Bruder Konrad: Kediaman Terakhir dan Dokumentasi Karyanya

Profil Bruder Konrad yang didokumentasikan.

Benda peninggalan Bruder Konrad.
Pada 21 April 1894, Bruder Konrad wafat di sini.
Ruang pribadi dan kamar tidur Bruder Konrad.

Mengunjungi kompleks perziarahan Ältoting ternyata tak hanya Gnadennkapelle atau Black Madonna saja, peziarah yang datang bisa melihat kapel Bruder Konrad. Semula gereja ini adalah kapel St. Anna yang didirikan tahun 1657. Pada perkembangannya kapel ini dipergunakan sebagai memori Bruder Konrad. Selanjutnya kapel St. Anna menjadi basilika St. Anna, yang letaknya tak jauh juga.

Siapa itu Bruder Konrad, silahkan baca di bawah ini!

Ketika saya mengunjungi Ältoting sebelumnya, kapel Bruder Konrad sedang mengalami renovasi. Akhirnya kami tidak bisa masuk ke dalam. Lalu kali berikutnya, saya mendapati kapel tersebut sudah selesai direnovasi. Banyak orang datang ke situ untuk menghadiri misa yang memang sedang diselenggarakan. Sedangkan sebagian umat lainnya datang mengunjungi kediaman terakhir Bruder Konrad dan dokumentasi karyanya yang menjadi museum.

Saya merasa perjalanan saya menjadi lengkap. Saya pernah mengunjungi rumah kelahiran Bruder Konrad dan kini saya berhasil mengunjungi kediaman terakhir saat beliau wafat. Di kapel Santa Anna, yang kini menjadi kapel Bruder Konrad adalah tempat dimana beliau berkarya yang mendedikasikan hidupnya untuk orang miskin, kelaparan dan tak mampu. Bruder Konrad sendiri banyak menghabiskan diri melayani umat waktu Eropa saat itu terlanda bahaya kelaparan, epidemi penyakit dan perang. Devosinya pada Bunda Maria diperlihatkan melalui ruang doa miniatur yang bisa dilihat pengunjung.

Keranda bekas peninggalannya.
Media lukisan, surat dsb dari orang-orang yang merasakan pengalaman iman melalui Bruder Konrad.
Ruang yang menyimpan media pengalaman iman melalui perantara Bruder Konrad.

Salah satu pengunjung melukiskan pengalaman iman dimana dia disembuhkan dari sakit yang dideritanya.

Di sini pengunjung bisa melihat karya Bruder Konrad yang didokumentasikan dengan baik. Kita bisa melihat bagaimana umat yang berdoa melalui perantara Bruder Konrad terkabul doanya. Melalui dokumentasi ini, beliau layak menjadi orang kudus. Pengalaman iman ini didokumentasikan melalui banyak media seperti lukisan, surat, bahkan donasi untuk kelanjutan karya Bruder Konrad.

Naik ke atas, pengunjung bisa melihat ruang doa dan audiensi Bruder Konrad yang pernah dilakukan selama hidupnya. Dan di sudut kamar lain adalah ruang sederhana dimana beliau wafat dengan damai.

Bruder Konrad adalah salah satu figur yang memperlihatkan bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja, seperti yang pernah disabdakan Tuhan Yesus. Figur Bruder Konrad memberi harapan kepada umat di Eropa saat itu yang dilanda polemik kehidupan. Banyak orang datang ke sini tidak hanya sekedar mencari tahu tetapi juga menyadari pengalaman beriman yang sudah ditampakkan beliau. Bahwa harapan itu akan selalu ada, asalkan kita datang padaNya.

Selamat berhari Minggu!

Advertisements

Ekspresi Pengalaman Beriman Lewat Lukisan? Temukan di Gnadenkapelle, Ältoting

Salah satu lukisan yang menyentuh, mereka selamat saat serangan bom melanda Jerman di perang dunia pertama dan perang dunia kedua.

Lukisan lain dimana orangtua yang berhasil mendapatkan keturunan.

Dan anda akan melihat dinding kapel dipenuhi ucapan syukur lewat media lukisan.

Tak terhitung jumlahnya.

Bulan Oktober menjadi salah satu bulan yang dirayakan gereja katolik untuk melakukan devosi kepada Bunda Maria. Itu sebab banyak umat katolik seluruh dunia menyempatkan diri berdoa rosario hingga berziarah dalam waktu ini. Saya pun tak ketinggalan menyempatkan diri berziarah ke Black Madonna, Ältoting. Ini bukan kali pertama, sehingga anda bisa mencari di kolom kata kunci, kunjungan saya ke Ältoting sebelumnya.

Kompleks ziarah Ältoting telah ada lama di Bavaria, Jerman sejak abad 15. Lokasi kompleks ziarah ini menjadi begitu fenomenal ketika banyak peziarah yang merasa doanya terkabulkan. Menurut saya, ini adalah pengalaman iman yang dirasakan berbeda-beda bagi tiap orang. Ada yang menyebutnya mujizat dan ada pula yang menyadarinya sebagai bagian dari pengalaman beriman.

Ada peziarah yang mengekspresikan pengalaman iman dengan memikul salib ini berjalan keliling kapel.

Gnadenkappelle Ältoting.

Berkaitan dengan pengalaman beriman, ada sisi menarik dari kapel Black Madonna di sini. Saya sudah mendatangi tempat-tempat ziarah umat katolik, meski belum semua di seluruh dunia. Di kapel ini saya menemukan seluruh dinding kapel dipenuhi lukisan para peziarah yang merasa terkabul ujud doanya. Bahkan saya rasa pengelola tidak sanggup lagi memajang luapan ekspresi umat yang doa-doanya terkabul lewat media kanvas ini.

Lukisan ini sudah sejak lama menjadi media pengalaman beriman bagaimana orang yang meyakini bahwa Tuhan itu ada. Contohnya ada lukisan yang menggambarkan bagaimana mereka diselamatkan ketika Jerman mendapat serangan bom perang dunia pertama (PD 1) dan perang dunia kedua (PD 2). Satu keluarga melukiskan bagaimana Bunda Maria menyelamatkan mereka saat PD 1 dan PD 2. Lain lagi, lukisan yang bercerita Bunda Maria menyelamatkan nyawa dia saat terjadi kecelakaan pada tahun sekian. Lukisan lain, ada kelompok turis Jerman yang diselamatkan Bunda Maria saat berlibur di Thailand Selatan tahun 2004 kala terjadi Tsunami hebat yang meluluhlantakkan beberapa negara, termasuk sebagian Indonesia.

Saya yang mengamati lukisan-lukisan tersebut tertegun sesaat, apakah ini mujizat atau keajaiban dalam hidup?

Lukisan lain juga memperlihatkan bagaimana orangtua bersyukur berhasil mendapatkan keturunan yang diimpikannya.

Tak jauh dari kapel, saya melihat beberapa orang duduk dan membuat sketsa di kanvas. Sesekali mereka memperhatikan kapel dan mulai menggambar. Mereka duduk tenang mencari inspirasi. Bisa jadi mereka pun telah terkabul doanya dan sedang mengekspresikan pengalaman mereka.

Terkadang ada hal dimana kita merasa bahwa apa yang kita minta kepada Tuhan itu mustahil, tetapi di sini saya melihat bahwa segala sesuatunya itu mungkin asalkan kita beriman. Itu sebab saya katakan ekspresi pengalaman beriman di sini menjadi bukti nyata bahwa Tuhan tidak pernah ditinggalkan saat manusia kehilangan harapan.

“Menschen lebt mit Hoffnung” kata pastor pemimpin ibadat saat para peziarah memadati kapel ini. Manusia hidup dengan harapan. Karena harapan membuat hidup menjadi bermakna dan tidak sia-sia.

Apa pun ekspresi pengalaman beriman anda kepada Tuhan, percayalah bahwa harapan itu selalu ada. Di tempat ziarah ini saya belajar harapan tetap ada, asalkan anda datang padaNya.

Selamat berhari Minggu!

Altötting, Bavaria (4): Stiffpfarkirche St. Philip und Jacob, Gereja Tua Bersejarah

Gereja dan kedua menaranya tampak dari kejauhan.


Melanjutkan kisah perjalanan ziarah terbesar umat Katolik di Altötting, Jerman maka tiba kami di Stiffpfarkirche, Santo Philipus dan Santo Yakobus. Gereja ini terletak di seberang Gnadenkappele, The Chapel of Grace atau di sebelah selatan kapel Black Madonna. Kubahnya ada dua seperti kembar, layaknya Gereja Frauenkirche di Munich.

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/01/altotting-jantung-bavaria-jerman-1-black-madonna-dan-hati-raja-ludwig-ii-di-gnadenkappelle/

Baca https://liwunfamily.com/2013/08/19/wisata-gratis-di-muenchen/

Gereja ini termasuk bangunan tertua sekitar abad 9 sudah berdiri. Namun mengingat masih satu kompleks ziarah, Gereja ini direnovasi bergaya Gothic. Ciri khasnya terletak pada menara atau kubah Gereja yang tajam runcing. Ini menjadi ciri banyak bangunan di Bavaria. Saya bisa temukan bangunan Gothic lain semisal Rathaus di Munich.

Langit Gereja dibangun bergaya gothic yang runcing.

Altarnya yang klasik masih terpelihara sampai sekarang.

Organ lama sejak tahun 1724.

Merenovasi Gereja ini dimulai dari tahun 1488 hingga 1508. Padahal abad 13, Gereja ini sudah resmi menjadi paroki sendiri. Sebagian bangunan sudah sejak lama ada, namun ada juga bangunan baru yang kemudian ditambahkan pada abad 16. Selain menara Gereja yang runcing dengan tinggi 48 meter, ciri khas lain dari Gereja ini adalah banyaknya peninggalan sejarah yang menyimpan memori kematian.

Itu sebab Paus Benedictus XVI menjadikan Gereja ini sebagai harta warisan Kekristenan yang patut dipelihara. Seperti bangunan yang bertahan sejak lama, abad 9 dan kemudian Altar klasiknya yang menjadi pusat perayaan Ekaristi. Ada pula organ, alat musik di Gereja ini yang sudah ada sejak tahun 1724. Namun lebih dari itu, Gereja ini menyimpan sejarah kematian.

Apa itu?

Der Tod von Edding (Altötting)

Manusia suatu saat pasti mati. Ini yang menandai Tod von Altötting, yakni patung mekanik dengan gigur tengkorak setinggi 50 sentimeter ditempatkan di kayu berlapis perak yang tinggi. Patung populer ini  sudah ada sejak abad 17 mengingatkan wabah penyakit yang pernah melanda Eropa Tengah. Jika anda mengingat sejarah yang pernah dipelajari dulu di sekolah, penyakit pes melanda juga area ini pada masa itu.

Wabah ini mendatangkan musibah kematian banyak orang. Mereka percaya musibah berhenti ketika manusia bertobat dan kembali kepada Tuhan. Itu sebab Gereja ini disebut Gereja Pertobatan. Meski ini sebuah legenda tentang kematian, namun dentang patung yang dimainkan “Tod von Edding” seperti jam ini menandai bahwa manusia akan mati di suatu waktu.

Den Toten Der Kriege

Lanjut adalah Salib besar tergantung dengan Bunda Maria di bawah kaki Yesus dengan wajah berduka. Ini adalah prasasti dari nama-nama mereka yang menjadi korban perang dunia pertama, 1914-1918 dan perang dunia kedua, 1939-1945. Tak hanya itu, di sini juga terdapat  nama-nama mereka yang dianggap hilang oleh keluarga. Ini bisa menjadi sejarah suram bahwa kekejian perang tidak akan terulang lagi.

Krippenopfer

Patung Yesus Bermahkota Duri tampak berduka.

Daftar nama yang terbunuh pada April 1945 yang dikenang dan dihormati


Berlanjut ke sudut lain bangsal Gereja, adalah sebuah patung Yesus Berkepala Duri yang terlihat berduka. Kedukaan ini digambarkan karena di sini, pada April 1945 telah terjadi penembakan terhadap mereka yang dikenal berjasa, termasuk pemimpin kota Altötting pada masa itu. Di depan patung terdapat Salib dan beberapa lilin yang digunakan untuk berdoa kepada mereka yang tewas tertembak. Ini dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati mereka yang gugur pada masa perang dunia kedua.

Tak jauh dari situ tertulis sejumlah nama-nama mereka yang wafat karena perang di masa lampau. Sebuah Jahreskrippe milik Gereja, yakni diorama yang berisi figur tentang kejadian kelahiran Yesus Kristus. Hingga digambarkan wafatNya, dengan Salib besar tergantung di sekitar itu.

Bangsal Gereja.

Kapel yang terletak di atas.

Begitu luasnya bangsal Gereja, ada tangga menuju ke kapel kecil di atas. Di situ, siapa pun bisa berdoa meski tak luas tempatnya. Bunda Maria digambarkan berwajah duka. Lanjut ke area lain, menjorok ke bawah ada semacam tiga peti orang yang sudah meninggal terbuat dari lapisan perak. Tak ada informasi siapa yang terkubur di situ.

Gereja tua bersejarah ini menyimpan berbagai misteri kematian baik dikarenakan wabah penyakit maupun korban perang dunia. Itu semua menandai misteri ilahi bahwa suatu saat manusia pasti kembali kepada Sang Pencipta. Pintu Gereja pun terbuka bagi siapa saja yang datang untuk berdoa dan memohon rahmat dari Tuhan.

Semoga bermanfaat!

 

Altötting, Bavaria (3): Sekali Lagi, Basilika Santa Anna

Tampak depan.

Prasasti di dekat pintu masuk.

Tampak Altar dari kejauhan.

Orangtua saya memilih nama Anna sebagai nama babtis. Sebagai penyandang nama Anna, saya pun menyempatkan lagi berkunjung ke Basilika Santa Anna yang letaknya masih dalam satu komplek ziarah di Altötting. Sebelumnya, saya pernah menuliskan Basilika St. Anna di sini

Santa Anna diakui Gereja Katolik sebagai ibu dari Bunda Maria. Di Basilika ini terdapat peninggalan reliqui atau peninggalan Santa Anna untuk menghormatinya.

Baca https://liwunfamily.com/2014/09/22/basilika-st-anna/

Basilika ini letaknya tak jauh dari biara, tempat tinggal Bruder Konrad. Di Basilika ini terdapat replika tubuh Bruder Konrad yang dihormati itu. Peti kaca diletakkan di samping altar utama. Bruder Konrad banyak berjasa bagi pelayanan dan pengembangan rohani umat di tempat ziarah ini.

Prasasti yang menandai Paus Pius X dan Raja Ludwig III dari Bavaria di sini.

Salah satu altar samping.

Organ besar di atas.

Altar utama dari dekat dan organ kedua di sisi altar.

Replika Bruder Konrad.

Sisi dalam Basilika untuk berdoa.

Salah satu dekorasi yang menghiasi Basilika.

Basilika ini mampu menampung umat hingga delapan ribu orang. Dibangun sejak abad 17 dengan kubah setinggi 60 meter. Bangunan bergaya Neo Baroque, sempat terjadi beberapa kali renovasi hingga akhirnya berdiri megah seperti sekarang ini. Altar yang menjadi pusat perayaan Ekaristi terlihat indah dari pintu luar Gereja. Di samping kanan kiri, terdapat dua belas altar samping dan altar tinggi.

Di Basilika ini ada dua organ sebagai alat musik meriah mengiringi perayaan Ekaristi. Yang pertama disebut die Große Marienorgel Santa Anna sudah ada sejak tahun 1916. Organ memiliki tinggi 15 meter dengan dua galeri di kanan kiri menambah kemegahan Basilika kala berlangsungnya perayaan Ekaristi. Organ kedua, die Chororgel yang berukuran lebih kecil dan masih baru. Kedua organ yang masih indah dan  terpelihara sampai sekarang. 

Tercatat ada delapan Paus yang pernah berkunjung ke sini, mulai dari Paus Pius X hingga Paus Benedictus XVI.

Semoga bermanfaat kunjungan saya ke Altötting!

Altötting, Bavaria (2): Bruder Konrad, Siapa Dia?

Figur Bruder Konrad di dekat biara, tempat tinggalnya. 

Petunjuk di kompleks perziarahan Altötting.

Prasasti menandai kunjungan Paus Yohanes Paulus II tahun 1980.

Prasasti menandai kunjungan Paus Benedictus XVI asal Jerman tahun 2006.

Sewaktu berkendara melewati wilayah Bad Griesbach Bavaria, ada informasi tertulis ‘Geburthaus Bruder Konrad’ dengan papan petunjuk untuk menuju jalan ke dalam. Dalam hati bertanya, siapakah Bruder Konrad tersebut? Hingga pemerintah setempat mengabadikan rumah kelahirannya untuk dikunjungi. Pada akhirnya, saya tahu Bruder Konrad ketika mengunjungi Altötting, kompleks perziarahan di Jerman. 

Baca https://liwunfamily.com/2017/12/01/altotting-jantung-bavaria-jerman-1-black-madonna-dan-hati-raja-ludwig-ii-di-gnadenkappelle/

Bruder Konrad dari ordo Fransiskan kini sudah menjadi santo atau orang yang dikuduskan karena perilaku kesalehannya dan juga banyak orang meyakini doa-doanya terkabul melalui perantaraan beliau. Beliau lahir pada abad 19 dari keluarga petani yang cukup berada. Dia pun memutuskan untuk tidak menerima warisan keluarga dan memilih untuk hidup selibat dalam pelayanan dari ordo Fransiskan.

Selama lebih dari 40 tahun, Bruder Konrad melakukan pelayanan di Altötting dengan kehidupannya yang saleh dan bijaksana. Dia banyak menolong dan membantu orang miskin dan kelaparan. Kecintaannya pada pelayanan yang dilakukannya selama di Altötting membantu banyak orang untuk mengenal Black Madonna. Ia wafat pada tahun 1894.

Tempat tinggal Bruder Conrad semasa hidupnya tampak jendela kedua dari kiri.

Karena biara tinggal sedang diperbaiki, diorama masa hidup Bruder Conrad menggambarkan pelayanannya pada orang miskin dan kelaparan sekitar abad 19.

Diorama kedua bahwa hidup Bruder Conrad diisi dengan berdoa dan tirakat yang saleh.

Pada tahun 1930, Paus Pius XI mengangkat Bruder Konrad sebagai Beato berkat kejadian mujizat yang banyak dibuatnya dan kesaksian banyak orang. Empat tahun kemudian, sederetan daftar kesaksian orang-orang yang pernah berdoa melalui perantaraannya membuat Paus Pius XI mengangkatnya menjadi santo.

Di kompleks perziarahan Altötting anda bisa mendapatkan rumah tinggal Bruder Konrad semasa hidupnya. Saat saya datang, tempat ini sedang direnovasi dan tertutup. Ada juga miniatur yang menggambarkan kehidupan dari Bruder Konrad semasa hidupnya. Bahkan replika jenazahnya diletakkan di Basilika Santa Anna sebagai bentuk penghormatan.

Nantikan selengkapnya, Basilika Santa Anna di Altötting!❤

 

Altötting, Jantung Bavaria Jerman (1): Black Madonna dan Hati Raja Ludwig II di Gnadenkappelle

Salah satu lukisan di kapel.

Black Madonna replika yang saya beli di toko sovenir.

Black Madonna replika di kartu pos sebagai sovenir.

Welcome December!!!

Jika Perancis punya Lourdes, Italia punya Vatikan dan Portugal punya Fatima maka Jerman punya Altötting, tempat ziarah bagi umat Katolik.

The chapel of Grace atau Gnadenkappelle.

Petunjuk larang mendokumentasikan gambar selama di dalam kapel.

Suasana dinding bangunan dipenuhi berbagai lukisan kreasi banyak orang sebagai ungkapan pengalaman iman.

Bagaimana orang melukiskan pengalaman iman mereka lewat lukisan atau foto? Indah!

Jangan tanya berapa jumlah lukisan ini! Ini semacam pengalaman iman yang diekspresikan lewat lukisan menghiasi sekitar kapel.

Altötting menjadi terkenal sebagai jantung kota Bavaria, negara bagian Jerman. Mengapa? Karena di kapel ini terdapat hati Raja Bavaria, Ludwig II yang disimpan dalam guci perak sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Saya tidak tahu diletakkan dimana, saya baru mengetahuinya setelah keluar dari kapel. Lagipula saya tidak bisa ambil gambar selama di dalam kapel, ada larangan di pintu masuk kapel. 

Anda tahu siapa Raja Ludwig II? Silahkan kembali pada cerita Kastil Neuschwanstein yang pernah saya pos sebelumnya.

Baca https://liwunfamily.com/2014/02/24/kastil-dongeng-cinderela-jerman-munich-neuschwanstein/

Beratus tahun lamanya, orang berziarah ke sini sebagai tempat religius untuk menghormati Bunda Maria, yang dikenal dengan sebutan Black Madonna atau dalam Bahasa Jerman disebut “Die schwarze Madonna.” Patung Bunda Maria Hitam yang bisa disebut begitu dalam Bahasa Indonesia, adalah sebuah patung kayu Bunda Maria yang memiliki makna spriritualitas bagi umat Katolik.


Sejak tahun 1250, tempat ini sudah dibuka sebagai tempat pencarian spiritualitas yang datang ke Jerman. Diyakini sering ada mujizat terjadi bila berdoa di sini. Itu sebab anda menemukan berbagai orang dengan segala kebutuhan dan keinginan yang datang dan memohon rahmat melalui perantaraan Black Madonna ini.

Berawal dari kisah seorang ibu yang berduka karena anaknya tak terselamatkan di sungai karena tenggelam. Si ibu pun membawa anaknya dan berdoa di hadapan patung Black Madonna kemudian anaknya berhasil terselamatkan. Cerita berbagai mujizat juga menyebar ke banyak orang yang mengalami kesaksian setelah berdoa di sini. 

Mereka pun datang membuat lukisan dan membuat kreasi menghiasi kapel ini. Kapel yang disebut Chapel of Grace atau Gnadenkapelle, telah menyimpan berbagai misteri kehidupan bahwa Tuhan hadir menolong mereka yang datang kepadaNya. Itu sebab nama kapel ini, The Chapel of Grace atau Gnadenkappelle.

Ada petunjuk larangan dokumentasi di depan pintu kapel. Selain untuk menjaga kekhusukkan orang berdoa, tentu ini sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang datang untuk berdoa. Karena kapel yang tak luas, anda perlu antri satu per satu untuk berdoa dan masuk ke dalam. Di dalam terlihat banyak benda-benda rohani berkilau emas dan sebagian terkena asap kebakaran.

Dinding kapel.

Sisi lain dinding kapel.

Lukisan yang berhasil saya rekam.

Sederhana, namun menyentuh.

Apa yang terjadi?

Diceritakan pada tahun 900 ada sekelompok orang yang datang membakar kapel ini dan biara di sekitar. Hampir seluruh bagian tak terselamatkan, hanya patung Black Madonna yang selamat meski terbuat dari kayu dan benda-benda rohani seperti yang anda saksikan di dalam kapel. Meski terbuat dari kayu, namun patung tersebut tidak terbakar hanya terlihat warna hitam menyelimuti seluruhnya. Itu sebab dinamakan Black Madonna. Ini adalah bukti mujizat pertama. Selebihnya banyak orang datang berdoa melalui perantaraan Bunda Maria dan memohon keajaiban dalam hidup mereka.

Kapel ini juga menjadi saksi tragedi kemanusiaan periode 1939-1945. Dan Bunda Maria melindungi umatNya. 


Kapel ini menjadi destinasi utama ziarah jutaan umat Katolik dari seluruh dunia tiap tahun. Tak heran, tempat ini tak pernah sepi untuk menerima mereka yang datang dengan berbagai kebutuhan dan keluh kesah. 

Setiap orang punya pengalaman spiritual yang disebut sebagai keajaiban atau mujizat atau apa lah dalam hidupnya. Dan saya pun mengalaminya melalui pengalaman iman dalam hidup. 

Saat datang ke dalam kapel ini, ada aura magis yang membuat siapa saja merasa bermakna dalam hidup bersama Tuhan. Tidak bisa diungkapkan tetapi itu benar terjadi. Itu sebab tidak ada dokumentasi di dalam.

Nantikan cerita saya yang lain di Altötting!❤