Basilika Santo Stephan: Budapest, Hungaria (7)

 

wp-image-913643132
Tampak depan.

 

Sisi lain Basilika.

 

 

 

Sisi dalam dari langit-langit Basilika yang indah.

 

 

 

Basilika didekasikan untuk Raja Hungaria I seperti dalam informasi di atas.

 

 

Bangunan fenomenal yang mudah dikenal dan dijumpai di Budapest adalah Basilika Santo Stephanus. Sebagai katedral yang memiliki bangunan megah bergaya Neo-klasik, Basilika ini menjadi salah satu destinasi wajib dikunjungi di sini. Entah berapa jumlah umat Katolik di Hungaria namun katanya Paus, pemimpin Gereja Katolik selalu menyempatkan untuk adakan misa di sini.

Ini tempat pertama yang kami kunjungi karena letaknya yang dekat dengan penginapan kami. Lagipula kami beruntung datang kala masih tersedianya pasar Natal. Kemeriahan pasar yang digelar menjelang akhir tahun berada di depan lapangan Basilika.

Berdasarkan informasi tour guide, nama Santo Stephanus berasal dari Raja Hungaria I, Stephan. Kini Basilika ini adalah Gereja Katolik terbesar ketiga di Hungaria.

Saat kami memasuki Basilika, petugas jaga meminta kami mematuhi aturan. Karena bagaimana pun kita harus menghormati orang yang berdoa dan menjaga kekhusukkan. Selain itu, silahkan masukkan uang sukarela, nilainya 200 HUF bahkan boleh lebih jika mau.

Seperti layaknya di beberapa Basilika yang saya kunjungi, di sini begitu pun lukisan dan benda-benda rohani yang mempesona. Karena sore hari di kala musim dingin begitu gelap, kami sulit mendokumentasikannya. Cahaya Basilika begitu minim. Di sini juga, organnya begitu menawan.

Untuk melihat keindahan kota Budapest, anda bisa menaiki kubah Basilika dengan tangga atau lift. Sayangnya kami tiba tidak punya kesempatan melakukannya.

Christmas Market still Exist in here: Budapest, Hungary (1)

Christmas just passed away a week ago but we are still celebrating until 6th January every year in according to Catholic Liturgy. When we were on vacation in Budapest during few days, we stopped by awhile in Christmas Market that held near Basilica Sint Stephan. This market seems huge in order to the most of tourists visited to look around and trying local cuisine.

The attractive things is shown up to visitors when Basilica perfomes the lights and instruments by thema Christmas season. The duration is for 3-4 minutes to perform spectacular lights. Every visitors can see how adorable the sparkling nights around Basilica’s hall.

Here there are photos such as down

Basilica St. Stephan.

In front of the hall of Basilica.

The Nativity of scene.

Christmas market around.

Some visitors enjoy food and beverages that found by booths of market.

Punch and mulled wine booth.


Who is this? No information around. 


Braunau am Inn, Austria: Gereja St. Stephan, Menara Gereja Tertinggi di Austria (2)

Bangunan Gereja dengan menaranya yang tertinggi di Austria.

Keterangan informasi.

Tampak salah satu sisi Gereja.

Ornamen Santo Stephanus, pelindung Gereja.



Melanjutkan cerita saya pada pos sebelumnya di Kota Braunau am Inn, Austria maka kita membahas kunjungan yang tak kalah menariknya yakni Gereja Katolik St. Stephan yang bergaya gothik.

Baca https://liwunfamily.com/2017/11/24/braunau-am-inn-austria-kota-kecil-tetapi-nilai-sejarahnya-besar-1/

Menara Gereja Katolik ini sudah terlihat megah dari kejauhan. Menara setinggi 87 meter ini diyakini menjadi menara Gereja tertinggi di Austria. Pantas saja! Saya kagum dengan bangunan Gereja Katolik yang megah ini. Apalagi seisi Gereja masih terawat baik meski sudah berusia ratusan tahun.

Butuh waktu berpuluh tahun untuk membangun Gereja ini antara tahun 1439 hingga tahun 1466. Tak ada informasi pembaharuan dari bangunan Gereja, terbukti bahwa lantainya pun tak mulus. Bangunan Gereja ini dianggap sebagai bangunan terakhir bergaya Gothic, menggantikan kapel yang ada di seberang Gereja. Itu sebab Gereja dibangun cukup luas. 

Kursi di dalam Gereja.

Ada nama umat tertera.

Dari belakang Gereja menuju ke Altar.

Altar untuk persembahkan misa.



Kursi Gereja pun masih bergaya lama. Bayangkan setiap orang yang jadi umat di sini sudah mendapatkan namanya yang tertera di meja untuk duduk di kursi dalam Gereja. Uniknya setiap orang untuk berlutut masih bergaya lama dimana ada lekukan tubuh yang memudahkan orang berlutut. Saya belum pernah menjumpai kursi umat seperti ini di Gereja Katolik lain.

Selain kursi umat yang menarik bagi saya, ada organ tertua yang pernah saya saksikan juga di Dom St. Stephan, Passau. Tertulis dalam lembar informasi bahwa organ sudah berusia 350 tahun. Sejak kapan dihitung, tak ada informasi. Namun organ ini menjadi peninggalan yang masih lestari di Gereja ini. 

Organ tertua milik Gereja tampak di atas.

Ini sepertinya bilik pengakuan dosa.

Ornamen menghiasi dinding luar Gereja.

Di seberang Gereja, terdapat kapel. Sisi kapel dengan patung Pieta di atas tulisan periode tahun dengan simbol Salib di tengah.


Dinding luar Gereja dihiasai berbagai ornament yang membutuhkan ketelitian dan membuat Gereja ini tampak indah. Bagusnya Pemerintah setempat melestarikan dan merawat Gereja ini, termasuk menyediakan papan informasi yang jelas bagi pengunjung. Artinya setiap orang bisa memahami riwayat informasi peninggalan dengan baik.

Di seberang Gereja, masih berdiri megah kapel lama. Namun sepertinya sudah tidak digunakan lagi. Di sisi kapel, ada replika patung Pieta yang terbuat dari batu. Di bawahnya ada simbol Salib dan tertulis 1914-1918 dan 1939-1945. Mungkin kapel ini adalah saksi pernah terjadi kekejaman perang pada periode perang dunia pertama dan perang dunia kedua sebagaimana tahun yang dituliskan. Sayangnya tak ada informasi di situ.

Stadtpfarrkirche St. Stephan, begitu nama Gereja Katolik ini disebut di sini. Tempat ini menjadi lokasi yang paling sering dikunjungi Turis. Seperti yang saya katakan bisa jadi Gereja Katolik ini juga menyimpan sejarah mengenai masa lalu, termasuk kejadian kemanusiaan melalui perang dunia. Tak ada yang bisa menjelaskan. Penduduk di kota ini lebih senang untuk melihat hal baru ke depan ketimbang masa lalu yang sudah jadi bagian sejarah. 

Semoga anda pun demikian. Masa depan adalah harapan!

Tips dari saya:

  • Sebagai tempat ibadah, sebaiknya anda menghormati peraturan yang berlaku semisal membuka topi, tidak berisik, tidak meninggalkan sampah, dan lain-lain.
  • Jika ingin berdoa dengan lilin, anda bisa keluarkan uang kecil sekian cents Euro sebagai donasi.

Semoga bermanfaat!

Baca https://liwunfamily.com/2014/05/21/8-tips-mengunjungi-tempat-ibadah-yang-jadi-lokasi-wisata/