Category Archives: MARRIAGE

Rahasia Perkawinan 50 Tahun: “Komunikasi Itu Kuncinya!”


Ilustrasi. Setiap pasangan suami-isteri berharap mampu melampaui usia perkawinan emas hingga opa oma. 

Adalah opa oma usia sepuh, teman orangtua mertua di Jerman yang baru saja merayakan ulangtahun perkawinan emas. Saya tertegun dengan loyalitas hubungan kasih antara dua insan tersebut, yang menurut kebanyakan pasangan tak mudah dilalui. Saya hadir dalam perhelatan sederhana yang mereka adakan. Ini semacam perayaan syukur, jadi ada pastor dan beberapa kerabat yang diundang kemudian makan bersama.

Selesai berdoa, ada semacam testimonial dari opa oma tersebut bagaimana mereka mampu bertahan hingga melewati usia perkawinan emas. Siapa pun pasangan suami-isteri berharap dapat melampaui usia perkawinan emas dan seterusnya hingga ‘Till Death do us apart‘ ya ‘kan?

Komunikasi suami-isteri tidak berbicara siapa yang dimenangkan dan siapa yang kalah, seperti komunikasi politik. Komunikasi suami-isteri juga bukan tentang bagaimana mencari untung-rugi dengan membuat reklame yang menarik massa seperti yang digunakan dalam periklanan. Komunikasi suami-isteri adalah hubungan dua orang yang sepakat menikah dan membentuk keluarga, tidak ada menang-kalah atau untung-rugi. Tentu harus tahu sama tahu, suka sama suka, cinta sama cinta, susah sama senang, sakit sama sehat yang harus dilalui bersama. Sweet banget ‘kan?

Masalahnya saat berumahtangga semua itu tidak mulus, termasuk komunikasi. Komunikasi yang sulit dilakukan adalah saat menyampaikan segala keinginan dan kesulitan satu sama lain. Satu pihak ada yang menjadi bossy, pihak lain menjadi tertekan. Bagaimana membangun komunikasi suami-isteri secara nyaman jika ini yang terjadi?

Komunikasi suami isteri itu komunikasi kolaboratif yang saling membangun. Satu pihak berbicara, pihak lain mendengarkan. Komunikasi dua arah dan membangun dialog. Satu pihak bertanya, pihak lain menjawab. Ada diskusi, bukan instruksi. Apakah mudah? Susah jawabannya. 

Selama ini orang memandang komunikasi adalah hal sepele dan tak perlu ada keterampilan komunikasi dalam berumahtangga. Kebanyakan berpikir kursus persiapan perkawinan lebih ditekankan pada pengetahuan reproduksi dan pengasuhan. Padahal saat ini banyak ditemukan penyebab perceraian adalah karena komunikasi. Baca di sini

Membangun komunikasi positif antar suami-isteri bila mengutip testimonial rahasia opa oma di atas, ada tiga hal:

  • Kasih sayang

Apakah cara anda berkomunikasi sama antara supervisor/bos di kantor dengan anak anda di rumah? Pasti berbeda. Di kantor, anda bisa berbicara direct dan formal. Di rumah, anda berbicara lebih lembut, intonasi merendah, basa-basi dengan anak, ada pelukan/belaian ke anak dan sebagainya. Apa yang membedakan komunikasi keduanya? Kasih sayang. Coba deh saat anda berbicara dengan orang yang anda kasihi apakah sama saat anda berbicara dengan orang asing tak dikenal! Bahasa cinta itu mengalahkan segalanya. Buktinya bahasa cinta membuat anda menikah dengannya ‘kan.

  • Apresiasi

Siapa pun senang dipuji. Bahkan anda bisa memutuskan resign jika bos kurang melakukan apresiasi terhadap kinerja anda. So mengapa tidak memulai untuk berikan pujian kepada pasangan anda sendiri? Hargailah apa yang sudah dilakukan suami/isteri pada anda. Misal sebagai suami, hargai isteri yang sudah membersihkan rumah dan mengasuh anak dengan baik. Sebagai isteri, hargai suami yang sudah bekerja giat untuk memenuhi kehidupan keluarga. Apresiasi itu sederhana saja, kata si opa dalam cerita di atas. Mengucapkan kata ‘terimakasih’ kepada pasangan, sudah berarti.

    • Kesepakatan

      Kesepakatan antar suami-isteri adalah sama-sama menang. Baik suami maupun isteri mampu menemukan kata sepakat dalam urusan rumah tangga. Mampu menyelesaikan setiap masalah bersama-sama. Kata opa, “Saat ada masalah rumah tangga, jangan melarikan diri! Selesaikan dulu berdua bersama-sama.” Luar biasa!

      Semoga bermanfaat!

      Advertisements

      Menikahi Diri Sendiri? Ini Bisa Jadi Sebab Perempuan Lakukan Sologamy


      Ilustrasi. Sologamy (self-marriage) adalah istilah yang digunakan untuk menikahi diri sendiri. Penasaran ‘kan?

      Kemajuan modernisasi yang bertumbuh karena berbagai tren dan gaya hidup, telah menciptakan pilihan baru. Pernah dengar menikahi diri sendiri? Sologamy (self-marriage)  adalah pilihan hidup menikahi diri sendiri. Ada? Tentunya. Bahkan gaya hidup ini lebih banyak diminati perempuan.

      Terusik oleh artikel ini bahwa semakin banyak perempuan cenderung menikahi diri sendiri, saya tertarik untuk menelisik penyebabnya.Tren yang sudah muncul sejak dua puluh tahun lalu ini diawali oleh seorang perempuan tahun 1993. Dia mengucapkan janji pernikahan dan mengenakan cincin kawin layaknya pernikahan pada umumnya. 

      Di artikel lain dituliskan bagaimana tren ini jadi semakin berkembang karena didukung oleh teman-teman mereka sendiri yang jadi bridesmaids. Industri pun melirik tren ini agar populer dengan menyediakan paket khusus wedding sologamy seperti undangan, gaun pengantin, kue dan hotel. Wow!

      Mengacu pada fenomena tersebut, sebagai perempuan ini adalah opini saya yang menjadi penyebabnya.

      1. Kesalahpahaman memahami emansipasi

      Emansipasi yang sudah diusung sejak permulaan 1900-an sebagai pertanda keseteraan gender antara pria dan wanita dimulai. Emansipasi membuktikan bahwa perempuan juga punya kekuatan dan kemampuan yang sepadan dengan laki-laki. Namun tren hidup yang berputar disalahpahami dengan perempun tak butuh lelaki. Baik laki-laki maupun perempun, kita saling membutuhkan satu sama lain.

      2. Sudah nyaman dengan diri sendiri, dibandingkan hidup bersama orang lain.

      Sebagai makhluk sosial, kita seyogyanya paham bagaimana membangun relasi yang saling melengkapi satu sama lain. Ketika beranggapan bahwa hidup ini sudah cukup nyaman buat diri sendiri, tanpa kehadiran orang lain. Maka berhati-hatilah agar anda tidak larut dengan diri sendiri dan lupa pada usia perkembangan psikologis bahwa anda perlu orang lain. 

      3. Pengalaman trauma masa lalu

      Apa pun masa lalu yang ada di belakang anda, jadikan itu pelajaran untuk lebih baik lagi. Jangan biarkan masa lalu memenjarakan perasaan dan pikiran anda! Ini membuat trauma berkepanjangan yang berujung terlalu percaya pada diri sendiri dan tidak mempercayai orang lain. Namun ini yang terjadi pada mereka yang trauma akan masa lalu. Atau mereka yang sulit menaruh kepercayaan kepada orang yang dikasihinya. Mereka lebih pilih sendiri, ketimbang berdua.

      4. Kemandirian yang modern

      Mereka yang melakukan sologamy dipercaya merupakan perempuan mandiri yang merasa hidupnya sudah mumpuni. Toh modernisasi menciptakan pula kemajuan teknologi memiliki anak tanpa menikah misalnya, bila seorang perempuan ingin jadi ibu. Maka perempuan kini bisa mengalami rasanya jadi ibu tanpa berhubungan dengan lelaki. Ini salah kaprah ya.

      Bagi mereka yang menjalankan sologamy, pilihan hidup ini mungkin membahagiakan. Namun menurut pendapat saya sendiri, kebahagiaan itu saat kita bisa menemukan diri sendiri lewat kehadiran orang lain. Ini yang disebut belahan jiwa. 

      Ada pendapat?

      Pemilu Jerman 2017: Dibalik Perempuan Hebat, Ada Suami Tercinta


      Karena tidak menemukan foto Angela Merkel dengan suami, cukup foto ini saja sebagai ilustrasi. Foto diambil dari majalah lokal (13/9).

      Jika pepatah biasa mengatakan dibalik kesukesan seorang pria, ada seorang istri yang hebat. Lalu bagaimana jika berlaku kebalikannya. Di balik perempuan hebat, ada seorang pria yang mendukungnya. Siapa? Siapa lagi jika bukan suami tercinta.

      Sebut saja, Angela Merkel, sang Kanselir di Jerman. Perempuan tangguh ini merupakan perempuan yang cerdas sejak kecil dan sebagai pemimpin, ia mampu mengambil kebijakan yang populer meski tidak disukai. Kini dia pun menjagokan kembali jadi Kanselir untuk keempat kalinya. Dia terjun ke dunia politik yang katanya merupakan dunia para pria dan memegang posisi Kanselir, sungguh bukan perkara mudah. Namun Tante Merkel percaya bahwa ia masih mampu menyeimbangkan politik dunia dengan beragam isu, termasuk isu pengungsi yang juga memanas di Jerman.

      Berusia 63 tahun dan dibesarkan dalam keluarga kristen yang taat di wilayah dulu bekas Jerman Timur. Kepandaian Tante Markel pun memikat Prof. Joachim Sauer, seorang ilmuwan yang kini jadi suaminya. Hal menarik adalah suami tante Merkel tak suka tampil di muka publik, apalagi disorot media. Konon saat isterinya diambil sumpah jadi Kanselir, dia pun tak datang di upacara tersebut. Ini bukan berarti Prof. Sauer tidak mendukung isterinya loh.

      Bukti kecintaan suami pada Tante Merkel terlihat bagaimana Prof. Sauer masih memasakkan makanan untuk sang Kanselir, di tengah kesibukkannya di kampus. Pernah saya lihat di majalah terbitan Jerman, Tante Merkel difoto saat membayar di kasir di suatu supermarket di Berlin. Begitu humble-nya jadi Kanselir, dia pun tak suka kemewahan dan tetap berbelanja seperti layaknya ibu-ibu di Jerman pada umumnya. 

      Angela Merkel juga adalah seorang ibu, bagi Daniel dan Adrian, meski mereka adalah anak tiri yakni anak dari suami dengan mantan isteri terdahulu. Ia juga begitu perhatian sebagai ibu kala suatu kali salah satu anak harus berhadapan dengan masalah, ini saya lihat pernah dimuat di majalah lokal. Meski dia adalah seorang Kanselir, yang punya pengaruh kekuasaan besar di Jerman, namun dia tetap seperti layaknya ibu dalam keluarga.

      Perbedaan usia lima tahun antara Angela Merkel dengan suami memperlihatkan bahwa mereka adalah pasangan yang ideal. Keduanya adalah orang cerdas dan cocok satu sama lain, menurut pendapat beberapa kerabat mereka. Hal Ini cukup membuktikan bagaimana karir isteri yang hebat perlu mendapat dukungan dari sang suami, apalagi si perempuan adalah Kanselir Jerman. 

      Meski kehadiran Prof. Sauer tidak begitu menonjol dalam setiap peristiwa kenegaraan, juga bukan berarti dia tidak mendukung peran dan jabatan isterinya. Hanya saja, dia memilih untuk tidak tampil dan berbicara banyak di hadapan media. Namun dalam keseharian bersama Kanselir, dia adalah suami yang suka memasakkan makanan untuk isterinya. Terbukti, Tante Merkel suka sekali masakan suaminya. 

      Moral of story is… siapa pun anda sebagai perempuan dan apa pun jabatan anda, anda tetaplah isteri dan ibu di rumah. Memiliki suami yang mendukung karir dan cita-cita isteri bukan suami biasa, tetapi suami luar biasa.

      Semoga bermanfaat!

      Begini Alasan Pria Lebih Pilih Perempuan Kurang Menarik


      Penampilan menarik itu penting, namun kepribadian baik yang utama.

      Ini bukan pengalaman pribadi, karena saya berpikir saya adalah perempuan menarik 😄 Out of topic deh. Begini ceritanya, saya beserta beberapa teman pria sedang duduk dan ngobrol macam-macam di kafe. Para pria entah dimana pun berada dan apa pun suku bangsanya, sama saja. Boys will be boys wherever they are. Jika mereka melihat perempuan menarik nan cantik, pasti menoleh dan membicarakannya bersama para pria lain. Kebetulan saya memang tidak bersama dengan suami kala itu. Jadi saya mencermati bagaimana teman-teman saya beropini tentang perempuan cantik ini meski sebagian teman saya ada yang sudah berkeluarga.

      Perempuan cantik yang duduk di kafe sendirian sepertinya merupakan perempuan modern, berdandan tebal, berpakaian elegan dan senang berbelanja. Saya melihat dia baru saja kebingungan menempatkan beberapa paper bag asal toko-toko bermerek. Dia pun memesan minuman. Semua teman saya mengatakan dia benar-benar cantik sempurna, nilainya hampir mendekati 100 apalagi dia berambut pirang panjang dan bertubuh layaknya model. 

      Setelah semua penilaian dan perbincangan para pria, akhirnya selang tiga puluh menit datang seorang pria yang berusia kira-kira dua kali lipat dari perempuan itu. Mereka saling berciuman mesra layaknya sepasang kekasih. Setelah itu mereka pergi meninggalkan kafe. Tinggal kami yang masih mendiskusikan soal itu.

      Saya langsung meminta pendapat teman-teman saya, apakah mereka sebagai pria akan memilih perempuan menarik itu sebagai isteri? Semua mengatakan bahwa sebagian besar pria akan memilih perempuan biasa-biasa saja untuk dijadikan pasangan hidupnya. Oh ya? Saya pun takjub mendengarnya. 

      Satu teman mengatakan bahwa dulu saat para pria masih remaja dan sedang menentukan pilihan hidup, perempuan menarik adalah impian. Setelah mereka, para pria sudah mapan dan mantap berumahtangga, mereka berpikir ulang bahwa kepribadian lebih penting ketimbang penampilan. Kata teman pertama “Kami berpikir relasi jangka panjang, Anna. Apakah perempuan menarik bisa menjamin itu semua? Pertama kepribadian yang baik tentunya. Jika dia berpenampilan menarik, itu adalah bonus.”

      Hmm, menarik juga diskusi tentang ini. Begitulah sudut pandang pria, sementara saya berpikir bagaimana sebagai perempuan agar dapat terlihat menarik di mata pria. Sementara ada pendapat lain dari para pria.

      Pendapat teman yang kedua begini, “Sebagai pria, saya merasa canggung bila berjalan dengan perempuan menarik. Pasti banyak orang akan melihat ke arah kami. Saya tidak mau dikira bodyguard-nya. Lebih baik pilih perempuan biasa-biasa saja.” Sontak kami semua yang mendengar tertawa.

      Teman ketiga langsung menyahut “Jika saya kaya pun, saya tidak ingin rugi bilamana isteri saya menghabiskan uang saya hanya untuk penampilannya. Tidak, itu bukan gaya saya.” Kami pun tertawa lagi. Pria tidak ingin juga perempuan menghabiskan uang hanya untuk penampilannya dan menelantarkan keperluan atau kepentingan lainnya.

      Well, diskusi yang menarik tentang perempuan menarik. 

      Poinnya menurut saya adalah penampilan menarik itu penting, namun kepribadian lah yang utama bagi seorang perempuan. Kepribadian tercermin dari sikap perilaku (attitude) dan tutur kata. 

      So ladies, apakah ada pendapat lain?

      Mengapa Berpacaran Jarak Jauh Bisa Lebih Langgeng?


      Kemajuan teknologi kini menjadi pendorong bagi banyak orang untuk tetap bisa memadu kasih meski jarak yang berjauhan memisahkan. Dulu banyak orang masih menganggap bahwa hubungan jarak jauh sepasang kekasih tidak akan mungkin berhasil. Namun kini nyatanya banyak juga pasangan jarak jauh, para LDR (Long Distance Relationship) yang berhasil melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, menikah. 

      Sebuah studi (2013) yang diterbitkan dalam journal of communication menunjukkan meski ada jarak dalam relasi pasangan jarak jauh yang diteliti, namun ternyata tingkat kepercayaan yang tinggi memungkinkan mereka lebih intim ketimbang pasangan biasa. Hal ini tentu bertolakbelakang dengan pendapat orang di masa lalu bahwa jarak menjadi hambatan bagi kelanggengan suatu hubungan cinta. Apalagi mereka yang berpasangan jarak jauh tidak intens bertemu dan punya waktu romantis yang rendah ketimbang pasangan biasa. Namun bukan tidak mungkin, ada pejuang-pejuang LDR yang berhasil menaklukkannya.

      Berdasarkan studi tersebut dan pengalaman pribadi yang pernah melakukan LDR (curcol), berikut alasan mengapa pacaran jarak jauh bisa langgeng. 

      Here there are:

      1. Saling percaya satu sama lain.

      Meski pasangan jarak jauh bukan harapan semua orang di dunia ini, namun kenyataan menyebabkan sebagian orang terpaksa melakukan ini. Bisa karena pekerjaan, keinginan untuk sekolah, tuntutan ekonomi, aturan ijin tinggal dan lain sebagainya namun sekali lagi menjalankan hubungan jarak jauh diperlukan kepercayaan yang tinggi satu sama lain agar bisa berjalan baik. Bukankah menjalin hubungan itu mempercayai dulu baru kemudian menikah? 

      2. Mampu mengatasi tantangan termasuk jarak yang memisahkan.

      Duh, enaknya punya pasangan bisa ada setiap saat dibutuhkan. Namun tidak bagi mereka yang melakukan LDR. Jika jarak yang menjadi tantangan mampu ditaklukan untuk seorang yang dicintainya, bukan tidak mungkin mereka yang LDR mampu mengatasi tantangan lainnya di kemudian hari. Pepatah bijak berkata “Distance means nothing when someone means everything” 

      3. Paham arti komunikasi.

      Komunikasi tidak melulu digambarkan dalam bentuk kehadiran setiap waktu satu sama lain. Mereka yang melakukan hubungan jarak jauh mampu membangun komunikasi yang khas sehingga tidak ada lagi sekat jarak di antara mereka. Bahkan komunikasi yang berjarak ini lebih maksimal ketimbang pasangan biasa. Nyatanya hal romantis pun bisa dilakukan oleh pasangan jarak jauh asal tahu bagaimana mengkomunikasikannya satu sama lain.

      Hmmm, semua ini bukan untuk digeneralisasikan namun kembali kepada setiap pasangan itu sendiri. Apakah komitmen dan kepercayaan bisa dilakukan meski atau tanpa jarak?

      Semoga bermanfaat!

      Jika Sahabat Menikah, Ini 5 Hal yang Seharusnya Dilakukan Si Lajang


      Sumber foto: Dokumen pribadi. 

      Bagi anda yang masih lajang, hal ini pasti pernah dialami saat sahabat yang selama ini sudah berbagi suka dan duka akan segera melepas masa lajangnya. Apakah anda cemburu atau iri atas kebahagiaan sahabat sendiri? oh, come on guys, hidup bukan soal single atau married,  tetapi cara pandang. 

      Bahagia itu sederhana saat kita melihat sahabat sendiri merasa bahagia atas pilihan hidupnya,  kita pun ikut bahagia. Jika jadi sedih karena saya masih lajang? hey, latih diri untuk tidak posesif terhadap apa pun di dunia ini. Pernikahan tidak membuat, persahabatan berhenti ‘kan? Mungkin sahabat yang menikah hanya memberi jarak soal kebebasan untuk tidak sesering dulu saat masih lajang. No worries


      Ladies
      ,  ini yang sebaiknya dilakukan:

      1. Ikut berbahagia

      Cheers up terhadap kebahagiaan sahabat yang akan melepas masa lajang. Jika sahabat bahagia, itu artinya pilihannya membahagiakannya. Jika anda bersedih atau tidak terima dengan kebahagiaan sahabat yang akan menikah, itu egois namanya. Every body has own path. Mungkin ini belum saatnya buat anda. 

      2. Terlibat dalam persiapan

      Sebagai sahabat yang baik, bisa jadi ikut terlibat dalam keriyaan persiapan ‘the big day‘ So pastikan anda bisa membantu sahabat, misalnya dari menyiapkan pernak pernik pernikahan hingga jadi pengiring pengantin nantinya. Ini sebagai bentuk persahabatan juga loh. Siapa tahu saat anda nanti menikah, sahabat ini akan juga membantu anda. 

      3.Kasih kado spesial

      Sebagai sahabat tentu anda ingin memberikan hadiah istimewa yang mungkin  bisa dikenang. Atau kado ini akan menjadi perlambang persahabatan kalian. Jadi mulailah berburu kado spesial apa yang bisa diberikan kepada sahabat yang akan menikah. Kado mahal yang pernah saya temukan misalnya memberikan paket wisata honeymoon ke bali, voucher candle light dinner romantis atau yang sederhana dan lucu yang pernah saya temukan diberi dot bayi sebagai lambang si sahabat bukan lagi anak-anak. Lucu ya!  

      4. Ajang cari jodoh di pesta pernikahan sahabat

      Banyak kisah yang saya dapatkan si lajang mendapatkan kesempatan untuk bertemu jodohnya saat di pesta pernikahan sang sahabat. Malahan ada sahabat yang juga menjadikan pesta pernikahannya sebagai ajang bertemunya para lajang, jadi dipertemukan begitu. Itu artinya sahabat juga peduli pada anda yang masih melajang, ya ‘kan? 

      5. Be wise: The best is yet to come

      Seperti yang tadi disampaikan, bersikaplah bijak saat sahabat anda akan menikah. Percayalah, akan ada saat terbaik untuk anda menemukan sang pujaan hati seperti yang terjadi pada sahabat anda. Intinya, orang yang terbaik belum tiba.