Makanan Khas Afrika (6): Kufta, Semacam Cevapcici dari Mesir

Kufta disajikan di restoran di Kairo.
Restoran di Kairo yang punya keistimewaan kufta yang super enak dengan pemandangan langsung ke piramida.

Salah satu menu yang disuguhkan dalam kesempatan makan siang di kapal wisata adalah kufta. Saya bertanya pada koki masak yang berjaga di situ tentang kufta. Si koki menjelaskan bahwa kufta adalah beef, daging sapi. Saat koki menjawab, di samping saya berdiri teman semeja makan yang berasal dari Jerman. Dia menyahut bahwa ini seperti cevapcici. Mendengar itu, saya langsung mengambil beberapa kufta dalam piring saya. Hmm, rasanya seperti daging sapi panggang. Enak memang!

Lanjut dari situ, saya mendapati kufta di resort hotel, tempat kami menginap di Hurghada. Di situ tertulis jelas kufta di loyang penyajian. Saya ingat bahwa tema buffet malam itu adalah Egyptian food maka wajar jika kufta disajikan.

Kufta disajikan di hotel di Hurghada.

Kufta dengan cara berbeda disajikan di salah satu restoran di Kairo. Saat itu, kami mengadakan perjalanan ke Kairo dan berhenti untuk makan siang di salah satu restoran. Restoran tersebut letaknya sekitar piramida. Karena pemandangan dari meja makan kami adalah piramida dari kejauhan. Sepertinya restoran ini menyajikan kufta yang istimewa. Enak sekali!

Meja kami disuguhi kufta yang masih hangat di atas tungku yang masih panas. Kufta terhias indah di tungku dengan aroma yang menggugah. Saya pun mengambilnya karena saya suka rasanya. Ini mengingatkan pada sate daging sapi atau cevapcici yang saya makan di Jerman atau di Kroasia, negara asal cevapcici.

Kufta seperti bakso dan berkuah pedas disajikan di kapal wisata.

Tentang cevapcici, bisa dicek artikel saya sebelumnya di link ini.

Kufta itu seperti daging sapi giling berbumbu yang dibentuk lonjong dan dipanggang hingga matang. Sepertinya kufta ditusuk dalam batang bulat saat memasak, sehingga membuat sisi dalam kufta berlubang. Rasa bumbunya khas mediterania yang kaya akan rempah. Dijamin anda puas dan suka. Aromanya saat dipanggang seperti sate.

Kufta disajikan dengan nasi atau roti ala Mesir. Semua tergantung selera. Daging kufta empuk dan tidak liat sehingga digemari.

Apakah tertarik untuk mencoba kufta?

4 Sate Berikut Bisa Jadi Inspirasi Masak

Musim panas memang banyak dimanfaatkan untuk membuat barbeque bersama keluarga dan kerabat. Hal menarik di sini, barbeque dibuat dengan meminimalisir asap sehingga membuat nyaman lingkungan sekitar. Itu semua tercipta berkat kecanggihan alat pemanggangan yang beranekaragam dijual di toko perabotan rumah tangga.

Berikut saya bagikan empat kreasi sate yang barangkali anda minati. Pasalnya empat kreasi sate ini berasal dari empat negara berbeda yang tentunya diracik dengan bumbu yang berbeda pula.

Penasaran ‘kan?

1. Sate ala Yunani

Masakan berikut dikenal dengan nama souvlaki, seperti yang pernah saya bahas di link ini sebelumnya. Masakan ini tentu saya pesan di restoran khas Yunani. Ini adalah dua potong sate yang ditancapkan di bilah besi. Tentu daging tanpa lemak yang membuat sate lebih empuk dan enak untuk disantap. Ada bumbu khas mediterania di sini seperti rempah-rempah yang tak mudah saya tebak.

Untuk menikmatinya, ada nasi paprika khas Yunani. Tak lupa saus tzatziki yang menjadi kebanggaan masakan Yunani. Anda pasti tergoda untuk mencicipi masakan yang dipanggang dengan bumbu khas mediterania ini.

2. Sate ala Jerman

Sate kedua yang saya dapatkan adalah sate ayam. Awalnya saya takjub mendapati sate ayam dengan nasi di kantin kampus. Biasanya sate dimakan dengan kentang, tetapi ini dengan nasi. Rupanya kantin kampus menyuguhkan aneka kuliner dari berbagai bangsa sehingga tidak membosankan para mahasiswa yang jadi pelanggannya tiap hari.

Sate ditusuk dengan bilah bambu seperti di Indonesia. Sate terdiri atas potongan daging ayam dan beberapa potong paprika. Sepertinya sate ini tidak melalui pembakaran, tetapi dipanggang agar matang. Setelah matang, sate disiram dengan kuah pedas rasa tomat. Ada rasa asam dan segar dengan menikmati sate ini.

3. Sate ala India

Masakan sate terakhir berasal dari India. Sate ini terdiri dari aneka potong daging yang dikehendaki dan diberi bumbu khas India tentunya. Untuk menikmatinya, ada nasi kari dan aneka sayuran yang juga ikut dipanggang. Menu yang dipesan di restoran India ini yang memang dipanggang untuk daging dan sayurannya.

Porsi sate ini memang untuk dua orang. Itu sebab ada dua nasi kari dan banyaknya potongan daging. Agar lebih enak, disantap dengan perasan jeruk lemon dan irisan bawang merah. Rasanya enak!

4. Sate ala Jepang

Sate terakhir yang diulas adalah yakitori yang mungkin pernah anda dengar atau jumpai di restoran Jepang. Sate ini diberi saus teriyaki khas masakan Jepang umumnya. Sate ini terdiri atas potongan daging yang kecil-kecil yang diselipkan di bilah bambu. Rasanya cukup enak, ditaburi dengan biji wijen.

Jadi, sate mana yang akan coba?

Filet Spiesse, Sate dengan Kentang Goreng: Makanan Khas Jerman (56)

Apa yang terbayang dalam benak anda jika makan sate dengan kentang goreng? Ya, ini adalah sate ala kuliner Jerman. Sebelumnya saya pernah membahas Schaschlik yang juga dikemas seperti sate, makanan nusantara. Namun schaschlik adalah potongan daging tanpa lemak yang diselipi paprika. Berbeda dengan schaschlik, saya membahas hal serupa tetapi berbeda penyajiannya yakni filet spiesse.

Apa itu filet spiesse?

Saya menikmati makanan ini di restoran di Austria, yang dekat perbatasan Jerman. Restoran lokal ini menawarkan menu ini seperti sate karena semua potongan daging ditusuk dalam bilah besi. Ini bukan seperti di Indonesia dimana potongan daging ditusuk pada bilah bambu. Sepertinya bilah besi lebih membuat potongan daging masak lebih baik. Potongan daging pun dipilih tanpa lemak.

Hal menarik pada fllet spiesse adalah sisipan bawang bombay yang ikut dibakar bersamaan potongan daging. Isi satu porsi hanya satu tusuk yang terdiri beberapa potong daging. Rasa daging pun tak banyak rempah seperti sate khas nusantara. Hanya ada rasa asin dan merica saja.

Perbedaan schaschlik dengan filet speisse terlihat. Schaschlik yakni potongan daging yang disisipi dengan paprika dan diberi sedikit saus merah, bisa jadi pedas sesuai selera. Sedangkan filet spiesse adalah potongan daging yang disisipi dengan bawang dan tanpa saus. Begitu ya!

Kedua yang menarik adalah menikmati sate dengan kentang goreng. Menikmati sate seperti ini tak ubahnya menyantap steak, karena potongan daging yang grilled dan kentang goreng.

Apakah anda tertarik mencobanya?

Ražnjići, Sate Ala Kroasia: Makanan Khas Balkan (2)

Sate ala Kroasia, makannya dengan nasi pedas dan kentang goreng.
Ini bukan sambal kacang atau sambal kecap sebagaimana sate umumnya.

“Aduh, saya sedang rindu makan sate,” ujar saya pada suami akhir pekan. Akhirnya kami meluncur mencari restoran Asia di kota lain yang belum pernah dicoba.

Tiba-tiba suami ada ide untuk makan di restoran khas Kroasia. Katanya, mungkin dalam daftar menu ada makanan semacam sate. Ya, ini memang bukan kali pertama kami menikmati sajian khas Balkan ini. Makanan utama mereka kebanyakan tersaji dengan daging panggang.

Rupanya kerinduan saya terjawab, mobil berhenti di suatu kota, tepat di depan restoran Kroasia – Bayerisch. Itu artinya restoran menyajikan hidangan Kroasia dan juga ala Bavaria, Jerman. Kemudian kami berdua segera memesan menu Kroasia.

Untuk kali ini, saya akan mengulas pesanan saya. Saya memesan Ražnjići. Jangan tanya bagaimana saya menyampaikannya ke pramusaji! Jika anda kesulitan menyebutkan nama makanan yang hendak dipesan, silahkan sebutkan nomor menu! Atau anda bisa juga tunjuk gambar yang tertera di buku menu. Ini cara saya selama traveling.

Selang tak beberapa lama, pramusaji menyedikan minuman pesanan untuk kami. Tampak sebagian pengunjung menikmati hidangan Kroasia lainnya, sementara yang lain menikmati segelas bir. Dalam hitungan menit, segera pramusaji menyediakan salad pembuka yang berisi sayuran segar untuk kami. Untuk salad, dibahas pada cerita selanjutnya bersamaan dengan pesanan suami.

Menu utama datang. Pesanan saya, Ražnjići pun datang. Satu piring besar terhias indah, dengan dua tusuk sate yang terbuat dari besi. Di sini tusuk sate biasa dilakukan dengan bilah besi. Dagingnya bisa berasal dari daging sapi, daging ayam, daging domba atau daging babi. Dagingnya memang dipotong kecil-kecil sehingga memudahkan untuk mengunyah. Saat saya mengunyah, daging terasa empuk dan tidak berbau.

Oh ya, untuk menikmati makanan ini ada irisan bawang merah besar. Bisa juga dipakai sebagai garnish namun jika suka bisa dimakan. Hidangan ini tersedia dengan dua jenis side-dishes, yakni kentang goreng dan nasi pedas. Nasi pedas disebut djuvecreis, yang memang menjadi makanan khas Kroasia. Porsi ini benar-benar mengenyangkan buat saya.

Baca https://liwunfamily.com/2018/02/24/balkan-spezialitaten-grillplatte-fur-zwei-kroatian-grill-rekomendasi-tempat-13/

Terakhir, saya tidak menyadari bahwa sate ini bisa dinikmati dengan saus yang disediakan. Dua saus yang disediakan terlihat menarik. Satu saus yakni tsatsiki, rasanya asam dan berasa bawang putih. Sedangkan saus lain berasa pedas, terdiri dari tomat, cabai dan bawang putih.

Hmm, bagaimana menurut anda?

Yakitori Spieße oder Hühnerfleisch Gebackenen, Sate ala Jepang atau Sate ala Vietnam: Makanan Khas Asia (34)

Sate ayam ala Jepang.
Sate ala Vietnam.

Orang Indonesia pasti mengenal sate yakni potongan daging yang ditusukkan di bilah bambu kemudian dipanggang di bara api. Untuk bumbu sate ala Indonesia tentu bermacam-macam. Ada yang berbumbu kacang, saus kecap atau hanya sekedar cabai dan bawang yang dipotong-potong. Makanan sate pun dijual laris manis dari penjual pikulan hingga restoran mewah di hotel berbintang. Namun bagaimana sate di mancanegara?

Kali saya perkenalkan dua sate dari Jepang dan Vietnam. Kebetulan saya menyantapnya keduanya dalam kesempatan berbeda. Sate asal Jepang diperkenalkan oleh seorang teman mahasiswa yang sedang melakukan studi pertukaran singkat di sini. Sedangkan sate ala Vietnam didapat saat saya mampir di restoran Asia yang dimiliki oleh seorang migran.

Pertama saya bahas adalah Yakitori Hühnchenspiese mit teriyakisauce mariniert. Itu adalah nama masakan yang disampaikan teman saya tersebut. Dia memasakkan untuk saya dan beberapa teman di acara perpisahan untuk short course di sini. Sebenarnya ada sushi juga, namun mata dan selera saya tertuju pada sate. Kemudian saya mengambilnya tiga tusuk dan sausnya.

Cara membuatnya pun mudah, menurut teman saya ini. Sate dipilih dari fillet daging ayam yang dipotong kecil-kecil. Tidak ada bumbu saat dipanggang, hanya diberi minyak wijen sedikit agar tidak kering. Lalu setelah agak matang, diberi saus teriyaki. Itu sebab namanya teriyakisauce mariniert, yakni saus teriyaki seperti memberikan rasa pada sate. Saus diolesi di sate hingga matang. Setelah matang, diberi biji wijen sebagai garnish. Tiga tusuk saja sudah jadi makan malam saya. Rasanya enak dan mengenyangkan.

Lanjut dengan sate ala Vietnam?

Adalah Nguyen, pemilik restoran di sini yang menyediakan menu sate dengan bumbu kacang. Agar mudah dimengerti pelanggan yang datang, tentu harus dijelaskan dalam bahasa Jerman. Menu ini bernama Hühnerfleisch gebackenen mit Erdnusssoße. Saat saya membaca menu ini dalam daftar, pikiran saya pun melayang memikirkan sate yang biasa dibuat ibu saya.

Selang beberapa lama pesanan saya pun datang. Ini adalah daging ayam yang dibungkus tepung kemudian digoreng. Memang daging ayam hanya fillet yang dipilih. Lalu diberi bumbu kacang yang memang sudah tersedia dalam bentuk kemasan di toko-toko Asia. Saus kacang diberi air sedikit, garam dan sedikit gula. Setelah daging ayam selesai digoreng, saus kacang disiramkan di atasnya.

Oh ya, sate ini juga tersedia sayuran tumisan seperti tauge dan wortel di tengah hidangan. Jadi tidak murni hanya daging ayam saja. Lalu mengapa diberi nama sate? Saya sendiri tidak enak hati bertanya pada pemiliknya.

Begitulah dua menu masakan yang menurut saya agak mirip sate, namun berbeda pengolahannya.

Jika harus memilih, anda suka yang mana, sate ala Jepang atau sate ala Vietnam?