Mana yang Dipilih, Tahu Bumbu Kari atau Sapi Bumbu Kari? Makanan Khas Asia (32)

Rindfleisch kokosmilch curry atau Sapi bumbu kari.
Tofu Kokosmilch curry atau tahu bumbu kari.

Apakah anda suka makanan bersantan dan berasa pedas? Jika ya, mungkin anda perlu mencoba kuliner khas Thailand yang sudah mendunia ini. Makanan ini berbumbu kari yang khas dan tentu berbeda dengan kari dari negara lainnya.

Makanan berbumbu kari dari Thailand berwarna merah dan berkuah santan. Kuah santannya benar-benar kental. Bumbu yang merah yang dihasilkan berasal dari paprika.

Pertama, rindfleisch kokosmilch curry. Kari ini direkomendasikan jika anda suka makan daging sapi. Sayurannya seperti biasa terdiri atas timun jepang, wortel, buncis, paprika, brokoli dan kubis. Kemudian irisan daging sapinya lembut dan tidak alot. Apakah terbanyang bagi anda menikmati kuah kari yang kental berisi sayuran dan daging sapi ditambah nasi putih?

Setelah saya mencicipi kari dengan daging sapi kemudian di lain hari saya mencoba kari dengan tahu. Apakah masih terasa enak meski dengan tahu? Itu pemikiran saya.

Kedua, tofu kokosmilch curry. Yups, tahu ternyata enak juga diberi kuah santan kental dan berbumbu kari. Kadang saya pikir jika santannya tidak begitu kental maka ini mirip seperti sayur lodeh. Oh ya, tahu sepertinya tahu putih. Kebanyakan tahu putih yang dijual di sini berasal dari Vietnam.

Kedua menu kari di atas menurut saya sama-sama enak. Jika anda vegetaris maka kari dengan tahu patut dicoba.

“Yam Nua” Thai Rindsalat, Salad Asal Thailand: Makanan Khas Asia (29)

Salad sayuran dengan potongan daging sapi.
Makan salad dengan roti, pernah coba?

Ketika berwisata ke Thailand, saya sering mencicipi kuliner di sana. Pasalnya rasa dan citarasa masakan Thailand tak ubahnya seperti di Indonesia. Itu sebab di Jerman pun, jika rindu masakan tanah air setidaknya saya bisa mengobatinya dengan masakan khas negeri gajah putih ini. Selain ada nasi tentu masakan Thailand juga berbumbu pedas sebagaimana selera saya.

Sehubungan dengan masakan Thailand yang berasa pedas, mungkin anda pecinta pedas bisa mencicipi yang satu ini. Masakan berikut disajikan di restoran Jerman-Thailand dalam menu vorspeissen, artinya sebagai hidangan pembuka. Namun bagi saya, saya memilihnya karena sajiannya yang berisikan aneka sayuran segar dengan rasa pedas. Oh ya, pemilik restoran ini adalah sepasang suami-isteri perkawinan campur. Suami adalah seorang pria Jerman dan isteri adalah seorang perempuan Thailand.

Lanjut soal masakan Thailand, saya memang selalu tergoda dengan salad buatan mereka. Selain rasa pedas juga asam manisnya benar-benar pas di lidah saya. Bagi saya, rasa pedasnya masih wajar dan tidak membuat lidah terbakar. Contoh salad mereka yang saya suka, juga pernah saya bahas di sini.

Baca https://liwunfamily.com/2017/11/12/curryhuhn-mit-kokosmilch-und-salat-masakan-asia-di-jerman-3/

Jika di Eropa punya berbagai macam salad seperti yang pernah saya ceritakan, maka rasa salad khas Asia seperti Thailand berbeda jauh.

Baca https://liwunfamily.com/2018/05/28/tiga-ide-salad-kreatif-yang-bisa-ditiru/

Yam Nua itu semacam salad sayuran yang ditambahkan potongan daging sapi. Apa yang saya suka dari salad ini adalah saus atau dressing. Sausnya terbuat dari cabai rawit, bawang putih, sereh, kecap ikan, jeruk nipis, garam dan gula. Semua bahan dihancurkan dengan uleg batu. Lalu digunakan untuk merendam aneka sayuran seperti kol, kol merah, timun dan tomat. Ada khas masakan Indochina di sini yakni daun ketumbar yang juga dijadikan salad di sini. Sedangkan mengolah daging sapi itu seperti memasak steak, yakni dipanggang hingga kedua sisi berwarna kecokelatan. Setelah masak, daging sapi dipotong kecil-kecil. Nikmat sekali!

Hal menarik dari rindsalat ini adalah memakannya bersamaan dengan roti. Terus terang saya tidak terbiasa mengunyahnya. Namun karena saya memesannya kala makan siang, dua iris roti pun saya santap juga. Saat saya memesan salad di Thailand, tidak ada roti sebagai side-dishes. Bisa jadi rindsalat ini berada di Jerman sehingga perlu roti untuk melengkapinya. Begitulah, sementara suami saya tampak asyik menikmati sajian schnitzel yang dipesannya.

Hmm, bagaimana menurut anda?

Hühnerfleisch in Thai Curry: Makanan Asia di Jerman (17)

Pernah mencicipi masakan kari ala Thailand? Saya pernah mencobanya di Thailand dan Indonesia. Semuanya enak menurut saya.

Di Jerman tersebar berbagai masakan Asia yang dijual di restoran atau kedai imbiss. Salah satunya yang populer adalah Hühnerfleisch yakni kari ayam ala Thailand. 

Bahan yang diperlukan: 

  1. Wortel yang diiris halus.
  2. Brokoli.
  3. Daun bambu, tiriskan dari airnya.
  4. Jamur.
  5. Paprika.
  6. Bawang bombay.
  7. Santan kelapa.
  8. Bumbu kari merah.
  9. Daging ayam fillet yang sudah dipotong kecil.
  10. Air.
  11. Minyak sayur.

    Langkah memasak: 

    1. Rebus selama dua menit dalam air mendidih wortel dan brokoli hingga layu.
    2. Tumis bawang bombay dan paprika.
    3. Masukkan daging ayam fillet dan tumis sebentar.
    4. Masukkan semua sayuran.
    5. Tambahkan bumbu kari sesuai yang diinginkan. Masukkan santan kelapa.
    6. Tambahkan sedikit air.
    7. Hidangan pun siap disajikan setelah matang bersama nasi hangat.

    Selamat mencoba!

    Kokos Suppe mit Gemüse, Sayur Lodeh ala Thailand: Makanan Asia di Jerman (9)

    Kokos suppe mit Gemüse.

     
    Makanan berikut yang saya temukan mirip seperti sayur lodeh di restoran selera Asia di Jerman. Boleh dibilang makanan ini mirip juga seperti di Thailand yang biasa menggunakan bumbu kari dan santan. Namun pastinya makanan ini diklaim berasal dari Asia karena saya menemukannya di restoran citarasa Asia.

    Cara membuatnya juga mudah.

    Bumbu kari yang digunakan.

    Santan kelapa.

    Bahan yang diperlukan:

    1. Sayuran (wortel, sawi putih, buncis, jamur dan brokoli)
    2. Bawang bombay
    3. Santan kelapa
    4. Bumbu kari merah khas Thailand
    5. Garam, gula dan cabai halus.
    6. Minyak sayur

    Langkah memasak:

    1. Potong sayuran menjadi lebih kecil. Bawang bombay diiiris halus.
    2. Panaskan wajan dan tambahkan minyak sayur. Tumis bawang bombay.
    3. Masukkan semua sayuran. Masak hingga setengah matang.
    4. Masukkan santan, cabe halus dan bumbu kari merah. Masak hingga berbuih.
    5. Tambahkan garam dan sedikit gula.
    6. Masak beberapa menit. Selesai.
    7. Hidangkan bersama nasi putih.

    Apakah anda tertarik mencobanya?

    Curry Huhn mit Kokosmilch, Asian Food Haiky: Rekomendasi Tempat (7)

    Suasana restoran.

    Nasi dan Curry Huhn mit Kokosmilch.



    Jika saya datang ke mall, tempat makan Asian Food Haiky selalu dipadati banyak orang. Bahkan saat anda datang di kala makan siang saja, anda perlu masuk dalam antrian yang panjang. Itu yang terjadi saat kedua kali saya datang untuk makan siang di situ. Kali pertama, saya memesan dapat dilihat di sini.

    Makanan berikut yang saya bagikan adalah masakan berbumbu kari khas negeri Thailand. Sebelumnya, saya sering memesan makanan ini bila sedang berada di Asia. Saya pikir mungkin ada perbedaan penyajian untuk masakan chicken curry di Jerman.

    Asian Food Haiky juga begitu digandrungi teman-teman mahasiswa Asia lainnya. Letaknya di mall dan tak jauh dari kampus sehingga membuat mahasiswa sering kedapatan nongkrong di tempat ini. Namun bukan itu saja, sesungguhnya duduk di sini maka anda akan mendapatkan gratis internet secara tidak langsung. Lalu juga ada harga diskon bila menunjukkan kartu mahasiswa pada hari tertentu.

    Curry Huhn mit Kokosmilch.



    Kembali ke soal makanan, curry huhn mit Kokosmilch. Makanan ini merupakan sup kari berkuah kental dari santan kelapa (kokosmilch) yang berbumbu kari. Di dalamnya tersedia irisan daging ayam dan sayuran yang lengkap. Sayuran terdiri atas wortel, brokoli, jamur, sayur bambu, paprika, kol putih dan buncis. Santan berbumbu kari pada masakan ini membuat semuanya terasa lezat. Ini enak sekali!

    Untuk menyantapnya, restoran ini memberikan nasi sekaligus dalam satu paket. Jadi, memang tidak perlu biaya tambahan untuk membeli nasi putih, kecuali anda memerlukan satu porsi nasi lagi. Lalu di sini juga ada nasi goreng, mereka menuliskannya demikian di papan informasi menu di atas kasir. Atau, jika anda rindu masakan Indonesia, di sini ada juga bakmi goreng.

    Karena Indonesia selalu populer dengan kedua masakan tersebut, nasi goreng atau bakmi goreng maka ini mengingatkan saya pada teman saya asal Iran. Dia mengatakan bahwa makanan Indonesia luar biasa enak. Dia sering memesannya di restoran Asia di Jerman. Senang rasanya, ada orang asing yang bisa mengenal masakan Indonesia.

    Bagaimana dengan anda sendiri? Menu Favorit apa yang ingin anda pilih jika datang ke restoran Asia?

    Tom Yum Suppe: Masakan Asia di Jerman (4)

    Bumbu tom yum yang diimpor langsung dari Thailand. Komplit isinya, termasuk sudah ada daun jeruk, lengkuas bahkan cabai kering.

    Saya memilih makanan laut terdiri dari udang, cumi, kerang dan ikan yang sudah tercampur ketimbang membeli terpisah. Kemasan ini praktis.

    Sayurannya saya pakai brokoli hijau dan kol putih saja.

    Jamur champignon yang digunakan.

    Siap disantap dengan nasi atau mie.



    Siapa yang tak kenal ‘Tom Yum suppe’ yang berasal dari Thailand ini? Saya sering makan tom yum justru saat tidak di Thailand. Di Indonesia, beberapa kali saya memesan makanan ini di restoran non Thailand. Pertama kali saya perkenalkan makanan ini pada suami saya, dia pun jadi suka. Saya pun tak segan mencoba untuk memasaknya di rumah. Kali ini saya bercerita memasak tom yum dengan semua bahan yang dibeli di supermarket di Jerman. 

    Masakan ini sejenis sup yang berkuah berisi aneka makanan laut seperti udang, cumi, kerang dan ikan. Untuk sayurnya pun bisa dipilihkan jamur dan beberapa sayuran yang disukai. Kuahnya berasa sedikit masam dan pedas menyegarkan. Jika anda tak suka rasa yang demikian sebaiknya tidak usah mencoba, apalagi bila anda alergi sea food


    Mari lanjutkan dengan memasaknya!

    Bahan yang diperlukan:

    1. 250 Gram cumi, udang, kerang dan ikan.
    2. 450 Liter air.
    3. 100 Gram Jamur champignon.
    4. 1 Bungkus bumbu tom yum.
    5. Brokoli hijau dan kol putih secukupnya.
    6. Bubuk paprika secukupnya bila suka pedas.
    7. Jeruk nipis.
    8. Bawang bombay yang diiris halus.
    9. Kecap ikan, gula, garam secukupnya.

    Cara memasak:

    1. Rebus dulu brokoli hijau dan kol putih secara terpisah sampai masak. Jika sudah matang, tiriskan airnya.
    2. Agar seafood setengah matang, saya manfaatkan air rebusan sayur untuk merendamnya beberapa saat.
    3. Masukkan 450 liter air dalam panci. Kemudian tambahkan bumbu tom yum suppe semuanya dan bawang bombay yang sudah diiris sebelumnya.
    4. Masukkan jamur champignon dan seafood ke dalam air. Masak kira-kira 5 menit dengan api sedang.
    5. Tambahkan brokoli dan kol yang sudah direbus sebelumnya. Masukkan irisan jeruk nipis ke dalam.
    6. Cicipi dulu rasa yang dikehendaki. Jika suka tambahkan sedikit garam, kecap ikan dan gula sedikit.
    7. Masak beberapa saat sampai mengental kuahnya. 
    8. Siap disajikan.

    Saran penyajian:

    1. Untuk seafood, saya pilih yang sudah bercampur isinya sehingga lebih murah harganya. Namun anda bisa pilih tertentu saja misal hanya udang dan cumi saja.
    2. Anda bisa tambahkan irisan cabai dalam kuah sup jika ingin pedas.
    3. Anda bisa juga tambahkan sayurnya dengan irisan tomat, daun bawang dan tauge.
    4. Jika anda tak suka berasa masam, tak usah tambahkan jeruk nipis.
    5. Anda bisa sajikan bersama nasi hangat atau mie yang sudah direbus terlebih dulu.

    Selamat mencoba!

    Curryhuhn mit Kokosmilch und Salat: Masakan Asia di Jerman (3)

    Makanan pertama, Curryhuhn mit Kokonosmilch.

    Makanan kedua, salat khas Thailand.

    Tak pernah habis mengulik soal makanan, terutama masakan asing di luar Indonesia. Kali ini saya membahas masakan dari negeri Gajah Putih. Mengapa? Saya rindu masakan Indonesia kemudian apa daya tidak sedang berada di wilayah yang ada restoran Indonesia plus saya malas masak. Wiken memang waktunya berburu makanan. Selain mencoba rasa baru, mungkin menarik saya bagikan lewat tulisan di sini.

    Di kota München ada beberapa restoran franchise Thailand yang sudah punya nama. Artinya restoran ini tak pernah sepi dikunjungi peminat mulai dari orang Asia macam saya hingga mereka penduduk lokal yakni orang Jerman sendiri. Saya lupa nama restorannya, tetapi kali ini saya ingat nama masakan mereka. 

    Pertama, Curryhuhn mit Kokosmilch. 

    Nama masakan memang terdengar Jerman, namun sesungguhnya ini adalah masakan ayam bumbu karri. Untuk karri sendiri menggunakan santan, dimana di sini disebutnya Kokosmilch

    Si pramusaji datang dengan ramah membawakan masakan ini kepada saya. Mungkin dikira saya orang Thailand karena ini sudah kesekian kali saya diajak bicara bahasa Thai namun saya hanya menjawab “Entshuldigung, Ich komme nicht aus Thailand.” Lalu mereka pun tersenyum maklum sambil pergi. Kadang mereka berpikir saya adalah orang Filipina. Lanjut ke cerita masakan!

    Masakan ini berkuah agak kental karena mengandung santan kelapa. Rasanya enak menurut saya. Ada sayuran seperti labu dan daun bambu ditambah irisan cabai merah. Kuah karrinya benar-benar terasa, tidak encer hanya berasa air saja. Daging ayam fillet berupa potongan-potongan kecil. Saya suka sekali. Karena belum berasa pedas, saya tambahkan cabai kering khas Thailand. 


    Kedua, salat khas Thailand.

    Jika anda berkunjung ke Thailand, mereka punya berbagai pilihan salat yang patut dicoba. Saya biasa membahas salat resep buatan Mertua, sekarang saya sontek bagaimana salat buatan Thailand. 

    Salat ini rasanya menyegarkan. Kuah cukanya tidak berasa kecut dan sedikit berasa manis mungkin pengaruh sayuran di dalam. Isiannya semua sayuran dan mie bihun halus. Sayuran ada daun selada air, tomat, bawang bombay dan cabai merah. Sepertinya membuat salat ini tak sulit, mungkin anda bisa praktikkan di rumah.

    Begitulah perkenalan makanan khas Thailand yang saya cicipi. Semoga menginspirasi🍽

    Thailand Setahun Lalu Kala Sang Raja Wafat

    Jalan utama kota Bangkok setahun lalu.

    Semua berkabung dan mengenakan pakaian hitam. Tampak kejauhan adalah Grand Palace.

    Ribuan pelayat berpakaian hitam dan berpayung melewati pemeriksaan.

    Kami mendadak transit di Bangkok. Wah, lumayan bisa jalan-jalan dulu sementara  dan melanjutkan penerbangan keesokan harinya. Agar dapat berwisata dengan jarak terdekat, kami memilih menginap di area Khao San Road, di pusat kota Bangkok. Bergegas kami menuju ke sana dan mencari penginapan ala kadarnya karena tidak booking hotel sebelumnya. Puji Tuhan, hotel sudah saya dapatkan mengingat saya sudah sering ke Bangkok. Dengan wajah yang ramah, saya meminta staf hotel untuk mengijinkan saya menginap karena staf hotel masih mengingat saya dengan baik beberapa tahun lalu.

    Setelah tiba di hotel, kami mencari makan malam di Khao San Road, kawasan yang tak pernah sepi dari turis. Phad Thai Nodles jadi pilihan karena terlihat begitu banyak orang yang memesan. Banyak turis duduk dan merayakan kebersamaan di bar, kafe, pub dan beberapa restoran. Sementara banyak juga yang terlihat memadati pedagang kaki lima membeli makan malam.

    Phad Thai Nodles sebagai street food.

    Khao San Road yang tak pernah sepi.

    Phad Thai Nodles ini semacam mie yang terbuat dari beras dan mie kuning yang dicampur kemudian dimasak layaknya bakmi goreng. Di dalam isian ada campuran sayuran seperti sawi hijau, wortel dan kol yang diiris. Selain sayuran si pedagang menambahkan telur, udang dan irisan cumi. Sebagai topping akhir, pedagang memberikan kacang goreng. Bagaimana rasanya? Saya pikir rasanya tidak terlalu lezat namun cukup untuk membuat perut tidak lapar malam itu.

    Saya melihat mayoritas orang di sana mengenakan pakaian hitam. Benar bahwa saat kami datang, Thailand sedang berduka karena Sang Raja wafat. Untung kami membawa pakaian hitam, sepertinya besok saat jalan-jalan kami pun akan mengenakan pakaian yang sama. Si pedagang memperhatikan tampilan kami yang memang tidak mengenakan pakaian hitam karena kami sebenarnya hanya transit sebentar di Bangkok. Lalu dia menunjuk begitu banyak pedagang kaki lima lain yang masih berjualan pakaian berwarna hitam, letaknya tak jauh dari kami. Saya pun menjelaskan kepadanya dalam bahasa Inggris bahwa kami juga bawa pakaian hitam hanya kami baru saja tiba dari negara lain.

    Keesokan pagi, tampak jalan-jalan utama di Bangkok dipenuhi banyak orang berpakaian hitam. Kami bergegas pergi menuju Wat Pho yang letaknya bersebelahan dengan Grand Palace, tempat raja disemayamkan. Ribuan orang bahkan mungkin jutaan orang memadati jalan utama ini, apalagi jalan ini ditutup untuk kendaraan. Kami hanya berjalan tak jauh dari kawasan Khao San Road. Untuk bisa datang ke Grand Palace, tiap orang harus melewati pemeriksaan keamanan dan tentunya untuk turis harus menunjukkan identitas paspor.

    Sepanjang jalan utama ini, beberapa tenda menawarkan minuman dan makanan gratis bagi rakyat Thailand yang sedang berkabung dan datang untuk melayat. Salut saya terhadap antusias warga di sana, mereka rela berpanas-panasan, antri dan datang dari seluruh Thailand untuk memberi penghormatan terakhir pada Sang Raja. Raut kesedihan masih tampak pada wajah mereka. Kesedihan memang terasa untuk semua rakyat Thailand. Televisi di hotel juga memperlihatkan semua tayangan berwarna hitam putih. Beberapa kali informasi kedukaan ditayangkan di televisi.

    Begitulah pengalaman setahun lalu kala Sang Raja Thailand wafat.

    Makanan Asia di Jerman (2): Asian Food Haiky

    Bagi mahasiswa perantau, rindu makanan Asia bisa datang ke sini karena diskon 10% dengan menunjukkan kartu mahasiswa. Ini Thailand Chicken Curry.

    Detilnya chicken curry ada sayur rebung, paprika, timun, wortel, kol dan daging ayam lalu diberi santan dan kuah kari.

    Jika anda datang ke Jerman, tak usah khawatir bila rindu masakan khas Asia. Pasalnya hampir di semua kota di Jerman ada restoran citarasa Asia. Di restoran Asia di sini kita bisa menjumpai masakan khas Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand dan Vietnam. Tentunya rasa masakan ini tak jauh berbeda dengan masakan yang biasa kita jumpai di Indonesia. Lagi pula makanan Asia kebanyakan no pork alias halal dimakan.

    Nasi dan sayuran kuah santan bumbu kari khas Thailand. Ketika lihat gambar di daftar menu, dipikir ini semacam cap cay ternyata kari hanya isinya sayuran saja.

    Kali ini saya mampir di restoran franchise Asian Food Haiky yang katanya ada di beberapa kota besar di Jerman. Restoran ini ada di sebuah mall di Selatan Jerman. Setiap jam makan siang tiba, jangan harap anda bisa langsung makan tanpa mengantri! Itu artinya butuh kesabaran memesan makanan di sini.

    Hal pertama yang dilakukan adalah anda berdiri di depan kasir lalu pilih makanan yang akan dimakan. Agar orang di belakang anda tidak mengomel saat anda masih berpikir menu yang akan disantap maka sebaiknya lihat dulu menu makanannya baru memesan di depan kasir. Semua daftar menu dijelaskan secara rinci dalam bahasa Jerman. Misalnya Thai Chicken Curry maka akan dirincikan Huhn (daging ayam) mit cocos sauße (saus kari dengan santan) und reis (nasi). Tentu perincian jenis makanan membuat orang mudah menangkap visualisasi makanan bagi orang yang tidak familiar masakan Asia sebelumnya. 

    Jadi saat memesan makanan, anda tidak mendapatkan buku menu makanan seperti di restoran melainkan terpajang di atas kasir. Ada makanan yang memiliki image foto, ada pula yang tidak. Jadi rincian makanan memang diperlukan untuk membayangkan makanan tersebut. 

    Semua karyawan dalam restoran ini adalah pendatang dari Asia. Jadi bisa dibayangkan kadang miskomunikasi pun terjadi antara kasir dengan pelanggan yang mungkin lafal kata dan intonasi yang cepat dalam bahasa Jerman. Untuk itu, daftar menu makanan di papan display juga menggunakan nomor. Anda bisa langsung menyebutkan nomornya dan jumlah makanan yang dipesan. 

    Ada beberapa makanan yang memang langsung tersaji di depan mata saat anda menyebutkan, misal nasi goreng. Mereka ada nasi goreng juga loh. Saat kasir dan si pemesan bertransaksi uang, bisa jadi karyawan lain sudah menyiapkan nasi goreng di hadapan anda. Namun bisa juga saat memesan makanan, makanan tersebut memerlukan waktu untuk memasaknya. Jadi anda perlu bersabar menunggu kira-kira 10-15 menit bila waktu makan siang tiba. 

    Jangan berharap anda bisa memesan segelas es teh manis seperti di Indonesia! Di sini minuman tersedia dalam kemasan yang praktis. Jangan harap pula ada minuman gratis semacam teh tawar di setiap makanan! Jadi anda mesti bayar meski minum segelas air putih sekalipun.

    Untuk peralatan makan sendiri, anda perlu menyiapkannya sembari anda memesan makanan di kasir. Silahkan ambil apa yang anda perlukan seperti sendok, garpu, pisau, tisu dan sedotan. Karena semua itu tidak tersedia di atas meja anda. 

    Seperti biasa di atas meja tersedia garam tabur, kecap dan lada bubuk jika anda merasa perlu menambahkan. So far, pelayanannya baik. Semua makanan di sini tersedia dalam porsi yang besar bagi saya yang terbiasa makan dalam porsi kecil. Namun beberapa pilihan makanan ada yang ditawarkan ukuran medium dan ukuran besar. 

    Jika makan siang tiba, mungkin anda harus berbagi bangku dengan pelanggan lain. Silahkan bertanya dengan sopan “Ist der Sitzplatz frei?” Tentunya mereka pun akan berbagi kursi dengan anda. Namun jika anda sungkan, di restoran ini tersedia paket makan yang langsung dibawa pulang. Kemasannya menarik dan praktis dibawa pula. 

    Oh ya, plusnya lagi di tempat ini adalah bebas internet. Sepanjang anda punya nomor lokal atau nomor telpon Jerman maka anda akan bisa terkoneksi dengan WIFI. Selain itu apabila anda adalah mahasiswa, tunjukkan kartu mahasiwa maka anda akan dapat diskon 10%. Asyik ‘kan!

    Selamat makan!

    Berkunjung ke Wat Pho, Bangkok

    ‘The Reclining Buddha’ di Ayutthaya. Sumber foto: Dokumen pribadi.
    ‘The Reclining Buddha’ di Wat Pho, Bangkok. Sumber foto: Dokumen pribadi.

    Pernah dengar The Reclining Buddha yang ada di Thailand? Yups, the reclining Buddha menjadi icon populer bila berkunjung ke Thailand. The reclining Buddha atau dalam bahasa Thailand disebut Phra Buddha Saiyas berada di Wat Pho, Bangkok. Di sini imej Buddha dibangun berukuran 46 meter panjangnya dan tinggi 15 meter dengan kilau keemasan. Sementara The reclining Buddha yang lain yang pernah saya kunjungi juga berada di Wat Lokayasutharam, Ayutthaya. Bedanya hanya tidak berkilau keemasan seperti yang saya jumpai di Wat Pho.

    Jika anda tinggal di area Khao San Road maka cukup berjalan kaki sejauh 30 menit saja. Wat Pho letaknya tak jauh dari kompleks The Grand Palace. Tiket masuknya sebesar 100 Bath per orang. Sebagai tempat ibadah,  turis seperti anda akan sangat dihargai bila berpakaian yang pantas dan sopan. Petugas perempuan akan menegur bilamana pakaian anda tidak pantas. Jangan khawatir mereka juga menyediakan mantel yang bisa dipinjam selama di lokasi!

    Wat Pho secara resmi disebut Wat Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwaramahaviharn. Namun banyak menyebutnya Wat Pho saja. Sempat berulang kali berganti nama sesuai Rama atau raja Thailand yang menjabat dan juga mengalami beberapa kali renovasi. Sebagai situs bersejarah, Wat Pho menyimpan inscriptions ‘the memory of world’ yang dilindungi, yakni sekumpulan pengetahuan dan kebijaksanaan yang menjadi cermin bangsa Thailand. Di sini bisa ditemukan inscriptions dari berbagai kategori seperti sejarah, agama, tradisi, literatur, bahasa, keilmuan medis hingga kebijaksanaan tentang bangsa Thailand. 

    Phra Buddha Lokanat yang berada di The East Assembly Hall, Wat Pho. Sumber foto: Dokumen pribadi.

    Di Wat Pho, saya jadi mengenal legenda Tha Tien, imej yang mudah ditemui di Thailand semisal di bandara Svarnabhumi, Bangkok. Kompleks Wat Pho yang luas banyak menyimpan sejarah masyarakat Thailand sehingga layak dikunjungi. Jika tidak paham, ada tour guide yang bersedia menemani. Misalnya 2-3 orang membayar 200 Baht. 

    Lalu tiket masuk juga jangan dibuang, silahkan tukar dengan satu botol air mineral dingin! Ohya, anda juga bisa mencoba Wat Pho Massage yang konon terkenal di dunia karena menawarkan relaksasi. Bahkan mereka menawarkan kursus ‘Thai Massage Courses’ bersertifikat yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan Thailand. Wow!

    Petunjuk lokasi Wat Pho. Sumber foto: Dokumen pribadi.

    Tips dari saya:

    1. Gunakan alas kaki yang nyaman. Di beberapa tempat, anda harus melepaskan alas kaki.

    2. Daripada meminjam mantel, lebih baik berpakaian yang sopan. Ingatlah anda datang ke tempat ibadah! 

    3. Tidak usah berpenampilan mencolok dan waspada terhadap copet. Di area yang ramai wisatawan, ada peringatan berhati-hati terhadap copet!

    4. Hormati dan patuhi larangan yang diberlakukan semisal jangan duduk di area yang dilarang!

    5. Perhatikan jika mengambil foto karena lagi-lagi ini tempat ibadah sehingga tidak mengusik mereka yang sedang sembahyang.

    6. Jaga kebersihan! Dilarang buang sampah sembarangan!

    7. Siapkan uang untuk berderma.Sebagai contoh anda bisa menyerahkan 20 Baht dan mendapatkan banyak uang receh yang dapat diletakkan di mangkuk derma.