Mengapa Kita Mudah Iri pada Keberhasilan Orang Lain?

Posted on November 9, 2017

0



Four reasons why we feel easier envy to see the success of others ?

wp-image--1156642073

Terkadang kebahagiaan terbesar muncul dari hal terkecil, jadi mengapa kita harus iri? 

 

 

Rasa iri adalah perasaan naluriah yang dialami setiap manusia. Buunk (2012) berpendapat bahwa iri adalah respon terhadap orang lain yang memiliki kesuksesan, keberhasilan, keterampilan dan kualitas hidup yang kita inginkan. Terkadang rasa iri bisa tumbuh dalam lingkungan terdekat seperti keluarga dimana antar adik dan kakak bisa muncul kecemburuan sosial. Atau misalnya iri bisa terjadi melihat sahabat sendiri memiliki apa yang tidak kita miliki.

Sebuah studi dengan pengambilan data melalui kuesioner dan wawancara menunjukkan bahwa kebanyakan orang tidak jujur menjawab apakah mereka merasa iri atau tidak melihat keberhasilan orang lain. Namun dalam pertemuan antara klien dan psikolog, dijumpai bahwa sesungguhnya gangguan yang muncul kerap dipicu oleh rasa iri atau kecemburuan sosial yang tidak mudah diakui.

Saya mengamati kecenderungan sosial yang terjadi, mengapa orang mudah merasa iri kepada keberhasilan orang lain? Meski kita berkata “Tidak, saya tidak iri!” Sesungguhnya ada bagian dari hati kecil yang memang naluriah cemburu pada orang lain.

(1). Pola asuh keluarga (Parenting in family)

Bagaimana orangtua membesarkan dan mendidik anda dalam keluarga? Lima tahun pertama adalah kunci kehidupan. Ada orangtua yang kemudian membandingkan anak satu dengan anak lainnya dalam tumbuh kembang anak. “Kakaknya yang pertama lebih lincah saat belajar berjalan dan sudah bisa bicara pada umur dua tahun. Adiknya lebih lambat, umur segini belum bisa apa-apa” kata salah seorang teman yang sudah menjadi orangtua. Tanpa sadar, orangtua telah menumbuhkan bibit kecemburuan sosial dalam keluarga.

Saya baru sadar setiap orang itu unik ketika saya sudah dewasa dan mencapai pendidikan tinggi. Pemahaman bahwa setiap anak itu punya keunikan dan keberhasilan masing-masing belum tentu dipahami dengan mudah sebagai orangtua. Misalnya nihCoba lihat contoh abangmu dia dapat nilai matematika sembilan. Masak nilai matematika kamu cuma lima” kata seorang ayah. Siapa yang tidak cemburu jika kita mendengar hal ini? Ini pernah dikeluhkan teman saya yang merasa dalam hidupnya selalu dibanding-bandingkan oleh abangnya yang lebih berhasil.

Saya berharap agar orangtua bisa memahami apa yang menjadi bakat dan minat anak-anaknya tanpa perlu digeneralisasikan satu dengan yang lain. Menurut orangtua, hal itu dilakukan untuk memacu semangat anak. Namun bagi anak itu menyedihkan. Bentuk perlakuan adil dan kasih sayang orangtua terhadap anak-anaknya, terutama keluarga yang memiliki banyak anak juga perlu diperhatikan. Agar masing-masing anak merasa cukup kasih sayang, tanpa dipandang memihak satu dengan yang lain.

Baca https://liwunfamily.com/2010/09/02/anak-sulung-anak-kesayangan/

(2). Adanya kompetisi saat di sekolah (the competitions at school)

Sekarang saya amati sudah tidak ada lagi pemberian ranking di kelas saat sekolah. Dulu jaman saya sekolah, guru memberikan ranking atau peringkat tiap siswa. Semula ada guru yang memberikan peringkat satu sampai sekian puluh siswa tergantung banyaknya siswa. Lalu kemudian ada juga guru yang memberikan peringkat yang terbaik saja yakni satu hingga sepuluh siswa. Hal yang paling menyedihkan adalah guru menulis nama-nama siswa yang mendapatkan peringkat terbaik di kelas. Lalu bagaimana jika tidak mendapatkan peringkat di kelas? Guru bermaksud baik dengan memberikan peringkat sebagai apresiasi kepada siswa. Namun bagaimana dengan siswa lain yang punya nilai pas-pasan? Ini menyedihkan bagi siswa yang tak berprestasi yang jumlahnya banyak.

Ketika saya masih belajar di sekolah rasanya begitu menegangkan menghadapi ujian sekolah. Saya sudah stress agar saya bisa tekun mendapatkan prestasi yang baik. Kenyataannya ujian sekolah berbeda dengan ujian kehidupan, ini yang membuat saya harus siap menghadapi kompetisi. Dalam kehidupan di sekolah, mereka yang juara adalah siswa yang berprestasi. Sedangkan di kehidupan selanjutnya bahwa mereka yang juara adalah mereka yang berbahagia dalam hidup, lepas dari rasa iri dan cemburu. Bagi saya, sekolah adalah rumah kedua dimana anak tumbuh berbahagia tanpa komparasi atau kompetisi. Sejujurnya di sini kita bisa berlatih nilai keadilan, tanpa ada kecemburuan satu dengan yang lain.

(3). Terpengaruh media sosial (The impacts of social media)

Apakah anda setuju jika dikatakan bahwa media sosial juga berkontribusi menumbuhkan rasa iri? Lihat teman lama posting tentang statusnya dari lajang menjadi menikah! Atau memperhatikan foto-foto sahabat yang selalu pelesiran keluar negeri. Mungkin iri juga melihat seorang teman sudah berhasil mencapai posisi pekerjaan yang anda inginkan sebelumnya. Begitulah media sosial, si pemilik akun bebas memposting apa saja dan memilih foto-foto yang dikehendaki. Saya sudah tidak lagi membagikan hal-hal yang menurut saya pribadi dan membuat keriyaan seperti wisata keluar negeri. Jika anda ingin bahagia pagi hari, sebaiknya tidak membuka media sosial. 

Baca https://liwunfamily.com/2015/07/24/hubungan-medsos-dengan-kesehatan-jiwa/

(4). Kurang rasa bersyukur (Lack of feeling grateful)

Betapa mudah mengatakan, namun sulit mempraktikkannya yakni bersyukur. Jika timbul iri dan mengatakan sejujurnya pada orang yang dimaksud, kita dianggap orang yang kurang bersyukur. Begitu yang umumnya terjadi. Bersyukur memperlihatkan bahwa kita merasa puas terhadap kehidupan yang kita miliki. Bersyukur juga memperlihatkan bahwa kita menghargai proses dan hasil yang sudah terjadi dalam hidup kita. Susah senang, sakit sehat adalah proses yang harus dilalui setiap orang. You get what you think! Berpikirlah yang baik maka akan mendapatkan yang baik. Jika iri muncul terhadap orang lain, alihkan menjadi hal yang harus disyukuri dalam hidup sendiri.  

Lihatlah dari hal yang kecil dan sederhana untuk bersyukur! Bukan bahagia dulu baru kemudian bersyukur, tetapi bersyukurlah dan bahagia secara bersamaan!

Baca https://liwunfamily.com/2014/01/27/belajar-bersyukur/

Kesimpulan

Kita boleh merasa iri dan cemburu pada keberhasilan orang lain, namun jadikan itu sebagai pemicu yang konstruktif dan positif. Artinya, jangan lantas karena iri kita jadi bergosip atau menjelekkan orang lain! Atau karena timbul iri akhirnya mencelakai atau membahayakan orang lain. Jadikan iri untuk mendorong anda untuk melampaui orang lain yang anda cemburui! 


Advertisements
Posted in: PSYCHOLOGY