Langkah Menulis Email Bahasa Inggris Bisnis yang baik

Jika dahulu kita belajar tata cara surat menyurat maka kini korespodensi pun bisa dilakukan via surat elektronik, atau yang dikenal email. Selanjutnya saya sebut email saja.

Persoalan menulis email bukan tentang panjang pendeknya email tetapi bagaimana kita tahu mengawali hingga menutupnya dengan baik. Tentu ini bukan menulis email dalam konteks pribadi atau persahabatan, melainkan urusan bisnis. Email untuk kepentingan bisnis sifatnya resmi dan formal.

Pertama: Salutation

Untuk konteks bisnis dan formal maka bisa dengan contoh sebagai berikut:

  • Dear Mr/Mrs (Familyname) yang kemudian biasa digunakan ketika pertama kali kontak dilakukan. Di Eropa nama keluarga biasa disebut dalam keperluan formal.
  • Dear Sir/Madam juga bisa dilakukan jika kita tidak tahu email ditujukan untuk siapa. Bisa juga kita menulisnya, “Dear Sir or Madam” juga bisa digunakan. Anda juga bisa menggunakan ‘To whom it may concern” bila tidak tahu email kepada siapa yang berkepentingan.
  • Dear Anna, ini juga bisa dilakukan jika kita sudah tahu dengan siapa email ditujukan. Di Amerika Serikat terkadang mereka juga menulis nama (bukan familyname) sebagai kontak pertama.
  • Hello/Hi atau hanya menyebut ‘Anna‘ saja maka dapat diartikan si penulis email sudah kenal baik.

‘Salutations’ diakhiri dengan tanda koma misalnya di bawah ini

Dear Anna,

Dear Sir/Madam,

Kedua: Opening

Sebagai pembuka sebelum inti (badan) email, ada beberapa hal yang bisa dijadikan contoh.

  • I hope you are well.
  • Thank you for an interesting day at your main office last week.
  • Thank you for your email.
  • It was good speaking to you last week.

Meski begitu, opening sifatnya tidak wajib. Anda bisa saja memulainya langsung ke badan email atau introducing the subject setelah salutations.

Ketiga: Introducing the subject

  • Just a short notice to let you know that…
  • I am writing with regard to…
  • Further to our conversation last week…
  • Regarding to…
  • I am writing to you in reference to our discussion last week.
  • Dan seterusnya

Keempat: Text (Body of e-mail)

Pada bagian ini ditujukan yang menjadi inti mengapa anda menulis email. Contohnya

  • Anda meminta informasi
  • Anda memberi informasi
  • Anda meminta bantuan
  • Anda menawarkan bantuan
  • Anda ingin melengkapi dokumen dalam lampiran (attachment)
  • Anda bermaksud meminta maaf atau penyesalan
  • Anda bermaksud memenuhi syarat atau janji yang disepakati/didiskusikan
  • Anda menyarankan tindakan selanjutnya

Kelima: Closing

Setelah anda menulis maksud dan keperluan seperti yang dinyatakan di atas, berikutnya tentu harus ditutup dengan elegan juga. Contohnya anda berharap respon segera, dan seterusnya.

  • I am looking forward to hearing from you.
  • Please get back to me if you need more information.
  • I’ll give you a call next week.
  • Hope this informs to you.
  • Thank you very much for your hospitality.
  • Thank you in advance.

Selanjutnya,

  • Best regards
  • Best wishes
  • Kind regards
  • Best
  • Sincerely
  • Yours faithfully

Hal yang perlu diperhatikan adalah kalimat pertama setelah salutation harus dengan huruf besar. Ini berbeda dalam tata cara penulisan email dalam bahasa Jerman. Selengkapnya tentang menulis email dalam bahasa Jerman dijelaskan kemudian.

Semoga bermanfaat!

Advertisements

Strategi Menghadapi Tes Mendengar dalam Ujian Bahasa Asing

Ilustration.

Every one has own strategies to face the foreign language examination, including listening comprehention as part of test. It is typically very difficult to challenge passing the test. I thought you are not really only listening, you should understand to predict the content what you heard and to inferring meaning its. Despite that, I would share my strategies to deal with it such following.

Anyway, weekend comes. Happy weekend!

***
Jika saya punya waktu untuk mengulang masa muda, saya ingin sekali belajar lebih banyak bahasa asing. Ternyata bahasa asing itu berguna di era komunikasi yang super canggih seperti sekarang ini. Tak putus asa, saya pun belajar bersama teman-teman multi bangsa. Setidaknya saya juga belajar kosakata dan struktur kata yang baru. 

Berbicara soal bahasa asing, tentu kemahiran bahasa asing perlu diuji dengan mengikuti serangkaian tes. Apa saja? Tes membaca, menulis, berbicara dan tentu juga tes mendengar. Semua itu harus dilalui sebagai performa kemahiran berbahasa asing. 

Berdasarkan hasil pengalaman sendiri, berikut adalah strategi keberhasilan untuk uji kemampuan mendengar berbahasa asing. Jika anda sedang mempelajari bahasa asing, mungkin tips di bawah ini cocok. 

1. Duduk paling dekat sumber audio.

Saat masih di bangku kuliah, saya pernah mencoba mengukur fungsi pendengaran saya dengan alat audiometri. Hasilnya bahwa saya mengalami tidak 100% mendengar dengan jelas. Hal ini bisa saja terjadi pada orang-orang yang sudah senior atau mengalami gangguan pendengaran. Nah, jika anda merasa mengalami hal demikian maka anda bisa meminta permohonan khusus agar bisa duduk di dekat sumber audio. 

2. Berkosentrasi penuh dan lupakan apa puh masalah anda saat itu. 

Salah satu faktor keberhasilan dan kegagalan dalam ujian bahasa asing adalah gangguan psikologis. Anda perlu berhenti sejenak memikirkan berbagai masalah yang dimiliki sehingga memecahkan konsentrasi ada. Konsentrasi dan fokus itu penting saat mendengar percakapan asing dan menjawab soal. Biasanya soal kemampuan mendengar hanya dua kali atau malahan ada yang hanya sekali didengar.

3. Tutup mata.

Strategi lain juga mengatakan bahwa menutup mata membantu anda lebih konsentrasi saat mendengar audio. Bahkan menurut saya, bagi mereka yang bukan termasuk tipe auditoris, menutup mata memberikan ketajaman pendengaran.

4. Dengar apa yang ingin didengar. 

Sebelum anda memulai tes kemampuan mendengar, biasanya ada kesempatan untuk membaca soal terlebih dulu. Anda bisa pergunakan kesempatan ini dengan menyimak apa yang sebaiknya didengar. Dalam tes kemampuan mendengar, anda bisa fokuskan pada mendengar apa yang ditanyakan pada soal ujian. Mendengar dengan detil sesuai pertanyaan. Ini akan membantu anda untuk fokus pada satu hal.

5. Seringlah melatih telinga anda dengan menyimak percakapan asing. 

Setiap bahasa asing bukan tidak mungkin kita merasa aneh dan tidak terbiasa untuk mendengarkannya. Bisa jadi ada konten kalimat dan kata yang tidak populer. Membiasakan diri untuk menyimak percakapan atau pendengaran bahasa asing tentu melatih anda memahami apa maksud atau intinya. Dengan demikian anda sudah memahami maksud percakapan bahasa asing, tidak hanya sekedar mendengar saja.

6. Perbanyak kosakata. 

Dalam uji kemampuan mendengar bahasa asing, terkadang isi percakapan tidak serta menjawab soal. Jadi kita mesti mendengar secara detil untuk menangkap dan menjawab soal. Banyaknya kosakata yang dimiliki memungkinkan kita bisa memahami konteks percakapan. 

Kesimpulan

Bagaimana pun tiap orang tidak bisa digeneralisasikan sama untuk menghadapi tes kemampuan mendengar saat ujian bahasa asing. Di atas adalah hasil pengalaman saya. Pastikan anda juga telah siap mental bahwa “Pasti Lulus” sebelum ujian. Jika kita sudah pesimis, patah arang dan berpikir kegagalan maka pikiran itu yang akan terjadi. Semoga bermanfaat!

Sebaiknya Kita Tidak Curhat ke Lima Tipe Orang Berikut

As woman, I’d like to be active listeners for my best friends. They can release out their feelings when they stuck on problems of life. 

In my opinion, women tend to vent their feeling and problem in various ways, including sharing to best friends. To be active listener is not easy. For good advices, there are five characters of friend to be avoided when we would like to share problems. Through this post, I explained all the types. 

At least we would do agree the statement that best friends always listen to what we don’t say.

***
Perempuan dilahirkan sebagai perempuan ekspresif yang mampu mengungkapkan perasaannya. Itu sebab perempuan lebih cepat “move on” setelah putus cinta karena mereka bisa membagikan perasaannya kepada orang lain. 

Hal ini terjadi pada seorang kawan saya di sini beberapa waktu lalu. Ia baru saja putus pacaran. Lalu entah mengapa, ia terlihat mudah melupakan rasa sakitnya diputus pacar ketimbang si mantan pacar yang masih galau. Bahwa ternyata membagikan perasaan kepada orang lain mampu meredam kekecewaan daripada menyimpan rapat-rapat dan dipendam sendiri.

Eits, tunggu dulu! Tidak semua orang bisa kita ajak curhat jika ada masalah. Berikut lima tipe orang yang sebaiknya dihindari:

1. Orang yang baru dikenal.

Jika ingin berbagi perasaan atau ingin didengar orang lain, apakah layak anda menceritakannya kepada orang yang baru dikenal? Sebaiknya pertimbangkan niat anda untuk berbagi kisah dan perasaan pada orang yang baru dikenal agar tidak menimbulkan kesan pertama yang buruk tentang diri anda. Jangan sampai orang yang baru dikenal beranggapan yang tidak sesuai tentang diri anda hanya karena mendengar perasaan dan persoalan anda!

2. Orang yang tidak bisa menjadi pendengar aktif. 

Setelah lama menjalin pertemanan dan persahabatan, anda pasti bisa memilah dan memilih, manakah teman yang bisa dijadikan pendengar yang aktif. Pendengar yang aktif maksudnya, silahkan cek di sini! Anda ingin didengarkan ketika anda bercerita. Anda tidak ingin teman yang mendengarkan cerita anda malah cuek dan sibuk main hape. Atau dia malahan tidak fokus dan melihat ke sana kemari.

3. Orang yang sok tahu. 

Pernahkah anda mengalami saat bercerita pada seseorang, namun orang tersebut malah menggurui anda? Meski anda bercerita bukan pada ahlinya semisal psikolog atau konselor, namun bisa jadi teman yang mendengarkan anda malah menghakimi anda. Tentu ini tidak menyenangkan anda untuk berbagi perasaan dan keluh kesah. Mengapa? Karena orang yang diajak untuk mendengarkan lebih banyak berbicara dan merasa paling “tahu” ketimbang anda yang punya masalah.

4. Orang yang suka bergosip.

Pastinya anda juga mengenal beberapa teman dan kenalan dengan baik, termasuk orang yang suka bergosip. Terhadap orang yang demikian, sebaiknya anda pun harus berhati-hati agar tidak berbagi perasaan dan masalah. Tentunya anda tak ingin banyak orang tahu apa yang sedang dialami hanya karena anda bercerita pada orang yang salah.

5. Orang yang suka narsis.

Terakhir, pertimbangkan lagi niat anda bercerita pada orang yang narsis. Orang yang narsis punya kecenderungan berlebihan tentang dirinya sendiri. Nah, ketika anda bercerita bisa jadi orang narsis lebih banyak cerita tentang dirinya sendiri. Mereka mengagung-agungkan dirinya sendiri dan merasa hebat. Mereka lupa bahwa perlu ada dialog dua arah ketika bercerita. Urungkan niat anda ketika lawan yang anda ajak bicara selalu merasa lebih unggul dan lebih banyak berbicara ketimbang mendengarkan anda.

Kesimpulan

Jika anda menemukan kecenderungan di atas, sebaiknya pertimbangkan niat anda untuk curhat. Anda bisa curhat ke orangtua atau pembimbing spiritual yang anda percayai. Pastikan anda merasa nyaman untuk berbagi perasaan anda.

10 Alasan Ini Sebabkan Kemampuan Bahasa Asing Tidak Maksimal

In following explanations below are to convey regarding ten reasons why we aren’t able to speak foreign language constituting a maximum. I thought daily practice is necessary to start in communicating skills foreign language. Also it is impossible to speak foreign if no dictionaries/translate tools nor unmotivated to course. The another reasons why people can’t be maximize to speak foreign due to psychologically factors such as shame, less confident, wierding feeling etc.

 

***

Berbicara bahasa asing di negeri yang asing itu tidak mudah. Ada teman saya asal Rusia yang sudah tinggal dan menetap di sini bersama keluarganya selama 10 tahun. Nyatanya dia tidak bisa berbicara bahasa Jerman dengan baik. Sebelum pindah ke Jerman, tentu dia juga sudah mengantongi sertifikat bahasa Jerman tingkat dasar (A1). Sudah 10 tahun loh di Jerman, kok bisa? Rupanya setiap hari dia berbicara bahasa ibu yakni bahasa Rusia dengan suami dan anak-anaknya. Jadi meski lama tinggal di luar negeri belum tentu juga lancar berbicara bahasa asing jika tidak dipraktikkan.

Lain lagi teman saya yang lain yang berasal dari Vietnam. Awalnya dia bekerja di restoran kemudian dia memutuskan untuk punya restoran sendiri. Dia sudah tinggal di Jerman selama lebih kurang 13 tahun bersama isteri dan anaknya. Sejujurnya, dia tidak pernah ikut kursus bahasa Jerman, dia belajar banyak bahasa Jerman dari komunikasi sehari-hari dengan pelanggan. Hal menarik lainnya, dia juga belajar bahasa Jerman dari koran yang dibelinya di setiap hari. Luar biasa, dia bisa berkomunikasi bahasa Jerman dengan baik.

Cerita selanjutnya juga ada sepasang muda-mudi asal Spanyol yang memutuskan untuk tinggal dan menetap di Jerman. Mereka baru saja tiba di sini satu bulan lalu dan sedang belajar bahasa Jerman. Meski level A1, kemampuan dasar bahasa Jerman, dipelajari saat mereka berdua ada di Spanyol namun rupanya kemampuan berbahasa asing mereka sudah sama baiknya seperti saya yang sekarang sudah belajar di level menengah di kursus bahasa Jerman.

Berdasarkan cerita saya tersebut, berikut saya bagikan alasan mengapa bahasa asing yang sudah dipelajari tidak maksimal meski kita sudah berada di negeri asal bahasa tersebut. Sepuluh alasan di bawah ini menjelaskan mengapa bahasa asing menjadi tidak maksimal padahal sudah berada di luar negeri.

Baca https://liwunfamily.com/2018/01/11/tiga-hambatan-berbicara-bahasa-asing

1. Tidak mencoba melatih diri praktik berbicara bahasa asing.

Banyak cara melatih diri berbicara bahasa asing asalkan ada niat dan kemauan yang memaksa untuk berbicara. Kebanyakan mereka yang tinggal di negara asing dan tidak bisa berbicara bahasa asing dikarenakan tak pernah praktik berbicara. Keseharian didominasi bahasa ibu dan ketika berada di luar rumah, banyak mengandalkan orang lain dalam berbicara bahasa asing. Percaya deh, jika demikian maka bahasa asing anda tidak akan pernah optimal.

 2. Tidak ada tandem (lawan) bicara bahasa asing.

Memiliki teman lawan bicara itu membuat siapa saja dapat terlatih berbicara. Di beberapa tempat kursus di sini terkadang ada informasi yang dipajang di papan pengumuman bahwa butuh lawan bicara bahasa asing. Misalnya bahasa ibu adalah bahasa Arab dan butuh partner bicara bahasa Jerman. Punya teman bicara (tandem) amat diperlukan sehingga semakin terlatih berbicara bahasa asing, apalagi jika anda hidup seorang diri di tanah rantau.

3. Tidak pernah ikut kursus bahasa asing.

Saya percaya setiap negara punya kebijakan tersendiri yang memudahkan orang asing dapat belajar bahasa nasional mereka. Kebijakan dari mulai gratis, harga kursus menjadi lebih murah sampai kemudahan lainnya yang menarik minat warga asing untuk belajar bahasa mereka. Tentunya kemampuan bahasa asing tidak akan optimal jika tak pernah ikut kursus bahasa asing. Dalam kursus, kita tidak hanya belajar soal struktur kata saja namun juga praktik berbicara.

4. Tidak ada kesempatan berbicara bahasa asing setiap hari.

Bagaimana bisa terlatih berbicara bahasa asing, jika tak punya kesempatan berbicara bahasa asing. Tidak ada aktivitas di luar rumah tentu menyulitkan diri untuk melatih berbicara bahasa asing. Lalu berbicara dengan orang serumah dengan bahasa ibu. Tidak bisa mandiri jika harus berpergian keluar rumah karena khawatir berbicara bahasa asing. Jika demikian adanya, wajar saja bahasa asing yang dimiliki tak optimal.

5. Takut salah saat berbicara bahasa asing.

Keberanian adalah modal utama berbicara bahasa asing. Perkara salah atau benar soal struktur kalimat, belum tentu jadi perhatian buat yang mendengarkannya. Dengan begitu, anda sudah memulai untuk berbicara bahasa asing. Jangan takut salah yang malahan membuat anda tak bisa berbicara bahasa asing! Percayalah semua akan bisa berbicara bahasa asing pada waktunya sepanjang ada niat untuk berbicara.

6. Tidak punya kamus bahasa asing atau alat bantu penerjemah elektronik.

Hello, jika kita bersungguh-sungguh ingin berbicara bahasa asing tentunya punya kamus atau alat bantu terjemahan. Bagaimana pun kosakata juga perlu diperkaya. Kamus memudahkan seseorang berbicara bahasa asing saat tidak menemukan kosakata yang tepat. Berlatih berbicara bahasa asing tentu pertama-tama perkaya kosakata anda!

7. Merasa malu dan aneh saat berbicara bahasa asing.

Malu juga hambatan dalam berbicara bahasa asing. Saya pun merasakan hal yang sama saat berbicara bahasa asing pertama kali, bahasa Inggris. Ada banyak kosakata salah ucap tetapi itu wajar menurut saya. Malu itu adalah fase awal berbicara bahasa asing. Makin lama pun akhirnya saya jadi terbiasa berbicara bahasa asing. Tidak ada lagi rasa malu, apalagi merasa aneh. Jadi malu dan aneh itu wajar di awal, namun kita harus melatih diri berbicara bahasa asing.

8. Tak suka menyimak saluran media asing.

Ada banyak cara berlatih berbicara bahasa asing, salah satunya melalui media komunikasi. Tonton program televisi dan dengarkan radio setempat. Mendengarkan otomatis membiasakan diri dengan kosakata dan kalimat asing. Jika perlu, baca berbagai media cetak dan online bahasa asing. Jika kita merasa enggan, malas dan tidak termotivasi menyimak saluran media komunikasi asing, bukan tidak mungkin kemampuan bahasa asing tidak berkembang.


9. Tidak ada kesabaran dan ingin instan berbicara bahasa asing.

Apakah anda ingin setelah bangun dari tidur malam, keesokan paginya anda sudah bisa berbicara bahasa asing? ‘Kan tidak seperti itu prinsip belajar bicara bahasa asing. Ada proses belajar yang terus menerus agar hasilnya maksimal. Sabar, tidak ada yang instan. Bersabarlah juga untuk berbicara bahasa asing perlahan jika anda terbiasa berbicara cepat!

10. Merasa tidak ada tujuan berbicara bahasa asing.

Ada sebagian warga asing yang menetap di suatu negara menjadi demotivasi untuk berbicara bahasa setempat karena merasa tidak ada tujuan. Bagi saya, jangan lupakan bahasa ibu namun hargai keberadaan anda dengan berbicara bahasa setempat sebagaimana layaknya penduduk lain. Sepanjang kita bukan turis, cobalah untuk berbicara bahasa asing dimana pun kita berada dalam suatu negara.

Kesimpulan

Demikian sekedar pendapat setelah saya mengamati orang-orang sekitar yang juga sama-sama pendatang. Intinya, asal ada kemauan pasti ada jalan. Jika kita berusaha yang terbaik, tentunya kemampuan bahasa asing kita pun maksimal. 

Semoga bermanfaat!

Ini Kuncinya Saat Tes Berbicara di Ujian Bahasa Asing

At this moment, I learn deutsch, Germany language. There are some levels to prove your communications skill by examination from beginner to native level. Each level surely always to be ending with exams then exceding to be allowed into next level. 

Commonly there are four section in foreign language such as listening, reading, writing and the last, speaking. Through this post, I explained the keys to pass this testing. As foreigner, we used to think about grammar in speaking. This could be matters as psychological effect then we can’t speak it normally. Instead of grammar, we should speak as we can smoothly. The other thing, don’t be shy to speak in foreign language even it’s so hard! 

However this section of speaking test is aimed to ensures how the ability to speak and respond in dialog. That is it! No matter you are good in grammar, but it can be nothing when you never try to speak.

Surely I written in Bahasa Indonesia for benefits whom would like to learn foreign language.

PS: Every day I have to speak three languages, oh gosh!❤

Have a blessed Sunday!

Ilustrasi, contoh sertifikat bahasa asing.

Bahasa Indonesia

Tanggal 21 Februari lalu diperingati Hari Internasional Bahasa Ibu. Saya pernah mengulas bahwa jangan pernah malu berbahasa dengan bahasa ibu. Ceritanya di sini. Namun bagaimana pun, saat ini saya sedang berada di negeri orang dimana saya dituntut cakap berbahasa asing.

Apakah anda sedang belajar bahasa asing lewat kursus? Berikut saya ceritakan pengalaman saya dalam tes kemampuan berbicara bahasa asing.

Tes kemampuan bahasa asing biasanya meliputi empat hal yakni kemampuan mendengar, kemampuan membaca, kemampuan menulis dan terakhir kempuan berbicara.

Kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman saat melewati tes kemampuan berbicara bahasa asing. Tes ini biasa ditempatkan di bagian akhir setelah kita melewati tiga tes sebelumnya. Ada ragam tes kemampuan berbicara bahasa asing. Namun setidaknya tes ini mencakup berbicara tentang diri sendiri, berbicara dengan partner dan berbicara sesuai tema yang ditentukan.

Berikut yang perlu diperhatikan saat tes kemampuan berbicara

1. Berani berbicara

Meskipun anda terbiasa dengan bahasa ibu setiap hari dalam berbicara, namun saat tes ini yang diperlukan adalah keberanian untuk berbicara bahasa asing. Ini penting sekali! Nyatanya ada saja orang yang pandai menulis dalam bahasa asing namun belum berani berbicara bahasa asing. Alasannya bisa saja malu, tak percaya diri bahkan faktor psikologis lainnya.

2. Kelancaran berbicara 

Bagaimana pun tes kemampuan berbicara menentukan hasil akhir dari ujian bahasa asing. Seberapa cerdasnya kita mengerjakan tiga tes sebelumnya, namun jika kita gagal di tes kemampuan berbicara maka bukan tidak mungkin gagal semua. Nah, tes kemampuan berbicara menuntut kita untuk lancar berbicara, tidak terbata-bata atau diam seperti berpikir sebentar. Sebaiknya tuangkan semua kosakata yang kita punya. Oleh karena itu, sebelum ujian maka kita perlu berlatih diri di depan cermin misalnya berbicara bahasa asing. Hal ini akan membuat kita tidak canggung dan menurunkan tensi saat tes.

3. Jangan pedulikan grammar atau grammatik! 

Namanya juga bahasa asing, tentu baik kosakata maupun struktur gramatik berbeda dengan bahasa ibu. Bisa dimaklumi kesulitan berbicara adalah tahap akhir untuk memahami bahasa asing. Nah saat tes kemampuan berbicara, jangan pikirkan benar atau tidaknya struktur gramatik! Karena itu justru yang menghambat kita berbicara. Toh penguji ingin mengetahui sejauhmana anda mampu merespon bahasa asing dengan baik. Berbicaralah sebagaimana anda berbicara dengan bahasa ibu.

4. Jangan terlalu “sok” dan merasa tak perlu partner berbicara! 

Meski anda sudah merasa jago dan pandai berbicara bahasa asing, namun perhatikan bahwa dalam tes kemampuan berbahasa asing anda tidak sedang sendiri. Ada tahap anda berbicara seorang diri dan ada saat anda mesti berbicara bersama dengan partner yang juga sedang diuji kemampuan berbicara bahasa asingnya. Jangan menguasai dialog dan dominan sehingga menyusahkan partner anda! Beri kesempatan partner berbicara dengan baik pula sehingga ini mendukung nilai kemampuan berbahasa asing!

Kesimpulan

Tes kemampuan berbicara bahasa asing adalah bagian dari sekumpulan tes berbahasa asing. Bagaimana pun anda dituntut menguasai percakapan dan meresponnya dengan berbicara bahasa asing dengan baik. Jangan takut salah dan berpikir soal grammar karena itu mempengaruhi secara psikologis kelancaran berbicara anda! 

Selamat berhari Minggu bersama keluarga!

Ini Alasan Teman Saya Berbagi dan Tidak Berbagi Foto Anak di Media Sosial

Every one as parent has their own opinion in related with sharing pictures through social media. I have two friends who have a kid in unequal opinions how their response regarding social media.

One friend who has a daughter in 2 years old would like to share everything about kid’s development ages since born in social media. She thought that she was happy mom and let everyone knows about. Her opinion definitely stated that social media is an easier way to compile and document whatever happened with her kid.

Another friend who has a boy in 5 years old that dislike to share everything about her kid through social media. She has own reason in personally to protect away her boy from social media. Although they married legally, but she wouldn’t let all photos about kid in social media. She said “My boy is still a kid. He can’t decide it neither photos good nor bad for him. In future, he will do to upload everything he wants.”

Based on above, I’d like to share my professional experience when I was a worker in organisation for children welfare. When I needed a photo of kid into publicity, I had to ask his/her parent to fill  “inform consent” form that meant they as parent approved their kid to publish. As kid, they weren’t able to decide it, but parents were ought to.

***

wp-image-1342647739Ilustrasi.

Bahasa Indonesia

Saya punya dua jenis teman yang memiliki sikap berbeda saat keduanya memiliki buah hati. Keduanya adalah teman baik yang sama-sama menjadi teman baik dalam dunia maya maupun dunia nyata.

Teman yang satu sudah punya anak berusia dua tahun, sedangkan teman yang lain sudah punya anak berusia lima tahun. Keduanya bukan berasal dari Indonesia, saya mengenal baik di sini.

Teman yang sudah punya anak berusia dua tahun senang betul berbagi apa saja tentang perkembangan anaknya lewat media sosial. Mulai dari kelahiran anaknya, anaknya sudah tumbuh gigi hingga anaknya sudah bisa berbicara beberapa kata.

Tentu saya yang menyimak perkembangan anaknya di media sosial turut senang pula. Saya melihat banyak juga teman dunia maya yang memberi komentar atau menyukai apa yang dibagikan, terutama soal perkembangan anaknya. Dia pun juga tak segan-segan berbagi gambar dan cerita tentang segala hal yang menyangkut anaknya. Wajar saja, ini anak semata wayangnya kala usianya tak lagi muda.

Teman yang lain dan sudah memiliki anak berusia lima tahun memilih tak suka mengabadikan apa pun tentang anaknya di media sosial. Mereka berbeda pendapat rupanya.

Teman yang suka mengabadikan anaknya di media sosial berkata begini “Saya senang dan bangga memiliki seorang anak agar seluruh dunia tahu betapa bahagianya saya sebagai ibu.” Lalu dia menambahkan bahwa anak ini hasil perkawinan yang sah dan tak perlu disembunyikan.

Suatu kali saya berfoto bersama anak dari si ibu yang tak suka berbagi foto anak di media sosial. Si ibu melarang keras saya untuk meletakkan foto tersebut di media sosial. Saya pun bukan pecandu media sosial dan saya janji tidak akan memuatnya. Berangkat dari fenomena itu, ini alasan teman saya tidak membagikan foto anak di media sosial.

Alasan pertama, anak masih dibawah 18 tahun yang memang perlu dijaga dan dilidungi dalam bimbingan orangtua. Ia menjaga anaknya dari kemungkinan buruk lainnya lewat foto-foto yang beredar di media sosial.

Alasan kedua, ia khawatir apa yang dibagikannya di media sosial belum tentu disukai anaknya kelak. Toh, apa yang sudah dibagikan lewat media sosial akan sulit dihapus jejaknya. Jadi biarkan saat anaknya sudah bisa memutuskan maka anaknya lah yang akan menentukan foto-foto yang menurutnya layak.

Alasan ketiga, kebahagiaannya sebagai ibu cukup dia saja dan orang-orang yang dikenalnya dalam dunia nyata. Toh, ia pun berbahagia sebagai ibu, hanya saja tak perlu dibuktikan pula ke semua orang lewat dunia maya.

Dari kedua teman di atas, silahkan anda tentukan bagaimana anda bersikap sebagai orangtua di media sosial!

Pengalaman saya saat saya bekerja di dunia anak bahwa saya memerlukan inform consent atau lembar persetujuan dari orangtua. Karena anak sampai dengan usia 18 tahun dan masih dalam pengawasan orangtua maka orangtua yang berhak memberikan persetujuan apakah foto dan profil anak boleh dipublikasikan dan disebarluaskan.

Begitulah, sekedar berbagi pengalaman dan pandangan.

Taklukkan Amarah dengan “Gaya Sandwich”

Siapa pun boleh marah? Siapa pun bisa marah? Siapa pun juga berhak marah? Karena marah adalah hak setiap orang. Marah juga salah satu bentuk luapan perasaan atas ketidaksukaan, ketidaknyamanan dan ketidaksetujuan terhadap sesuatu hal.

Anda boleh marah terhadap kesalahannya, tetapi bukan pada pelakunya!

Acapkali saat marah, komunikasi ditujukan secara emosional dan direct (langsung). Karena amarah adalah cara untuk meluapkan perasaan ketidaksetujuan atau ketidaksukaan terhadap sesuatu hal.

Beberapa waktu lalu, saya membaca “teori sandwich” untuk berkomunikasi secara elegan saat marah. Mungkin anda berpikir seperti saya, boro-boro berpikir komunikasi yang elegan saat marah. Namun setelah saya merenung dan mengingat saat dimana saya dimarahi maka saya berkesimpulan teori ini baik juga.

Teori ini hanya sekedar mengingatkan bahwa marah ditujukan pada kesalahan dan tepat sasaran. Masing-masing pihak merasa nyaman, baik yang dimarahi maupun yang memarahi. Semacam win-win solution atau cara untuk melampiaskan kemarahain secara nyaman dan elegan tentunya.

Hal ini biasa diterapkan untuk mengedukasi seseorang misalnya. Atau penerapan dilaksanakan pada situasi atasan-bawahan, guru-murid atau orangtua-anak, dan sebagainya. Anda berhak memarahi karena ada otoritas dan alasan yang kuat mendasari.

Ada pesan orang bijak yang mengatakan, untuk mengetahui tabiat seseorang lihatlah saat dia sedang marah. Kemarahan adalah tes yang menguji kecerdasan emosional seseorang.

Semacam sandwich, ada tiga lapisan yakni lapisan pertama berisi roti. Pada lapisan pertama, kemarahan dinyatakan dengan sapaan yang positif. “Saya pikir anda sudah melakukan yang terbaik saat mengerjakan tugas anda. Anda sudah datang sejak pagi agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan segera.” Demikian kalimat dari si bos kepada anak buahnya. Intinya pada lapisan pertama adalah hal yang berisi kalimat pembuka bersifat positif dan pengantar saja.

Pada lapisan kedua di sandwich berisi daging. Di sini kemarahan ditujukan pada inti atau isinya. Apa kemarahan anda? Namun tidak menyerang secara pribadi melainkan langsung (direct) pada kemarahan yang ingin diungkapkan. “Saya marah sekali ketika saya mengetahui bahwa anda telah menyalahi wewenang dengan berhubungan dengan banyak media massa. Anda adalah seorang communications specialist. Sementara membuat pernyataan di media massa adalah tugas saya sebagai manajer atau kepala staf di sini. Anda diperkerjakan untuk…”  Demikian lanjutan dialog bos dan anak buah, melanjutkan contoh di atas. Di lapisan kedua, ungkapkan kemarahan anda dan alasan kemarahan. Jangan bertele-tele!

Di lapisan terakhir sandwich tentu adalah roti lagi. Tutup kemarahan anda dengan ungkapan yang santun dan menyarankan. “Saya rasa ini sudah cukup sebagai peringatan pertama. Saya sampaikan surat ini agar anda memahami struktur organisasi bekerja dengan baik. Saya berharap anda tidak mengulanginya lagi. Terus pertahankan kinerja baik anda!” Demikian dialog lanjutan penutup dialog antara bos dengan anak buahnya.

Bagaimana menurut anda?

Tiga Hambatan Berbicara Bahasa Asing

 

Ilustrasi.

 

Speaking foreign language in this time is not a life style, but the needs to understand the world. As expat, I have to do it. In the past I heard speaking foreign language is talent. You have no talent, it isn’t able to learn easy. 

Now in order to speak foreign language, forget it your talent! When you would really love to learn it, you could!

In refering my experience, I have some barriers to speak as usually to others. These barriers are detailed in Bahasa Indonesia as my mother language. 

To be advices, I need your comments if you are also learning foreign language in this time. 

*** 

Menguasai banyak bahasa di dunia adalah suatu keunggulan dalam berelasi dan bahkan menambah pundi-pundi penghasilan. Semakin terbukanya jalur orang bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain tentu membuka kemungkinan untuk menguasai bahasa asing, disamping bahasa ibu.

Kursus bahasa asing pun berjamur. Buku-buku belajar bahasa asing pun diciptakan. Kursus metode online pun ditawarkan. Ini semua memicu kemudahaan untuk bersegera belajar bahasa asing.

Bahasa asing yang dulu mungkin untuk sekedar gaya hidup. Kini bahasa asing pun menjadi kebutuhan.

Berdasarkan pengalaman pribadi yang sedang mempelajari bahasa asing. Berikut alasan yang menghambat orang berkomunikasi dalam bahasa asing.

(1). Hambatan Kepribadian

Hambatan kepribadian adalah hal yang utama menghambat seseorang berbahasa asing. Hambatan ini seperti pemalu, tak percaya diri hingga karakteristik lain yang menjadi identifikasi kepribadian. Mereka yang memiliki pribadi tertutup, tak suka bergaul dan berkomunikasi dengan orang asing nyatanya menjadi lambat berbahasa asing. Karena mereka cenderung tak melatih diri berbahasa asing. 

Kepercayaan diri adalah modal utama berbicara bahasa asing. Jangan pikirkan grammatik atau tata bahasa yang dipakai! Sebagai pemula belajar bahasa asing, saya dituntut untuk percaya diri saat mengungkapkan pendapat. Hal terpenting niat dan minat berkomunikasi secara terbuka. Jangan biarkan hambatan kepribadian membuat anda lambat menguasai bahasa asing!

(2). Hambatan Psikologi

Siapa pun ingin terkesan berkomunikasi sempurna seperti berbicara dalam bahasa ibu! Namun nyatanya itu tak mudah. Hambatan psikologi adalah alasan kedua yang menantang saya berbicara bahasa asing. Hambatan itu seperti ketakutan dan kekhawatiran tentang struktur atau tata bahasa.

Ketidakpercayaan diri pun bisa muncul saat belum menguasai banyak kosakata bahasa asing. Ketika saya harus berbicara dengan orang asing dalam bahasa asing terkadang kurang percaya diri pun muncul bahwa saya sulit menjelaskan. Alasannya saya tak punya kosakata yang sesuai.

(3). Hambatan budaya

Hidup di luar sebagai expat dan mengenal banyak orang dari multi etnis dan ras bukan hal yang mudah. Kecenderungan etnosentris, mengagungkan bangsa sendiri kerap masih terjadi. Jadi terbayang saja, teman yang sama-sama expat berbicara bahasa asing sering dianggap lelucon karena aksen dan dialeknya yang lucu.

Tak hanya itu, sebagian orang Asia seperti saya mengalami pengucapan yang tak jelas atau salah untuk kata yang menggunakan huruf umlaut (ö, ü, ë). Hal ini berdampak secara psikologis sehingga menjadi hambatan berkomunikasi.

Demikian pengalaman pribadi tentang bagaimana hambatan terjadi saat berkomunikasi bahasa asing. Apakah anda pernah mengalami hal serupa?

How to Understand Business Communication over Phone in Germany: Etika Berkomunikasi Profesional via Telepon di Jerman

Every country has own way to communicate for business purpose or personally communication, including in Germany. In commonly German people can make difference how to communicate in formal and non formal. To following communication professional by phone, I had some tips to assist my friends who the most are staying in my origin country, Indonesia. This written in below is only clue how to understand business communication  by phone in Germany.

Refer to my capacity on communications skill, I would like to share my experiences regarding the business communication effectively in Germany. As my second home now, I know this is contrary with all happening in my country. For example, I can accept phone anytime in Jakarta including weekend when I have had a horribly busy day to handle urgent event. But in here, they really appreciate weekend as family day. While I was working at office in Jakarta, chit chat or gossip by phone could be accepted as long as you have no problem in working performance. In here, every one can notice me at work when I got calling only for chit chat. They are really serious in working. No time for chit chat or gossip.

They are surely selective to communicate with people especially in business area or working issue. They will use “Sie” as you, not “Du” when they use in formal speaking in working. They used to call your family name after saying “Herr” for male and “Frau” for female. In Indonesia as my country, they prefer directly call a first name after saying “Pak” for male and “Ibu” for female.

At this moment, my focused on the communication over phone in Germany, here are the tips in according to my experiences. This is only recommendations, not to bear your minds when you are in here.

  1. Do not make noisy in public area or meeting time! So you must ensure your phone on vibrate or silent mode.
  2. When you want to accept this calling, please make away to find the silent place!
  3. After saying “HALLO” then tell your family name.
  4. Do not make a gossip or chit chat on phone! Say it in directly by phone on working hours.
  5. They always like to make a professional schedule by phone. They are really strict with a schedule you made previously. This is respectful for them when you follow the plan. You change, it could be ‘disaster’ for them.
  6. Do not call regarding business matters after 5 PM and weekend!

This is still open opinion. You can drop your comments in below regarding professional communication by phone in Germany. Just two cents✌

 

Ilustrasi.

 

Tiap wilayah ada kebiasaannya. Ketika saya datang ke Seoul, Korsel 2012 saya mengamati bahwa generasi muda semua begitu sibuk dengan hape di tangan, meski mereka sedang berpacaran. Hal ini jadi bahan diskusi antara saya dengan teman sekamar dari Belgia. Nah, bagaimana dengan di Jerman?

Orang Jerman termasuk selektif dalam membangun komunikasi, terutama dengan orang asing. Orang Jerman mampu membedakan komunikasi formal dan informal itu saja, mana keperluan pribadi dan bagian mana untuk kepentingan kantor atau bisnis.

Nah, dalam urusan menerima telpon di sini maka pertama kali setelah menyebut kata ‘Hallo’ maka kita menyebutkan nama keluarga atau family name, misal “Hallo, Liwun.” Jadi tidak menyebut nama Anna di awal. Untuk meyakinkan si penelpon bahwa dia benar-benar menelpon yang dituju, maka si penerima telpon sebutkan nama keluarga dulu. Baru jika si penelpon ingin berbicara dengan ‘Anna’ misalnya maka si penelpon akan menyebutkan spesifik nama atau nama depan (vorname). Itu kebiasaan menerima telpon.

Tak semua orang Jerman suka punya hape, bilamana dirasa perlu dan sesuai kebutuhan. Bukan karena mereka tidak mampu tetapi karena mereka tidak mau. Mereka tidak suka disibukkan dengan suara panggilan telpon. Jika anda berada di sini sebaiknya pilih tanda bergetar atau silent agar membuat orang sekitar nyaman. Daripada seluruh mata akan memandang anda hanya karena bunyi suara hape anda yang annoying itu.

Etika bertelepon selanjutnya adalah menerima telepon yang santun saat anda di area publik. Daripada berteriak-teriak terima panggilan telpon, lebih baik anda menyingkir ke tempat sepi. Atau anda bisa masuk ke mobil pribadi sehingga anda bebas berteriak-teriak menerima telepon juga. Tak ada orang yang tak sopan berteriak-teriak terima telpon saat di dalam kendaraan umum bagi orang Jerman. Di bis atau kereta mereka tampak silent dengan buku/koran atau diam.

Jangan pernah menelpon ke rumah setelah jam 10 pagi kecuali anda sudah janji sebelumnya! Kebanyakan kita memakai rekaman telepon rumah untuk meninggalkan pesan. Anda pun terbiasa untuk membuat janji bertemu misal periksa ke dokter, dengan menelpon terlebih dulu kecuali dalam keadaan gawat darurat. Anda akan sangat dihargai bila memenuhi waktu perjanjian tepat waktu di sini. 

Lalu setelah jam 5 sore untuk berbicara urusan kantor atau urusan pekerjaan, eits tunggu dulu. Jika rekan anda sudah memperbolehkan untuk ditelpon, tak masalah tetapi kebanyakan mereka memasukkan dalam mail box dan akan membalas telepon anda bila dirasa perlu. Jadi amati setiap aturan dari jam telepon bekerja di tiap instansi karena tidak mungkin seperti di Indonesia berlaku jam kantor dari jam 08.00-17.00. Bisa saja beda hari beda jam pula pemberlakuan terima telepon untuk urusan pekerjaan.

Lalu kebiasaan menerima telepon layaknya miss ringring bukan kebiasaan orang Jerman. Jika ingin bergosip atau berbicara panjang lebar maka mereka lebih pilih bertemu langsung ketimbang via telepon. Semestinya bicara di telepon adalah poin yang penting dan diperlukan. Bagi anda cukup via SMS atau teks singkat, lakukan itu ketimbang mereka menerima telepon apalagi saat bekerja. Jika itu penting dan urgent, mungkin anda bisa pertimbangkan telepon.

Jika ingin telepon ke orang yang dituju, sebutkanlah Herr untuk pria dan Frau untuk perempuan. Lalu pastikan nama keluarga, bukan nama panggilan meski anda adalah teman baik sekali pun. Setelahnya anda bisa bercakap-cakap seperti biasa, namun tata krama mereka di telepon begitu.

Baca https://liwunfamily.com/2014/04/08/mencermati-gaya-komunikasi-orang-jerman/

Kesimpulannya

  • Gunakan salam pembuka saat menerima telepon yakni HALLO!
  • Beritahukan nama keluarga lebih dulu (family name) bukan nama panggilan.
  • Berbicara yang santun, direct atau tidak berbelit-belit saat telepon.
  • Terima telepon di tempat yang sepi. Jika di area publik, menyingkirlah!
  • Beri nada getar atau silent pada hape anda saat rapat atau di kendaraan umum.
  • Jika urusan pekerjaan menelponlah tidak saat wiken, hari libur atau setelah jam 5 sore.

Bagaimana ada pendapat?

Mengapa Kita Ingin “Disukai” Di Media Sosial?

Do you have social media? If yes, you can continue. This post concerned on the question, why we would expect getting ‘like’ in our post? This happened to one of my collegues in Jakarta. She was looking worried and uncomfort while she worked at office. She just posted one picture on social media. She expected people around would like to response her posting.

I believe this could be happen over people who have social media. According to recent research, people can be excited and very enthusiastic after getting response on their post in social media especially more click ‘like.’ It is a such dopamin I think. The Experts state this taps the brain’s pleasure center involving such as ‘like’, ‘share’ or ‘comment’. 

Following mentioned above, here in down is the reasons to describe the trends:

  1. To show that one has noticed or recognized by clicking ‘like’
  2. To blow up self esteem.
  3. To have feeling secured and comfort after getting more ‘like’
  4. To be part of social habits commonly.

This is open opinion. So I explain in down still in Bahasa Indonesia. 

****

Kejadian yang saya ceritakan berikut terjadi di Indonesia. Teman kerja saya terlihat gelisah, sesekali dia melihat pada layar monitor hape. Terdengar bunyi notifikasi pada hape, dia melihat pada layar hape kemudian tersenyum senang. Lalu dia pinjam hape saya sebentar, sambil saya bersama dengan dia mengecek media sosial. Rupanya dia baru saja posting status dan saya dimintanya memberikan ‘like’. Oh, jadi karena ini membuatnya suka tersenyum sendiri. Anda paham maksud saya, ingin diberi ‘like’ pada status media sosial.

Saya sempat membaca berita bahwa si pencipta ‘like’ di facebook memutuskan enggan menggunakan facebook. Sebagai penciptanya, dia khawatir pemberian ‘like’ akan berdampak negatif secara psikologis pada penggunanya. Berita di sini. Kekhawatiran itu ternyata benar seperti yang tampak pada teman kerja saya tersebut. Dia sampai meminjam hape saya, on befalf of me, untuk memberikan ‘like’ pada postingannya.

Apa yang terjadi? 

Fenomena psikologis ini memang menimbulkan candu bagi penggunanya. Tetapi ini pula yang membuat saya mengamati dan memberikan pendapat saya di bawah ini. 

Mengapa orang ingin disukai atau diberi ‘like’ di media sosial?

1. Bentuk eksistensi atau pengakuan kehadiran kita

Bagaimana orang lain bisa mengakui keberadaan seseorang bila tidak mengenalnya. Demikian pula daftar orang dalam lingkup maya kita adalah orang yang kita kenal di dunia maya. Bisa jadi kita mengenal kehadiran orang tersebut dalam dunia maya hanya karena pemberian tombol ‘like’ tetapi dalam hidup nyata belum tentu kenal baik. Artinya pemberian tombol ‘like’ untuk menunjukkan keberadaan diri si pembuat status. Jika anda pasang status atau foto, namun tak ada satu pun yang merespon anda, bagaimana perasaan anda? Anda mungkin merasa terabaikan.  

2. Memberikan tombol ‘like’ ternyata mampu meningkatkan self esteem.

Apa iya? Segitu dahsyatnya pemberian tombol like sampai meningkatkan self esteem. Pertama-tama mari telaah dulu apa itu self esteem. Self esteem adalah sejauhmana seorang pribadi mengevaluasi dirinya secara subjektif tentunya, bisa positif maupun negatif sesuai pemikiran, perasaan dan opininya sendiri. Siapa sangka ya, mereka yang mendapatkan tombol ‘disukai’ dari orang lain bisa berpengaruh pada pendapat tentang dirinya. Hal ini sebagian besar terjadi pada remaja. Misal, setelah memotong rambut, si remaja pasang foto terbaru. Ada yang tidak suka dan ada yang memberikan komentar buruk dengan model rambut. Siapa sangka si remaja bisa menilai dirinya hanya dari respon seperti itu. Jika tak percaya, lakukan eksperimen sendiri pada media sosial anda! Baca di sini.

3. Setelah diberi ‘like’ ternyata memberikan rasa aman dan nyaman loh.

Seperti kasus pada teman saya yang gelisah saat bekerja, rupanya dia ingin ada yang memberikan respon terutama pemberian ‘like’ pada postingannya. Jika tidak ada yang memberikan respon, apa yang terjadi setelahnya? Dia, rekan kerja yang sedang kecanduan media sosial, bisa saja merasa tak bergairah. Malahan saya melihat dia menjadi tak fokus bekerja karena kerap kali melihat layar hape dan berharap pada tanda notifikasi. Setelah banyak yang merespon status atau postingannya, dia bisa jadi ceria luar biasa. Rasa aman dan nyaman ini ternyata dapat dengan mudah diberikan hanya karena pemberikan ‘like’ pada postingan orang lain. 

4. Karena ini adalah bagian dari kecenderungan kekinian gaya hidup mereka yang punya media sosial.

Begitulah bagi mereka yang memiliki media sosial, memberikan respon sebanyak-banyaknya dan berharap orang lain akan membalas hal yang sama pula. Saya sudah mencoba eksperimen ini. Namun tidak bisa digeneralisasikan pada semua orang. Tak semua orang terlibat di media sosial, termasuk beberapa orang yang saya kenal baik. Mereka yang tak memiliki media sosial bisa jadi punya kecenderungan yang berbeda. Saat ini, pemberian ‘like’ menjadi alasan kekinian, ke depan entah inovasi apa lagi yang muncul. 

Kesimpulan

Tak semua orang di dunia ini punya media sosial. Media sosial bukan hanya menjadi penghubung dengan orang lain, namun memberikan dampak psikologis dengan kemunculan pemberian respon termasuk ‘like.’ Setiap orang yang punya media sosial bisa jadi punya pendapat berbeda tentang ini, namun pastinya mereka mengalami hal yang sama karena ‘disukai’ atas postingan mereka. Perasaan apa yang sama? Perasaan senang. 

Semoga kita bisa lebih bijak terhadap penggunaan media sosial!