Film Joker: Ketika Saya Tidak Mengerti Tawa Joker

Film Joker ditayangkan di Jerman mulai tanggal 10 Oktober, lebih lambat dari penayangan di Indonesia. Anda tahu bahwa film ini butuh proses waktu untuk dialihbahasakan menjadi bahasa Jerman. Dan saya pun tertarik menontonnya minggu lalu bersama suami dalam bahasa Jerman.

Film ini mengingatkan saya pada film-film yang harus saya tonton saat saya masih berkuliah di jurusan psikologi. Dimana sepanjang film saya harus mengamati perilaku aktor dan significant others, sehingga memunculkan tanya, mengapa dia berperilaku demikian. Namun kali ini saya tidak membuat analisa apalagi menilai tokoh Joker dalam sudut pandang keilmuan psikologi dan membuat revieu film karena saya bukan ahli untuk itu.

Hal yang pasti diingat penonton dalam film Joker adalah tawanya yang khas dan tak berhenti. Tetapi apanya yang lucu sehingga Arthur si Joker harus tertawa. Itu pula yang ditanya si ibu dengan seorang anak di dalam bis ketika Joker menghibur anak tersebut. Ibu itu meminta Joker berhenti mengganggu anaknya. Joker tertawa dan terus tertawa. Ibu itu bertanya hal yang sama seperti Psikiatri di dalam penjara pada adegan terakhir. Pertanyaannya “Apanya yang lucu?”

Joker bukannya berhenti menjawab, dia malahan tertawa tak henti. Karena Joker juga sebagai komedian pun melakukan tawa yang sesungguhnya tak dimengerti. Dia harus mengkonsumsi obat tiap hari untuk gangguan psikologis yang dialaminya. Joker pun menjawab bahwa dia tak mengerti apa yang terjadi padanya.

Joker sebagai alat tawa (komedian/badut) tampak berusaha menghibur banyak orang. Ini terlihat bagaimana Joker mengisi acara stand up comedy atau menghibur anak-anak di rumah sakit. Joker di satu sisi adalah orang berkarakter baik. Namun tawanya berubah menjadi karakter jahat ketika dia membunuh tiga orang di kereta bawah tanah.

Joker yang seharusnya menceritakan sisi lucu sebagai komedian dalam talkshow ‘Murray’ tetapi dia malah menceritakan bahwa dia membunuh tiga orang di kereta bawah tanah. Lagi si moderator talkshow, Murray bertanya pada Joker, “Apakah itu lucu menurut anda?” saat Joker menceritakan bahwa ia adalah penembak itu. Joker pun kembali tertawa lagi dan menembak moderator talkshow.

Juga Joker membunuh ibunya yang menurutnya telah berbohong padanya. Lalu datang temannya ke rumahnya dan bertanya, mengapa dia berpenampilan terbaik? Joker pun menjawab bahwa dia merayakan ibunya yang baru saja meninggal. Ini tidak masuk akal. Dia pun kembali tertawa lebih keras dan menembak salah seorang temannya yang datang berkunjung padanya.

***

Saat kita tahu bahwa seseorang tertawa, kita berpikir bahwa ada sesuatu yang lucu sehingga perlu ditertawakan. Kita berpikir ketika ada orang tertawa bahwa dia adalah orang yang sedang berbahagia. Tawa menjadi simbol sukacita. Tetapi justru sukacita itu tidak dirasakan Arthur. Dia tertawa karena dia sendiri pun tak mengerti, mengapa dia harus tertawa?

Arthur si Joker yang sering tertawa dengan tawa yang identik hidup penuh sukacita justru hidup dalam kesusahan di pinggir kota yang kumuh. Dia berjuang keras karena hidupnya yang secara ekonomi begitu sulit.

Lesson learned dari film ini, tentu berbeda-beda tergantung pemahaman masing-masing penonton. Bagi suami saya, film ini terasa membosankan seperti adegan Joker yang tertawa panjang dan lama. Tetapi saya katakan bahwa tawa Joker itu penuh makna sehingga disorot lebih lama. Joker hanya berperan bahwa tawa itu tidak selalu terasa sukacita dan terhibur.

Sungguh saya tak mengerti tawa Joker.