Apakah Vampir itu Ada di Romania?

Sejak saya masih duduk di bangku sekolah, teman-teman saya dulu terbiasa berbagi cerita soal film yang mereka tonton. Seingat saya waktu itu, film tentang vampir adalah film yang sering kami bicarakan di sekolah. Film tentang vampir bisa dikemas horor, drama hingga komedi. Intinya adalah vampir adalah seseorang yang digambarkan setengah manusia dan setengah hantu yang menakutkan karena vampir suka menyerang dan menghisap darah manusia.

Film tentang vampir tidak hanya satu kali saya tonton tetapi beberapa kali. Vampir digambarkan takut dengan bawang putih dan salib. Vampir digambarkan dapat membunuh manusia kapan saja, sehingga isu ini begitu menakutkan. Apakah vampir itu rumor ataukah sesungguhnya vampir itu benar-benar ada? Selintas itu pertanyaan saya sejak anak-anak dulu di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, isu vampir tidak hanya menakutkan saya dan teman-teman saya saja di Indonesia tetapi juga orang lain yang berada di belahan dunia lain. Ada seorang teman asal Rusia dan Tanzania yang bertemu dengan saya dalam satu kesempatan pekerjaan. Kami berbicara banyak hal soal budaya. Selang beberapa lama datanglah teman lain. Dia berasal dari Romania. Suasana pertemuan kami bertambah semarak karena kami berbicara satu sama lain soal budaya dan kebiasaan masing-masing negara.

Tiba topik kami adalah vampir di Romania. Rupanya isu vampir tidak hanya menjakiti saya yang berawal dari film yang ditonton saat saya masih anak-anak. Teman saya lain dari belahan dunia lain pun punya pengalaman yang sama. Pertanyaan kami sama, apakah vampir itu benar-benar ada? Kami pun terdiam beberapa saat menunggu penjelasan teman asal Romania tersebut menjelaskannya.

Vampir itu sesungguhnya hanya cerita dongeng yang disebarkan dari mulut ke mulut sehingga menjadi legenda untuk dipercayai. Kalimat tersebut meluncur dari teman saya asal Romania tersebut. Misalnya, vampir itu adalah sesosok setengah manusia yang takut akan bawang putih. Dalam film dimunculkan bahwa bawang putih ditempatkan dimana-mana agar vampir itu tidak menghampiri. Padahal kita semua tahu bahwa bawang putih itu bagus untuk kesehatan. Dahulu orang di Romania tak begitu suka mengkonsumsi bawang putih. Bau bawang putih yang menyengat di mulut sangat dibenci meski baik untuk kesehatan. Akhirnya isu itu pun berhembus bahwa jika kita makan bawang putih maka vampir tidak menghampiri untuk menghisap darah.

Begitu pun dengan salib dan simbol-simbol keagamaan untuk mengusir vampir. Isu vampir terjadi ketika abad pertengahan. Kala itu masyarakat masih mempercayai hal-hal gaib dan mistis. Untuk mengembalikan keyakinan bahwa hanya Tuhan satu-satunya yang punya kekuatan, termasuk mengalahkan hal-hal mistis maka isu vampir itu pun dihembuskan. Vampir pun takut.

Bagaimana pun saya dan teman-teman lain menjadi puas mendengarkan penjelasan teman asal Romania ini. Setidaknya berkenalan antar bangsa membuat kami mengenal berbagai hal yang dahulu mungkin tidak kami ketahui sebelumnya. Entah benar atau tidak pendapat teman saya asal Romania ini, berbagi soal kebiasaan dan tradisi antar negara memberikan kita pencerahan untuk saling menghargai satu sama lain.

Apakah anda sendiri senang menonton film tentang vampir?

Advertisements

CERPEN: Balas Dendam yang Tak Pernah Manis

“Hallo abang, bisakah kita bertemu di Hauptbahnhof München?” kataku via telpon. 

Suara di seberang sana langsung menjawab “Wann ist der termin?” Sahutnya jam berapa kita bertemu. 

Aku jawab “Am Dienstag Nachmittag Um drei uhr”

“Gerne. Bis dann” kata orang yang aku sebut abang ini. Dia sedang bertugas di Jerman, namun tidak di München. 

***

Saat melihatnya dari jauh, aku sudah tersenyum melihat abangku ini. Matanya masih awas memandangku kala aku sudah duduk di dalam kafe. Seperti biasa, dia memelukku dan bercium pipi kanan kiri khas kebanyakan orang München bila lama tak bertemu dengan orang yang dikenalnya. 

“Kau ingin pesan apa, Anna?

Aku sudah terlanjur memesan dua capucino. Abang suka ‘kan? 

“Kali ini aku harus menurut padamu ya” seloroh abang sambil tertawa. 

Kebanyakan pertemuan aku dengan abang memang selalu bermakna dan dia seperti mengajariku. Saatnya balas dendam agar aku bisa mengajari abang bahwa aku kini mulai suka minum kopi. Aku tidak ingin diajari filosofi tentang kopi lagi. 

Tak berapa lama pramusaji membawakan pesanan kami. 

“Tumben kau suka minum capucino tanpa gula” tanyanya.

“Aku memilih agar lambungku tidak nyeri karena capucino tidak terlalu banyak kafeinnya. Sesuai petuah abang, ini akan menjadi nikmat tanpa gula.”

Jujur aku sebenarnya tak ingin meminum capucino karena aku tak ingin menderita nyeri lambung. Toh, lebih baik menghindari daripada mengobati. Tetapi perjumpaan dengan abang memang tak lengkap tanpa meminum kopi. Meski ada perbedaan antara kopi dan capucino namun pertemuan kami sore itu tidak ada yang berbeda. Abang masih menjadi sahabat terbaikku untuk berbicara tentang kehidupan.

Obrolan pun berlanjut. “Aku bertemu dengannya bang. Tanpa sengaja di kereta. Dia menatapku dan berusaha mengenaliku. Aku akhirnya berusaha turun di stasiun berikutnya yang bukan jadi tujuanku. Aku pikir lebih baik menghindar dari dia,” ceritaku tentang pria itu. 

Mengapa kau menghindar? Kau tak akan menyelesaikan masalah dengan begitu. Satu-satunya cara adalah memutuskan bahwa kau tak ingin bersama dengan dia lagi. Sudah itu. Titik.”

Aku diam.

Dengar Anna! Kau menghindari kopi tetapi kau meminum capucino. Sama saja! Kau akan merasakan nyeri yang sama juga. Mengapa? Itu sama-sama mengandung kafein,” kata abang dengan penuh penekanan.

Aku pun meneruskan ceritaku sementara abang berhenti menceramahiku dan meminum capucino. 

“Dia lalu ikut berhenti dan mengejarku, bang. Aku berusaha menghindar hingga dia berteriak memanggil namaku. Aku tak nyaman rasanya karena semua orang di stasiun seperti menatapku. Aku berhenti dan cuma berkata ‘Entschuldigung, wer sind Sie?’ Dan aku pun langsung pergi secepatnya.”

Abang masih terdiam. 

Ingin rasanya aku balas dendam padanya, bang. Aku ingin dia sadar bahwa aku begitu berharga sebagai perempuan” kataku. Aku pun segera menghabiskan capucino milikku. 

Aku melihat abang masih terdiam dan mengamati cangkir capucino. Lalu dia melambai pada pramusaji. “Ein kaffee bitte” katanya. Kali ini abang menambah pesanan menjadi kopi. Mungkin dia tak suka aku paksa minum capucino.

Dia masih terdiam. Bisa jadi dia bingung dengan ceritaku. Atau dia bingung bagaimana menasihatiku lagi yang masih menceritakan masa lalu dengan pria itu. 

Kopi pesanan abang datang. Slurput. Dia meminum kopi hitam itu dengan gayanya yang khas. Mungkin setelah ini dia dapat inspirasi.

“Capucino kau pilih mungkin akan lebih baik dari kopi hitam ini karena rasanya yang sedikit manis meski tanpa gula” kata abang sambil memegang gelas kopi miliknya. “Kau tidak bisa juga memaksaku menyukai seleramu ‘kan. Aku suka kopi hitam tanpa gula dan kau suka capucino. Meski kau menghindari kopi dan memilih capucino, toh kau tetap mengalami sakit perut setelahnya. Kau tak bisa menghindarinya Anna. Kau harus putuskan. Sama seperti lelaki itu, jangan menghindar! karena nyerinya pun tetap sama. Itu pilihan. Putuskan untuk berhenti dan melanjutkan hidup,” jelas abang padaku.

Balas dendam mungkin terdengar manis, namun tidak akan mengubah keadaan. Kau tetap mengalami sakit hati juga” kata abang. Katanya lagi Capucino mungkin terasa lebih manis namun kau tidak akan mendapatkan yang kau inginkan. Kau tetap sakit perut setelah ini. Ya ‘kan?”

Perutku langsung terasa mules, entah karena mendengar nasihat abang atau aku memang masih mengalami masalah perut setelah meminum capucino. 

Ich muß mal, bang. Ein moment bitte” seruku sambil berlalu mencari toilet di stasiun pusat kota München itu. 

***

Aku kembali setelah dua puluh menit berlalu. Tampak kejauhan abang mengawasiku dan tersenyum padaku. Brengsek, umpatku dalam hati. Mengapa abang benar ya?

Aku memang harus memutuskan untuk tidak minum apa pun, kopi atau capucino karena memang aku tak bisa memaksa perutku,” sahutku pada abang sambil duduk kembali.

“Anna, pepatah bilang, orang yang lemah melakukan balas dendam. Orang yang kuat memaafkan. Tetapi orang yang cerdas membiarkannya berlalu. Aku yakin kau cukup cerdas dengan memutuskan hubunganmu dengan pria itu.” 

Abang menghabiskan kopinya. Slurput, terdengar abang meminumnya. Sementara aku masih terpaku membuyarkan niat balas dendamku pada pria itu. 

Lalu abang berteriak memanggil pramusaji “Zahlen bitte” 

“Acht Euro neun und neunzig cents” kata pramusaji sambil menyerahkan bon kafe. Abang pun mengeluarkan selembar kertas sepuluh Euro dan menolak uang kembalian pramusaji yang kemudian dijadikan tip.

Sebelum berpisah, abang masih memberi penguatan agar aku segera memutuskan untuk mencari apartemen lain supaya tidak bertemu dengan mantanku lagi.

Aku melambaikan tangan saat pluit kereta berlalu. Abang pun tersenyum dan membalas lambaian tanganku.

Keterangan:

Hauptbahnhof: Pusat stasiun kereta kota Munich.

Wann ist der termin?: Kapan pertemuan itu?

Am Dienstag Nachmittag Um drei uhr: Pada hari Selasa setelah makan siang jam 3 sore.
Gerne. Bis dann: Baiklah, sampai jumpa.

Entschuldigung, wer sind Sie: Permisi, siapa Anda ya?

Ein kaffee bitte: tolong 1 kopi

Ich muß mal. Ein moment bitte: Saya ijin ke belakang. Sebentar ya.

Zahlen bitte: tolong bonnya.

Acht Euro neun und neunzig cents: 8,99 €.


Rahasia Panjang Umur ala Kura-Kura

“Kita bisa belajar darimana saja, Anna” kata ayahku. “Hidup ini adalah proses belajar, bahkan dari alam dan binatang yang hidup di sini,” kata ayah sekali lagi sembari kami menyusuri kebun binatang.

Ibu dan kedua adikku masih tertinggal di belakang, tampak mengamati hewan lain. Sementara aku dan ayah sudah berada agak jauh dan berhenti di kandang kura-kura. Lalu ia membaca sekilas papan informasi yang tertera di situ.

“Tahukah kamu, bahwa kura-kura bisa hidup lebih lama bahkan hingga lebih dari seratus tahun?” tanya ayah padaku. Aku pun berkekalar padanya. “Karena kura-kura adalah binatang yang sangat lambat” sahutku sambil tertawa. 

Ayahku pun menjawab begitu serius “Ya, itu betul sayang.” Kami pun segera mengamati bagaimana kura-kura berjalan. Dalam hitungan menit pun, jarak perjalanan kura-kura pun tak jauh. “Segalanya yang lambat itu lebih baik dalam hidup, daripada tergesa-gesa. Karena terburu-buru membuat hidup lebih stress, ya ‘kan?” Riset membuktikan bahwa tingkat stress jadi ancaman bagi hidup manusia. Aku pun mengangguk menyetujui ayahku. 

Hmmm, rupanya ayahku punya banyak wawasan soal binatang. Bisa jadi kecintaannya membaca membuat dia punya banyak pengetahuan. Lalu dia menunjuk ke bagian kura-kura dan bercerita lagi, “Tempurung yang melindungi kura-kura itu tameng agar kura-kura bisa melindung diri dari ancaman hewan lain.” Kami pun berdua segera mengamati dari dekat kura-kura kemudian aku pun mengamati tempurung yang dimaksud ayah. 

“Meski begitu kura-kura tidak suka menyerang hewan lain. Itu artinya jadilah pribadi yang kuat dalam menghadapi apa pun jua dalam hidup. Meski kau cukup kuat, ingat tidak usah menyerang orang lain! Apalagi punya musuh,” tegas ayah mengingatkan. Ini semacam peringatan bahwa umur panjang sejatinya adalah memiliki hidup yang damai. Hidup damai ala kura-kura.

Tak berapa lama datang adik-adikku dan ibu. Kami pun bercakap-cakap soal kura-kura. Karena penasaran apa yang jadi makanan kura-kura, kami semua mendekat ke kotak makan yang letaknya di sudut kandang. 

“Makanan kura-kura itu boleh dibilang sehat. Kura-kura bukan pemangsa daging atau hewan lain,” kata ayah menjelaskan. Ini juga jadi rahasia panjang umur ala kura-kura, pikirku. 

Kisah ini ketika keluargaku dulu suka sekali mengunjungi kebun binatang. Aku jadi teringat pesan ayahku, hidup damai itu adalah rahasia umur panjang. 

Mari belajar hidup penuh kedamaian ala kura-kura. Tidak menyerang dan mengusik yang lain, meski kita cukup kuat. Biar lambat asal pasti! 

Selamat memasuki akhir pekan. Semangat merayakannya bersama keluarga. Apa agenda anda akhir pekan ini?😄

‘Jika Benar itu Bisa Kalah, Tetapi Benar Tak Mungkin Salah’

img_5263
Sumber foto: Dokumen pribadi.

Dialog ibu dan anak:

Anak      : Ibu, mengapa semua orang ingin menganggap dirinya benar?

Ibu         : Mengapa kau berpikir demikian, nak?

Anak      : Aku berusaha menjelaskan bahwa aku tidak salah saat menabrakkan sepeda ke   bapak itu tadi di jalan menuju pulang ke rumah. Tetapi bapak itu merasa dirinya benar dan menganggap aku salah mengambil jalannya. Jika aku benar, bapak itu benar, lalu siapa yang salah bu?

Ibu         : Mengapa kau berpikir bahwa dirimu benar, nak?

Anak      : Karena aku memang tidak berniat untuk menabrak bapak itu saat aku mengendarai sepeda. Aku memperhatikan jalan dengan baik. Tiba-tiba bapak itu menyeberang jalan tanpa melihat kiri kanan dan sibuk memperhatikan henponnya.  Apakah aku tetap salah bu?

Ibu         : Jika kau benar, apakah kau perlu merasa menang?

Anak      : (terdiam sesaat) Aku tidak merasa begitu bu.

Ibu         : Dengar nak, semua orang berusaha untuk menjadi benar karena kebenaran itu lebih mudah diterima banyak orang. Sulit bagi kebanyakan orang menerima kesalahan. Itu yang menyebabkan orang lebih mudah menganggap diri mereka benar.

Anak      : Setelah kejadian menabrak bapak itu dengan sepeda, aku pun jadi bingung karena bapak itu mengaku dirinya benar. Ia bilang ke semua orang di situ bahwa ia berjalan di tempat yang seharusnya. Aku sebagai anak muda pun terpaksa harus merasa kalah dan meminta maaf. Rasanya tidak adil, bu. Sesungguhnya jika diperhatikan kronologis kejadian bahwa bapak itu lebih memperhatikan henpon di tangannya ketimbang jalan. Aku tidak terima bahwa aku benar tetapi aku harus kalah.

Ibu         : Nak, benar itu bisa kalah namun benar itu tak mungkin salah. Setidaknya kau merasa kalah berdebat dengan bapak itu, namun itu tidak menunjukkan bahwa kau salah. Bapak itu yang merasa dirinya benar pun tidak serta merta merasa dimenangkan. Hidup ini bukan soal salah dan benar atau kalah dan menang, tetapi cara pandang. Lihat dari berbagai sisi ya!

Anak      : (memeluk ibu) Terimakasih bu. Aku jadi terharu.

Ibu         : (memeluk anak) Belajarlah menerima kekalahan bukan sebagai kesalahan, nak!

 

Why Life is Mystery

In English

Sometimes we must conquer our feeling, only to prove that we are deserve to be the best in life. 

We plan, we do and we surrender to God then hoping a miracle. In the beginning we complain to God, why it happened to us. We thought that God is not fair. We asked to people around. No one can explain it until we hear in silence. 

At the end, we can be wise to see the whole as part of life. There is still on His purpose. God has big design in our life that unknown by ours. This is called as mystery. 

No one can predict the future, except God. But every one knows God never leave us alone. He always be with us to find His paths become destiny. 

I am surrender to You, God.  Have a blessed day! 

In Bahasa Indonesia

Kadang-kadang kita harus menaklukkan perasaan kita, hanya untuk membuktikan bahwa kita pantas untuk menjadi yang terbaik dalam hidup.

Kita berencana, kita melaksanakan dan kita serahkan pada Tuhan kemudian berharap keajaiban. Pada awalnya kita mengeluh kepada Tuhan, mengapa hal itu terjadi kepada kita. 

Kita pikir Tuhan tidak adil. Kita bertanya kepada orang-orang di sekitar. Tidak ada yang bisa menjelaskan hal itu sampai kita mendengarkannya dalam keheningan.

Pada akhirnya, kita bisa bijaksana untuk melihat keseluruhannya sebagai bagian dari kehidupan. Ternyata masih pada tujuan-Nya. Tuhan memiliki desain besar dalam hidup kita yang tidak diketahui oleh kita. Ini disebut sebagai misteri.

Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan, kecuali Tuhan. Tapi setiap orang tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu bersama kita untuk menemukan jalan-Nya menjadi takdir.

Saya pasrahkan padaMu, Tuhan. 

Happy Father’s Day: Kasih Ayah pada Anaknya

Ilustrasi

This post aims to celebrate Father’s day on the first Sunday of September. Some countries put today to make it true as Happy Father’s Day. 

Anak  : Ayah, mengapa aku harus mengikuti keinginan ayah?

Ayah : Karena aku adalah ayahmu, sayang. Aku tahu apa yang kau butuhkan untuk masa depan.

Anak  : Masa depan seperti apa ayah?

Ayah : Ayah ingin kau menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. Jadi saat ini terpaksa kau harus mengikuti keinginan ayah. Ayah akan membentukmu menjadi pribadi yang indah, unik dan disukai banyak orang.

Anak  : Sebenarnya aku ingin tumbuh liar sesuka hati. Aku ingin hidup bebas.

Ayah  : Itu juga baik, sayang. Tetapi ada kala hidup itu juga perlu terikat dan penuh keterpaksaan agar tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa.

Anak  : Apa maksud ayah?

Ayah  : Kau tahu pohon bonsai ‘kan? Sesungguhnya bonsai bisa saja tumbuh bebas, namun bonsai yang demikian tak menarik. Akhirnya pencinta bonsai memaksa bonsai tumbuh sebagaimana yang dikehendaki, kadang diikat, digunting dan diperlakukan sebagaimana yang diinginkan sang pencintanya. Dengan demikian bonsai terlihat indah. Kau tahu ‘kan bonsai tak seperti bunga lain yang harus disiram setiap hari. Karena bonsai tumbuh kuat dan mampu menyimpan air lebih lama. Bonsai juga mampu hidup lebih lama dibandingkan yang lain.

Anak : Aku mengerti ayah. 

Ayah : Nak, aku mengasihimu. Aku ingin kau tumbuh jadi pribadi yang indah dan kuat kelak, meski sekarang aku sedikit memaksamu seperti yang aku inginkan. 

Anak pun mengerti dan memeluk ayahnya. Kata anak, “Aku juga menyayangimu ayah.” 

****

Sebagai seorang anak terkadang kita tidak memahami apa yang dikehendaki seorang ayah dalam hidupnya. Menurut anak, itu adalah bentuk paksaan namun bagi seorang ayah, itu adalah bentuk kasih sayang. Bagaimana pun seorang ayah ingin agar anaknya kelak menjadi pribadi yang kuat dan indah. 

Selamat Hari Minggu😊

Buat Apa Pintar Jika Tidak Bijak?


Ilustrasi.

“Buat apa jadi pintar hanya untuk mengusai dunia nak?” pesan ibu lewat whatsapp sore ini. 

Aku ingin pintar ibu. Aku lebih memilih jadi wanita pintar ketimbang wanita cantik. Aku ingin ibu tahu bahwa kepandaian akan menguasai dunia. Mereka yang menguasai dunia adalah mereka yang pintar.

Itu alasanku. Aku ketik berbagai alasan untuk meyakinkan ibu bahwa aku ingin jadi wanita pintar. 

“Pintar itu perlu. Tapi buat apa menguasai dunia jika kita tak bisa menguasai diri sendiri?” tanya ibu kembali. 

Pesan pertanyaan yang menohokku. Yup, siapa pun bisa menguasai dunia tetapi belum tentu bisa menguasai diri sendiri. 

Lalu aku bertanya balik ke ibu, “aku harus bagaimana ibu?”

Menaklukkan dunia itu memang hebat tetapi lebih hebat jika ia bisa menaklukkan diri sendiri. Buat apa pintar jika ia tidak bijak?

Banyak orang berusaha menguasai dunia tetapi tidak mengenal dirinya sendiri. Dia seolah-olah ingin dunia mengenalnya, tetapi apakah dia sudah mengenal dirinya sendiri? Belum tentu. 

Belajar menguasai diri sendiri agar kita sadar bahwa jika kita pandai dan punya ilmu sesungguhnya kita tak perlu sombong. Bahkan sesungguhnya mereka yang berilmu tinggi tiada artinya apa-apa. 

Mereka yang berilmu tahap pertama bisa sombong. Mereka yang berilmu di tahap kedua bersikap rendah hati. Padahal mereka yang sudah berilmu di tahap ketiga, mereka merasa diri tidak ada artinya lagi. Ingat bahwa di atas langit masih ada langit. Setinggi apa pun ilmu yang dimiliki untuk menaklukkan dunia, pertama-tama kuasai dulu diri sendiri.

Jadi Baik Sudah Cukup

“Memang penting menjadi yang terbaik dalam apa pun, nak” kata ibuku di sela-sela pembicaraan lewat telpon sore itu. “Namun kebanyakan orang lupa saat menjadi terbaik, mereka bukan orang yang baik,” lanjut ibu. 

Iya juga sih. Aku mengamini ucapan ibu sore itu. Sore waktu Jerman, malam waktu Indonesia. Beda lima jam jika musim panas seperti sekarang ini.

Menjadi yang terbaik itu susah loh. Bayangkan yang terbaik itu pastinya yang paling baik. Menjadi paling baik ‘kan harus melalui kompetisi atau pertarungan segelintir orang. Barangkali menjadi terbaik itu seperti pemenang. Sang Juara. 

Mencapai yang terbaik bukan tidak mungkin melaluinya dengan cara yang “tidak baik” bahkan mungkin menjadi orang yang “tidak baik” juga. Artinya, mereka lupa bahwa yang terutama itu menjadi orang baik. Itu cukup ketimbang jadi yang terbaik tetapi menambah ketidakbaikan di dunia ini.

Menjadi yang terbaik, itu boleh asal tetap dengan cara yang baik. Memilih jadi orang yang baik itu juga sudah cukup. Tak usah menuntut jadi yang terbaik, tapi berbuat curang pada kehidupan.

Kebijaksanaan Cinta

(Semacam gembok cinta di pinggiran Austria. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Ketika aku masih remaja, saat mengenal cinta pertama kali, pria idaman bagiku adalah dia yang pandai di sekolah. Sayangnya, aku tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu pintar.

Beranjak dewasa muda, ketika aku memasuki dunia perkuliahan, pria idamanku pun berubah. Dia adalah pria yang rupawan. Sayangnya, aku juga tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu rupawan.

Setelah menyelesaikan kuliah dan memasuki dunia pekerjaan, aku mulai mencari pria idamanku. Bagiku, dia adalah pria yang mapan dalam karir. Sayangnya aku juga tidak bisa mendapatkannya. Mungkin juga karena aku belum mapan kala itu.

Semakin lama usiaku berjalan maka aku semakin bijak dalam menemukan pria idaman. Dalam traveling aku bertemu berbagai karakter pria dari berbagai budaya. Maksudku mereka yang berasal tidak hanya Asia, Eropa, Amerika, Australia atau Afrika. Aku menjadi mengenal seperti apa pria idaman yang aku maksud. Ternyata pria idaman bukan dia yang berasal darimana tetapi dia yang berhasil membawaku kemana biduk hidup itu dituju.

Berjalannya waktu, aku jadi paham bahwa pria idaman adalah dia yang membuatku nyaman menjadi diriku sendiri. Karena aku tidak hidup bersama kecerdasannya, kerupawanannya atau kemapanannya melainkan dengan kebaikan dan ketulusannya. 

Aku menjadi bijaksana karena cinta. 

“Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalumu Karena Kau Pemilik Masa Depan”

*Fiksi*

Aku berdiri di tepi pelabuhan, memandang ferry yang berbayar menjauh menuju seberang. Entah berapa lama sudah aku tak pulang kampung. Aku rindu rumah. Aku rindu bau sawah. Aku rindu rasa embun di pagi hari. Aku rindu bersedekap merasakan hawa sejuk pegunungan. Ibu benar, aku tak cocok tinggal di tepi pantai. 

Sejak pindah dari wilayah pegunungan ke tepi pantai, aku selalu lupa bagaimana rasanya hawa sejuk pagi hari yang berembun bila matahari muncul di timur, menyembul dari pegunungan. Aku bahkan lupa bagaimana memetik teh dan mencium aroma embun pagi.

Apakah kau menyesal tinggal di sini?” tanyanya. Tidak ada yang pernah disesali dalam hidup. Untuk apa? Toh, kita tidak bisa mengembalikan waktu dan mengubah segalanya. Aku tak suka bila ada orang yang masih menyesali masa lalu, karena masa lalu bukan seharusnya disesali atau ditangisi. 

Aku menggeleng. Aku tidak menyesal dengan apa yang terjadi dengan hidup ini. Karena masa lalu memberikan aku pelajaran, bukan kenangan. 

Aku senang tinggal di mana saja. Di pegunungan atau di dekat pantai, asal bersamamu,” kataku menyanjung.

Tidak ada orang yang berhak mengatakan aku ‘kampungan’ atau ‘norak’ hanya karena aku belum pernah tinggal di tepi pantai. Tidak ada pula yang mengatakan tinggal di pegunungan itu lebih baik daripada tepi pantai. Itu hidup, kedua hal yang berlawanan harus dicoba. Panas dingin udaranya. Tinggi rendah wilayahnya, namun tak satu pun yang boleh mengklaim ini atau itu lebih baik.

Syukurlah kalau begitu,” katanya. “Banyak orang hidup membandingkan masa lalu dengan masa kini agar bisa menentukan masa depan” tambahnya. Maksudnya, mereka komplen dan tidak bisa menerima keadaan. 

Hidup itu sebenarnya menghidupi. Buat apa menjalani masa kini tetapi masih memikirkan masa lalu? Buat apa pula menjalani masa kini namun mengkhawatirkan masa depan yang belum terjadi?

Jika kau bisa hidup di hawa panas dan sejuk, itu artinya kau tidak bergantung pada kondisi sekitarmu,” serunya sambil memandang ke arah laut. 

Aku diam saja. Aku biarkan dia berlalu sementara aku masih menikmati semburat malu-malu dari fajar pagi hari.

Aku tak bergantung dengan keadaan. Namun orang banyak di sekitar rumah kami di tepi pantai seolah-olah menghakimi bahwa aku tak bisa hidup di tepi pantai. Jadi aku pun tak ingin menggantungkan perasaan pada penilaian orang-orang sekitar. 

Mereka tak berhak menghakimi diriku karena mereka belum mengenalku. Mereka juga tak kuasa menentukan masa depan karena aku lebih berkuasa dalam hidupku ketimbang mereka.