Trier, Jerman (6): Porta Nigra, Pesona Gerbang Batu Hitam yang Tua

Tampak depan.
Meski hitam namun tetap mempesona.
Maket porta nigra.

Untuk menutup liputan kunjungan saya ke Trier, kali ini masih seputar peninggalan kejayaan bangsa romawi di masa lampau. Sebagaimana kita ketahui, kaisar di masa lalu ingin menjadikan Trier sebagai “roma kedua” dengan membangun bangunan nan megah dan berkonstruksi kuat seperti layaknya kota Roma di Italia. Ceritanya ada di sini. Beberapa situs peninggalannya masih bertahan hingga sekarang. Salah satunya yang akan saya perkenalkan adalah porta nigra.

Porta Nigra diperkirakan dibangun tahun 170 Masehi. Meski berganti abad dan pergolakan jaman, gerbang batu ini masih tampak kokoh dan megah terlihat. Mungkin sang perancangnya membuatnya mirip seperti kebanyakan bangunan di Roma. Cerita saya tentang Roma, bisa dilihat di sini. Jika anda sudah berkunjung ke Roma maka diperkirakan anda akan menemukan banyak kesamaan dengan porta nigra dan beberapa situs peninggalannya yang masih terpelihara hingga sekarang.

Porta nigra letaknya tak jauh dari Karl Marx House. Ini sebagai petunjuk jika anda ingin datang ke Trier. Banyak wisatawan datang ke sini untuk sekedar berfoto atau mengagumi bentuk dan konstruksi bangunan ini apalagi tidak ada tiket masuk untuk datang ke sini. Porta nigra dijadikan titik awal penyelusuran jejak kekaisaran romawi di Trier. Sampai sekarang saya masih mengagumi bagaimana mereka membangunnya hingga masih berdiri sampai sekarang.

Jika kami mengamati dengan seksama, ini semacam blok batu yang dikaitkan satu sama lain dengan kawat logam. Pokoknya saya kagum dengan cara pembangunan mereka. Sayangnya di abad pertengahan, ada tangan-tangan usil yang menjarah logam yang dikaitkan di antara batu. Itu sebab bangunannya tampak sudah tidak utuh lagi. Ditambah lagi, seiring jaman berganti maka gerbang batu ini tampak menghitam. Ini yang jadi alasan dinamakan porta nigra.

Dahulu ini menandai kota percontohan.
Keren, awal abad masehi kota sudah tertata seperti ini.
Dahulu tempat ini dikenal sebagai ‘Simeon’s College’.
Lihat saja bagaimana struktur bangunannya!

Dahulu tempat ini dikenal sebagai “kota moderen” pada masanya karena telah memiliki peta kota. Di sini ada prasasti yang mengatakan bahwa ini semacam kota percontohan pada masa kekaisaran romawi. Kota ini dikenal sebagai “AUGUSTA TREVERORUM”. Kita bisa melihat maket kota moderen sekitar awal abad masehi.

Melalui papan informasi di sini, dikatakan bahwa abad 11 dan 12 Masehi, berdekatan dengan gerbang sebelah timur didirikan Simeon’s College. Simeon adalah santo yang diakui gereja katolik. Beliau rupanya membuat pengajaran dan pelayanan di sekitar tempat ini. Di sini masih ada jejak pendirian gereja. Sayangnya, itu tak berlangsung lama.

Dalam catatan sejarah, Napolen Bonaparte yang menguasai Jerman sempat tak menyukai keberadaan porta nigra. Mungkin porta nigra adalah bagian dari peninggalan romawi. Tertulis dalam papan informasi bahwa tahun 1804 Napolen Bonaparte memerintahkan untuk membebaskan tempat ini dari segala elemen yang berkaitan dengan gereja. Akhirnya porta nigra hanya dibiarkan sebagai gerbang batu tua.

Meski tampak tua dan hitam, porta nigra tetap menjadi magnet bagi wisatawan yang datang ke Jerman. Masih banyak orang mengagumi konstruksi batu yang dikaitkan satu sama lain hingga kokoh. Sebagian lagi ingin menyelami jejak kekaisaran romawi di Trier.

Trier, Jerman (5): Karl Marx House

Tampak depan Museum Karl Marx.
Patung Karl Marx.

Sebagaimana yang saya ceritakan sebelumnya, bahwa Trier menjadi tujuan wisatawan yang datang ke Jerman untuk menyelami sejarah masa lampau. Di Trier ini saya sudah menuliskan situs yang jadi peninggalan kekaisaran romawi. Bahkan bangunan yang megah seperti layaknya di Roma, Italia yang masih dipertahankan hingga sekarang. Rupanya tak hanya itu Trier dikenal, kota ini juga tempat kelahiran pemikir besar dunia. Dia adalah Karl Marx yang dikenal sebagai filosof, ekonom, sejarahwan bahkan bisa disebut politisi. Namanya dikenal dunia lewat buah gagasan yang dicetuskannya.

Sebagian orang di dunia masih mengagumi karya pemikiran Karl Marx ini, terutama wisatawan dari Tiongkok. Itu sebab saat kami datang, ada beberapa kelompok wisatawan asal Tiongkok yang sedang berkunjung. Beberapa wisatawan Tiongkok lainnya tampak antri mengambil foto di depan patung Karl Marx yang dikagumi itu.

Letak museum ini dekat dengan Porta Nigra, yang akan saya ceritakan berikutnya. Karl Marx lahir tahun 1818 di Trier, kemudian wafat tahun 1883 di London. Ia lahir di rumah yang sekarang dijadikan museum. Dahulu Trier masuk dalam wilayah kekuasaan Prusia. Untuk menyelami seperti apa masa kecil dan hidup Karl Marx, silahkan datang ke museum ini!

Dunia pun mengakui buah pemikiran Karl Marx yang kemudian banyak menginspirasi dalam bidang filsafat, politik dan ekonomi. Ia sendiri dinyatakan stateless, tanpa kewarganegaraan. Semasa hidup, ia menetap di beberapa negara Eropa lainnya. Bahkan ia sempat bekerja sebagai jurnalis dan ditahan di London. Meski hidupnya tak mulus dan banyak kecaman, namun banyak orang di dunia yang masih mengaguminya hingga sekarang.

Ini yang menjadi alasan dibukanya kembali museum yang pernah jadi rumah kelahiran Karl Marx. Museum ini awalnya didirikan tahun 1928. Lalu sempat ditutup beberapa kali karena berbagai alasan. Bahkan museum itu sempat dijadikan tempat percetakan, kemudian yayasan. Namun kini museum tersebut dibuka kembali, dengan tambahan lantai tiga yang lebih luas dan lapang.

Untuk masuk, pengunjung dikenakan biaya karcis. Di sini pengunjung bisa mendapatkan informasi lengkap dari mulai brosur dan flyer tercetak hingga media audio lainnya. Setiap tahun tercatat puluhan ribu wisatawan datang ke sini. Sebagian besar wisatawan tidak hanya dari Tiongkok, tetapi juga Eropa Timur dan Rusia.

Trier, Jerman (4): The Electoral Palace, Bukti Peninggalan Romawi Bergaya Rococo

Awalnya bangunan ini dibangun berdekatan dengan basilika konstantin pada abad 4. Bangunan ini dapat disebut sebagai tahta pemilihan jaman kejayaan romawi. Itu sebab namanya pun disebut the electoral palace. Hingga akhirnya bangunan tersebut beralihfungsi.

Berlanjut setelah itu bangunan diperluas tampak sayap dari basilika adalah kediaman uskup pada abad 16. Bangunan ini didesain lebih cantik lagi agar bisa menjadi kediaman uskup masa itu. Rupanya pembangunannya sendiri tak langsung jadi hingga memakan waktu lama. Dibangun abad 16 dan selesai pada abad 18.

Pembangunan awalnya pada abad 16 atas ide seorang uskup menginginkan gaya arsitektur renaisance. Kemudian satu abad kemudian, uskup lain menginginkan gaya arsitektur rococo. Akibat perang dunia, bangunan ini pun tak luput dari kehancuran. Selama dua tahun dilakukan pembaikan, bagian rococo tetap dipertahankan hingga sekarang. Bahkan tempat ini dikenal istana rococo yang paling indah di dunia.

Arsitektur gaya rococo pada dasarnya bisa disebut juga gaya baroque. Gaya rococo muncul di Perancis akhir 18. Gaya ini mengadopsi pada ornamen tanamam palem yang merambat. Hal ini juga banyak dijumpai di gereja katolik yang masih mengadopsi gaya arsitektur ala Eropa. Gaya rococo pada istana ini bisa dilihat di tangga yang indah seperti tanaman merambat.

Di hadapan istana terdapat taman yang indah, asri dan dipenuhi patung-patung yang terukir menawan. Ini adalah hasil karya Ferdinand Tietz.

Saat kami datang, banyak orang senang berfoto di depan taman istana. Datanglah di musim panas! Ketika semua bunga bermekaran warna-warni dan air mancur menghiasi taman.

Trier (3): Konstantin Basilika, Peninggalan Kekaisaran Romawi yang Megah di Abad 4

Sebagaimana cerita tentang Trier sebelumnya, bahwa Trier sempat menjadi “Roma Kedua” setelah Kaisar Konstantin I pindah dan menetap di situ. Itu sebab kita bisa menjumpai bangunan megah seperti Roma yang masih utuh atau pun tinggal puing reruntuhan saja. Padahal jauh sebelum dibangun oleh Kaisar Konstantin, Tier lebih dulu ada sebagai kota peradaban bangsa Celtic sebelum Masehi. Dengan begitu Trier termasuk kota tertua di Jerman.

Kota ini berada di lembah sungai moselle, dekat dengan perbatasan Luxrmbourg. Kota ini juga dikenal dengan produk agraria hasil anggurnya. Nama Trier semakin santer terdengar manakala lahir seorang pemikir dunia, Karl Max. Kota ini menyimpan berbagai bukti historis seperti kejayaan kekaisaran romawi. Selain the imperial baths, yang sudah ditulis maka kini adalah basilika konstantin.

Bangunan dari bata merah terlihat megah dan kokoh ini padahal sudah dibangun sejak tahun 310 Masehi. Pembangunannya terjadi saat Trier dipimpin Kaisar Konstantin I. Itu sebab namanya pun Basilika Konstantin. Dahulu kaisar memanfaatkan aula ini sebagai tempat untuk menjamu dan menghibur tamu yang datang.

Kemudian pada abad 17, basilika difungsikan sebagai kediaman uskup. Tak jauh dari basilika dibangun taman yang indah pada abad pertengahan. Setelah itu abad 19 arsitekturnya pun dialihfungsikan dan aulanya menjadi gereja protestan. Basilika sempat menjadi sasaran kerusakan saat perang dunia. Agar tetap menjaga konstruksi dan ciri peninggalan romawi, basilika mengalami perbaikan tanpa mengurangi nilai historis. Kini kita bisa mengamati arsitekturnya yang terpahat pada prasasti granit, depan basilika.

Interior dalam nampak banyak jendela dengan langit-langit dibuat tinggi. Cahaya dibiarkan masuk dari jendela. Konon ini menciptakan ilusi optik. Di aula dalam kini digunakan jemaat denominasi kristen protestan untuk beribadah. Meski sudah terjadi pergantian dan perbaikan, namun konstruksi bangunannya masih kokoh hingga sekarang. Di abad 4 saja sudah terpikirkan membuat pemanas ruangan bila musim dingin tiba. Keren ya!

Hal menarik lainnya, di seberang basilika nampak seperti alun-alun kota. Lapangan persegi ini dikenal sebagai Martin Luther Platz. Bahkan aula di basilika konstantin menjadi tempat ibadah jemaat denominasi kristen protestan. Ini menandai bahwa Trier yang sangat katolik dahulu, bisa menerima kehadiran ajaran protestan yang dicetuskan Martin Luther, warga Jerman pada 500 tahun lalu. Ini juga bukti menandai keragaman kota Trier sekarang.

Trier, Jerman (2): Imperial Baths, Pernah Jadi Permandian Termegah Dunia Namun Tak Selesai Dibangun

Sekembalinya dari Luxembourg, kami mampir ke Trier. Ternyata ada banyak hal yang menarik di sini. Jika anda suka sejarah, Trier wajib dikunjungi karena terdapat situs kejayaan kekaisaran romawi pada abad 3 hingga 5 Masehi. Dan tak hanya itu, mereka yang kagum pada pemikiran Karl Marx maka di sini tempatnya menyelami jejaknya. Ya, Trier adalah kota kelahiran Karl Marx.

Baiklah, kita fokuskan pada kunjungan pertama yakni The Imperial Baths. Tempat ini masih berkaitan dengan situs yang saya temukan di Konz. Itu artinya Trier pernah menjadi pusat wilayah kekaisaran romawi. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan situs bangunan di Konz dan kini di pusat kota Trier sendiri.

Baca https://liwunfamily.com/2018/10/10/konz-trier-1-melihat-sisa-sisa-kejayaan-kekaisaran-romawi-pada-abad-4/

Dari penelusuran informasi yang saya dapatkan, pembangunan Imperial Baths terjadi pada era Kaisar Konstantius I Chlorus yang memerintah sejak tahun 293 Masehi. Kaisar pindah ke Trier bersama putranya dan membangun Trier sebagai pusat pemerintahan saat itu. Putranya kemudian dikenal kemudian sebagai Kaisar Konstantin I. Beliau ingin menjadikan Trier sebagai “Roma kedua”.

Salah satu bangunan yang megah pada era kejayaannya adalah permandian Kaisarthermal atau the imperial baths. Tercatat hingga tahun 316 Masehi pembangunan permandian ‘the imperial baths’ tak selesai, bahkan tak pernah selesai. Padahal awalnya permandian tersebut ingin dijadikan yang termegah di dunia pada masa itu.

Bagaimana tidak megah dan mewah dalam permandian tersebut? Di era tersebut terbayang ada permandian air panas dengan fasilitas mewah. Katanya orang yang datang tak hanya menikmati fasilitas mandi seperti biasa tetapi ada fasilitas memijat, kecantikan, bersantai, membaca buku hingga kepentingan bisnis lainnya. Rupanya tak hanya fasilitas itu saja, reruntuhan yang tingginya 19 meter yang terlihat dan masih ada hingga sekarang, direncanakan sebagai area teater untuk 650 kursi. Bangunannya disebut amphiteater seperti di Roma. Keren ya!

Sayangnya pembangunannya tak pernah selesai dibangun. Pergolakan politik dan kekuasaan terjadi. Itu yang menentukan keberlanjutan pembangunan permandian ini. Di Konz sebagaimana cerita saya di sini, Kaisar Gratian memimpin di dinasti Valentinin. Dampaknya pun berpengaruh pada permandian mewah dan megah ini. Kaisar Gratian, Valentinin II (375-383 Masehi) memerintahkan agar para prajurit dapat tinggal di permandian ini. The imperial baths kemudian diubah menjadi barak prajurit.

Cerita yang menarik, apalagi jika anda bisa berkunjung menyaksikan pondasi batu yang menjadi kolam mandi air panas yang besar. Menyelusuri kemegahannya juga tidak hanya di atas saja, di bawahnya ada terowongan yang berbentuk labirin. Anda seperti diajak menyelami bagaimana mengesankannya permandian tersebut. Pasalnya di bawah ada lapangan berolahraga juga.

Meski kini situs tersebut tinggal sejarah, namun saya terkesan bagaimana ide permandian megah dan mewah itu pernah dibuat. Karena nilai historis yang terkandung dalam reruntuhan ini, UNESCO menjadikannya sebagai warisan dunia tahun 1986.

Konz, Trier (1): Melihat Sisa-sisa Kejayaan Kekaisaran Romawi pada Abad 4

Kaisar Gratian.
Sisa reruntuhan, diperkirakan area ini semacam aula.
Tiang penyangga.
Struktur bangunan yang masih dipertahankan. Sementara dinding putih adalah gereja.
Disamping puing reruntuhan, terdapat pemakaman umat.

Tak ada yang menduga bahwa reruntuhan dekat Paroki Santo Nicholas, Konz pernah menjadi saksi sejarah kekaisaran romawi pada masanya. Kami pun tak menyangka bahwa di dekat gereja katolik tersebut pernah menjadi kediaman kaisar romawi, Kaisar Gratian. Karena sudah berabad-abad lamanya maka bangunan tersebut kini hanya puing batu-batuan saja. Namun masih terdapat papan informasi yang melengkapi keingintahuan kami.

Kaisar Gratian bernama lengkap, Flavius Gratianus Augustus memerintah pada tahun 367 hingga 383 Masehi. Pada dinasti Valentinian beliau berkuasa. Dia mendapat gelar Augustus dari ayahnya, Valentinin I. Ketika pada masanya, beliau lebih menganut kristen ketimbang kepercayaan lokal masyarakat tradisional umumnya. Gratian tercatat memberi pengaruh bagi berdirinya kristen awal ketika masyarakat masih banyak percaya pada keyakinan pagan.

Di puing-puing bangunan yang kami temukan di Konz, kompleks ini dahulu dikenal sebagai the imperial villa atau Kaiservilla. Meski sudah terlihat tak sempurna, namun masih ada beberapa tiang dan struktur batu-batuan yang dipertahankan. Bahkan ketika kami di sana, ada dua orang peneliti yang sedang melakukan riset di sana.

Diperkirakan bangunan ini sengaja dibangun di lembah sungai moselle. Sungai di jaman dulu menjadi batas wilayah kekuasaan. Di kompleks ini terdiri atas banyak ruang yang terhubung dengan serambi. Menariknya pada masa itu, sekitar abad 4 sudah tersedia sistim permandian air panas.

Bangunan yang kini tinggal sisa-sisa puing memang letaknya berdekatan dengan gereja. Di depan gereja sendiri terdapat pemakaman umat. Dahulu di Jerman, pemakaman letaknya dekat dengan kompleks gereja katolik.

Untuk mencapai situs bersejarah ini, cukup naik kereta dan turun di Konz. Sepertinya dahulu di dekat sungai moselle menjadi kediaman kaisar romawi. Karena Remich, di Luxembourg dikenal menjadi pangkalan prajurit romawi jaman dulu. Tak jauh dari Konz, ada Trier dimana banyak situs peninggalan kekaisaran romawi lainnya.

Nantikan cerita soal Trier selanjutnya!