Swiss, Zurich (1): Coba Polybahn, Kereta Tanpa Masinis dari Dua Abad Lalu

Ini jadwal keretanya.
Sebagian dalam isi kereta.
Panorama kota Zurich dari halaman ETH yang tampak mendung berawan.

Ada beberapa tempat untuk menyaksikan keindahan panorama kota Zurich dari ketinggian. Salah satunya adalah kami pergi ke ETH dan di teras ETH ini kita bisa menyaksikan panorama kota Zurich. Sayangnya kami datang dalam cuaca yang sedang tak bersahabat. Hujan, mendung dan sedikit berawan sehingga langit pun bergelayut abu-abu pada foto yang saya dapatkan dari sudut teras ETH.

Tentang ETH dan destinasi lain di Zurich, silahkan dinantikan cerita selanjutnya!

Untuk menjangkau ETH, kita perlu kereta yang biasa disebut polybahn. Letak stasiunnya ada di sebelah Starbuck, depan jembatan Bahnhofbrücke. Di himpit beberapa kafe, stasiun ini memang tak tampak mencolok. Polybahn dimanfaatkan sebagian besar mahasiswa ETH untuk menjangkau kampusnya, yang letaknya di atas ketinggian. Itu sebab di kalangan mahasiswa, polybahn disebut kereta express, ketimbang jalan kaki menjangkau kampus.

Di halaman kampus ETH ini, saya bisa mendapatkan gratis WIFI dari fasilitas universitas ETH. WIFI kampus saya memang masih berhubungan sepanjang kita punya identitas mahasiswa di Jerman. Bisa jadi ada program kerjasama fasilitas internet antara kampus di sini dengan kampus di Jerman. Entahlah. Pastinya, halaman kampus ETH ini kita bisa menyaksikan panorama kota Zurich.

Pemandangan sepanjang perjalanan singkat dengan Polybahn.
Tampilan kereta polybahn.
Mesin otomatis untuk beli tiket kereta.

Polybahn memang menjadi kesempatan menarik bagi turis seperti kami. Ini mengingatkan pada masa nostalgia dimana kereta belum begitu moderen tekhniknya seperti sekarang. Seperti yang anda lihat, polybahn hanya dalam hitungan detik bisa menghubungkan Zurich bagian atas dan bawah secara cepat.

Dikutip dari laman resmi, polybahn muncul sejak akhir abad 19 ini sempat ditiadakan. Tahun 1979, polybahn kembali dioperasikan berkat kerjasama dengan pihak ketiga untuk menjalankannya. Kereta yang pernah ada pada abad 19 ini memang dibangkitkan kembali seiring kebutuhan. Kendaraan ini tetap dipertahankan secara teknologi dan keamanannya yang masih mumpuni. Bagi turis seperti kami, ini menarik.

Oh ya, polybahn itu hanya satu saja. Datang dan pergi dengan waktu yang sudah terjadwal. Pengoperasian kendaraan ini dilakukan secara terstruktur sesuai kecanggihan teknologi saat ini. Tak ada masinis atau orang yang menjalankan kereta. Ada tanda bunyi peluit sebagai bentuk komunikasi pengoperasian kereta. Selama perjalanan singkat, anda bisa menyaksikan pemandangan sebagian kota Zurich dari ketinggian.

Terakhir nih, kami perlu membayar kereta ini. Ada mesin otomatis pembayaran untuk menjalankan transaksinya. Ini semua hanya sistim kepercayaan, tak ada petugas yang membantu. Harga tiket 1CHF, mata uang Swiss yang bisa dibayarkan lewat kartu elektronik juga. Tiket disimpan sebagai bukti pembayaran. Jika ada kontrol tiket, maka anda bisa menunjukkan bukti kepemilikan tiket.

Saya hanya membayangkan bisa jadi ini menjadi cikal bakal teknologi kereta di masa depan. Tanpa masinis, tanpa petugas loket tiket dan bahkan petugas yang berjaga selama perjalanan di kereta. Who knows ya!

Rösti, Kentang Pengganti Nasi dari Swiss

Tak usah repot, ada juga kemasan yang praktis tanpa mengupas kentang. Anda tinggal panaskan selama 10 menit di wajan panas.

Rösti dengan schnitzel. 

Rösti dengan salmon.

Beberapa resep masakan saya yang dimuat di blog tentang kentang seperti Kartoffelsalat atau Kartoffelbrei dalam bahasa Inggris dikenal Mashed Potato (kentang tumbuk) rupanya banyak digemari. Karena kentang pengganti nasi sebagai makanan pokok, baik kandungan karbohidratnya. Itu sebab mereka yang sedang diet dinilai cukup berhasil mengganti nasi dengan kentang.

Kali ini saya memperkenalkan makanan yang terbuat dari kentang juga namanya Rösti. Pernah satu kali saya makan di Grand Indonesia, Jakarta untuk area western, Rösti cukup populer disajikan sebagai makanan pokok. Makanan ini jadi makanan khas di Swiss, tetangga Jerman juga. Namun di Perancis makanan ini disebut Röstis Bernois. Bisa dimakan kala sarapan atau makan siang. Namun saya lebih memilih untuk makan siang. 

Rösti yang berasal dari kentang jelas mudah ditemukan di Jerman yang juga punya makanan pokok kentang, selain roti. Ada berbagai varian cara memasak kentang, salah satunya rösti ini. Sebenarnya mudah memasak rösti, mudah pula jika malas mengupas kentang maka sudah tersedia rösti dalam kemasan praktis di supermarket.

Kadang malas juga memilih kentang yang baik dan bukan. Ketika dikupas juga belum tentu itu kentang yang baik. Memang benar bahwa kentang tidak bisa ditebak dari tampak luar saja. Baca juga tulisan saya tentang kentang di sini.

Lanjut cara memasak rösti:

Cara pertama ala saya:

  • Rebus empat buah kentang selama 30 menit, tidak terlalu matang sehingga kentang lembek. 
  • Iris kentang-kentang menjadi potongan kecil. Iris bawang bombay dalam irisan halus.
  • Masukkan 3-4 sendok margarin. Ketika mencair, masukkan bawang hingga harum lalu masukkan kentang yang dipotong-potong kecil.
  • Masak hingga kentang kecoklatan sekitar 10 menit. Tak usah dibolak balik, biarkan bagian bawah mengeras. Lalu matikan kompor, anda bisa memotong kecil-kecil.

    Cara kedua yang sebenarnya:

    • Iris kentang panjang secara halus dengan alat bantu. 
    • Masak 4 sendok margarin dalam wajan.
    • Masukkan kentang yang diiris hingga membaur satu sama lain sehingga seperti kue bulat. Biarkan kentang menyatu, tak usah dipisahkan. 
    • Tutup kentang ketika kentang sudah berwarna coklat. Tidak usah dibolak-balik biarkan bawah kentang mengeras. Masak selama 10 menit.

    Baik cara pertama maupun cara kedua, anda bisa tambahkan sayuran jika suka seperti bayam. Atau anda bisa masukkan irisan daging bacon. Silahkan sesuaikan dengan selera anda. Mudah bukan?