Reality VS Fantasy: Anda Termasuk Tipe Mana?

“Sayang, apa yang akan kau lakukan jika punya uang satu Triliun?” tanya orang Fantasy. Sahut orang Reality, “Bagaimana saya bisa melakukan apa yang saya mau wong sekarang saya tidak punya uang sebanyak itu?” Fantasy yang mendengar cuma bisa pasrah dan mengeluh, “Ini kan pengandaian. Seandainya kamu punya uang sebanyak itu, apa yang dilakukan?” Reality yang mendengar semakin protes dan menjawab “Hey, saat ini aku tak punya uang sebanyak itu. Itu tidak masuk akal hanya mengandaikan saja.”

Nah dari dialog di atas, anda termasuk tipe mana? Orang Fantasy membangun pemikiran dengan imajinasi yang kreatif, bahkan terdengar tidak masuk akal. Misalnya “Seandainya saya bisa seperti dia, saya akan membeli mobil dan rumah mewah. Setiap minggu ikut perawatan wajah dan rambut. Setiap bulan bisa liburan dan sebagainya.” Sayangnya anda tidak seperti dia yang bisa membeli mobil dan rumah mewah tersebut.

Orang Fantasy menyahut Hey, we unknown the future. Nasib orang siapa yang tahu.” Sepuluh tahun kemudian perempuan tersebut meninggal lalu Fantasy terpilih menikahi pria kaya itu. Fantasy kemudian melakukan seperti yang diimpikannya. Apakah ini terdengar masuk akal? Who knows ya?

“Jika saya jadi pemimpin, saya akan merombak sistim ini dan membuat keadilan bagi banyak orang,” seru Fantasy. Orang-orang sekitar cuma memandang remeh lalu berkata, “Hello, who do you think you are. Orang hebat pun belum bisa melakukannya.”  Tuhan mendengar doa Fantasy, dia pun jadi pemimpin. Jangan pernah meremehkan Fantasy!!!

Lalu bagaimana dengan Reality?

Orang Reality membangun konsep pemikiran dengan hal-hal logis, rasional dan keadaan yang berlaku. Mereka tidak suka yang muluk-muluk dan terkesan irasional. “Bagaimana kamu bisa mendapatkan satu milyar sedangkan kamu saat ini tidak bekerja, tidak ikut lotere dan hidup yatim piatu?” seru Reality. Mereka mengacu pada keadaan yang terjadi. Mereka bukan tipe pesimis hanya saja segalanya dilakukan berdasarkan kenyataan yang ada.

Orang reality memandang masa depan bergantung bagaimana keadaan di masa kini. Mereka tidak punya waktu untuk berandai-andai. Toh, tidak ada rumus kebetulan bagi mereka. Mereka yang kerja keras dan pantang menyerah akan mendapatkannya. Reality diperlukan untuk menyadarkan Fantasy agar tidak terlewat batas kesadaran dan kenyataan.  Serem juga ya!!! “Bisa-bisa kamu jadi gila bila kelamaan berkhayal,” seru Reality pada Fantasy.

“Fantasy itu PERLU tetapi Reality itu PENTING!” kata orang bijak. Bagaimana pun tipe anda, kita tidak dapat mengendalikan kehidupan dan waktu. 

Kesabaran itu Berbuah Kebaikan

image

image

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Sewaktu masih anak-anak, saya suka sekali nonton film silat yang berasal dari negeri Tiongkok. Selain tontonan menarik yang heroik, saya banyak belajar tentang nilai-nilai kehidupan seperti kesabaran.

Sang jagoan diminta untuk melakukan pekerjaan dan tugas rumahan seperti menimba air, memasak, bersih-bersih atau mencuci. Intinya, sang jagoan digambarkan tidak dilibatkan dalam latihan silat sementara saudara-saudara seperguruan yang lain giat berlatih aneka jurus. Kadang rasa iri dan cemburu muncul, mengapa saya berbeda? Itu pikir si Jagoan. Sang jagoan dipandang sebelah mata, bisa jadi dicela karena mengerjakan tugas rumahan yang rutin.

Hingga suat saat, sang guru meminta mereka melakukan pertandingan silat. Si jagoan pun dipaksa ikut meski ia tak percaya diri. Anda tahu, si jagoan berhasil mengalahkan si lawan yang diunggulkan sesama perguruan. Apa pasalnya? Tangan, kaki dan stamina si Jagoan melebihi si lawan. Rupanya latihan mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah seperti menimba air, bersih-bersih, memasak, mencuci dll telah membentuk ketahanan diri untuk menyerang. Dari situ si Jagoan paham mengapa Guru memberikan pekerjaan dan tugas rumahan.

Usai dari pertandingan, barulah Guru mengajarkan berbagai jurus kepada si Jagoan. Kata si Guru, kesabaran itu berbuah kebaikan. Dengan sabar, si Jagoan menekuni pekerjaan yang dianggap remeh seperti timba air atau mencuci tetapi melalui hal sederhana sesungguhnya si Jagoan telah belajar hal yang besar. Hal besar itu adalah kesabaran yang memang tak semua dimiliki oleh para pendekar silat.

Bahwa untuk mempelajari jurus silat yang sesungguhnya, pertama-tama orang harus melatih sabar terlebih dulu. Sabar itu adalah musuh kehidupan.

Bahwa untuk memiliki ilmu yang tinggi, dalam hal ini jurus jitu silat, sabar adalah modal utama untuk sebuah proses. Sabar melatih emosi kita agar lebih terkontrol. Sabar itu membawa kebaikan bagi siapapun.

Belajar sabar itu dengan cara,

1. Melakukan hal sederhana
Mungkin kita menganggap pekerjaan itu tak menarik, pekerjaan remeh dan tak menantang tetapi dibalik itu semua suatu saat akan mengajari kita banyak hal. Di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Bahkan hal sederhana bisa menjadi luar biasa jika kita mampu mengambil hikmahnya.

2. Memulai dengan ikhlas
Jangan pernah belajar sabar tetapi dengan terpaksa atau tidak ikhlas. Yang ada hasilnya malah tidak optimal. Mulailah dengan ikhlas dan tulus untuk melatih kesabaran.

3. Berani berkorban bagi orang lain
Sabar itu dimulai untuk mengalahkan kepentingan diri sendiri dan mau mempertimbangkan kepentingan orang banyak. Pengorbanan yang tulus dan berani akan lebih dikenang orang dibandingkan sejumlah uang dan materi yang sudah anda bayarkan. Bukankah cara kita menyentuh hati orang lain adalah dengan berani bertindak dan berkorban untuk kepentingan orang lain? Jiwa heroik adalah bagian dari kesabaran.

Semoga menginspirasi anda dan saya untuk bersikap sabar. Ingat, sabar itu berbuah kebaikan.

Apa yang Seharusnya Dilakukan Bila Kalah?

(Ilustrasi. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Hidup tak selamanya menawarkan kemenangan. Seperti yang sudah pernah saya sampaikan bahwa alam selalu punya dua sisi seperti siap menang dan siap kalah. Namun pertama-tama tak mudah untuk berbesar hati menerima kekalahan itu, siapa pun orangnya. Mengapa? Karena kita dilahirkan untuk menjadi Pemenang, hanya cara dan waktu yang membedakannya. Born to be winner. Ini tidak serta merta kita harus selalu menjadi pemenang dan merasa unggul tetapi bagaimana kita bisa juga “menang” terhadap ego diri dan kehendak superior.

Bila kita menang, akan banyak pujian, sanjungan dan hadiah yang layak sementara kalah belum tentu menjanjikan hal demikian. Kita cenderung berpikir akan ada cacian, makian dan umpatan yang serba kemungkinan terjadi. Tetapi sebenarnya kita merasa inferior terhadap kenyataan. Kita tidak realistis. Ingatlah semua ini akan berlalu, kalah atau menang hanya soal kenyataan bukan harapan. Anda masih punya harapan untuk kemenangan yang tertunda.

Apa yang seharusnya dilakukan bila kita kalah?

1. Akui dan terima kenyataan
Jika kita menyangkal terhadap proses tak akan mengubah apa pun. Kita boleh salah, kita boleh kalah tetapi kita tak boleh menyerah. Mereka yang berjiwa besar adalah mereka yang tahu bagaimana mengakui kemenangan lawan.
Meski proses ini tak mudah untuk dilakukan, percayalah ini akan membantu anda untuk lebih baik lagi di kemudian hari.

2. Hormati lawan dan beri ucapan selamat
Mereka yang menang tidak serta merta unggul selamanya. Tak ada yang abadi di dunia ini. Hormati lawan bukan berarti kita adalah looser. Tetapi kita adalah pribadi yang menang untuk melupakan kekalahan. Beri ucapan pada mereka yang berhak menang. Di atas segala-galanya, kita percaya ini adalah sebagian dari harapan yang tertunda, siapa tahu kita akan menang di lain waktu dengan cara berbeda. Life is fair enough. Tuhan meletakkan ini sebagai kekalahan tetapi tidak untuk selamanya. He knows the best way to give it ‘Victory’ to you in time.

3. Tetap optimis dan positif
Toh setelah diketahui kita kalah, matahari tetap bersinar, dunia tidak kiamat, kita masih bisa bernafas. Life must go on. Jadi biarkan segalanya ini juga berlalu. Tetap optimis dan positif akan membantu jiwa kita lebih konstruktif dalam menyongsong hari berikutnya. Pelajaran berharga seorang Atlet Lari dari Amerika yang kalah dalam pertandingan berkata, “Saya diutus oleh negara saya bukan untuk menjadi Pemenang tetapi untuk menyelesaikan pertandingan.” Anda sudah menyelesaikan yang terbaik, bukan untuk kemenangan saat ini.

4. Refleksi diri untuk lebih baik
Jadikan ini sebagai momen untuk refleksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Segala sesuatunya ada waktunya. Melalui momen ini mungkin anda perlu belajar untuk lebih ikhlas dalam hidup. Atau mungkin anda lebih sabar dalam menjalani hidup. Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya.

Mari menyongsong kemenangan pribadi dengan belajar lebih ikhlas dan sabar untuk pembaikan diri.

Memenangkan Impian: Alles Hat Seine Zeit

image

(Sumber foto: Google image)

Kemarin saya berharap negeri Jerman menorehkan sejarah kembali di dunia persepakbolaan mengingat sepak terjang lawannnya, Brazil adalah tuan rumah yang memang banyak melahirkan figur-figur pemain bola. (https://liwunfamily.wordpress.com/2014/07/08/sejarah-jerman-menang-world-cup-semoga/) Tak hanya itu, tim Brazil sudah memenangkan lima kali juara World Cup FIFA sedangkan tim Jerman baru tiga kali, 1954; 1974 dan 1990.

Doa saya terkabul, Tim Jerman tidak hanya menang melawan tim Samba tetapi mencatatkan sejarah bahwa impian melebihi sekedar prediksi. Tim Jerman mampu menunjukkan kekuatan penyerangannya melawan Tim Brazil, yang juga jadi favorit banyak orang. Tim Jerman mampu unjuk gigi, 7:1 wow!!! Saya sudah optimis dengan tim sepakbola favorit saya ini sejak mereka mampu mengalahkan tim Portugal 4:0 di awal.

Der Mensch denkt, Gott lenkt. Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Jika Tuhan berkehendak, Ia mampu menunjukkan kemenangan melebihi apa yang diperkirakan manusia. Bahkan Thomas Müller pemain favorit saya mengatakan ia tak menyangka kemenangan telak melawan Brazil ini. Pertandingan sepak bola ini cuma persoalan siap menang dan siap kalah.Jadi bisa anda bayangkan bagaimana Brazil lovers dan pendukungnya begitu syok menyaksikan kekalahan ini. Adalah David Luiz, salah satu Pemain Brazil pun tampak sedih dan meneteskan air mata karena kekalahan ini.

Meski belum sepenuhnya Jerman menjadi Pemenang karena belum melewati babak final pada hari minggu nanti waktu Jerman namun baik bagi saya belajar dari karakter mereka yang saya idolakan. Adalah sang pelatih Joachim Loew yang konon dari hasil bacaan mengatakan punya keahlian khusus, tidak hanya melatih skill tetapi juga mental para pemainnya. Super!!!

Apakah hari minggu besok tim Jerman berhasil meraih juara untuk ke-4 kalinya?

Saya saja yang tak paham sepak bola jadi penasaran plus fussballverrückt juga sekarang. Apalagi sang Kapten Philip Lahm merasa optimis bisa membawa timnya meraih juara dunia kembali. Wah, semoga saja impian mereka terkabul.

Kalau soal impian, saya jadi antusias ingin memaknai kemenangan mereka nanti. Si Jagoan Favorit saya, Thomas Müller pun berkata, “Wir werden alles geben für diesen Erfolg. Kami akan memberikan segalanya untuk keberhasilan ini.” Jadi semakin yakin bahwa Der Panzer akan menang. Saya jadi belajar bahwa ternyata “Mental Juara” juga diperlukan jika ingin meraih impian.

Semoga setelah dua puluh empat tahun, tim Jerman benar-benar mampu mengalahkan tim Argentina, yang konon punya superstar yakni Lionel Messi. Sama seperti kemarin, saya sempat cemas sewaktu tim Jerman melawan tim Portugal yang juga punya superstar Christiano Ronaldo itu. Namun mental juara mampu mengalahkan tim Portugal, 4:0.

Jika kemarin si “Gajah” peramal Nelly dianggap sukses meramalkan tim Jerman menang melawan tim Brazil, sekarang Nelly pun dimintai bantuannya lagi. Menurut ramalannya, tim Jerman menang melawan Argentina. Wow!!!

Alles hat seine Zeit. Segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu menang. Ada waktu kalah. Namun kini tiba tim Jerman akan menang meraih impian Juara World Cup ke-4 kalinya, sepertinya begitu hihihihi… May Germany wins!!!

Wir werden sehen was die Zeit bringt hihihihi

Mengapa Kesulitan Ada Dalam Hidup?

push

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Pepatah Jerman bilang, ” Schwierigkeiten sind die Herausforderungen im Leben” yakni bahwa kesulitan-kesulitan adalah tantangan dalam hidup. Lalu mengapa dalam hidup perlu ada tantangan?

Dulu saya begitu penasaran, apa yang menyebabkan sahabat pria yang dekat dengan saya ini berselingkuh padahal ia sudah menikah meski memang tak memakai cincin kawin. Jika disimak pernikahannya harmonis meski belum dikaruniai anak, isterinya super baik dan kehidupan perkawinannya baik-baik saja. Lalu apa dasarnya dia berselingkuh?

Dia pun menjawab begini, “Bu, jika hidup ini adem ayem saja tak ada tantangan. Perkawinan saya baik-baik saja malah jadi membosankan. Justru dengan berselingkuh, hidup saya jadi bergairah dan menantang.” Ini pria aneh mungkin menjadikan dalil selingkuh menjadi pembenaran.

Lalu dia menambahkan, “Kamu lihat! Kenapa banyak orang pakai Narkoba padahal hidup mereka sudah sukses, mapan, dan semua baik-baik saja? Karena hidup mereka monoton maka mereka mencari tantangan dalam hidup dengan menggunakan Narkoba.”

Heh!!! Diskusi dengan dia memang bisa sakit kepala. Tetapi saya menemukan lesson learned tentang kesulitan dalam hidup. Artinya, bersyukurlah jika dalam hidup kita diberi kesulitan karena kita masih diberikan tantangan yang membuat hidup ini terasa lebih indah, menarik dan tak monoton. Bukankah pepatah mengatakan, Life is never flat. Disitulah letak kesulitan supaya kita menemukan tantangan hidup.

Jadi terima kesulitan sebagai bagian dalam kehidupan. Bersyukurlah karena dengan kesulitan kita memahami bahwa hidup ini sebenarnya indah dan menarik.

Dulu sewaktu sekolah, saya selalu merasa percaya diri mengerjakan tugas sekolah sendiri. Saya berusaha sekuat tenaga agar saya bisa mengerjakan dan menyelesaikannya. Apakah semua tugas sekolah yang saya kerjakan pasti mudah? Tidak, saya kerap kali menemukan kesulitan. Saat sulit seperti itu, orang pertama yang saya mintai bantuan dan meraung-raung adalah Bapak saya. Baru kemudian orang lain seperti Guru dan teman-teman lainnya.

Apa yang saya petik dari setiap kesulitan? Kadang kesulitan hidup mampu kita kerjakan tetapi kadang kita perlu kekuatan Bapa di Surga. Artinya, kesulitan mendekatkan kita pada Tuhan untuk meminta pertolongannya lewat Doa dan amal perbuatan kita. Lalu kesulitan mendorong kita untuk membuka relasi kita agar lebih dekat dengan sesama. Hey, kita ‘kan makhluk sosial.

Kesulitan diciptakan agar kita mengenali jalan hidup yang kita tempuh. Bukankah saat kita sulit justru kita punya waktu refleksi diri dan mengenali potensi diri? Kesulitan diciptakan untuk mengukur potensi kita, seberapa mampu kita menyelesaikan apa yang sudah kita mulai?

Bukankah setiap kesulitan hidup itu tak pernah sama? Karena kesulitan itu datang dengan takaran masing-masing agar kita bisa belajar lebih baik lagi. Pada dasarnya hidup ini adalah proses belajar menjadi yang lebih baik. Bagaimana kita bisa belajar menjadi lebih baik lagi? Jawabnya, dari kesulitan hidup.

Percayalah dibalik kesulitan ada kemudahan. Memang begitu hukum alamnya, semua punya dua sisi. Kesulitan akan diiringi dengan kemudahan bagi yang lainnya. Jangan pernah putus asa dalam menghadapi kesulitan!!!

Saya selalu ingat pesan teman baik saya dalam status di skype, “There is always a person who helps you to move forward even in bad times.”

Untuk sahabat terbaik di ujung dunia sana, semoga tidak pernah berhenti berharap dan selalu bersemangat menyelesaikan kesulitannya.

Ada Apa Intelegensi dengan Warna Rambut?

wp-image-595702827

Tentang rambut, saya punya pengalaman menarik. Saat dapat tugas di pedalaman Papua dulu. Beberapa ibu dari suku pedalaman memegang rambut saya dan kagum dengan lurusnya rambut saya. Padahal rambut saya baru saja di-smoothing. Entah apa yang mendasari pemikiran mereka sampai-sampai persepsi perempuan cantik adalah mereka yang berambut lurus.

Perempuan berambut ‘air’ adalah julukan mereka yang dianggap cantik. Tak aneh jika saya menjumpai perempuan-perempuan di Flores, saat saya liburan, mengubah penampilan rambut mereka menjadi lurus, tidak seperti rambut aslinya. Perawatan pelurusan rambut jadi laris manis di Flores sini.

Nah berbicara persepsi rambut, ada yang mengidentikkan warna rambut dengan kemampuan intelegensi. Wah, saya sih tidak percaya. Karena di Jakarta saja saya temukan banyak perempuan yang sudah mewarnai rambutnya. Warna rambut sudah tak asli. Tapi benarkah warna rambut menentukan tingkat intelegensi?

Studi baru yang dilakukan oleh para akademisi di Stanford University, California menyatakan bahwa warna rambut tidak berdampak pada kecerdasan atau kepribadian. Hal ini membuka pemahaman banyak orang yang masih memandang misalnya gadis blonde dipandang tidak pandai.

Saya juga menemukan kecenderungan perempuan muda di luar juga mewarnai rambut mereka jadi lebih “blonde”. Saya tidak tahu alasan mereka mewarnai rambut mereka.

Ternyata tidak hanya saya, penelitian ini juga ingin menyangkal streotip bahwa mereka yang berambut pirang adalah bodoh. Hal ini ditunjukkan dengan temuan bahwa warna rambut adalah ‘hanya kulit luarnya’ saja karena tergantung pada satu huruf dari kode genetik (DNA). Jadi warna rambut tidak berkaitan dengan sifat lain. Juga penelitian untuk mengklaim bahwa tidak benar rambut pirang menandakan kecerdasan lebih rendah.

Penelitian ini diperkuat oleh pernyataan Peneliti utama, Profesor David Kingsley yang mengatakan, “Mekanisme genetik yang mengontrol rambut pirang tidak mengubah unsur biologi pada bagian lain tubuh.”

Para peneliti juga menemukan bahwa gen yang mempengaruhi rambut pirang tidak berhubungan dengan warna mata, seperti misalnya rambut pirang pasti bermata biru karena sesungguhnya tidak berkaitan secara genetik.

Wah, saya jadi ingat dulu teman kerja saya di Semarang ingin sekali anaknya berambut pirang dan bermata biru. Entah apa yang mendasari pemikiran teman saya ini. Tetapi penelitian ini sungguh menarik buat menyangkal streotip yang berkembang di masyarakat, seperti fenomena perempuan berambut ‘air’ yang dianggap cantik.

Menarik ya?!

Sumber bacaan:
http://www.dailymail.co.uk

Hanya Sekedar Ramalan. Anda Percaya?

image
(Letakkan koin dengan menempelkannya pada telapak kaki patung “Sleeping Buddha”. Kemudian sebutkan permohonan anda soal jodoh. Jika menempel berarti anda berjodoh dengannya. Sumber foto: Dokumen pribadi)

 

Anda pernah diramal soal jodoh? Atau mungkin diramal soal masa depan? Pekerjaan mungkin?

Pertanyaan saya cuma satu, apakah isi ramalan itu tepat sesuai kenyataan?

Pengalaman menarik ini pernah saya alami sewaktu berkunjung ke Thailand. Si Pemandu bilang, silahkan siapkan mata uang koin apa saja lalu tempelkan pada telapak kaki patung “Sleeping Buddha”, lalu sebutkan permohonan anda soal jodoh sambil menempelkan koin tersebut. Bila koin terus menempel maka permohonan anda akan terkabul.

Ramalan yang lain juga di Thailand. Ada semacam bilah bambu dengan nomor-nomor tertentu. Kita diminta untuk mengocok sambil berdoa. Setelah itu, ambil salah satu bilah bambu tersebut dan perhatikan nomornya. Nanti akan ada ahli yang akan memberikan kertas ramal lalu jika ingin lebih silahkan memberikan tips kepada ahlinya untuk menjelaskan peruntungan anda.

Semua hanya ramalan. Meski kita meyakini, jodoh di tangan Tuhan tetapi kita mudah terpancing untuk ikut serta. Bisa jadi kita tidak percaya pada hidup yang sudah dijalani. Semua hal di dunia ini dapat dengan mudah didapatkan, tapi tidak dengan waktu. Artinya, segala sesuatu ada waktunya. Tidak bisa.dipaksakan, karena alam punya cara tersendiri. Percayalah bahwa jodoh atau masa depan bukan diramal tetapi didapatkan dan didoakan.

Mereka yang percaya pada ramalan adalah mereka yang tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, minder dan terlalu mengkhawatirkan masa depan. Saya percaya bahwa kerja keras adalah buah dari perjuangan dan prestasi hidup. Lupakan kisah-kisah romantis yang anda jumpai dalam novel dan film. Hiduplah dalam dunia sebenarnya yakni bahwa segala sesuatu butuh perjuangan, bukan ramalan.

Perjuangkan impianmu, bukan ramalan tentangmu!!! Jadi diri sendiri, itu kuncinya.

Mungkin pernyataan berikut baik untuk anda yang sedang mencari jodoh,
“Maybe God wants us to meet a few wrong before the right one, when we found finally we will know how greatful that gift.”

Mengapa Hal Buruk Terjadi pada Orang Baik?

image
Dokumen pribadi.

 

Ada yang protes dengan judul tulisan di atas? Saya rasa tidak. Pernah mendengar ada orang yang bertanya, mengapa si anu sakit kanker padahal dia orang baik? Atau, mengapa suaminya selingkuh dan pergi meninggalkan dia padahal dia istri yang baik? Lain lagi, mengapa dia harus dipenjara padahal dia anak yang baik? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Intinya, mengapa hal buruk terjadi juga pada orang baik?

Saya pernah kehilangan kalkulator jaman sekolah SD dulu. Kalkulator itu adalah barang ayah saya yang saya pinjam dan pakai tanpa minta ijin dulu dari ayah saya. Saya panik. Saya takut pulang. Saya sampai berkata, saya ‘kan anak baik mengapa saya harus menghadapi situasi seperti ini? Sudah terbayang bagaimana ayah saya akan marah besar pada saya. Benar, ayah saya wajar marah. Bukan karena kalkulatornya hilang tetapi dikarenakan saya mengambil barang miliknya tanpa ijin. Saya belajar dari pengalaman tersebut. Bahwa sesuatu yang buruk pasti terjadi apabila kita melakukan hal yang buruk juga. Bahwa sesuatu yang buruk juga mengajarkan kita tentang sesuatu hal. Bukankah pengalaman adalah guru yang baik dalam hidup? Bahwa kita jadi lebih belajar sebagai pribadi dari hal buruk yang menimpa. Saya jadi menghargai barang orang lain. Saya pamit dulu jika ingin menggunakan barang orang lain.

Sudah rajin sembahyang mengapa juga kesusahan hidup tetap ada? Tanya teman saya pada saya. Lalu saya tanya balik, apakah orang yang tidak sembahyang  seharusnya hidupnya susah? Malah teman saya bingung menjawabnya. Tidak ada yang pasti di dunia ini, hanya kelahiran dan kematian itu sudah jadi bagian yang pasti dalam hidup manusia. Tidak ada yang bisa menduga kesusahan dalam hidup.

Suatu saat saya belajar keras agar dapat nilai baik untuk ujian di sekolah. Tanpa disangka meski saya sudah belajar hebat, nilai saya juga 50, tetap buruk. Saya tidak menyangka ujiannya susah meski saya sudah belajar mati-matian. Mungkin jika saya tidak belajar nilai saya bisa lebih buruk lagi atau nilai nol misalnya. Artinya kesusahan dalam hidup seperti ujian, tidak pernah diduga apakah kita bisa melewatinya atau tidak meskipun kita sudah berusaha. Belajar sunguh-sungguh membuat kita tidak dapat nilai lebih buruk lagi. Sembahyang juga membuat kita lebih kuat, sabar, tabah dalam menghadapi kesusahan.

Lalu mengapa hal buruk juga terjadi pada orang baik? Apakah kita punya kendali atas hidup ini? Tidak ada satupun manusia yang hebat dan bisa mengendalikan hidupnya. Jika hujan bisa menyirami siapa saja, entah orang baik atau orang jahat. Maka hal buruk pun bisa menimpa siapa saja, termasuk orang baik. Tuhan itu adil. Dia tidak pernah membedakan manusia ciptaanNya. Kita yang sering membuat pembedaan itu, ada manusia baik dan manusia jahat.

Jadi wajarkah orang baik mendapatkan hal buruk? Siapa bilang orang suci yang pernah hidup di dunia ini tidak pernah mengalami hal buruk dalam hidupnya? Justru hal buruk yang menimpanya mampu menunjukkan kepada dunia tentang kesucian dan kesalehan hidupnya.

Baik atau buruk hidup ini ada dalam kendaliNya. Bencana, musibah, kesusahan adalah bagian dari hidup manusia. Semua orang pasti melaluinya agar kita sadar bahwa hidup ini tidak sepenuhnya ada dalam kendali kita.

 

Kekuatan Mengampuni

Hidup yang damai adalah mengampuni masa lalu, bersyukur atas masa kini dan tidak mencemaskan masa depan.

blog1
The best grievances is forgiveness. Sumber foto: dokumen pribadi

Belajar dari figur Nelson Mandela, seorang tokoh dunia, saya mengenal arti pengampunan yang sesungguhnya. Tak heran saat wafatnya, tidak hanya masyarakat Afrika Selatan berduka kehilangan tetapi juga masyarakat dunia. Sebagai tokoh dunia, pejuang persamaan hak warga negara agar tiada lagi pembedaan berdasarkan warna kulitnya, Nelson Mandela juga mengajarkan tentang pengampunan.

Saat masyarakat Afrika Selatan bersiteru tegang dalam konflik berkepanjangan, Nelson Mandela diharapkan menjadi juru damai. Dalam pidato yang singkat kepada masyarakat Afrika Selatan kala itu, ia berujar bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Mari membuat hidup lebih baik lagi dengan berdamai. Ia menambahkan bahwa selama 27 tahun dalam penjara, ia sudah kehilangan banyak hal dalam hidupnya tetapi ia tidak pernah menaruh dendam. Ia sanggup mengampuni. Kemudian ia berhasil membuat masyarakat Afrika Selatan percaya padanya bahwa pengampunan akan memberi kedamaian bagi negara yang sedang berkonflik kala itu.

Kekuatan pengampunan juga saya dapatkan dari kisah Ibu Elizabeth Diana, seorang ibu yang baru saja kehilangan putri tunggalnya, yang dibunuh secara kejam dan sadis. Ia mampu memaafkan Pembunuh yang adalah teman dan mantan pacar anaknya itu. Luar biasa, ibu ini ikhlas menerima kepergian anaknya seraya tidak menaruh dendam kepada pelaku. “Tuhan saja mau mengampuni dosa manusia, apalagi kita?!”

Siapakah kita sehingga begitu hebat menaruh dendam kepada sesama kita?

Saya masih ingat cerita seorang rekan kerja ketika kami sedang menceritakan pengalaman iman. Ada temannya, seorang Nasrani setiap doa “Bapa Kami” pada bait, “… dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun yang bersalah kepada kami”, ia diam. Ia tidak berani mengatakannya, ia masih merasa dendam kepada ayahnya sendiri. Begitu kuatnya dendam hingga membuat “luka batin” pada diri sendiri. Dendam menyerang diri sendiri.

Begitu kuatnya dendam sehingga mudah pula kita menemukan kasus kejahatan dan pembunuhan yang disebabkan oleh dendam pribadi. Dendam menyebabkan luka dan sakit juga bagi orang lain. Dendam menyerang orang lain.

Pengalaman saya dalam relasi dengan orang lain. Masalah selesai atau segera diselesaikan sebelum terjadi konflik. Saya juga akan segera melupakan konflik atau persiteruan tersebut. Tegur atau sapa kembali orang yang menganggap saya musuh. Tidak ada dendam. Meski relasi saya tidak seindah dulu dengan orang tersebut, tetapi yang terpenting, saya mampu mengalahkan ego pribadi saya.

Seratus persen rekan saya mengatakan bahwa dia salah dan saya benar. Secara ego manusia, dia yang bersalah seharusnya meminta maaf. Bagi saya, bukan persoalan salah atau benar, tetapi soal kemampuan untuk bersikap rendah hati untuk mengakui kesalahan. Kemauan yang ikhlas untuk menyapa dan mengampuni kesalahan orang lain. Jadi tidak ada konflik atau dendam.

Saya berpikir saya hanya tidak punya cukup waktu untuk memahami. Kesalahan dalam diri manusia itu wajar. Kita boleh salah. Bencilah kesalahannya, bukan orangnya.

Kita adalah manusia yang tidak sempurna. Saya rasa orangtua punya peran dalam mendidik anak untuk punya rasa ikhlas mengampuni.

Jika ada kesalahan, orangtua juga perlu meminta maaf. Jangan menganggap orangtua adalah sumber kebenaran! Orangtua saya pun akan mudah meminta maaf kepada saya dan adik-adik jika merasa salah. Toh, hal ini tidak menurunkan derajatnya sebagai orangtua.

Anak juga harus belajar mengakui kesalahan dan menerima kesalahan sebagai proses pertumbuhan diri. Hey Nak, kesalahan adalah cara menemukan kebenaran.”

Jika anak bersalah, orangtua tidak perlu berlebihan menghukum anak sehingga menyebabkan anak trauma dan menaruh dendam. Beritahu kesalahannya, bukan hukumannya. Anak belajar pengampunan dari perilaku orangtua. Dengan demikian anak akan belajar artinya damai, tanpa kekerasan. Itulah makna kekuatan pengampuan menurut saya.

Betapapun pahitnya masa lalu, betapapun sakitnya perlakuan orang itu, dan betapa menderitanya kita karena kesalahan, mengampuni adalah cara kita berdamai dengan diri sendiri.

4 Jenis Pribadi Masalah

 

image
Dokumen pribadi.

Entah mengapa usai ngobrol dengan teman hari ini, akhirnya kami sepakat membagi jenis orang berdasarkan masalahnya. Entah benar atau tidak, yang jelas ini bukan ilmiah hanya berdasarkan pengalaman dan observasi saja. Tapi bagus juga jika ada kesempatan untuk meneliti hehehe….

Berikut ini adalah jenis pribadi menurut masalahnya:

1. Si Pembuat Masalah
Pernah bertemu dengan orang yang selalu bermasalah? Mungkin orang itu masuk jenis ini. Hari ini, dia bermasalah dengan bosnya. Besok dia bermasalah dengan kekasihnya. Lusa dia bermasalah dengan anjing peliharaannya. Hari berikut dia bermasalah dengan orangtuanya. Lalu setelahnya dia bermasalah dengan kartu ATM dan seterusnya. Sampai anda sendiri pun melupakan masalah anda hehehe…

Tak hanya suka bercerita tentang masalahnya, Si Pembuat Masalah juga sering melakukan segala hal dengan penuh masalah, misalnya mempermasalahkan rekan kerjanya, mempersalahkan komputer, mempersalahkan kemacetan, mempersalahkan waktu sampai-sampai mempersalahkan Tuhan. Waduh?!

Tipe ini biasa dikuasai dengan orang-orang ekstrovert tetapi tidak melulu mereka yang ektrovert masuk dalam kategori ini. Mereka punya kecenderungan untuk mempersalahkan orang lain atau keadaan. Padahal sebagian besar hidup dikendalikan oleh diri sendiri. Jadi stop mempersalahkan atau membuat masalah. Kekuatan tipe ini, mereka punya banyak teman, suka bergaul, populer, dan punya jiwa penemu. Apa iya?!

2. Si Pemecah Masalah
Si Pemecah Masalah biasanya mudah dikenali dari karakter pribadi dan karisma yang dimilikinya karena mereka suka dimintai pendapat. Tipe pribadi ini digolongkan pribadi yang tenang, tidak emosional, suka mendengarkan dan suka dimintai saran/pendapat.

Anehnya tipe ini selalu hidup harmonis dengan si Pembuat Masalah. Tipe Pemecah Masalah juga dipandang orang yang bijaksana. Kelemahan dari tipe ini adalah mereka suka tidak fokus terhadap hidup mereka dan suka mengurusi masalah orang lain. Begitu ya?!

3. Si Pengamat Masalah
Jika anda menemukan orang yang suka melihat dan menonton kejadian tanpa ikut serta membantu, atau mereka yang suka labil dalam memberikan pendapat tentang masalah orang lain, sebentar A kemudian berubah B, bisa jadi kategori ini.

Mereka suka mengamati tanpa suka ikut campur masalah orang lain. Bila ada dua kubu bersiteru, mereka tidak berpihak, kadang membela si anu tapi juga membela kubu satunya lagi. Mereka sebenarnya tidak suka perseteruan atau masalah. Mereka hanya mengamati saja. Mereka juga bukan tipe orang yang suka bercerita tentang masalahnya atau masalah orang lain.

4. Si Penghindar Masalah
Mereka yang masuk dalam golongan ini adalah mereka yang tidak suka repot dan tidak mau ribut dalam kompromi masalah. Lebih baik diam, adalah hal yang paling banyak dilakukan. Mereka juga lebih baik berkompromi dengan hal lain daripada memulai masalah, mendengarkan masalah atau mengamati masalah.

Bagi mereka, ada banyak urusan penting ketimbang meributkan rekan kerja yang bermasalah atau menceritakan masalah pribadinya. Mereka sebenarnya bukan tipe “EGP” alias Emang Gue Pikirin tapi mereka condong untuk menikmati hidup dengan cara mereka sendiri.

Ketika kantor ribut dengan masalah bos yang suka marah-marah, sementara si Pemecah Masalah berusaha menenangkan seisi kantor. Lalu, si Pembuat Masalah mulai becerita bla bla bla tentang sebab musabab bos marah. Di sisi lain, si Pengamat hanya mendengarkan dan mengamati saja suasana kantor. Nah, mereka yang adalah penghindar masalah akan memilih kesibukan sendiri atau mencari lokasi kerja yang tenang.

Demikian kurang lebih hasil diskusi di waktu siang. Saya sendiri menganggap hidup ini saling melengkapi dan tidak ada yang sempurna. Apa pun jenis pribadi anda, mari jadikan pribadi kita berkualitas dengan masalah yang kita punya. Dalam hidup selalu ada masalah.

Mereka yang suka merumitkan hal-hal sederhana cenderung punya banyak masalah. Tapi di sisi lain mungkin kehadiran mereka membantu kita untuk peka dan sadar bahwa bisa jadi timbul masalah bila kita cuek.

Tidak usah serius membacanya, cukup dihayati saja, termasuk pribadi mana kecenderungan anda?