Periksa 4 Alasan ini, Jangan Menyalahkan Orang Lain Atas Kekurangan Diri Sendiri!

Ilustrasi.

Kita sepakat bahwa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Namun kenyataannya kita selalu berupaya tampil sempurna agar bisa diterima orang lain. Kita lupa bahwa tiap orang itu selalu punya dua sisi, kelebihan dan kekurangan sehingga itu pula yang menyebabkan begitu mudahnya kita melupakan kekurangan diri sendiri dan mempersalahkan orang lain.

“Coba kamu tadi tidak makan dulu, kita mungkin tidak datang terlambat ke seminar.”

“Kamu sih pakai baju seperti itu, saya jadi kecopetan ‘kan.”

“Seandainya kamu tidak memaksa saya duduk di depan saat ujian, saya mungkin mendapat nilai bagus.”

Dan masih banyak sederet kalimat yang meluncur dan terdengar tidak masuk akal, bahwa penyebab kesalahan, kegagalan dan hal buruk lainnya adalah disebabkan orang lain.

Pernahkah anda mendapatkan masalah itu? Atau mungkinkah anda juga begitu, menyalahkan orang lain ketika hal buruk terjadi pada anda?

Akhirnya saya berpikir, pasti ada alasan yang melatarbelakangi mengapa orang tersebut berperilaku demikian. Mengapa dia menyalahkan orang lain atas kekurangan diri sendiri?

1. Bentuk pertahanan diri

Saya berpikir orang yang suka menyalahkan orang lain atas kekurangan diri sendiri menandakan dia sebenarnya inferior. Dia begitu takut, lemah dan justru pengecut. Salah satu cara untuk menutupi kekurangan dirinya adalah menyalahkan orang lain. Ini semacam deffense mechanism yang dibangun agar diri sendiri tidak tampak minus, salah dan buruk di mata orang lain.

Tipsnya:

Yakinkan kepada orang yang selalu menyalahkan orang lain atas kekurangan diri sendiri bahwa hidup itu tidak selalu sempurna. Jika datang terlambat, masih bisa ditolerir, maka lain kali harus bangun lebih awal. Tak perlu takut duduk di depan ruang ujian sepanjang kita belajar giat menyiapkan ujian. Buatlah sesuatu yang dipersalahkan menjadi rencana yang lebih positif. Apa yang sudah terjadi, tinggalkan dan segera perbaiki lagi bukan justru menyalahkan orang lain.

2. Menyalahkan orang lain sebagai cara untuk menyerang orang lain

Ketika kondisi terhimpit, terdesak dan tak bisa keluar, akhirnya segala cara dilakukan termasuk menyerang orang lain. Ada rasa lebih baik setelah menyalahkan orang lain karena diri sendiri terasa lebih buruk (=punya kekurangan). Senjata ampuh untuk menyerang orang lain adalah menyalahkannya, meski sejujurnya diri sendiri lebih bersalah.

Tipsnya

Ketika saya berjumpa dengan orang yang demikian, saya selalu menekankan begini. “Bencilah kesalahannya, bukan orangnya!” yang berarti seseorang itu bisa salah. Kesalahan itu bisa terjadi pada siapa saja. Menyalahkan orang lain bukan cara ampuh untuk menghakimi orang lain. Jika saya bisa salah, maka anda juga bisa salah. Jadi buat apa menyalahkan orang lain untuk kekurangan yang anda miliki? Itu tidak masuk akal.

3. Cara paling mudah

Secara naluriah, manusia ingin menjauhi yang sulit dan mendekati yang mudah. Ketika hidup penuh kegagalan, keburukan dan dianggap sial menurut diri sendiri maka menyerang orang lain adalah cara paling mudah.

Tipsnya

Buatlah hidup semudah seperti yang anda inginkan! Agar lebih mudah, mengapa juga harus menyalahkan orang lain atas kekurangan diri sendiri. Salah, perbaiki lagi, gagal, bangun, jatuh dan bangkit adalah proses pembelajaran diri. Mudahnya adalah perbaiki perilaku yang selalu menyerang orang lain karena menyalahkan orang lain atas kekurangan diri sendiri tidak akan menyelesaikan masalah anda.

4. Tidak bisa menerima kenyataan

Lebih lanjut lagi, perilaku menyerang orang lain atas kekurangan diri sendiri disebabkan karena tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi. Kenyataan hidup itu memang kadang tidak semanis impian. Dan itu normal dan wajar. Jika kekurangan ada pada diri sendiri, bukan berarti tidak ada kelebihan dibalik itu semua. Terima kenyataan adalah cara paling mudah menerima kekurangan diri sendiri.

Tipsnya

Tidak ada saran yang paling jitu selain menerima kenyataan bahwa tiap orang itu pasti punya kekurangan. Dan menyerang orang lain itu harus dihentikan karena hal itu sangat menyinggung perasaan orang lain.

Kesimpulan

Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Kekurangan bukan berarti kita tampak begitu buruk. Begitu pun sebaliknya menyalahkan orang lain atas kekurangan diri sendiri juga bukan berarti menunjukkan bahwa kita hebat.

Selamat berakhir pekan bersama keluarga!

Advertisements

Ternyata Sukses Itu Direncanakan

Adakah orang yang sukses tanpa proses sehingga begitu dilahirkan sudah sukses? Ada saja, tetapi pasti hanya sebagian kecil secara statistik di dunia ini. Namun sebagian besar orang-orang sukses di dunia ini sudah mengakui bahwa kesuksesan yang mereka raih itu butuh proses yang panjang.

Suatu kali saya datang ke seminar yang mendatangkan pembicara orang yang cukup sukses di bidangnya. Dia bertanya pada kami semua yang hadir di situ dengan mata tertutup dan kepala tertunduk, siapa yang ingin sukses dalam hidup? Rupanya seluruh peserta di seminar tersebut ingin sukses dalam hidup. Itu artinya sukses itu PENTING.

Kemudian pembicara seminar itu bertanya beberapa dari kami sebagai peserta seminar. Pertanyaannya, bagaimana caranya menjadi sukses?

Setelah lima orang menjawab pertanyaannya, dia langsung mengatakan bahwa semua yang dikatakan oleh peserta seminar itu benar. Tetapi ada yang dilupakan untuk menjadi sukses, menurut si pembicara seminar. Hal yang dilupakan itu padahal begitu essential untuk mencapai kesuksesan. Si pembicara seminar kembali bertanya, apakah itu? Tak ada yang bisa menjawab.

RENCANA SUKSES. Jawabannya!

Kita ingin ini dan itu. Kita mimpi akan sukses ini dan itu. Tetapi kita kadang lupa bagaimana merencanakan secara spesifik atau langkah-langkah mencapainya. Kita berpikir otak akan menyimpan memori sukses yang kita inginkan.

Padahal saat kita ingin mencapai suatu tempat saja, kita butuh rencana agar tiba di destinasi tujuan. Mengapa kita butuh rencana sebelum pergi ke destinasi tersebut? Ya, mungkin saja kita tak ingin tersesat atau kita belum pernah (=tidak tahu) menuju ke sana. Atau kita ingin cepat sampai di destinasi tujuan. Intinya, kita tidak ingin gagal.

Siapa yang ingin GAGAL dalam hidup? Atau siapakah yang berencana GAGAL dalam hidup?

Saya sendiri pernah coba berkendara dengan suami tanpa rencana, ternyata itu tidak nyaman sekali. Kita bingung. Kita beberapa kali putar jalan. Kita berpikir ulang, bahwa kita hanya menghabiskan bensin saja.

Menurut si pembicara seminar sukses itu, buat apa kita menghabiskan tenaga, waktu dan sumber daya hanya karena kita lalai membuat rencana untuk sukses? Lalu dia melanjutkan lagi bahwa dia berhasil menjadi sukses karena dia sudah merencanakannya saat dia berusia 17 tahun.

Memiliki rencana sukses itu berarti kita punya kendali atas hidup kita. Bukankah pepatah bijak mengatakan SUKSES itu ada di TANGAN anda? Dengan begitu sukses ditentukan oleh rencana yang anda buat.

Menutup seminar, si pembicara tersebut melanjutkan bahwa rencana sukses itu PERLU. Rencana akan membuat kita fokus pada prioritas sukses yang diinginkan. Saat kita merencanakan SUKSES, bukankah alam raya akan mengarahkan kita untuk mencapainya?

Saya yang mendengarnya terangguk sepakat.

Ternyata SUKSES itu butuh RENCANA.

Jika SUKSES itu penting dalam hidup maka RENCANA itu yang utama.

Film Joker: Ketika Saya Tidak Mengerti Tawa Joker

Film Joker ditayangkan di Jerman mulai tanggal 10 Oktober, lebih lambat dari penayangan di Indonesia. Anda tahu bahwa film ini butuh proses waktu untuk dialihbahasakan menjadi bahasa Jerman. Dan saya pun tertarik menontonnya minggu lalu bersama suami dalam bahasa Jerman.

Film ini mengingatkan saya pada film-film yang harus saya tonton saat saya masih berkuliah di jurusan psikologi. Dimana sepanjang film saya harus mengamati perilaku aktor dan significant others, sehingga memunculkan tanya, mengapa dia berperilaku demikian. Namun kali ini saya tidak membuat analisa apalagi menilai tokoh Joker dalam sudut pandang keilmuan psikologi dan membuat revieu film karena saya bukan ahli untuk itu.

Hal yang pasti diingat penonton dalam film Joker adalah tawanya yang khas dan tak berhenti. Tetapi apanya yang lucu sehingga Arthur si Joker harus tertawa. Itu pula yang ditanya si ibu dengan seorang anak di dalam bis ketika Joker menghibur anak tersebut. Ibu itu meminta Joker berhenti mengganggu anaknya. Joker tertawa dan terus tertawa. Ibu itu bertanya hal yang sama seperti Psikiatri di dalam penjara pada adegan terakhir. Pertanyaannya “Apanya yang lucu?”

Joker bukannya berhenti menjawab, dia malahan tertawa tak henti. Karena Joker juga sebagai komedian pun melakukan tawa yang sesungguhnya tak dimengerti. Dia harus mengkonsumsi obat tiap hari untuk gangguan psikologis yang dialaminya. Joker pun menjawab bahwa dia tak mengerti apa yang terjadi padanya.

Joker sebagai alat tawa (komedian/badut) tampak berusaha menghibur banyak orang. Ini terlihat bagaimana Joker mengisi acara stand up comedy atau menghibur anak-anak di rumah sakit. Joker di satu sisi adalah orang berkarakter baik. Namun tawanya berubah menjadi karakter jahat ketika dia membunuh tiga orang di kereta bawah tanah.

Joker yang seharusnya menceritakan sisi lucu sebagai komedian dalam talkshow ‘Murray’ tetapi dia malah menceritakan bahwa dia membunuh tiga orang di kereta bawah tanah. Lagi si moderator talkshow, Murray bertanya pada Joker, “Apakah itu lucu menurut anda?” saat Joker menceritakan bahwa ia adalah penembak itu. Joker pun kembali tertawa lagi dan menembak moderator talkshow.

Juga Joker membunuh ibunya yang menurutnya telah berbohong padanya. Lalu datang temannya ke rumahnya dan bertanya, mengapa dia berpenampilan terbaik? Joker pun menjawab bahwa dia merayakan ibunya yang baru saja meninggal. Ini tidak masuk akal. Dia pun kembali tertawa lebih keras dan menembak salah seorang temannya yang datang berkunjung padanya.

***

Saat kita tahu bahwa seseorang tertawa, kita berpikir bahwa ada sesuatu yang lucu sehingga perlu ditertawakan. Kita berpikir ketika ada orang tertawa bahwa dia adalah orang yang sedang berbahagia. Tawa menjadi simbol sukacita. Tetapi justru sukacita itu tidak dirasakan Arthur. Dia tertawa karena dia sendiri pun tak mengerti, mengapa dia harus tertawa?

Arthur si Joker yang sering tertawa dengan tawa yang identik hidup penuh sukacita justru hidup dalam kesusahan di pinggir kota yang kumuh. Dia berjuang keras karena hidupnya yang secara ekonomi begitu sulit.

Lesson learned dari film ini, tentu berbeda-beda tergantung pemahaman masing-masing penonton. Bagi suami saya, film ini terasa membosankan seperti adegan Joker yang tertawa panjang dan lama. Tetapi saya katakan bahwa tawa Joker itu penuh makna sehingga disorot lebih lama. Joker hanya berperan bahwa tawa itu tidak selalu terasa sukacita dan terhibur.

Sungguh saya tak mengerti tawa Joker.

Warna Akan Mengubah Hidup, Anda Percaya?

Apa warna favorit anda? Barangkali pertanyaan ini pernah anda dapatkan dari orang yang anda kenal hingga orang yang tidak dikenal. Mungkin saja. Ada juga orang yang bertanya demikian karena ingin memberi hadiah agar sesuai dengan warna favorit anda. Atau orang bertanya warna kesukaan anda agar orang bisa menebak kepribadian anda. Mungkin saja.

Apa ada kaitan warna favorit dan kepribadian?

Sejak masih kanak-kanak, kita tumbuh dengan aneka warna di sekeliling kita. “Kamu suka tas warna apa untuk tas sekolah, kak?” tanya ibu saya. Sejak itu ada banyak kecenderungan saya untuk mengambil dan memiliki yang disukai seperti baju yang dikenakan atau pernak-pernik dalam kamar pribadi kita, misalnya. Kecenderungan orang dengan warna yang dipilihnya bisa menjadi kebutuhan terdalam individu tersebut.

Ada banyak informasi di luar sana yang mengaitkan warna favorit dengan karakteristik kepribadian anda. Misalnya orang yang suka warna hitam berarti orang yang serius dan tak suka mengumbar hidupnya yang penuh misteri. Sebaliknya orang yang suka warna merah adalah orang yang ceria dan senang menjadi pusat perhatian. Dan masih banyak lagi arti warna yang disukai dengan kepribadian.

Pada dasarnya secara psikologis, kajian tentang warna yang disukai itu berpengaruh dengan perilaku dan kepribadian kita. Saat anda mengenakan baju warna merah, anda merasa ceria. Atau saat kita berada dalam ruang makan bernuansa cokelat yang hangat, kita merasa suasana yang intim dan dekat satu sama lain saat dinner. Begitulah warna-warni itu mempengaruhi suasana hati.

Menurut ahli, warna itu menghasilkan pengalaman sensorik pada tubuh. Warna yang dipilih bisa berdasarkan pengalaman, tetapi ada juga yang berdasarkan kepribadian. Misalnya, saya suka warna merah tetapi kebanyakan pakaian yang dikenakan cenderung warna biru dan dekorasi ruang tamu warna hijau misalnya.

Jadi pahami warna akan membuat kesenangan tersendiri.

Pertanyaannya sekarang, apakah warna akan mengubah hidup?

Tentang warna, saya pernah mengulas di sini.

Lalu suatu kali saat saya sedang memilih pakaian, saya menemukan model baju yang saya suka tetapi saya tidak suka warna baju tersebut. Dengan berat hati, sang karyawan butik pakaian tersebut menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki koleksi dengan warna lain. Kemudian suami saya mendukung agar saya membeli baju itu agar sesekali tampil beda.

Saya kemudian mengenakan pakaian dengan warna yang tak pernah saya pakai sebelumnya. Rupanya ada hal berbeda dengan penampilan dan kondisi saya saat itu. Beberapa orang yang bertemu saya merespon penampilan saya. Itu artinya sesekali anda perlu mendapatkan respon berbeda dengan mengganti warna yang selama ini mungkin terlalu sering anda pilih. Anda ingin punya mood tenang atau bersemangat, perhatikan warna yang anda pilih.

Ada orang yang seumur hidup telah suka hanya pada satu warna saja, tetapi ada juga yang sudah berganti warna.

Apa pun warna favorit anda, sesekali perhatikan apakah anda perlu mengubahnya agar sesuai dengan kebutuhan anda?

Ketika Kebohongan Terjadi, Kejujuran Akan Membuktikannya Sendiri

Judul ini terinspirasi dari sebuah film yang saya tonton di sini. Film berbahasa Jerman ini menceritakan tentang seorang pria yang dipenjara atas tuduhan perkara yang sebenarnya tidak dibuatnya. Seorang perempuan rekan kerjanya, menginginkan posisi pekerjaan yang dijabat pria ini. Hingga akhirnya, perempuan ini membuat sebuah cerita kebohongan yang menyebabkan pria ini dipenjara selama lima tahun. Ada saksi yang bisa membuktikan bahwa pria ini tak bersalah, malangnya saksi ini meninggal tiga hari setelah perempuan ini melaporkan pria ini ke polisi.

Siapa yang bisa menerima pil pahit kehidupan?

Siapa yang bisa menerima kenyataan bahwa sesungguhnya kita tidak bersalah sedangkan tak ada orang lagi yang bisa mempercayainya?

Bersandar kepada siapa ketika seluruh dunia seolah percaya pada cerita si pembohong?

Hanya kemarahan dan jiwa yang berontak yang terjadi pada pria yang sebenarnya tak bersalah ini. Ia merelakan dirinya dipenjara, dihakimi rekan kerja bahkan dijauhi isteri dan anaknya. Begitulah ulah pembohong yang bisa menghancurkan karir, keluarga dan harapan hidup seseorang.

Rupanya salah seorang rekan kerja dari pria tak bersalah ini mencari tahu dari kebohongan-kebohongan kecil yang dibuat wanita pembohong yang telah menjerumuskan pria malang itu ke dalam penjara. Akhirnya cerita terkuak kembali bahwa sesungguhnya perkara itu tak pernah ada, hanya kisah bualan dari seseorang yang menginginkan jabatan di kantor. Akhirnya pria tak bersalah ini dibebaskan setelah hampir tiga tahun mendekam di penjara. Pil pahit itu harus diterima hanya karena sebuah kebohongan besar yang dilakukan seseorang.

Kebohongan itu tidak hanya menyakitkan bahkan menyandera pria ini dalam penjara, tidak bersama isteri dan anak yang ditinggalkannya dalam tahun-tahun dia dipenjara. Film ditutup dengan kebebasan pria ini dari perkara yang tak dibuatnya. Dia merasa lebih bahagia daripada sebelum dia dipenjara. Begitu bahagianya, dia mengalami sakit jantung tiba-tiba saat dia mengendarai sepeda. Dia pun pada akhirnya meninggal dunia.

Mengapa seseorang berbohong? Silahkan cari jawabannya di sini.

Pesan moral dari film tersebut ada banyak, tergantung bagaimana penonton bersikap. Ada nilai kehidupan selain kejujuran seperti keluarga, persahabatan, kerjasama, keadilan, dan sebagainya. Namun bagaimana pun kejujuran itu tak ternilai harganya. Ketika kebohongan terjadi, kejujuran akan membuktikannya sendiri. Tuhan itu melihat dari awal hingga akhir. Ia tak pernah menutup mata.

Selamat berhari Minggu!

Mengapa Kita Mudah Menyerah?

Minggu lalu saya harus melewati ujian lisan di salah satu mata kuliah yang menurut saya sulit. Ujian ini untuk menutup perkuliahan summer semester. Kuliah akan berlanjut winter semester pada bulan Oktober nanti. Tentu, apa pun yang namanya ujian bukan perkara mudah untuk siapa pun mahasiswa, termasuk saya yang berbahasa ibu bukan bahasa Jerman. Ini adalah ujian lisan.

Saya pun sudah stress menyiapkan materi yang diberikan profesor. Di saat stress itu, muncul rasa dalam diri sendiri yakni menyerah.

Partner hidup saya yakni suami yang mengetahui hal itu, mengajak saya makan malam di luar rumah. Kami pun berbincang dan membahas tema “Menyerah” pada saat makan malam. Ini bukan tema ujian saya. Dari obrolan tersebut, saya pikir ini bagus untuk saya bagikan dalam bentuk artikel.

Mengapa kita mudah menyerah?

1. Kita takut akan mengalami kegagalan

Di dunia ini kita sudah belajar sejak masih anak-anak untuk berhasil dalam melakukan sesuatu. Padahal kita juga tahu bahwa semuanya itu butuh proses belajar dan waktu agar apa yang kita inginkan tercapai. Masalahnya, saat kita menjadi dewasa maka kita lebih sulit menerima kegagalan. Kegagalan itu seperti momok yang menakutkan dan mengerikan sepanjang hidup. Bahkan ada yang tak bisa memaafkan diri sendiri ketika gagal. Daripada terjadi kegagalan, kata “menyerah” itu begitu mudah diucapkan.

2. Kita takut pemikiran orang lain yang akan menghakimi jika kita gagal

Manusia adalah makhluk sosial. Seberapa pun lingkup pertemanan dan hubungan kekerabatan yang dimilikinya tak luas, tetapi gagal itu seolah-olah menakutkan karena kita khawatir cap buruk yang mungkin diberikan orang-orang di sekitar kita. Padahal itu semua belum tentu terjadi. Kita begitu khawatir orang lain akan menghakimi jika kita gagal.

3. Kita berpikir menyerah itu lebih mudah daripada melanjutkan

Siapa pun di dunia ini akan memilih hal termudah dibandingkan hal tersulit. Padahal kita juga tahu bahwa seseorang yang berhasil itu harus melewati kesulitan terlebih dulu. Nyatanya kita memilih untuk menghindari kesulitan dan mengambil hal termudah, yakni menyerah. Kita berpikir bahwa menyerah itu akan menghentikan kesulitan. Kita tidak ingin melanjutkannya hanya karena kita ingin hal termudah dalam hidup.

4. Kita ingin berhenti untuk berjuang keras mencapai tujuan

Manusia itu begitu mudah menyerah ketika dia merasa bahwa harapannya itu pupus. Kita mudah menyerah ketika perjuangan yang gigih dilakukan tampak sia-sia. Menyerah muncul ketika kita merasa perjuangan untuk mencapai tujuan tak mungkin terjadi. Kita lupa bahwa keajaiban adalah hal mustahil yang mungkin saja terjadi jika kita percaya.

5. Pada dasarnya kita berharap lebih dari apa yang kita pikirkan

Menjadi orang sukses dan berhasil dalam hidup adalah harapan tiap orang. Namun siapa yang ingin gagal? Tak ada. Harapan hidup itu selalu melebihi kenyataan. Ketika kita takut akan terjadi kegagalan karena kita tidak siap untuk kehilangan harapan. Menyerah itu akhirnya menjadi begitu mudah. Kita ingin membiarkan usaha perjuangan kita berhenti daripada mengetahui ketidakpastian, apakah kita gagal atau berhasil?

Setiap orang dalam hidup pasti pernah mengalami kegagalan dan menyerah. Namun tiap orang punya cara yang berbeda untuk menerima, mengatasi dan bangkit dari kegagalan. Pengalaman yang berbeda-beda ini pun mengajari tiap orang, apakah ia begitu mudah untuk menyerah dalam hidup?

Lepas dari tema “menyerah” di atas, akhirnya saya berhasil melewati ujian lisan dengan baik. Nilai saya pun sangat baik. Bisa anda bayangkan jika saya sudah menyerah di awal sebelum ujian? Jadi, jangan pernah mudah menyerah di awal!

Tuhan Membalas Setiap Orang Menurut Perbuatannya

Hidup itu pastinya pernah dilanda cemas. Cemas memikirkan ini dan itu. Cemas memikirkan masa depan. Cemas memikirkan seseorang, bisa itu orang yang dicintai, dikenal hingga orang yang tidak dikenal. Cemas bisa terjadi pada siapa pun tanpa memandang usia, golongan, pangkat dan pendidikan. Hanya saja cemas yang dibicarakan bukanlah gangguan kecemasan yang menyebabkan ketidaknormalan dan berujung pada gangguan neurotik dan masalah psikologis.

Apa kaitan cemas dengan judul saya?

Siapa pun senang dengan kejujuran, bukan kelicikan. Jika ada yang curang dan licik tentu itu sangat mencemaskan orang lain yang ikut bekerjasama dengan orang tersebut. Kita begitu percaya bahwa setiap orang akan menjalankan pekerjaannya sesuai amanat yang diberikan. Tidak curang dan tidak licik. Masalahnya, siapa yang bisa menebak dalamnya hati manusia?

Ketika ada orang berbuat semena-mena, curang dan licik tentu ini sangat mencemaskan. Cemas bahwa dia mungkin saja akan terus memperlakukan kita tidak adil, sementara kita berlaku jujur dan sesuai apa yang diperintahkannya. Ini mungkin saja terjadi pada anda, manakala anda adalah pegawai baru dan merasa junior di tempat kerja.

Ketika saya cemas memikirkan perbuatan orang yang tidak jujur itu, saya mendapatkan pencerahan untuk tidak cemas. Jika orang lain memperlakukan tidak adil, tidak jujur dan tidak semestinya, kita tidak seharusnya membalas perbuatan mereka. Siapakah kita sehingga perlu membalasnya?

Mazmur 62: 12-13 akhirnya yang membuat saya paham bahwa bukan kita yang membalas perbuatan orang lain. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Tuhan membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Jika sekarang anda mengalami hal buruk karena diperlakukan tak adil dan tak semestinya dari orang lain, jangan cemas! Percayalah, ini akan berlalu! Ingat, bahwa Tuhan itu berbelas kasih. Dia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Tugas kita adalah tetap berbuat baik.

Ada yang menyebutnya karma. Tetapi saya tetap percaya bahwa Tuhan melihat dari awal hingga akhir. Dia adalah Maha Tahu.

Selamat berhari Minggu!

Seimbangkan Hidup itu Perlu, Mengapa?

Memiliki jadwal yang padat dan sibuk sebenarnya sah-sah saja. Ada orang yang terbiasa dengan padat jadwal sementara ada orang yang memang senang santai dan tak menyukai kesibukan. Ada orang yang tekun pada satu hal aktivitas tetapi ada orang yang suka dengan ragam aktivitas yang menyita waktu.

Lantas, anda sendiri termasuk tipe mana?

Akhirnya saya pun terpaksa rehat sejenak karena saya punya aktivitas yang banyak. Rupanya berdiam diri dan istirahat total membantu saya pulih sementara saya sendiri sedang sibuk menyiapkan ujian musim panas dari Universitas. Konsisten menulis blog pun sempat terbengkalai karena saya sedang banyak tugas.

Di tengah padatnya aktivitas, saya pun mendapatkan pencerahan dari salah seorang kenalan di sini. Dia mengajarkan tentang keseimbangan hidup. Menurut guru itu, hidup harus seimbang. Ketika kita hidup seimbang maka kita akan merasakan damai dan harmonis setiap hari. Hidup yang seimbang dapat dirasakan dengan fisik yang sehat bugar dan mental yang bahagia.

Menghabiskan waktu sebagian besar hanya untuk bekerja mencari uang pun tak baik untuk keseimbangan hidup. Saya pernah mengulas berdasarkan studi bahwa bekerja melebihi 55 jam per minggu punya risiko sakit jantung. Cek artikelnya di sini. Bekerja itu juga perlu dikelola seimbang agar tetap sehat dan bahagia. Bukankah bahagia bekerja justru membuat kita lebih kreatif dan produktif?

Jadi, mengapa keseimbangan hidup itu perlu?

Di tengah kecepatan modernitas dunia saat ini, keseimbangan hidup itu ada di tangan anda. Anda ingin berjalan lambat atau cepat. Semua pada pilihan anda. Anda pun juga punya pilihan untuk tetap sehat dan sejahtera asalkan apa yang dijalani itu seimbang.

Mempertahankan hidup yang seimbang itu perlu agar segala yang berjalan pada kita itu tetap stabil. Dengan begitu, gaya hidup yang stabil dan seimbang akan mengurangi risiko penyakit yang menyerang. Penyakit yang dipicu oleh gaya hidup tak sehat bisa anda ketahui sendiri. Gaya hidup sehat disebabkan pola hidup yang seimbang seperti asupan nutrisi, pola tidur, jam kerja dan sebagainya.

Keseimbangan hidup juga membuat kita lebih mensyukuri bahwa segala sesuatu dikerjakan sesuai ukuran dan teratur. Karena bahagia dalam bekerja itu perlu dilakukan, bukan dilupakan. Jika kita memaksa tubuh melakukan yang berlebihan atau serba kekurangan pun akan berdampak tak baik.

Karena hidup yang seimbang membuat kita berlaku sesuai koridor yang berlaku. Hidup yang seimbang itu seperti berjalan secara harmonis untuk mencapai rasa bahagia.

Apakah anda sudah menerapkan keseimbangan hidup?

Nilai Apa yang Anda Perjuangkan dalam Hidup?

Dalam suatu seminar perkuliahan di Jerman si dosen bertanya kepada kami seluruh mahasiswa yang hadir saat itu, termasuk saya. Dia bertanya dalam bahasa Jerman, “Nilai apa yang anda perjuangkan dalam hidup?” dan dia meminta kita memikirkannya. Dia menambahkan nilai itu harus penting dan bisa saja ada dua sampai tiga nilai hidup yang penting.

Kami pun terdiam dan merenungkannya. Saya yang memikirkannya pun ternyata tak mudah juga menjawabnya. Saya merasa semua nilai itu penting. Lalu dosen menghampiri saya dan menguatkan. “Pilihlah nilai itu tidak hanya penting, tetapi juga utama dalam hidup sehingga anda perlu perjuangkan!”

Jika anda seperti saya, apa jawaban anda?

Ada banyak teori tentang nilai dalam hidup. Dan itu semua tidak sama. Misalnya, saya yang berasal dari Asia memandang nilai kebersamaan (collectivisme) itu penting. Saya dan suami suka sekali pakai baju batik seragam saat kami berdua pergi ke gereja waktu kami berada di Indonesia dulu. Saya dan rekan kerja satu tim saat berkantor di Jakarta dulu senang sekali melakukan apa saja bersama-sama. Karena perasaan ‘sense of belonging’ itu penting berdasarkan budaya saya dari Indonesia.

Namun bayangkan saat saya berada di Eropa, nilai ‘kebersamaan’ itu tidak ada. Nilai yang ada adalah nilai kebebasan. Saya dan suami juga merasa aneh juga jika kita mengenakan pakaian seragam bersama-sama. Di sini orang dibiarkan tumbuh sebagai pribadi yang unik. Mungkin saya yang berasal dari Asia memandang ini adalah nilai individualistik atau egoistik. Ternyata salah, nilai ini tumbuh karena kultur.

Perbedaan nilai hidup bisa terjadi karena kultur, pengasuhan orangtua (parenting) dan faktor lain baik internal maupun eksternal.Nilai hidup itu mempengaruhi seberapa besar anda mencapai tujuan hidup.

Ada orang yang menganggap nilai hidup itu adalah nilai kesenangan (joyful) dan kenikmatan tetapi ada orang yang memandang nilai hidup itu pada ranah moral dan etika. Ada orang punya nilai kesederhanaan sudah bahagia, tetapi ada yang justru sebaliknya nilai kekayaan itu jadi tujuan hidup. Ada yang meninggalkan nilai kenikmatan untuk meraih nilai moral tetapi ada pula yang melupakan nilai moral untuk meraih nilai kesenangan.

Nilai lainnya pula bagi orang yang memperjuangkan nilai-nilai politis dalam hidup. Justru sebaliknya ada orang yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan humanitas. Kedua nilai ini bisa beriringan pun pula bisa saja berbenturan.

Nilai hidup tiap orang itu tidak sama. Anda sendiri bagaimana?

Bahagia itu “The Way of Life” Bukan Target Hidup

Banyak orang menjadikan kebahagiaan menjadi tujuan utama. Padahal saat mereka berusaha keras mendapatkan kebahagiaan, cara dan kerja mereka itu belum tentu membuat bahagia.

Bahagia itu adalah cara untuk kita hidup, bukan tujuan utama. Seberapa pun harta yang dimiliki, jika seseorang merasa bahagia memilikinya maka tujuan hidupnya akan terasa mudah diraih. Tetapi seseorang memiliki harta dan berusaha keras mengejar kebahagiaan, maka dia mendapati kesia-siaan. Kebahagiaan itu tidak untuk diraih, hanya perlu dialami dan diakui. Apakah saya sudah bahagia?

Bagaimana pun bahagia itu sederhana saja, tetapi target manusia yang disusunnya itu kompleks dan rumit. Dengan begitu, seseorang menjadi frustrasi ketika ia tidak mencapai tujuan dan targetnya. Jika ingin mencapai target dan prioritas hidup, jadikan bahagia itu caranya. Saya punya target untuk memiliki rumah idaman dengan bahagia menjalani pekerjaan sebagai buruh pabrik. Bahagia menjadi buruh pabrik berarti saya bersyukur bangun pagi untuk bekerja, dan seterusnya. Bahagia menciptakan suasana positif.

Mengapa?

Dengan bahagia, kita lebih mudah mendapatkan pengaruh positif. Pikiran yang positif itu tentu mendorong tindakan konstruktif, bukan destruktif. Contohnya, jika kita bisa tetap bahagia saat kalah maka kita bisa memberi ucapan selamat berbahagia kepada lawan. Tetapi bayangkan jika kita tidak bahagia saat kita kalah, maka kita bisa marah-marah, memaki, mengumpat bahkan merusak dan menyerang orang lain.

Seorang peneliti yang menguji dampak kebahagian terhadap kinerja berpendapat bahwa saat kita bahagia, otak kita akan berfungsi maksimal. Di sisi lain, seorang karyawan yang bahagia juga membuat kreatif. Itu sebab saat anda bahagia bekerja maka perusahaan pun puas dengan performa anda. Saya ingat pertanyaan awal saat saya menyelesaikan percobaan kerja (probetag) di Jerman, si supervisor tersebut kerap bertanya “Apakah anda menyukai apa yang anda kerjakan?” Ini penting karena kesukaan itu memicu kebahagiaan.

Begitu besar pengaruh kebahagiaan dalam hidup manusia. Bayangkan jika kita tidak bahagia terhadap apa yang kita jalani, tentu ada kekecewaan dan hal-hal negatif lainnya yang menghinggapi kita.

Bahagia itu HAK setiap orang.

Jika anda belum merasa bahagia, cari dan temukan itu dalam diri sendiri. Kebanyakan orang memaknai bahagia dari luar diri. Padahal jika kita memaknai bahagia dari luar diri sendiri, kita tidak pernah terpuaskan.

Sederhananya, tuliskan satu hal yang membahagiakan saat ini!

Jika sudah, lakukan begitu seterusnya sehingga anda tahu bahwa anda adalah orang yang berbahagia. Ingat bahagia itu tidak perlu besok atau nanti. Bahagia itu kapan saja.

Bahagia itu cara anda memahami rencana Tuhan dalam hidup, seberapa pun sulitnya yang dihadapi.