5 Hal Ini Mungkin Efek Liburan Panjang

Ilustrasi.

Hari ini Senin (6/1) masih menjadi tanggal merah alias hari libur di sebagian wilayah di Jerman seperti tempat tinggal saya. Hari ini menjadi hari libur karena perayaan Hari Raya Tiga Raja atau Heilige Drei Könige sebagaimana yang pernah saya ceritakan. Setelah ini, umat katolik menandai pintu rumah mereka sebagai berkat sepanjang tahun dengan kapur yang diberikan para putra-putri altar yang datang ke rumah umat. Di Indonesia, kapur biasanya dibagikan setelah misa kudus.

Namun saya tidak membahas hari libur tetapi efek yang terjadi setelah libur berkepanjangan. Saya memang libur sekitar dua minggu lebih dan hal ini adalah umum bagi kebanyakan orang-orang di sini. Rupanya efek libur berkepanjangan itu memberi rasa yang berbeda untuk kembali melanjutkan rutinitas harian. Bisa jadi pengalaman ini juga dialami anda setelah anda mengambil libur panjang.

1. Jam tidur berubah

Liburan itu mengubah jam biologis. Betul ya? Rutinitas harian mewajibkan bangun tidur jam sekian, makan siang teratur dan tidur malam jam sekian. Ketika liburan, semua menjadi berubah. Ada keinginan bangun lebih siang sehingga tidak terburu-buru sarapan pagi. Makan siang dan mengemil sesuka hati. Tidur malam pun demikian karena aktivitas bebas yang dilakukan tanpa memikirkan besok harus bekerja.

Libur panjang itu memberi efek untuk mengembalikan jam biologis seperti semula. Dan itu tak mudah. Itu sebab satu atau dua hari perlu penyesuaian jam biologis yang membuat anda kembali seperti semula.

Baca juga: Apa saja manfaat liburan?

2. Kurang termotivasi menjalani rutinitas

Efek liburan kedua adalah motivasi menjalani aktivitas menurun. Hal ini wajar karena liburan itu memberi kesenangan yang dicari setiap orang. Rutinitas kehidupan seseorang diluar liburan bisa jadi memberi stress tersendiri. Seharusnya liburan yang baik adalah memberi motivasi dan semangat baru untuk melanjutkan aktivitas harian. Karena begitulah salah satu tujuan liburan.

Ilustrasi.

3. Masalah keuangan

Meski liburan sudah direncanakan dengan baik, dengan segala kebutuhan yang terjadi, nyatanya kita tidak bisa mengontrol sesuatu di luar kendali saat liburan. Liburan memang sudah teranggarkan dengan baik tetapi kenyataan bisa terjadi sebaliknya. Liburan berkepanjangan pun bisa memberi efek tersendiri dalam hal finansial. Bahkan kita harus berhemat, mengecangkan ikat pinggang atau membongkar celengan demi kebutuhan hingga tanggal gajian tiba. Atau, anda harus berhutang demi liburan dan mulai memikirkan cicilan hutang liburan. Tagihan ini dan itu pun harus dipikirkan di luar tagihan bulanan tetapi begitulah efek liburan berkepanjangan.

4. Pekerjaan tambahan di rumah

Sekembalinya dari liburan panjang, masih ada pekerjaan tambahan di rumah. Membersihkan rumah itu wajib hukumnya, kapan saja. Tak terbayang libur panjang dua minggu maka ada banyak hal yang harus dibenahi, dirapihkan dan dibersihkan. Jika anda punya kebun dan taman di rumah maka anda perlu memikirkan untuk menata lagi. Apalagi jika anda punya hewan peliharaan yang perlu dipikirkan perawatan sekembalinya dari liburan. Melelahkan memang sekembalinya liburan, tetapi begitulah.

Liburan itu penting tetapi sehat itu investasi.

5. Sakit

Efek terakhir liburan yang semoga saja tidak terjadi pada anda adalah sakit. Liburan itu memang menyenangkan tetapi kita bisa jadi tak terkontrol saat makan atau melakukan sesuatu. Sakit bisa mungkin terjadi usai liburan panjang. Rasanya sulit dijelaskan ke pihak personalia perusahaan bahwa kita menjadi sakit setelah liburan padahal liburan seharusnya memberi energi baru yang menyehatkan. Tetapi siapa yang bisa mengontrol kehidupan.

Dari lima hal di atas adalah efek yang mungkin saja terjadi usai libur panjang. Kita memang tidak bisa mengontrol apa yang terjadi setelah liburan, tetapi mencegah kemungkinan terjadi bisa dimaksimalkan. Perhatikan bahwa liburan seyogyanya memberikan efek positif bermanfaat, bukan mudarat.

Semangat Tahun Baru!

Happy New Year 2020

Ilustrasi.

It is all about TIME

Time flies so fast. And life contains the most of unexpected things. We will understand miracle of life fully when we allow the unexpected things to happen. Miracles do happen when you believe. The wise man said “Never give up before the miracle happens” because believing in yourself is the first secret to success.

As I dont know about tomorrow, I never save the best for later. Time is really precious. Sometimes the best thing you can do is not think, not wonder, not imagine, not obsess. Just breathe and have faith that everything will work out for the best.

All mentioned above is regarding my qoutes to inspire in beginning new year. Happy New Year to all my lovely readers and visitors!

Wir werden sehen was die Zeit bringt. Ein Prosit Neu Jahr 2020!

Selamat Tahun Baru 2020! Semoga sukses menyertai anda sekalian.

Seberapa Berani Petualangan Anda Tahun ini?

“Das Leben ist entweder ein wagemutiges Abenteuer oder Nichts.”

Ilustrasi.

Terjemahan peribahasa tersebut adalah hidup itu adalah petualangan, antara anda berani atau tidak sama sekali. Peribahasa ini saya dapatkan ketika saya ngobrol dengan sesama orang Jerman di sini. Kami bercerita satu sama lain tentang kunjungan ke berbagai tempat di dunia yang unik, menarik dan asyik. Akhirnya saya yang suka traveling berkesimpulan bahwa hidup itu memang sebuah petualangan dan biarkan itu berjalan sebagai pengalaman berharga.

Akhir tahun 2019 pun tinggal menghitung jari. Anda dan juga saya sama-sama akan memasuki tahun yang baru. Pertanyaannya, seberapa berani petualangan anda di tahun ini? Tentu pertanyaan ini bukan tentang traveling saja, tetapi apa yang sudah dicapai sepanjang tahun ini.

Apakah anda sudah berani memulai sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya?

Apakah anda sudah berani membuat perubahan hidup yang dulu menjadi niat awal tahun?

Apakah anda sudah berani menerima kegagalan dan kejatuhan yang buruk yang membuat anda terpuruk, malu dan gagal di tahun ini?

Apakah anda sudah berani menghadapi kenyataan ditolak, diremehkan dan rasa pesimis dari orang sekitar tentang mimpi yang ingin dibangun?

Ilustrasi.

Membangun keberanian itu tidak mudah. Ketika saya ingin berkunjung ke suatu tempat, ada rasa takut. Apakah tempat tersebut aman? Belum lagi orang yang tahu saya akan pergi pun bertanya “Saya dengar tempat itu tak aman.” Ditambah lagi informasi miring tentang tempat yang dikunjungi tersebut. Begitu tiba di tempat tujuan, semua berjalan baik sepanjang kita bisa menghadapinya dengan baik. Itu pengalaman petualangan yang saya pikir, antara saya berani menghadapinya atau tidak sama sekali.

Di akhir tahun, saya tidak akan membahas capaian resolusi dan segala hal soal rencana di sepanjang tahun. Saya pikir itu semua ada di tangan anda.

Jika goal anda tahun ini berhasil, anda pasti bahagia. Tetapi jika goal anda tidak terwujud di tahun ini, anda juga harus bahagia.

Karena anda masih punya harapan di tahun berikutnya sepanjang anda berani gagal, berani mencoba lagi dan berani untuk memperjuangkannya.

Terkadang saya berpikir, mengapa Tuhan meletakkan mimpi itu pada saya karena Tuhan tahu bahwa saya bisa memperjuangkannya dengan baik. Namun semua itu butuh keberanian. Berani memulai maka berani memperjuangkannya.

Di akhir artikel, saya hanya bertanya seberapa berani anda berpetualang di tahun ini?

Mereka yang berhasil adalah mereka yang berani memulai dan berjuang untuk mendapatkannya.

Selamat berhari Minggu bersama keluarga!

Jika Natal Menyebabkan Stress dan Kekhawatiran

Umumnya tiap orang beragama akan berbahagia menyambut datangnya hari raya. Namun sesungguhnya tidak semua orang benar-benar berbahagia menghadapi hari raya yang segera terjadi. Seperti yang akan saya bahas adalah stress dan khawatir saat Natal datang. Tetapi apakah itu mungkin? Mungkin saja bagi sebagian kecil orang yang mengalaminya tanpa disadari. Contohnya adalah kenalan saya yang baru saja mengakui bahwa ia stress saat Natal datang.

Ilustrasi.

Mengapa kita bisa stress dan khawatir saat hari raya tiba?

Berdasarkan tingkat stress yang diujikan Holmes dan Rahe (1967) dikatakan bahwa stress berkontribusi terhadap penyakit yang diderita seseorang. Semakin tinggi tingkat stress maka semakin besar kemungkinan seseorang menjadi sakit. Stress skala ini menjabarkan peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang mendatangkan stress. Kemudian peristiwa tersebut diberi skala untuk menentukan tingkat stressnya. Salah satu peristiwa hidup yang juga mendatangkan stress adalah hari raya Natal.

Meski skor tingkat stress “Christmas” tidak tinggi dibandingkan peristiwa hidup lainnya, seperti dipecat dari pekerjaan atau kematian salah seorang anggota keluarga tetapi nyatanya ada saja orang yang mengalami stress saat Natal tiba. Ini disebabkan karena ada gap antara tuntutan dan kenyataan. Kejadian ini memunculkan stress karena segala sesuatu di luar kendali kita. Ketika kita tidak mampu mengatasinya, muncullah stress, padahal orang-orang yang kita kenal merayakan hari raya Natal sedang berbahagia.

Apakah stress di hari raya itu salah?

Tidak salah. Stress dalam kehidupan sehari bisa terjadi, apalagi stress yang terjadi sekali dalam setahun. Bagi kebanyakan orang misalnya kelahiran bayi adalah peristiwa kehidupan normatif dan wajar bahkan membahagiakan tetapi orang yang tak mampu mengendalikan peristiwa tersebut bisa menjadi stress. Begitu pun saat hari raya Natal, umumnya orang merasa berbahagia merayakannya tetapi ada sebagian kecil orang yang mulai stress.

Kembali ke skala Holmes dan Rahe, Natal menempati skala 12 dari skor 100 yang paling tinggi. Natal memang tidak termasuk dalam 43 peristiwa kehidupan manusia yang paling signifikan memberi stress tetapi ini adalah informasi bahwa peristiwa hidup yang bagi sebagian besar orang itu membahagiakan tetapi ada yang mengalami stress dan kekhawatiran. Seperti yang dikatakan kenalan saya yang seharusnya dia berbahagia saat Natal karena dia juga merayakannya. Dia justru stress dan khawatir menjelang Natal.

Stress dan kekhawatiran jelang hari raya dipicu oleh berbagai faktor yang perlu dikaji lebih dalam. Apa yang menyebabkan seseorang menjadi stress saat hari raya? Apakah stress dipicu oleh faktor eksternal seperti suasana yang membangkitkan trauma di hari raya, sibuk hingga kelelahan menyiapkan pernak-pernik hari raya, konflik dalam keluarga sementara hari raya adalah hari berkumpul keluarga hingga tidak tahu apa yang dilakukan saat hari raya dan sebagainya? Apakah stress dan kekhawatiran di hari raya disebabkan faktor internal seperti takut menghadapi kondisi yang masih lajang, malas bertemu dengan keluarga besar hingga masalah finansial saat hari raya dan sebagainya?

Apa yang sebaiknya dilakukan bila mengalami stress saat hari raya?

Hari raya Natal tinggal esok hari. Natal sesungguhnya menjadi momentum membahagiakan bagi mereka yang merayakannya. Tetapi bila anda mengalami stress saat hari raya tiba, maka anda tidak sendiri. Berdasarkan informasi statistik kesehatan mental ditemukan ada orang yang melaporkan stress saat hari raya tiba. Dan mereka yang ahli menangani kondisi ini untuk membantu orang-orang melewati stress dan kekhawatiran berlebihan.

Jika anda merasa bahwa anda tidak mampu menghadapi seorang diri, maka anda bisa berbagi dengan orang yang terpercaya untuk mengatasi stress dan kekhawatiran yang dihadapi. Bila kondisi stress semakin akut dan butuh penanganan khusus maka anda perlu datang ke ahli yang mampu memberikan terapi khusus.

Selamat menyiapkan Malam Kudus!

5 Alasan Bulan Desember Memberi Nuansa Melankolis

Desember adalah bulan kedua belas dalam satu tahun yang penuh makna bagi siapa saja. Bagi yang merayakan hari Natal, jelas bulan Desember menjadi kesempatan yang ditunggu untuk berbahagia melaksanakan ibadah dan perayaan Natal. Tetapi bagi yang tidak merayakannya, Desember tetap memberi makna karena berada di penghujung tahun. Ya, akhir tahun dan menuju tahun yang baru.

Ilustrasi.

Ini alasan mengapa Desember tampak melankolis.

Pertama, Desember identik dengan akhir tahun

Di awal selalu ada rencana maka di akhir tentu ada evaluasi. Begitulah kehidupan. Alfa dan Omega dalam bahasa Yunani. Ketika di awal tahun bisa jadi ada banyak rencana dan harapan yang ingin dicapai sepanjang tahun. Lalu tak terasa waktu berjalan cepat dan bulan Desember telah datang. Ada sebagian orang yang mulai galau, bingung, sedih atau malahan frustrasi karena harapan tak sesuai impian. Ini yang membuat suasana begitu melankolis.

Kedua, Desember bagi orang Kristiani adalah masa penantian datangnya natal

Desember itu identik dengan seremoni dan kemeriahan hari raya umat nasrani di seluruh dunia. Sebelum natal, umat kristen menantikan datangnya Sang Imanuel melalui empat minggu yang dikenal masa Advent. Tradisi kristen di dunia barat mengenal masa Advent sebagai masa penantian yang diisi dengan perenungan dan refleksi batin. Natal, satu minggu sebelum tahun yang baru, membuat orang kembali kepada Tuhan. Itu sebab suasana melankolis muncul di bulan ini, sebelum Natal tiba.

Ketiga, Desember di belahan dunia barat adalah awal musim dingin

Desember adalah awal datangnya musim dingin dan berakhirnya musim gugur. Suhu udara yang dingin membuat suasana semakin melankolis. Anda bisa membayangkan suasana melankolis Desember itu seperti lagu Blue Christmas yang dinyanyikan oleh Elvis Presley. Malam begitu panjang di bulan Desember yang membuat orang tampak mellow, galau suasana begitu sendu yang membuat banyak orang di belahan dunia yang menghadapi musim dingin memilih berdiam di dalam ruangan.

Keempat, Desember juga identik dengan liburan bersama orang yang dikasihi

Suasana melankolis di bulan Desember dipicu dari sebagian orang mulai memikirkan dengan siapa mereka akan menghabiskan liburan. 25 Desember itu jadi hari raya libur bagi sebagian besar orang di dunia dan satu minggu kemudian adalah hari libur awal tahun. Ada yang menghabiskan cuti tahunannya di periode ini dan mendedikasikan liburan bersama keluarga atau orang yang dikasihi. Melankolis mungkin terjadi ketika orang merasa kesepian, dan mulai memikirkan rencana berikutnya (=tahun yang baru).

Kelima, Desember identik dengan nostalgia dan memori di masa lalu

Terakhir nih, Desember menjadi identik dengan nostalgia dan kenangan bagi sebagian orang yang merayakan natal. Teman-teman saya yang merayakan natal selalu terkenang bagaimana kemeriahan natal bersama keluarga saat masa anak-anak. Siapa pun pasti punya nostalgia dan memori di masa lalu di bulan Desember, baik itu kenangan indah maupun kenangan pahit. Tetapi mengapa bulan Desember? Karena ini adalah bulan penghujung tahun dimana orang memikirkan peristiwa yang sudah terlewati.

Lepas dari lima alasan yang saya berikan, saya merasakan betul suasana melankolis di bulan Desember ketika saya sedang berada jauh dari keluarga sementara saya masih lajang saat itu. Saya bingung juga bagaimana merayakan natal sehingga memunculkan perasaan melankolis. Ditambah liburan misalnya saya tidak bisa pergi liburan dan harus menonton tayangan hiburan di rumah yang berisi film drama keluarga. Lengkap sudah perasaan melankolis saat dulu saya masih lajang. Ini pengalaman pribadi.

Apakah anda mengalami perasaan melankolis juga di bulan ini?

Antara Bos Perempuan dengan Bos Laki-Laki, Anda Pilih Mana?

Ilustrasi.

Kemunculan emansipasi telah memberikan pengaruh dalam dunia kerja. Perempuan dan laki-laki pun punya peluang yang sama untuk menduduki posisi pemimpin. Meski ini belum tentu berlaku di semua perusahaan, tetapi saya terkejut juga ketika mendengarkan teman saya mengeluh lebih suka dipimpin oleh si A ketimbang B, berdasarkan gendernya. Hanya karena gender, dia berpikir bahwa bos perempuan itu lebih baik ketimbang bos laki-laki.

Begitu tiba di rumah, tangan saya sibuk mencari tahu tentang studi yang berkaitan. Saya bukan feminist activist, tetapi sebagai perempuan saya menjadi penasaran juga. Apakah benar berlaku bahwa bos perempuan lebih baik daripada bos laki-laki seperti yang dikatakan teman saya tadi?

Suatu studi menyatakan bahwa perempuan lebih terlibat dalam tim kerja, daripada pimpinan laki-laki. Ini yang menyebabkan pengaruh keterlibatan pemimpin perempuan mendorong performance lebih tinggi dalam pekerjaan. Meski studi ini tidak dapat digeneralisasikan dalam semua bidang pekerjaan, nyatanya pemimpin perempuan itu memakai pendekatan pendampingan ketimbang pendekatan komando yang dilakukan pemimpin pria. Melalui pendekatan yang seperti ini, pemimpin perempuan membangun komunikasi yang partisipatif sehingga lebih disukai. Sementara pemimpin pria tampak seperti militer dan tradisional yang mengesankan adanya hierarki dalam kepemimpinan.

Saya sendiri tidak terlalu ambil pusing, apakah suka dipimpin bos perempuan atau bos laki-laki karena saya berpikir ada perbedaan karakter yang unik yang tidak bisa disamaratakan. Ini sama seperti mengapa mereka memilih saya yang perempuan untuk suatu pekerjaan ini dan itu, ketimbang laki-laki. Ada alasan yang mendasar dan mungkin logis bahwa posisi tertentu memang lebih baik untuk lelaki dan atau posisi lain memang untuk perempuan. Hanya saja akan terdengar aneh saja jika anda suka dipimpin oleh si A atau B hanya karena gender, bukan karena kapasitas.

Gaya partisipatif pada bos perempuan bisa jadi tidak disukai karena terkesan tidak efektif. Namun gaya kepemimpinan bos laki-laki yang tradisional bisa jadi bumerang karena kontrol yang ketat dan lebih banyak diatur. Dengan begitu, sebenarnya sama saja. Tak ada yang lebih baik antara dipimpin bos perempuan atau bos laki-laki. Semua tergantung bagaimana kita sebagai pekerja bisa menunjukkan kinerja yang baik, bukan tergantung gender pemimpinnya.

Apakah kita akan giat bekerja hanya karena siapa bos kita? Saya pikir justru kita menjadi aktif dan produktif dalam bekerja karena siapa kita sesungguhnya.

Sejak perempuan diberi peluang dalam manajeman, tidak berarti bahwa pria dan wanita bisa dianggap sama dalam kepemimpinan. Mereka punya cara dan pendekatan tersendiri sebagaimana karakter kepribadian mereka. Orang yang berjiwa pemimpin tampak ketika mereka mampu mengorganisir dan menangani pekerjaan.

Satu hal menarik yang saya pelajari dari ayah saya adalah bagaimana kita bisa menjadi pemimpin, jika kita tidak bisa memimpin diri sendiri menjadi lebih baik. Jangan harap kita bisa menjadi pemimpin jika kita tidak bisa memimpin dalam hal kecil. Segala yang besar bermula dari perkara kecil. Bagaimana kita bisa jadi pemimpin, bila kita tidak tahu bagaimana mengelola kebutuhan diri sendiri. Jadi saya lebih setuju pemimpin itu tidak diperhatikan berdasarkan gendernya tetapi kapasitas dan kemampuannya.

11 Tahun, 820 Hari: Sering Menulis Tiap Hari, Ini 7 Keseringan Dampaknya

Selamat bergabung di aplikasi wordpress yang ke-11!
Sudah 820 Hari, blogging tiap hari!

Menulis setiap hari itu menjadi tantangan tersendiri buat saya selama 820 hari. Padahal saya sudah memulai sejak 11 tahun lalu bergabung di wordpress, aplikasi yang menyalurkan hobi menulis saya. Namun kebiasaan rutin menulis baru beberapa tahun belakangan ini. Seandainya 11 tahun lalu saya sudah menulis tiap hari tentu sekarang saya sudah menghasilkan sekitar empat ribuan artikel. Sayangnya, itu tidak terjadi demikian.

Dahulu pekerjaan saya di Indonesia adalah sebagian traveling ke pelosok nusantara untuk bekerja. Tak terbayang berapa banyak tempat dan artikel yang bisa saya kumpulkan sekarang. Menyesal? Saya sangat menyesal tidak bisa menyisihkan kesibukan pekerjaan dahulu dengan menulis. Kini saya tahu betapa pentingnya menulis tiap hari untuk aktualisasi diri. Saya merasakan self-esteem yang tumbuh positif melalui kebiasaan ini.

Artikel ini bukan yang pertama yang menjelaskan manfaat menulis tiap hari dan tantangannya. Saya sudah mengulas sebelumnya, yang bisa anda cek di blog ini.

Kali ini saya membahas apa sih dampaknya menulis tiap hari selama 820 hari, yang saya rasakan. Sering menulis itu menyebabkan keseringan pada hal lain. Apa saja?

1. Sering Baca

Apakah anda berpikir saya tahu segala hal lewat semua ide yang saya tulis? Saya tahu tentang banyak hal ketika saya membutuhkannya untuk memperkaya data artikel saya. Artikel saya memang tidak berhubungan dengan persoalan pribadi, sehingga saya harus mencari informasi yang melengkapi artikel yang hendak ditulis. Mengapa begini? Mengapa begitu? Lewat membaca, saya menjadi tahu sesuatu yang mendasari atau latar belakang tentang sesuatu hal. Ada yang mengatakan membaca dulu kemudian menulis, tetapi bagi saya membaca dan menulis harus dilakukan beriringan atau sejalan.

2. Sering Bertanya

Mengapa mereka melakukan itu?” atau “Apakah benar di Tiongkok itu ada hari lajang?” dan sebagainya pertanyaan-pertanyaan saya pada beberapa kenalan saya berbeda bangsa di sini. Kebiasaan bertanya itu ternyata melatih berpikir kritis saya. Misalnya, saya bertanya bagaimana membuat makanan ini dan itu kepada orang lain. Jika anda hidup di negeri perantauan dan tidak mengenal akrab, anda tak mungkin bergosip dan membicarakan orang lain. Tentu berdiskusi soal kebiasaan, makanan hingga budaya itu membuat hidup saya makin kaya.

3. Sering Cari Tahu

Ada yang memanfaatkan kecanggihan smartphone itu untuk terhubung dengan orang lain yang berada jauh di sana, ada yang selfie, ada yang menjadi social media addicted atau ada pula yang menjadi vlogger. Semantara saya memanfaatkan smartphone untuk menyimpan ide menulis dan memotret apa yang saya lihat. Lewat smartphone, saya mencari tahu tentang ide menulis yang hendak saya kembangkan. Dunia kini seluas dua jari, anda bisa mencari tahu begitu mudahnya. Jika stuck menulis, segera cari tahu ide menarik untuk ditulis.

4. Sering Penasaran

Menulis tiap hari itu membuat saya penasaran pada banyak hal di dunia ini. Saya penasaran terhadap sesuatu hal sehingga ini melatih saya untuk menulis. Menulis tiap hari itu memunculkan rasa penasaran. Besok saya akan menulis apa. Bulan depan, apa yang akan saya tulis. Saya penasaran dengan suatu tempat, suatu makanan atau sesuatu hal, hanya karena saya harus menulis tiap hari.

5. Sering Berpendapat

Menulis tiap hari itu melatih keterampilan linguistik seseorang, itu yang saya rasakan. Ini bisa menjadi alasan, saya begitu mudah mengungkapkan pendapat saya ketika berdiskusi atau berjumpa dengan orang lain. Keterampilan lingustik itu membuat saya cakap berpendapat tentang sesuatu ide, bukan menggosip ya.

6. Sering Berpikir Terstruktur

Bahwa seberapa banyak orang memahami sesuatu, ketika dia sering berpikir terstruktur. Ia akan mudah menuliskan atau menyampaikan hal yang mudah dicerna dan terstruktur. Apa yang menyebabkannya? Menulis tiap hari melatih otak untuk menyampaikan sesuatu secara tertulis, yang berhubungan satu sama lain sehingga menjadi struktur artikel. Kebiasaan baik ini tentu mendorong saya untuk berpikir terstruktur dalam kerangka berpikir (=logical frame) yang sering tentang sesuatu hal.

7. Sering Punya ‘Me Time’ buat menulis

Hal terakhir yang menjadi keseringan saya adalah memiliki waktu sendiri untuk menulis. Saya tahu bahwa saya punya aktivitas lain yang juga sama penting atau lebih penting dari sekedar menyalurkan hobi menulis. Namun kebiasaan menulis tiap hari melatih saya untuk meluangkan waktu sendiri untuk menulis. Jika ditanya apa ‘me time’ saya? Menulis dan membaca adalah ‘me time’ saya yang tak terpisahkan.

Menulis tiap hari itu adalah soal memilih bagaimana memanfaatkan waktu luang. Target saya adalah menggenapi artikel sampai hari ke-1.000 menulis tiap hari. Semoga saya berhasil melampui 180 hari lagi menulis tiap hari.

Anda sendiri bagaimana?

Ketika Orang Berhenti Ngeblog, Barangkali Ini Alasannya

Tak ada yang dapat menebak seorang yang menjadi blogger bisa begitu konsisten dan bertahan hingga bertahun-tahun lamanya. Atau justru sebaliknya, kita juga tak bisa menebak ketika seseorang berhenti ngeblog dan tidak ingin posting artikel lagi. Siapa yang bisa menebak jalan cerita kehidupan, termasuk kehidupan blogging. Ada yang mendapatkan penghasilan dan menjadikannya pekerjaan, namun ada pula yang menjadikan blog sebagai media pengisi waktu lowong, suka-suka dan hanya menyalurkan hobby. Semua itu sah-sah saja.

Ketika seorang kenalan menyimak artikel demi artikel saya yang konsisten hari ke hari, kemudian dia menyarankan kepada saya untuk menjadi youtuber. Apa itu? Saya tahu bahwa perkembangan dunia teknologi komunikasi yang semakin canggih membuat siapa saja bisa berperan sebagai video maker.

Sepuluh tahun lalu itu adalah bagian pekerjaan yang saya lakukan, kini bisa dilakukan siapa saja. Dahulu saya memang wajib membuat video singkat untuk mendokumentasikan laporan program yang saya liput. Ibarat saya harus membuat visualisasi lalu kemudian dimuat di youtube. Link video disertakan dalam laporan berbahasa Inggris. Itu dulu.

Ketika teman tadi menyarankan saya membuat konten video, saya hanya menyanggah bahwa saya punya hobby menulis dan membaca. Alih-alih itu memberikan peluang penghasilan, blogging hanya pekerjaan sampingan yang dilakukan tiap hari. Namun jika saya berhenti menulis di blog dan membuat vlog, bisa jadi mungkin alasan orang berhenti blog saat ini. Beralih dari Blogger menjadi Vloger adalah satu alasan yang menyebabkan orang berhenti menulis.

Alasan lain orang berhenti blogging adalah bisa jadi sibuk dengan aktivitas utama. Aktivitas utama bisa bermacam-macak mulai dari bekerja, urusan rumah tangga hingga kepentingan pribadi. Itu artinya blogging memang aktivitas sampingan, sementara orang yang mengaku ‘the blogger’ adalah mereka yang mendedikasikan waktu untuk blogging sebagai aktivitas utama.

Di sisi lain, blogger yang mumpuni ternyata telah berhasil mengumpulkan artikel demi artikel yang dimuat di blognya. Lalu dia menyusunnya dengan baik sehingga menjadi buku. Ada kenalan blogger yang berhasil merilis buku, buah pikirannya selama di blog. Pada akhirnya dia pun berhenti menulis di blog. Alasan ini bisa jadi masuk akal, berhenti jadi blogger karena sudah berhasil menerbitkan buku.

Ada lagi bagi mereka yang berhenti blogging dikarenakan rasa bosan, tak menemukan kesenangan dalam blogging, jenuh atau tampak frustrasi. Tak ada yang bisa menebak perasaan emosional ini bisa muncul yang mendorong seseorang tak lagi ngeblog atau berhenti menulis. Jika ini terjadi, sebaiknya berhentilah blogging. Menulis itu harus dalam keadaan menyenangkan.

Alasan terakhir yang membuat orang berhenti blogging adalah sakit dan kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Poin ini rasanya tak perlu dijelaskan lagi.

Apakah anda menemukan alasan lain dimana orang berhenti dari dunia blogging yang belum dijelaskan di atas?

Jika Ada Orang yang Tak Mau Bersalaman, Jangan Tersinggung! Ini Alasannya

Ilustrasi berjabat tangan. Foto diambil di negara Liechenstein.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Pepatah Indonesia itu artinya adalah setiap negara atau tempat berlainan adat kebiasaannya. Kita harus menjunjung kultur dimana kita berada. Salah satunya adalah soal kebiasaan berjabat tangan sebagai salam penutup atau pembuka pertemuan. Ini menjadi topik diskusi saya bersama teman multi bangsa di sini.

Sebagaimana anda tahu, Jerman kini menjadi negeri impian bagi banyak orang di dunia. Saya di sini bisa berjumpa dengan aneka ras bangsa di seluruh dunia. Kebiasaan tiap orang pun berbeda-beda. Seperti tema diskusi kami adalah berjabat tangan. Ada orang yang suka berjabat tangan saat bertemu dengan siapa saja yang dikenal dan tidak dikenal. Ada orang yang tak hanya berjabat tangan saja tetapi juga memeluk. Lain lagi ada yang berjabat tangan, menepuk bahu atau mencium pipi kanan kiri. Lain orang lain kebiasaan. Itu pemikiran saya.

Suatu hari kami duduk di kafe. Seorang teman yang sedang hamil bercerita bahwa dia baru saja bertemu dengan dokter kandungan dan dokter tersebut tidak ingin berjabat tangan saat dia memberikan tangannya. Lalu satu sama lain di antara kami pun mulai mengajukan pendapat dan pengalaman tentang kebiasaan berjabat tangan. Ini menjadi diskusi yang hangat dan saya bagikan kepada anda.

Ada tiga hal berjabat tangan yang harus diperhatikan. Itu berarti jika ada orang yang tak ingin memberikan tangannya untuk berjabat tangan, sebaiknya anda tak perlu tersinggung. Bisa jadi berikut salah satu alasannya.

1. Budaya

Ada budaya berjabat tangan itu wajib dilakukan saat bertemu orang lain, tetapi ada juga budaya berjabat tangan hanya dilakukan hanya pada orang yang dikenal akrab saja. Jika kita mengenal orang tersebut, maka berjabat tangan menjadi salam pembuka tanda persahabatan. Sementara ada juga berjabat tangan sebagai awal perkenalan yang hangat dalam relasi antar manusia.

Berjabat tangan dalam sudut pandang budaya juga dikatakan oleh teman lain bahwa itu semua tergantung gendernya. Teman lain mengatakan ada perempuan yang tidak ingin berjabat tangan dengan sesama perempuan, melainkan salam pembuka dilakukan dengan berpelukan atau cium pipi kanan kiri. Sedangkan berjabat tangan yang dilakukan perempuan hanya pada pria saja, untuk menghindari pelukan dan cium pipi kanan kiri. Begitulah lain budaya lain kebiasaan ‘kan.

Budaya lain yang diceritakan teman lain asal Afrika adalah berjabat tangan dimulai dari orang yang lebih tua terlebih dulu. Saya yang mendengarnya takjub juga bahwa saya terkadang tidak memikirkan usia apalagi gender saat berjabat tangan. Budaya dan kebiasaan membuat kita memahami satu sama lain bahwa ini yang membuat kita bertumbuh dan berkembang dimana pun kita berada.

Berjabat tangan menurut teman lain asal Asia menandakan suatu persetujuan atau kesepakatan. Jika kita setuju pada suatu hal maka itu ditandai dengan berjabat tangan. Hal lain juga soal jabat tangan adalah mengakhiri perjumpaan. Sedangkan teman Asia lainnya justru tidak berjabat tangan tetapi meletakkan tangan di dada saat bertemu sambil mengucapkan salam tertentu. Itu memang budaya dan kebiasaannya memberikan salam kepada orang lain.

2. Profesi pekerjaan

Menyambung berjabat tangan dengan profesi rupanya ada keterkaitan. Beberapa profesi ada yang melarang berjabat tangan karena ini bisa menghantar kuman atau hal-hal tidak dikehendaki. Seperti misalnya dokter yang memang riskan terhadap risiko penularan dengan berjabat tangan. Meski kini telah ada pencuci tangan higenis yang selalu tersedia di ruang praktik dokter, tetapi nyatanya lebih baik mencegah hal-hal tidak dikehendaki.

Ada sebagian dokter memberi salam seperti mengepalkan tangan lalu disentuhkan pada kepalan tangan pasien yang datang. Itu yang saya alami di sini. Dokter keluarga saya menceritakan bahwa mengepalkan tangan dan menyentuhkan kepalan tangannya pada kepalan tangan pasien adalah caranya berjabat tangan. Ini adalah cara kebiasaannya untuk memulai dan mengakhiri pertemuan dengan pasien.

Pekerjaan lain juga misalnya koki atau juru masak saat dia sedang bekerja. Seorang teman yang bekerja menjadi asisten juru masak dilengkapi pakaian khusus dan sarung tangan saat bekerja di dapur. Nah selama bekerja, dia tidak bersalaman ketika bertemu dengan rekan lainnya. Karena tangan punya banyak risiko penularan terhadap kuman dan bakteri yang tidak dikehendaki. Untuk menghindari hal tersebut maka dia memang tidak berjabat tangan selama bekerja.

3. Agama

Alasan lain soal berjabat tangan atau tidak adalah soal keyakinan atau agama. Dalam misa untuk umat katolik, ada satu sesi kita memberikan salam satu sama lain sambil mengucapkan salam damai. Tetapi saat saya menghadiri misa di suatu negara, berjabat tangan dengan memberi ucapan salam damai tidak menjadi wajib. Rupanya ini tidak menjadi kultur di negara tersebut. Ada yang memberikan tangannya mengucapkan salam damai, ada pula yang enggan apalagi terhadap orang di sekitarnya yang tak dikenal.

Berjabat tangan dalam kaitan keyakinan juga diutarakan teman asal Timur Tengah. Berjabat tangan tidak dilakukan antara perempuan dan laki-laki atau berbeda gender. Sesuai keyakinan, mereka hanya memberikan salam dengan cara lain dengan orang berbeda gendernya seperti menganggukkan kepala, melambaikan tangan atau memberi tangan di dada.

Kesimpulan

Berjabat tangan memang simbol persahabatan dan persaudaraan bahwa kita setara. Namun menarik soal berjabat tangan, teman saya asal Amerika yang pernah tinggal di Indonesia bercerita bahwa orang Indonesia itu begitu santun. Dia berkunjung ke suatu tempat di Indonesia, orang di sana ramah dan hangat, kata teman saya tersebut. Orang Indonesia berjabat tangan dengan hati, mereka memberi tangan lalu meletakkannya di dada mereka. Itu sangat manis, kata teman saya asal Amerika. Tidak ada jabat tangan yang begitu menyentuh selain di Indonesia, lanjut teman saya tersebut.

Lepas dari tiga hal dan penjelasannya di atas, semoga ini bisa menjadi informasi bahwa berjabat tangan itu tergantung konteksnya. Jika ada orang yang tak ingin berjabat tangan dengan anda, sebaiknya jangan tersinggung!

5 Siasat Tetap Menulis (One Day One Post) Kala Traveling

Ilustrasi.

One day one post (ODOP) adalah istilah para blogger untuk tetap aktif tiap hari satu artikel. Begitu pun yang saya lakukan selama lebih dari 750 hari untuk eksis menulis dan membagikan pendapat dan pengalaman lewat blog ini.

Konsisten dan komitmen untuk muncul dengan berbagai tema artikel ternyata tidak mudah. Ini dia tantangan one day one post, sebagaimana yang pernah saya ungkapkan di link ini. Karena saya berpikir ada manfaat yang bisa diperoleh jika saya tetap menulis dan bagikan di blog. Manfaat materi memang tak sebesar dibandingkan kepusan batin bahwa hobi saya menulis tersalurkan dengan baik.

Sejalan dengan upaya ODOP saya bagikan siasat yang saya lakukan agar bisa tetap blogging selama traveling. Sejujurnya ODOP sambil traveling itu bukan hal mudah karena kita berada dalam situasi yang tidak biasa seperti kondisi internet, situasi perjalanan atau rasa lelah seharian plesiran. Berdasarkan pengalaman tersebut, saya buatkan 5 siasat hasil praktik pribadi.

1. Punya “Bank Tulisan”

“Bank Tulisan” adalah julukan saya untuk draft tulisan atau ide/konsep yang muncul untuk menjadi artikel. Sebelum berangkat traveling, saya sudah punya beberapa artikel yang ditabung di “Bank Tulisan” dan sewaktu-waktu dapat saya tarik dan keluarkan menjadi artikel.

Bank Tulisan juga sering saya manfaatkan saat saya tidak punya banyak waktu menulis karena saya lelah di perjalanan atau program acara traveling terlalu padat. Di Bank Tulisan juga saya menyimpan ide atau konsep yang saya temukan selama traveling. Ide menulis muncul manakala saya melihat minuman atau makanan yang menarik dan berbeda untuk diulas. Ide lainnya misalnya tempat tujuan traveling yang baru saja dikunjungi. Saya simpan semua di Bank Tulisan.

Saat saya sedang tak ada kegiatan di malam hari atau saat senggang di perjalanan, saya sempatkan mengembangkan ide dan konsep yang ada di Bank Tulisan. Saya lengkapi dengan informasi lainnya, termasuk foto yang sesuai dan bertanya pada beberapa orang untuk menunjang artikel saya.

2. Riset dan cari tahu

Kebiasaan ODOP itu bukan hal mudah manakala anda tidak sedang di rumah. Oleh karena itu, saya mencari tahu destinasi wisata yang dipilih agar kebiasaan ODOP tetap bisa saya lakukan. Misalnya, apakah hotel atau tempat saya menginap tersedia koneksi internet?

Tahun lalu saya traveling ke sekian negara di Eropa, internet di smartphone saya tidak mengalami hambatan. Jika saya harus upload artikel, internet di benua biru memang tidak bermasalah. Saya tetap bisa melakukannya. Namun ada kalanya traveling ke suatu tempat, jangkauan internet tentu menjadi masalah.

Cari tahu yang lain misalnya, perbedaan waktu. Tiap jam sekian di Jerman tentu saya konsisten upload 1 artikel. Saya ingin tetap konsisten jam tayang artikel. Alhasil riset dan cari tahu bisa membantu saya rutin ODOP.

3. Jaringan internet

Seperti yang diuraikan di atas, ketersediaan internet adalah hal yang mendukung atau menghambat melakukan ODOP. Di beberapa tempat wisata ada yang menerapkan biaya ekstra untuk internet yang memadai. Namun segi keamanan dan kenyamanan perlu juga diperhitungkan agar rutinitas ODOP bisa dilakukan.

Beruntungnya fasilitas pasca bayar yang difasilitasi Telekom dari Jerman memungkinkan saya tetap terhubung internet. Telekom yang saya gunakan bekerjasama dengan provider lokal negara tujuan traveling lalu saya hanya kirim kode SMS untuk mengaktifkan kuota internet. Meski biayanya sedikit lebih mahal dibandingkan biaya ekstra dari hotel, namun saya merasa puas bisa tetap rutin ODOP.

4. Siapkan smartphone untuk segala hal

Jika dahulu saya harus membawa laptop kemana pun saat traveling maka kini smartphone bisa melakukan ODOP dengan mudah. Melalui telepon pintar, saya bisa terhubung pada notes dan kamera yang super canggih. Saya harus cekatan dengan dua jari ketika tour guide sedang menjelaskan lokasi atau informasi wisata. Tangan saya pun segera sigap ambil foto sana sini. Kadang jika saya malas mengetik, saya rekam apa yang saya alami selama traveling agar saya tidak lupa.

Telepon pintar memang memudahkan semuanya. Itu seperti menunjukkan bahwa ODOP bisa dilakukan asalkan saya berniat menekuninya. Memang saya belum menjadi “the blogger” tetapi kecintaan saya menulis memberi saya banyak manfaat. Membaca dan menulis itu adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kini tambah lagi, membaca, menulis sambil traveling itu pengalaman seru.

5. Seriuslah mengerjakannya

Terakhir, semua kembali pada keseriusan seseorang yang menekuni ODOP untuk jangka tertentu. Saya sendiri ingin mencapai seribu hari meski terkadang ada banyak tantangan. Misalnya, saya harus siap jam 2 pagi dini hari untuk traveling ke suatu kota, sementara jam sekian saya harus upload artikel. Pada jam tersebut, saya berada dalam perjalanan dan susah terjangkau internet. Saya tetap melakukan ODOP hanya saja waktunya tidak konsisten. Itu menandakan saya serius menekuni ODOP meski ada hambatan ini dan itu.

Semoga bermanfaat!