-negara tersebut sebagai anggota zona schengen. 26 negara yang masuk dalam schengen countries adalah

  1. Austria
  2. Belgia
  3. Ceko
  4. Denmark
  5. Estonia
  6. Finlandia
  7. Peranncis
  8. Jerman
  9. Yunani
  10. Hungaria
  11. Islandia
  12. Italia
  13. Latvia
  14. Liechenstein
  15. Lithuania
  16. Luxembourg
  17. Malta
  18. Belanda
  19. Norwegia
  20. Polandia
  21. Portugis
  22. Slowakia
  23. Slovenia
  24. Spanyol
  25. Swedia
  26. Swiss
Contoh negara yang masuk dalam zona schengen.
Depan museum disebut Places de ETOILES.
Ini juga sebagai simbol nama-nama negara yang masuk zona schengen.
Tampak sungai moselle dan jembatan penghubung ke Perancis dan Jerman.

Schengen di Luxembourg begitu dekat dengan batas Jerman dan Perancis. Memasuki kota ini, kami mendapati bendera dari negara-negara yang masuk zona schengen. Meski pun demikian kotanya tidak besar, bahkan dulu disebut desa. Karena luas negara Luxembourg tidak besar, masuk dalam lima negara mini di Eropa.

Di sini juga terdapat museum yang pernah dijadikan tempat berlangsungnya kesepahaman zona schengen yang sudah dipikirkan sejak tahun 1980-an. Adalah dua negara Perancis dan Jerman yang bertetangga dan menjadi inisiator kesepakatan.

Area schengen dimaksudkan untuk menghapus perbatasan internal demi kesejahteraan ekonomi, perdagangan dan industri juga keamanan yang memperkuat sistim peradilan umum dan kepolisian antar negara. Perjanjian schengen diawali pada tahun 1985 yang ditandatangani wakil dari lima negara yakni Perancis, Jerman, Belgia, Luxembourg dan Belanda. Tempat berlangsungnya penandatanganan itu di sebuah desa kecil dekat sungai moselle, yakni Schengen. Itu sebab kita mengenalnya menjadi zona schengen.

Berangsur-angsur jumlah anggota zona ini bertambah. Hingga kini jumlahnya tercatat 26 negara dan mungkin akan bertambah lagi. Di Schengen ini tempat bersejarah tersebut dijadikan museum dan tujuan wisatawan.

Di depan museum tampak nama-nama negara yang masuk wilayah Schengen. Nama-nama negara diberi bintang, tertulis dalam bahasa Peranis ‘Places de ETOILES’. Lalu di sampingnya pilar-pilar yang dihiasi bintang.

Adalah tepat ketika awal sejarah dilaksanakan kesepakatan zona ini di Schengen. Jika sudah di Schengen, anda bisa mudahnya dalam jangkauan menit untuk menjangkau Perancis dan Jerman. Jadi jika anda ingin merasakan sensasi tiga negara dalam satu hari. Mungkin anda perlu berkunjung ke sini.

La Mossele dan Contz-les Bains, Perancis yang Dekat Jerman dan Luxembourg (1)

Untuk membedakan bahwa anda memasuki wilayah Perancis, tampak terpajang miniatur menara Eiffel di perbatasan.
Monumen peringatan saat perang dunia.
Peta informasi.
Sungai moselle.

Dua negara lain yang juga berbatasan langsung dengan Jerman adalah Luxembourg dan Perancis. Tujuan kami selanjutnya adalah menjelajah negeri ketiga mini yakni Luxembourg. Dua negara mini lainnya yakni Vatikan dan Liechenstein sudah dibahas sebelumnya. Sebelum membahas negara berikutnya, kami pun mampir sebentar di salah satu kota tua di Perancis yang letaknya berbatasan dengan Jerman dan Luxembourg.

Ketika kami menjejakkan kaki di sana tampak ini adalah sebuah kota tua yang sudah jarang penduduknya. Namanya Contz-Les Bens yang letaknya berada di timur laut Perancis. Penduduknya yang tinggal di situ disebut Contzois. Sejarah mencatat bahwa wilayah ini sudah ada sejak abad 17.

Kami tidak berlama-lama di situ, meski ada tempat menarik yakni Chàteu des ducs de Lorraine yang konon sudah ada sejak abad 18. Bangunannya yang megah tampak terlihat dari bawah.

Di pusat kota banyak bangunan tua yang sudah mulai ditinggalkan dan tak berpenghuni. Kami menemukan sebuah prasasti sebagai informasi bahwa dulu di situ sempat menjadi industri tekstil. Entah apa alasannya hingga kini sudah tak terpakai dan terbengkalai.

Tampak di atas bangunan kastil abad 18.
Sisi kota.
Dahulu ini pusat industri tekstil.
Arah petunjuk menuju kastil.

Kota ini juga berbatasan langsung dengan Saarland, Jerman. Kemudian wilayah kedua negara dibatasi juga oleh sungai mossele. Wilayah ini menjadi subur terutama untuk menanam anggur. Kami pun menemukan banyak ladang anggur. Tak salah jika ada produk anggur mossele yang dikenal sebagai produk tiga negara. Mungkin iklimnya yang cocok sehingga mudahnya bercocoktanam anggur. Anggur mossele umumnya yang dijual adalah anggur putih.

Karena perut sudah lapar, kami menyempatkan diri menikmati sajian makan siang khas Perancis. Sajian makan siang yang nikmat. Di sekitar kami tampak setiap tamu restoran menikmati anggur saat makan siang. Bahkan gelas anggur tersedia di setiap meja. Mungkin karena wilayah ini penghasil anggur sehingga menikmati anggur pun bisa setiap saat.

Usai menikmati makan siang di Perancis, kami meluncur ke Luxembourg.

Menikmati Tarte Flambèe dan Segelas Cappuccino: Makanan Khas Perancis (1)

Flammküchen ala Perancis.

Menikmati jalan-jalan di Perancis seolah-olah turis seperti menikmati sajian di suatu kafe. Begitu kami memandang banyak orang-orang memenuhi kafe dan bar. Kami pun turut serta lalu berhenti di suatu kafe di Strasbourg. Ini bukan jam makan siang, namun kami sudah merasa lapar.

Kami memesan secangkir cappuccino dan flammküchen. Ya, di Jerman kami biasa menyebutnya demikian. Di Perancis ini disebut tarte flambèe. Sejenis pizza yang yang diberi topping sesuai selera.

Jika merujuk pada kuliner di Regensburg yang pernah saya liput, sajian ini sebenarnya adalah sama. Silahkan cek di sini! Tarte flambèe yang asli juga bernama elsass, sedangkan dalam bahasa Jerman hidangan ini bernama elsässer flammküchen. Isian dan bentuknya pun sama.

Apa yang terjadi?

Jika merujuk pada sejarah antara Jerman dan Perancis, tidak hanya karena serangan Napoleon Bonaparte saja. Setelah perang dunia kedua, Jerman yang luluh lantah akibat kalah perang sempat terbagi dalam empat zona, yang membuat Jerman berusaha bangkit. Empat zona itu dinaungi oleh empat negara, salah satunya adalah Perancis. Perancis menaungi zona di bagian barat Jerman. Mungkin itu alasan kuliner Perancis juga menjadi bagian kuliner di Jerman. Salah satunya yang kita jumpai adalah nama berbeda tetapi satu sajian kuliner yang sama, Flammküchen.

Saya pernah tanya bagaimana membuatnya pada seorang teman yang bekerja di restoran. Anda bisa membelinya yang instan dan tinggal memanggangnya saja di oven. Atau cara lain adalah membuat racikannya sendiri. Untuk rotinya, sama seperti pizza bahan pembuatannya. Jika malas membuat di supermarket sudah tersedia roti yang jadi dasar flammküchen.

Di atas roti yang pipih, berikan cream. Bentuknya seperti yoghurt dan rasanya tawar. Taburi dengan cream seluruh permukaan atas roti. Lalu taburi dengan daging ham yang sudah dipotong-potong kecil. Beri tambahan bawang bombay. Lalu panggang di oven hingga pinggir roti tampak garing.

Selesai terpanggang, hiasi di atasnya dengan irisan daun peterseli dan merica. Anda juga bisa menghiasinya dengan irisan daun bawang atau bawang merah. Silahkan sesuaikan dengan selera anda! Ini tampak seperti pizza ‘kan?

Saya menikmati elsass tarte flammbèe dengan segelas cappuccino sambil melihat lalu lalang orang-orang di kota Strasbourg. Hmm, saya terlihat seperti turis saja.

Menyusuri Romantisme Sungai Rhein dari Strasbourg, Bonn Hingga ke Köln

Sungai rhein dari menara Dom Köln.
Sungai rhein di Köln. Diambil dari puncak menara Dom Köln.
Sungai rhein juga melewati kota Bonn. Diambil di mobil saat melewati jembatan di Bonn.
Sungai rhein melewati kota Strasbourg, Perancis. Diambil di atas jembatan penghubung dua negara, Jerman – Perancis.

Selesai berkunjung ke Strasbourg, Perancis kami pun kembali ke Jerman. Tentunya kami harus melewati sungai yang membatasi Jerman – Perancis. Sungai itu adalah sungai rhein, yang melewati delapan negara termasuk Jerman dan Perancis. Katanya sungai rhein ini terlihat romantis karena banyak pasangan suka duduk di sekitar tepian sungai. Begitu romantisnya hingga di jembatan Koln terpasang ratusan ribu gembok cinta sebagai pengikat janji.

Nah, saya pun sempat memotret sebentar sungai rhein dari kendaraan saat melewati jembatan penghubung Strasbourg yang dilalui sungai rhein. Pun ketika saya mengunjungi kota Bonn, sungai rhein pun tampak terlihat dari mobil.

Ada yang berpendapat bahwa tak lengkap berkunjung ke Jerman jika tidak melihat indahnya sungai rhein. Pasalnya sungai panjang ini melewati kota-kota besar di Jerman seperti yang saya jumpai di Bonn dan Köln ini. Akhirnya saya pun mengambil sudut keindahan sungai rhein dari menara Dom Köln. Ternyata benar, sungai ini begitu indah dari atas.

Sebetulnya jika ada kesempatan, tersedia tur kapal wisata yang menyusuri sungai rhein. Melalui tur ini akan terlihat bangunan-bangunan yang masa lalu yang masih terawat baik.

Jadi tidak hanya sungai donau di Passau saja yang punya tur wisata. Mungkin pilihan wisata ini bisa dicoba lain kali. Menurut pemandu wisata, sungai rhein dan sungai donau dahulu kala dijadikan batasan wilayah kekuasaan kekaisaran. Itu sebab di sekitar sungai ada beberapa peninggalan seperti kastil dan semacamnya.

Setelah saya menyimak aliran sungai rhein, rupanya sungai ini pun melalui Austria dan Liechenstein. Dan masih ada beberapa negara lain yang juga dilalui sungai rhein. Luar biasa! Lain kali saya coba kunjungi sungai rhein dari negara lainnya.

Strasbourg, Perancis: Markasnya Kantor-kantor Uni Eropa

Tampak bendera-bendera negara Uni Eropa.
Stasiun utama.
Mungkin ini sungai yang sama, yang juga melalui Colmar.
Gereja katolik Saint Pierre dan petunjuk berjalan kaki ke area turis.
Ini bisa jadi petunjuk untuk sewa sepeda agar bisa menikmati kota ini.
Tampak dalam gereja katolik Saint-Pierre.
Jembatan penghubung antar dua negara, di bawahnya dalah sungai Rhine.

Setelah meninggalkan Colmar Perancis, tiga puluh lima menit kemudian kami sudah tiba di kota Strasbourg dengan berkendara roda empat. Karena pernah menjadi wilayah kekuasaan Jerman, kota ini ditulis menjadi Straßbourg. Selanjutnya saya akan menulis dengan Straßbourg.

Kota terbesar di timur Perancis ini berbatasan langsung dengan Jerman. Dari kota ini kita bisa melihat bahwa Jerman dan Perancis dibatasi oleh sungai Rhine. Kemudian sungai ini juga nanti akan terlihat saat kami berkunjung ke kota Bonn dan Köln, Jerman. Betapa panjangnya sungai ini ya! Di atas sungai terdapat jembatan penghubung dua negara, Jerman dan Perancis.

Jika anda ingin ke Colmar, anda bisa berangkat dari Paris dan berhenti di kota ini. Kota Straßbourg cukup besar dan megapolitan. Bahkan saya memuji stasiun utamanya yang dibangun dengan megah dan moderen. Keluar dari stasiun, kita menjumpai sejumlah bendera negara Uni Eropa. Rupanya kota Straßbourg dikenal sebagai ibukotanya ‘Uni Eropa’ karena beberapa kantor Uni Eropa berada di sini seperti Uni Eropa yang menangani HAM, Ombudsman hingga parlemennya. Lengkap!

Kota ini bak kota metropolitan, termasuk biaya hidup di sini lumayan merogoh kocek ketimbang di Colmar. Termasuk urusan ke toilet umum, kami perlu bayar 70 cents Euro. Untuk parkir, tersedia mesin kasir otomatis. Namun sayangnya mesin kasir hanya menerima uang koin, sementara tidak ada mesin penukaran uang kertas seperti di Jerman. Uang koin sangat berarti untuk parkir dan “urusan ke belakang.”

Berjalan ke pusat kota, banyak restoran dan kafe yang buka. Dari stasiun utama terlihat bangunan megah, gereja katolik Saint-Pierre yang bergaya gothik. Tampak indah dan agung. Kami berhenti sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Rupanya begitu ketat peringatan yang dipasang di pintu gereja demi keamanan dan keselamatan bersama.

Sepertinya di depan gereja ada sungai kecil yang mungkin terhubung dengan sungai di Colmar. Ini asumsi kami. Dari situ ada petunjuk untuk jalan kaki jika ingin ke katedral Strasbourg dan tempat wisata yang dijuluki “La Petite France” namun sayangnya kami melewatkan itu semua karena kami menginap di kota lain.

Kami mampir sebentar di kota ini untuk mencari makan siang. Bukankah kuliner Perancis terkenal lezat dan enak?

Nantikan liputan kuliner khas negeri ayam jago segera.

10 Tempat Destinasi Wisata di Colmar, Perancis (4)

Masih melanjutkan kunjungan saya di Colmar, tentu anda sudah mulai menebak tempat apa saja yang bisa dikunjungi. Banyak tempat bisa dijadikan obyek foto karena menarik dan unik. Selain itu luas aktraksi wisatanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Tak perlu ragu ‘kan jika ingin berkunjung ke sini.

Ini daftarnya!

1. Katedral Saint Martin (PLACE DE LA CATHÈDRALE)

Tampak depan katedral.

Agama katolik berkembang pesat di Perancis sebelum muncul evangalisasi, termasuk di Colmar. Katedral ini adalah bagian dari perkembangan umat masa itu. Katedral dibangun tahun 1235 dan selesai pada akhir abad 14. Dua menara gereja mengingatkan pada gereja di Jerman pada umumnya. Kata si pemandu wisata, satu menara berhasil selesai sedangkan yang lain tak selesai sempurna. Katedral ini menjadi landmark Colmar. Selain bangunannya yang mengagumkan, juga indah dikelilingi bunga-bunga.

2. Tanner’s district (PETITE RUE DES TANNEURS)

Sebuah informasi menyatakan bahwa wilayah Colmar memang sengaja dibangun dengan gaya bangunan tanner agar sama seperti bangunan rumah-rumah di Jerman pada umumnya. Mengingat wilayah ini jadi perebutan Jerman dan Perancis. Bangunan tanner dibuat sekitar pada abad 17 dan 18. Sedangkan di Bavaria tempat tinggal kami, umumnya bangunannya tidak bergaya tanner pada masa itu.

Karena begitu indah bangunan tanner di sini, selama lima tahun pada tahun 1970-an dilakukan restorasi. Restorasi dilakukan untuk memelihara kelestariannya. Bangunan dibangun dengan fondasi batu, lalu menjulang ke atas dengan setengah kayu dan berdiri saling berdekatan satu sama lain. Itu yang saya tangkap dari penjelasan tur.

3. Little Venice (RUE TURENNE)

Anda pasti kota Venice di Italia, sehingga anda tentu tahu alasan desa ini disebut Venice kecil. Ya, desa ini dilalui sungai Lauch yang berkelok-kelok. Entah mengapa sungai ini pun bisa dilalui perahu kecil sehingga mengesankan seperti di Venice. Bahkan ketika masa jayanya tahun 1674, sungai ini menjadi simbol kejayaan yang digambarkan seorang seniman.

4. Traditional market (RUE DES TANNEURS)

Selanjutnya adalah pasar tradisional yang kebetulan juga buka pada hari Minggu. Bangunan bergaya batu bata merah ini didirikan tahun 1865. Sebelum dijadikan pasar, tempat ini sempat beralihfungsi. Sampai akhirnya tahun 2010, tempat ini dikembalikan menjadi pasar. Ada aneka kebutuhan pangan yang dijual di sini yang dihasilkan langsung dari penduduk setempat. Cerita dan foto ini bisa disimak di sini.

5. Bartholdi museum (RUE DES MARCHANDS)

Sekelompok turis sedang berada di muka museum bartholdi.

Cerita tentang Bartholdi sudah dijelaskan pada link ini. Di museum ini, kita temukan buah karya pemikirannya. Ada patung, sketsa atau lukisan. Untuk masuk dikenakan tiket masuk 6€ per orang. Jika berkelompok, harga tiket lebih murah dan mungkin ada pemandu wisata juga.

6. The Fishmonger’s district (QUAI DE LA POISSONNERIE)

Banyak orang senang berfoto di sini.

Tak jauh dari pasar, banyak wisatawan berfoto. Rupanya ada bangunan cantik half-timbered sekitar sungai. Tempat ini terkesan romantis manakala kita bisa naik perahu kecil menyusuri sungai.

7. Pfister house (RUE DES MARCHANDS)

Tepat di depan museum bartholdi, saya menemukan bangunan unik yang kini dijadikan kafe. Rupanya ini adalah bangunan orang bourgeois, maksudnya orang kaya pada abad 16. Ini adalah rumah orang kaya bernama Louis Scherer. Bangunan bergaya semi renaissance ini dulu pada abad pertengahan begitu populer di Eropa.

Karena banyak orang duduk di kafe, rasanya sungkan mengambil foto. Saya ambil sudutnya saja.

8. The house of heads (RUE DES TÈTES)

Bangunan bergaya renaisance lainnya yakni menjadi pemukiman pada bourgeois pada masa abad pertengahan. Bangunan ini adalah salah satunya. Dindingnya bercat bronze dan tampak depan seperti mahkota begitu. Katanya ini inspirasi Bartholdi bahwa bangunan ini juga pernah dialihfungsikan menjadi tempat perdagangan anggur.

9. The Koìfhus (PLACE DE L’ANCIENNE DOUANE)

Tempat ini letaknya di tengah. Dibangun bergaya renaissance sekitar abad 15. Di sini dulu menjadi pusat perdagangan dan politik.

10. Toy Museum (RUE VAUBAN)

Museum ini letaknya di pinggir. Isinya tentang koleksi pribadi dari abad 19 hingga sekarang. Suasananya disusun dengan konsep dongeng. Tidak hanya untuk anak-anak, tua dan muda pun bisa masuk. Kami sendiri tidak sempat masuk.

Demikian ulasan singkat saya tentang sepuluh tempat menarik yang bisa dijadikan tujuan kunjungan.

Colmar, Perancis Itu Desa Kelahiran Pembuat Patung Liberty (3)

Replika patung liberty ditempatkan di muka pintu masuk menuju Colmar.
Petunjuk menuju museum Bartholdi.
Tampak depan museum.
Depan pintu masuk.
Salah satu pojok karya Bartholdi lainnya yang dipajang.

Melanjutkan kunjungan saya ke Colmar, desa tercantik yang jadi tujuan wisata di Perancis maka kali ini saya bercerita tentang Bartholdi yang berkaitan dengan desa kelahirannya.

Bartholdi dikenal dengan nama lengkap Frèderic-Agustè Bartholdi lahir di Colmar 2 Agustus 1834. Kemudian tahun 1904, ia wafat di Paris, Perancis. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai pemahat dengan beragam karyanya yang sudah mendunia dapat disimak di museum peninggalannya di Colmar. Salah satu karyanya yang memukau adalah patung liberty yang jadi kebanggaan kota New York.

Patung liberty sendiri ditujukan sebagai simbol kemerdekaan setelah 4 Juli 1876 Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya. Lalu Perancis memberikan hadiah patung liberty karya Bartholdi yang kemudian ditempatkan di kota New York. Patung tersebut selesai dibuat tahun 1886 dan menjadi karya megah. Kini siapa pun yang datang ke New York, pasti ingin berkunjung ke patung tersebut.

Untuk mengenang karya Bartholdi di Colmar, ada museum Bartholdi. Tak hanya itu beberapa simbol menjadi penuntun menuju museum berlukiskan wajah patung liberty. Dan anda juga bisa menemukan replika patung liberty yang tingginya sekitar orang dewasa, yang ditempatkan di pintu masuk Colmar. Jika anda datang atau pergi ke Colmar dari Perancis.

Museum Bartholdi berada di area pusat wisata dengan berjalan kaki. Sejak tahun 1922, tempat yang semula hotel dijadikan tempat menyimpan karya Bartholdi. Akhirnya museum ini menyimpan riwayat hidup pria di belakang karya maha megah patung liberty semasa hidupnya. Juga ada banyak karya seperti sketsa, lukisan dan karya lainnya yang dipajang di sini.

Di lantai bawah, ada sembilan replika dari monumen publik yang dirancang para perupa dari Colmar pada tahun 1856 hingga 1902. Sedangkan di lantai pertama, penempatan karya-karya memukau dari Bartholdi yang sudah dikurangi skalanya. Di lantai yang sama juga ada lukisan tentang perjalanan Bartholdi ke negeri oriental. Selanjutnya pada lantai dua terdapat tiga ruang yang berisi karya-karya Bartholdi lain seperti monumen di Amerika Serikat, pameran patung liberty hingga karya lainnya.

Untuk mengunjungi museum, perhatikan waktu berkunjung di brosur turis. Karena bisa saja ada hari atau periode tertentu libur. Di sini juga tersedia pemandu wisata jika diperlukan. Tiket masuk sebesar 6€ per orang.

Marche Couvart, Colmar Perancis: Menikmati Pasar Rakyat di Hari Minggu (2)

Pasarnya bersih dan nyaman.
Aneka buah-buahan.
Aneka penganan enak.
Aneka bumbu masak.
Mereka jual bretzel juga loh.
Di luar gedung pun masih ada pasar juga.

Selamat berhari Minggu! Kali ini saya ajak anda mengunjungi pasar di Perancis.

Sewaktu masih di Jakarta dulu, saya pernah datang ke Marchè di salah satu pusat perbelanjaan hanya untuk makan. Kesan yang diciptakan di tempat itu membuat saya ingin datang langsung seperti apa pasar tradisional ala Perancis sesungguhnya. Niat saya terwujud meski datang di hari Minggu, pasar di Perancis tetap buka.

Berbeda dari Jerman dan Austria, dimana pasar dan pusat perbelanjaan tutup di hari Minggu maka tidak untuk Perancis. Saya pun berkesempatan datang ke pasar tradisional, Marchè Couvart di Colmar. Di sini ada banyak pilihan kuliner yang terlihat enak dan lezat. Kami pun jadi bingung memilihnya.

Bunyi lonceng gereja berdentang. Sebagian orang memenuhi sekitar gereja. Entah ada acara apa, beberapa perempuan memegang bunga cantik di tangan. Lalu mereka berbondong-bondong mengikuti empat orang berpakaian seragam dan membawa alat musik.

Nampak menarik, kami pun tak mau ketinggalan. Kerumunan orang melewati alun-alun kota kemudian berhenti. Rupanya empat orang berseragam berhenti dan memainkan alat musik alphorn, dalam bahasa Jerman. Alat musiknya semacam terompet yang menyihir semua orang untuk hening menyimak penampilan mereka.

Sedangkan di pojok, terlihat hasil panen sayur-mayur dan buah-buahan. Kata suami, mungkin ini semacam thanksgiving atau ucapan syukur pada hari itu. Beberapa orang sibuk mengambil foto si pemain musik atau pameran hasil panen. Kami pun pergi menuju pasar tradisional yang letaknya hanya beberapa langkah saja.

Di situ, ada panggung dan grup musik jazz yang sedang latihan. Di depannya tampak kursi dan meja panjang dimana orang bisa menikmati bir dan makanan yang dibelinya di pasar. Kami tetap melangkah ke dalam pasar tradisional yang bersih dan juga tetap menawan mata. Aneka warna warni panganan kecil hingga sayur mayur memenuhi pasar.

Kerumunan orang menyaksikan permainan musik tradisional.
Pemain musik.
Pojok hasil panen.
Aneka kue dan roti yang jadi makanan kesukaan mereka.
Keriuhan orang-orang dekat pasar, semacam karnaval.
Mereka senang duduk-duduk menikmati suasana seperti keindahan tempat ini.

Sebagai pengunjung, kita bisa memilih makanan yang dikehendaki. Uniknya lagi, selalu ada kursi dan meja untuk menikmatinya. Aneka hidangan kue dan dessert khas Perancis sungguh menggiurkan. Belum lagi melihat pengunjung menikmati hidangan membuat kami tergugah untuk mencicipinya.

Tak ingin makan pun boleh. Ada pilihan aneka bumbu dapur tersedia. Atau sayur mayur sebagai stok persediaan di rumah. Sementara di tepi sungai, dipenuhi orang-orang dengan menikmati suasana. Apalagi di dekat pasar dijuluki, a little Venice. Romantis sekali!

Terdengar suara musik yang sama seperti di alun-alun kota. Rupanya pemain musik kini berada di tengah pasar. Seketika orang-orang berhenti menyaksikannya. Sementara di luar, terdengar persiapan grup musik jazzz yang akan tampil selanjutnya. Begitulah.