Salad Daging Sapi, Salad Daging Ayam atau Salad Vegetaris, Suka Mana?

Contoh salad vegetaris, tebak dari negara mana?

Masih soal salad yang tak pernah habis dibahas, apalagi saat ini adalah musim panas. Anda tahu bahwa menikmati salad adalah pilihan tepat agar makanan tidak disajikan dalam kondisi hangat selalu. Rasa salad pun bervariasi nikmatnya, antara asam segar dan manis asin bercampur jadi satu di mulut. Itu yang saya suka. Namun dibalik itu semua, saya telah mengumpulkan empat kreasi salad dari tiga negara di bawah ini.

Barangkali anda tertarik untuk mencobanya sendiri. Dijamin anda puas dengan rasa tiga salad ini.

Salad daging sapi

Irisan daging sapi tipis-tipis disajikan di bawahnya salad. Perhatikan yang diberi lingkaran adalah daging sapi masak.

Salad daging sapi ini berasal dari salah satu restoran lokal yang ada di Jerman. Saya memesannya karena saya sebelumnya sudah pernah menikmati salad daging sapi. Namun salad tersebut berasal dari Thailand. Silahkan temukan pengalaman saya tersebut di link ini! Saya mencoba membandingkan kedua salad daging sapi tersebut.

Salad daging sapi dari Thailand berasa pedas dan asam karena ada cabai dan perasan jeruk nipis bersamaan. Sedangkan salad daging sapi buatan restoran Bavaria ini tidak terasa pedas, hanya asam menyegarkan dari acar timun dan cuka salad. Untuk daging sapi kedua salad tersebut, sama-sama terbuat dari daging sapi fillet yang sudah dimasak sebelumnya dan didinginkan.

Hal menarik dari dua salad daging sapi yang saya nikmati ini adalah ada roti untuk menyantapnya. Ini sih kebiasaan makan salad di restoran di Jerman pada umumnya.

Salad daging ayam

Fillet daging ayam masak dan sudah dingin tampak yang diberi lingkaran.

Untuk salad daging ayam ini saya pesan di restoran Vietnam. Porsi salad daging ayam ini cukup banyak. Tak hanya berisi sayuran saja, ada mie beras dan tentu daging ayam fillet yang sudah masak.

Di Vietnam sendiri jenis salad seperti ini disebut bun xao. Hal menarik dari salad ala Vietnam ini adalah rasa yang gurih asam. Gurih berasal dari daging ayam fillet yang dimasak sebelumnya dan didinginkan sebentar. Ada bumbu yang dicampurkan pada mie beras dan aneka sayuran. Menurut penjual salad, biasanya salad ini dinikmati sebagai makan malam.

Salad daging ayam masakan Jerman.

Sementara salad daging ayam lainnya saya temukan di restoran lokal ala Bavaria, yang sedikit berbeda dengan buatan Asia. Perbedaan terletak pada saus yang digunakan dan rasa saus tersebutnya. Saus pada salad masakan Eropa kebanyakan menggunakan mustard, mayonnaise atau yoghurt yang dicampurkan dengan bumbu racikan si Chef dapur.

Salad vegetaris

Seperti pada tampak foto paling atas, itu adalah salad vegetaris. Saya menemukannya di salah satu restoran India di Jerman. Salad vegetaris ini bisa menjadi pilihan anda yang sama sekali ingin merasakan makanan hanya sayuran dan buah saja. Agar rasanya semakin semarak, ada garam masala dicampurkan di atasnya dan racikan saus yoghurt si juru masak.

Ada rasa asin, manis dan segar yang ditawarkan dari rupa-rupa sayur dan irisan buah segar pada salad ini. Dijamin anda akan semakin suka karena ada taburan kacang kenari yang membuat rasanya tambah gurih. Hmm, aneka rasa dalam lidah.

Advertisements

Menu Vegan, Sekali Waktu Bisa Dicoba

Masih ada saja kekhawatiran bagi mereka yang tidak terbiasa mengkonsumsi makan siang ala vegetarian. Kekhawatiran dipicu bahwa sumber energi menjadi berkurang hanya karena konsumsi makanan hanya berupa sayuran saja. Sementara tubuh di saat siang hari memerlukan energi ekstra agar bisa bekerja menyelesaikan rutinitas pekerjaan. Pertanyaan bukan vegan, apakah mungkin kita bisa bertahan di tengah kesibukan di siang hari?

Saya lihat daftar menu makan siang di kantin kampus. Ada pilihan menu vegan. Saya pun penasaran, apa yang bisa saya peroleh dengan menu vegan?

Saya ceritakan detilnya. Mungkin ini bisa jadi pilihan anda untuk membuat menu vegan bila membutuhkannya.

Pertama, kentang goreng.

Anda pastinya tahu bagaimana membuat kentang goreng. Potongan kentang itu harus dipotong secara presisi sehingga matangnya pun sama. Selanjutnya kentang juga digoreng dengan minyak panas yang cukup untuk merendamnya. Karena jika minyak goreng tidak sanggup merendam keseluruhan kentang maka hasilnya pun tidak optimal. Setelah cukup matang, kentang pun diberi taburan garam.

Kedua, sayuran rebusan

Sayuran ini terdiri atas kol kecil yang direbus dan diberi sedikit garam. Kemudian ada tambahan potongan kentang dan timun jepang yang dipotong dadu kecil, tetapi ini bukan acar. Ini hanya direbus biasa saja. Kemudian dicampur bersamaan kol yang sudah direbus sebelumnya. Tambahkan saus balsamic ke atas sayuran rebus.

Ketiga, jus buah

Jus buah baik untuk menjadi mood booster saat siang hari. Jus buah pilihan kali ini terdiri atas nanas, kiwi dan apel. Ketiganya dicampur dan dihancurkan dengan juicer. Hasilnya sedikit asam tetapi cukup menyegarkan juga rasanya.

Kesimpulan

Dari menyantap makanan di atas, rupanya saya tidak mengantuk setelah kenyang. Kadang-kadang setelah makan siang saya menjadi mengantuk bila aktivitas saya tidak padat. Rupanya saya mengkonsumsi banyak karbohidrat di siang hari, saya menjadi mudah mengantuk. Akhirnya saya menyimpulkan, mengurangi karbohidrat dan memperbanyak konsumsi sayur dan buah agar sepanjang hari membuat tubuh prima.

Foccacia Verdure mit Gemüse und Rucola Sandwich Buat Vegetaris: Makanan Khas Italia (13)

Suatu kali saya ingin menyantap makan malam yang sehat, porsinya tidak besar dan tidak hangat. Mengapa? Saat musim panas seperti sekarang, udara sangat hangat sehingga membuat saya ingin sesuatu yang membuat tubuh tidak ingin berkeringat ketika makan. Mampirlah saya di kafe dan restoran milik orang Italia. Lokasinya menarik di pusat kota yang dapat memungkinkan menikmati pemandangan orang lalu lalang atau lalu lintas jalan raya.

Dengan alasan itu, kami berhenti sebentar. Ada sekian menu khas Italia yang tak asing lagi saya nikmati. Kini saya ingin sesuatu yang berbeda. Muncul keinginan untuk mencoba menikmati Foccacia Verdure, setelah ditulis ini hanya berisi sayuran dan daun rucola. Daun rucola sendiri tidak populer saya kenal di Indonesia, namun daun ini sering digunakan untuk salad dan dijual di supermarket. Jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris, daun ini disebut arugula. Apakah anda mengenal daun ini?

Kembali ke makanan yang saya pesan, datanglah pramusaji menghidangkannya di depan saya. Ini semacam sandwich yang dibelah dua seperti tampak dalam foto di atas. Jelas roti yang disajikan sejenis ciabatta, roti khas yang biasa disajikan di restoran Italia. Isiannya adalah aneka sayuran seperti paprika, terung dan timun jepang yang sudah dipanggang sebelumnya. Aneka sayuran ini tidak dalam kondisi hangat, artinya disajikan di dalam roti ketika sudah dingin. Plus isian roti juga daun rucola seperti yang saya bahas sebelumnya. Daun ini disajikan dalam kondisi masih segar alias tidak dimasak seperti sayuran lain.

Soal rasa saya pikir sandwich ini cukup enak, meski rasanya tidak berlebihan dengan aneka bumbu sebagaimana masakan lainnya. Maklum ini hanya sekedar sandwich. Tak ada saus tomat atau keju yang diletakkan di kedua sisi roti. Sepertinya cukup garam dan merica saja pada sayuran yang diolah untuk jadi isian.

Karena penasaran dengan makanan ini, saya tanya ke teman asal Italia. Dia katakan sandwich yang saya makan bisa berbeda namanya, namun istilah foccacia mengacu pada pastry. Memang hidangan ini cocok dimakan saat makan malam. Atau cocok juga jika anda menyantapnya saat sedang minum alkohol. Sayangnya saya tidak minum alkohol saat itu.

Hal menarik lainnya, foccacia ini merupakan hidangan yang cepat dan sederhana. Dikarenakan cepat dibuat dan tidak memerlukan waktu lama untuk persiapannya. Ini bisa jadi pilihan untuk bekal di jalan misalnya. Oh ya, kreasi lain dari foccacia verdure yakni dibuat seperti kue dan sayuran melengkapi topping-nya.

Dari penjelasan saya di atas, menurut saya makanan ini cocok untuk vegetaris. Mengapa? Sandwich ini hanya terdiri dari sayuran saja. Rasanya cukup enak. Bilamana anda tidak makan daging atau tidak sedang makan daging, bisa mencobanya.

Semoga bermanfaat!

Spaghetti Pesto, Kenyang Meski Tanpa Daging: Makanan Khas Italia (4)

Happy Valentine! Seluruh umat Katolik di seluruh dunia menyebut hari ini sebagai hari “Rabu Abu” atau Ash Wednesday. Dalam bahasa Jerman disebut “Ashermittwoch.” 

Sejak minggu kemarin, kami di sini sudah berpesta yang disebut Fasching untuk menyambutnya. Selain pergi ke Gereja di hari ini, salah satu hal yang dilakukan di wilayah Bavaria sebagai mayoritas penganut Katolik adalah pantang makan daging, termasuk saya dan suami. Restoran banyak menyajikan menu masakan ikan atau tanpa daging.

Menu berikut yang dibagikan adalah spaghetti tanpa daging sama sekali. Mungkin ini bisa jadi ide bagi anda sebagai penyuka vegan atau memang sedang pantang daging seperti saya pada hari ini.

Namanya, Spaghetti Pesto dengan saus yang belum pernah saya coba sebelumnya. Mungkin anda juga belum menemukan saus ini di Indonesia. 

Sementara suami saya memilih makanan Jerman seperti biasanya. Artikelnya menyusul.

Makanan pun cepat tersaji sepuluh menit setelah saya memesan. Memang restoran ini memang diperuntukkan untuk persinggahan sesaat, bukan sekedar hiburan apalagi menikmati waktu. Jadi pelanggan datang dan pergi dengan cepat.

Spaghetti Pesto jika ditelusuri memang berwarna hijau. Sebagaimana normalnya saus spaghetti berwarna merah karena menggunakan pasta tomat. Sedangkan saus pesto tidak menggunakan tomat sama sekali. 

Warna hijau yang dihasilkan berasal dari daun basil. Sausnya terasa creamy menurut lidah saya. Padahal spaghetti ini tidak menggunakan daging apa pun sama sekali. Namun spaghetti saya benar-benar mengenyangkan meski tanpa daging sekalipun. 

Setelah diusut, rasa mengenyangkan dari krim yang dicampurkan bersama kacang pinus dan daun basil. Semua bahan sepertinya dicampur dengan indah dan pas sekali. Bahkan pramusaji masih menambahkan keju parutan, garam dan merica di hadapan saya jika masih diperlukan.

Hal menarik dari spaghetti saus pesto, meski tanpa daging namun ada taburan kacang pinus yang disertakan dalam saus. Anda tentu tidak pernah menemukannya di saus spaghetti lainnya.

Selamat memasuki masa Prapaskah saudara seiman! ❤