“Sindrom Sarang Kosong” Atau Gejala Perkawinan Memasuki Usia Perak yang Jarang Diketahui

Banyak anak yang sudah memasuki usia dewasa tidak mengetahui apa yang terjadi pada orangtua mereka. Fenomena itu memang tidak terjadi pada tiap orangtua, tetapi cerita ini benar didapat dari sebagian kenalan saya di sini. Kemudian ini menjadi bahasan diskusi bagi kami yang menikah dan memikirkan apa yang terjadi sebenarnya.

Silberhochzeitkrise adalah istilah dalam bahasa Jerman. Saya sendiri tidak tahu apa ada padanan katanya dalam bahasa Inggris. ‘Silber‘ merujuk pada kata ‘silver’ atau perkawinan usia perak. ‘Hochzeit‘ adalah masa perkawinan. Dan ‘krise‘ merujuk pada krisis. Jadi istilah ini merujuk pada gejala krisis yang dihadapi pasangan perkawinan menjelang usia perak atau dua puluh lima tahun perkawinan.

Diasumsikan bahwa usia perkawinan dua puluhan dimana anak-anak tidak lagi menjadi fokus utama. Pasangan perkawinan di lima tahun pertama disibukkan dengan penyesuaian karakter dua individu berbeda dalam satu rumah. Kemudian kehadiran buah hati mulai dari mengurus dan membesarkan anak-anak. Lanjut masa perkawinan menginjak tahun ke enam dan selanjutnya hingga suami-isteri dihadapkan pada kesibukan mengurus keperluan anak bersekolah, mencukupi kebutuhan sehari-hari dan seterusnya.

Tentu suami-isteri begitu fokus menjadi ayah-ibu yang baik bagi anak-anak mereka. Namun apa yang terjadi saat anak-anak tumbuh dewasa?

Anak-anak memutuskan pilihan hidupnya seperti kuliah, bekerja dan menemukan pasangan hidup. Anak-anak yang dulu masih begitu diperhatikan kini anak-anak merasa risih dan punya kehidupan sendiri. Anak-anak kini tumbuh menjadi pribadi dewasa dan memilih kehidupan yang mungkin saja terpisah dari kedua orangtua mereka. Anak-anak ingin mandiri. Sementara rumah yang dulu dipenuhi keceriaan anak-anak kini menjadi sepi dan kosong. Itu sebab krisis ini disebut juga “sarang kosong” atau leere nest symptom dalam bahasa Jerman.

Dalam istilah bahasa Inggris, gejala “sarang kosong” dikenal dengan “Empty nest syndrome” dimana gejala-gejala kesepian dan merasa sendiri melanda suami-isteri yang dahulu begitu berbahagia sebagai orangtua. Suami-isteri menjadi kehilangan fokus lagi, manakala dahulu anak-anak menjadi tujuan mereka. Tentu periode ini menjadi tidak mudah dihadapi suami-isteri untuk melakukan penyesuaian tahapan perkawinan mereka yang baru.

Perasaan tidak siap begitu anak beranjak dewasa muda untuk meninggalkan rumah atau rasa sendiri yang berujung pada gejala emosional bahkan hingga depresi karena rumah begitu sepi. Fenomena ini mungkin saja dihadapi suami-isteri yang melewati dua puluhan tahun pernikahan. Ada penelitian yang mengatakan ibu rumah tangga yang menghabiskan sebagian besar waktunya mengurus anak lebih rentan mengalami gejala ini. Namun ternyata tidak juga, ada beberapa kenalan saya yang mengaku justru ayah mereka mendapati gejala ini sehingga perlu konselor perkawinan untuk mengatasinya. Teman saya beralasan bahwa si ayah tak siap menghadapi rasa sepi di rumah apalagi beliau sudah pensiun dan tak sibuk tiap hari seperti dulu saat teman saya ini masih anak-anak.

Bagaimana mengatasinya?

Kami pun berdiskusi tentang hal ini, apalagi perkawinan itu senantiasa harus membahagiakan satu sama lain. Sebagai kenalan, saya hanya menyarankan agar anak tidak melupakan orangtua mereka. Berkunjung ke rumah orangtua atau menyempatkan waktu bersama orangtua adalah cara termudah agar para suami-isteri di periode perkawinan ini tak lagi merasa sepi.

Bukankah membahagiakan orangtua mendapatkan pahala yang berlimpah dari Tuhan?

Kecanggihan teknologi komunikasi pun sekarang hanya selintas dua jari. Anda bisa mengetik pesan via telepon pintar anda atau membuat kontak video dengan orangtua yang membuat mereka pun berbahagia dan tak kesepian. Tetaplah berkomunikasi dengan orangtua seberapa pun jauhnya anda dengan mereka.

Gejala sindrom sarang kosong pastinya terjadi, hanya saja bagaimana suami-isteri bisa bahu membahu untuk mengatasi perasan transisional dan emosional ini bersama-sama. Suami-isteri bekerja sama agar fokus perkawinan yang bahagia tidak berubah seiring waktu.

Selamat berhari Minggu bersama keluarga!

Menikah Karena Cocok, Bercerai Karena Tidak Cocok

Seorang artis yang baru saja naik pamornya telah berhasil diliput media karena akan menikah. “Ya, kami berdua akan segera menikah. Doakan saja ya!” Demikian kata si artis saat diwawancara sebuah televisi. Ketika ditanya awak media, mengapa menikah? “Karena kami cocok.” Itu jawaban si artis lagi.

Lalu beberapa tahun kemudian, televisi menyiarkan lagi bahwa artis ini baru saja menggugat cerai pasangan. Kembali lagi media memberitakan tentang prahara perkawinan si artis ini. Kembali media bertanya apa penyebab perceraian? “Karena tidak ada kecocokan.” Begitulah jawabannya.

Apakah pernikahan itu? Apakah pernikahan menjadi sebuah alasan setelah mendapatkan kecocokan dengan pasangan?

Hal menarik setelah saya menyimak pernyataan artis tersebut, ukuran kecocokan dan ketidakcocokan adalah berdasarkan komunikasi. Jika tidak ada hambatan dalam berkomunikasi dikatakan cocok. Padahal semua orang jelas mengetahui saat ini era komunikasi yang super canggih yang bisa meminimalisir hambatan komunikasi. Lalu ketika komunikasi terhambat, dikatakan ada ketidakcocokan.

Setiap orang selalu punya alasan mengapa memutuskan menikahi pasangan. Cinta adalah dasar utama yang tak bisa dijelaskan dan digambarkan, termasuk dikomunikasikan.

Meski mudah mengatakan bahwa sulit mempraktikkan rumus komunikasi yang  baik dengan pasangan. Pasalnya berpasangan terjadi karena dua individu yang berbeda karakter apalagi budaya dan gaya hidup. Perbedaan tidak memicu kecocokan atau ketidakcocokan tetapi memahami bahwa ada saatnya cocok dan ada saatnya tidak cocok.

Namun bukan berarti cocok berkomunikasi itu menikah lalu ketidakcocokan berkomunikasi lantas bercerai.

So, anda sendiri bagaimana? Ada pendapat?

Rahasia Perkawinan 50 Tahun: “Komunikasi Itu Kuncinya!”

Ilustrasi. Setiap pasangan suami-isteri berharap mampu melampaui usia perkawinan emas hingga opa oma. 

Adalah opa oma usia sepuh, teman orangtua mertua di Jerman yang baru saja merayakan ulangtahun perkawinan emas. Saya tertegun dengan loyalitas hubungan kasih antara dua insan tersebut, yang menurut kebanyakan pasangan tak mudah dilalui. Saya hadir dalam perhelatan sederhana yang mereka adakan. Ini semacam perayaan syukur, jadi ada pastor dan beberapa kerabat yang diundang kemudian makan bersama.

Selesai berdoa, ada semacam testimonial dari opa oma tersebut bagaimana mereka mampu bertahan hingga melewati usia perkawinan emas. Siapa pun pasangan suami-isteri berharap dapat melampaui usia perkawinan emas dan seterusnya hingga ‘Till Death do us apart‘ ya ‘kan?

Komunikasi suami-isteri tidak berbicara siapa yang dimenangkan dan siapa yang kalah, seperti komunikasi politik. Komunikasi suami-isteri juga bukan tentang bagaimana mencari untung-rugi dengan membuat reklame yang menarik massa seperti yang digunakan dalam periklanan. Komunikasi suami-isteri adalah hubungan dua orang yang sepakat menikah dan membentuk keluarga, tidak ada menang-kalah atau untung-rugi. Tentu harus tahu sama tahu, suka sama suka, cinta sama cinta, susah sama senang, sakit sama sehat yang harus dilalui bersama. Sweet banget ‘kan?

Masalahnya saat berumahtangga semua itu tidak mulus, termasuk komunikasi. Komunikasi yang sulit dilakukan adalah saat menyampaikan segala keinginan dan kesulitan satu sama lain. Satu pihak ada yang menjadi bossy, pihak lain menjadi tertekan. Bagaimana membangun komunikasi suami-isteri secara nyaman jika ini yang terjadi?

Komunikasi suami isteri itu komunikasi kolaboratif yang saling membangun. Satu pihak berbicara, pihak lain mendengarkan. Komunikasi dua arah dan membangun dialog. Satu pihak bertanya, pihak lain menjawab. Ada diskusi, bukan instruksi. Apakah mudah? Susah jawabannya. 

Selama ini orang memandang komunikasi adalah hal sepele dan tak perlu ada keterampilan komunikasi dalam berumahtangga. Kebanyakan berpikir kursus persiapan perkawinan lebih ditekankan pada pengetahuan reproduksi dan pengasuhan. Padahal saat ini banyak ditemukan penyebab perceraian adalah karena komunikasi. Baca di sini

Membangun komunikasi positif antar suami-isteri bila mengutip testimonial rahasia opa oma di atas, ada tiga hal:

  • Kasih sayang

Apakah cara anda berkomunikasi sama antara supervisor/bos di kantor dengan anak anda di rumah? Pasti berbeda. Di kantor, anda bisa berbicara direct dan formal. Di rumah, anda berbicara lebih lembut, intonasi merendah, basa-basi dengan anak, ada pelukan/belaian ke anak dan sebagainya. Apa yang membedakan komunikasi keduanya? Kasih sayang. Coba deh saat anda berbicara dengan orang yang anda kasihi apakah sama saat anda berbicara dengan orang asing tak dikenal! Bahasa cinta itu mengalahkan segalanya. Buktinya bahasa cinta membuat anda menikah dengannya ‘kan.

  • Apresiasi

Siapa pun senang dipuji. Bahkan anda bisa memutuskan resign jika bos kurang melakukan apresiasi terhadap kinerja anda. So mengapa tidak memulai untuk berikan pujian kepada pasangan anda sendiri? Hargailah apa yang sudah dilakukan suami/isteri pada anda. Misal sebagai suami, hargai isteri yang sudah membersihkan rumah dan mengasuh anak dengan baik. Sebagai isteri, hargai suami yang sudah bekerja giat untuk memenuhi kehidupan keluarga. Apresiasi itu sederhana saja, kata si opa dalam cerita di atas. Mengucapkan kata ‘terimakasih’ kepada pasangan, sudah berarti.

    • Kesepakatan

      Kesepakatan antar suami-isteri adalah sama-sama menang. Baik suami maupun isteri mampu menemukan kata sepakat dalam urusan rumah tangga. Mampu menyelesaikan setiap masalah bersama-sama. Kata opa, “Saat ada masalah rumah tangga, jangan melarikan diri! Selesaikan dulu berdua bersama-sama.” Luar biasa!

      Semoga bermanfaat!