Category Archives: COMMUNICATIONS

Komunikasi Juga Butuh Kepercayaan Loh


image1
Nothing is quite as precious as TRUST. Tulisan ini saya temukan di dinding toko emas di Singapore. Begitu menyentuh bahwa KEPERCAYAAN itu mahal harganya. Sumber foto: Dokumen pribadi.

Ada banyak hambatan dalam berkomunikasi, seperti yang saya jelaskan di sini. Namun sesungguhnya ada satu elemen yang mendasari suatu komunikasi. Apa itu? KEPERCAYAAN. Berikut hasil percobaan dan pengalaman saya.

Suatu kali saya pernah tersesat sendirian traveling ke negeri Gingseng, Korsel. Pengalamannya saya tulis di sini. Saya berusaha berkomunikasi dengan penduduk setempat untuk bertanya alamat hotel. Sebagian besar orang yang saya tanyakan, mereka memilih tidak ingin berkomunikasi dengan saya. Mengapa? Kurang KEPERCAYAAN kepada saya yang adalah orang asing menurut mereka.

Atau saya bereksperimen saat kuliah, Psikologi Komunikasi bahwa kepercayaan juga menentukan komunikasi. Saya berdiri di halte bis lalu mengajak orang berbicara. Saya adalah orang asing dan memulai suatu komunikasi yang baru. Tentu mereka yang percaya pada saya, akan terus berkomunikasi. Namun sebagian besar menolak berkomunikasi. Mengapa? Kurang KEPERCAYAAN.

Terhadap orang yang asing atau orang yang baru dikenal, tentu tak mudah membangun komunikasi. Itu sebab seorang konselor pertama-tama harus membangun suasana KEPERCAYAAN dulu kepada kliennya. Dengan begitu klien dapat nyaman berkomunikasi dengan konselor. See that!

So, KEPERCAYAAN menjadi kunci juga dalam berkomunikasi. Siapa yang tidak merasa terkesan saat seorang MOTIVATOR berkomunikasi kepada pendengarnya? Ada KEPERCAYAAN sehingga anda pun mau mendengarkan, rela bayar seminarnya, beli buku-bukunya dan sebagainya. KEPERCAYAAN itu membuat anda bertahan mendengarkan ceramah dari seseorang yang anda kenal handal dan kompeten di bidangnya. Anda percaya bahwa dia layak membangun komunikasi dengan anda.

Jika anda terima telpon dari orang asing yang tidak anda kenal, belum tentu juga anda merespon untuk berkomunikasi lebih lanjut. Mengapa? Karena rendahnya KEPERCAYAAN anda pada si penelpon yang notabene orang asing itu.

Lalu misalkan anda berteman dengan seorang sahabat yang sudah anda kenal baik dan percaya seratus persen kepadanya. Suatu kali dia kedapatan berbohong pada anda. Kepercayaan anda yang seratus persen di awal, bisa jadi berkurang karena kebohongan tersebut. Kemudian ketika sahabat anda ingin berkomunikasi lagi dengan anda setelah kebohongan itu, tentu anda bisa ragu berkomunikasi kembali atau anda mau berkomunikasi namun dengan kepercayaan yang tidak sepenuhnya.

Kepercayaan juga menjadi dasar berkomunikasi.

Seorang sales juga perlu berkomunikasi dengan baik, pertama tentunya harus membangun kepercayaan dulu dengan kliennya. Siapa mau tertarik dengan tawaran sales di awal jika tidak percaya? 

Komunikasi itu tidak murah. Mengapa? Karena kepercayaan itu mahal harganya. Jadi bangunlah kepercayaan yang baik sehingga orang mempercayai apa yang anda katakan saat berkomunikasi!

Dalam buku yang berjudul ‘Trust and Betrayal in the Workplace: Building Effective Relationships in Workplace’ yang ditulis oleh Dennis Reina PhD dan Michelle Reina PhD dikatakan bahwa anda membutuhkan kepercayaan dalam berkomunikasi dengan kolega di tempat kerja. Kejujuran misalnya sangat diperlukan dalam membangun interaksi dengan rekan kerja. Bukankah anda perlu menjadi orang yang ‘trustworthy‘ di tempat kerja ‘kan? Berkomunikasilah yang seadanya, tanpa ditutupi meski kejujuran terkadang susah. Namun dengan begitu mereka tahu bahwa anda adalah orang yang dapat dipercaya.

Semoga bermanfaat!

Advertisements

Strategi Marketing: Mengapa Banyak Orang Ingin Jadi Kaya?


Ilustrasi. Siapa ingin jadi kaya?

Mungkin anda pernah menemukan satu dari sekian slogan di bawah ini:

  • Siapa mau jadi kaya dalam waktu singkat? 
  • Anda tidak perlu bekerja terlalu giat, uang akan bekerja untuk anda.
  • Segera bergabung bersama kami, jika anda ingin kaya! 

Dan mungkin masih banyak lagi kalimat yang berseliweran menawarkan cara atau trik untuk menjadi kaya. Mengapa trik atau cara menjadi kaya begitu menarik minat banyak orang? Jangan katakan bahwa anda tidak ingin kaya! Dan mengapa pula banyak orang ingin menjadi kaya?

Banyak strategi marketing menawarkan cara ‘menjadi kaya’ untuk memikat massa. Misal memasarkan apartemen. “Jika anda membeli apartemen kami, anda membeli suatu investasi. Lima tahun ke depan apartemen yang anda beli bisa menjadi peluang bisnis menjanjikan.” Bagaimana perasaan anda saat sales menawarkannya sambil berkata demikian?

Bahwa ternyata menjadi kaya adalah impian banyak orang. Dan itu wajar! Cara ini ampuh bagi marketing untuk mengikat pelanggannya. 

Strategi menjual properti dengan menjanjikan masa depan yang cerah juga salah satu cara yang mujarab. Ini alasan yang dapat ditemukan dalam buku ‘Why we want you to be rich’ yang ditulis Trump dan Kiyosaki. Anda pun tahu siapa Trump saat ini? Yups, Presiden USA.

Menjadi kaya bukan pilihan, bukan pula takdir, bukan pula keharusan namun tawaran. Ini kunci dari strategi marketing bisnis yang menjanjikan massa bahwa kaya akan terjadi bilamana anda melakukan proses sebagaimana yang ditawarkan. Jangan berpikir anda akan mendapatkan hasil menjadi kaya bilamana anda tidak melewati proses kesabaran tahap demi tahap. So menjadi kaya bukan instan, seperti mantra tentunya. Tetapi apakah menjadi kaya nantinya? Belum tentu. Dan ini juga belum tentu dijawab mudah oleh para sales marketing. 

Menurut pendapat saya, siapa pun adalah normal dan naluriah bilamana ingin menjadi kaya. Cara strategi marketing ini sudah baik. Namun bagaimana menjadi kaya bilamana tidak bahagia, ya ‘kan? 

Sebaiknya saat memutuskan menjadi kaya, pertama-tama jadilah bahagia. Ini yang seharusnya diperhitungkan dalam melakukan strategi marketing. Buatlah pelanggan anda bahagia sebelum memutuskan memenuhi tawaran anda! Apa itu? Menjual apa yang dibutuhkan pelanggan, bukan menjual keinginan menjadi kaya.

Ada pendapat?

Apakah Ada Hubungan Sampul Rokok terhadap Perilaku Merokok? 


Aneka rokok yang dijual di Jerman. Peringatan bahaya rokok punya komposisi 50 persen dari sampul. Ada yang menggunakan efek grafis namun ada juga yang hanya peringatan tertulis saja.

Contoh efek grafis pada bungkus rokok di Jerman. 

Kiri adalah bungkus rokok yang dijual di Thailand. Kanan adalah bungkus rokok yang dijual di Belanda. Semua bungkus rokok di tahun 2015.

Tidak hanya di Indonesia yang memiliki sampul rokok menyeramkan, saya pernah menuliskan ulasannya di sini. Di Thailand misalnya saya berjumpa dengan kawan saya yang bekerja di sana dan kebetulan beliau merokok. Saya mempertanyakan bagaimana pendapatnya tentang sampul rokok di Thailand yang menyeramkan itu. Dengan mudahnya dia menjawab, saat saya merokok saya tutup saja bungkus rokok tersebut sehingga tidak terlihat dan saya tetap merokok. 

Sampul rokok yang jadi bungkus rokok di Thailand memang menunjukkan gambar tidak sedap dipandang. Komposisi gambar dan peringatan bahaya rokok di Thailand sekitar 50% dari ukurannya. 

Bagaimana di Belanda? Ini saya menemukan bungkus rokok dijual di Belanda tahun 2015. Sampai sekarang saya belum ke Belanda, untuk mengecek apakah terjadi perubahan seperti sampul rokok di Jerman. Di Belanda, sampul rokok memberi peringatan tentang bahaya rokok seperti kalimat namun tidak menunjukkan gambar yang tak sedap dipandang seperti di Thailand dan Indonesia. Lagipula komposisi peringatan bahaya merokok tidak cukup besar terhadap sampul rokok.

Tiap-tiap negara punya kebijakan masing-masing dalam membuat regulasi bahaya merokok bagi penduduknya. Toh meski sudah dikatakan rokok berbahaya bagi kesehatan, masih banyak juga orang tetap merokok. 

Lalu bagaimana jika sampul rokok menyeramkan ini berdampak terhadap perilaku merokok?

Saya ambil di contoh di Jerman. Gambar grafis yang tak sedap dipandang di bungkus rokok sama seperti di Indonesia mulai diberlakukan sejak Mei 2016. Saya mengamati pada sampul rokok di sini, porsi 50% dari ukuran juga diberlakukan sebagai peringatan bahaya merokok. Bagi saya yang tidak merokok, gambar tersebut sungguh menyeramkan. 

Dari Euromonitor, saya menemukan ada dampak penurunan penjualan rokok di tahun 2016. Dikatakan ada dua faktor yang melatarbelakanginya, pertama dikarenakan para perokok beralih ke konsumsi rokok elektrik. Kedua, efek grafis yang ditampilkan pada bungkus rokok ternyata menjadi penyebab perokok mengurangi konsumsinya atau berhenti merokok mungkin.

Jadi bagaimana?

Pertama, rupanya efek grafis sebagai bentuk komunikasi visual mampu menunjukkan perubahan perilaku di Jerman. 

Kedua, coba simak wawancara saya di atas dengan perokok di Thailand. Dia mengatakan bahwa dia akan menutup bungkusnya kala merokok. Itu sudah menunjukkan bahwa sebagai perokok ada kekhawatiran setelah melihat efek grafis bungkus rokok. 

Bagaimana di Indonesia? Apakah sudah ada hasil penelitian yang berbicara dampak efek grafis ‘menyeramkan’ sampul rokok terhadap perilaku merokok?

Semoga bermanfaat!

 

Candu Iklan atau Kualitas Produk? Berikut Ulasannya


Ilustrasi. Contoh sederhana saat memlih produk teh. Apa yang menyebabkan anda memutuskan untuk memilihnya?

Sebelum lanjut membaca, pertanyaannya apakah anda membeli suatu produk karena merek yang diiklankan atau kualitas produk? Sebelumnya baca juga ulasan saya tentang kekuatan branding di sini. Bahwa alasan orang memilih produk, salah satunya adalah pengaruh iklan.

Iklan kerap dijadikan perusahaan untuk melakukan pencitraan produk. Misalnya nih, saat di Jerman saya ingin membeli hape baru. Si sales menawarkan dua produk HAPE A atau HAPE B. Kedua hape dengan tipe xx memiliki spesifikasi yang sama baik HAPE A atau HAPE B. Harganya tentu berbeda, HAPE A lebih mahal. Saya tertarik HAPE A bukan karena harganya, namun percaya pada iklan yang berulang-ulang di media. 

Lalu sales hape berpendapat kedua hape yang ditawarkan punya spesifikasi yang kurang lebih mirip. Namun HAPE B memang tidak menggunakan iklan terlalu banyak untuk ‘menjual’ produknya. Ini sebab harga HAPE B tidak begitu mahal. Dari situ saya paham bahwa terkadang saya masih terpengaruh iklan untuk membeli produk. Dan ternyata biaya iklan juga dipertimbangkan suatu perusahaan sehingga harganya pun diperhitungkan lebih mahal, ketimbang produk yang jarang atau tak pernah beriklan.

Perusahaan yang menampilkan produk lewat berbagai iklan di media massa percaya bahwa iklan produk menjanjikan merek daripada kondisi produk. Menurut para ahli ini disebut ‘Brand Promise‘ kepada konsumen sebagai kampanye pemasaran. Iklan menawarkan janji dengan memusatkan pada kekuatan dopamin. Dopamin diyakini sebagai bahan kimia yang bertanggung jawab untuk membuat penilaian yang menggiring keputusan seseorang. 

Siapa sih yang tidak tergiur oleh janji? Naluri manusia saat dijanjikan tentu langsung bahagia. Iklan membangun kesenangan pada anda sehingga kita mempercayainya. Ingat saja jika ada pria menjanjikan untuk menikahi seorang perempuan, otomatis perempuan itu percaya pada si pria. Ini sekedar contoh. Jadi ingat juga janji politik para politisi, toh kita pun mempercayainya. Lagi-lagi ini contoh betapa kuatnya janji sehingga percaya kemudian memutuskan.

Intinya:

Kembali ke soal produk iklan, ulasan para ahli berpendapat sebaiknya perusahaan meningkatkan kualitas produk ketimbang kuantitas iklan. 

Kini keterbukaan orang berpendapat sebagai blogger misalnya mereka bisa menuliskan hasil pengalaman menggunakan produk yang berkualitas. Bukankah ini bisa menjadi kampanye pemasaran yang baik bahkan lebih murah?

Semoga setelah ini ada yang menawari saya menulis advertorial produk­čśÄ Ini tipsnya jika mau mencoba. 

Ada pendapat?

Kaitan Pekerjaan Sales dengan Keterampilan Komunikasi


Ilustrasi foto. Sebagai Sales, anda bukan mengkomunikasikan apa yang hendak dijual melainkan sampaikan apa yang dibutuhkan klien/pembeli. Kemampuan mendengar itu diperlukan. 

Saya secara pribadi hampir selalu menghindari Sales yang berseliweran di pusat perbelanjaan dan pameran. Apakah anda juga demikian?

Orang pertama yang memperkenalkan pekerjaan “Sales” pada saya adalah Bapak saya. Ia mampu menjelaskan konsep Sales dengan baik dan punya ketrampilan komunikasi yang baik kepada rekan bisnisnya. Beberapa kali, saya diajaknya untuk mengamati pekerjaan Sales sambil belajar praktik komunikasi seperti beliau sewaktu masih anak-anak. 

Menurut Bapak, semua pekerjaan di dunia ini sebenarnya adalah “Sales” yakni bagaimana kita mampu “menjual” talenta, keahlian, pendidikan dan pengalaman kerja kepada orang lain dengan teknik komunikasi yang baik. Jadi kunci utamanya adalah komunikasi. Saya masih ingat dulu sewaktu kerja di Jakarta, ada kolega yang bisa mendapatkan gaji dan fasilitas tinggi karena keahlian komunikasinya. Ia mampu menjadi “Sales” bagi dirinya sendiri meski posisi kedudukannya tidak lebih tinggi dari saya.

Menurut pengalaman dan pengamatan saya sejak kecil, tidak ada anak-anak yang berminat menjadi “Sales” termasuk saya pribadi. Saat ini saya membahas “Sales” bukan karena profesi saya sebagai Sales melainkan seorang Sales memerlukan keterampilan komunikasi yang baik agar berhasil dalam profesinya memenuhi target penjualan. Komunikasi? Ya, ini menjadi minat saya untuk menuliskannya.

Mungkin keterampilan komunikasi yang jadi kunci keberhasilan Sales perlu diperhatikan. Sementara jika dilihat berbagai lowongan kerja, lowongan kerja Sales adalah lowongan yang mudah ditemui. Tak jarang di lowongan kerja Sales diiming-imingi dengan penghasilan yang menggiurkan dan fasilitas serta bonus memikat. Kriteria Sales pun tak rumit sehingga hampir dipastikan siapa saja bisa menjadi Sales.

Namun mengapa ada pula yang tak suka pekerjaan ini? Di beberapa kolom Pelamar yang sedang melamar kerja, kerap dicantumkan “non sales” yang intinya mau kerja apa saja asal bukan Sales. Nah, loh!

Padahal Sales adalah garda depan dari suatu produk/jasa. Keberhasilan Sales adalah keberhasilan perusahaan juga. Banyak pula Sales yang sukses dengan profesinya dan mapan hidupnya. Pekerjaan ‘kan pilihan, begitu kata teman saya dulu.

Intinya tingkatkan komunikasi anda apa pun profesi anda, demikian pula Sales agar mampu menemukan klien yang potensial dengan cara mengenali kebutuhan klien. Artinya, jika selama ini Sales hanya menjual produk/jasanya, kini juallah solusi yang menjadi kebutuhan klien.

Komunikasi yang baik di awal tentunya akan membangun situasi kondusif di masa mendatang. Siapa tahu keberhasilan teknik komunikasi yang baik, dengan lebih banyak mendengarkan klien akan menjadi peluang untuk referensi yang lain. Bukankah setiap orang ingin didengar?

Jika selama ini, kita hanya mendengarkan Sales menjual produk/jasa, ubahlah kini dengan “juallah apa yang menjadi kebutuhan klien” Jadilah yang Sales lebih mendengarkan untuk memahami apa yang diperlukan klien.

Bagaimana, tertarik menjadi Sales?

Mengapa Berpacaran Jarak Jauh Bisa Lebih Langgeng?


Kemajuan teknologi kini menjadi pendorong bagi banyak orang untuk tetap bisa memadu kasih meski jarak yang berjauhan memisahkan. Dulu banyak orang masih menganggap bahwa hubungan jarak jauh sepasang kekasih tidak akan mungkin berhasil. Namun kini nyatanya banyak juga pasangan jarak jauh, para LDR (Long Distance Relationship) yang berhasil melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, menikah. 

Sebuah studi (2013) yang diterbitkan dalam journal of communication menunjukkan meski ada jarak dalam relasi pasangan jarak jauh yang diteliti, namun ternyata tingkat kepercayaan yang tinggi memungkinkan mereka lebih intim ketimbang pasangan biasa. Hal ini tentu bertolakbelakang dengan pendapat orang di masa lalu bahwa jarak menjadi hambatan bagi kelanggengan suatu hubungan cinta. Apalagi mereka yang berpasangan jarak jauh tidak intens bertemu dan punya waktu romantis yang rendah ketimbang pasangan biasa. Namun bukan tidak mungkin, ada pejuang-pejuang LDR yang berhasil menaklukkannya.

Berdasarkan studi tersebut dan pengalaman pribadi yang pernah melakukan LDR (curcol), berikut alasan mengapa pacaran jarak jauh bisa langgeng. 

Here there are:

1. Saling percaya satu sama lain.

Meski pasangan jarak jauh bukan harapan semua orang di dunia ini, namun kenyataan menyebabkan sebagian orang terpaksa melakukan ini. Bisa karena pekerjaan, keinginan untuk sekolah, tuntutan ekonomi, aturan ijin tinggal dan lain sebagainya namun sekali lagi menjalankan hubungan jarak jauh diperlukan kepercayaan yang tinggi satu sama lain agar bisa berjalan baik. Bukankah menjalin hubungan itu mempercayai dulu baru kemudian menikah? 

2. Mampu mengatasi tantangan termasuk jarak yang memisahkan.

Duh, enaknya punya pasangan bisa ada setiap saat dibutuhkan. Namun tidak bagi mereka yang melakukan LDR. Jika jarak yang menjadi tantangan mampu ditaklukan untuk seorang yang dicintainya, bukan tidak mungkin mereka yang LDR mampu mengatasi tantangan lainnya di kemudian hari. Pepatah bijak berkata “Distance means nothing when someone means everything” 

3. Paham arti komunikasi.

Komunikasi tidak melulu digambarkan dalam bentuk kehadiran setiap waktu satu sama lain. Mereka yang melakukan hubungan jarak jauh mampu membangun komunikasi yang khas sehingga tidak ada lagi sekat jarak di antara mereka. Bahkan komunikasi yang berjarak ini lebih maksimal ketimbang pasangan biasa. Nyatanya hal romantis pun bisa dilakukan oleh pasangan jarak jauh asal tahu bagaimana mengkomunikasikannya satu sama lain.

Hmmm, semua ini bukan untuk digeneralisasikan namun kembali kepada setiap pasangan itu sendiri. Apakah komitmen dan kepercayaan bisa dilakukan meski atau tanpa jarak?

Semoga bermanfaat!