Apa yang Membuat Saya (Tetap) Sehat? 5 Ide yang Saya Lakukan Selama Berdiam di Rumah

#StayAtHome#WirBleibenZuHause#

Ilustrasi.

“Bleib gesund!” demikian kalimat berbahasa Jerman meluncur dari kasir supermarket, penyiar radio dan tv hingga orang yang saya kenal di sini. Kalimat itu bisa diterjemahkan “Jaga Kesehatan!” hanya untuk menandakan bahwa sehat itu investasi. Kini perhatian seluruh dunia begitu menguatkan paradoks tersebut. Bahwa kita semua ingin tetap sehat secara fisik dan mental. Sehat itu sejatinya tidak hanya sekedar sehat secara fisik dan terhindar dari penyakit, tetapi secara mental pun begitu. Sehat itu dambaaan setiap orang. Apa artinya punya segalanya, jika kita tidak bisa menikmatinya hanya karena kita sakit.

Baru-baru ini saya mendapatkan pencerahan soal pendekatan kesehatan yang selama ini saya salah menerapkan. Contohnya, saya sakit maag, masalah pencernaan. Saya terbiasa untuk berpikir, ‘Apa yang membuat saya sakit maag?’ itu baik tetapi itu hanya melihat ke belakang (=masa lalu, penyebab) yang sudah terjadi. Sebaliknya, jika saya berpikir ‘Apa yang membuat saya sehat (=tidak sakit maag)?’ maka saya akan berpikir di kemudian hari, apa yang akan terjadi, agar saya bisa sembuh dari sakit maag dan tidak lagi mengalami masalah pencernaan di kemudian hari.

Pendekatan ‘Apa yang membuat saya sehat?’ itu menawarkan solusi dan harapan ke depan. Sementara jika saya melakukan ‘Apa yang membuat saya sakit?’ adalah sebuah refleksi penyebab yang memikirkan apa yang sudah terjadi. Agar saya tetap sehat maka saya juga perlu memikirkan bahwa fisik dan mental saya pun harus sehat. Masa lalu hanya mencari penyebab sakit, sedangkan pemikiran tetap sehat memberi solusi untuk masa depan.

Berikut 5 ide baik yang saya jalani agar saya tetap sehat selama berdiam di rumah.

1. Manajemen diri agar terhindar dari stress

Apakah anda berpikir bahwa berdiam di rumah, dikarantina, isolasi diri atau apalah namanya tidak membuat stress? Apakah seseorang tidur seharian tidak membuat stress? Apakah seseorang hanya duduk, diam dan tidak bekerja di rumah tidak membuat stress? Stress itu menimpa siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Seorang anak kecil yang disuruh diam di rumah dan tidak boleh keluar rumah pun bisa membuatnya stress. Seseorang yang terbiasa rutin bekerja, berangkat pagi pulang malam dengan segudang aktivitas di luar rumah lalu tiba-tiba berdiam di rumah seharian, apakah dia tidak mengalami stress?

Ini tentu harus diatasi, bagaimana agar seseorang bisa mengelola stress selama berdiam di rumah. Stress muncul ketika terjadi kesenjangan antara harapan dengan kenyataan hidup. Mau belajar atau bekerja tenang di rumah, tetapi harus pula menjaga dan dan mengajari anak-anak yang belajar di rumah. Stress juga terjadi mendengar pemberitaan soal wabah corona di luar. Stress memikirkan keuangan selama tidak bekerja pun bisa terjadi.

Saat stress, ada orang yang begitu berisiko mengalami sakit atau rentan terserang penyakit. Oleh karena itu, saya perlu mengelola diri selama berdiam di rumah agar tidak stress. Berpikir positif dan selalu bersyukur adalah cara saya terhindar dari stress selama berdiam di rumah. Melihat foto-foto dan video liburan yang sudah terjadi membuat saya bersyukur atas apa yang saya miliki, bukan apa yang belum saya miliki.

Kenali apa yang membuat stress selama berdiam di rumah! Segera cari cara mengatasinya! Mengajari anak belajar di rumah bisa dibebankan pada peran ayah dan ibu, juga mungkin anggota keluarga lainnya. Terlalu banyak menyimak media sosial menimbulkan stress, maka matikan notifikasinya. Bermain dengan berbagai permainan tradisional atau moderen yang membuat kita bisa menikmati waktu selama berdiam di rumah.

Nikmatilah waktu berdiam di rumah dengan cara masing-masing. Cara saya dan cara anda mungkin saja berbeda, tetapi menikmati hidup itu sama, yakni tanpa syarat titik. Sampai waktu yang ditetapkan pemerintah berakhir, kita bisa melakukan hal positif, pengembangan diri, agar terhindar dari stress.

2. Meditasi dan Berdoa

Saya sempat kecewa karena beberapa rencana dibatalkan dan tidak terlaksana karena harus berdiam di rumah. Apa boleh buat! Lalu meditasi adalah cara saya menemukan kedamaian batin. Tak perlu waktu berjam-jam. Bagi saya, meditasi adalah saya punya waktu beberapa lama untuk berdiam diri, atur nafas dan berdiam dengan posisi yang nyaman di tempat sunyi atau kadang disertai instrumen meditasi. Ternyata ini membantu saya untuk mengelola pikiran dan perasaan agar tetap positif.

Tak harus meditasi, berdoa pun bisa dilakukan. Lakukan dengan cara anda membangun relasi dengan Tuhan. Berdoa itu seperti membangun rasa syukur, hati bahagia dan pengalaman positif lainnya. Berdoa di rumah agar wabah corona segera berlalu di seluruh dunia.

3. Lakukan aktivitas positif (Membaca, memasak, menulis, berolahraga, melukis, menonton film, dsb)

Melakukan apa yang menjadi kesukaan dan minat pribadi seperti memasak menu baru, bermain tradisional, melukis, berkebun, menulis jurnal bahkan senam, naik turun tangga pun dilakukan. Apa pun itu, aktivitas tersebut memberikan dampak yang luar biasa sembari berdiam diri di rumah. Ini bukan sekedar mengisi waktu luang karena terpaksa berdiam di rumah. Aktivitas positif bertujuan meningkatkan minat yang membuat keseharian di rumah tidak membosankan. Aktivitas positif dimaksudkan untuk membangun suasana perasaan yang membahagiakan, meski kondisi di luar masih belum menentu dan mengkhawatirkan.

4. Makan bernutrisi seperti buah dan sayur, kurangi gula dan junk food

Apa yang dirasakan tubuh sepanjang hari rupanya bergantung dengan asupan nutrisi yang dikonsumsi. Memasak adalah cara untuk melakukan aktivitas positif, disamping saya tahu apa saja bahan makanan di dalamnya. Dengan begitu, saya bisa atur sesuai selera dan kebutuhan saya.

Di rumah seharian, saya bisa mengatur menu sehat bernutrisi yang seimbang. Bila selama ini, saya terlambat makan atau melewatkan waktu makan siang, kini waktu makan saya lebih teratur. Bila saya kadang melewatkan sarapan pagi, kini saya bisa menikmati sarapan pagi lengkap tanpa terburu-buru.

Agar tetap sehat, saya siapkan sayur dan buah. Untuk makan dan minum, saya atur kadar gula agar tidak berlebihan. Jika selama ini saya makan sembarang seperti junk food dan makan terburu-buru saat makan siang, kini saya bisa makan bernutrisi sesuai selera dan tanpa terburu-buru.

5. Bagikan apa yang dirasa dengan orang lain (telepon, chatting, sms, video call)

Berdiam di rumah bukan berarti berhenti berkomunikasi dengan keluarga, kerabat dan teman lain. Meski dunia sosial kita dibatasi, bukan berarti kita membatasi komunikasi. Ada komunikasi digital yang membantu saya tetap terhubung dengan siapa saja seluruh dunia. Berbagai cerita dan pengalaman adalah hal yang lumrah karena kita adalah makhluk sosial.

Jika selama ini saya tak punya waktu chatting karena begitu sibuknya, kini saya bisa aktif dan menyapa siapa saja yang dikenal. Saya punya waktu mendengarkan mereka yang membutuhkan saya. Kini waktunya membangun relasi yang akrab, ketika biasanya saya begitu sibuk dan tak sempat membalas pesan chatting.

Kesimpulan

‘Apa yang membuat saya (tetap) sehat?’ adalah cara saya mengontrol diri agar sehat fisik dan mental selama berdiam di rumah. Tiap orang punya caranya masing-masing sesuai kebutuhan. Hidup anda ada dalam kendali tangan anda.

Jaga kesehatan dan selamat berhari Minggu!

Hidup itu Adalah Anugerah: Film Theory of Everything (2014)

  • Judul film: Theory of Everything
  • Genre: Drama Biografi
  • Durasi: 2 jam 3 menit
Adegan dimana Stephan dan Jane pergi berlibur bersama.

Sinopsis film

Film ini dimulai dengan pengantar Stephan Hawking sebagai mahasiswa di Universitas Cambridge bersama Jane Wilde. Jane awalnya malu mendekati Stephan, tetapi kemudian keduanya semakin dekat untuk menjadi kekasih. Sementara Stephen mulai memperhatikan rasa sakit yang dideritanya sampai suatu hari, ia mengalami kecelakaan di kampus yang membuatnya sadar bahwa ia menderita penyakit yang sangat fatal.

Stephen memutuskan untuk perlahan-lahan menjauh dari Jane, tetapi Jane bersikeras bahwa mereka masih harus bersama. Kemudian mereka memutuskan untuk menikah. Stephen segera menyelesaikan gelar doktor dalam fisika kosmologis. Jane selalu berada di sisi Stephen, meskipun penyakit Stephen sudah menyebar dan mengganggu sistem tubuh, keseimbangan, bahkan panca indera.

Stephen dan Jane memiliki dua anak dan hidup bahagia. Pekerjaan Stephen telah diakui secara publik. Jane selalu siap mendukung karier Stephen dengan kondisi Stephen yang lumpuh. Namun seiring waktu, Jane kehilangan antusiasme dan frustrasi dengan kehidupan berkeluarga bersama Stephen, meskipun Jane tidak mengungkapkannya.

Ibu Jane tahu permasalahan yang dihadapi Jane, kemudian ia menyarankan untuk bergabung dengan paduan suara gereja agar Jane dapat mengisi waktu luangnya. Melalui kegiatan ini, Jane bertemu dengan seorang guru paduan suara bernama Jonathan. Jonathan mendekati Jane dan sangat akrab dengan Stephen Hawking. Jonathan banyak membantu Jane untuk membantu Stephen, yang lumpuh agar Stephan bisa bergerak. Jonathan membantu keluarga Stephen bepergian ke luar rumah seperti pergi berlibur. Jane mulai jatuh cinta pada Jonathan.

Ada desas-desus tentang kedekatan Jonathan dan Jane antara keluarga dan kerabat mereka. Jonathan menyadari hal ini dan berusaha menjauh dari Jane. Tetapi Jane tahu bahwa dia membutuhkan Jonathan untuk membuat hidupnya bergairah lagi, dan Stephen mengizinkannya. Jane memiliki anak ketiganya.

Suatu hari Jane pergi berkemah bersama Jonathan dan ketiga anaknya sementara Stephen melihat opera bersama saudari perempuannya. Di ruang opera, Stephen mengalami kekambuhan penyakitnya dan segera dibawa ke rumah sakit. Stephan mengalami masa kritis dan koma. Untuk menyelamatkan hidup Stephan, dokter harus melakukan trakeotomi pada Stephan karena ototnya lumpuh. Di sisi lain, operasi akan membuat kemampuan berbicara terganggu. Jane memutuskan untuk melanjutkan operasi trakeotomi tersebut. Setelah Stephan pulih, Jane berusaha mencari cara untuk tetap berkomunikasi dengan Stephan.

Untuk mendukung kegiatan Stephan, Jane menyewa seorang perawat profesional bernama Elaine. Elaine tahu cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan kerja Stephan. Kedekatan Elaine dan Stephan memungkinkan Jane untuk perlahan-lahan menarik diri dari kehidupan Stephan. Stephan juga mendapat bantuan program robot yang membantunya berbicara. Meskipun Stephan lumpuh dan tidak dapat berkomunikasi, dia masih dapat bekerja dan berhasil menerbitkan buku. Dunia mengakui karya Stephan.

Jane menyadari bahwa dia sudah mencintai Jonathan dan kembali dengan Jonathan. Akhirnya Stephen dan Jane bercerai, dan kemudian Jane menikahi Jonathan. Film berakhir dengan Stephen mengundang Jane untuk menerima gelar “Ksatria” dari Ratu Inggris meskipun mereka bercerai.

Pesan moral

Cinta adalah segalanya dalam hidup yang memberi semangat untuk tetap bergairah menjalani kehidupan meski masalah dan cobaan datang. Jane, isteri Stephan membuktikan cintanya dengan mendukung karir suami dan melayani suaminya yang harus hidup di kursi roda seumur hidup. Bahkan saat Jane sudah bercerai pun, ia tetap berada di dekat Stephan untuk membantu karirnya.

Di sisi lain, Stephan memaknai sakit yang dialaminya lewat karya dan keahliannya. Meski ia harus hidup di kursi roda tetapi Stephan membuktikan bahwa selalu ada cara untuk tidak mudah menyerah pada keadaan hidup. Ketika ia divonis tak bisa berbicara, ada mesin robot yang membantunya berkomunikasi dan tetap berkarya.

Hidup ini adalah anugerah. Dari film ini, saya belajar untuk mensyukuri apa pun keadaan yang terjadi. Tuhan selalu punya cara agar kita bisa memaknai apa yang sedang terjadi dalam hidup, baik itu suka maupun duka. Hidup ini tidak ada yang sia-sia, sebaliknya akan lebih bermakna ketika kita tahu bahwa untuk apa kita hidup di dunia ini.

Meski film ini sudah lima tahun lalu, tetapi film ini tetap punya sarat makna yang bisa dijadikan film keluarga. So, mumpung masih berdiam di rumah, film apa yang menjadi rencana anda hari ini?

5 Alasan Menonton Film Layaknya Bioskop di Rumah Itu Baik Juga

Ilustrasi.

Sebagaimana anda tahu bahwa wabah corona sedang melanda dunia sekarang ini, bahkan di wilayah tempat tinggal saya. Salah satu kebijakan untuk menanggulangi penyebarannya agar tidak semakin meningkat kasusnya, maka pemerintah di sini menutup bioskop dan tempat hiburan. Tentu ini bukan berarti menghentikan kebiasaan menonton film bersama pasangan dan anggota keluarga, bila akhir pekan tiba.

Akhirnya salah satu cara menghabiskan waktu selama berdiam di rumah adalah menonton film layaknya bioskop di rumah. Memang tak perlu punya home theater untuk bisa menonton film di rumah. Asalkan kita bisa melakukan aktivitas bersama di rumah demi keamanan dan kenyamanan bersama, supaya bisa terlindungi dari hal-hal yang tidak dikehendaki seperti penyebaran Covid-19 yang tidak terduga.

Ternyata lima alasan berikut menujukkan bahwa menonton film di rumah itu baik juga loh. Apalagi menonton film di rumah menjadi pilihan agar kita tidak berpergian sampai waktu yang ditetapkan pemerintah berakhir.

1. Lebih akrab dan intim dengan pasangan dan anggota keluarga lainnya

Kehadiran gadget, online games dan media sosial dsb membuat masing-masing di antara kita bisa larut dalam kesibukan masing-masing di rumah. Belum lagi jika satu sama lain punya hobi yang berbeda-beda. Untuk mensiasatinya tak ada salahnya dengan duduk di sofa yang nyaman di rumah dan pilih menonton film bersama-sama.

‘Cinema-Therapy’ menjadi istilah yang diberikan Konselor perkawinan sebagai salah satu cara meningkatkan keintiman dengan pasangan perkawinan. Lain lagi, pengamat sosial menyatakan bahwa film yang tepat, yang menggali diskusi dan bertemakan keluarga akan memberi dampak positif bagi relasi antar keluarga.

2. Bebas menentukan film yang dikehendaki

Alasan baik selanjutnya adalah menonton film di rumah memberi kebebasan untuk menentukan film yang dikehendaki. Misalnya film kartun dan bertema keluarga bisa diputar ulang untuk mengisi waktu lowong anak-anak selama di rumah. Memilih film yang dikehendaki di rumah juga membuat para orangtua bisa menseleksi film yang sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, film untuk anak yang sedang pubertas tentu bukan lagi film kartun, tetapi film remaja yang mendidik.

3. Lebih fokus menonton dan terhindar dari gangguan orang-orang asing/tidak dikenal

Alasan baik berikutnya adalah kita bisa lebih fokus menonton film bila di rumah. Bila menonton film di bioskop bisa saja kita bertemu orang-orang yang mengganggu selama dalam ruang studio film. Orang yang berisik berkomentar misalnya sepanjang film ditayangkan. Suara telepon genggam atau orang mengunyah makanan bisa menjadi momen mengganggu bila anda tak suka itu. Belum lagi ada saja orang usil atau orang yang bertindak tak sopan misalnya yang mengganggu kenyamanan menonton.

Menonton film di rumah membuat kita nyaman mengambil posisi yang disukai. Kita juga bisa membuat aturan agar tidak ada gangguan selama menonton misalnya. Bila kita ingin ke toilet atau ada keperluan sementara, kita bisa menghentikan sebentar (=pause) yang kemudian bisa melanjutkan menonton lagi. Ini semua hanya bisa dilakukan bila menonton film layaknya bioskop di rumah.

4. Lebih santai, bahkan sambil menikmati cemilan yang dikehendaki

Menonton film di rumah terkesan santai karena kita bebas menentukan waktu dan film yang ditonton. Kita bisa santai menonton film sambil menikmati pop corn buatan sendiri. Rasa manis pop corn bisa kita atur sendiri. Tak hanya pop corn, kita bisa sediakan aneka cemilan lain yang disukai agar bisa menikmati tayangan film favorit.

5. Pastinya lebih murah

Alasan terakhir tentu menonton film di rumah menjadi lebih murah dibandingkan menonton film di tempat lain. Film pun bisa ditonton berkali-kali sehingga lebih hemat. Hemat anggaran lain adalah pembelian snack dan minuman yang diperlukan selama menonton. Kita bisa menyediakannya di rumah. Menonton film ala bioskop di rumah bisa menjadi ajang rekreasi bersama, yang saat ini tidak bisa dilakukan di luar rumah.

Sambil menunggu kondisi membaik, berdiam di rumah dengan hiburan menonton film bersama anggota keluarga bisa jadi pilihan. Mumpung di akhir pekan, film pilihan apa yang ingin ditonton keluarga anda di rumah?

Ketika Merasa Tidak Bahagia, Coba Lakukan Ini

Ilustrasi.

Ada banyak ahli telah menjelaskan cara untuk bisa berbahagia, tetapi itu sepertinya masih kurang bekerja. Ada banyak buku menyarankan pada anda untuk berbahagia, tetapi itu pun belum menunjukkan kebahagiaan yang ingin anda rasakan saat ini. Memang benar bahagia itu sederhana, tetapi praktik bahagia itu sulit dilakukan. Mengapa? Karena cara yang dilakukan untuk berbahagia kurang praktis seperti yang diinginkan.

Berasal dari cerita fiksi, saya mencoba merangkum pengalaman berikut kepada anda. Ini sebagai cara bahwa ada banyak cara untuk tetap berbahagia dengan sesuatu yang mudah.

Seorang teman mengaku ia sedang tidak berbahagia dan mengeluhkannya pada sahabat karibnya itu. Bagaimana dia bisa berbahagia ketika dia harus mendapati vonis bahwa hidupnya tak akan lama lagi. Dia mengalami sakit kanker yang sudah mencapai stadium fatal dan sulit disembuhkan. Hidupnya tak akan lama. Dokter mengatakan hidupnya tinggal 50 hari lagi.

Sang sahabat yang mendengarkannya sangat terpukul. Biasanya ia selalu ceria bertemu kawan karibnya ini untuk tertawa dan menceritakan hal konyol yang didapati selama di kantor, perjalanan atau tetangga apartemen mereka. Namun kali ini suasana begitu mencekam seperti kiamat bahwa sahabatnya ini harus pergi untuk selama-lamanya.

Sahabatnya yang terkena kanker hanya meminta bahwa dia ingin mati dengan tetap berbahagia. Tetapi bagaimana caranya?

Meski ajal di depan mata tetapi bahagia itu pun harus tetap dialami. Demikian pikir sang sahabat yang tidak mengalami sakit kanker. Dia meminta sahabatnya yang menderita kanker ini menuliskan ‘A letter of thanks’ setiap hari yang berisi lima puluh hari sisa hidupnya. Surat ini berisi segala ucapan syukur yang dialami sejak bangun pagi hingga malam hari menjelang tidur.

Hari pertama dimulai, sebenarnya ia kesal karena dia terbangun dari suara berisik tetangga apartemennya. Tetapi karena isi surat itu tentang ucapan syukur maka ia menuliskan bahwa ia bersyukur memiliki tetangga yang berisik sehingga ia terbangun di pagi hari.

Hari kedua dilalui ketika dia menjadi marah datang terlambat bertemu dokter, akibat di dekat rumah sakit terjadi kecelakaan. Akhirnya ia menuliskan rasa syukur bahwa ia tidak menjadi korban kecelakaan. Begitu seterusnya hingga hari ke-50, dia kerap menuliskan surat bahagia itu yang kelak dibacakan pada saat dia meninggal.

Pada hari ke-50, Tuhan memanggil orang yang kena sakit kanker ini. Semua orang yang hadir dan mengenalnya begitu sedih dan tak bahagia tetapi orang ini meninggal dalam keadaan bahagia. Sahabatnya yang menyimpan ‘Letter of Thanks’ itu membacakannya satu per satu. Apa yang terjadi setelahnya?

Mereka yang mendengarkan dia membacakan ‘Letter of Thanks’ pun tersenyum, tertawa dan merasa bahagia. Bahwa saat orang lain merasa bahagia, ternyata kita pun ikut berbahagia. Bahwa bersyukur dalam segala hal, apa pun yang anda alami menciptakan rasa positif sehingga kita merasa bahagia.

Belajar dari menulis surat ‘A letter of thanks’ membuat saya merenung bahwa bahagia itu hanya bagaimana anda selalu bersyukur apa pun keadaannya.

Sahabat yang sudah meninggal itu pun bahagia di jelang akhir hidupnya karena ia berhasil mensyukuri apa pun keadaannya tiap hari. Jika kita tidak bahagia saat ini, coba kita menulis surat yang berisi ucapan syukur. Sederhana memang karena kadang kita lupa mendokumentasikan atau lebih tepatnya menuliskan rasa syukur dalam hidup ini.

Saat anda merasa tidak bahagia, buka kembali surat tersebut dan bacakan. Apakah anda tetap merasa tak bahagia?

Menulis surat ucapan syukur dilakukan di suatu terapi psikologis, dengan harapan seseorang bisa mengenali kehidupannya yang sebenarnya itu tidak dalam situasi krisis, membahayakan atau menyedihkan.

Menurut Galileo Galilei, “Man kann einen Menschen nichts lehren. Man kann ihm nur helfen, es in sich selbst zu entdecken.” Pada dasarnya anda tidak perlu diajari bagaimana menjadi bahagia. Anda hanya perlu sedikit petunjuk untuk menemukannya dalam dirinya sendiri.” Melalui surat ucapan syukur, ini akan membantu orang bahwa ia adalah pribadi berbahagia.

Selamat berakhir pekan bersama keluarga!

5 Cara Bahagia di Awal Tahun

Ilustrasi.

God has a perfect plan for us. He never does it all at once, just step by step because He wants to teach us to WALK by FAITH, not by sight – Happy Sunday!

Awal tahun sudah dimulai sebelas hari lalu. Sebagai awalan, kita berharap yang terbaik akan berjalan di sepanjang tahun ini. Ada yang menyiapkan rencana, resolusi, mimpi dan harapan untuk tercapai di sepanjang tahun. Namun ada juga yang tidak terlalu antusias menyiapkan itu semua dan memilih berjalan sebagaimana adanya. Ada atau tidak ada rencana, resolusi, impian dan harapan awal tahun tetaplah merasa bahagia.

Awal tahun biasanya dijadikan sebagai starting point untuk membuat perubahan hidup. Bagi sebagian orang, perubahan hidup itu menyenangkan meski mengkhawatirkan keberhasilannya. Dan bagi sebagian lainnya, mereka tak ingin bertaruh konsekuensi yang besar untuk membuat perubahan. Alasannya, bisa jadi karena kenyamanan.

Sejalan dengan rasa bahagia, lima hal berikut bisa membantu anda di awal tahun untuk tetap berbahagia.

1. Berpikirlah tentang sekarang, bukan kemarin atau yang akan datang.

Bahagia itu bukan karena hal kemarin atau hal yang akan terjadi besok. Bahagia itu karena hari ini bahwa kita masih bisa menikmati hidup. Kemarin itu sudah berlalu dan masa depan itu belum datang. Bila peristiwa yang berlalu itu manis, jadikan kenangan. Sebaliknya, bila peristiwa yang berlalu itu buruk, jadikan pelajaran. Hari ini adalah kesempatan yang menentukan hari yang akan datang, besok dan besok lagi. Apa yang akan terjadi di masa depan ditentukan di hari ini. Carpe diem, raihlah apa yang terjadi hari ini!

Baca: Carpe diem, apa itu?

2. Tidak menaruh harapan terlampau tinggi.

Bahagia itu tidak memikirkan sesuatu secara berlebihan, yang merumitkan keadaan. Bahagia itu sederhana, yang rumit itu pikiran. Begitu bahagianya orang lain yang tidak memikirkan serumit pikiran sendiri untuk menjadi sempurna. Semakin kita memikirkannya, semakin kita tidak bahagia. Tarik nafas dan rileks, maka semua akan baik-baik saja.

Baca: Ingin Ubah Hidup? Ubah dulu Pikiran

3. Berdamailah dengan diri sendiri dan orang lain.

Jika kita tidak bisa berdamai dengan diri sendiri, bagaimana bisa kita berdamai dengan orang lain. Damai itu mengampuni apa yang terjadi di masa lalu dan melepaskannya sebagai peristiwa hidup. Seberapa pun beratnya apa yang terjadi, mengampuni adalah cara untuk menemukan kedamaian.

Baca: Temukan kedamaian di siang bolong!

4. Tetap optimis dan positif tentang akhir tahun.

Perang belum dimulai tetapi kita sudah memikirkan kekalahan. Ini masih awal tahun, mengapa kita sudah memikirkan soal akhir tahun? Optimis saja bahwa segalanya bisa berjalan asalkan kita berusaha memperjuangkannya. Jika kita tetap optimis tentu akan memberikan energi yang positif dan membangun semangat. Ini akan membantu ketimbang pikiran negatif dan pesimis yang mengendurkan kepercayaan diri.

Baca: Segala permulaan itu pasti sulit

5. Jangan pernah berpikir untuk merubah sesuatu di tahun ini tetapi sesuatu berubah karena diri sendiri!

Menurut Kaizen, perubahan itu mulai dari hal kecil, sederhana dan berkelanjutan. Perubahan yang diharapkan itu biasanya adalah hal yang besar. Untuk mendapatkan perubahan besar mulailah dari hal yang kecil dan dari diri sendiri.

Baca: Seni menghadapi perubahan hidup

Awal tahun kerap dijadikan landasan kuat untuk membuat perubahan dalam hidup. Meski ini bukan sebuah aturan, namun nyatanya begitu banyak orang yang memilih awal tahun sebagai alasan untuk membuat perubahan.

Selamat berhari Minggu bersama keluarga!

Bagaimana Hidup itu Berjalan? Belajar dari Sirkus

Ilustrasi.

Sejak saya masih anak-anak sudah mengenal sirkus. Ayah saya membawa saya dan adik saya pergi menonton sirkus di Jakarta, yang dulu populer digelar ketika liburan sekolah. Meski harga tiket sirkus tak murah, tetapi ayah saya membelinya untuk saya dan adik saya agar bisa terhibur selama liburan sekolah. Dari dulu sirkus sudah menjadi pertunjukkan yang menakjubkan, menyenangkan dan mengesankan dalam benak saya.

Setelah masa anak-anak berakhir, saya sudah tidak menemukan lagi pertunjukkan sirkus di Jakarta. Saya pun sudah abai dengan sirkus. Namun ingatan akan sirkus terbawa kembali saat saya pindah ke Jerman. Di sini sirkus masih menjadi hiburan rakyat yang kadang-kadang muncul semisal musim panas atau musim dingin. Beberapa kali juga saya perhatikan sirkus pun ada di acara festival budaya, volkfest di sini.

Sirkus memang menjadi hiburan rakyat yang disukai tua dan muda, mulai dari anak-anak hingga orangtua. Tetapi pertanyaannya, mengapa sirkus itu tidak pernah terselenggara sepanjang masa? Artinya sirkus itu hanya dilakukan di periode tertentu dan jangka waktu tertentu. Karena sirkus itu perlu waktu rehat, yang membuktikan bahwa hidup itu tak selamanya seperti pertunjukkan sirkus yang selalu menakjubkan dan mengagumkan.

Ayah saya pernah berkata bahwa hidup para pemain sirkus itu memang tidak menetap. Itu sebab pertunjukkan sirkus pun tak pernah sepanjang masa. Kata ayah saya “Untuk sesuatu yang menakjubkan dan mengagumkan, kita memang tak pernah bisa merasakannya sepanjang masa. Ada saatnya kita perlu menunggu kapan waktu pertunjukkan sirkus dimulai.” Dan menunggu itu memang melatih kesabaran saya. Ketika tiket sirkus sudah di tangan saya, sementara saya masih harus menunggunya beberapa hari kemudian untuk melihat pertunjukkan sirkus, itu adalah proses menunggu yang indah.

Sepulang dari sirkus, saya masih bertanya pada ayah selama perjalanan ke rumah. Pertanyaan saya misalnya, mengapa mereka bisa melakukan pertunjukkan itu dengan hebat? Ayah saya mengatakan bahwa mereka telah berlatih untuk kesekian kali tak terhitung banyaknya agar mereka tampil mengagumkan. Hal ini sudah mengajari saya bahwa tampil mengagumkan itu bukan hal mudah, ada proses dan latihan berkali-kali agar sempurna. Dari situ, ayah saya menjelaskan pada saya tentang pembelajaran hidup sesungguhnya.

Jika saya merasa gagal dan saya berbicara dengan ayah saya, dia mengingatkan saya tentang bagaimana sirkus itu berjalan. Bahwa segala sesuatu yang mengagumkan itu tidak ada yang instan dan mudah.

Ayah saya benar. Saya bisa belajar banyak hal dari pertunjukkan sirkus, tidak hanya soal tertawa dan bergembira saja tetapi soal kehidupan.

Ayah saya menambahkan bahwa kita bisa tampil seorang diri untuk sebuah keberhasilan dan kadang kita perlu tampil dalam sebuah tim, bersama orang lain. Dia juga mengingatkan bahwa keberhasilan hidup itu tak pernah lepas dari tangan dan bantuan orang lain juga yang mungkin tak tampak di layar panggung. Kadang kita bisa di atas panggung, tetapi bisa juga harus berada di belakang panggung. Namun keduanya sama baiknya.

Sirkus di masa anak-anak yang indah dan sirkus di masa kini saat saya menjadi dewasa yang menjalaninya sebagai pembelajaran hidup.

Periksa 4 Alasan ini, Jangan Menyalahkan Orang Lain Atas Kekurangan Diri Sendiri

Ilustrasi.

Kita sepakat bahwa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Namun kenyataannya kita selalu berupaya tampil sempurna agar bisa diterima orang lain. Kita lupa bahwa tiap orang itu selalu punya dua sisi, kelebihan dan kekurangan sehingga itu pula yang menyebabkan begitu mudahnya kita melupakan kekurangan diri sendiri dan mempersalahkan orang lain.

“Coba kamu tadi tidak makan dulu, kita mungkin tidak datang terlambat ke seminar.”

“Kamu sih pakai baju seperti itu, saya jadi kecopetan ‘kan.”

“Seandainya kamu tidak memaksa saya duduk di depan saat ujian, saya mungkin mendapat nilai bagus.”

Dan masih banyak sederet kalimat yang meluncur dan terdengar tidak masuk akal, bahwa penyebab kesalahan, kegagalan dan hal buruk lainnya adalah disebabkan orang lain.

Pernahkah anda mendapatkan masalah itu? Atau mungkinkah anda juga begitu, menyalahkan orang lain ketika hal buruk terjadi pada anda?

Akhirnya saya berpikir, pasti ada alasan yang melatarbelakangi mengapa orang tersebut berperilaku demikian. Mengapa dia menyalahkan orang lain atas kekurangan diri sendiri?

1. Bentuk pertahanan diri

Saya berpikir orang yang suka menyalahkan orang lain atas kekurangan diri sendiri menandakan dia sebenarnya inferior. Dia begitu takut, lemah dan justru pengecut. Salah satu cara untuk menutupi kekurangan dirinya adalah menyalahkan orang lain. Ini semacam deffense mechanism yang dibangun agar diri sendiri tidak tampak minus, salah dan buruk di mata orang lain.

Tipsnya:

Yakinkan kepada orang yang selalu menyalahkan orang lain atas kekurangan diri sendiri bahwa hidup itu tidak selalu sempurna. Jika datang terlambat, masih bisa ditolerir, maka lain kali harus bangun lebih awal. Tak perlu takut duduk di depan ruang ujian sepanjang kita belajar giat menyiapkan ujian. Buatlah sesuatu yang dipersalahkan menjadi rencana yang lebih positif. Apa yang sudah terjadi, tinggalkan dan segera perbaiki lagi bukan justru menyalahkan orang lain.

2. Menyalahkan orang lain sebagai cara untuk menyerang orang lain

Ketika kondisi terhimpit, terdesak dan tak bisa keluar, akhirnya segala cara dilakukan termasuk menyerang orang lain. Ada rasa lebih baik setelah menyalahkan orang lain karena diri sendiri terasa lebih buruk (=punya kekurangan). Senjata ampuh untuk menyerang orang lain adalah menyalahkannya, meski sejujurnya diri sendiri lebih bersalah.

Tipsnya

Ketika saya berjumpa dengan orang yang demikian, saya selalu menekankan begini. “Bencilah kesalahannya, bukan orangnya!” yang berarti seseorang itu bisa salah. Kesalahan itu bisa terjadi pada siapa saja. Menyalahkan orang lain bukan cara ampuh untuk menghakimi orang lain. Jika saya bisa salah, maka anda juga bisa salah. Jadi buat apa menyalahkan orang lain untuk kekurangan yang anda miliki? Itu tidak masuk akal.

3. Cara paling mudah

Secara naluriah, manusia ingin menjauhi yang sulit dan mendekati yang mudah. Ketika hidup penuh kegagalan, keburukan dan dianggap sial menurut diri sendiri maka menyerang orang lain adalah cara paling mudah.

Tipsnya

Buatlah hidup semudah seperti yang anda inginkan! Agar lebih mudah, mengapa juga harus menyalahkan orang lain atas kekurangan diri sendiri. Salah, perbaiki lagi, gagal, bangun, jatuh dan bangkit adalah proses pembelajaran diri. Mudahnya adalah perbaiki perilaku yang selalu menyerang orang lain karena menyalahkan orang lain atas kekurangan diri sendiri tidak akan menyelesaikan masalah anda.

4. Tidak bisa menerima kenyataan

Lebih lanjut lagi, perilaku menyerang orang lain atas kekurangan diri sendiri disebabkan karena tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi. Kenyataan hidup itu memang kadang tidak semanis impian. Dan itu normal dan wajar. Jika kekurangan ada pada diri sendiri, bukan berarti tidak ada kelebihan dibalik itu semua. Terima kenyataan adalah cara paling mudah menerima kekurangan diri sendiri.

Tipsnya

Tidak ada saran yang paling jitu selain menerima kenyataan bahwa tiap orang itu pasti punya kekurangan. Dan menyerang orang lain itu harus dihentikan karena hal itu sangat menyinggung perasaan orang lain.

Kesimpulan

Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Kekurangan bukan berarti kita tampak begitu buruk. Begitu pun sebaliknya menyalahkan orang lain atas kekurangan diri sendiri juga bukan berarti menunjukkan bahwa kita hebat.

Selamat berakhir pekan bersama keluarga!

Jika Ada Orang yang Tak Mau Bersalaman, Jangan Tersinggung! Ini Alasannya

Ilustrasi berjabat tangan. Foto diambil di negara Liechenstein.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Pepatah Indonesia itu artinya adalah setiap negara atau tempat berlainan adat kebiasaannya. Kita harus menjunjung kultur dimana kita berada. Salah satunya adalah soal kebiasaan berjabat tangan sebagai salam penutup atau pembuka pertemuan. Ini menjadi topik diskusi saya bersama teman multi bangsa di sini.

Sebagaimana anda tahu, Jerman kini menjadi negeri impian bagi banyak orang di dunia. Saya di sini bisa berjumpa dengan aneka ras bangsa di seluruh dunia. Kebiasaan tiap orang pun berbeda-beda. Seperti tema diskusi kami adalah berjabat tangan. Ada orang yang suka berjabat tangan saat bertemu dengan siapa saja yang dikenal dan tidak dikenal. Ada orang yang tak hanya berjabat tangan saja tetapi juga memeluk. Lain lagi ada yang berjabat tangan, menepuk bahu atau mencium pipi kanan kiri. Lain orang lain kebiasaan. Itu pemikiran saya.

Suatu hari kami duduk di kafe. Seorang teman yang sedang hamil bercerita bahwa dia baru saja bertemu dengan dokter kandungan dan dokter tersebut tidak ingin berjabat tangan saat dia memberikan tangannya. Lalu satu sama lain di antara kami pun mulai mengajukan pendapat dan pengalaman tentang kebiasaan berjabat tangan. Ini menjadi diskusi yang hangat dan saya bagikan kepada anda.

Ada tiga hal berjabat tangan yang harus diperhatikan. Itu berarti jika ada orang yang tak ingin memberikan tangannya untuk berjabat tangan, sebaiknya anda tak perlu tersinggung. Bisa jadi berikut salah satu alasannya.

1. Budaya

Ada budaya berjabat tangan itu wajib dilakukan saat bertemu orang lain, tetapi ada juga budaya berjabat tangan hanya dilakukan hanya pada orang yang dikenal akrab saja. Jika kita mengenal orang tersebut, maka berjabat tangan menjadi salam pembuka tanda persahabatan. Sementara ada juga berjabat tangan sebagai awal perkenalan yang hangat dalam relasi antar manusia.

Berjabat tangan dalam sudut pandang budaya juga dikatakan oleh teman lain bahwa itu semua tergantung gendernya. Teman lain mengatakan ada perempuan yang tidak ingin berjabat tangan dengan sesama perempuan, melainkan salam pembuka dilakukan dengan berpelukan atau cium pipi kanan kiri. Sedangkan berjabat tangan yang dilakukan perempuan hanya pada pria saja, untuk menghindari pelukan dan cium pipi kanan kiri. Begitulah lain budaya lain kebiasaan ‘kan.

Budaya lain yang diceritakan teman lain asal Afrika adalah berjabat tangan dimulai dari orang yang lebih tua terlebih dulu. Saya yang mendengarnya takjub juga bahwa saya terkadang tidak memikirkan usia apalagi gender saat berjabat tangan. Budaya dan kebiasaan membuat kita memahami satu sama lain bahwa ini yang membuat kita bertumbuh dan berkembang dimana pun kita berada.

Berjabat tangan menurut teman lain asal Asia menandakan suatu persetujuan atau kesepakatan. Jika kita setuju pada suatu hal maka itu ditandai dengan berjabat tangan. Hal lain juga soal jabat tangan adalah mengakhiri perjumpaan. Sedangkan teman Asia lainnya justru tidak berjabat tangan tetapi meletakkan tangan di dada saat bertemu sambil mengucapkan salam tertentu. Itu memang budaya dan kebiasaannya memberikan salam kepada orang lain.

2. Profesi pekerjaan

Menyambung berjabat tangan dengan profesi rupanya ada keterkaitan. Beberapa profesi ada yang melarang berjabat tangan karena ini bisa menghantar kuman atau hal-hal tidak dikehendaki. Seperti misalnya dokter yang memang riskan terhadap risiko penularan dengan berjabat tangan. Meski kini telah ada pencuci tangan higenis yang selalu tersedia di ruang praktik dokter, tetapi nyatanya lebih baik mencegah hal-hal tidak dikehendaki.

Ada sebagian dokter memberi salam seperti mengepalkan tangan lalu disentuhkan pada kepalan tangan pasien yang datang. Itu yang saya alami di sini. Dokter keluarga saya menceritakan bahwa mengepalkan tangan dan menyentuhkan kepalan tangannya pada kepalan tangan pasien adalah caranya berjabat tangan. Ini adalah cara kebiasaannya untuk memulai dan mengakhiri pertemuan dengan pasien.

Pekerjaan lain juga misalnya koki atau juru masak saat dia sedang bekerja. Seorang teman yang bekerja menjadi asisten juru masak dilengkapi pakaian khusus dan sarung tangan saat bekerja di dapur. Nah selama bekerja, dia tidak bersalaman ketika bertemu dengan rekan lainnya. Karena tangan punya banyak risiko penularan terhadap kuman dan bakteri yang tidak dikehendaki. Untuk menghindari hal tersebut maka dia memang tidak berjabat tangan selama bekerja.

3. Agama

Alasan lain soal berjabat tangan atau tidak adalah soal keyakinan atau agama. Dalam misa untuk umat katolik, ada satu sesi kita memberikan salam satu sama lain sambil mengucapkan salam damai. Tetapi saat saya menghadiri misa di suatu negara, berjabat tangan dengan memberi ucapan salam damai tidak menjadi wajib. Rupanya ini tidak menjadi kultur di negara tersebut. Ada yang memberikan tangannya mengucapkan salam damai, ada pula yang enggan apalagi terhadap orang di sekitarnya yang tak dikenal.

Berjabat tangan dalam kaitan keyakinan juga diutarakan teman asal Timur Tengah. Berjabat tangan tidak dilakukan antara perempuan dan laki-laki atau berbeda gender. Sesuai keyakinan, mereka hanya memberikan salam dengan cara lain dengan orang berbeda gendernya seperti menganggukkan kepala, melambaikan tangan atau memberi tangan di dada.

Kesimpulan

Berjabat tangan memang simbol persahabatan dan persaudaraan bahwa kita setara. Namun menarik soal berjabat tangan, teman saya asal Amerika yang pernah tinggal di Indonesia bercerita bahwa orang Indonesia itu begitu santun. Dia berkunjung ke suatu tempat di Indonesia, orang di sana ramah dan hangat, kata teman saya tersebut. Orang Indonesia berjabat tangan dengan hati, mereka memberi tangan lalu meletakkannya di dada mereka. Itu sangat manis, kata teman saya asal Amerika. Tidak ada jabat tangan yang begitu menyentuh selain di Indonesia, lanjut teman saya tersebut.

Lepas dari tiga hal dan penjelasannya di atas, semoga ini bisa menjadi informasi bahwa berjabat tangan itu tergantung konteksnya. Jika ada orang yang tak ingin berjabat tangan dengan anda, sebaiknya jangan tersinggung!

Perubahan Hidup Masa Kini Bisa Memicu Stress?

Baru-baru ini saya mendapati informasi stress skala yang dirilis oleh Holmes dan Rahe (1967). Di situ diperlihatkan daftar situasi hidup yang menjadi pemicu stress dan skor yang dihasilkannya. Misalnya kematian pasangan hidup atau anak memiliki skor paling tinggi dalam skala stress tersebut, yakni skor 100. Ada juga situasi pensiun yang juga mendorong stress dengan skor 45. Dan lebih tinggi sedikit, skor 50 adalah perkawinan yang dapat memicu stress.

Apa yang anda pikirkan tentang skala stress tersebut?

Saya terkejut juga membaca bahwa liburan itu juga memicu stress. Skor situasi liburan memang tidak tinggi, skornya 13. Tetapi apakah liburan bisa memicu stress? Bisa saja. Jika kenyataan liburan tidak seindah impian misalnya. Atau liburan memiliki berbagai kendala tak terduga, di luar rencana. Itu stress namanya.

Skala stress yang diinisiasi oleh Holmes dan Rahe ini didasari alasan bahwa pemicu stress disebabkan perubahan hidup. Meski stress skala dirilis di abad 20 yang lalu, kenyataannya bahwa peringkat stress masih dipicu oleh perubahan hidup yang serta merta mendadak, tidak diharapkan dan membuat kebingungan.

Pertanyaannya, apakah perubahan hidup seperti gaya hidup masa kini dan keterjangkauan media sosial bisa menyebabkan stress di masa kini?

Skala stress yang dirilis Holmes dan Rahe memang saat dunia belum terjangkau komunikasi dua jari. Padahal skala stress karya Holmes dan Rahe dahulu bisa menjadi ramalan penyakit di dunia medis bila seseorang mengalami perubahan hidup. Meski pendapat ini masih perlu kajian lebih dalam, nyatanya skala stress telah membantu menemukan keterkaitan penyakit yang dihadapi dengan perubahan hidup tersulit yang sedang dihadapi seseorang.

Ketika saya berdiskusi dengan kolega yang berlatarbelakang aneka profesi di sini, pada akhirnya saya menemukan kaitan bahwa perubahan hidup memicu stress di masa kini masih relevan dengan peringkat stress tersebut. Hanya saja perlu ada alat ukur dan kajian mendalam. Masa kini yang saya maksudkan adalah keterjangkauan seseorang dengan dunia maya lewat ponsel dan ponsel pintar. Misalnya, apakah seseorang yang berubah hidupnya akan menjadi stress ketika dia biasa menjangkau media sosial dan dunia maya lalu tiba-tiba kehilangan itu semua? Atau keberadaan media sosial bisa memicu stress ketika seseorang melihat postingan liburan temannya.

Pertanyaan selanjutnya justru kebalikannya. Apakah seseorang bisa mengalami stress ketika dia melihat orang lain berubah hidupnya lebih baik tampilannya melalui ukuran media sosial sementara dia (mungkin) tidak mengalami perubahan hidup?

Saya pikir masih ada poin lain yang bisa jadi pemicu kondisi masa kini yang terhubung melalui kemudahan komunikasi satu sama lain dengan peringkat stress. Ini menjadi menarik ketika situasi perubahan hidup dikaitkan dengan kondisi masa kini di abad 21. Mungkin akan ada poin perubahan hidup lainnya yang belum dimuat di skala Holmes & Rahe terkait situasi sekarang yang bisa memicu stress?

Kita tunggu saja para ilmuwan mengkaji lagi.

Selamat berakhir pekan!

Ternyata Sukses Itu Direncanakan

Adakah orang yang sukses tanpa proses sehingga begitu dilahirkan sudah sukses? Ada saja, tetapi pasti hanya sebagian kecil secara statistik di dunia ini. Namun sebagian besar orang-orang sukses di dunia ini sudah mengakui bahwa kesuksesan yang mereka raih itu butuh proses yang panjang.

Suatu kali saya datang ke seminar yang mendatangkan pembicara orang yang cukup sukses di bidangnya. Dia bertanya pada kami semua yang hadir di situ dengan mata tertutup dan kepala tertunduk, siapa yang ingin sukses dalam hidup? Rupanya seluruh peserta di seminar tersebut ingin sukses dalam hidup. Itu artinya sukses itu PENTING.

Kemudian pembicara seminar itu bertanya beberapa dari kami sebagai peserta seminar. Pertanyaannya, bagaimana caranya menjadi sukses?

Setelah lima orang menjawab pertanyaannya, dia langsung mengatakan bahwa semua yang dikatakan oleh peserta seminar itu benar. Tetapi ada yang dilupakan untuk menjadi sukses, menurut si pembicara seminar. Hal yang dilupakan itu padahal begitu essential untuk mencapai kesuksesan. Si pembicara seminar kembali bertanya, apakah itu? Tak ada yang bisa menjawab.

RENCANA SUKSES. Jawabannya!

Kita ingin ini dan itu. Kita mimpi akan sukses ini dan itu. Tetapi kita kadang lupa bagaimana merencanakan secara spesifik atau langkah-langkah mencapainya. Kita berpikir otak akan menyimpan memori sukses yang kita inginkan.

Padahal saat kita ingin mencapai suatu tempat saja, kita butuh rencana agar tiba di destinasi tujuan. Mengapa kita butuh rencana sebelum pergi ke destinasi tersebut? Ya, mungkin saja kita tak ingin tersesat atau kita belum pernah (=tidak tahu) menuju ke sana. Atau kita ingin cepat sampai di destinasi tujuan. Intinya, kita tidak ingin gagal.

Siapa yang ingin GAGAL dalam hidup? Atau siapakah yang berencana GAGAL dalam hidup?

Saya sendiri pernah coba berkendara dengan suami tanpa rencana, ternyata itu tidak nyaman sekali. Kita bingung. Kita beberapa kali putar jalan. Kita berpikir ulang, bahwa kita hanya menghabiskan bensin saja.

Menurut si pembicara seminar sukses itu, buat apa kita menghabiskan tenaga, waktu dan sumber daya hanya karena kita lalai membuat rencana untuk sukses? Lalu dia melanjutkan lagi bahwa dia berhasil menjadi sukses karena dia sudah merencanakannya saat dia berusia 17 tahun.

Memiliki rencana sukses itu berarti kita punya kendali atas hidup kita. Bukankah pepatah bijak mengatakan SUKSES itu ada di TANGAN anda? Dengan begitu sukses ditentukan oleh rencana yang anda buat.

Menutup seminar, si pembicara tersebut melanjutkan bahwa rencana sukses itu PERLU. Rencana akan membuat kita fokus pada prioritas sukses yang diinginkan. Saat kita merencanakan SUKSES, bukankah alam raya akan mengarahkan kita untuk mencapainya?

Saya yang mendengarnya terangguk sepakat.

Ternyata SUKSES itu butuh RENCANA.

Jika SUKSES itu penting dalam hidup maka RENCANA itu yang utama.