CERPEN (43): Gantungkan Cita-cita Setinggi Langit

Setiap Sabtu saya tayangkan ulang cerita pendek yang sudah ditayangkan sebelumnya dengan judul sama pada 9 Januari 2016. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. “Ayo bangun, nak. Apa kamu tidak sekolah?” tanya ibu dari luar kamar. Ibu langung masuk kamarku yang memang tidak terkunci. “Bergegas berangkat ke sekolah, kamu bisa bareng dengan abangmu.” “Ibu, mengapa aku harus… Read More CERPEN (43): Gantungkan Cita-cita Setinggi Langit

Rate this:

CERPEN (42): Balon-balon yang Pergi Bersama Masa Lalu

  Setiap Sabtu saya tayangkan ulang cerita pendek yang sudah ditayangkan sebelumnya dengan judul sama pada 17 Januari 2016. “Cup. Cup. Sudah berhenti nangisnya,” seru ibu mengelus bahuku. Aku terisak sesaat menghentikan tangisku. Aku tersenyum. “Ibu tahu apa yang kau butuhkan. Ini!” kata ibu sambil menyerahkan dua balon warna kesukaan padaku. Aku tertawa sambil melap… Read More CERPEN (42): Balon-balon yang Pergi Bersama Masa Lalu

Rate this:

CERPEN (41): Mengapa Kenyataan Tak Seperti Rencana?

Setiap Sabtu saya tayangkan ulang cerita pendek yang sudah ditayangkan sebelumnya dengan judul sama pada 10 September 2014 Anak: “Ibu, mengapa kenyataan tidak berjalan sesuai rencana?” Ibu: “Mungkin kau lupa berdoa ketika merencanakannya, anakku.” Anak: “Oh tentu tidak, Bu. Aku berdoa selalu setiap pagi dan malam hari. Aku pergi ke gereja setiap minggu. Tetapi mengapa… Read More CERPEN (41): Mengapa Kenyataan Tak Seperti Rencana?

Rate this:

CERPEN (40): Jangan Pernah Menjanjikan Sesuatu yang Belum Jadi Milikmu!

Setiap Sabtu saya tayangkan ulang cerita pendek yang sudah ditayangkan sebelumnya dengan judul sama pada 29 Mei 2016. Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang belum jadi milikmu! Aku membaca tulisan yang tertempel di dinding apartemen milik teman baikku ini. Kalimat tersebut terukir indah di sebilah papan berhias sebagai penghias dinding. Tulisan tersebut tampak menohok karena tepat… Read More CERPEN (40): Jangan Pernah Menjanjikan Sesuatu yang Belum Jadi Milikmu!

Rate this:

Puisi (6): Apakah Hidup Menurut Anda?

Pada bulan Maret ini, saya tampilkan ulang (=Reblog) karya fiksi berupa puisi setiap Sabtu. Ini adalah puisi dengan judul yang sama dan tayang pada 12 Juni 2016. Jika hidup adalah buku, maka bacalah dengan seksama dan nikmati kisah di dalam buku tersebut. Jika hidup adalah tarian, menarilah dengan penuh penghayatan seolah-olah tarian itu memukau penonton… Read More Puisi (6): Apakah Hidup Menurut Anda?

Rate this:

Puisi (3): Saya Belajar Dalam Kehidupan

Pada bulan Maret ini, saya tampilkan ulang (=Reblog) karya fiksi berupa puisi setiap Sabtu. Ini adalah puisi dengan judul yang sama dan tayang pada 4 November 2012. Saya belajar Saya belajar yang membuat hidup ini menarik adalah mewujudkan impian menjadi kenyataan. Saya belajar bahwa dalam hidup, justru hal-hal sederhana bisa menjadi paling luar biasa. Saya… Read More Puisi (3): Saya Belajar Dalam Kehidupan

Rate this:

CERPEN (39): “Tujuanmu Ada di Depan, Bukan di Belakang”

Ini adalah reblog dari artikel yang sama dan sudah tayang pada 14 Februari 2016. ______________ Aku terus melangkah menyusuri bibir pantai senja itu. Sayup-sayup angin melipir terasa di wajahku. Tak aku hiraukan ketika seseorang memanggil namaku untuk kembali. Percuma! “Tetaplah melangkah ke depan! Jangan pernah berjalan mundur ke belakang! Mungkin tapak kaki yang kau pijak… Read More CERPEN (39): “Tujuanmu Ada di Depan, Bukan di Belakang”

Rate this:

CERPEN (38): Mengasah Kesempatan menjadi Impian

Ini adalah reblog dari artikel yang sama dan tayang pada 2 Desember 2014. ________________________ Aku sengaja membawa ibu ke vila terpencil yang jauh dari kebisingan kota agar bisa menikmati ketenangan bersama. Aku mengundang ibu menikmati secangkir teh dan kue buatannya. Kami duduk di balkon arah taman sambil berbincang hangat mengenai berbagai topik. Kadang aku begitu… Read More CERPEN (38): Mengasah Kesempatan menjadi Impian

Rate this:

CERPEN (37): Kapankah Masalah Akan Berhenti?

Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang tayang pada 1 Juni 2016. __________________________________________________________ Seorang anak kecil datang pada ibunya dan bertanya, “Ibu, kapankah masalah akan berhenti?” Ia begitu sedih melihat ibunya menangis menatap jendela. Segera ibunya melap tangis dengan kedua tangannya. Ibunya sadar, anaknya memperhatikannya sedari tadi. Lalu ibu berbalik menghampiri anak kecil itu untuk menenangkannya. “Masalah… Read More CERPEN (37): Kapankah Masalah Akan Berhenti?

Rate this:

CERPEN 35: Katak Belajar Keluar dari Kotak Sampah

Ini adalah reblog dari artikel yang sudah tayang pada 19 Agustus 2010. __________________________________________________________ Suatu kali, saya menemukan seekor katak dalam kamar hotel dimana saya sedang menginap untuk tugas kantor. Saya paling takut dengan binatang apapun jenisnya. Meski tidak sampai phobia tetapi reaksi spontan saya menghindar, berlari, mencari sesuatu untuk mengusirnya atau mencari bantuan untuk mengeluarkannya.… Read More CERPEN 35: Katak Belajar Keluar dari Kotak Sampah

Rate this:

CERPEN (34): Rahasia Kemenangan Itu Cuma Bersyukur dan Puas, Jangan Ingin Lebih!

Ini adalah reblog dari artikel yang sama dan sudah tayang pada 8 Agustus 2017. __________________________________________________________ Ketika mobil melaju ke area perbatasan negara Vietnam-Kamboja, di situ aku melihat beberapa kasino yang megah seperti layaknya hotel berbintang. Pemandangan ini kontras dengan bangunan lain di sekitar itu seperti rumah penduduk yang sederhana, jauh dari kemegahan. Makan siang sudah… Read More CERPEN (34): Rahasia Kemenangan Itu Cuma Bersyukur dan Puas, Jangan Ingin Lebih!

Rate this:

CERPEN (33): ‘Jika Benar itu Bisa Kalah, Tetapi Benar Tak Mungkin Salah’

Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang tayang pada 13 September 2017. __________________________________________________________ Dialog ibu dan anak: Anak : Ibu, mengapa semua orang ingin menganggap dirinya benar? Ibu : Mengapa kau berpikir demikian, nak? Anak : Aku berusaha menjelaskan bahwa aku tidak salah saat menabrakkan sepeda ke bapak itu tadi di jalan menuju pulang ke… Read More CERPEN (33): ‘Jika Benar itu Bisa Kalah, Tetapi Benar Tak Mungkin Salah’

Rate this:

CERPEN 32: Cari Jalan Lain atau Pecahkan Batu Itu!

Ini adalah reblog dari artikel yang sudah tayang pada 12 Maret 2016. Seorang pemuda bermimpi agar dapat melamar gadis pujaannya yang berada di seberang desa. Ia mendapatkan firasat bahwa gadis pujaannya tersebut memenuhi impiannya tentang pasangan hidup yang selama ini sudah dinantikannya. Gadis pujaannya itu tak lama lagi akan dipersunting pemuda lain, pilihan orangtuanya. Itu… Read More CERPEN 32: Cari Jalan Lain atau Pecahkan Batu Itu!

Rate this:

CERPEN (31): Apa yang Anda Pikirkan Tentang Masa Lalu?

Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya di sini, yang tayang pada 24 Mei 2016. _____________________________________________________________________________________________ Rinai hujan turun di luar, aku duduk sore itu bersama ayahku di teras belakang rumah. Dia membawa kue cokelat buatan ibu dan sepoci teh manis hangat. Ia menuangkan teh itu dalam cangkirku. “Ini buatmu, nak” katanya padaku. Aku mengangguk perlahan dan… Read More CERPEN (31): Apa yang Anda Pikirkan Tentang Masa Lalu?

Rate this:

CERPEN (30): Burung Takut Terbang

Cara untuk mengatasi masalah terkadang harus berada pada titik yang paling tinggi, menyulitkan dan berisiko, namun disitulah kita memiliki keberanian. (Anna Liwun) Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang sudah tayang pada tanggal 29 September 2010 di link berikut. __________________________________________________________________________________ Seekor burung ragu-ragu untuk terbang. Ia merasa bahwa belum cukup umur seperti burung-burung lain untuk… Read More CERPEN (30): Burung Takut Terbang

Rate this:

CERPEN (28): Mengapa Kita Berbagi?

Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang sudah tayang di link ini pada tanggal 28 Mei 2016. ________________________________________________________________________________________________________ “Ini buatmu!” kata anak kecil berambut sebahu, berbando merah dan berbaju atasan putih dengan rok lipit merah selutut kepada teman berseragam sama. Ia kemudian duduk di sebelah temannya yang diberi cokelat. “Terimakasih Anna” sahut temannya sambil menerima… Read More CERPEN (28): Mengapa Kita Berbagi?

Rate this:

CERPEN (27): “Buat Orang Lain Bahagia itu Baik, Tapi Lebih Baik Kamu Juga Layak Bahagia”

Ini adalah reblog dari artikel yang tayang pada 6 Januari 2017 di link ini. _______________________________________ Aku terdiam sejenak saat ia mengatakan bahwa hubungan kami tidak bisa berlanjut. Oh Tuhan, aku baru mengenalnya kini ia ingin memutuskannya segera. Entah apa yang ada di benak pria itu. “Dengar Anna. Aku tak mungkin melanjutkan hubungan ini. Kau terlalu… Read More CERPEN (27): “Buat Orang Lain Bahagia itu Baik, Tapi Lebih Baik Kamu Juga Layak Bahagia”

Rate this:

CERPEN (25): Menanti Jawaban Doa

Ini adalah reblog dari artikel https://liwunfamily.com/2014/08/25/menanti-jawaban-doa/ sebelumnya yang tayang pada 25 Agustus 2014. ———————- Di suatu kisah diceritakan seorang perempuan yang setiap hari datang berdoa kepada Tuhan melalui doa Novena yang didoakan selama sembilan hari berturut-turut. Hanya satu pintanya, “Saya ingin Tuhan memberikan saya kupu-kupu yang indah pada bunga yang kupunya ini.” Dengan tekun dia… Read More CERPEN (25): Menanti Jawaban Doa

Rate this:

CERPEN 24: Ketika Tuhan Beri Taman Indah, Saat Kita Meminta Setangkai Bunga

Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang tayang pada 16 Januari 2017 di link ini. Seorang perempuan muda datang pada seorang tukang pembuat taman yang bijak. Dia berkata “Hei bapak pembuat taman, saya ingin memiliki bunga yang paling indah sedunia. Bisakah kau buatkan untukku setangkai bunga saja tetapi yang paling indah? Karena aku belum pernah… Read More CERPEN 24: Ketika Tuhan Beri Taman Indah, Saat Kita Meminta Setangkai Bunga

Rate this:

CERPEN (23): “Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalu Karena Kau Pemilik Masa Depan”

Ini adalah reblog dari artikel yang sudah tayang pada 29 Juni 2017. ————-—–—– Aku berdiri di tepi pelabuhan, memandang ferry yang berbayar menjauh menuju seberang. Entah berapa lama sudah aku tak pulang kampung. Aku rindu rumah. Aku rindu bau sawah. Aku rindu rasa embun di pagi hari. Aku rindu bersedekap merasakan hawa sejuk pegunungan. Ibu… Read More CERPEN (23): “Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalu Karena Kau Pemilik Masa Depan”

Rate this:

CERPEN (21): Maukah Kau Berbagi Kopi denganku Setiap Pagi?

Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang sudah tayang di sini pada tanggal 17 Februari 2017. –———–———–———–——— Sumpah, aku tak minum kopi. Bau kopi di pagi hari membuatku mual. Aku bahkan hampir muntah saat ayahku membuat kopi untuknya. Setelah aku mengaku tak kuat minum kopi apalagi mencium aromanya, ayah beralih suka minum teh tiap pagi.… Read More CERPEN (21): Maukah Kau Berbagi Kopi denganku Setiap Pagi?

Rate this:

CERPEN (51): Inspirasi Kue Coklat di Bulan Oktober

Ini adalah reblog dari cerita sebelumnya yang sudah dimuat pada 1 Oktober 2017 yang bisa diklik pada link yang ditautkan. *** Siang itu ibu mengundangku untuk datang menjenguknya. Maklumlah di usia ibu yang tak lagi muda, ibu meminta bantuanku untuk membuatkan kue coklat. Katanya, ia sudah tak sanggup mengaduk adonan kue coklat. Meski kue coklat… Read More CERPEN (51): Inspirasi Kue Coklat di Bulan Oktober

Rate this:

CERPEN (20): Cinta dalam Sepotong Pizza

“Was denkst du, Anna?” tanyanya. Apa yang kau pikirkan. Aku mendengarnya jadi terkejut. Aku tak percaya bahwa pria ini mengajak makan malam keluar. Oh, sulit rasanya membujuk pria Jerman ini makan di luar. Dia memilih masak dan makan di rumah, ketimbang makan di restoran. Aku gugup menjawabnya “Nicht”. Tidak ada yang aku pikirkan. Aku pun… Read More CERPEN (20): Cinta dalam Sepotong Pizza

Rate this:

CERPEN (19): Kidung Cinta Pangeran Kodok

Ini adalah reblog dari link pada 05.09.2010 yang bisa dicek pada link yang ditautkan. Rupa wajah yang tak setampan Romeo dalam Shakespeare. Mata yang tajam seperti elang dengan sorot seperti surya di pagi hari. Sesungging senyum seperti wangi bunga di pagi hari, meluluhkan hati. Wanita mana yang tak terpesona oleh mata dan senyum yang memanah… Read More CERPEN (19): Kidung Cinta Pangeran Kodok

Rate this:

CERPEN (18): Jadi Orang Baik Sudah Cukup, Nak

Ini adalah reblog dari link pada 21.07.2017 yang sudah dimuat sebelumnya. “Memang penting menjadi yang terbaik dalam apa pun, nak” kata ibuku di sela-sela pembicaraan lewat telpon sore itu. “Namun kebanyakan orang lupa saat menjadi terbaik, mereka bukan orang yang baik,” lanjut ibu. Iya juga sih. Aku mengamini ucapan ibu sore itu. Sore waktu Jerman,… Read More CERPEN (18): Jadi Orang Baik Sudah Cukup, Nak

Rate this:

CERPEN (17): Jadilah Terbaik Untuk Diri Sendiri, Bukan Buat Orang Lain!

Ini adalah reblog dari artikel sebelumnya yang bisa dicek di link ini. Aku pejamkan mata saat aku ingat peristiwa itu. Oh Tuhan, aku sudah melakukan segalanya dengan sempurna. Apa yang kurang? Rintihku dalam hati. Tak terasa air mata menetes di pipi. Aku hapus air mata dengan kedua tanganku saat ibu menghampiriku. “Ada apa sayang?” tanya ibuku… Read More CERPEN (17): Jadilah Terbaik Untuk Diri Sendiri, Bukan Buat Orang Lain!

Rate this:

CERPEN (16): Jadi Orang Baik, Rahasia Panjang Umur Oma Isabel

Jadilah manusia yang berguna setidaknya tidak berbicara buruk dan menyakiti hati orang lain! Ini adalah reblog dari artikel 04.12.2016 yang bisa dibaca di link ini. Demikian kalimat bijaksana meluncur dari seorang perempuan tua yang sudah melewati seabad usianya. 102 tahun, wow! Aku terkejut sekaligus kagum padanya. Ditemui di panti jompo, nenek yang bernama Isabel itu… Read More CERPEN (16): Jadi Orang Baik, Rahasia Panjang Umur Oma Isabel

Rate this:

CERPEN (14): Kualitas Kopi atau Cangkir?

Ini adalah reblog dari artikel per 29.08.2014 di link ini. Ada seorang murid bertanya kepada Guru bijaksana tentang tujuan hidup. “Guru, apa sebenarnya tujuan hidup anda sebenarnya?” Sang Guru pun tersipu menjawab pertanyaan muridnya dengan pertanyaan lagi, “Apa tujuan hidupmu juga, anakku?” Mereka pun diam dan saling memandang satu sama lain. Begitulah orang bijak, mereka akan… Read More CERPEN (14): Kualitas Kopi atau Cangkir?

Rate this:

CERPEN (13): Menikmati Hidup Apa Adanya

Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2014/09/14/menikmati-hidup-apa-adanya/ Kali ini saya diajaknya oleh penikmat kopi lagi untuk ngobrol soal kehidupan. Katanya lebih nikmat jika ngobrol itu sambil minum kopi. Wah, saya tidak punya kopi di rumah. Kami pun sepakat ngopi-ngopi di luar rumah. Karena saya tidak tahu banyak soal kopi dan tempat minum kopi, saya manut saja ketika… Read More CERPEN (13): Menikmati Hidup Apa Adanya

Rate this:

CERPEN (12): Meramal Lewat Secangkir Kopi, Anda Percaya?

Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2014/11/22/meramal-lewat-secangkir-kopi/ Rupanya tak puas sekedar minum kopi saja, kali ini teman baik saya ini mengajak minum kopi lagi. Aduh, rasanya tak puas abang satu ini berbicara soal kehidupan dengan saya. Dia ingin ajak saya untuk pergi minum kopi. “Baiklah Bang, kita ketemu di kedai kopi biasa” tuturku menjawab ajakannya lewat telpon. “Kita bertemu… Read More CERPEN (12): Meramal Lewat Secangkir Kopi, Anda Percaya?

Rate this:

CERPEN (9): Di Bawah Patung Bunda Maria

Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2008/11/23/dibawah-patung-bunda-maria/ Date: November 23, 2008Author: Anna Liwun0 Comments Waktu menunjukkan pukul 19.10 wib tetapi misa minggu sore belum berakhir. Resah. Itulah yang dirasakan oleh Perempuan itu. Ia pun bergegas membereskan teks misa dan buku Puji Syukur di hadapannya. Perempuan itu berdecak lagi, menggoyang-goyangkan kedua kakinya naik turun, menggumam sambil menengok kanan… Read More CERPEN (9): Di Bawah Patung Bunda Maria

Rate this:

CERPEN (8): Pria Bertangan Emas

Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2008/11/23/pria-bertangan-emas/ Date: November 23, 2008Author: Anna Liwun0 Comments Di jaman dahulu kala, ada seseorang yang hidupnya sebatang kara. Hidupnya menjadi terlunta-lunta oleh karena kemiskinan. Orangtuanya meninggal sejak ia berusia 10 tahun. Ia berdoa sepanjang masa kepada dewa agar ia bisa hidup kaya dan memiliki pasangan hidup yang cantik jelita. Lima tahun kemudian, pria ini… Read More CERPEN (8): Pria Bertangan Emas

Rate this:

CERPEN (7): Tukang Cukur dan Guru Bijak

Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2009/01/07/mengapa-mereka-tidak-datang-pada-ku/ Date: January 7, 2009Author: Anna Liwun0 Comments Suatu kali, seorang Guru Bijaksana datang ke seorang Tukang Cukur. Guru ini meminta kepada Tukang Cukur untuk merapikan rambutnya yang sedikit mulai tidak rapi dan tidak nyaman bagi Sang Guru.  Si Tukang Cukur menerima dengan senang hati kedatangan Sang Guru. Sambil mencukur, Tukang Cukur bertanya, “Apa pekerjaan… Read More CERPEN (7): Tukang Cukur dan Guru Bijak

Rate this:

CERPEN (3): Begitulah Cinta, Begitu Sulit Dijelaskan

Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2010/08/11/begitulah-cinta-jodoh/ Seorang Perempuan berparas cantik namun sayang Tuhan memberikan takdir buta saat ia memasuki usia remaja. Setiap hari Perempuan itu memandang diri di cermin. Ia meraba wajahnya yang cantik. Meski tak bisa melihat tetapi ia bisa merasakan bahwa wajahnya cantik. Suatu kali, ia menemukan Peri Jahat dalam dirinya. Peri Jahat itu… Read More CERPEN (3): Begitulah Cinta, Begitu Sulit Dijelaskan

Rate this:

CERPEN (2): Ncrut Ncrit

Ini adalah reblog https://liwunfamily.com/2011/05/12/ncrut-ncrit/ dari May 12, 2011. Sebut saja Ncrut, pria paruh baya yang memiliki wajah rupawan, duit melimpah tetapi tak punya hati. Misi hidup Ncrut di dunia adalah menjadikan Ncrit adalah miliknya, sebagai yang utama dari para selir yang dimiliki tetapi tidak diakui sebagai orang yang dicintainya. Ncrit adalah perempuan biasa namun memiliki pesona… Read More CERPEN (2): Ncrut Ncrit

Rate this:

CERPEN (1): Mata, Mulut, Telinga

Ini adalah reblog dari https://liwunfamily.com/2014/01/30/mata-mulut-telinga/ Suatu hari Iblis datang hendak menggoda manusia. Ia melihat bahwa orang-orang berikut ini memerlukan bantuannya. Pertama, Iblis datang kepada orang buta. “Hey, aku tahu kau tidak bisa melihat keindahan dunia. Oleh karena itu, aku datang menawarkan padamu sepasang mata indah yang cocok denganmu asal kau menuruti kemauanku.” Orang yang tak bisa… Read More CERPEN (1): Mata, Mulut, Telinga

Rate this:

Apakah Vampir itu Ada di Romania?

Sejak saya masih duduk di bangku sekolah, teman-teman saya dulu terbiasa berbagi cerita soal film yang mereka tonton. Seingat saya waktu itu, film tentang vampir adalah film yang sering kami bicarakan di sekolah. Film tentang vampir bisa dikemas horor, drama hingga komedi. Intinya adalah vampir adalah seseorang yang digambarkan setengah manusia dan setengah hantu yang… Read More Apakah Vampir itu Ada di Romania?

Rate this:

Einen brauchst Du: Puisi Bahasa Jerman (5)

Musim gugur tiba. Warna sekitar menjadi berwarna dan terlihat cantik sekali. Betapa hebat keagungan Tuhan melalui aneka warna yang indah ini. Bahwa hidup ini indah jika ada banyak warna yang kita lihat. Kita membutuhkannya agar hidup tidak membosankan. Tak jauh dari situ, saya menemukan sebuah sekolah Realschule yang tampak sedang direnovasi di pinggiran perbatasan Jerman-Austria.… Read More Einen brauchst Du: Puisi Bahasa Jerman (5)

Rate this:

CERPEN (51): Inspirasi Kue Coklat di Bulan Oktober

Siang itu ibu mengundangku untuk datang menjenguknya. Maklumlah di usia ibu yang tak lagi muda, ibu meminta bantuanku untuk membuatkan kue coklat. Katanya, ia sudah tak sanggup mengaduk adonan kue coklat. Meski kue coklat buatanku tak seenak ibu atau nenek, tetapi ia mempercayakannya padaku. Aku mulai menyusun semua bahan di dapur. Sudah lama aku tak… Read More CERPEN (51): Inspirasi Kue Coklat di Bulan Oktober

Rate this:

CERPEN (10): Balas Dendam yang Tak Pernah Manis

“Hallo abang, bisakah kita bertemu di Hauptbahnhof München?” kataku via telpon.  Suara di seberang sana langsung menjawab “Wann ist der termin?” Sahutnya jam berapa kita bertemu.  Aku jawab “Am Dienstag Nachmittag Um drei uhr” “Gerne. Bis dann” kata orang yang aku sebut abang ini. Dia sedang bertugas di Jerman, namun tidak di München.  *** Saat… Read More CERPEN (10): Balas Dendam yang Tak Pernah Manis

Rate this:

CERPEN (71): Rahasia Panjang Umur ala Kura-Kura

“Kita bisa belajar darimana saja, Anna” kata ayahku. “Hidup ini adalah proses belajar, bahkan dari alam dan binatang yang hidup di sini,” kata ayah sekali lagi sembari kami menyusuri kebun binatang. Ibu dan kedua adikku masih tertinggal di belakang, tampak mengamati hewan lain. Sementara aku dan ayah sudah berada agak jauh dan berhenti di kandang… Read More CERPEN (71): Rahasia Panjang Umur ala Kura-Kura

Rate this:

CERPEN (33): ‘Jika Benar itu Bisa Kalah, Tetapi Benar Tak Mungkin Salah’

Dialog ibu dan anak: Anak      : Ibu, mengapa semua orang ingin menganggap dirinya benar? Ibu         : Mengapa kau berpikir demikian, nak? Anak      : Aku berusaha menjelaskan bahwa aku tidak salah saat menabrakkan sepeda ke   bapak itu tadi di jalan menuju pulang ke rumah. Tetapi bapak itu merasa dirinya benar dan menganggap aku salah mengambil… Read More CERPEN (33): ‘Jika Benar itu Bisa Kalah, Tetapi Benar Tak Mungkin Salah’

Rate this:

CERPEN (72): Selamat Hari Ayah! Kasih Ayah pada Anaknya

Anak : Ayah, mengapa aku harus mengikuti keinginan ayah? Ayah : Karena aku adalah ayahmu, sayang. Aku tahu apa yang kau butuhkan untuk masa depan. Anak : Masa depan seperti apa ayah? Ayah : Ayah ingin kau menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. Jadi saat ini terpaksa kau harus mengikuti keinginan ayah. Ayah akan… Read More CERPEN (72): Selamat Hari Ayah! Kasih Ayah pada Anaknya

Rate this:

CERPEN (34): Rahasia Kemenangan Itu Cuma Bersyukur dan Puas. Jangan Ingin Lebih!

Ketika mobil melaju ke area perbatasan negara Vietnam-Kamboja, di situ aku melihat beberapa kasino yang megah seperti layaknya hotel berbintang. Pemandangan ini kontras dengan bangunan lain di sekitar itu seperti rumah penduduk yang sederhana, jauh dari kemegahan. Makan siang sudah tiba. Aku bertemu dengan seorang teman yang ajak makan siang bersama di restoran perbatasan. Sebenarnya… Read More CERPEN (34): Rahasia Kemenangan Itu Cuma Bersyukur dan Puas. Jangan Ingin Lebih!

Rate this:

CERPEN (36): Buat Apa Pintar Jika Tidak Bijak?

“Buat apa jadi pintar hanya untuk mengusai dunia nak?” pesan ibu lewat whatsapp sore ini. Aku ingin pintar ibu. Aku lebih memilih jadi wanita pintar ketimbang wanita cantik. Aku ingin ibu tahu bahwa kepandaian akan menguasai dunia. Mereka yang menguasai dunia adalah mereka yang pintar. Itu alasanku. Aku ketik berbagai alasan untuk meyakinkan ibu bahwa… Read More CERPEN (36): Buat Apa Pintar Jika Tidak Bijak?

Rate this:

CERPEN (18): Jadi Baik Sudah Cukup, Nak

“Memang penting menjadi yang terbaik dalam apa pun, nak” kata ibuku di sela-sela pembicaraan lewat telpon sore itu. “Namun kebanyakan orang lupa saat menjadi terbaik, mereka bukan orang yang baik,” lanjut ibu. Iya juga sih. Aku mengamini ucapan ibu sore itu. Sore waktu Jerman, malam waktu Indonesia. Beda lima jam jika musim panas seperti sekarang… Read More CERPEN (18): Jadi Baik Sudah Cukup, Nak

Rate this:

CERPEN (22): Kebijaksanaan Cinta

Ketika aku masih remaja, saat mengenal cinta pertama kali, pria idaman bagiku adalah dia yang pandai di sekolah. Sayangnya, aku tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu pintar. Beranjak dewasa muda, ketika aku memasuki dunia perkuliahan, pria idamanku pun berubah. Dia adalah pria yang rupawan. Sayangnya, aku juga tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga… Read More CERPEN (22): Kebijaksanaan Cinta

Rate this: