3 Pizza Neapolitan, Mana Favorit Anda? Makanan Khas Italia (20)

Pizza adalah salah satu makanan non tradisional di Jerman yang mudah ditemui di sini. Kita bisa menemukan pizza yang berharga murah hingga mahal di restoran dan supermarket. Atau kita juga bisa menemukan istimewanya pizza di gerai pizzeria di sini. Di supermarket, kita bisa membeli bahan-bahan mentah pizza, pizza yang tinggal dipanaskan di oven bahkan pizza yang langsung siap dimakan. Semua kembali pada pilihan anda.

Dibalik itu semua, saya mau berbagi tiga pizza neapolitan yang jadi favorit saya. Disebut pizza neapolitan konon untuk membedakan pizza sebagaimana umumnya yang saya kenal di Indonesia. Pizza jenis ini punya lapisan yang tipis dan sisi pizza tampak hangus. Begitu tipisnya pizza ini sehingga tidak perlu waktu lama memasaknya. Sedangkan kita bisa menggunakan garpu dan pisau untuk memakan pizza yang lembut dan tipis ini. Saus jenis pizza ini umumnya didominasi saus tomat.

1. Pizza Marinara seafood

Saya tempatkan pizza ini di posisi pertama karena pizza ini benar-benar enak. Peraciknya adalah orang Italia langsung yang sudah lama menetap di Jerman. Begitu saya datang, mereka menyambut saya dalam bahasa Italia. Aneka makanan Italia tersedia, tetapi saya pilih pizza yang saya yakin pasti enak. Dan, pizza ini enak sekali. Pizza ini tampak setengah karena saya mendapatkan setengah porsi dari suami saya.

Semua makanan laut ditempatkan di sisi pizza secara adil. Ada udang, ikan, cumi, kerang dan kepiting. Lengkap! Sausnya yang dibuat khas pizza neapolitan yakni saus tomat dan keju mozarella. Sedikit oregano juga sangat tepat untuk citarasa makanan laut yang terkesan amis. Ada seiris jeruk lemon sebagai dekorasi dan mungkin jika anda menghendakinya untuk diselipkan dalam rasa pizza. Sempurna!

2. Pizza Margherita

Masih jenis pizza neapolitan yang menggunakan saus tomat dan keju mozarella, pizza margherita bisa jadi favorit anda. Inti dari pizza ini adalah saus tomat, lelehan keju mozarella, daun basil dan oregano. Namun pizza yang saya pesan memberikan kreasi dengan daging ham dan irisan jamur. Maklum pizza ini memang tidak diracik oleh seseorang yang berasal dari Italia secara langsung.

Saya suka pizza ini karena pilihan sausnya yang segar dan tekstur pizza yang kering. Hmm…

3. Pizza Diavola

Pizza terakhir adalah pizza berasa pedas yang bernama diavola. Diavola sendiri diartikan pizza “setan” karena rasa pizza yang pedas dan tidak umum seperti pizza lainnya. Apa yang membuat pedas adalah bahan yang digunakan. Ada peperoni memenuhi pizza dan buah zaitun untuk menambah rasa.

Dari ketiga pizza di atas, mana yang jadi favorit anda?

Advertisements

Capricciosa, Pilih Bentuk Salad atau Pizza: Makanan Khas Italia (16)

Capricciosa dalam bentuk salad.
Dalam bentuk pizza.

Setelah meninggalkan Köln, kami pun menuju ke kota tujuan lainnya. Berhubung sudah lapar, kami berhenti di salah satu kota untuk menikmati makan malam. Alhasil kami berhenti di restoran ala Italia.

Setelah memarkirkan mobil, pramusaji berambut pirang dengan ramah menyambut kami. Ketika duduk, kami sudah berhadapan dengan daftar menu yang hendak dipesan. Suami ingin pizza dan saya ingin salad. Akhirnya kami punya nama pesanan yang sama, hanya saja berbeda bentuk.

Selang tiga puluh menit, pesanan kami muncul. Cukup lama memang. Tanpa basa basi, kami berdua terdiam menikmati sajian makan malam yang sudah terlambat.

Untuk pizza capricciosa berukuran sedang. Pizza ini dimasak dengan baik dan tentunya lezat. Isian topping pizza terdiri atas irisan ikan tuna, saus tomat, irisan champignon, bawang bombay dan telur. Kemudian pizza seperti tertutup dengan lelehan keju mozarella. Ini bisa jadi pilihan jika anda suka makan pizza.

Selanjutnya jika anda suka makan salad maka silahkan mengamati apa yang saya pesan. Salad capricciosa terdiri atas irisan timun, irisan tomat, irisan telur rebus dan irisan ikan tuna. Ada sayuran salad air dan sayuran salad lainnya. Untuk dressing, hanya mayonaisse berbumbu asam yang istimewa.

Sebagai tambahan menikmatinya, ada roti pita yang dipanggang. Saya tidak tahu bagaimana menyebutkannya. Namun rasa roti dan salad ini benar-benar kombinasi yang pas dan menyehatkan sebagai makan malam.

Kira-kira anda akan pilih salad atau pizza?

Empat Varian Rasa Pizza, Mana yang Disuka?

Karena rasanya yang pedas, pizza ini dikenal dengan nama ‘pizza devil’.

Pizza adalah makanan khas Italia yang sudah mendunia. Tidak hanya di Italia saja, di Eropa begitu mudah mendapati pizza. Pizza bisa disajikan secara ekslusif atau bahkan dijual di kedai Imbiss yang harganya terjangkau dompet.

Menurut saya, pizza di sini punya tekstur yang berbeda dan rasa yang khas ketimbang di Jakarta. Tua muda suka dengan pizza. Hal ini terlihat jika saya berkunjung ke restoran yang menyajikan khusus pizza. Makanan ini begitu digemari dengan banyak pilihan topping yang disukai.

Sebetulnya pizza berawal dari jenis pizza margherita. Pizza margherita terdiri atas saus tomat spesial, keju mozarella, daun basil, garam dan ekstra minyak zaitun. Cikal bakal pizza dimulai sekitar abad 19. Seiring zaman para juru masak mulai meracik dengan topping yang berbeda.

Kembali ketiga pilihan pizza berikut, mana yang kira-kira anda sukai?

1. Pizza fungi

Pizza pertama yang saya perkenalkan adalah pizza fungi. Dari namanya sudah bisa ditebak bahwa pizza berikut memasukkan jamur (fungi) sebagai rasa utama. Yups, bagi anda yang tidak ingin makan daging dan termasuk vegetaris maka pilihan pizza fungi bisa dicoba. Pizza ini terdiri atas tomatensauce, keju mozarella dan champignon.

2. Pizza Fruti di Mare

Selanjutnya saya perkenalkan pizza untuk mereka yang suka makanan laut. Saya sih belum pernah mencoba pizza rasa ini di Jakarta. Terus terang saya suka dengan seafood, namun jadi penasaran ketika ini dipadukan di atas pizza.

Pizza ini terdiri atas saus tomat, keju mozarella, kerang, udang, cumi-cumi, daging kepiting dan minyak bawang putih. Setelah saya memesannya, rasanya luar biasa enak. Bayangkan bahwa kerangnya masih terbungkus namun sudah matang. Mungkin juru masak tahu durasi pembuatannya sehingga tekstur makanan lautnya benar-benar pas. Seperti cumi-cumi dan udang pun dimasak dengan pas dan tidak berbau amis.

3. Pizza Diavolo

Pizza berikutnya ditujukan bagi mereka pecinta rasa pedas. Karena saya suka pedas dan tertarik dengan namanya ‘pizza devil’ maka saya tertantang mencobanya. Di sini tidak ada level rasa pedas, hanya saja perlu dipastikan bahwa anda benar-benar tidak bermasalah dengan rasa pedas.

Pizza ini terdiri atas saus tomat, keju mozarella, salami rasa pedas, cabai hijau (peperoni), buah zaitun dan minyak cabai. Karena tidak suka dengan zaitun, saya pesan kepada pramusaji untuk tidak memasukkannya. Setelah pesanan pizza datang, rupanya atas pizza masih ditaburi lagi bubuk cabai. Jadi anda bisa tahu alasan disebut pizza devil. Soal rasa pedas, saya suka sekali. Ini nikmat!

4. Pizza Tuna

Terakhir, pizza tuna. Pizza ini berbeda dari ketiga pizza yang disampaikan di atas. Pasalnya pizza ini dibeli di tempat berbeda. Kebetulan kami pergi ke Wien, Austria dan membelinya di kedai imbiss. Terus terang rasanya lumayan enak. Karena pizza dibuat tidak fresh. Ketika kami memesannya, pramusaji menghangatkan lagi di oven.

Pizza ini terdiri atas saus tomat, daun basil, irisan bawang bombay dan tuna. Jika anda suka makan ikan, maka pilihan pizza tuna bisa dicoba.

Elsässer Flammkuchen, Pizza ala Regensburger: Makanan Khas Jerman (31)

Bila berkunjung ke suatu tempat, saya memang menyediakan waktu dan dana khusus hanya untuk wisata kuliner. Ini bukan sekedar icip-icip saja, meski saya masih berada di wilayah Jerman. Beda kota, beda kebiasaan. Beda pula makanan yang disajikan tentunya. Itu sebab saya menuliskan berjilid-jilid makanan khas masyarakat di sini.

Tanpa berpanjang-lebar, saya mau cerita bahwa saya berkunjung ke Regensburg. Di sana saya mengunjungi beberapa obyek wisata. Di tengah kunjungan, perut sudah meronta lapar. Nah, tak mau kalah dengan serombongan wisatawan Inggris yang lagi mampir di kota itu, kami pun mampir di salah satu restoran ternama di pusat kota Regensburg. Konon bangunan di restoran ini sungguh bersejarah, pernah didiami tukang daging sapi terkenal ratusan tahun lalu. Karena itu, tak heran jika kita makan di sana banyak gerombolan wisatawan mengambil foto bangunan ini.

Letaknya di pusat kota, tak jauh dari Rathaus Regensburg adalah restoran ini. Beberapa menu terlihat adalah ciri makanan lokal dengan awalan Regensburger. Akhirnya pilihan suami saya brotzeitbretll yang sudah dikupas di sini. Sedangkan saya tertarik pada Elsässer Flammkuchen.

Apa itu?

Boleh dibilang makanan ini seperti pizza. Karena bentuknya yang bulat pipih dan lebar seperti pizza. Bahkan paling enak makanan ini dipanggang dalam oven dengan bara dari kayu. Mengapa bisa dikatakan mirip pizza? Selain pembuatannya yang serupa, bentuknya sama besar seperti pizza pada umumnya. Namun untuk topping di atas roti di sini hanya irisan bawang merah, daun bawang, daging cincang dan krim.

Setelah cari tahu bahwa elsässer flammkuchen bisa disebut juga tärte flambèe yakni makanan tradisional ala Perancis. Bagaimana pun makanan ini melegenda bagi masyarakat Regensburg. Apakah ada pengaruh pendudukan Perancis di masa lalu di Jerman? Atau memang ini benar-benar kreasi seorang petani yang ingin membuat kreasi makanan? Tak ada yang tahu.

Oh ya, saya dengar makanan flammkuchen ini juga bisa disajikan dalam rasa manis. Ini mungkin bermaksud sebagai dessert barangkali. Katanya topping bisa berisi seperti selai apel atau aneka buah-buahan. Sekilas saya pernah memperhatikan jajanan manis ini. Suatu saat saya akan coba pesan dan menuliskannya kembali.

So, bagaimana menurut anda?

Begini Cara Saya Menambah Kelezatan Pizza

Do you love eating pizza? Pizza is considered idea to taste at the day when I want quick and simple food. Some people declared pizza is unhealthy, but not my pizza. My pizza is easy and simple idea when I am hungry at home. I thought pizza can be healthy when you make it the right way. While pizza is healthy if you can control the ingredients. So following is my tips to add tasty pizza.

 

20180417_221600Ilustrasi. Sebelum dipanggang.

Ilustrasi. Setelah dipanggang.

Beberapa kali saya membahas pizza, yang bisa dilihat tulisannya di bawah ini:

Bagi anda penggemar pizza, anda bisa mensontek resep rahasia saya di sini untuk menambah kelezatan pizza. Pizza memang paling praktis untuk dinikmati. Apalagi di supermarket tersedia aneka pilihan rasa dengan harga terjangkau. Mulai berharga kisaran 1€ hingga lebih. Tentunya ini tidak membuat kantong bolong agar tetap menikmati pizza.

Pizza yang dijual sudah jadi dalam bentuk beku. Kita tak perlu repot membuatnya. Aneka pizza sesuai selera ada di sini. Supermarket meletakkannya di lemari pendingin untuk menjaga tekstur kemasannya. Selanjutnya untuk menikmatinya, kita perlu memanggang dalam oven dengan suhu panas tertentu selama beberapa menit.

Nah, diluar itu semua saya mau membagikan apa yang membuatnya agar tetap enak dinikmati. Ini tipsnya,

  1. Pilih pizza yang tidak terlalu banyak lemak dan lebih banyak sayuran.
  2. Karena suka pedas, saya tambahkan peperoni di atas pizza. Peperoni adalah sebutan untuk cabai hijau yang sudah matang. Peperoni disebar di atas pizza.
  3. Setelah itu tambakan dua atau tiga tetes tabasco.
  4. Terakhir, saya letakkan telur untuk melengkapi kenikmatan pizza.
  5. Saat memanggang, perhatikan petunjuk lama memanggang dan panas yang dibutuhkan.

Begitulah cara saya menambah kelezatan pizza sebelum dipanggang di oven. Tentu ini semua sesuai selera anda.

Ada pendapat?

Lahmacun, Pizza ala Armenia: Makanan Khas Timur Tengah (1)

Lahmacun atau Lahmajoun.

The following is called lahmacun, a such of meat pie. When we heard pizza, it is always related with Italy as origin country. Despite of that, I found  the other Pizza as known “Pizza Armenia.” This dish is also famous in Turkey, Lebanon and Syria.



***

Jika anda mendengar kata ‘Pizza’ pastinya pikiran anda melayang ke negeri Italia. Mengapa? Italia dikenal sebagai negara yang mempopulerkan pizza sebagai kuliner yang sekarang sudah mendunia. Di Indonesia, pizza dikenal tua-muda dan siapa saja. Baca juga, 7 kuliner yang patut dicoba di Italia.

Ternyata ada juga pizza di negara lain, seperti yang pernah saya temui di Shenzen, Tiongkok. Serupa dengan di Tiongkok, lahmacun juga memiliki tekstur dan rasa yang serupa. Bahkan menurut teman saya, orang Armenia bahwa cara pengolahannya pun sepertinya sama yakni dipanggang dalam tungku api. Lahmacun atau juga bisa disebut lahmajoun, semacam pizza dari Armenia. Mungkin cara pembuatan dan bahannya mirip seperti pizza yang dipopulerkan di Italia. 

Lahmacun disajikan seperti pizza pada umumnya atau tidak digulung. Dalam daftar menu, gambar lahmacun seperti pizza pada umumnya, tidak digulung. Hanya saja si penjual yang menjajakannya membuatnya seperti döner, kuliner dari Turki yang juga populer sebagai street foods di sini. Si penjual berharap sajiannya praktis untuk segera dinikmati sebagai jajanan atau street foods. Karena semua pelanggan yang membeli memang tidak makan di tempat. 

Setelah memesannya, ada dua orang yang mengolahnya. Pertama, orang yang bertindak membuat adonan roti yang dipipihkan kemudian diletakkan dalam tungku api seperti layaknya pizza. 

Orang pertama ini juga bertindak sebagai kasir. Setelah matang, orang kedua meletakan isi dari lahmacun yakni mengolesinya dengan bumbu dan menyelipkan daging di dalam. Isian selanjutnya adalah salat sayuran seperti layaknya döner pada umumnya.

Setelah semua lengkap dengan isi sesuai permintaan pelanggan juga, maka lahmacun pun siap digulung. Agar tetap hangat, mereka menggulungnya dengan kertas alumunium foil. Soal rasa, silahkan ditebak! 

Semoga bermanfaat!

Pizza Mare e Monti, Ristorante Pizzeria ‘Gran Sasso’: Rekomendasi Tempat (8)

Pizza yang dimaksud.



Siapa yang tak mengenal pizza, makanan khas dari Italia? Makanan ini digemari siapa saja termasuk di Indonesia. Saya ingat sewaktu masih sekolah, saya sudah bangga diundang datang ke pesta ulangtahun di suatu restoran pizza di Jakarta. Dulu bagi saya, makan pizza sudah berasa mewah. Kini pizza begitu mudah ditemukan di mana saja bahkan di Jerman sekali pun.

Saat saya berkunjung ke negeri asalnya, Pizza mulai dijajakan mulai dari jajanan kaki lima atau street foods hingga makanan eksklusif yang tersedia di restoran. Di Roma, saya mencoba jajanan pinggir jalan pizza marinara yang berharga 1,5€. Jika anda mengamati kedua jenis pizza ini berdasarkan foto yang saya tampilkan tentu beda harga beda pula topping-nya. Harga lebih murah maka pizza tentu tanpa seafood meski diklaim pizza dengan rasa makanan laut.

wp-image-1569068856
Pizza marinara (kanan) ala jajanan kaki lima di Roma.

 

Kali ini saya membicarakan pizza dengan keunikan yang karena tidak mudah ditemui di Indonesia. Pizza Mare e Monti ini sejenis pizza marinara. Apa itu? Pizza yang berisi topping dari makanan laut lengkap. Di atas pizza ini ada udang, cumi-cumi, ikan, kerang dan jamur. 

Tertarik mencobanya?

Cappucino.

Tentu pizza jenis ini cocok disantap bila anda tidak alergi dengan makanan laut. Rasanya memang nikmat sekali! Sepertinya koki tahu bagaimana membuat campuran makanan laut sehingga teksturnya pas, tidak mentah apalagi berbau amis. Saya suka pizza ini.

Ketika ditanya apa minumannya? Saya paham sekali bahwa cappucino selalu disajikan terbaik di restoran Italia. Akhirnya saya memesan cappucino setelah saya memesan air mineral biasa. Tentu cappucino-nya selalu berbuih yang tinggi memenuhi bibir cangkir.

Ini makan siang yang sempurna khas Italia.

7 Daftar Kuliner Wajib Dicoba di Roma, Italia

Jika mengenal bangunan ini, anda pasti tahu dimana ini? Colloseum di Roma, Italia.

Pernah membaca novel ‘Eat, Pray and Love’ sekaligus menonton film yang diperankan oleh Julia Roberts, membuat saya meyakini bahwa Italia adalah negeri yang kaya akan kuliner. Mengapa tidak? Banyak makanan di luar sana yang mengenal makanan khas negeri ini. Sebut saja Pizza, siapa yang tidak kenal dengan makanan satu ini. Bahkan di Indonesia, gerai pizza tidak hanya di restoran eksklusif, di pedagang kaki lima pun mereka menyebut pizza dalam daftar menu. Atau aneka pasta dan spaghetti juga mudah ditemukan di seluruh dunia. Dengan berbagai bumbu saus untuk pasta, membuat siapa pun suka makanan khas negeri ini.

Ini pula yang menjadikan alasan saya untuk pergi ke Italia. Wisata kuliner rasanya tepat setelah wisata sejarah. Bersyukurlah saya tidak tinggal lama karena saya khawatir ukuran baju saya tidak akan muat sekembalinya dari sana. Setiap kuliner yang saya coba, semua benar-benar enak. Bahkan biasanya lidah saya protes saat traveling karena rasa dan tekstur makanan yang berasa aneh. Namun di Italia, lidah saya bergoyang karena luar biasa lezat sekali.

Kali ini saya buat daftar kuliner yang wajib dicoba di negeri aslinya, Italia. Menurut saya, daftar ini wajib anda coba saat bertandang ke Italia. Apa saja?

1. Kopi

Segelas kopi espresso.

Saya belum pernah mencoba minum kopi espresso karena khawatir maag saya kambuh. Setelah mencoba minum espresso dan cappucino di sini, Puji Tuhan tak ada masalah dengan perut saya. Entah karena racikannya, entah alasan apa namun saya memuji kopi buatan mereka. Sumpah! Kopi mereka enak sekali. Di sini kopi bukan sekedar minuman, tetapi budaya. Orang Roma menikmati kopi yang disebut ‘Bar Kopi’ bak layaknya kebiasaan hidup. Setelah makan siang pun, mereka minum kopi. Ini sama seperti di Jerman, dimana bir diminum kapan pun.

Hey Coffee Lovers, anda perlu menikmati kopi mereka yang benar-benar nikmat ini. Pilihannya ada pada espresso, cappucino atau macchiato. Setelah menikmati kopi, puji kopi buatan mereka agar mereka bangga bahwa mereka telah berhasil membuat anda jatuh cinta dengan Italia. Rekomendasi tempat minum kopi tersebar di pelosok kota Roma. Bahkan di hotel pun, kopi disajikan dengan penuh cinta untuk anda sebagai tamu hotel. 

2. Pizza

Pizza Margherita dan Pizza Marinara.

Suasana penjualan pizza kala malam hari.

Pizza yang ada di Indonesia bermula dari buatan negeri Paman Sam. Sesungguhnya jika anda mencoba pizza di Italia, anda akan menikmati tekstur roti pizza yang berbeda dengan pizza yang dikenal di Indonesia. Pizza dijual di setiap ristorante atau restoran dalam bahasa Italia. Makanan ini bisa untuk makan siang seloyang penuh untuk satu orang. Atau pizza untuk makan malam dengan irisan yang tak penuh. Silahkan disesuaikan dengan selera anda!

Suatu malam saya dan suami menemukan gerai pizza yang dipenuhi oleh banyak orang. Karena penasaran maka kami mampir dan sekedar mencicipi. Rasa pizza di Italia ternyata berbeda dengan yang dijumpai di Indonesia atau di Jerman. Ada aneka macam topping rasa yang dikehendaki dengan kisaran 1,5€ hingga 2€. Hmmm, lezat sekali!

3. Pasta

Pasta saus tomat.

Pasta saus tuna.

Kami terlambat menikmati makan siang di hari kedua di Roma. Begitu asyiknya menikmati lokasi wisata membuat kami lupa bahwa perut kami sudah mulai menari. Kami berjalan agak jauh dari lokasi wisata agar harga mahal di restoran tidak begitu mahal. Kami berhenti di salah satu restoran dan menikmati sajian pasta yang kebetulan menjadi menu utama siang itu.

Suami saya pesan pasta dengan saus tomat dengan irisan salami. Sementara saya memesan pasta dengan saus tuna. Kami memilih duduk di luar restoran sembari mengamati orang lalu lalang memesan makanan saat makan siang tiba. Selang sepuluh menit, menu pesanan datang. Bagaimana rasanya? Pasta yang dibuat itu seperti tidak lunak namun tidak keras, tekstur pasta benar-benar pas sekali. Sausnya pas sekali, enak! Saya dan suami sepakat bahwa pasta kami benar-benar lezat dan tidak pernah kami menikmatinya seperti ini di luar Italia.

4. Fusilli

Fusilli saus tomat.

Saya memesan fusili di restoran lantai dua semacam food court di stasiun Roma Termini. Awalnya saya ragu karena si koki seperti hanya menghangatkan masakan saja, fussili yang sudah matang ditambah saus di atas kompor. Ya sudah, saya terima saja dan melanjutkan pencarian tempat duduk untuk menyantapnya sementara suami saya mencari menu lain.

Anda tahu, saya terkejut dengan rasanya. Luar biasa cuma dihangatkan begitu saja, namun rasa fusilli ditambah saos tomat dan keju tabur sebagai topping benar-benar nikmat. Berkali-kali saya katakan ini pada suami. Sementara suami saya memesan menu masakan lain. Saya benar-benar tidak menyesal memilih makanan ini. Lezat!

5. Keju Mozzarella

Bruschetta.

Keju mozzarella.

Saya pernah menyaksikan pembuatan keju mozzarella di saluran televisi tentang kuliner. Rupanya keju ini terbuat dari susu kerbau. Di Jerman pun tersedia keju ini, namun saya tidak berniat membelinya. 

Suatu malam saya dan suami berhenti di restoran dekat hotel untuk dinner bersama. Karena kami tidak ingin makan dalam porsi yang besar, pilihan jatuh pada bruschetta. Meski tidak ada imajinasi makanan seperti apa, saya ikuti pesanan yang dipesankan suami. 

Selang lima menit datang pramusaji menyediakan roti ciabatta di hadapan kami dan peralatan makan. Lalu beberapa menit kemudian datang pesanan kami. Jadi beberapa irisan schinken diletakkan mengitari piring dan pusatnya adalah keju mozzarella. Ambil roti ciabatta, masukkan di dalam selipan irisan schinken dan sedikit keju. Sumpah, enak sekali! Saya pun mengatakan pada suami akan membeli keju mozzarela dan membuat hal serupa saat kembali di Jerman.

6. Tiramisu

Tiramisu.

Terakhir ini adalah sejenis cake yang membuat saya tergila-gila menikmatinya. Pertama kali saya jatuh cinta pada tiramisu saat puluhan tahun lalu mencicipinya di Hotel Mulia di Jakarta. Setelah itu saya sering membelinya di Jerman sebagai dessert atau cake kala kaffeetrinken

Mencicipi tiramisu tak ubahnya minum kopi. Ada campuran kopi dalam membuatnya. Anda tak menyesal jika memesan tiramisu sambil menikmati secangkir kopi. Mantap!

7. Es Krim

Ice cream.

Siapa yang tak tahu bahwa gelato adalah resep membuat es krim terenak. Di sini anda akan menemukan bahwa ice cream mereka benar-benar sempurna enak meski kala malam berasa dingin untuk disantap. Namun anda yang suka ice cream, jangan sampai menyesal bila tak mencicipi ice cream di sini.

Demikian pengalaman kuliner saya di Roma, Italia. Saya benar-benar jatuh cinta dengan kuliner mereka. Semoga anda pun demikian!

Cinta dalam Sepotong Pizza

“Was denkst du, Anna?” tanyanya. Apa yang kau pikirkan. 

Aku mendengarnya jadi terkejut. Aku tak percaya bahwa pria ini mengajak makan malam keluar. Oh, sulit rasanya membujuk pria Jerman ini makan di luar. Dia memilih masak dan makan di rumah, ketimbang makan di restoran. 

Aku gugup menjawabnya “Nicht”. Tidak ada yang aku pikirkan. Aku pun bergegas meraih tas jinjing di meja. 

Sekilas aku melihat penampilanku di kaca. Tiba – tiba aku merasa tak percaya diri berjalan bersamanya. Ada jutaan mata yang selalu melihat aneh kebersamaan pasangan Asia – Jerman. Kulitku yang eksotis dan berambut hitam legam terlihat kontras dengan pria berambut pirang miliknya. 

“Hey, kommst zu mir mit!” teriaknya dalam mobil. Apakah kau jadi ikut bersamaku makan diluar? Dia berteriak sambil menyalakan mesin mobil. 

“Warte auf mich, bitte!” Aku membalasnya teriak untuk menungguku. 

***

“Zwei Orangensaft und Pizza nummer sieben, bitte” katanya pada kasir yang mencatat pesanan kami. Dia memesan dua jus jeruk dan seloyang Pizza nomor 7 yang tersedia dalam daftar menu. Pizza favorit pilihannya selalu peperoni dan jamur. 

Sepertinya aku sedikit gugup, mataku mulai mengitari restoran untuk mencari tempat yang kosong. 

“Fertig?” tanya kasir untuk memastikan apakah sudah selesai memesan. 

Aku langsung menyahut “Ach so, noch einmal. Ich möchte ein Mineral Wasser trinken. Wie viel kostet es?”

Tiba-tiba aku ingin minum air putih untuk mengurangi keteganganku, aku bertanya pada kasir harganya agar aku bisa bayar langsung. Kasir malahan menyebut total seluruh pesanan kami. 

Dia pun menyerahkan uang 50€ pada kasir. Saat aku menyerahkan untuk bayar air mineral botol, dia menolak dan berseru “Anna, Ich möchte alles bezahlen” aku pun tersenyum. Dia membayar semua pesanan. 

Di restoran Pizzaria, kami duduk berhadapan seperti sepasang kekasih. 
***

Warst du schön mal in Italien?” tanyanya sambil kami menunggu pesanan. Apakah aku pernah ke Italia? 

Aku menjawab “Nein, Ich war noch nie in Italien. Warum?” 

“Du musst nach Italien besuchen. Das ist sehr schön” katanya. 

Ich spreche ein bisschen Deutsch. Können wir English jetzt Sprachen?” Aku katakan padanya bahwa aku bisa berbicara Bahasa Jerman hanya sedikit, apakah kita bisa berbicara dalam bahasa Inggris? Begitu pintaku. 

Pizza yang kami pesan datang. Kami memakannya. Sepertinya dia amat menyukai rasa Pizza itu hingga kami berdua tak berbicara dan menikmatinya. Entah karena lapar atau rasanya yang lezat, kami terpesona sesaat. Diam menikmati Pizza. 

***

“I think now almost every country in the world has Pizza. In beginning, Italy made Pizza as local food. But Pizza is not only from Italy in this time. Eventhough Pizza is not original again, every one can accept the taste. It means they open their eyes beyond countries” katanya sambil menggigit Pizza yang terakhir. 

Aku mengangguk tanda setuju. Apa maksud semua ini? Makan malam? Sepotong Pizza yang aku makan? Kemana semua arah pembicaraan ini? 

Would be my Pizza, Anna?” tanyanya. Heh!!! Apa maksudnya ini?? 

To be Continued…