Seimbangkan Hidup itu Perlu, Mengapa?

Memiliki jadwal yang padat dan sibuk sebenarnya sah-sah saja. Ada orang yang terbiasa dengan padat jadwal sementara ada orang yang memang senang santai dan tak menyukai kesibukan. Ada orang yang tekun pada satu hal aktivitas tetapi ada orang yang suka dengan ragam aktivitas yang menyita waktu.

Lantas, anda sendiri termasuk tipe mana?

Akhirnya saya pun terpaksa rehat sejenak karena saya punya aktivitas yang banyak. Rupanya berdiam diri dan istirahat total membantu saya pulih sementara saya sendiri sedang sibuk menyiapkan ujian musim panas dari Universitas. Konsisten menulis blog pun sempat terbengkalai karena saya sedang banyak tugas.

Di tengah padatnya aktivitas, saya pun mendapatkan pencerahan dari salah seorang kenalan di sini. Dia mengajarkan tentang keseimbangan hidup. Menurut guru itu, hidup harus seimbang. Ketika kita hidup seimbang maka kita akan merasakan damai dan harmonis setiap hari. Hidup yang seimbang dapat dirasakan dengan fisik yang sehat bugar dan mental yang bahagia.

Menghabiskan waktu sebagian besar hanya untuk bekerja mencari uang pun tak baik untuk keseimbangan hidup. Saya pernah mengulas berdasarkan studi bahwa bekerja melebihi 55 jam per minggu punya risiko sakit jantung. Cek artikelnya di sini. Bekerja itu juga perlu dikelola seimbang agar tetap sehat dan bahagia. Bukankah bahagia bekerja justru membuat kita lebih kreatif dan produktif?

Jadi, mengapa keseimbangan hidup itu perlu?

Di tengah kecepatan modernitas dunia saat ini, keseimbangan hidup itu ada di tangan anda. Anda ingin berjalan lambat atau cepat. Semua pada pilihan anda. Anda pun juga punya pilihan untuk tetap sehat dan sejahtera asalkan apa yang dijalani itu seimbang.

Mempertahankan hidup yang seimbang itu perlu agar segala yang berjalan pada kita itu tetap stabil. Dengan begitu, gaya hidup yang stabil dan seimbang akan mengurangi risiko penyakit yang menyerang. Penyakit yang dipicu oleh gaya hidup tak sehat bisa anda ketahui sendiri. Gaya hidup sehat disebabkan pola hidup yang seimbang seperti asupan nutrisi, pola tidur, jam kerja dan sebagainya.

Keseimbangan hidup juga membuat kita lebih mensyukuri bahwa segala sesuatu dikerjakan sesuai ukuran dan teratur. Karena bahagia dalam bekerja itu perlu dilakukan, bukan dilupakan. Jika kita memaksa tubuh melakukan yang berlebihan atau serba kekurangan pun akan berdampak tak baik.

Karena hidup yang seimbang membuat kita berlaku sesuai koridor yang berlaku. Hidup yang seimbang itu seperti berjalan secara harmonis untuk mencapai rasa bahagia.

Apakah anda sudah menerapkan keseimbangan hidup?

Tiga Hambatan Berbicara Bahasa Asing

 

Ilustrasi.

 

Speaking foreign language in this time is not a life style, but the needs to understand the world. As expat, I have to do it. In the past I heard speaking foreign language is talent. You have no talent, it isn’t able to learn easy. 

Now in order to speak foreign language, forget it your talent! When you would really love to learn it, you could!

In refering my experience, I have some barriers to speak as usually to others. These barriers are detailed in Bahasa Indonesia as my mother language. 

To be advices, I need your comments if you are also learning foreign language in this time. 

*** 

Menguasai banyak bahasa di dunia adalah suatu keunggulan dalam berelasi dan bahkan menambah pundi-pundi penghasilan. Semakin terbukanya jalur orang bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain tentu membuka kemungkinan untuk menguasai bahasa asing, disamping bahasa ibu.

Kursus bahasa asing pun berjamur. Buku-buku belajar bahasa asing pun diciptakan. Kursus metode online pun ditawarkan. Ini semua memicu kemudahaan untuk bersegera belajar bahasa asing.

Bahasa asing yang dulu mungkin untuk sekedar gaya hidup. Kini bahasa asing pun menjadi kebutuhan.

Berdasarkan pengalaman pribadi yang sedang mempelajari bahasa asing. Berikut alasan yang menghambat orang berkomunikasi dalam bahasa asing.

(1). Hambatan Kepribadian

Hambatan kepribadian adalah hal yang utama menghambat seseorang berbahasa asing. Hambatan ini seperti pemalu, tak percaya diri hingga karakteristik lain yang menjadi identifikasi kepribadian. Mereka yang memiliki pribadi tertutup, tak suka bergaul dan berkomunikasi dengan orang asing nyatanya menjadi lambat berbahasa asing. Karena mereka cenderung tak melatih diri berbahasa asing. 

Kepercayaan diri adalah modal utama berbicara bahasa asing. Jangan pikirkan grammatik atau tata bahasa yang dipakai! Sebagai pemula belajar bahasa asing, saya dituntut untuk percaya diri saat mengungkapkan pendapat. Hal terpenting niat dan minat berkomunikasi secara terbuka. Jangan biarkan hambatan kepribadian membuat anda lambat menguasai bahasa asing!

(2). Hambatan Psikologi

Siapa pun ingin terkesan berkomunikasi sempurna seperti berbicara dalam bahasa ibu! Namun nyatanya itu tak mudah. Hambatan psikologi adalah alasan kedua yang menantang saya berbicara bahasa asing. Hambatan itu seperti ketakutan dan kekhawatiran tentang struktur atau tata bahasa.

Ketidakpercayaan diri pun bisa muncul saat belum menguasai banyak kosakata bahasa asing. Ketika saya harus berbicara dengan orang asing dalam bahasa asing terkadang kurang percaya diri pun muncul bahwa saya sulit menjelaskan. Alasannya saya tak punya kosakata yang sesuai.

(3). Hambatan budaya

Hidup di luar sebagai expat dan mengenal banyak orang dari multi etnis dan ras bukan hal yang mudah. Kecenderungan etnosentris, mengagungkan bangsa sendiri kerap masih terjadi. Jadi terbayang saja, teman yang sama-sama expat berbicara bahasa asing sering dianggap lelucon karena aksen dan dialeknya yang lucu.

Tak hanya itu, sebagian orang Asia seperti saya mengalami pengucapan yang tak jelas atau salah untuk kata yang menggunakan huruf umlaut (ö, ü, ë). Hal ini berdampak secara psikologis sehingga menjadi hambatan berkomunikasi.

Demikian pengalaman pribadi tentang bagaimana hambatan terjadi saat berkomunikasi bahasa asing. Apakah anda pernah mengalami hal serupa?