5 Hal Ini Mungkin Efek Liburan Panjang

Ilustrasi.

Hari ini Senin (6/1) masih menjadi tanggal merah alias hari libur di sebagian wilayah di Jerman seperti tempat tinggal saya. Hari ini menjadi hari libur karena perayaan Hari Raya Tiga Raja atau Heilige Drei Könige sebagaimana yang pernah saya ceritakan. Setelah ini, umat katolik menandai pintu rumah mereka sebagai berkat sepanjang tahun dengan kapur yang diberikan para putra-putri altar yang datang ke rumah umat. Di Indonesia, kapur biasanya dibagikan setelah misa kudus.

Namun saya tidak membahas hari libur tetapi efek yang terjadi setelah libur berkepanjangan. Saya memang libur sekitar dua minggu lebih dan hal ini adalah umum bagi kebanyakan orang-orang di sini. Rupanya efek libur berkepanjangan itu memberi rasa yang berbeda untuk kembali melanjutkan rutinitas harian. Bisa jadi pengalaman ini juga dialami anda setelah anda mengambil libur panjang.

1. Jam tidur berubah

Liburan itu mengubah jam biologis. Betul ya? Rutinitas harian mewajibkan bangun tidur jam sekian, makan siang teratur dan tidur malam jam sekian. Ketika liburan, semua menjadi berubah. Ada keinginan bangun lebih siang sehingga tidak terburu-buru sarapan pagi. Makan siang dan mengemil sesuka hati. Tidur malam pun demikian karena aktivitas bebas yang dilakukan tanpa memikirkan besok harus bekerja.

Libur panjang itu memberi efek untuk mengembalikan jam biologis seperti semula. Dan itu tak mudah. Itu sebab satu atau dua hari perlu penyesuaian jam biologis yang membuat anda kembali seperti semula.

Baca juga: Apa saja manfaat liburan?

2. Kurang termotivasi menjalani rutinitas

Efek liburan kedua adalah motivasi menjalani aktivitas menurun. Hal ini wajar karena liburan itu memberi kesenangan yang dicari setiap orang. Rutinitas kehidupan seseorang diluar liburan bisa jadi memberi stress tersendiri. Seharusnya liburan yang baik adalah memberi motivasi dan semangat baru untuk melanjutkan aktivitas harian. Karena begitulah salah satu tujuan liburan.

Ilustrasi.

3. Masalah keuangan

Meski liburan sudah direncanakan dengan baik, dengan segala kebutuhan yang terjadi, nyatanya kita tidak bisa mengontrol sesuatu di luar kendali saat liburan. Liburan memang sudah teranggarkan dengan baik tetapi kenyataan bisa terjadi sebaliknya. Liburan berkepanjangan pun bisa memberi efek tersendiri dalam hal finansial. Bahkan kita harus berhemat, mengecangkan ikat pinggang atau membongkar celengan demi kebutuhan hingga tanggal gajian tiba. Atau, anda harus berhutang demi liburan dan mulai memikirkan cicilan hutang liburan. Tagihan ini dan itu pun harus dipikirkan di luar tagihan bulanan tetapi begitulah efek liburan berkepanjangan.

4. Pekerjaan tambahan di rumah

Sekembalinya dari liburan panjang, masih ada pekerjaan tambahan di rumah. Membersihkan rumah itu wajib hukumnya, kapan saja. Tak terbayang libur panjang dua minggu maka ada banyak hal yang harus dibenahi, dirapihkan dan dibersihkan. Jika anda punya kebun dan taman di rumah maka anda perlu memikirkan untuk menata lagi. Apalagi jika anda punya hewan peliharaan yang perlu dipikirkan perawatan sekembalinya dari liburan. Melelahkan memang sekembalinya liburan, tetapi begitulah.

Liburan itu penting tetapi sehat itu investasi.

5. Sakit

Efek terakhir liburan yang semoga saja tidak terjadi pada anda adalah sakit. Liburan itu memang menyenangkan tetapi kita bisa jadi tak terkontrol saat makan atau melakukan sesuatu. Sakit bisa mungkin terjadi usai liburan panjang. Rasanya sulit dijelaskan ke pihak personalia perusahaan bahwa kita menjadi sakit setelah liburan padahal liburan seharusnya memberi energi baru yang menyehatkan. Tetapi siapa yang bisa mengontrol kehidupan.

Dari lima hal di atas adalah efek yang mungkin saja terjadi usai libur panjang. Kita memang tidak bisa mengontrol apa yang terjadi setelah liburan, tetapi mencegah kemungkinan terjadi bisa dimaksimalkan. Perhatikan bahwa liburan seyogyanya memberikan efek positif bermanfaat, bukan mudarat.

Semangat Tahun Baru!

“Istirahat dan Makan yang Banyak!”

Suatu hari suami saya cerita kakak ipar saya sakit dan tidak masuk kantor. Katanya, kakak suami saya ini sudah tiga hari di rumah. Saya kenal baik pribadi kakak ipar saya, tentu bukan kesengajaan untuk tidak bekerja terutama orang Jerman yang dikenal suka bekerja keras. Ini berarti dia benar-benar sakit. Di hari berikutnya, kakak ipar diperiksa oleh dokter keluarga. Dokter yang dikenal baik oleh keluarga ini kemudian memeriksa kakak dan tidak memberi resep obat. Kata dokter “Istirahat dan makan yang banyak ya!”

Lain lagi cerita teman kerja saya. Dia adalah dosen sebuah perguruan tinggi dan mendapatkan studi lanjutan di Australia. Suatu kali dia menderita sakit dan merasa tidak enak badan saat di Australia. Dia memeriksakan diri ke dokter. Dokter pun tidak beri resep obat. Nasihatnya pun sama, “Istirahat dan makan yang banyak!”

Apakah ada hubungan dokter keluarga kami di Jerman dengan dokter teman saya di Australia? Pastinya tidak.

Terkadang saya dan mungkin juga anda berpikir jika sakit perlu obat. Padahal tubuh kita mampu mengenali bilamana ada yang tidak beres. Saya tahu betul kondisi badan saya bila saya pusing dan diare. Saya juga paham tidak melulu juga saya perlu obat bila ada yang tidak beres dan berasa sakit. Ada kala saya memang butuh istirahat dan makan dengan pola yang benar. 

Bagaimana pun anda yang paling memahami kondisi tubuh anda sendiri. Jika sakit parah, perlu penanganan khusus bahkan memasuki fase yang fatal tentu anda butuh obat. Namun tidak semua yang anda rasakan sebagai sakit perlu obat. Malahan hati yang gembira adalah obat. 

Adalah Dr. Cynthia Thaik yang menulis pendapatnya bahwa kegembiraan adalah obat terbaik berdasarkan jurnal psikologi, Psychology Today. Artikelnya ditulisnya di Huffington Post berjudul “A Joyful Life Supports Good Health,” dan menyimpulkan bahwa selera humor diperlukan untuk kondisi emosional kita sehingga mendukung kesehatan secara menyeluruh.

Tentu kesimpulan ini berdasarkan hasil penelitian. Data menunjukkan bahwa orang yang bergembira jarang sakit jantung, tekanan darahnya normal, tidak ada masalah dengan kolesterol dan tidak mengalami stress. Oleh karenanya humor diperlukan untuk memperkuat sistim kekebalan tubuh dan membantu mengurangi rasa sakit.

Berdasarkan dua pengalaman di atas, saya menyarankan agar kita bisa mengenali kondisi tubuh sendiri. Sayangi tubuh anda dengan tidak melulu berpikir segala penyakit pasti butuh obat. Pastinya, milikilah hati yang gembira karena itu adalah obat yang murah.

Semoga bermanfaatūüėČ