Tentukan Bobot Dirimu Lewat Bacaan!

image
Sumber foto: Dokumen pribadi

Saya memang suka baca, mengapa? Karena membaca menjawab rasa ingin tahu saya. Namun bagi sebagian orang, membaca bukan hal yang mudah dan menarik minat mereka. Apa alasannnya? Saya berhasil mewawancarai dan bertanya, mengapa orang malas membaca.

Berikut alasannya:

1. Tidak punya waktu
Bagi orang yang suka membaca, selalu ada waktu untuk membaca. Sementara mereka yang malas baca akan mengatakan tidak punya waktu. Lalu saat ditanya kembali, apa yang dilakukan jika punya waktu lowong? Jawaban mereka bervariasi dari main games hingga ngobrol. Membaca bagi yang malas dianggap menyita waktu, padahal mereka setuju waktu adalah uang. Itu artinya sediakan hal berharga untuk mengisi waktu, termasuk membaca. Masihkah tidak punya waktu untuk membaca?

2. Tidak punya uang untuk menyediakan bahan bacaan
Saya masih menerima mereka yang memiliki alasan tidak baca karena tidak punya uang. Padahal yang disebut miskin adalah mereka yang tidak punya banyak wawasan, miskin ide dibandingkan tidak punya harta benda. Masih ingat seorang India dari daerah kumuh yang berhasil memenangkan kompetisi “Who wants to be Millionaire”? Dia adalah tukang jual Koran yang mengisi bobot hidupnya dengan membaca koran setiap hari, tanpa harus membeli. Artinya, ada banyak sarana agar bisa membaca seperti datang ke perpustakaan, kunjungan ke taman bacaaan masyarakat hingga mencari obral/bursa buku murah.

3. Monoton dan tidak menarik
Mereka yang tidak suka membaca akan mengatakan hal itu. Padahal jika diketahui membaca itu lebih imajinatif dan atraktif ketimbang menonton atau mendengarkan. Jika sebuah karya film diangkat dari sebuah karya buku maka menurut saya lebih menarik karya tersebut dibaca dibandingkan ditonton. Membaca mengasah daya imajinasi untuk membayangkan penokohan dan latar, dibandingkan menonton dengan satu sudut pandang yakni sang sutradara.

4. Tidak punya ketrampilan membaca
Ini alasan terakhir yang mungkin dipertimbangkan, jika mereka malas membaca adalah ketiadaan ketrampilan membaca. Di era komunikasi dan informasi seperti ini masih ada sejumlah orang yang belum bisa baca, padahal membaca adalah gerbang ilmu pengetahuan. Berbagai upaya dilakukan pemerintah agar semua orang bisa membaca. Ada kisah menarik dari seorang ibu yang baru bisa membaca berkat program gerakan membaca dari pemerintah di kampungnya. Ia berkata, “Setelah bisa membaca, kini saya senang bisa membaca pesan SMS dari suami.” Bayangkan bahwa dunia kita sekarang terhubung dengan berbagai sumber informasi, masihkah kita malas membaca?

Sudahkah anda membaca hari ini?

Hebatkan Dirimu Lewat Tulisan!

1_blog
Andai sedari kecil, kita sudah berlatih menulis untuk mendokumentasikan apa saja yang dipelajari di kelas, luar biasa nantinya. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Beberapa pekan ini, saya sibuk sekali dengan tugas rutin. Tiba-tiba muncul email dari pengaggum tulisan-tulisan saya. Dia mengaku begitu, fans berat setiap berkunjung ke blog saya. Wah, luar biasa! Saat ini saya memang sedang tidak mood untuk menulis, rasanya tidak ada ide. Ternyata di luar sana, masih ada orang yang memperhatikan dan menyimak berbagai tulisan saya, meski itu semua hanya buah pikiran. Menulis itu jika dipaksakan, hasilnya juga tidak bagus. Menyatukan kata menjadi kalimat lalu menyusunnya menjadi ide ternyata juga tidak mudah. Pantas saja, jika saya melakukan pelatihan menulis, komentar mereka juga sama, tidak ada ide meskipun setiap hari berhadapan dengan alat tulis, atau komputer.

Di suatu sore, saya berbincang dengan seorang kawan lama lewat skype. Rupanya kawan saya juga menantikan tulisan saya di blog, saya mengeluh bahwa sedang tidak mood. Lalu kami ngobrol tentang orang lain yang memiliki perangai yang tidak kami sukai. Teman saya mengatakan bahwa tulisan saya di blog mampu mengubah pribadi orang yang tidak disukai tadi. Wow! saya terkesan sekali. Bagaimana perubahan itu terjadi?  Dia pun tidak tahu.

Lewat tulisan, kita tidak pernah tahu bahwa dunia bisa berubah. Saya senang membaca sejak kecil. Banyak tulisan yang saya baca mampu mengubah hidup saya. Sejak itu, saya bertekad saya harus bisa melakukan lebih dari sekedar membaca, yakni menulis.

“Menulis tidak hanya menceritakan, ingat itu!” kata temanku sore itu. Ia begitu bersemangat membuatku menulis lagi. Ia mengatakan bahwa tulisan yang menginspirasi bukan kritikan, cacian, makian atau omelan. Dunia ini sekarang berkembang ke arah revolusi komunikasi.

“Tulisanmu mampu mengkomunikasikan satu dengan yang lain. Kau pasti punya banyak teman lewat tulisanmu,” katanya lagi. Saya memang mendapatkan email dari berbagai dunia hanya karena tulisan saya.

Ini kisah nyata, bahwa tulisan itu mengubah dunia.

Anda ingat nama tokoh yang diajarkan dalam pelajaran sejarah sewaktu di sekolah dulu, Multatuli? Yups, Multatuli atau Douwes Dekker dimasukkan sebagai penulis dunia ternama dalam Die Welt Bibliothek. Karya tulisannya yang menyentuh berjudul “Max Havelaar” berisikan tentang sistim tanam paksa (Cultuurstelsel) yang terjadi di Lebak, Banten di jaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1860. Ia juga menyisipkan roman di dalamnya. Pembaca akan tersentuh dengan kisah dalam buku tersebut. Rupanya buah pikiran ini mampu mengubah dunia, meski butuh 10 tahun. Pada tahun 1870, sistim tanam paksa dihapuskan di Indonesia dengan terbitnya UU Agraria tahun 1870. Anda bisa bayangkan bahwa tulisan mampu mengubah sesuatu?

Baru-baru ini saya juga membaca seorang perempuan Indonesia yang berhasil selamat dari “human trafficking” di USA (http://jateng.tribunnews.com/2016/04/02/kisah-wni-yang-sempat-jadi-budak-seks-di-amerika-serikat-2?page=2) Kisah yang panjang berawal di tahun 2001 untuk memulai hidup yang baru di negeri Paman Sam, malah naas membawa nasibnya tidak sesuai impian. Berkat tulisan yang sering ia lakukan, ia mampu menunjukkan bukti kejahatan yang selama ini dialaminya. Tulisannya mampu mengungkapkan banyak hal termasuk menginspirasi dia untuk didaulat menjadi United States Advisory Council on Human Trafficking sehingga tidak ada lagi perempuan yang terlibat dalam kejahatan yang sama seperti yang dialaminya. Lihat, tulisan mampu mengubah dunia!

Masih banyak lagi cerita hebat tentang tulisan. Saya jadi ingat seorang teman pernah berkata, “Jika ingin hebat, lawanlah dunia dengan tulisan, bukan omongan atau senjata.”

Semangat menulis!!!

7 Bangkitkan Minat Baca Anak

image
(Salah satu bahan bacaan anak dalam bahasa jerman yang sedang saya baca untuk memperlancar kemampuan bahasa saya. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Tidak semua orang suka baca. Ada yang lebih suka nonton film daripada baca karya aslinya. Atau lain lagi sahabat saya, dia lebih suka mendengarkan ketimbang membaca. Dia akan mendengarkan rangkuman buku yang saya baca daripada memiliki buku tersebut. Ajaib?! Tapi memang setiap orang unik. Mereka tahu bagaimana caranya untuk menyerap pengetahuan.

Di Jerman, saya lihat masih banyak orang suka membawa buku bacaan saat menunggu atau perjalanan di kereta/bis. Di jakarta, budaya membaca tergantikan dengan smartphone hihihihi yakni membaca status atau komentar orang hahahaha…

Pepatah bilang, ‘Buku adalah jendela dunia.’ Ada benarnya juga. Sewaktu kecil saya suka baca dan membayangkan bagaimana kisah dari buku yang menggambarkankan kehidupan di luar bangsa saya. Menarik!!! Rasa ingin tahu saya jadi meningkat dengan semakin membaca buku.

Kemanapun saya pergi, saya menyiapkan buku bacaan yang mengisi waktu lowong saya. Tetapi sekarang ini saya menjadi miris, banyak ruang-ruang tunggu di tempat publik tidak lagi tersedia koran/majalah/buku bacaan, hanya ada sekotak televisi. Memang sih tidak semua orang suka baca tapi kan apa salahnya membuat ruang tunggu yang nyaman dan tidak membosankan dengan buku bacaan/galeri informasi yang bermutu. Misalnya, ruang tunggu rumah sakit bisa diisi galeri informasi seperti brosur/informasi dinding/buku/majalah kesehatan yang memuat jenis dan gejala penyakit atau cara mencegah penyakit.

Selalu ada informasi yang bermanfaat dari sebuah bacaan meski topik atau tema bacaan tersebut tidak menarik. Itu prinsip saya.

Nah daripada ngalor ngidul, langsung kepada topiknya, membangkitkan minat baca anak sempat saya tulis hal serupa di sini. Inspirasi di bawah ini, semoga membantu:

1. Dongeng anak
Beli buku cerita fabel atau buku edukasi yang memuat nilai-nilai kehidupan seperti jujur, rajin, suka menabung, rajin berdoa, tidak sombong dsb. Setelah itu, silahkan membaca bersama anak buku tersebut di sela-sela senggang, seperti mau tidur atau usai dari pulang kantor atau di hari libur.

Ajak anak untuk mendeskprisikan cerita berdasarkan imajinasi anak. Tanyakan siapa tokoh-tokoh dalam dongeng tersebut, siapa tokoh baik/jahat. Lalu, diskusikan pesan yang diperoleh dari dongeng tersebut.

2. Kesepakatan membaca
Agar semakin lancar membaca, minta anak untuk sepakat membaca mengenai waktu membaca misalnya setiap hari atau setiap minggu. Diskusikan apa yang akan dilakukan usai baca buku. Kesepakatan lain misalnya, jika anak dapat membaca buku dan menceritakannya kembali maka anak akan dapat hadiah. Kesepakatan membaca dibuat oleh orangtua dan anak sepanjang tidak memberatkan anak, misalnya buku yang berhalaman tebal sementara anak baru belajar membaca.

3. Teladan membaca
Saya senang membaca karena saya lihat ayah saya saban pagi membaca koran. Menurut saya, teladan adalah guru yang bijak bagi anak. Jadi jika anak membaca, anda jangan sibuk dengan gadget, games, atau nonton sinetron tapi temani anak membaca.

4. Sediakan rak buku
Anak akan terinspirasi memiliki buku jika orangtua mendukungnya dengan menyediakan sarana pendukung seperti rak buku. Buat rak buku yang dapat dijangkau anak, dekat dengan meja belajar dan kursi atau tempat yang nyaman dengan penerangan yang baik. Tatalah rak buku bersama anak layaknya “Perpustakaan mini”. Dengan demikian anak punya ‘rasa memiliki’ dan bertanggungjawab untuk menata dan memelihara buku.

5. Ajak ke toko buku
Luangkan waktu anda bersama anak bila berkunjung ke pusat perbelanjaan dengan pergi ke toko buku. Anggaplah sebagai hadiah, anda bisa belikan buku yang mereka pilih dan suka.

6. Berlangganan koran atau majalah anak.
Dulu ada majalan Bobo yang sarat dengan pesan-pesan didalamnya. Sesuaikan tingkat baca anak dengan usia anak. Jika anak anda sudah menginjak usia pubertas, anda bisa minta mereka berlangganan majalah remaja.

7. Sumbangkan buku bacaan atau bahan bacaan yang tidak terpakai.
Sewaktu kecil saya pikir semua orang di pelosok Indonesia bisa dapat koran dalam waktu yang sama seperti saya di Jakarta. Ternyata tidak. Mereka yang di pelosok NTT misalnya minta saya kirimkan koran, majalah, kamus atau buku bacaan untuk anak-anak disana. Saya jadi menghargai bahwa tidak semua seberuntung saya untuk membeli buku dan mendapatkan pengetahuan. Akhirnya dengan menyumbangkan buku, saya paham bahwa pengetahuan dari sebuah buku tak lekang oleh waktu. Dengan berbagi bersama orang lain tentang makna sebuah buku, anak menjadi paham betapa berharganya suatu pengetahuan dalam buku tersebut.

Seperti yang diuraikan sebelumnya, tidak semua anak suka membaca. Kenali minat dan bakat anak anda! Jika memang suka membaca, silahkan dicoba tips di atas!