Rekomendasi Tempat (16): Drei Goldene Kugeln, Mall Plus City Austria

Wiener Schnitzel 150 gram.

Rekomendasi selanjutnya adalah restoran yang mengusung citarasa masakan Austria. Sebagai informasi, kuliner Austria dengan Jerman itu sepertinya hampir identik. Kita bisa menemukan ragam kuliner Austria yang mirip dengan Jerman, begitu pun sebaliknya. Apalagi saya yang tinggal di negara bagian Bavaria, dapat dipastikan memiliki citarasa kuliner yang sama dengan negeri tetangga, Austria. Termasuk tiga kuliner berikut yang dipesan di restoran lokal di salah satu pusat perbelanjaan Plus City.

Di akhir pekan, pilihan menikmati kuliner negeri tetangga memang menggoda. Ini menjadi ide menarik dimana kami ingin shopping sambil menikmati waktu keluarga dengan makan siang di mall. Pilihannya jatuh pada restoran lokal, Drei Goldene Kugeln yang ada di depan pintu masuk lantai 1 mall Plus City, Austria. Restoran ini memang selalu ramai, bahkan kami beberapa kali ke situ dan tidak mendapatkan tempat. Untuk kesekian kalinya, kami berhasil mendapatkan tempat duduk sehingga kami pun memesan menu lokal di situ.

Seehect gegrillt mit Krauterbutter.
Schweinebraten mit Knödel.
Buku menu.

Tak ada yang berbeda antara menu lokal Jerman dengan Austria. Ini tampak sekilas dari buku menu yang ditawarkan. Berhubung kami sudah lapar, kami memesan tiga menu karena kami pergi bersama ibu mertua. Pramusaji pun dengan sigap mencatat tiga pesanan kami. Beruntungnya kami segera mendapatkan tempat duduk di saat jam sibuk, waku makan siang di akhir pekan.

Untuk schnitzel, ini adalah menu andalan yang ditawarkan restoran ini. Schnitzel bukan hal baru bagi kami di Jerman. Makanan ini pun sudah mendunia dan saya sudah sempat memesannya di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya kala kami traveling. Namun pasti ada yang berbeda dari schnitzel di sini. Ya, schnitzel di sini dibedakan dengan kategori beratnya daging yang diinginkan. Ukuran schnitzel yang paling kecil adalah 150 gram dan masih ada dua pilihan schnitzel yang berat lainnya. Seperti saya yang tak suka makan dalam porsi besar, saya memesan schnitzel dalam porsi kecil.

Baca: Schnitzel yang saya beli di Jerman

Menu lainnya yang dipesan juga bisa anda simak yakni ikan panggang. Jangan bayangkan ikan panggang dengan nasi plus lalapan sambal pedas! Seperti yang anda lihat, ini adalah ikan tanpa duri dengan kentang salad. Untuk menambahkan rasanya, ikan diberi butter yang berasa herbal atau disebut krautterbutter. Bagi penyuka makan ikan, menu seperti ini bisa menjadi kreasi tersendiri karena ini berbeda dengan menu ikan ala nusantara yang terkenal pedas.

Baca: Makan ikan tanpa nasi dan sambal

Menu lokal ketiga yang dipesan adalah schweinebraten mit knödel. Ini bukan kali pertama saya membahasnya, anda bisa lihat sendiri ini sama seperti menu lokal Jerman. Sauerkraut adalah salah satu yang menjadi ciri khas makanan lokal Jerman dan Austria.

Baca: Schweinebraten yang dipesan di Jerman

Lokasi yang strategis dan pelayanan cepat memang menjadi nilai plus di restoran ini. Restoran ini memberikan keistimewaan citarasa menu andalan lokal, di antara restoran-restoran lain di mall Plus City yang memang didominasi menu makanan non lokal.

Bagaimana pun makanan lokal di Austria tak ubahnya makanan yang didapat di Jerman. Ini bisa menjadi gambaran jika anda datang ke Austria.

Amsterdam (2): Restoran Ramen Ya, Sajian Masakan Mie Jepang Otentik Enaknya

The veggie ramen.

Di tengah penelusuran museum di pusat wisata Amsterdam, kami berdua mulai merasa lapar dan kedinginan. Suhu udara saat itu sekitar 5 derajat celcius. Mata saya mulai mencari dimana restoran yang bisa kami singgahi untuk rileks sebentar, sebelum kami melanjutkan perjalanan selanjutnya. Ini pertanda kami sudah lapar dan kedinginan juga menjelajahi pusat kota Amsterdam. Akhirnya kami putuskan untuk makan siang selera Asia.

Kami berhenti di restoran Ramen-Ya yang berada di pusat kota Amsterdam. Kami tiba jam makan siang dan tampak restoran ini penuh. Beberapa pengunjung tamu di depan kami seperti menunggu giliran masuk karena restoran penuh. Kami pasrah, mungkin kami tidak mendapatkan tempat duduk tanpa reservasi. Akhirnya kami dipersilahkan masuk dan duduk di dekat pintu masuk setelah beberapa anak muda di depan kami sudah masuk duluan. Kami senang langsung disambut pramusaji yang ramah dan menawarkan daftar menu.

Mengapa kami merekomendasikan restoran ini?

The Hakata Shio (salty)

Pertama nih, restoran ini menawarkan sajian masakan Jepang yang super enak. Kami berdua memesan mie ramen yang bertujuan mengusir rasa dingin setelah kami berjalan kaki menelusuri kota Amsterdam. Mie ramen yang dibuat di restoran ini otentik buatan sendiri. Teksturnya mie begitu lembut dan tidak tebal. Kuah ramen kental dan hangat. Mie ramen buatan restoran ini benar-benar fresh langsung diracik begitu dipesan. Yummy!

Baca juga: Makan Spicy Ramen di Hong Kong

Alasan kedua, tempat ini hampir dipenuhi turis dan anak muda. Tentu restoran ini merupakan tempat yang cozy dan nyaman untuk menikmati kebersamaan sambil makan masakan Jepang. Kami pun rileks dan beristirahat cukup lama setelah menikmati mie ramen. Kami senang bahwa kami bisa duduk santai dan tidak terganggu keramaian di area turis.

Alasan selanjutnya, yang mungkin anda penasaran adalah minuman yang tersedia. Saya memesan es teh yang juga home made alias racikan sendiri. Suami saya pesan Heineken, bir di Amsterdam. Sedangkan turis asal negeri Paman Sam sebelah kami berpendapat bahwa mereka suka sake, yakni minuman alkohol khas Jepang yang juga tersedia di sini.

Terakhir, rekomendasi kami karena restoran ini memiliki pramusaji yang ramah dan cekatan. Ketika jam makan siang tiba dan padat tamu yang datang, mereka tetap bersemangat melayani kami yang kelelahan berjalan. Mereka menyediakan tempat duduk untuk kami yang hampir membatalkan pesanan. Selesai membayar pesanan kami, mereka memberikan permen mint untuk kami. Menarik!

Begitulah hasil pengalaman kami menikmati kuliner di Amsterdam, salah satunya adalah restoran selera Asia. Kami pikir saran dari rekan kerja untuk menikmati makan ramen di restoran ini benar adanya. Mie ramen di sini so tasty.

Bagaimana pengalaman anda menikmati mie ramen?

Rekomendasi Tempat (32): Restoran Jang Tse, Ausburg yang Menawarkan Makan Sepuasnya dengan Harga Terjangkau

Tampak depan.
Suasana restoran.
Sup pembuka dan sushi.
Contoh makanan utama.

Akhir pekan bisa jadi anda berencana makan bersama keluarga di luar rumah. Oleh karena itu, saya ulas makan sepuasnya di restoran di Ausburg, yang menjadi kota terbesar ketiga di negara bagian Bavaria, Jerman. Tentang Ausburg selintas akan saya jelaskan kemudian.

Setibanya di kota ini, kami mulai merasa lapar. Maklum kami datang saat jam makan siang. Kami berputar mencari lokasi parkir di pusat kota, sayangnya tak mudah juga mendapatkannya. Imbiss Asia di sini menawarkan paket makan dibawa pulang, sementara kami ingin mencari restoran yang nyaman untuk beristirahat sejenak.

Pilihan makan sepuasnya yang dihitung per orang mungkin menjadi alternatif pengisi waktu akhir pekan bersama keluarga.

Pencarian tak sia-sia. Kami mendapati restoran selera Tiongkok yang cukup besar dan nyaman untuk beristirahat sejenak setelah berkendara berjam-jam. Restoran ini terletak di lokasi perbelanjaan. Untuk parkir mobil, setiap mobil dibatasi hanya dua jam gratis dan selebihnya harus membayar. Siasat jitu mengatasi perparkiran di kota besar yang semakin sempit lahan parkir mobil.

Restoran Jang Tse berada di lantai 2 dengan pintu masuk berdekorasi negeri tirai bambu yang mudah dikenali siapa saja. Mulai dari aksara Tiongkok hingga patung barongsai menghiasi pintu masuk. Begitu tiba pun suasana restoran khas Tiongkok begitu kental. Ada akuarium besar dan berbagai ornamen dekorasi bergaya restoran Tiongkok tampak sekali di sini. Ini mengingatkan pengalaman kami berdua di Tiongkok tempo lalu.

Restoran yang luas dan cocok dijadikan restoran keluarga. Kita bisa makan siang dengan penawaran makan prasmanan yang dihitung per orang. Untuk hari Senin hingga Jumat saat makan siang maka harga per orang sangat terjangkau, yakni 8,90€. Apalagi tiap orang bebas makan apa saja yang disediakan. Makanan disediakan secara buffet mulai dari makanan pembuka seperti sup, roti atau sushi ada di sini. Bahkan krupuk atau aneka gorengan seperti lumpia pun juga ada, tetapi ini baru sisi pembukaan.

Aneka sushi.
Salad.
Dessert.
Dessert lainnya.
Salad sayuran dan lainnya.

Makanan utama pun terdiri aneka lauk pauk lengkap dari daging ayam, daging sapi, daging babi, daging bebek dan sea food. Diracik dengan selera masakan tiongkok umumnya, tentu anda tahu bahwa ini enak. Tak lupa sayuran mulai dari cap cay, tumis sayuran warna-warni dan sayur segar lainnya. Anda juga bisa makan dengan nasi putih atau mie goreng sepanjang perut anda bisa menampungnya.

Sebagai penutup hidangan, anda bisa mengambil aneka buah dan salad sayuran dan buah. Ada juga aneka cokelat dan manisan. Lainnya seperti agar-agar jelly, aneka pudding hingga kue khas Jerman bisa anda pilih. Sekali lagi, makanlah sesuai kebutuhan anda dan hanya makan di tempat.

Pramusaji yang ramah, restoran bersih dan nyaman hingga makanan yang enak adalah harapan tamu restoran seperti kami. Nyatanya menikmati makan prasmanan bersama keluarga bisa menjadi pilihan di akhir pekan. Meski harga per orang saat wiken sedikit lebih mahal, tetapi restoran seperti ini layak direkomendasikan.

Selamat berakhir pekan bersama keluarga!

My Indigo, Restoran Kekinian, Lebih dari Sekedar Makan: Rekomendasi Tempat (30)

Apa yang terbayang dalam benak anda jika mendengar restoran kekinian? Ini pendapat saya. Restoran tersebut dipenuhi banyak generasi milenial untuk makan, ngobrol, diskusi, ambil foto dan upload di media sosial. Dengan interior didominasi kayu, lampu temaram dan spot-spot instragammable, maka konsep yang diusung restoran My Indigo ini benar-benar menyenangkan dan suasana yang hangat untuk semua kalangan, terutama generasi milenial.

Untuk alasan privasi, saya tidak mengambil suasana pengunjung yang sedang ramai saat wiken. Ya, saya datang saat wiken minggu lalu. Tempatnya ramai dan enak untuk ngobrol.

Saya berkunjung ke restoran My Indigo di Linz, Austria. Sepertinya restoran ini mengusung konsep lebih dari sekedar makanan yang ditawarkan. Makanan yang alami dan sehat bisa menjadi pilihan para vegan dan vegetaris juga di sini. Karena dua orang di samping saya yang sedang memesan, mereka menyebut pilihan makanan vegetaris.

Menu yang tersedia di restoran tersedia di papan informasi atas, dekat meja pemesanan makanan. Lalu saat anda sudah menemukan apa yang ingin dipesan, berdirilah di di depan etalase makanan. Anda akan mendapatkan mangkuk besar berwarna hitam untuk meracik apa yang diinginkan. Untuk side dishes, anda bisa memilih nasi, noodle atau quinoa. Saya akhirnya memilih nasi. Main dishes akan dipandu untuk petunjuk pengambilannya. Misalnya menu saya adalah Austrian Beef Chili maka ada chili corn cane yang dicampur dengan nasi.

Tak berhenti di situ, pesanan saya berlanjut dengan salad yang diracik sesuai selera dan kebutuhan pembeli. Ada tauge, wortel, tomat cheri, buah zaitun, jagung dan lainnya yang biasanya disajikan di salad. Saya memilih alpukat dan dressing mayonaise. Saya tambahkan sambal sesuai selera saya. Setelah pembeli meracik menu yang diinginkan, dia bisa memilih minuman yang dibuat sendiri dari dapur My Indigo. Saya memilih teh klasik. Lalu pembeli langsung ke meja sebelah, yakni kasir dan membayar semuanya.

My Indigo menawarkan citarasa kreatif dari menu yang sesungguhnya. Misalnya, saya memesan Austrian Beef Chilli. Lalu ada makanan lainnya seperti sushi, ramen, Kari dari Thailand dan Pho dari Vietnam. Makanan khas India juga tersedia seperti tandoori dan dal. Di sini pula My Indigo menawarkan makanan bio atau organik yang disukai seperti kue, kopi dan minuman lainnya.

Anda bisa memesan makanan sebagai salad, mie atau sup hangat. Semua itu sesuai kreativitas dan selera anda untuk mencampurkannya dalam mangkuk anda.

Tertarik mencoba?

Sensasi Makan Burger Ikan di Die Manufaktur Burgerei Burger, Dresden: Rekomendasi Tempat (29)

Fisch burger dan pommes.

Tiba di Dresden adalah waktunya makan siang. Setelah suami memarkirkan mobil, kami berjalan menyusuri kota tua yang jadi destinasi turis. Mata kami berkeliling untuk mencari rekomendasi tempat makan. Maklum saja, tiap tempat dipenuhi pengunjung karena ini memang waktu makan siang. Lagipula kami datang di waktu hari libur di Jerman.

Adalah restoran yang mengusung makanan burger dan kreasinya, bernama die Manufaktur Burgerei Burger dan letaknya di seberang gereja Frauenkirche. Kami pun mengambil lokasi strategis dimana kami bisa mengamati lalu lalang turis yang mondar-mandir di altstaadt. Lalu pramusaji datang menawarkan menu untuk dipesan.

Pilihan suami saya adalah menu burger ikan dan kentang goreng. Katanya, dia penasaran makan burger yang berasa ikan fillet. Nama menu yang tertera adalah fisch burger. Sepertinya ada ikan fillet yang diberi bumbu dan dibungkus tepung roti. Dalam lapisan burger ada salad sayuran. Untuk roti burgernya, ada beberapa pilihan sesuai selera pengunjung. Suami pilih roti wijen.

Bila ditilik rasanya, suami suka dengan kreasi burger rasa ikan. Ini memang pertama kalinya dia menikmati burger seperti ini. Terbukti, saya sama sekali tidak mendapatkan percobaan rasa yang biasanya dia tawarkan setiap kami makan.

Böffsteak.

Menu kedua yang saya pilih adalah böffsteak. Ini adalah daging sapi cincang yang dibumbui kemudian dipanggang. Lalu ditutupi dengan telur mata sapi seperti yang anda lihat dalam foto. Ada tambahan rasa yakni beberapa lembar speck atau bacon yang dipanggang kemudian diletakkan di atas steak. Untuk menikmatinya, ada salad home made dari restoran sendiri.

Saya suka juga kreasi steak yang berbeda dari steak yang biasanya saya nikmati. Siapa tahu anda pun berkunjung ke Dresden maka bisa berkunjung ke restoran ini.

El Cid Restaurant, Pilsen di Ceko, Rasa Eksklusif yang Nyata: Rekomendasi Tempat (28)

Beef steak.

Sea food soup in Phillipine colonial way.

Menyambangi kota Pilzen di Ceko, kami sudah merancang untuk makan siang yang lezat dan eksklusif. Ternyata niat kami terwujud, kami menjumpai salah satu dari sekian tempat makan di pusat kota Pilzen yang lezat. Seperti yang anda lihat, menu makanan yang kami pesan benar-benar menggoda. Ya, rekomendasi tempat selanjutnya adalah restoran yang mengusung kuliner negeri matador, Spanyol. Namanya adalah El Cid.

Kami disambut ramah dengan pramusaji yang mengetahui bahwa kami adalah turis. Berbekal bahasa Inggris, pramusaji menanyakan pesanan kami. Menu dalam buku tersedia dalam bahasa setempat dan bahasa Inggris. Saya pilih sea food soup dan suami pilih beef steak. Sepertinya anda yang suka makanan lima jenis ala hotel, bisa mencoba makan di sini. Semua tersaji secara eksklusif dan elegan, termasuk segala pesanan kami.

Kami mendapatkan menu pembuka dan minuman. Ada roti baguette untuk mengawali santapan kami. Selang tak lama, datang pesanan kami berdua. Sea food soup saya dinyatakan dibuat ala Filipina, terdiri atas kerang, cumi-cumi dan udang. Rupanya dahulu Spanyol sempat menjajah Filipina sehingga nama menu menjadi soup in Philippine colonial way. Sedangkan beef steak suami terdiri atas steak, kentang tumbuk dan salad sayur. Salad sayur ini disebut coleslaw. Semua enak dan lezat tersantap.

Selesai menyantap, pramusaji menawarkan makanan penutup tetapi kami benar-benar merasa cukup kenyang. Rasanya tepat jika kami merekomendasikan restoran ini karena kami suka rasa dan tampilannya yang elegan.

Lachs Teriyaki, Akakiko Japan Restaurant Pluscity Austria: Rekomendasi Tempat (27)

Rekomendasi tempat selanjutnya yang dipilih ada di Austria. Saat saya berbelanja di salah satu shopping center di sana, Pluscity maka saya mendapati restoran citarasa Asia. Dari namanya, restoran ini terkesan bercitarasa kuliner Jepang. Ternyata benar, di buku menu terdapat aneka sushi yang bisa dipilih dan makanan asal negeri matahari terbit.

Makanan yang saya pesan adalah lachs teriyaki. Sebagaiman foto di atas, anda melihat ada potongan ikan lachs atau ikan salmon yang digoreng dengan tepung. Di atas potongan ikan salmon tepung tersebut terdapat sayuran yang terdiri atas bermacam-macam warna dan bentuk. Selain itu ada salad sayuran berupa kubis, chinakohl dalam bahasa Jerman. Terakhir, nasi putih untuk menikmatinya.

Untuk ikan salmon digoreng dengan tepung dan memang tidak berbumbu apa pun. Justru melengkapi rasa ikan, ada tumisan sayur yang menjadi topping dan dekorasi. Sayuran ditumis dengan saus teriyaki, yang menjadi kekhasan masakan Jepang. Saus teriyaki adalah bumbu dasar dari masakan negeri matahari terbit.

Saus teriyaki berwarna kecokelatan yang kental dan rasanya sedikit manis. Saus teriyaki berbeda dengan kecap manis yang biasa dicampurkan dalam sajian nusantara. Saus teriyaki juga menjadi inti rasa dari masakan yang saya pesan. Konon saus teriyaki terbuat dari komposisi kecap, sake, gula dan jahe. Warnanya yang cokelat mengkilap tentu mudah dikenali di antara jenis saus dan kecap lainnya.

Untuk rasa masakan yang saya pesan, saya menilai enak dan lezat. Harganya pun terjangkau dan sesuai untuk masakan asia di restoran. Suasananya yang cozy dan strategis membuat restoran ini kerap ramai. Oh ya, jika anda tak bisa menggunkan sumpit maka anda bisa memesan perlengkapan makan lainnya. Mungkin suatu saat saya akan memilih masakan khas Jepang lainnya seperti sushi atau ramen.

Semoga bermanfaat.

Mengapa Lampu di Restoran/Kafe Cahayanya Redup Saat Makan Malam?

Ilustrasi.

Saya sering makan malam dengan suami di restoran, kafe atau hotel. Kami biasanya hanya sekedar icip-icip atau memang sedang traveling sehingga tak ada kesempatan memasak. Pernahkah anda mengalami bahwa cahaya restoran itu tidak begitu terang saat kita makan malam? Saya bahkan harus membacanya dengan seksama daftar menu yang diberikan pramusaji. Maklum saja cahaya restoran tidak terang benderang untuk membaca. Namun akhirnya saya bertanya sendiri, mengapa ya?

Pencahayaan lampu saat malam hari di kafe atau restoran, rupanya bagian dari kenyamanan. Jadi tidak hanya soal makanan atau interior saja yang menentukan seorang tamu betah di restoran. Rupanya dalam ilmu gastronomy, cahaya ini juga penting dan menjadi bagian yang menentukan kenyamanan pengunjung. Lalu pertanyaannya, mengapa saat makan malam di restoran ekslusif cahayanya redup?

Jika makan pagi di restoran atau sarapan di hotel dengan cahaya redup dan tidak terang benderang, tentu saja saya tidak mau. Ya, pagi hari wajar jika kita perlu cahaya yang tinggi intensitasnya yang memicu kita bersemangat sepanjang hari. Cahaya rupanya memicu hormon. Cahaya di pagi hari saat sarapan membantu kita juga menikmati warna-warni sarapan sambil membaca koran atau membalas email. Semua perlu cahaya terang di pagi hari. Sebaliknya saat malam hari, tidak diperlukan cahaya yang terang karena membentuk keintiman suasana dan membuat tamu lebih rileks. Ini yang saya temukan saat kami makan malam di teras taman dengan cahaya seadanya dan lilin di meja. Hmm, suasananya jadi romantis ‘kan.

Pemasangan cahaya di restoran atau tempat makan ada tujuan. Itu pernyataan teman saya sebagai pemilik restoran ekslusif yang menyajikan makanan mewah ala Italia atau Perancis di sini. Dia sendiri membuka restorannya hanya setiap Selasa hingga Sabtu dari jam 18.00 hingga 23.30 waktu Jerman, kecuali hari Jumat dan Sabtu, restoran buka juga jam 11.00 hingga 14.00. Dengan jam operasionalnya lebih banyak di malam hari, tentu cahaya memberikan pengaruh dalam memulai usaha bisnis restorannya. Menurutnya, pemilihan cahaya disesuaikan dengan penataan restoran yang baik sehingga tamu tidak bosan dan sering datang ke restoran. Juga cahaya lampu berpengaruh membuat warna makanan menarik atau tidak menarik. Cahaya di restoran atau kafe itu penting.

Cahaya di restoran kala malam hari menurut ahlinya membangkitkan suasana yang hangat bagi para pengunjung. Malam hari identik dengan suhu yang dingin daripada siang. Jadi cahaya yang redup membuat iklim pengunjung lebih hangat dan betah berlama-lama di restoran, ketimbang cahaya yang terang benderang.

Namun ada satu yang perlu diperhatikan saat makan malam di restoran dengan cahaya yang redup. Lagi-lagi para ahli berpendapat bahwa menu yang diperlihatkan ke tamu harus bisa terbaca. Untuk itu bisa saja, diberikan lilin di tengah meja. Atau ada lampu-lampu yang menghiasi sekitar restoran seperti lampu taman bila suasananya outdoor.

Selain itu cahaya dari lampu juga dibuat tidak membosankan. Perlu diatur apakah kontras dengan desain interior restoran? Atau lampu gantung di atas meja apakah desainnya kontras dengan penataan meja dan kursinya?

Hmm, akhirnya sekarang saya paham mengapa lampu di restoran saat makan malam tidak terang benderang. Semoga ulasan di atas bermanfaat!

Airbrau, Menikmati Sensasi Makanan Bavaria dan Biergarten di Airport: Rekomendasi Tempat (20)

Seelachs knusprig gebackene.

Altes Bayerischer Knuspriger Schweinebraten.

Liburan musim panas datang. Orang hilir mudik di bandara, termasuk bandara wilayah tempat tinggal yakni bandara Franz Josef Strauß. Bandara yang sempat menyandang bandara terbaik ketiga di dunia tahun 2016, juga tak luput dari kebanyakan orang di sini yang berlibur. Tak lupa kami pun berada di bandara Munich yang keren ini.

Di bandara ini bisa jadi anda berkesempatan hanya sekedar transit atau tidak punya waktu banyak. Perut lapar dan ingin mencoba sensasi kuliner khas Bavaria. Atau anda terbiasa minum bir dan ingin merasakan sensasi bir yang khas di sini, namun hanya punya waktu sebentardi bandara. Bisa jadi begitu banyak keinginan namun waktu tak banyak.

Rekomendasi tempat berikut adalah restoran dan biergarten ala Bavaria. Adalah Airbrau, restoran yang dibuat dengan suasana seperti biergarten dan citarasa masakan lokal yang lezat. Pramusaji pun mengenakan pakaian tradisional. Tempatnya luas dan nyaman untuk menikmati suasana di bandara.

Sebelum kami berpergian liburan, sempatkan mampir di sini. Bagi pecinta bir, silahkan tanyakan rekomendasi bir yang disuka. Sedangkan untuk makanan lokal, menu masakan tertera juga dalam bahasa Inggris.

Jika tidak ingin minum bir, ada banyak pilihan minuman lain juga yang bisa dinikmati. Suasananya asyik sambil menunggu di bandara. Ada banyak pilihan menu lokal dan lainnya yang juga bisa dipilih.

Agustiner Bräu Das Oberhaus, Passau: Rekomendasi Tempat (19)

Bir Radler.

Sup bola daging sapi goreng.

Tempat ini juga menawarkan panorama kota Passau dari atas.

Jika anda datang ke Oktoberfest, pesta bir terbesar di Munich maka anda mengenal nama bir terkenal berikut. Ya, Agustiner Bräu dari München adalah salah satu restoran dan biergarten juga yang cukup populer di Munich. Bahkan restorannya layak dikunjungi seandainya ingin mencicipi kuliner Jerman Bavaria.

Rupanya tak hanya di Munich saja, di Passau pun restoran dan biergarten Agustiner ada. Tepatnya berada di Das Oberhaus, letaknya di atas yang memungkinkan siapa saja bisa melihat keindahan kota passau. Dari tempat ini, kami berkunjung maka bisa terlihat panorama kota Bayerische Venedig, atau Venesia-nya Bavaria.

Suami saya suka sekali dengan bir buatan Agustiner. Katanya rasanya benar-benar enak. Bir mereka telah ada sejak abad 14. Wow! Sementara di Jerman sendiri ada ribuan merek dagang bir dan Agustiner adalah salah satunya. Menikmati bir langsung di biergarten rupanya punya sensasi bir yang berbeda. Pasalnya bir langsung dituangkan dari drum yang masih segar.

Ngomong-ngomong soal panorama kota passau, pengunjung akan disuguhi pemandangan dari teras restoran. Tempatnya nyaman layaknya biergarten. Apalagi saat kami berdua memilih langsung pemandangan di teras restoran. Kota cantik Passau yang terbelah tiga sungai langsung terlihat jelas.

Soal kuliner lain di restoran ini tentu patut dicoba. Saat membuka daftar menu, suami pesan Radler. Sementara saya mencoba sup bola sapi goreng. Namanya klare rindsuppe. Rasanya cukup pas di lidah.

Demikian rekomendasi kunjungan kami ke restoran ini. Semuanya terasa pas di lidah. Pula restoran ini menawarkan panorama keindahan kota dari atas. So, tunggu apalagi jika anda berkunjung ke Passau maka sempatkan mampir.