Coba Masakan Yunani, Griechiesches Restaurant ‘Restaurant Elia’ di Bavaria 1: Rekomendasi Tempat (4)

Restoran tampak depan.

Daftar menu.

Saya pesan teh mint di sini, suami pesan Alpfelsaft.

Pergi ke Yunani? Tidak, berikut ini saya bagikan pengalaman petualangan rasa menikmati makanan di restoran bergaya Yunani. Jika di Jerman, restoran Yunani biasa disebut ‘Griechiesches Restaurant’ yang berasal dari kata ‘das Griechenland’, bahasa Jerman yang berarti Yunani.

Restoran ini terletak di wilayah Osterhofen-Altenmarkt, Bavaria. Kebetulan saya dan suami mencicipi petualangan masakan kala kami ingin bertemu teman yang lokasinya tak jauh dari restoran tersebut. Nama restorannya, Restaurant Elia. Suasana restoran yang diperlihatkan tampak hommy dan alunan musik berbahasa Yunani diperdengarkan selama kita makan di sana. 

Pramusaji pun ramah menyambut kami dari awal hingga selesai makan. Di akhir saat kami berpamitan, seorang pramusaji menyalami kami dan mengucapkan salam perpisahan. Mereka benar-benar ramah.

Bayangkan kami mendapatkan menu lengkap mulai dari welcome drinks, salat pembuka hingga dessert. Semuanya itu gratis, kita hanya membayar menu yang dipesankan saja. Menarik ya! Restorannya nyaman, bersih dan toilet umum dibuat semenarik dan senyaman mungkin untuk tamu. Di sini juga ada bar minuman, jika hanya ingin sekedar minum saja sambil duduk-duduk.

Ouzo, dua minuman mungil khas Yunani sebagai pembuka.

Bumbu pelengkap tersedia di meja, juga Ouzu dan Apfelsaft, milik suami.

Salat hidangan pembuka.

Roti baguette sebagai hidangan pembuka.

Pertama kali datang, pramusaji menyalakan lilin di meja kami. Kemudian dia datang lagi memberikan minuman pembuka yang secara tradisional biasa disajikan di Yunani. Namanya Ouzo, semacam minuman alkohol khas tradisional masyarakat Yunani. Minuman ini rasanya manis dan hangat di tenggorokan. Ouzo memang biasa ditempatkan sebagai minuman pembuka bersama makanan kecil lainnya di awal hidangan di Yunani.

Begitu tradisionalnya minuman ini hingga Ouzo diklaim sebagai produk Yunani. Jika datang ke Yunani pun, anda bisa singgah ke museum Ouzo juga. Saat datang ke restoran Yunani di Jerman, menurut suami saya maka Ouzo akan selalu disajikan di awal dan gratis. Ouzo diberikan dalam gelas kecil seperti layaknya anda meminum alkohol. Mungkin karena gratis jadi tamu hanya diberikan dalam gelas kecil. 

Ini semacam minuman yang tepat disajikan kala udara di luar memang sekitar 3 sampai 4 derajat celcius. Usai minuman pembuka, pramusaji datang lagi menawarkan salat pembuka. Tentu saja kami senang, gratis pula. Salat pembuka dan roti baguette tersedia di hadapan kami sebagai hidangan pembuka.

Salat pembuka terdiri atas aneka sayuran segar seperti salada hijau, salada merah, tomat, paprika, timun dan sebagainya. Dressing salat dibuat segar dan tidak masam. Rasanya luar biasa sembari kami menunggu menu makanan yang dipesan. Karena saya suka sayuran, maka salat itu pun habis tak tersisa. Ini enak dan gratis pula!

Nantikan makanan yang kami pesan di artikel kedua!❤

Currywurst: Masakan Khas Jerman (19)

Currywurst versi restoran.

Isinya adalah sosis yang terlebih dulu digoreng dan ditaburi bumbu kari, disantap dengan kentang goreng.


Ini bukan kali pertama saya mencoba currywurst, namun kesempatan itu tak pernah saya dokumentasikan. Karena makanan ini sesungguhnya bisa dikatakan street foods juga, mudah ditemukan di berbagai gerai dan area pinggir jalan. Mudah dibuatnya, murah harganya dan rasanya diterima siapa saja.

Currywurst juga bisa dikatakan masakan cepat saji karena pembuatannya yang mudah dan cepat. Biasanya disajikan bersama kentang goreng seperti layaknya di restoran fast food lainnya. Tanpa perlu membeli, anda juga sebenarnya bisa membuatnya sederhana di rumah. Atau, anda juga bisa membeli di supermarket dalam bentuk kemasan. Lalu anda bisa menghangatkan kembali di microwave selama beberapa menit.

Jika anda singgah ke Jerman atau restoran Jerman di Asia, masakan ini juga paling mudah ditemukan. Sebagai contoh, saat saya singgah bersama suami di restoran Jerman di Thailand. Namun lagi-lagi saya tidak mendokumentasikan makanan tersebut. Si pemilik restoran adalah pria Jerman yang menikahi perempuan Thailand dan membuat usaha restoran di situ.

Currywurst yang diterjemahkan dari kata curry adalah bumbu kari yang membuat rasa dari makanan ini dan wurst adalah sosis dalam bahasa Jerman. Mudahnya, anda beli sosis biasa di supermarket, lalu digoreng sendiri di rumah. Kemudian selesai digoreng, anda bisa taburi dengan bumbu kari yang juga mudah didapat di supermarket. Untuk menyantapnya, anda bisa makan kentang goreng atau roti gandum yang tawar. Seperti layaknya di Asia, terkadang makanan ini disediakan dengan saus tomat agar semakin lezat.

Anda juga bisa membelinya dalam bentuk kemasan di supermarket. Dipanaskan beberapa menit di microwave, langsung bisa disantap berikut bumbu kari dan garpu kayu di dalam. Lengkap!


Anda masih ingat imbiss, tempat jajanan di Jerman yang bisa dibilang berharga murah. Nah, di Berlin ada schnellimbiss, atau imbiss pelopor yang membuat dan menjajakan currwurst. Saya pernah melihatnya di salah satu tayangan televisi yang bercerita soal kuliner dunia. 

Jika anda mampir ke Berlin, silahkan mencoba currywurst di berbagai imbiss karena makanan ini populer di kota asalnya! Bahkan ada Deutsches Currywurst Museum di Berlin, sebagai tempat yang menyatakan sejarah penemuan currywurst tersebut. Makanan ini disukai oleh siapa saja, tidak hanya oleh orang Jerman sendiri karena rasanya yang mudah diterima.

Currywurst dianggap makanan populer Jerman. Tak salah jika saya memesannya di restoran dengan gaya berbeda, meski makanan ini sama saja berisi sosis dan siraman bumbu kari ditambah kentang goreng. Harga di restoran bisa mencapai 8€-10€ tetapi di gerai imbiss mungkin anda bisa mendapatkan lebih murah. Namun lebih murah lagi, anda membeli currywurst dalam bentuk kemasan di supermarket berkisar 2€-3€.

Tertarik mencobanya?

Brat’l in der Rein (Schweinebraten in der Rein): Masakan Khas Jerman (18)

Brat’l in der Rein.

Ini minuman saya, air putih.

Apfelsaft, minuman suami.

Wiken tiba, suami ajak makan di restoran karena libur untuk memasak di rumah. Saya usul untuk datang ke restoran Jerman dengan resep tradisional yang belum pernah saya coba. Suami setuju! Akhirnya kami berangkat ke salah satu restoran di suatu kota.

Saya ingin mengambil gambar suasana restoran di Jerman hanya saja, tak enak dipandang oleh orang sekitar yang sedang berada di restoran. Kami senang disambut baik oleh pramusaji karena tak perlu reservasi untuk datang ke restoran ini. Kebetulan suami kenal baik dengan pemilik restoran. Suami ada keperluan bisnis di dekat area restoran. 

Akhirnya saya memilih menu yang terdengar aneh, bisa jadi ide untuk dituliskan. Benar saja, ini menu yang susah juga untuk ditulis Brat’l in der Rein. Si pramusaji yang mendengar saya menyebutkan nama menunya sempat tersenyum. Maklum lidah orang Indonesia. Untuk minuman, saya pilih air putih saja. Pastinya air putihnya bersoda.

Saya melihat ke sekeliling tempat duduk. Di depan saya seperti keluarga besar yang sedang merayakan sesuatu yang istimewa, mereka berbicara dan tertawa sambil menikmati makanan. Di sudut lain, sepasang opa oma sedang menikmati makan siang bersama sambil bergandengan tangan. Romantis sekali! Di dekatnya, ada suatu keluarga yang juga sedang menikmati makan siang bersama kedua anak mereka. Sedangkan di depan saya, seorang perempuan duduk sendirian dan memesan salat.

Akhirnya makanan saya pun tiba. Porsi yang besar untuk ukuran saya. Si pramusaji mengenakan drindl, pakaian kebesaran perempuan Bavaria kemudian menata semua sajian di hadapan saya. Ada semacam rantang besar yang berisi makanan di dalam dan cangkir aluminium untuk saus daging. Setelah itu, pramusaji meletakkan perlengkapan makan berisi piring lebar, sendok, garpu dan pisau daging.  Rantang tersebut berisi kentang dan daging.

Bisa juga disebut schweinebraten in der Rein.

Saus yang jadi kuah daging.

Penampakan makanan di piring.

Ada sauerkraut tersembunyi di dalam tumpukan daging.

Brat’l in der Rein dimaksudkan adalah daging schweinefleisch yang sudah dibumbui terlebih dulu sehingga disebut schweinebraten. Ini bisa disebut juga brat’l yang ditaruh di dalam rantang, yang kemudian menu makanan ini menjadi brat’l in der Rein. Di dalam daging olahan tersebut, terselip saurkraut yang sering saya ceritakan dalam berbagai menu makanan khas Jerman.

Setelah dicicipi, saya cari tahu pembuatannya. Sepertinya schweinefleisch direndam dalam bumbu dengan gram, merica, jinten dan bawang putih. Daging yang dipilih pun tentunya tanpa lemak dan tulang. Setelah itu, daging dimasukkan dalam oven dengan periode waktu yang membuat daging tidak mengering tetapi kulitnya terasa crispy. Panggang selama beberapa jam. Kurang lebih seperti itu cara memasaknya. Sedangkan sausnya semacam fleischsuppe, yang diberi bumbu bawang putih dan air rendaman daging. Ini asumsi saya, karena saya tidak memasaknya. Kuah daging ini yang membuat rasa daging semakin nikmat.


Kentang yang tawar dan sauerkraut yang masak bercampur jadi satu dengan daging yang berkaldu. Rasanya tentu saja nikmat sekali! Inilah salah satu kuliner Bavarian di Jerman. Seharusnya untuk melengkapi makanan ini, saya harus memesan bir gandum agar lebih nikmat lagi. Apa daya, makanan ini saja sudah cukup mengenyangkan saya.

Suami selesai urusan bisnisnya, isteri senang mencicipi kuliner. Kerjasama yang luar biasa! Setidaknya saya bisa bercerita tentang kuliner tradisional di sini.
 

 

Surbraten mit Wienkraut und Schnitzel mit Preiselbeermarmelade: Masakan Khas Jerman (14)

Surbraten mit Wienkraut, minumnya apfelsaft yakni jus apel.


Hari minggu di Jerman dikenal Ruhetag atau dalam bahasa Inggris disebut rest day. Semua yang pernah datang ke Jerman tahu bahwa tidak ada aktivitas pertokoan dan perkantoran kala hari Minggu yang lalu. Mereka menikmati momen bersama keluarga, pergi ke Gereja atau berkumpul bersama kolega menikmati hari di restoran. Restoran memang buka meski tak semuanya juga buka. 

Seusai pergi ke Gereja, kami pun menikmati sajian tradisional di restoran khusus menyediakan makanan Jerman pada hari minggu lalu. Rencana yang tiba-tiba tanpa reservasi, rupanya tak mudah diperoleh di restoran yang sudah ternama. Jadi beberapa restoran di hari wiken sebaiknya memang sudah melakukan reservasi sebelumnya. Beruntungnya kami mendapatkan tempat duduk tetapi harus berbagi dengan pengunjung yang lain. Begitulah di Jerman, jangan kaget jika anda makan dan minum dalam satu meja bersama tamu lain jika restoran penuh.

Surbraten dengan kentang buatan.



Makanan tradisional yang dipesan suami saya adalah Surbraten. Kata suami saya, restoran ini terkenal dengan Surbraten-nya yang enak. Pantas saja, di hadapan saya seorang bapak sedang menghabiskan makanan tersebut dengan lahapnya. Sementara bapak yang lain di samping saya, dia hanya duduk menikmati bir. Ini benar-benar gaya Bayerisch. Lalu dua pemuda di sebelah suami saya memesan makanan hamburger dan kentang goreng sambil minum bir.

Surbraten adalah makanan khas Bayern dengan daging yang sudah dibumbui terlebih dulu. Ini bukan seperti daging asap pada umumnya. Untuk mengolah daging tersebut, juru masak perlu suhu panas yang lama sekitar 90 menit hingga 2 jam tergantung ukuran dan suhu oven. Sesekali tuangkan air sedikit ke atas daging. Setelah matang, daging pun disiram dengan saus berbumbu semacam fleisch soße. Disantapnya dengan kentang rebus atau kentang buatan juga bisa. 

Wienkraut.

Selanjutnya surbraten, pramusaji juga memberikan wienkraut. Ini terdengar seperti sauerkraut ya. Bahan yang digunakan juga sama, kol putih. Rasanya pun agak mirip dengan masam menyegarkan. Sepertinya jika saya coba ada cuka dan anggur putih yang bercampur dalam bumbunya. Rasanya tepat disajikan bersama Surbraten

Untuk makanan kedua adalah pilihan saya. Karena khawatir dengan porsi makannya yang terlalu besar, saya mencoba daftar makanan porsi kecil atau untuk anak-anak. Makanan yang saya pilih ini sudah biasa dikenal di Jerman yakni schnitzel. Schnitzel ini sering saya bahas dan mudah ditemukan di restoran Jerman di Asia. 

Schnitzel mit pommes, ditambah saus preiselbeermarmalede di mangkuk kecil.


Schnitzel adalah potongan daging tanpa lemak dan tulang kemudian dibungkus dengan tepung roti. Beberapa kali saya pun mencoba membuatnya di rumah. Karena saya yakin pasti ada yang berbeda jika saya pesan di restoran. Betul, saya mendapati saus preiselbeermarmelade

Schnitzel ini dimakan bersama kentang goreng, yang dalam bahasa Jerman disebut pommes. Sedangkan saus yang disajikan semacam selai buah bila diterjemahkan dari asal kata preiselbeermarmelade. Di Jerman ada bermacam-macam buah berri, disamping strawberi yang biasa dikenal mudah di Indonesia. Buah berri ini dihancurkan kemudian diberi air gula. Dimasak kurang lebih 5 menit. Rasanya masam manis bersamaan. 

Begitulah cerita dua masakan tradisional khas Jerman yang saya jumpai di restoran di Jerman. Tips kali ini adalah melakukan reservasi jika ingin makan bersama di restoran yang cukup ternama di Jerman, terutama pada akhir pekan. 


Curryhuhn mit Kokosmilch und Salat: Masakan Asia di Jerman (3)

Makanan pertama, Curryhuhn mit Kokonosmilch.

Makanan kedua, salat khas Thailand.

Tak pernah habis mengulik soal makanan, terutama masakan asing di luar Indonesia. Kali ini saya membahas masakan dari negeri Gajah Putih. Mengapa? Saya rindu masakan Indonesia kemudian apa daya tidak sedang berada di wilayah yang ada restoran Indonesia plus saya malas masak. Wiken memang waktunya berburu makanan. Selain mencoba rasa baru, mungkin menarik saya bagikan lewat tulisan di sini.

Di kota München ada beberapa restoran franchise Thailand yang sudah punya nama. Artinya restoran ini tak pernah sepi dikunjungi peminat mulai dari orang Asia macam saya hingga mereka penduduk lokal yakni orang Jerman sendiri. Saya lupa nama restorannya, tetapi kali ini saya ingat nama masakan mereka. 

Pertama, Curryhuhn mit Kokosmilch. 

Nama masakan memang terdengar Jerman, namun sesungguhnya ini adalah masakan ayam bumbu karri. Untuk karri sendiri menggunakan santan, dimana di sini disebutnya Kokosmilch

Si pramusaji datang dengan ramah membawakan masakan ini kepada saya. Mungkin dikira saya orang Thailand karena ini sudah kesekian kali saya diajak bicara bahasa Thai namun saya hanya menjawab “Entshuldigung, Ich komme nicht aus Thailand.” Lalu mereka pun tersenyum maklum sambil pergi. Kadang mereka berpikir saya adalah orang Filipina. Lanjut ke cerita masakan!

Masakan ini berkuah agak kental karena mengandung santan kelapa. Rasanya enak menurut saya. Ada sayuran seperti labu dan daun bambu ditambah irisan cabai merah. Kuah karrinya benar-benar terasa, tidak encer hanya berasa air saja. Daging ayam fillet berupa potongan-potongan kecil. Saya suka sekali. Karena belum berasa pedas, saya tambahkan cabai kering khas Thailand. 


Kedua, salat khas Thailand.

Jika anda berkunjung ke Thailand, mereka punya berbagai pilihan salat yang patut dicoba. Saya biasa membahas salat resep buatan Mertua, sekarang saya sontek bagaimana salat buatan Thailand. 

Salat ini rasanya menyegarkan. Kuah cukanya tidak berasa kecut dan sedikit berasa manis mungkin pengaruh sayuran di dalam. Isiannya semua sayuran dan mie bihun halus. Sayuran ada daun selada air, tomat, bawang bombay dan cabai merah. Sepertinya membuat salat ini tak sulit, mungkin anda bisa praktikkan di rumah.

Begitulah perkenalan makanan khas Thailand yang saya cicipi. Semoga menginspirasi🍽

Weißwurst, Sosis Putih Makanan Khas Bavaria

Weißwurst dimasak sendiri di rumah bersama roti pretzel.

Roti pretzel.

Satu kali teman baik kami mengundang makan di salah satu restoran terbaik di Munich. Kami janji bertemu di Hauptbahnhof  Munich jam 9 pagi pada hari Sabtu, dimana kebanyakan saya dan suami bangun lebih siang karena tak ada aktivitas pekerjaan saat wiken. Alhasil kami bisa bertemu tepat waktu, sesuai janji karena tak baik bilamana kita datang terlambat di Jerman. Kami pun sama-sama menuju ke restoran untuk ngobrol, temu kangen dan makan sesuatu karena kami semua melewatkan sarapan pagi. 

Jika datang ke restoran khas Jerman memang tak ada pilihan menu makanan lain selain makanan tradisional. Makanan apa yang paling cocok disajikan di antara jeda sarapan pagi dan makan siang? Jawabannya weißwurst atau sosis putih. Saya ikut saja pilihan suami dan temannya namun saya yang belum pernah makan sosis ini. Saya sudah membayangkan pasti sosis berwarna putih. Karena ‘weiß‘ jika diterjemahkan adalah ‘putih.’

Selang lima menit memesan makanan, pramusaji datang membawakan semacam mangkok besar berbahan porselen berisi weißwurst. Lalu pramusaji menyiapkan pretzel, roti yang khas yang biasa ditemukan di Bavaria. Suami dan temannya meminum bir gandum, katanya cocok untuk menemani makan weißwurst. Saya kedapatan minum air putih bersoda. 

Ini pertama kali saya makan weißwurst sehingga saya perlu melihat bagaimana mereka mulai memakannya. Pertama-tama ambil sosis yang sudah dipanaskan tadi dari mangkok. Tiriskan airnya karena kita tidak memerlukan airnya. Lalu kupas kulit sosis dengan memotong ujung sosis yang terkelupas sedikit sehingga kemudian kita bisa merobek keseluruhan kulit sosis dengan mudah. 

Karena dimakan di rumah, boleh saya menggunakan tangan. Namun anda perlu belajar agar tetap menggunakan garpu dan pisau jika makan di restoran atau area publik.

Tampilannya jika sudah dibuka seperti ini.

Ini cocolannya, semacam mustard manis. Menurut saya seperti sambal kacang ya ‘kan?

Ini seperti perlu teknik khusus karena anda hanya perlu garpu dan pisau saja. Jika di rumah, mungkin anda bisa merobek kulit sosis dengan tangan langsung, tetapi di area publik seperti restoran maka gunakan peralatan makan anda. Rupanya saya berhasil mengupas kulit sosis dengan baik. Kata teman suami “Jetzt bist Du Bayerisch” kepada saya. Maksudnya, sekarang saya sudah menjadi penduduk Bavaria.


Weißwurst adalah makanan tradisional khas Bavaria, Jerman bagian selatan. Karena tidak ada pengawet di dalam sosis, banyak orang berpendapat sosis ini sebaiknya disajikan sebelum lonceng Gereja dibunyikan. Itu artinya dimakan sebelum makan siang dimana lonceng Gereja selalu dibunyikan saat jam 12 siang. Namun di masa kini yang penuh kemajuan teknologi seperti lemari pendingin yang baik maka weißwurst juga bisa disajikan saat malam hari setelah disimpan dulu di lemari pendingin. 

Mungkin anda bertanya mengapa sosis tersebut berwarna putih? Pertanyaan ini pun saya tanyakan kepada teman-teman saya orang Bayerisch. Sebenarnya semua sosis berasal dari daging yang berwarna merah. Lalu jika sosis itu berwarna putih karena sosis ini hanya menggunakan campuran garam meja saja sehingga daging yang semula merah jika dimasak berubah menjadi putih keabu-abuan. Garam meja tidak mengubah warna sosis. Setelah mengetahuai pembuatannya, itu sebab weißwurst harus dimakan sebelum makan siang. Begitulah sesuai kebiasaan masyarakat Bavaria jaman dulu kala ketika belum ada lemari pendingin. 

Jika anda datang saat festival semacam Oktoberfest, maka makanan weißwurst  biasa disajikan. Makannya dengan roti Pretzel lalu sosis dipotong kecil-kecil dan diberi sedikit cocolan mustard manis. Tadinya saya pikir mustard manis itu seperti sambal kacang loh karena mirip sekali. Bedanya mustard manis ini tidak pedas dan memang lebih manis. 

Begitulah informasi seputar makanan tradisional khas Bayerisch. Semoga bermanfaat! 🍻

Makanan Asia di Jerman (3): Restoran China ‘Lucky Seven’ 

Aksara dan interior semakin membangun suasana layaknya anda berada di Tiongkok.

Tempatnya nyaman dan bersih. Interior bergaya restoran Tiongkok.

Buku menu.

Suguhan akuarium dengan ikan yang bercorak warna-warni sambil menunggu pesanan datang.

Sup pembuka, pekkingsuppe.

Jasmintee.

Makanan dihangatkan di atas tungku.

Tintenfish Pfanne mit Gemüse.

Mengapa saya pilih nasi goreng lagi ya? Entahlah berikutnya saya mau coba menu lain. 

Rasanya makanan adalah obat penghilang rindu. Ketika saya membayangkan ingin makan nasi dan makanan selera Asia. Tak berapa lama, lamunan saya terbayarkan kala wiken suami ajak ke restoran Asia. Saya pun antusias menyambut ajakan makan siang di suatu China Restaurant di wilayah Niederbayern namanya ‘Lucky Seven.’ Kata suami saya, restoran ini sudah berdiri lama, mungkin lebih dari dua puluh lima tahun lalu. Wow!

Area parkir restoran disatukan dengan supermarket sehingga tergantung seberapa banyak area yang kosong. Lalu interior luar restoran sudah menampakkan bangunan khas Tiongkok, seperti yang pernah saya alami saat di China dulu. Begitu masuk, kami langsung disambut ramah oleh dua orang staf yang menurut suami saya adalah anak dari pemilik restoran. Jadi restoran ini adalah bisnis keluarga. 

Kursi, meja dan interior di dalam restoran semua menggambarkan suasana restoran di Tiongkok. Ini berbeda dari kebanyakan restoran Asia lainnya yang sudah mulai moderen. Lalu ada banyak aksara China yang tertempel di dinding restoran. Semakin membuat kami betah dan merasa seperti ada di Tiongkok, kami mendengarkan lantunan instrumen khas negeri Tiongkok. Kami pun memilih duduk di dekat akuarium besar. Meski cuma makan siang namun suasana restoran terlihat elegan dan ekslusif, itu pemikiran saya.

Baca https://liwunfamily.com/2017/03/01/pengalaman-urus-visa-2017-shenzhen-tiongkok/

Saat memilih menu makanan dalam daftar, wah ternyata harganya tak terbilang melejit. Saya dan suami memilih menu makanan untuk mittagessen, waktu makan siang. Saya pesan nasi goreng yang ditulis di menu ‘Gebraten reis mit Sweinfleisch’ sedangkan suami pilih cah cumi dan sayuran yang ditulis ‘Tintenfish Pfanne mit Gemüse.’ Lalu saya pesan minum ‘Jasmintee‘ yang hangat, pastinya semacam teh panas. Di luar restoran suhunya 11 derajat, jadi saya pikir perlu teh panas. Suami saya pesan ‘Apfelsaftchorle.’

Saya masih membayangkan dinginnya di luar ditambah angin yang kencang, luar biasa! Selang tak berapa lama, datang sup pembuka yakni pekkingsuppe dan minuman sesuai pesanan. Sebagai makanan pembuka, ada 2 pilihan yakni sup atau springroll. Kami sepakat pilih sup karena rasanya yang hangat. Setelah si pramusaji pergi, suami mengatakan bahwa pramusaji, seorang perempuan paruh baya berambut keriting dan berwajah oriental adalah isteri pemilik restoran. Suasana restoran seperti kekeluargaan sekali. Di sekitar banyak pria dan perempuan berwajah kaukasian dan berambut blonde tampak menikmati santapan siang. Pengunjung restoran saat kami datang tampak lumayan banyak juga.

Baca https://liwunfamily.com/2017/10/23/puas-seharian-makan-bebek-gaya-barat-dan-gaya-timur/

Sepuluh menit setelah memesan, datang pesanan kami. Si pramusaji menempatkannya di atas tungku penghangat makanan, dua menu makanan sudah tersedia di hadapan kami. Rasa makanan ini benar-benar nikmat menurut saya dan suami. Kerinduan seolah terbayarkan kala kami berdua sedang ingin makan makanan Asia. 

Menurut kami, restoran ini recommended untuk dicoba bila berkunjung ke wilayah Bayern. Berikut alasannya:

  • Berada di pusat kota dan strategis lokasinya, terutama area parkir yang luas.
  • Makanannya enak dan lezat.
  • Suasana terkesan oriental dan kekeluargaan.
  • Harganya terjangkau.
  • Tempatnya bersih, nyaman termasuk toiletnya. 

Jika anda datang untuk makan siang, maka tamu yang datang mendapatkan sup pembuka gratis. Namun bila datang malam hari untuk makan malam, biasanya anda akan dapat China pflaumenwein, yang menghangatkan tubuh. Jika beruntung di restoran lain ditambahkan fortune cookies. Menarik ya!

Baca https://liwunfamily.com/2017/07/18/ketika-gluckskek-dan-pflaumen-schnaps-jadi-penutup-makanan/

Demikian pengalaman kami. 

Apakah anda punya pengalaman serupa makan di China Restoran?

Baca https://liwunfamily.com/2017/10/13/nasi-goreng-indonesia-digemari-di-luar-negeri-datang-ke-yuen-china-restaurant-di-salzburg-austria/

7 Daftar Kuliner Wajib Dicoba di Roma, Italia

Jika mengenal bangunan ini, anda pasti tahu dimana ini? Colloseum di Roma, Italia.

Pernah membaca novel ‘Eat, Pray and Love’ sekaligus menonton film yang diperankan oleh Julia Roberts, membuat saya meyakini bahwa Italia adalah negeri yang kaya akan kuliner. Mengapa tidak? Banyak makanan di luar sana yang mengenal makanan khas negeri ini. Sebut saja Pizza, siapa yang tidak kenal dengan makanan satu ini. Bahkan di Indonesia, gerai pizza tidak hanya di restoran eksklusif, di pedagang kaki lima pun mereka menyebut pizza dalam daftar menu. Atau aneka pasta dan spaghetti juga mudah ditemukan di seluruh dunia. Dengan berbagai bumbu saus untuk pasta, membuat siapa pun suka makanan khas negeri ini.

Ini pula yang menjadikan alasan saya untuk pergi ke Italia. Wisata kuliner rasanya tepat setelah wisata sejarah. Bersyukurlah saya tidak tinggal lama karena saya khawatir ukuran baju saya tidak akan muat sekembalinya dari sana. Setiap kuliner yang saya coba, semua benar-benar enak. Bahkan biasanya lidah saya protes saat traveling karena rasa dan tekstur makanan yang berasa aneh. Namun di Italia, lidah saya bergoyang karena luar biasa lezat sekali.

Kali ini saya buat daftar kuliner yang wajib dicoba di negeri aslinya, Italia. Menurut saya, daftar ini wajib anda coba saat bertandang ke Italia. Apa saja?

1. Kopi

Segelas kopi espresso.

Saya belum pernah mencoba minum kopi espresso karena khawatir maag saya kambuh. Setelah mencoba minum espresso dan cappucino di sini, Puji Tuhan tak ada masalah dengan perut saya. Entah karena racikannya, entah alasan apa namun saya memuji kopi buatan mereka. Sumpah! Kopi mereka enak sekali. Di sini kopi bukan sekedar minuman, tetapi budaya. Orang Roma menikmati kopi yang disebut ‘Bar Kopi’ bak layaknya kebiasaan hidup. Setelah makan siang pun, mereka minum kopi. Ini sama seperti di Jerman, dimana bir diminum kapan pun.

Hey Coffee Lovers, anda perlu menikmati kopi mereka yang benar-benar nikmat ini. Pilihannya ada pada espresso, cappucino atau macchiato. Setelah menikmati kopi, puji kopi buatan mereka agar mereka bangga bahwa mereka telah berhasil membuat anda jatuh cinta dengan Italia. Rekomendasi tempat minum kopi tersebar di pelosok kota Roma. Bahkan di hotel pun, kopi disajikan dengan penuh cinta untuk anda sebagai tamu hotel. 

2. Pizza

Pizza Margherita dan Pizza Marinara.

Suasana penjualan pizza kala malam hari.

Pizza yang ada di Indonesia bermula dari buatan negeri Paman Sam. Sesungguhnya jika anda mencoba pizza di Italia, anda akan menikmati tekstur roti pizza yang berbeda dengan pizza yang dikenal di Indonesia. Pizza dijual di setiap ristorante atau restoran dalam bahasa Italia. Makanan ini bisa untuk makan siang seloyang penuh untuk satu orang. Atau pizza untuk makan malam dengan irisan yang tak penuh. Silahkan disesuaikan dengan selera anda!

Suatu malam saya dan suami menemukan gerai pizza yang dipenuhi oleh banyak orang. Karena penasaran maka kami mampir dan sekedar mencicipi. Rasa pizza di Italia ternyata berbeda dengan yang dijumpai di Indonesia atau di Jerman. Ada aneka macam topping rasa yang dikehendaki dengan kisaran 1,5€ hingga 2€. Hmmm, lezat sekali!

3. Pasta

Pasta saus tomat.

Pasta saus tuna.

Kami terlambat menikmati makan siang di hari kedua di Roma. Begitu asyiknya menikmati lokasi wisata membuat kami lupa bahwa perut kami sudah mulai menari. Kami berjalan agak jauh dari lokasi wisata agar harga mahal di restoran tidak begitu mahal. Kami berhenti di salah satu restoran dan menikmati sajian pasta yang kebetulan menjadi menu utama siang itu.

Suami saya pesan pasta dengan saus tomat dengan irisan salami. Sementara saya memesan pasta dengan saus tuna. Kami memilih duduk di luar restoran sembari mengamati orang lalu lalang memesan makanan saat makan siang tiba. Selang sepuluh menit, menu pesanan datang. Bagaimana rasanya? Pasta yang dibuat itu seperti tidak lunak namun tidak keras, tekstur pasta benar-benar pas sekali. Sausnya pas sekali, enak! Saya dan suami sepakat bahwa pasta kami benar-benar lezat dan tidak pernah kami menikmatinya seperti ini di luar Italia.

4. Fusilli

Fusilli saus tomat.

Saya memesan fusili di restoran lantai dua semacam food court di stasiun Roma Termini. Awalnya saya ragu karena si koki seperti hanya menghangatkan masakan saja, fussili yang sudah matang ditambah saus di atas kompor. Ya sudah, saya terima saja dan melanjutkan pencarian tempat duduk untuk menyantapnya sementara suami saya mencari menu lain.

Anda tahu, saya terkejut dengan rasanya. Luar biasa cuma dihangatkan begitu saja, namun rasa fusilli ditambah saos tomat dan keju tabur sebagai topping benar-benar nikmat. Berkali-kali saya katakan ini pada suami. Sementara suami saya memesan menu masakan lain. Saya benar-benar tidak menyesal memilih makanan ini. Lezat!

5. Keju Mozzarella

Bruschetta.

Keju mozzarella.

Saya pernah menyaksikan pembuatan keju mozzarella di saluran televisi tentang kuliner. Rupanya keju ini terbuat dari susu kerbau. Di Jerman pun tersedia keju ini, namun saya tidak berniat membelinya. 

Suatu malam saya dan suami berhenti di restoran dekat hotel untuk dinner bersama. Karena kami tidak ingin makan dalam porsi yang besar, pilihan jatuh pada bruschetta. Meski tidak ada imajinasi makanan seperti apa, saya ikuti pesanan yang dipesankan suami. 

Selang lima menit datang pramusaji menyediakan roti ciabatta di hadapan kami dan peralatan makan. Lalu beberapa menit kemudian datang pesanan kami. Jadi beberapa irisan schinken diletakkan mengitari piring dan pusatnya adalah keju mozzarella. Ambil roti ciabatta, masukkan di dalam selipan irisan schinken dan sedikit keju. Sumpah, enak sekali! Saya pun mengatakan pada suami akan membeli keju mozzarela dan membuat hal serupa saat kembali di Jerman.

6. Tiramisu

Tiramisu.

Terakhir ini adalah sejenis cake yang membuat saya tergila-gila menikmatinya. Pertama kali saya jatuh cinta pada tiramisu saat puluhan tahun lalu mencicipinya di Hotel Mulia di Jakarta. Setelah itu saya sering membelinya di Jerman sebagai dessert atau cake kala kaffeetrinken

Mencicipi tiramisu tak ubahnya minum kopi. Ada campuran kopi dalam membuatnya. Anda tak menyesal jika memesan tiramisu sambil menikmati secangkir kopi. Mantap!

7. Es Krim

Ice cream.

Siapa yang tak tahu bahwa gelato adalah resep membuat es krim terenak. Di sini anda akan menemukan bahwa ice cream mereka benar-benar sempurna enak meski kala malam berasa dingin untuk disantap. Namun anda yang suka ice cream, jangan sampai menyesal bila tak mencicipi ice cream di sini.

Demikian pengalaman kuliner saya di Roma, Italia. Saya benar-benar jatuh cinta dengan kuliner mereka. Semoga anda pun demikian!

Makanan Asia di Jerman (2): Asian Food Haiky

Bagi mahasiswa perantau, rindu makanan Asia bisa datang ke sini karena diskon 10% dengan menunjukkan kartu mahasiswa. Ini Thailand Chicken Curry.

Detilnya chicken curry ada sayur rebung, paprika, timun, wortel, kol dan daging ayam lalu diberi santan dan kuah kari.

Jika anda datang ke Jerman, tak usah khawatir bila rindu masakan khas Asia. Pasalnya hampir di semua kota di Jerman ada restoran citarasa Asia. Di restoran Asia di sini kita bisa menjumpai masakan khas Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand dan Vietnam. Tentunya rasa masakan ini tak jauh berbeda dengan masakan yang biasa kita jumpai di Indonesia. Lagi pula makanan Asia kebanyakan no pork alias halal dimakan.

Nasi dan sayuran kuah santan bumbu kari khas Thailand. Ketika lihat gambar di daftar menu, dipikir ini semacam cap cay ternyata kari hanya isinya sayuran saja.

Kali ini saya mampir di restoran franchise Asian Food Haiky yang katanya ada di beberapa kota besar di Jerman. Restoran ini ada di sebuah mall di Selatan Jerman. Setiap jam makan siang tiba, jangan harap anda bisa langsung makan tanpa mengantri! Itu artinya butuh kesabaran memesan makanan di sini.

Hal pertama yang dilakukan adalah anda berdiri di depan kasir lalu pilih makanan yang akan dimakan. Agar orang di belakang anda tidak mengomel saat anda masih berpikir menu yang akan disantap maka sebaiknya lihat dulu menu makanannya baru memesan di depan kasir. Semua daftar menu dijelaskan secara rinci dalam bahasa Jerman. Misalnya Thai Chicken Curry maka akan dirincikan Huhn (daging ayam) mit cocos sauße (saus kari dengan santan) und reis (nasi). Tentu perincian jenis makanan membuat orang mudah menangkap visualisasi makanan bagi orang yang tidak familiar masakan Asia sebelumnya. 

Jadi saat memesan makanan, anda tidak mendapatkan buku menu makanan seperti di restoran melainkan terpajang di atas kasir. Ada makanan yang memiliki image foto, ada pula yang tidak. Jadi rincian makanan memang diperlukan untuk membayangkan makanan tersebut. 

Semua karyawan dalam restoran ini adalah pendatang dari Asia. Jadi bisa dibayangkan kadang miskomunikasi pun terjadi antara kasir dengan pelanggan yang mungkin lafal kata dan intonasi yang cepat dalam bahasa Jerman. Untuk itu, daftar menu makanan di papan display juga menggunakan nomor. Anda bisa langsung menyebutkan nomornya dan jumlah makanan yang dipesan. 

Ada beberapa makanan yang memang langsung tersaji di depan mata saat anda menyebutkan, misal nasi goreng. Mereka ada nasi goreng juga loh. Saat kasir dan si pemesan bertransaksi uang, bisa jadi karyawan lain sudah menyiapkan nasi goreng di hadapan anda. Namun bisa juga saat memesan makanan, makanan tersebut memerlukan waktu untuk memasaknya. Jadi anda perlu bersabar menunggu kira-kira 10-15 menit bila waktu makan siang tiba. 

Jangan berharap anda bisa memesan segelas es teh manis seperti di Indonesia! Di sini minuman tersedia dalam kemasan yang praktis. Jangan harap pula ada minuman gratis semacam teh tawar di setiap makanan! Jadi anda mesti bayar meski minum segelas air putih sekalipun.

Untuk peralatan makan sendiri, anda perlu menyiapkannya sembari anda memesan makanan di kasir. Silahkan ambil apa yang anda perlukan seperti sendok, garpu, pisau, tisu dan sedotan. Karena semua itu tidak tersedia di atas meja anda. 

Seperti biasa di atas meja tersedia garam tabur, kecap dan lada bubuk jika anda merasa perlu menambahkan. So far, pelayanannya baik. Semua makanan di sini tersedia dalam porsi yang besar bagi saya yang terbiasa makan dalam porsi kecil. Namun beberapa pilihan makanan ada yang ditawarkan ukuran medium dan ukuran besar. 

Jika makan siang tiba, mungkin anda harus berbagi bangku dengan pelanggan lain. Silahkan bertanya dengan sopan “Ist der Sitzplatz frei?” Tentunya mereka pun akan berbagi kursi dengan anda. Namun jika anda sungkan, di restoran ini tersedia paket makan yang langsung dibawa pulang. Kemasannya menarik dan praktis dibawa pula. 

Oh ya, plusnya lagi di tempat ini adalah bebas internet. Sepanjang anda punya nomor lokal atau nomor telpon Jerman maka anda akan bisa terkoneksi dengan WIFI. Selain itu apabila anda adalah mahasiswa, tunjukkan kartu mahasiwa maka anda akan dapat diskon 10%. Asyik ‘kan!

Selamat makan!