Mesir (15): Luxor Dheir el-Bahari, Pernah Jadi Kompleks Pemakaman Firaun Hingga Situs Biara Kristen Awal

Tampak depan.
Patung Sphinx.
Tangga untuk naik ke lantai paling atas.
Tampak ada dua lantai.

Naik kereta ini dari pintu masuk hingga ke temple.

Hari Jumat tiba program acara di pagi hari adalah pergi ke salah satu temple di sekitar Luxor. Semua bergegas sarapan pagi dan segera meninggalkan kapal. Bis kami menuju luxor yang memiliki kekayaan sejarah di masa lalu. Salah satunya temple yang kami kunjungi ini sudah ada sejak abad 15 sebelum masehi. Bahkan temple ini pun semakin diperluas saat Firaun Hathepsut berkuasa. Di sini anda akan melihat ruang untuk firaun tersebut yang dimakamkan di sini. Kini kamar tersebut sudah kosong tentunya.

Begitu tiba, karcis masuk dibagikan pada kami satu per satu. Saat kami datang, suhu udara benar-benar terik sekali. Jika anda ke sini, anda perlu penutup kepala, kacamata surya dan pakaian casual. Lokasinya juga tampak gersang sehingga anda perlu juga bawa air minum. Dari pintu masuk, anda bisa berjalan kaki tetapi kami semua memilih naik kereta yang disediakan.

Nama temple di tiket masuk tertulis “El Deir Al Bahari Temple” yang bisa diterjemahkan menjadi biara yang terletak di utara. Setelah hadir jemaat kristen awal di tanah Mesir, temple ini sempat menjadi monastery. Namun dahulu temple ini menjadi kompleks pemakaman firaun yang dibangun berabad-abad silam sebagai bukti kejayaan Mesir sebelum masehi. Pada abad 19 mulailah dilakukan penyelidikan sejarah keberadaan mumi dan bangunan yang megah ini di lembah sungai nil.

Hingga kini penyeledikan tiap sudut kamar dan dinding yang menghiasi temple ini tak pernah selesai. Itu sebab kita melihat ada rumah pasir yang dibangun mirip sebagai kediaman para ilmuwan dan arkeologi. Bangunan megah ini masih menjadi misteri peradaban manusia berabad-abad silam.

Salah satu area di temple ini juga disebut sebagai tempat yang disucikan. Orang Mesir menyebut tempat tersebut sebagai Djeser-Djeseru yang berarti ‘Mahakudus’ dan pembangunannya memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Bahkan ruangan ini pun memiliki arsitektur yang menawan. Konon arsitek ruangan ini adalah kekasih Hatshepsut. Lokasinya berada di lantai atas. Hatshepsut disebut sebagai wanita paling tangguh di Mesir. Pada jaman kejayaan firaun ini, Mesir banyak mengalami kemajuan.

Jika anda datang ke sini, ada tiga tingkat bangunan yang bisa diamati. Lantai paling bawah, tidak banyak yang bisa diamati. Tingkat pertama pengunjung bisa melihat kamar Hathor dan Annubis. Sedangkan di tingkat dua terdapat ruang untuk Ptolomeus dan Amun-re.

Jika anda datang ke sini, anda akan lihat bangunan yang masih megah padahal dibangun sebelum masehi.

Dewa Anubis.

Sepertinya dewa Set, dewa tertua di Mesir.

Lebih dekat dengan simbol dewa.

Ada yang masih utuh dan tidak utuh lagi.

Ruangan dalam, salah satunya.

Pemandangan dari atas ke bawah.

Rumah arkeolog dan ilmuwan sekitarnya.

Suhu yang terik meski saat itu kami datang jam 8 pagi, telah membuat kami tak betah berlama-lama di situ. Kami beranjak pergi. Tour guide membiarkan kami mengeksplor dan berfoto-foto selama empat puluh menit. Aura mistis dan suhu udara yang tak bersahabat membuat saya segera ingin ke bis yang punya pendingin.

Lokasi wisata ini wajib dikunjungi karena pemandangan yang indah di lembah sungai nil. Jika anda suka sejarah maka lokasi ini juga menjadi cikal bakal cerita dewa Mesir, mumi dan peradaban manusia di masa lalu yang tak selesai diselediki.

Saran dari saya

  1. Jika ada orang yang menawarkan bantuan berfoto atau jasa tour guide sebaiknya anda menolak dengan sopan.
  2. Agar nyaman datang ke sini, sebaiknya anda datang pagi hari atau menginaplah di sekitar Luxor agar bisa datang pagi hari.
  3. Bawa air minum.
  4. Siapkan uang receh jika anda ingin ke toilet.
  5. Jika anda ingin beli sovenir, tawarlah harga tersebut.
  6. Gunakan pakaian casual dan alas kaki yang nyaman.
  7. Pakai penutup kepala dan kacamata surya.
  8. Terakhir, ikuti petunjuk tour guide agar anda tetap aman.

Bagaimana menurut anda?

Advertisements

Mesir (14): Kuil Esna di Pinggir Sungai Nil

Tampak depan.

Jejak bersejarah depan kuil Esna kini tak nampak lagi. Dahulu ada patung berkepala singa di sini.

Pemandangan dari dalam kuil ke luar, tampak petugas berjaga.

Pagi subuh Sang Kapten sudah mengemudikan kapal dari Edfu ke Esna, jaraknya 55 kilometer dari Luxor. Esna ini bagian dari teritori pemerintahan kota Qena, yang pernah saya ceritakan di sini. Bisa dikatakan letak Esna menjadi persinggahan dari Luxor ke Assuan, begitu pun sebaliknya. Di Esna ini kami akan mengunjungi kuil Khnum yang letaknya di pinggir sungai nil. Dahulu temple ini begitu mengagumkan karena temple ini dibangun untuk Dewa Khnum.

Kami sudah bersiap di lobby bawah untuk berjalan dalam rombongan turis berbahasa Jerman. Rupanya jarak temple dengan dermaga kapal begitu dekat. Sementara kami trip ke temple, karyawan kapal pergi sembahyang di masjid dermaga. Ya, ini adalah hari Jumat. Senandung pujian dilantunkan di masjid dekat dermaga, sambil kami berjalan kaki mendekati Esna Temple, dengan jarak tak jauh dari dermaga.

Suhu hari itu mencapai 40 derajat celcius. Kami sudah mengetahuinya dari tour guide kemarin. Masing-masing kami sudah dilengkapi topi atau penutup kepala, kacamata surya dan sunblock untuk melindungi kulit. Untuk mencapai temple kami harus melewati area rumah penduduk yang dijadikan toko sovenir. Kini temple yang dulunya begitu indah, karya peninggalan kejayaan romawi sudah tampak tak terawat. Konon kuil khnum pernah ada pada jaman Ptolomeus, didirikan saat dinasti Tuthmosis III.

Ketika kami tiba, petugas pintu masuk mengontrol barang bawaan kami dan menyobek tiket masuk. Letak temple menjorok ke bawah, dimana kami harus menggunakan tangga kayu seadanya. Di samping temple dibangun rumah penduduk yang rapat. Jika anda masuk langsung ke tengah, kita bisa melihat jejak asap yang menutupi langit-langit temple yang dulunya indah. Ya, penduduk setempat pernah menetap dan tinggal dalam kuil. Mereka memasak dan menjadikan kuil sebagai tempat tinggal.

Gambaran raja dengan senjatanya jaman dulu.

Tampak tangan terikat bagi mereka yang melanggar kejahatan.

Ada 24 tiang besar setinggi 17 meter berhiaskan pujian dan nyanyian untuk dewa.

Langit-langitnya tampak menghitam, akibat tak terawat dulu.

Di atas tampak domba jantan yang mewakili Dewa, selain Dewa Khnum.

Kuil ini rupanya tidak hanya didedikasikan untuk Dewa Khnum saja, ada beberapa dewa lain yang juga disenandungkan lewat ukiran yang ditampilkan di sini seperti Neith, Heka, Seftet dan Menheyet. Ukiran tersebut tampak lebih baik dibandingkan kuil lain, seperti ada warna-warni yang berhias pada kuil. Itu dikarenakan kuil ini dibangun pada jaman orang Mesir sudah mengalami kemajuan, pada periode Yunani dan Romawi. Bahkan Kaisar Claudius dari Bangsa Romawi sempat memperlebar kuil ini yang semula hanya berada di sisi barat aula saja. Total ada 24 tiang besar di aula kuil yang dipenuhi dekorasi hiasan, dengan atasnya adalah ukiran bunga seperti bunga lotus yang jadi simbol wilayah Mesir atas atau bagian selatan Mesir.

Seperti aula yang besar dengan tinggi mencapai tujuh belas meter, kuil ini berhiaskan pujian kepada Dewa Khnum. Selain itu kuil ini memperlihatkan bagaimana kehidupan masyarakat dahulu di jaman kekaisaran romawi. Bagaimana raja mempersenjatai dirinya untuk melawan kejahatan. Di sisi lain diperlihatkan penjara itu ada bagi mereka yang bersalah dan harus dihukum. Ada tangan-tangan terikat yang diperlihatkan jelas bagi mereka yang pantas dihukum. Pemerintahan dan keadilan sudah lama diterapkan di Mesir kuno.

Langit-langit kuil sebagian hitam dan sebagian lain memperlihatkan astronomi dalam huruf hierogliph. Di sini diperlihatkan zodiak tentang gambaran masyarakat dulu mempercayainya simbol dan lambang kelahiran. Lainnya kita bisa melihat hewan dan unggas yang juga hidup pada masa tersebut. Dahulu hewan liar dianggap mewakili roh jahat, yang harus berhati-hati menghadapinya. Sedangkan domba diperlihatkan sebagai hewan baik.

Gambaran astronomi dan zodiak, misalnya lambang scorpio.

Warna-warni pada huruf hierofliph memperlihatkan kuil ini dibangun pada saat masyarakat dulu tampak maju dibandingkan yang lain.

Di depan kuil kini sudah tak utuh lagi. Dahulu ada patung berkepala singa yang melambangkan Dewa Manheyet. Kini semua tampak tak terlihat utuh. Menariknya di sini terdapat sisa-sisa kapel para jemaat Kristen Awal yang diperlihatkan batu altar yang tak utuh dan ruang ganti imam. Di Mesir ada sebagian kecil penganut kristen yang disebut orang Koptik.

Kami tak berlama di kuil ini. Selain suhu udara yang menyengat, kami sudah merasa waktu makan siang segera tiba. Kami bergegas menuju kapal, tepatnya restoran untuk makan siang. Anak buah kapal dan karyawan yang melayani kami di kapal kini telah kembali dari sembahyang di masjid terdekat.