Ternyata Sukses Itu Direncanakan

Adakah orang yang sukses tanpa proses sehingga begitu dilahirkan sudah sukses? Ada saja, tetapi pasti hanya sebagian kecil secara statistik di dunia ini. Namun sebagian besar orang-orang sukses di dunia ini sudah mengakui bahwa kesuksesan yang mereka raih itu butuh proses yang panjang.

Suatu kali saya datang ke seminar yang mendatangkan pembicara orang yang cukup sukses di bidangnya. Dia bertanya pada kami semua yang hadir di situ dengan mata tertutup dan kepala tertunduk, siapa yang ingin sukses dalam hidup? Rupanya seluruh peserta di seminar tersebut ingin sukses dalam hidup. Itu artinya sukses itu PENTING.

Kemudian pembicara seminar itu bertanya beberapa dari kami sebagai peserta seminar. Pertanyaannya, bagaimana caranya menjadi sukses?

Setelah lima orang menjawab pertanyaannya, dia langsung mengatakan bahwa semua yang dikatakan oleh peserta seminar itu benar. Tetapi ada yang dilupakan untuk menjadi sukses, menurut si pembicara seminar. Hal yang dilupakan itu padahal begitu essential untuk mencapai kesuksesan. Si pembicara seminar kembali bertanya, apakah itu? Tak ada yang bisa menjawab.

RENCANA SUKSES. Jawabannya!

Kita ingin ini dan itu. Kita mimpi akan sukses ini dan itu. Tetapi kita kadang lupa bagaimana merencanakan secara spesifik atau langkah-langkah mencapainya. Kita berpikir otak akan menyimpan memori sukses yang kita inginkan.

Padahal saat kita ingin mencapai suatu tempat saja, kita butuh rencana agar tiba di destinasi tujuan. Mengapa kita butuh rencana sebelum pergi ke destinasi tersebut? Ya, mungkin saja kita tak ingin tersesat atau kita belum pernah (=tidak tahu) menuju ke sana. Atau kita ingin cepat sampai di destinasi tujuan. Intinya, kita tidak ingin gagal.

Siapa yang ingin GAGAL dalam hidup? Atau siapakah yang berencana GAGAL dalam hidup?

Saya sendiri pernah coba berkendara dengan suami tanpa rencana, ternyata itu tidak nyaman sekali. Kita bingung. Kita beberapa kali putar jalan. Kita berpikir ulang, bahwa kita hanya menghabiskan bensin saja.

Menurut si pembicara seminar sukses itu, buat apa kita menghabiskan tenaga, waktu dan sumber daya hanya karena kita lalai membuat rencana untuk sukses? Lalu dia melanjutkan lagi bahwa dia berhasil menjadi sukses karena dia sudah merencanakannya saat dia berusia 17 tahun.

Memiliki rencana sukses itu berarti kita punya kendali atas hidup kita. Bukankah pepatah bijak mengatakan SUKSES itu ada di TANGAN anda? Dengan begitu sukses ditentukan oleh rencana yang anda buat.

Menutup seminar, si pembicara tersebut melanjutkan bahwa rencana sukses itu PERLU. Rencana akan membuat kita fokus pada prioritas sukses yang diinginkan. Saat kita merencanakan SUKSES, bukankah alam raya akan mengarahkan kita untuk mencapainya?

Saya yang mendengarnya terangguk sepakat.

Ternyata SUKSES itu butuh RENCANA.

Jika SUKSES itu penting dalam hidup maka RENCANA itu yang utama.

Advertisements

Film Joker: Ketika Saya Tidak Mengerti Tawa Joker

Film Joker ditayangkan di Jerman mulai tanggal 10 Oktober, lebih lambat dari penayangan di Indonesia. Anda tahu bahwa film ini butuh proses waktu untuk dialihbahasakan menjadi bahasa Jerman. Dan saya pun tertarik menontonnya minggu lalu bersama suami dalam bahasa Jerman.

Film ini mengingatkan saya pada film-film yang harus saya tonton saat saya masih berkuliah di jurusan psikologi. Dimana sepanjang film saya harus mengamati perilaku aktor dan significant others, sehingga memunculkan tanya, mengapa dia berperilaku demikian. Namun kali ini saya tidak membuat analisa apalagi menilai tokoh Joker dalam sudut pandang keilmuan psikologi dan membuat revieu film karena saya bukan ahli untuk itu.

Hal yang pasti diingat penonton dalam film Joker adalah tawanya yang khas dan tak berhenti. Tetapi apanya yang lucu sehingga Arthur si Joker harus tertawa. Itu pula yang ditanya si ibu dengan seorang anak di dalam bis ketika Joker menghibur anak tersebut. Ibu itu meminta Joker berhenti mengganggu anaknya. Joker tertawa dan terus tertawa. Ibu itu bertanya hal yang sama seperti Psikiatri di dalam penjara pada adegan terakhir. Pertanyaannya “Apanya yang lucu?”

Joker bukannya berhenti menjawab, dia malahan tertawa tak henti. Karena Joker juga sebagai komedian pun melakukan tawa yang sesungguhnya tak dimengerti. Dia harus mengkonsumsi obat tiap hari untuk gangguan psikologis yang dialaminya. Joker pun menjawab bahwa dia tak mengerti apa yang terjadi padanya.

Joker sebagai alat tawa (komedian/badut) tampak berusaha menghibur banyak orang. Ini terlihat bagaimana Joker mengisi acara stand up comedy atau menghibur anak-anak di rumah sakit. Joker di satu sisi adalah orang berkarakter baik. Namun tawanya berubah menjadi karakter jahat ketika dia membunuh tiga orang di kereta bawah tanah.

Joker yang seharusnya menceritakan sisi lucu sebagai komedian dalam talkshow ‘Murray’ tetapi dia malah menceritakan bahwa dia membunuh tiga orang di kereta bawah tanah. Lagi si moderator talkshow, Murray bertanya pada Joker, “Apakah itu lucu menurut anda?” saat Joker menceritakan bahwa ia adalah penembak itu. Joker pun kembali tertawa lagi dan menembak moderator talkshow.

Juga Joker membunuh ibunya yang menurutnya telah berbohong padanya. Lalu datang temannya ke rumahnya dan bertanya, mengapa dia berpenampilan terbaik? Joker pun menjawab bahwa dia merayakan ibunya yang baru saja meninggal. Ini tidak masuk akal. Dia pun kembali tertawa lebih keras dan menembak salah seorang temannya yang datang berkunjung padanya.

***

Saat kita tahu bahwa seseorang tertawa, kita berpikir bahwa ada sesuatu yang lucu sehingga perlu ditertawakan. Kita berpikir ketika ada orang tertawa bahwa dia adalah orang yang sedang berbahagia. Tawa menjadi simbol sukacita. Tetapi justru sukacita itu tidak dirasakan Arthur. Dia tertawa karena dia sendiri pun tak mengerti, mengapa dia harus tertawa?

Arthur si Joker yang sering tertawa dengan tawa yang identik hidup penuh sukacita justru hidup dalam kesusahan di pinggir kota yang kumuh. Dia berjuang keras karena hidupnya yang secara ekonomi begitu sulit.

Lesson learned dari film ini, tentu berbeda-beda tergantung pemahaman masing-masing penonton. Bagi suami saya, film ini terasa membosankan seperti adegan Joker yang tertawa panjang dan lama. Tetapi saya katakan bahwa tawa Joker itu penuh makna sehingga disorot lebih lama. Joker hanya berperan bahwa tawa itu tidak selalu terasa sukacita dan terhibur.

Sungguh saya tak mengerti tawa Joker.

4 Alasan ‘Sok Tahu’ itu Tidak Pernah Belajar Apapun

Pernahkah anda bertindak ‘sok tahu’ dalam hidup atau anda bertemu dengan orang yang ‘sok tahu’? Jika pernah mengalami keduanya, atau setidaknya anda pernah mengalami salah satu dari kenyataan ‘sok tahu’ tersebut, tentu anda paham bahwa ‘sok tahu’ selalu terkesan sombong. Orang yang ‘sok tahu’ terkesan arogan dan tinggi hati.

Tetapi percayalah, orang yang ‘sok tahu’ itu tak pernah belajar apa pun.

Mengapa?

1. Orang ‘sok tahu’ biasanya sudah menganggap dirinya tahu lebih dulu sebelum diajari atau dijelaskan.

Karena orang yang demikian sudah membangun asumsi lebih dulu, tanpa mendengarkan penjelasan orang lain. Ini pernah saya alami. Saya pernah merasa ‘sok tahu’ mengoperasikan mesin fotokopi saat bekerja di Jerman. Saya berasumsi semua mesin fotokopi sama, kenyataannya tidak demikian. Saya salah besar karena saya merasa ‘sok tahu’ tanpa bertanya bagaimana mengoperasikan mesin fotokopi dengan baik. Hasilnya, saya menghabiskan berlembar-lembar kertas yang salah difotokopi.

2. Orang ‘sok tahu’ itu biasanya menganggap remeh sesuatu.

Hargai sekecil dan seremeh apa pun di dunia. Dari hal kecil, kita belajar tentang hal besar. Apa yang kita anggap kecil dan remeh, nyatanya memberi arti dan makna dalam hidup. Contohnya kembali pada pengalaman pertama kali saya mengoperasikan mesin fotokopi. Saya meremehkan persoalan memfotokopi dokumen. Padahal pekerjaan memfotokopi itu yang dahulu di Jakarta biasanya saya minta orang lain, asisten kantor melakukannya sebaliknya di Jerman, apa pun jabatannya, kita harus melakukan fotokopi sendiri.

3. Orang ‘sok tahu’ itu biasanya sombong sehingga tidak membuka diri untuk belajar.

Pengalaman itu mahal dan tak ternilai harganya. Jika kita sudah merasa paling tahu tentang sesuatu hal, bagaimana kita mendapatkan sesuatu hal baru untuk dipelajari. Ibarat orang ‘sok tahu’ itu seperti tangan yang tertutup mengepal. Bagaimana kita bisa menerima sesuatu dengan tangan jika tangan kita mengepal dan tertutup. Rendah hati adalah sikap yang baik meski kita tahu apa pun di dunia ini. Kata ibu saya, di atas langit masih ada langit.

4. Orang ‘sok tahu’ itu ingin tidak terlihat bodoh sehingga tak butuh penjelasan.

Ketika saya melihat mesin fotokopi, saya sudah berasumsi bahwa semua mesin fotokopi sama dan mengerjakan fotokopi adalah hal mudah. Karena saya merasa ‘sok tahu’ dan sudah membangun asumsi, maka saya merasa tak perlu lagi bertanya pada orang lain. Saya menutup diri untuk ingin tahu mengoperasikan mesin fotokopi. Kenyataannya, saya salah besar melakukan fotokopi. Saya atau anda memilih menjadi sok tahu sehingga tidak terlihat bodoh.

Dari empat alasan di atas, jelas bahwa orang yang ‘sok tahu’ tidak akan belajar apa pun. Mereka telah membangun benteng pertahanan untuk berhenti tahu. Bertanyalah agar tidak sesat di jalan!

Warna Akan Mengubah Hidup, Anda Percaya?

Apa warna favorit anda? Barangkali pertanyaan ini pernah anda dapatkan dari orang yang anda kenal hingga orang yang tidak dikenal. Mungkin saja. Ada juga orang yang bertanya demikian karena ingin memberi hadiah agar sesuai dengan warna favorit anda. Atau orang bertanya warna kesukaan anda agar orang bisa menebak kepribadian anda. Mungkin saja.

Apa ada kaitan warna favorit dan kepribadian?

Sejak masih kanak-kanak, kita tumbuh dengan aneka warna di sekeliling kita. “Kamu suka tas warna apa untuk tas sekolah, kak?” tanya ibu saya. Sejak itu ada banyak kecenderungan saya untuk mengambil dan memiliki yang disukai seperti baju yang dikenakan atau pernak-pernik dalam kamar pribadi kita, misalnya. Kecenderungan orang dengan warna yang dipilihnya bisa menjadi kebutuhan terdalam individu tersebut.

Ada banyak informasi di luar sana yang mengaitkan warna favorit dengan karakteristik kepribadian anda. Misalnya orang yang suka warna hitam berarti orang yang serius dan tak suka mengumbar hidupnya yang penuh misteri. Sebaliknya orang yang suka warna merah adalah orang yang ceria dan senang menjadi pusat perhatian. Dan masih banyak lagi arti warna yang disukai dengan kepribadian.

Pada dasarnya secara psikologis, kajian tentang warna yang disukai itu berpengaruh dengan perilaku dan kepribadian kita. Saat anda mengenakan baju warna merah, anda merasa ceria. Atau saat kita berada dalam ruang makan bernuansa cokelat yang hangat, kita merasa suasana yang intim dan dekat satu sama lain saat dinner. Begitulah warna-warni itu mempengaruhi suasana hati.

Menurut ahli, warna itu menghasilkan pengalaman sensorik pada tubuh. Warna yang dipilih bisa berdasarkan pengalaman, tetapi ada juga yang berdasarkan kepribadian. Misalnya, saya suka warna merah tetapi kebanyakan pakaian yang dikenakan cenderung warna biru dan dekorasi ruang tamu warna hijau misalnya.

Jadi pahami warna akan membuat kesenangan tersendiri.

Pertanyaannya sekarang, apakah warna akan mengubah hidup?

Tentang warna, saya pernah mengulas di sini.

Lalu suatu kali saat saya sedang memilih pakaian, saya menemukan model baju yang saya suka tetapi saya tidak suka warna baju tersebut. Dengan berat hati, sang karyawan butik pakaian tersebut menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki koleksi dengan warna lain. Kemudian suami saya mendukung agar saya membeli baju itu agar sesekali tampil beda.

Saya kemudian mengenakan pakaian dengan warna yang tak pernah saya pakai sebelumnya. Rupanya ada hal berbeda dengan penampilan dan kondisi saya saat itu. Beberapa orang yang bertemu saya merespon penampilan saya. Itu artinya sesekali anda perlu mendapatkan respon berbeda dengan mengganti warna yang selama ini mungkin terlalu sering anda pilih. Anda ingin punya mood tenang atau bersemangat, perhatikan warna yang anda pilih.

Ada orang yang seumur hidup telah suka hanya pada satu warna saja, tetapi ada juga yang sudah berganti warna.

Apa pun warna favorit anda, sesekali perhatikan apakah anda perlu mengubahnya agar sesuai dengan kebutuhan anda?

Ketika Kebohongan Terjadi, Kejujuran Akan Membuktikannya Sendiri

Judul ini terinspirasi dari sebuah film yang saya tonton di sini. Film berbahasa Jerman ini menceritakan tentang seorang pria yang dipenjara atas tuduhan perkara yang sebenarnya tidak dibuatnya. Seorang perempuan rekan kerjanya, menginginkan posisi pekerjaan yang dijabat pria ini. Hingga akhirnya, perempuan ini membuat sebuah cerita kebohongan yang menyebabkan pria ini dipenjara selama lima tahun. Ada saksi yang bisa membuktikan bahwa pria ini tak bersalah, malangnya saksi ini meninggal tiga hari setelah perempuan ini melaporkan pria ini ke polisi.

Siapa yang bisa menerima pil pahit kehidupan?

Siapa yang bisa menerima kenyataan bahwa sesungguhnya kita tidak bersalah sedangkan tak ada orang lagi yang bisa mempercayainya?

Bersandar kepada siapa ketika seluruh dunia seolah percaya pada cerita si pembohong?

Hanya kemarahan dan jiwa yang berontak yang terjadi pada pria yang sebenarnya tak bersalah ini. Ia merelakan dirinya dipenjara, dihakimi rekan kerja bahkan dijauhi isteri dan anaknya. Begitulah ulah pembohong yang bisa menghancurkan karir, keluarga dan harapan hidup seseorang.

Rupanya salah seorang rekan kerja dari pria tak bersalah ini mencari tahu dari kebohongan-kebohongan kecil yang dibuat wanita pembohong yang telah menjerumuskan pria malang itu ke dalam penjara. Akhirnya cerita terkuak kembali bahwa sesungguhnya perkara itu tak pernah ada, hanya kisah bualan dari seseorang yang menginginkan jabatan di kantor. Akhirnya pria tak bersalah ini dibebaskan setelah hampir tiga tahun mendekam di penjara. Pil pahit itu harus diterima hanya karena sebuah kebohongan besar yang dilakukan seseorang.

Kebohongan itu tidak hanya menyakitkan bahkan menyandera pria ini dalam penjara, tidak bersama isteri dan anak yang ditinggalkannya dalam tahun-tahun dia dipenjara. Film ditutup dengan kebebasan pria ini dari perkara yang tak dibuatnya. Dia merasa lebih bahagia daripada sebelum dia dipenjara. Begitu bahagianya, dia mengalami sakit jantung tiba-tiba saat dia mengendarai sepeda. Dia pun pada akhirnya meninggal dunia.

Mengapa seseorang berbohong? Silahkan cari jawabannya di sini.

Pesan moral dari film tersebut ada banyak, tergantung bagaimana penonton bersikap. Ada nilai kehidupan selain kejujuran seperti keluarga, persahabatan, kerjasama, keadilan, dan sebagainya. Namun bagaimana pun kejujuran itu tak ternilai harganya. Ketika kebohongan terjadi, kejujuran akan membuktikannya sendiri. Tuhan itu melihat dari awal hingga akhir. Ia tak pernah menutup mata.

Selamat berhari Minggu!

Mengapa Kita Mudah Menyerah?

Minggu lalu saya harus melewati ujian lisan di salah satu mata kuliah yang menurut saya sulit. Ujian ini untuk menutup perkuliahan summer semester. Kuliah akan berlanjut winter semester pada bulan Oktober nanti. Tentu, apa pun yang namanya ujian bukan perkara mudah untuk siapa pun mahasiswa, termasuk saya yang berbahasa ibu bukan bahasa Jerman. Ini adalah ujian lisan.

Saya pun sudah stress menyiapkan materi yang diberikan profesor. Di saat stress itu, muncul rasa dalam diri sendiri yakni menyerah.

Partner hidup saya yakni suami yang mengetahui hal itu, mengajak saya makan malam di luar rumah. Kami pun berbincang dan membahas tema “Menyerah” pada saat makan malam. Ini bukan tema ujian saya. Dari obrolan tersebut, saya pikir ini bagus untuk saya bagikan dalam bentuk artikel.

Mengapa kita mudah menyerah?

1. Kita takut akan mengalami kegagalan

Di dunia ini kita sudah belajar sejak masih anak-anak untuk berhasil dalam melakukan sesuatu. Padahal kita juga tahu bahwa semuanya itu butuh proses belajar dan waktu agar apa yang kita inginkan tercapai. Masalahnya, saat kita menjadi dewasa maka kita lebih sulit menerima kegagalan. Kegagalan itu seperti momok yang menakutkan dan mengerikan sepanjang hidup. Bahkan ada yang tak bisa memaafkan diri sendiri ketika gagal. Daripada terjadi kegagalan, kata “menyerah” itu begitu mudah diucapkan.

2. Kita takut pemikiran orang lain yang akan menghakimi jika kita gagal

Manusia adalah makhluk sosial. Seberapa pun lingkup pertemanan dan hubungan kekerabatan yang dimilikinya tak luas, tetapi gagal itu seolah-olah menakutkan karena kita khawatir cap buruk yang mungkin diberikan orang-orang di sekitar kita. Padahal itu semua belum tentu terjadi. Kita begitu khawatir orang lain akan menghakimi jika kita gagal.

3. Kita berpikir menyerah itu lebih mudah daripada melanjutkan

Siapa pun di dunia ini akan memilih hal termudah dibandingkan hal tersulit. Padahal kita juga tahu bahwa seseorang yang berhasil itu harus melewati kesulitan terlebih dulu. Nyatanya kita memilih untuk menghindari kesulitan dan mengambil hal termudah, yakni menyerah. Kita berpikir bahwa menyerah itu akan menghentikan kesulitan. Kita tidak ingin melanjutkannya hanya karena kita ingin hal termudah dalam hidup.

4. Kita ingin berhenti untuk berjuang keras mencapai tujuan

Manusia itu begitu mudah menyerah ketika dia merasa bahwa harapannya itu pupus. Kita mudah menyerah ketika perjuangan yang gigih dilakukan tampak sia-sia. Menyerah muncul ketika kita merasa perjuangan untuk mencapai tujuan tak mungkin terjadi. Kita lupa bahwa keajaiban adalah hal mustahil yang mungkin saja terjadi jika kita percaya.

5. Pada dasarnya kita berharap lebih dari apa yang kita pikirkan

Menjadi orang sukses dan berhasil dalam hidup adalah harapan tiap orang. Namun siapa yang ingin gagal? Tak ada. Harapan hidup itu selalu melebihi kenyataan. Ketika kita takut akan terjadi kegagalan karena kita tidak siap untuk kehilangan harapan. Menyerah itu akhirnya menjadi begitu mudah. Kita ingin membiarkan usaha perjuangan kita berhenti daripada mengetahui ketidakpastian, apakah kita gagal atau berhasil?

Setiap orang dalam hidup pasti pernah mengalami kegagalan dan menyerah. Namun tiap orang punya cara yang berbeda untuk menerima, mengatasi dan bangkit dari kegagalan. Pengalaman yang berbeda-beda ini pun mengajari tiap orang, apakah ia begitu mudah untuk menyerah dalam hidup?

Lepas dari tema “menyerah” di atas, akhirnya saya berhasil melewati ujian lisan dengan baik. Nilai saya pun sangat baik. Bisa anda bayangkan jika saya sudah menyerah di awal sebelum ujian? Jadi, jangan pernah mudah menyerah di awal!

Jangan Remehkan Diri Sendiri! Kita Bisa Nyatanya

Siapa pun pasti pernah merasa pesimis terhadap kemampuan diri sendiri. Pesimis tersebut menandakan bahwa kita tidak percaya pada kemampuan diri sendiri. Padahal kita perlu tahu bahwa setiap individu terdapat kekuatan ‘raksasa’ yang perlu dibangunkan sewaktu-waktu sehingga kita bisa unjuk diri melebihi apa yang kita perkirakan.

Ini tentang pengalaman diri saya sendiri yang semula saya pikir bahwa saya gagal. Ceritanya adalah saya harus melewati satu ujian berupa presentasi yang menjelaskan suatu konsep akademis di depan kelas, termasuk di depan profesor sebagai dosen saya. Saya menyelesaikan bahan tertulis dengan sungguh-sungguh karena saya ingin lulus dan tak ingin mengulang lagi tahun depan.

Setelah materi tertulis sudah diselesaikan, kini saya belajar bagaimana presentasi di depan kaca di rumah. Latihan ini dimaksudkan agar saya tampil baik berbicara bahasa Jerman di depan mahasiswa yang mayoritas berbahasa ibu Jerman dan hanya 4 orang yang pendatang, termasuk saya. Anda tahu bahwa tiap kosakata terkesan asing buat saya, bahkan saya ragu dengan pengucapannya. Saya meminta bantuan google yang berbicara untuk melafalkan kosakata akademis yang asing buat saya.

Saat hari tampil, saya pun sudah merasa cemas dan khawatir. Hal normal buat siapa pun saat akan presentasi di depan banyak orang. Lalu giliran saya berbicara tentang materi yang harus saya kuasai. Sekitar lima belas detik berlalu saat saya memperkenalkan diri, tampak mereka melihat saya seolah ingin menerkam saya. Saya sungguh ingin berlari dan tak ingin menyelesaikannya. Masalahnya, saya harus tetap berdiri dan presentasi. Presentasi pun berlalu, entah saya pun tak tahu bagaimana penampilan saya saat itu.

Saya melakukan presentasi dengan tidak memikirkan siapa pun di depan saya karena saya tak tahu kosakata yang saya ucapkan itu terdengar aneh mungkin. Itu perkiraan saya. Contoh kata saja misal, Engagement. Di Jerman, kata ini tetap dipakai sebagai ‘Engagement’ padahal saya kenalnya ini adalah kosakata bahasa Inggris. Saya menyebutkan lafal kata ‘Engagement’ dalam bahasa Inggris sementara yang benar di Jerman, mereka melafalkan kata ini dalam bahasa Prancis. Tentu satu kata ini saja misalnya sudah berbeda.

Namun materi slide yang saya tampilkan dan handout yang saya berikan cukup membantu peserta yang mendengar saya berbicara untuk paham. Terus terang saya masih kesulitan melafalkan huruf berbahasa Jerman dengan umlaut seperti ö, ä dan ü sehingga saya benar-benar stress menghadapi hasil ujian yang akan diberikan nantinya.

Setelah presentasi, saya putuskan untuk menarik diri dan berpikir ulang, apakah saya tetap lanjut dengan jurusan saya atau mengganti jurusan? Saya semakin bimbang. Saya mulai meragukan kemampuan diri saya sendiri. Saya diberi batas waktu berpikir setelah saya konsultasi dengan Konselor Universitas.

Sebelum tenggat waktu pergantian jurusan berakhir, Tuhan membuat saya berpikir ulang lagi. Nilai ujian presentasi saya terkirim via email mahasiswa. Nilai saya sangat baik. Anda tahu bahwa penilaian di Jerman itu dimulai dari angka 1 sebagai sangat baik hingga angka 4.5 sebagai angka batas untuk lulus. Jika mendapatkan angka 5 maka pastinya mahasiswa tersebut tak lulus. Presentasi yang saya pikir itu buruk, ternyata tidak demikian. Profesor itu memberikan saya nilai 1.3 yang berarti nilai itu sangat baik buat saya.

Saya merefleksikan diri dari pengalaman tersebut. Bahwa terkadang saya dan juga mungkin anda pernah merasa pesimis dan meragukan potensi diri sendiri. Kita bisa saja meremehkan kemampuan sendiri. Nyatanya, jika kita mau dan percaya pada kemampuan diri sendiri maka selalu ada peluang untuk mendapatkan yang TERBAIK.

Jadi sesekali kita perlu membangunkan ‘raksasa‘ dalam diri sendiri untuk tampil melebihi apa yang kita pikirkan.

Bagaimana dengan anda?

“Sindrom Sarang Kosong” Atau Gejala Perkawinan Memasuki Usia Perak yang Jarang Diketahui

Banyak anak yang sudah memasuki usia dewasa tidak mengetahui apa yang terjadi pada orangtua mereka. Fenomena itu memang tidak terjadi pada tiap orangtua, tetapi cerita ini benar didapat dari sebagian kenalan saya di sini. Kemudian ini menjadi bahasan diskusi bagi kami yang menikah dan memikirkan apa yang terjadi sebenarnya.

Silberhochzeitkrise adalah istilah dalam bahasa Jerman. Saya sendiri tidak tahu apa ada padanan katanya dalam bahasa Inggris. ‘Silber‘ merujuk pada kata ‘silver’ atau perkawinan usia perak. ‘Hochzeit‘ adalah masa perkawinan. Dan ‘krise‘ merujuk pada krisis. Jadi istilah ini merujuk pada gejala krisis yang dihadapi pasangan perkawinan menjelang usia perak atau dua puluh lima tahun perkawinan.

Diasumsikan bahwa usia perkawinan dua puluhan dimana anak-anak tidak lagi menjadi fokus utama. Pasangan perkawinan di lima tahun pertama disibukkan dengan penyesuaian karakter dua individu berbeda dalam satu rumah. Kemudian kehadiran buah hati mulai dari mengurus dan membesarkan anak-anak. Lanjut masa perkawinan menginjak tahun ke enam dan selanjutnya hingga suami-isteri dihadapkan pada kesibukan mengurus keperluan anak bersekolah, mencukupi kebutuhan sehari-hari dan seterusnya.

Tentu suami-isteri begitu fokus menjadi ayah-ibu yang baik bagi anak-anak mereka. Namun apa yang terjadi saat anak-anak tumbuh dewasa?

Anak-anak memutuskan pilihan hidupnya seperti kuliah, bekerja dan menemukan pasangan hidup. Anak-anak yang dulu masih begitu diperhatikan kini anak-anak merasa risih dan punya kehidupan sendiri. Anak-anak kini tumbuh menjadi pribadi dewasa dan memilih kehidupan yang mungkin saja terpisah dari kedua orangtua mereka. Anak-anak ingin mandiri. Sementara rumah yang dulu dipenuhi keceriaan anak-anak kini menjadi sepi dan kosong. Itu sebab krisis ini disebut juga “sarang kosong” atau leere nest symptom dalam bahasa Jerman.

Dalam istilah bahasa Inggris, gejala “sarang kosong” dikenal dengan “Empty nest syndrome” dimana gejala-gejala kesepian dan merasa sendiri melanda suami-isteri yang dahulu begitu berbahagia sebagai orangtua. Suami-isteri menjadi kehilangan fokus lagi, manakala dahulu anak-anak menjadi tujuan mereka. Tentu periode ini menjadi tidak mudah dihadapi suami-isteri untuk melakukan penyesuaian tahapan perkawinan mereka yang baru.

Perasaan tidak siap begitu anak beranjak dewasa muda untuk meninggalkan rumah atau rasa sendiri yang berujung pada gejala emosional bahkan hingga depresi karena rumah begitu sepi. Fenomena ini mungkin saja dihadapi suami-isteri yang melewati dua puluhan tahun pernikahan. Ada penelitian yang mengatakan ibu rumah tangga yang menghabiskan sebagian besar waktunya mengurus anak lebih rentan mengalami gejala ini. Namun ternyata tidak juga, ada beberapa kenalan saya yang mengaku justru ayah mereka mendapati gejala ini sehingga perlu konselor perkawinan untuk mengatasinya. Teman saya beralasan bahwa si ayah tak siap menghadapi rasa sepi di rumah apalagi beliau sudah pensiun dan tak sibuk tiap hari seperti dulu saat teman saya ini masih anak-anak.

Bagaimana mengatasinya?

Kami pun berdiskusi tentang hal ini, apalagi perkawinan itu senantiasa harus membahagiakan satu sama lain. Sebagai kenalan, saya hanya menyarankan agar anak tidak melupakan orangtua mereka. Berkunjung ke rumah orangtua atau menyempatkan waktu bersama orangtua adalah cara termudah agar para suami-isteri di periode perkawinan ini tak lagi merasa sepi.

Bukankah membahagiakan orangtua mendapatkan pahala yang berlimpah dari Tuhan?

Kecanggihan teknologi komunikasi pun sekarang hanya selintas dua jari. Anda bisa mengetik pesan via telepon pintar anda atau membuat kontak video dengan orangtua yang membuat mereka pun berbahagia dan tak kesepian. Tetaplah berkomunikasi dengan orangtua seberapa pun jauhnya anda dengan mereka.

Gejala sindrom sarang kosong pastinya terjadi, hanya saja bagaimana suami-isteri bisa bahu membahu untuk mengatasi perasan transisional dan emosional ini bersama-sama. Suami-isteri bekerja sama agar fokus perkawinan yang bahagia tidak berubah seiring waktu.

Selamat berhari Minggu bersama keluarga!

Seimbangkan Hidup itu Perlu, Mengapa?

Memiliki jadwal yang padat dan sibuk sebenarnya sah-sah saja. Ada orang yang terbiasa dengan padat jadwal sementara ada orang yang memang senang santai dan tak menyukai kesibukan. Ada orang yang tekun pada satu hal aktivitas tetapi ada orang yang suka dengan ragam aktivitas yang menyita waktu.

Lantas, anda sendiri termasuk tipe mana?

Akhirnya saya pun terpaksa rehat sejenak karena saya punya aktivitas yang banyak. Rupanya berdiam diri dan istirahat total membantu saya pulih sementara saya sendiri sedang sibuk menyiapkan ujian musim panas dari Universitas. Konsisten menulis blog pun sempat terbengkalai karena saya sedang banyak tugas.

Di tengah padatnya aktivitas, saya pun mendapatkan pencerahan dari salah seorang kenalan di sini. Dia mengajarkan tentang keseimbangan hidup. Menurut guru itu, hidup harus seimbang. Ketika kita hidup seimbang maka kita akan merasakan damai dan harmonis setiap hari. Hidup yang seimbang dapat dirasakan dengan fisik yang sehat bugar dan mental yang bahagia.

Menghabiskan waktu sebagian besar hanya untuk bekerja mencari uang pun tak baik untuk keseimbangan hidup. Saya pernah mengulas berdasarkan studi bahwa bekerja melebihi 55 jam per minggu punya risiko sakit jantung. Cek artikelnya di sini. Bekerja itu juga perlu dikelola seimbang agar tetap sehat dan bahagia. Bukankah bahagia bekerja justru membuat kita lebih kreatif dan produktif?

Jadi, mengapa keseimbangan hidup itu perlu?

Di tengah kecepatan modernitas dunia saat ini, keseimbangan hidup itu ada di tangan anda. Anda ingin berjalan lambat atau cepat. Semua pada pilihan anda. Anda pun juga punya pilihan untuk tetap sehat dan sejahtera asalkan apa yang dijalani itu seimbang.

Mempertahankan hidup yang seimbang itu perlu agar segala yang berjalan pada kita itu tetap stabil. Dengan begitu, gaya hidup yang stabil dan seimbang akan mengurangi risiko penyakit yang menyerang. Penyakit yang dipicu oleh gaya hidup tak sehat bisa anda ketahui sendiri. Gaya hidup sehat disebabkan pola hidup yang seimbang seperti asupan nutrisi, pola tidur, jam kerja dan sebagainya.

Keseimbangan hidup juga membuat kita lebih mensyukuri bahwa segala sesuatu dikerjakan sesuai ukuran dan teratur. Karena bahagia dalam bekerja itu perlu dilakukan, bukan dilupakan. Jika kita memaksa tubuh melakukan yang berlebihan atau serba kekurangan pun akan berdampak tak baik.

Karena hidup yang seimbang membuat kita berlaku sesuai koridor yang berlaku. Hidup yang seimbang itu seperti berjalan secara harmonis untuk mencapai rasa bahagia.

Apakah anda sudah menerapkan keseimbangan hidup?

Nilai Apa yang Anda Perjuangkan dalam Hidup?

Dalam suatu seminar perkuliahan di Jerman si dosen bertanya kepada kami seluruh mahasiswa yang hadir saat itu, termasuk saya. Dia bertanya dalam bahasa Jerman, “Nilai apa yang anda perjuangkan dalam hidup?” dan dia meminta kita memikirkannya. Dia menambahkan nilai itu harus penting dan bisa saja ada dua sampai tiga nilai hidup yang penting.

Kami pun terdiam dan merenungkannya. Saya yang memikirkannya pun ternyata tak mudah juga menjawabnya. Saya merasa semua nilai itu penting. Lalu dosen menghampiri saya dan menguatkan. “Pilihlah nilai itu tidak hanya penting, tetapi juga utama dalam hidup sehingga anda perlu perjuangkan!”

Jika anda seperti saya, apa jawaban anda?

Ada banyak teori tentang nilai dalam hidup. Dan itu semua tidak sama. Misalnya, saya yang berasal dari Asia memandang nilai kebersamaan (collectivisme) itu penting. Saya dan suami suka sekali pakai baju batik seragam saat kami berdua pergi ke gereja waktu kami berada di Indonesia dulu. Saya dan rekan kerja satu tim saat berkantor di Jakarta dulu senang sekali melakukan apa saja bersama-sama. Karena perasaan ‘sense of belonging’ itu penting berdasarkan budaya saya dari Indonesia.

Namun bayangkan saat saya berada di Eropa, nilai ‘kebersamaan’ itu tidak ada. Nilai yang ada adalah nilai kebebasan. Saya dan suami juga merasa aneh juga jika kita mengenakan pakaian seragam bersama-sama. Di sini orang dibiarkan tumbuh sebagai pribadi yang unik. Mungkin saya yang berasal dari Asia memandang ini adalah nilai individualistik atau egoistik. Ternyata salah, nilai ini tumbuh karena kultur.

Perbedaan nilai hidup bisa terjadi karena kultur, pengasuhan orangtua (parenting) dan faktor lain baik internal maupun eksternal.Nilai hidup itu mempengaruhi seberapa besar anda mencapai tujuan hidup.

Ada orang yang menganggap nilai hidup itu adalah nilai kesenangan (joyful) dan kenikmatan tetapi ada orang yang memandang nilai hidup itu pada ranah moral dan etika. Ada orang punya nilai kesederhanaan sudah bahagia, tetapi ada yang justru sebaliknya nilai kekayaan itu jadi tujuan hidup. Ada yang meninggalkan nilai kenikmatan untuk meraih nilai moral tetapi ada pula yang melupakan nilai moral untuk meraih nilai kesenangan.

Nilai lainnya pula bagi orang yang memperjuangkan nilai-nilai politis dalam hidup. Justru sebaliknya ada orang yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan humanitas. Kedua nilai ini bisa beriringan pun pula bisa saja berbenturan.

Nilai hidup tiap orang itu tidak sama. Anda sendiri bagaimana?