The Reasons We Worried to Set Up the “Goals” for Next Year

On 2016, I had written in Bahasa Indonesia as below regarding goals for new year. Then I realized that I written as goals are done as well which is the most successfully happened. I am intentionally share this to inspire you for new year. 

Slowly we will close this year and step up to new year. We are happy if we can accomplish our goal in every year. In contrary we get upset, frustration, disappointed if our goals failed. Whatever, the goal is important to lead our plan during a year.

To set up the goals, we feel obviously worried and anxious if those will failed again based on the past years. Again, this is normal. Life is never perfect as we want. When we set up a new goal, sometimes our mind ruined by the issue of failure to be realized then we can not reach our goal. We think that we are incapable to pursue our goals.

I have interviewed several friends to ask their reasons regarding the yearly goals. Why they worried to set up the goals for new year. Here they are,

1. We feel worrying our goals unsuccessfully.

2. We feel worry to face reality that always failed the most of time.

3. We worried with our own efforts and lack of self-confindence.

4. We worried that no one will support our goals.

5. We worried to have competition with others in reaching our goals.


My tips:

  1. To minimize the failure, start your goals from the things you can do. Do not begin the things definitely you are incapable!
  2. Do not use the same ways to reach out the different results! Change your strategies to make it happen!
  3. Keep the faith! Sometimes God gives us more energy to reach out our goals as long as you have tried the best.
  4. Share your goals to your significant others such as parents, spouse, best friends, your co-workers, etc. Ask their assistance to help you!
  5. Stay away from negative people!

The goals in new year may give focus to start your days. If you have your goals now, go ahead!

 

 

***

In Bahasa Indonesia

Sudah sampai penghujung tahun, kebanyakan orang memulai langkah dan rencana baru. Ini yang disebut ‘goal’ yang membuat kita happy jika berhasil dan juga frustrasi bila tidak lolos. Inilah hidup.

‘Goal’ diperlukan agar mengarahkan kita pada suatu destinasi yang ingin dituju. Kebayang ‘kan jika kita berjalan tak tentu arah. Namun dibalik itu semua muncul berbagai ketakutan yang mengancam agar ‘goal’ tidak lolos.  Apa saja? Ini dia,

1. Takut tidak berhasil

Saat kita menyusun ‘goal’ yang baru kerap kita dilanda persoalan tentang keberhasilan yang akan terwujud. Apakah goal ini benar-benar mampu diwujudkan? Atau malahan kita menjadi tidak percaya diri sehingga merasa takut tidak berhasil.

Tips: Untuk meminimalisir kegagalan, mulailah susun goal dari hal yang anda bisa lakukan, bukan yang tidak bisa. Misalnya, daripada susun goal membeli rumah seluas 1.000 meter dalam setahun lebih baik membeli rumah seluas 100 meter. 

2. Takut mengalami kegagalan yang sama

Ada sebagian orang yang masih trauma bahwa kegagalan goal akan terjadi lagi di tahun berikutnya. Hal ini yang memunculkan ketakutan untuk menyusun Goal. ‘Jangan-jangan goal akan gagal lagi nanti,’ dalam hati berbisik. Akhirnya kita menjadi putus asa.

Tips: Sebenarnya jika anda mengalami kegagalan hal yang sama untuk dapat hasil yang sama maka anda perlu mengubah adalah cara (how to reach out) yang berbeda. Jangan gunakan cara yang sama jika anda yakin cara ini tidak berhasil meraih gol! 

3. Takut pada kemampuan diri sendiri

Muncul keraguan dan ketakutan tentang kemampuan diri sendiri, apakah saya bisa meraih goal saya?  Setelah goal disusun, mulai tidak pede. Itu wajar dan normal. Bukankah yang disebut sukses saat kita bisa melampui kemampuan diri sendiri?

Tips: Untuk mengukur kemampuan diri sendiri maka anda perlu membuat Goal sehingga anda tahu batasannya. Jika anda tidak pernah buat Goal maka anda tidak akan pernah tahu seberapa mampu anda. Jangan takut dengan kemampuan diri sendiri! Terkadang Tuhan memberikan kita energi tambahan melebihi kemampuan kita agar berhasil mencetak goal. Dengan begitu, kita percaya ada mujizat dalam hidup. 

4. Takut tidak ada orang mendukung 

Memang kita perlu orang lain untuk membantu kita mewujudkan goal kita. Siapa mereka? Orangtua, sahabat, pasangan hidup, anak, rekan kerja, atasan, pemandu spiritual dll yang mungkin mereka dipercaya anda. Sebagai makhluk sosial, bantuan dan dukungan sosial akan membantu kita membuat goal. Lihat saja sendiri, saat penonton mampu mematahkan semangat pemain bola untuk cetak gol ke gawang! Artinya, begitu besar dukungan sosial akan membantu anda meraih goal yang diinginkan.

Tips: Bagikan apa yang menjadi goal anda pada orang terdekat! Misalnya anda ingin berhemat listrik seisi rumah agar uangnya bisa digunakan untuk hal lain. Anda bisa pasang board information di setiap peralatan elektronik seperti mesin cuci, kompor listrik, televisi, komputer bahwa hemat listrik itu penting. Dengan begitu, anda sudah meminta orang lain mendukung. 

5. Takut berkompetisi dengan orang lain

Apakah saya seorang diri mewujudkan goal tahunan? Tidak. Ada banyak orang di luar sana yang berusaha melakukan hal yang sama dengan anda. Dan bisa jadi mereka adalah kompetitor anda. Mengapa harus takut berkompetisi jika itu bisa dilakukan secara sehat? Sebenarnya ketakutannya bukan pada kompetisinya namun rasa kecewa yang muncul bila tidak berhasil. Sekali lagi saya katakan, hidup itu seperti permainan yang bisa dimenangkan atau kekalahan yang harus diterima, namun semua itu adalah pembelajaran yang menyenangkan.

Tips: Stay away negative people! keep on spirits! Kompetisi bukan menjadi penentu akhir kejuaraan, ini hanya soal bagaimana anda punya cara pandang yang positif terhadap kompetitor anda. Jadikan kompetitor adalah berkat untuk meraih kesuksesan hidup. Belajarlah dari kompetitor anda! 

Advertisements

Ayo Berubah Jadi Lebih Baik! Sssttt, Sudah 2017 Loh… 

Sumber foto: Dokumen pribadi.

Ada teman yang berencana ingin berhenti merokok. Setiap merokok, dia berkata ke saya, “Tenang Anna, ini rokok terakhir saya.”  Ternyata sudah lima tahun dia mengatakan itu, hingga kini dia masih merokok. Kapan mau berubah?

Lain lagi teman lain, dia adalah mahasiswa tingkat akhir sebuah perguruan tinggi swasta. Saat saya bertanya kapan dia lulus,  dia pun menjawab akan menyelesaikan  skripsinya tahun ini. Rupanya ini sudah tahun ketiga dia mengatakan akan menyelesaikan skripsinya. Bayangkan di penghujung tahun ini pun dia belum memulai susun skripsinya.

Ada banyak lain di luar sana, saya dan juga anda punya komitmen untuk berubah. Pergantian tahun dijadikan sarana untuk refleksi dan mengubah hidup,  namun nyatanya sudah berganti tahun perubahan  itu belum terjadi. Apa yang salah?

Kita cenderung sibuk dengan  hal-hal yang menyenangkan namun tidak penting. Sementara perubahan adalah hal yang tidak menyenangkan tapi penting dilakukan. Jadi bersiaplah menghadapi hal tidak menyenangkan jika ingin berubah. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Faktanya begitulah perubahan!

Mulailah yang penting dilakukan untuk perubahan, misalnya ingatkan diri untuk tidak merokok, selesaikan skripsi, dll. Jika memulai sudah dilakukan ternyata mempertahankan menjadi lebih sulit. Jadi berubah itu jangan setengah-setengah! Total berubah. 

Mereka yang sering berjanji untuk berubah nyatanya tidak mengalami perubahan. Sementara mereka yang diam-diam malahan menunjukkan perubahan. Mengapa? Rupanya kebanyakan janji justru mengekang diri sendiri (self-control) sehingga menguras energi mental. Ini yang menyebabkan kita mudah menyerah sehingga sulit membuat perubahan. Apa iya? 

Dalam sebuah penelitian eksperimen, seorang Psikolog Roy Baumeister membagi dua kelompok mahasiswa. Masing-masing kelompok diperlihatkan secara nyata pembuatan kue coklat yang lezat. Mahasiswa yang jadi responden pun dapat mencium wanginya kelezatan kue coklat tersebut. Siapa pun yang melihat dan mencium pembuatan kue coklat pasti ingin mencicipinya. Kelompok mahasiswa pertama tidak diberikan kue coklat, mereka hanya dijanjikan saja bahkan mereka dilarang menikmati kue coklat yang mereka lihat dan cium dalam ruangan tersebut.

Lanjut kelompok mahasiswa kedua mereka diberi kebebasan  untuk menikmati kue coklat. Kedua kelompok mahasiswa pun diberi tugas menyelesaikan soal matematika. Ternyata mahasiswa di kelompok pertama lebih mudah menyerah dua kali lebih cepat dalam menyelesaikan soal matematika dibandingkan kelompok kedua. Apa artinya?

Studi ini menegaskan tentang sel control yang justru malah menguras mental sehingga lebih mudah menyerah. Bagaimana mau berubah jika kita sudah menyerah dan merasa lelah di tengah jalan?

Jadi perubahan itu boleh membuat due  date seperti dalam waktu tiga bulan skripsi selesai dsb tetapi yang terutama adalah will power yakni kehendak dalam diri untuk mau berubah. Perubahan itu bukan ditentukan orang lain atau eksternal faktor tapi kehendak diri sendiri.

Sssttt, sudah September 2017. Perubahan apa yang belum dilakukan?