My Indigo, Restoran Kekinian, Lebih dari Sekedar Makan: Rekomendasi Tempat (30)

Apa yang terbayang dalam benak anda jika mendengar restoran kekinian? Ini pendapat saya. Restoran tersebut dipenuhi banyak generasi milenial untuk makan, ngobrol, diskusi, ambil foto dan upload di media sosial. Dengan interior didominasi kayu, lampu temaram dan spot-spot instragammable, maka konsep yang diusung restoran My Indigo ini benar-benar menyenangkan dan suasana yang hangat untuk semua kalangan, terutama generasi milenial.

Untuk alasan privasi, saya tidak mengambil suasana pengunjung yang sedang ramai saat wiken. Ya, saya datang saat wiken minggu lalu. Tempatnya ramai dan enak untuk ngobrol.

Saya berkunjung ke restoran My Indigo di Linz, Austria. Sepertinya restoran ini mengusung konsep lebih dari sekedar makanan yang ditawarkan. Makanan yang alami dan sehat bisa menjadi pilihan para vegan dan vegetaris juga di sini. Karena dua orang di samping saya yang sedang memesan, mereka menyebut pilihan makanan vegetaris.

Menu yang tersedia di restoran tersedia di papan informasi atas, dekat meja pemesanan makanan. Lalu saat anda sudah menemukan apa yang ingin dipesan, berdirilah di di depan etalase makanan. Anda akan mendapatkan mangkuk besar berwarna hitam untuk meracik apa yang diinginkan. Untuk side dishes, anda bisa memilih nasi, noodle atau quinoa. Saya akhirnya memilih nasi. Main dishes akan dipandu untuk petunjuk pengambilannya. Misalnya menu saya adalah Austrian Beef Chili maka ada chili corn cane yang dicampur dengan nasi.

Tak berhenti di situ, pesanan saya berlanjut dengan salad yang diracik sesuai selera dan kebutuhan pembeli. Ada tauge, wortel, tomat cheri, buah zaitun, jagung dan lainnya yang biasanya disajikan di salad. Saya memilih alpukat dan dressing mayonaise. Saya tambahkan sambal sesuai selera saya. Setelah pembeli meracik menu yang diinginkan, dia bisa memilih minuman yang dibuat sendiri dari dapur My Indigo. Saya memilih teh klasik. Lalu pembeli langsung ke meja sebelah, yakni kasir dan membayar semuanya.

My Indigo menawarkan citarasa kreatif dari menu yang sesungguhnya. Misalnya, saya memesan Austrian Beef Chilli. Lalu ada makanan lainnya seperti sushi, ramen, Kari dari Thailand dan Pho dari Vietnam. Makanan khas India juga tersedia seperti tandoori dan dal. Di sini pula My Indigo menawarkan makanan bio atau organik yang disukai seperti kue, kopi dan minuman lainnya.

Anda bisa memesan makanan sebagai salad, mie atau sup hangat. Semua itu sesuai kreativitas dan selera anda untuk mencampurkannya dalam mangkuk anda.

Tertarik mencoba?

Advertisements

Sensasi Makan Burger Ikan di Die Manufaktur Burgerei Burger, Dresden: Rekomendasi Tempat (29)

Fisch burger dan pommes.

Tiba di Dresden adalah waktunya makan siang. Setelah suami memarkirkan mobil, kami berjalan menyusuri kota tua yang jadi destinasi turis. Mata kami berkeliling untuk mencari rekomendasi tempat makan. Maklum saja, tiap tempat dipenuhi pengunjung karena ini memang waktu makan siang. Lagipula kami datang di waktu hari libur di Jerman.

Adalah restoran yang mengusung makanan burger dan kreasinya, bernama die Manufaktur Burgerei Burger dan letaknya di seberang gereja Frauenkirche. Kami pun mengambil lokasi strategis dimana kami bisa mengamati lalu lalang turis yang mondar-mandir di altstaadt. Lalu pramusaji datang menawarkan menu untuk dipesan.

Pilihan suami saya adalah menu burger ikan dan kentang goreng. Katanya, dia penasaran makan burger yang berasa ikan fillet. Nama menu yang tertera adalah fisch burger. Sepertinya ada ikan fillet yang diberi bumbu dan dibungkus tepung roti. Dalam lapisan burger ada salad sayuran. Untuk roti burgernya, ada beberapa pilihan sesuai selera pengunjung. Suami pilih roti wijen.

Bila ditilik rasanya, suami suka dengan kreasi burger rasa ikan. Ini memang pertama kalinya dia menikmati burger seperti ini. Terbukti, saya sama sekali tidak mendapatkan percobaan rasa yang biasanya dia tawarkan setiap kami makan.

Böffsteak.

Menu kedua yang saya pilih adalah böffsteak. Ini adalah daging sapi cincang yang dibumbui kemudian dipanggang. Lalu ditutupi dengan telur mata sapi seperti yang anda lihat dalam foto. Ada tambahan rasa yakni beberapa lembar speck atau bacon yang dipanggang kemudian diletakkan di atas steak. Untuk menikmatinya, ada salad home made dari restoran sendiri.

Saya suka juga kreasi steak yang berbeda dari steak yang biasanya saya nikmati. Siapa tahu anda pun berkunjung ke Dresden maka bisa berkunjung ke restoran ini.

El Cid Restaurant, Pilsen di Ceko, Rasa Eksklusif yang Nyata: Rekomendasi Tempat (28)

Beef steak.
Sea food soup in Phillipine colonial way.

Menyambangi kota Pilzen di Ceko, kami sudah merancang untuk makan siang yang lezat dan eksklusif. Ternyata niat kami terwujud, kami menjumpai salah satu dari sekian tempat makan di pusat kota Pilzen yang lezat. Seperti yang anda lihat, menu makanan yang kami pesan benar-benar menggoda. Ya, rekomendasi tempat selanjutnya adalah restoran yang mengusung kuliner negeri matador, Spanyol. Namanya adalah El Cid.

Kami disambut ramah dengan pramusaji yang mengetahui bahwa kami adalah turis. Berbekal bahasa Inggris, pramusaji menanyakan pesanan kami. Menu dalam buku tersedia dalam bahasa setempat dan bahasa Inggris. Saya pilih sea food soup dan suami pilih beef steak. Sepertinya anda yang suka makanan lima jenis ala hotel, bisa mencoba makan di sini. Semua tersaji secara eksklusif dan elegan, termasuk segala pesanan kami.

Kami mendapatkan menu pembuka dan minuman. Ada roti baguette untuk mengawali santapan kami. Selang tak lama, datang pesanan kami berdua. Sea food soup saya dinyatakan dibuat ala Filipina, terdiri atas kerang, cumi-cumi dan udang. Rupanya dahulu Spanyol sempat menjajah Filipina sehingga nama menu menjadi soup in Philippine colonial way. Sedangkan beef steak suami terdiri atas steak, kentang tumbuk dan salad sayur. Salad sayur ini disebut coleslaw. Semua enak dan lezat tersantap.

Selesai menyantap, pramusaji menawarkan makanan penutup tetapi kami benar-benar merasa cukup kenyang. Rasanya tepat jika kami merekomendasikan restoran ini karena kami suka rasa dan tampilannya yang elegan.

Lachs Teriyaki, Akakiko Japan Restaurant Pluscity Austria: Rekomendasi Tempat (27)

Rekomendasi tempat selanjutnya yang dipilih ada di Austria. Saat saya berbelanja di salah satu shopping center di sana, Pluscity maka saya mendapati restoran citarasa Asia. Dari namanya, restoran ini terkesan bercitarasa kuliner Jepang. Ternyata benar, di buku menu terdapat aneka sushi yang bisa dipilih dan makanan asal negeri matahari terbit.

Makanan yang saya pesan adalah lachs teriyaki. Sebagaiman foto di atas, anda melihat ada potongan ikan lachs atau ikan salmon yang digoreng dengan tepung. Di atas potongan ikan salmon tepung tersebut terdapat sayuran yang terdiri atas bermacam-macam warna dan bentuk. Selain itu ada salad sayuran berupa kubis, chinakohl dalam bahasa Jerman. Terakhir, nasi putih untuk menikmatinya.

Untuk ikan salmon digoreng dengan tepung dan memang tidak berbumbu apa pun. Justru melengkapi rasa ikan, ada tumisan sayur yang menjadi topping dan dekorasi. Sayuran ditumis dengan saus teriyaki, yang menjadi kekhasan masakan Jepang. Saus teriyaki adalah bumbu dasar dari masakan negeri matahari terbit.

Saus teriyaki berwarna kecokelatan yang kental dan rasanya sedikit manis. Saus teriyaki berbeda dengan kecap manis yang biasa dicampurkan dalam sajian nusantara. Saus teriyaki juga menjadi inti rasa dari masakan yang saya pesan. Konon saus teriyaki terbuat dari komposisi kecap, sake, gula dan jahe. Warnanya yang cokelat mengkilap tentu mudah dikenali di antara jenis saus dan kecap lainnya.

Untuk rasa masakan yang saya pesan, saya menilai enak dan lezat. Harganya pun terjangkau dan sesuai untuk masakan asia di restoran. Suasananya yang cozy dan strategis membuat restoran ini kerap ramai. Oh ya, jika anda tak bisa menggunkan sumpit maka anda bisa memesan perlengkapan makan lainnya. Mungkin suatu saat saya akan memilih masakan khas Jepang lainnya seperti sushi atau ramen.

Semoga bermanfaat.

Mengapa Lampu di Restoran/Kafe Cahayanya Redup Saat Makan Malam?

Ilustrasi.

Saya sering makan malam dengan suami di restoran, kafe atau hotel. Kami biasanya hanya sekedar icip-icip atau memang sedang traveling sehingga tak ada kesempatan memasak. Pernahkah anda mengalami bahwa cahaya restoran itu tidak begitu terang saat kita makan malam? Saya bahkan harus membacanya dengan seksama daftar menu yang diberikan pramusaji. Maklum saja cahaya restoran tidak terang benderang untuk membaca. Namun akhirnya saya bertanya sendiri, mengapa ya?

Pencahayaan lampu saat malam hari di kafe atau restoran, rupanya bagian dari kenyamanan. Jadi tidak hanya soal makanan atau interior saja yang menentukan seorang tamu betah di restoran. Rupanya dalam ilmu gastronomy, cahaya ini juga penting dan menjadi bagian yang menentukan kenyamanan pengunjung. Lalu pertanyaannya, mengapa saat makan malam di restoran ekslusif cahayanya redup?

Jika makan pagi di restoran atau sarapan di hotel dengan cahaya redup dan tidak terang benderang, tentu saja saya tidak mau. Ya, pagi hari wajar jika kita perlu cahaya yang tinggi intensitasnya yang memicu kita bersemangat sepanjang hari. Cahaya rupanya memicu hormon. Cahaya di pagi hari saat sarapan membantu kita juga menikmati warna-warni sarapan sambil membaca koran atau membalas email. Semua perlu cahaya terang di pagi hari. Sebaliknya saat malam hari, tidak diperlukan cahaya yang terang karena membentuk keintiman suasana dan membuat tamu lebih rileks. Ini yang saya temukan saat kami makan malam di teras taman dengan cahaya seadanya dan lilin di meja. Hmm, suasananya jadi romantis ‘kan.

Pemasangan cahaya di restoran atau tempat makan ada tujuan. Itu pernyataan teman saya sebagai pemilik restoran ekslusif yang menyajikan makanan mewah ala Italia atau Perancis di sini. Dia sendiri membuka restorannya hanya setiap Selasa hingga Sabtu dari jam 18.00 hingga 23.30 waktu Jerman, kecuali hari Jumat dan Sabtu, restoran buka juga jam 11.00 hingga 14.00. Dengan jam operasionalnya lebih banyak di malam hari, tentu cahaya memberikan pengaruh dalam memulai usaha bisnis restorannya. Menurutnya, pemilihan cahaya disesuaikan dengan penataan restoran yang baik sehingga tamu tidak bosan dan sering datang ke restoran. Juga cahaya lampu berpengaruh membuat warna makanan menarik atau tidak menarik. Cahaya di restoran atau kafe itu penting.

Cahaya di restoran kala malam hari menurut ahlinya membangkitkan suasana yang hangat bagi para pengunjung. Malam hari identik dengan suhu yang dingin daripada siang. Jadi cahaya yang redup membuat iklim pengunjung lebih hangat dan betah berlama-lama di restoran, ketimbang cahaya yang terang benderang.

Namun ada satu yang perlu diperhatikan saat makan malam di restoran dengan cahaya yang redup. Lagi-lagi para ahli berpendapat bahwa menu yang diperlihatkan ke tamu harus bisa terbaca. Untuk itu bisa saja, diberikan lilin di tengah meja. Atau ada lampu-lampu yang menghiasi sekitar restoran seperti lampu taman bila suasananya outdoor.

Selain itu cahaya dari lampu juga dibuat tidak membosankan. Perlu diatur apakah kontras dengan desain interior restoran? Atau lampu gantung di atas meja apakah desainnya kontras dengan penataan meja dan kursinya?

Hmm, akhirnya sekarang saya paham mengapa lampu di restoran saat makan malam tidak terang benderang. Semoga ulasan di atas bermanfaat!

Airbrau, Menikmati Sensasi Makanan Bavaria dan Biergarten di Airport: Rekomendasi Tempat (20)

Seelachs knusprig gebackene.
Altes Bayerischer Knuspriger Schweinebraten.

Liburan musim panas datang. Orang hilir mudik di bandara, termasuk bandara wilayah tempat tinggal yakni bandara Franz Josef Strauß. Bandara yang sempat menyandang bandara terbaik ketiga di dunia tahun 2016, juga tak luput dari kebanyakan orang di sini yang berlibur. Tak lupa kami pun berada di bandara Munich yang keren ini.

Di bandara ini bisa jadi anda berkesempatan hanya sekedar transit atau tidak punya waktu banyak. Perut lapar dan ingin mencoba sensasi kuliner khas Bavaria. Atau anda terbiasa minum bir dan ingin merasakan sensasi bir yang khas di sini, namun hanya punya waktu sebentardi bandara. Bisa jadi begitu banyak keinginan namun waktu tak banyak.

Rekomendasi tempat berikut adalah restoran dan biergarten ala Bavaria. Adalah Airbrau, restoran yang dibuat dengan suasana seperti biergarten dan citarasa masakan lokal yang lezat. Pramusaji pun mengenakan pakaian tradisional. Tempatnya luas dan nyaman untuk menikmati suasana di bandara.

Sebelum kami berpergian liburan, sempatkan mampir di sini. Bagi pecinta bir, silahkan tanyakan rekomendasi bir yang disuka. Sedangkan untuk makanan lokal, menu masakan tertera juga dalam bahasa Inggris.

Jika tidak ingin minum bir, ada banyak pilihan minuman lain juga yang bisa dinikmati. Suasananya asyik sambil menunggu di bandara. Ada banyak pilihan menu lokal dan lainnya yang juga bisa dipilih.

Agustiner Bräu Das Oberhaus, Passau: Rekomendasi Tempat (19)

Bir Radler.
Sup bola daging sapi goreng.
Tempat ini juga menawarkan panorama kota Passau dari atas.

Jika anda datang ke Oktoberfest, pesta bir terbesar di Munich maka anda mengenal nama bir terkenal berikut. Ya, Agustiner Bräu dari München adalah salah satu restoran dan biergarten juga yang cukup populer di Munich. Bahkan restorannya layak dikunjungi seandainya ingin mencicipi kuliner Jerman Bavaria.

Rupanya tak hanya di Munich saja, di Passau pun restoran dan biergarten Agustiner ada. Tepatnya berada di Das Oberhaus, letaknya di atas yang memungkinkan siapa saja bisa melihat keindahan kota passau. Dari tempat ini, kami berkunjung maka bisa terlihat panorama kota Bayerische Venedig, atau Venesia-nya Bavaria.

Suami saya suka sekali dengan bir buatan Agustiner. Katanya rasanya benar-benar enak. Bir mereka telah ada sejak abad 14. Wow! Sementara di Jerman sendiri ada ribuan merek dagang bir dan Agustiner adalah salah satunya. Menikmati bir langsung di biergarten rupanya punya sensasi bir yang berbeda. Pasalnya bir langsung dituangkan dari drum yang masih segar.

Ngomong-ngomong soal panorama kota passau, pengunjung akan disuguhi pemandangan dari teras restoran. Tempatnya nyaman layaknya biergarten. Apalagi saat kami berdua memilih langsung pemandangan di teras restoran. Kota cantik Passau yang terbelah tiga sungai langsung terlihat jelas.

Soal kuliner lain di restoran ini tentu patut dicoba. Saat membuka daftar menu, suami pesan Radler. Sementara saya mencoba sup bola sapi goreng. Namanya klare rindsuppe. Rasanya cukup pas di lidah.

Demikian rekomendasi kunjungan kami ke restoran ini. Semuanya terasa pas di lidah. Pula restoran ini menawarkan panorama keindahan kota dari atas. So, tunggu apalagi jika anda berkunjung ke Passau maka sempatkan mampir.

Ražnjići, Sate Ala Kroasia: Makanan Khas Balkan (2)

Sate ala Kroasia, makannya dengan nasi pedas dan kentang goreng.
Ini bukan sambal kacang atau sambal kecap sebagaimana sate umumnya.

“Aduh, saya sedang rindu makan sate,” ujar saya pada suami akhir pekan. Akhirnya kami meluncur mencari restoran Asia di kota lain yang belum pernah dicoba.

Tiba-tiba suami ada ide untuk makan di restoran khas Kroasia. Katanya, mungkin dalam daftar menu ada makanan semacam sate. Ya, ini memang bukan kali pertama kami menikmati sajian khas Balkan ini. Makanan utama mereka kebanyakan tersaji dengan daging panggang.

Rupanya kerinduan saya terjawab, mobil berhenti di suatu kota, tepat di depan restoran Kroasia – Bayerisch. Itu artinya restoran menyajikan hidangan Kroasia dan juga ala Bavaria, Jerman. Kemudian kami berdua segera memesan menu Kroasia.

Untuk kali ini, saya akan mengulas pesanan saya. Saya memesan Ražnjići. Jangan tanya bagaimana saya menyampaikannya ke pramusaji! Jika anda kesulitan menyebutkan nama makanan yang hendak dipesan, silahkan sebutkan nomor menu! Atau anda bisa juga tunjuk gambar yang tertera di buku menu. Ini cara saya selama traveling.

Selang tak beberapa lama, pramusaji menyedikan minuman pesanan untuk kami. Tampak sebagian pengunjung menikmati hidangan Kroasia lainnya, sementara yang lain menikmati segelas bir. Dalam hitungan menit, segera pramusaji menyediakan salad pembuka yang berisi sayuran segar untuk kami. Untuk salad, dibahas pada cerita selanjutnya bersamaan dengan pesanan suami.

Menu utama datang. Pesanan saya, Ražnjići pun datang. Satu piring besar terhias indah, dengan dua tusuk sate yang terbuat dari besi. Di sini tusuk sate biasa dilakukan dengan bilah besi. Dagingnya bisa berasal dari daging sapi, daging ayam, daging domba atau daging babi. Dagingnya memang dipotong kecil-kecil sehingga memudahkan untuk mengunyah. Saat saya mengunyah, daging terasa empuk dan tidak berbau.

Oh ya, untuk menikmati makanan ini ada irisan bawang merah besar. Bisa juga dipakai sebagai garnish namun jika suka bisa dimakan. Hidangan ini tersedia dengan dua jenis side-dishes, yakni kentang goreng dan nasi pedas. Nasi pedas disebut djuvecreis, yang memang menjadi makanan khas Kroasia. Porsi ini benar-benar mengenyangkan buat saya.

Baca https://liwunfamily.com/2018/02/24/balkan-spezialitaten-grillplatte-fur-zwei-kroatian-grill-rekomendasi-tempat-13/

Terakhir, saya tidak menyadari bahwa sate ini bisa dinikmati dengan saus yang disediakan. Dua saus yang disediakan terlihat menarik. Satu saus yakni tsatsiki, rasanya asam dan berasa bawang putih. Sedangkan saus lain berasa pedas, terdiri dari tomat, cabai dan bawang putih.

Hmm, bagaimana menurut anda?

Pernah Menikmati Makanan di Austria, Tapi Pemandangannya ke Jerman

Pemandangan kota Passau yang dilalui dua sungai, donau atau danube dan sungai lain yakni inn.

Suatu kali kami sedang mencari tempat makanan yang baru dan menarik untuk dicoba. Lalu kami menemukan papan informasi di jalan terdapat restoran dan kafe yang menawarkan pemandangan indah ke arah kota Passau, Jerman. Padahal posisi kami sedang berada di pinggiran Austria. Penasaran dan kami pun meluncur ke sana.

Kami datang di hari Minggu yang cerah dimana hampir semua orang berpendapat bahwa hari itu begitu indah. Matahari bersinar terik yang membuat orang ingin keluar rumah. Itu sebab kami pun berjalan-jalan keluar rumah menikmati suasana di hari itu. Dan waktunya makan siang, tak terasa kami sudah berjalan jauh ke arah Austria.

Ada papan informasi semacam reklame yang menawarkan pemandangan indah di lokasi restoran dan kafe. Hmm, penasaran kami pun meluncur ke sana. Jaraknya tak jauh dari kami berada, hanya hitungan beberapa meter yang menanjak ke pegunungan. Yups, kami menuju tempat bernama Cafè-Restauran Blaas yang berlokasi di Hinding 38, Freinberg di Austria.

Schnitzel.

Palatschincke förster art.

Restoran terlihat penuh karena puluhan mobil parkir di depan. Kami pun tak dapat tempat parkir dan mulai mengurungkan niat untuk singgah. Beruntunglah ada satu mobil selesai dan keluar dari tempat parkir. Segera suami memarkirkan mobil dan kami pun sudah terlambat makan siang. Pramusaji menyambut ramah kami dan beruntungnya kami langsung mendapatkan tempat istimewa. Yakni kami duduk di teras dan bisa langsung melihat pemandangan Passau, salah satu kota terindah di Jerman. Dari situ, kami bisa melihat kubah Dom St. Stephan yang menjadi landmark kota. Lalu ada dua aliran sungai yang mengapit tengah kota. Itu adalah Passau.

Makanan yang menjadi keistimewaan dari restoran ini adalah Palatschinken. Ini semacam makanan side-dishes seperti kentang, roti dan semacamnya yang biasa dikonsumsi masyarakat Eropa Timur. Palatschinken bisa disajikan dengan dua rasa. Bisa dengan rasa manis seperti dessert, buah atau es krim karena bentuknya yang menyerupai crepes. Atau rasa yang lain yakni pedas atau disajikan side-dishes dengan menu lain, misal daging, sayur dan sebagainya. Saya pun memesan Palatschinke Förster Art.

Suami saya seperti biasa, dia lebih memilih sesuatu yang sudah pernah dicoba. Dia lebih memilih schnitzel ketimbang menu baru yang dibacanya meski semua restoran di Jerman selalu ada penjelasan tentang menu. Seporsi schnitzel tampak disukainya meski sudah puluhan atau ratusan kali dinikmatinya. 

Secara total, makanan yang disajikan enak dan lezat. Variasi palatschinken perlu dicoba. Saya mungkin akan mencoba yang berasa manis seperti yang sedang dipesan pengunjung di seberang meja saya. Soal harga makanan, masih dijangkau dompet. Karena tempat saya istimewa untuk melihat pemandangan, kerap pengunjung datang mengambil foto di dekat saya duduk. Begitulah. 

Jadi, selamat berhari Minggu! Apa rencana anda di hari ini?

Restoran Pandaria, Selera Prasmanan Asia dengan Pilihan Eksotis: Rekomendasi Tempat (18)

Sushi dan salat.

Sebelum dimasak.

Setelah dimasak.

Makanan lain setelah dimasak langsung oleh koki.

Saya lupa ini daging apa.

Aneka bumbu yang bisa diracik sendiri.

Salah satu penutup hidangan.

Ini juga hidangan penutup.

Rekomendasi tempat berikutnya yang saya bagikan adalah restoran bercitarasa Asia. Restoran ini terletak di kota Passau, Jerman. Suatu kali saya dan suami mencari pilihan makan malam yang berbeda di luar rumah. Dari hasil penelurusan kami, akhirnya saya sepakat ide suami untuk makan di restoran Pandaria.

Restoran ini dibuka menjelang malam sekitar pukul 17.30 waktu Jerman. Awalnya saya berpikir ini adalah restoran citarasa Jepang melihat dari tampilan dekorasi ruangan dari luar restoran dan di dalamnya. Ternyata restoran ini tidak hanya menyajikan kuliner negeri matahari terbit saja. Restoran ini memang restoran citarasa Asia. Konsep dekorasi ruangan hingga perlengkapan makan seperti sumpit dan semacamnya disediakan di sini.

Saya pikir saya adalah orang pertama yang datang begitu memasuki area parkir restoran. Saya salah. Sudah banyak tamu dan pelanggan lain memenuhi sebagian ruangan. Mereka duduk berkelompok seperti keluarga, kelompok pertemanan hingga orang-orang yang baru saja selesai bekerja. Memang makan di sini bisa sepuasnya karena disediakan ala prasmanan. Tetapi ingat, sesuaikan dengan kebutuhan anda. Tidak membuang makanan.

Ada beberapa kelompok makanan yang dipisahkan menurut pengaturannya. Jika anda suka sushi, beragam sushi ditawarkan sepuasnya untuk dinikmati. Begitu pun selera anda menikmati sushi mulai dari alat makan hingga bumbu campurannya. Di sebelah sushi, tersedia aneka salat sayuran dan buah. Mungkin ini adalah kelompok makanan dingin, alias tidak hangat.

Di tengah, anda bisa menikmati makanan selera Asia seperti yang biasa dijumpai di restoran Asia di Jerman. Makanan ala prasmanan di sini sudah selesai dimasak. Tersedia mulai dari nasi, sup, tumis dan aneka lauk pauk lainnya. Jika terbiasa makan dengan roti pun, di sini tersedia roti baguete yang sudah siap disantap. Lengkap!

Di barisan berikutnya adalah makanan yang fresh dan siap dimasak dengan koki yang handal di bagian dapur. Tersedia juga pilihan bumbu yang bisa anda racik sesuai selera. Oh ya, pada bagian ini tidak hanya aneka sayuran mentah dan makanan laut yang tersedia tetapi juga makanan yang mungkin jarang atau belum pernah anda nikmati. Saya mendapati daging kangguru, sapi, babi, ayam, burung dan zebra. Jika tamu tertarik mencicipinya ada tanda khusus yang diberikan di piring. Sepertinya ini berbeda harga, yakni lebih mahal dibandingkan harga makanan prasmanan lainnya yang dipilih.

Setelah anda memilih makanan yang masih segar, anda taruh piring di meja dapur dan pesan saus yang anda suka. Si koki akan memasakkannya untuk anda. Tinggal tunggu dalam hitungan sepuluh hingga lima belas menit maka makanan anda sudah diantarkan di meja anda. Sedangkan untuk makanan lainnya, anda bisa langsung ambil sendiri tanpa diantarkan pramusaji.

Untuk minuman tentu berharga terpisah dari harga prasmanan. Silahkan dipesan ke pramusaji yang melayani anda! Restoran ini juga menyajikan aneka makanan penutup yang enak sekali. Anda bebas memilih dan makan sepuasnya di tempat. Begitulah pengalaman menikmati makanan di sini.